RADIANT Journal of Applied. Social, and Education Studies e-ISSN: 2723-4614 Volume 5. No. December 2024, pp. Problem and Project Based Questions in the Indonesian Language Book for Grade XI Published by Erlangga RAHMAD NANDA VIKY SUSANTO1,HANNAN FUAD KHOLIS2. RIZAL FRISKA ADTYA3 1,2,3UIN Raden Mas Said Surakarta. Cental Java. Indonesia 1rahmadnanda85@gmail. 2hannanfuad02@gmail. 3friskarizal53@gmail. Abstract As a student companion book, textbooks must have content that can encourage students to think at a high level in order to face the development of education in the independent curriculum. This study aims to identify the content of HOTS questions based on problems and projects in the Indonesian Language textbook published by Erlangga in 2022. This study uses a qualitative descriptive approach with content analysis techniques. The data in this study are in the form of problem-based and project-based questions in the book Competent Indonesian Language Senior High School/Vocational High School Class XI published by Erlangga in The data collection technique in this study used document The data validity technique in this study used triangulation of sources and theories. The results of this study show that there are 68% problem-based questions and 32% projects in the Indonesian Language textbook published by Erlangga in 2022. This shows that this book has not been able to balance the composition of problems and projects that support the implementation of the independent However, the existence of these HOTS questions is able to support students' high-level thinking skills in the independent Keywords: erlangga, textbooks, problem-based questions, projectbased questions Copyright A 2024 The Author. This is an open-access article under the CC BY-SA 52187/rdt. Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Muatan Soal Berbasis Problem dan Project pada Butir Soal Buku Bahasa Indonesia Kelas XI Terbitan Erlangga Abstrak Sebagai buku pendamping siswa, buku teks haruslah memiliki muatan-muatan yang mampu memacu siswa untuk dapat berpikir tingkat tinggi guna menghadapi perkembangan pendidikan pada kurikulum merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi muatan soal HOTS berbasis masalah dan proyek dalam buku teks Bahasa Indonesia terbitan Erlangga tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data dalam penelitian ini berupa soal-soal berbasis masalah dan proyek dalam buku Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teori. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya muatan soal berbasis problem sebanyak 68% dan project sebanyak 32% dalam buku Bahasa Indonesia terbitan Erlangga tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa buku ini belum bisa menyeimbangkan komposisi problem dan project yang menunjang implementasi kurikulum merdeka. Namun adanya soalsoal HOTS tersebut mampu menunjang kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada kurikulum merdeka. Kata kunci: buku teks, erlangga, soal berbasis masalah, soal berbasis proyek PENDAHULUAN Perkembangan arus globalisasi membawa kemajuan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke21 sekarang dapat membuat para peserta didik mempunyai kemampuan yang lebih kritis dalam hal berpikir, berkreasi dan berinovasi. Siswa dan pendidikan di suatu negara dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kritis dan inovatif mereka. Hal ini disebabkan fakta bahwa pembelajaran keterampilan yang membuat daya berpikir lebih tinggi akan memberikan dampak yang positif untuk keterampilan peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung (Rohmawan, 2. Pada abad ke-21 diperlukan adanya beberapa kecakapan seperti keterampilan di soal-soal yang mengandung Higher Order Thingking Skills (HOTS). Dalam proses pembelajaran di sekolah, keterampilan berpikir kritis harus dikuasai dan dibiasakan sehingga peserta didik mampu melatih menyelesaikan sebuah masalah baik dalam persoalan ataupun dalam kehidupan sehari-hari (Widodo et al. , 2. 52187/rdt. 293 | 227 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS adalah keterampilan yang melibatkan proses penalaran yang tinggi. HOTS adalah salah satu sumber daya manusia dalam hal pengetahