LAPLACE : Jurnal Pendidikan Matematika p-ISSN : 2620 - 6447 e-ISSN : 2620 - 6455 KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA MELALUI METODE BRAINSTORMING Yulianis Yusefi Yulanda1*). Isnaniah. Wedra Aprison. Imamuddin. 1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Indonesia *Corresponding author Email: yulianisyusefi2807@gmail. ABSTRACT This research is motivated by the problems found in class IX of SMPN 2 Nan Sabaris, namely that students' problem-solving abilities in mathematics learning are still low. This is thought to be caused by learning that is still conventional, namely the learning process is centered on the teacher. One alternative learning that is thought to be able to overcome this problem is by using the brainstorming learning method. This study aims to determine whether the mathematical problem-solving abilities of students who use the brainstorming method are better than those who follow conventional learning in class IX of SMP N 2 Nan Sabaris. This type of research is pre-experimental with a research design, namely The Static Group Comparison Design. The population in this study were all class IX of SMP N 2 Nan Sabaris. The sample in this study was 2 classes, the experimental class, namely class IX. 1 and the control class, namely class IX. The instrument used in this study was a test of students' mathematical problem-solving abilities in the form of essay questions. The data obtained from the research results based on the results of the t-test calculation in the sample class is obtained ycycaycuycycuyc > ycycycaycaycoyce , namely 9,8 > 1,68 so that ya0 is rejected, so that it was concluded that "The mathematical problem-solving ability of students who participated in learning using the brainstorming method was better than those who participated in conventional learning in grade IX students at SMP N 2 Nan Sabaris in the 2024/2025 Academic Year". Keywords: mathematical problem-solving skills, brainstorming method, mathematics learning ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang ditemukan di kelas IX SMPN 2 Nan Sabaris yaitu kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh pembelajaran yang masih bersifat konvensional, yaitu proses pembelajaran berpusat pada guru. Salah satu alternatif pembelajaran yang diduga mampu mengatasi permasalah tersebut ialah dengan menggunakan metode pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan metode brainstorming lebih baik daripada yang mengikuti pembelajaran konvensional di kelas IX SMP N 2 Nan Sabaris. Jenis penelitian ini adalah pra-eksperimen dengan rancangan penelitian yaitu The Static Group Comparison Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas IX SMP N 2 Nan Sabaris. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 2 kelas, kelas eksperimen yaitu kelas IX. 1 dan kelas kontrol yaitu kelas IX. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berupa soal essay. Data yang diperoleh dari hasil penelitian berdasarkan hasil perhitungan uji-t pada kelas sampel adalah diperoleh ycEaycnycycycuyci > ycycycaycayceyco yaitu https://doi. org/10. 31537/laplace. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika A (Yulianis. Isnaniah. Aprison. Imamuddi. 9,8 > 1,68 sehingga ya0 ditolak, sehingga didapat kesimpulan bahwa AuKemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode brainstorming lebih baik daripada yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas IX di SMP N 2 Nan Sabaris Tahun Pelajaran 2024/2025Ay. Kata Kunci : kemampuan pemecahan masalah matematika, metode brainstorming, pembelajaran matematika PENDAHULUAN Menurut Ki Hajar Dewantara dalam buku Anselmus . pendidikan nasional adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya . ultureel nationa. dan ditujukan untuk mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia seluruh dunia. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1, menyatakan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Berdasarkan bunyi Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan telah direncanakan sebelumnya untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki setiap manusia untuk bekal menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Tujuan pendidikan yang dikemukakan di atas dapat direalisasikan dalam setiap pembelajaran. Yusri dan Ritmi dalam jurnal Shania Hadisti dan Tasnim Rahmat . berpendapat bahwa pembelajaran merupakan proses dasar dalam pendidikan yang dari sanalah lingkup terkecil secara formal yang menentukan dunia pendidikan berjalan baik atau tidak. Fitriyani dalam jurnal Muthia Sarah. Imamuddin dan Aprianto . mengatakan bahwa setiap proses pembelajaran yang berlangsung harus membawa manfaat bagi peserta didik, baik mengembangkan kemampuan kognitif, emosional, dan psikomotorik, serta memberikan nilai-nilai moral luhur yang dapat membentuk karakter jalannya dan negaranya. Menurut Erman Suherman . , pembelajaran adalah suatu upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Volume 9. Nomor 1. Mei 2026 Menurut Thin Ratulangi dkk . siswa adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkontruksi, dan menggunakan Siswa dituntut untuk mencari tau lebih banyak informasi dan bukan hanya menunggu untuk diberitahu oleh guru. Salah satu proses pembelajaran yang diharapkan mampu mewujudkan hal tersebut adalah pembelajaran matematika. Maryati dan Priatna dalam jurnal Yugita Rahmi. Cici Wahyuni. Hijriani Safitri. Azila Nur Aqsa. Akbar Narullah. Isnaniah dan M. Imamuddin . mengatakan bahwa matematika adalah ilmu deduktif karna dalam proses mencari kebenaran harus dibuktikan dengan teorema, sifat, dan dalil yang telah dibuktikan. Menurut Shadiq . adapun salah satu tujuan pembelajaran matematika menurut Standar Isi Mata Pelajaran Matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu untuk menemukan solusi yang tepat dalam pemecahan masalah. Kegiatan memecahkan masalah merupakan kegiatan yang harus ada dalam setiap kegiatan pembelajaran matematika. Jika terdapat masalah, maka perlu mencari penyelesaiannya. Bila gagal dengan suatu cara untuk menyelesaikan suatu masalah, maka harus mencoba menyelesaikannya dengan cara lain. Menurut Launcher dalam buku Yusuf Hartanto . berbicara mengenai masalah matematika. Launcher mendeskripsikannya sebagai soal matematika yang strategi penyelesaiannya tidak langsung terlihat, sehingga dalam penyelesaiannya memerlukan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang telah dipelajari Menurut Hudojo dalam jurnal Mulin NuAoman suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan atau hokum tertentu yang segera dapat juga terselinap dalam situasi sedemikian hingga situasi itu sendiri perlu mendapatkan penyelesaian. Jadi memecahkan masalah adalah menjawab suatu pertanyaan dimana strategi untuk mencari solusi dari pertanyaan tersebut tidak dikenal terlebih dahulu. Yusuf dalam jurnal Suci Febrianti. Imamuddin dan Isnaniah . mengatakan bahwa kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah yang timbul sangat dipengaruhi oleh tingkatan kemampuan , ilmu, dan keterampilan atau skill yang dimilikinya dalam menyelesaikan dan memaknai masalah, merumuskan masalah, merumuskan alternatif tindakan yang akan diambil, dan memilih alternatif tindakan yang paling tepat. Menurut Polya dalam jurnal Dian Fitri Argarini . adapun Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika A (Yulianis. Isnaniah. Aprison. Imamuddi. indikator kemampuan pemecahan masalah berdasarkan tahapan pemecahan masalah oleh Polya yaitu : . Pemahaman masalah yaitu subjek mampu memahami apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal yang diberikan. Perencanaan strategi, yaitu subjek mampu menentukan rumus atau cara atau metode yang bisa digunakan untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Pelaksanaan strategi, subjek mampu menggunakan cara atau rumus atau metode yang telah direncanakan untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Pengecekan kembali, subjek mengoreksi kembali jawaban yang telah diberikan dalam menyelesaikan soal untuk memastikan jawaban. Polya dalam jurnal M. Imamuddin. Rusdi. Isnaniah dan Mia Audina . mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Shadiq . menjelaskan hal ini dibuktikan dengan adanya tujuan pembelajaran matematika menurut standar isi mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah poin ketiga, yaitu : Aumemecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, meneyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperolehAy. Menurut Purba . brainstorming merupakan metode yang sangat membantu dalam mencari solusi dalam suatu masalah. Dengan metode ini akan dihasilkan berbagai kemungkinan proses solusi yang bisa dilakukan atau ide-ide yang dapat dievaluasi, dirangking dan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Alur metode pembelajaran brainstorming dimulai dari tahap orientasi . uru menyajikan masala. , tahap analisa . iswa mengidentifikasi masala. , tahap hipotesis . iswa dipersilahkan untuk mengungkapkan pendapat terhadap permasalahan yang diberika. , tahap pengeraman . iswa bekerja secara mandiri di dalam kelompo. , tahap sintesis . uru membuat diskusi di kelas, siswa diminta mengungkapkan pendapa. , serta tahap verivikasi . uru melakukan pemilihan keputusan terhadap gagasan yang diungkapkan Intan Pratiwi . menjelaskan bahwa dengan menggunakan metode brainstorming ini maka siswa dapat memunculkan suatu ide-ide baru dari suatu pemasalahan yang diberikan. Novita . menjelaskan bahwa : . Terdapat perbedaan signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik Volume 9. Nomor 1. Mei 2026 kelas eksperimen yang mendapatkan materi pola bilangan melalui model pembelajaran Anchored Instruction (AI) Brainstorming pembelajaran dan kelas kontrol yang melalui model pembelajaran konvensional. Kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Anchored Instruction (AI) dengan bantuan metode Brainstorming berbantuan video pembelajaran lebih baik daripada kelas kontrol yang menggunakan model konvensional. Yulandri . menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum dan sesudah diterapkannya model discovery learning menggunakan metode brainstorming pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas Ayu S. Tuarita dkk . menjelaskan bahwa terdapat pengaruh signifikan penggunaan metode pembelajaran brainstorming terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Asri Widowati . menjelaskan bahwa dengan diterapkannya metode brainstorming ini maka siswa bisa mengemukakan gagasangagasan terbaru dari suatu masalah yang diberikan. Gagasan-gagasan ataupun pemikiran yang dipaparkan oleh siswa akan dijadikan satu, jika gagasan-gagasan tersebut bermanfaat dan akan dihilangkan jika tidak bermanfaat. Berkelompok ialah ciri khas pelaksanaan metode brainstorming ini, sehingga siswa yang memiliki ketidakmampuan dalam menciptakan suatu gagasan ataupun pemikiran akan memperoleh petunjuk berupa gagasan baru oleh anggota lain jika teman nya mampu mengutarakan Rosid Bahar . menjelaskan bahwa dengan diterapkannya pembelajaran menggunakan metode pembelajaran brainstorming ini, siswa dibiasakan menyelesaikan soal-soal yang berbentuk masalah di kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan metode brainstorming lebih baik daripada yang mengikuti pembelajaran konvensional di kelas IX SMP N 2 Nan Sabaris. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen. Menurut Suryabrata . penelitian praeksperimen adalah penelitian yang mengandung beberapa ciri eksperimental dalam Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika A (Yulianis. Isnaniah. Aprison. Imamuddi. jumlah kecil, yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Sugiyono . menjelaskan bahwa dikatakan pra-eksperimen karena masih terdapat variabel luar yang berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas IX SMP N 2 Nan Sabaris tahun ajaran 2024/2025. Sedangkan untuk pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik Random Sampling . Sehingga diperoleh sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IX. 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas IX. 2 sebagai kelas kontrol. Prosedur penelitian dibagi atas beberapa persiapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Pada tahap persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan semua instrumen dan hal-hal yang diperlukan untuk pelaksanaan Rancangan penelitian yang digunakan adalah The Static Group Comparison Design. Dalam pelaksanaannya penelitian ini terdiri dari dua kelas sampel yakni kelas eksperimen yang diberikan perlakuan pembelajaran dengan metode brainstorming dan kelas kontrol dengan perlakuan pembelajaran konvensional. Setelah mendapatkan perlakuan yang berbeda, pada kedua kelas diberikan tes dengan materi yang sama untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kedua kelas Kemudian data diolah dengan menggunakan uji statistika yang cocok. Data dalam penelitian ini ada 2 yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data observasi hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah siswa dan data nilai ulangan harian siswa kelas IX di SMP N 2 Nan Sabaris. Instrumen dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Instrumen tes pada penelitian ini menggunakan soal essay dengan tujuan dapat menggambarkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang akan digunakan pada saat akhir pembelajaran. Instrumen tes pada penelitian ini menggunakan soal essay dengan tujuan dapat menggambarkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang akan digunakan pada saat akhir pembelajaran dengan metode pembelajaran brainstorming. Volume 9. Nomor 1. Mei 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah siswa di kelas eksperimen adalah 25 siswa dan kelas kontrol 20 siswa. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah data sampel berdistribusi normal atau tidak. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Kelas Sampel dengan Uji Liliefors Kelas ya0 Keterangan Eksperimen 0,170539 0,173 Data Berdistribusi Normal Kontrol 0,183115 0,190 Data Berdistribusi Normal Gambar 1. Uji Normalitas Kelas Eksperimen Dengan Software Minitab Gambar 2. Uji Normalitas Kelas Kontrol Dengan Software Minitab Penelitian ini melibatkan dua kelompok, yaitu kelas eksperimen yang terdiri atas 25 siswa dan kelas kontrol sebanyak 20 siswa. Pembagian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas metode brainstorming dengan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika A (Yulianis. Isnaniah. Aprison. Imamuddi. Sebelum dilakukan analisis lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas data hasil belajar siswa. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berasal dari populasi yang berdistribusi Hal ini penting karena pemilihan teknik analisis statistik inferensial, seperti uji-t, mensyaratkan bahwa data harus memenuhi asumsi normalitas. Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan metode Liliefors, diperoleh nilai untuk kelas eksperimen sebesar 0,170539. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan nilai Ltabel yaitu 0,173. Dengan demikian, data kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas eksperimen dinyatakan berdistribusi Pada kelas kontrol, hasil uji Liliefors menunjukkan nilai L0 sebesar 0,183115, sedangkan nilai Ltabel sebesar 0,190. Karena nilai L0 < Ltabel, maka data pada kelas kontrol juga memenuhi asumsi normalitas. Hal ini menandakan bahwa sebaran data hasil belajar siswa pada kedua kelas bersifat homogen secara distribusi. Hasil uji normalitas ini diperkuat melalui visualisasi grafik yang dihasilkan oleh software Minitab. Pada Gambar 1, tampak bahwa data kelas eksperimen menyebar mengikuti pola distribusi normal, yang ditandai dengan sebaran titik-titik yang relatif simetris di sekitar garis normal. Demikian pula pada Gambar 2 yang menunjukkan hasil uji normalitas kelas kontrol. Pola distribusi data terlihat tidak menyimpang secara signifikan dari kurva normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa karakteristik data kedua kelas memenuhi kriteria statistik yang diperlukan untuk analisis lanjutan. Terpenuhinya asumsi normalitas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memberikan dasar yang kuat bagi peneliti untuk melanjutkan pada tahap pengujian hipotesis. Dengan demikian, perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa antara kedua kelas dapat dianalisis secara objektif menggunakan uji statistik parametrik. Uji Homogenitas Sampel Berdasarkan hasil perhitungan homogenitas kedua sampel dengan menggunakan ujiOeyce diperoleh nilai yceEaycnycycycuyci = 0,7413, sedangkan nilai yceycycaycayceyco Volume 9. Nomor 1. Mei 2026 dengan yccyco pembilang yc1 = 25 Oe 1 = 24 dan yccyco penyebut yc2 = 20 Oe 1 = 19 dengan taraf nyata A = 0,05 pada tabel nilai kritik sebaran yce adalah yce0,05. = 2,11. Dengan demikian nilai yceEaycnycycycuyci O yceycycaycayceyco . Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel memiliki variansi yang homogen. Gambar 3. Uji Homogenitas Sampel Dengan Software Minitab Temuan ini mengindikasikan bahwa perbedaan variasi nilai antar siswa pada kedua kelas tidak terlalu jauh berbeda. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa karakteristik kemampuan awal siswa pada kedua kelompok relatif setara, sehingga perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen dapat dievaluasi secara lebih objektif. Hasil uji homogenitas ini juga diperkuat melalui analisis menggunakan software Minitab, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 3. Visualisasi tersebut menunjukkan bahwa sebaran variansi kedua kelompok berada dalam rentang yang tidak berbeda secara signifikan, sehingga mendukung kesimpulan bahwa data bersifat homogen. Uji Hipotesis Setelah diketahui bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal dan memiliki variansi yang homogen, maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis uji-t. Hasil menggunakan uji-t pada kelas sampel terdapat perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan diperoleh yccyco = . cu1 ycu2 Oe . = 25 20 Oe 2 = 43, nilai ycEaycnycycycuyci = 9,8 dan ycycycaycayceyco. ,95,. = 1,68. Kriteria pengujian ya0 diterima dengan ycEaycnycycycuyci < ycycycaycayceyco dan ya0 ditolak dengan ycEaycnycycycuyci > ycycycaycayceyco . Berdasarkan perhitungan yang diperoleh ycEaycnycycycuyci > ycycycaycayceyco yaitu 9,8 > 1,68 sehingga ya0 ditolak. Gambar 3. Uji Homogenitas Sampel Dengan Software Minitab Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika A (Yulianis. Isnaniah. Aprison. Imamuddi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosid Bahar . yang menunjukkan bahwa dengan diterapkannya pembelajaran menggunakan metode pembelajaran brainstorming ini, siswa dibiasakan menyelesaikan soal-soal yang berbentuk masalah di kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa AuKemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode brainstorming lebih baik daripada yang mengikuti pembelajaran konvensional pasa siswa kelas IX di SMP N 2 Nan Sabaris Tahun Pelajaran 2024/2025Ay. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka diharapkan adanya penelitian lebih lanjut sebagai pengembangan dari penelitian yang telah peneliti lakukan Serta pengembangan untuk melihat variabel-variabel lain selain yang peneliti amati dalam penelitian ini. REFERENSI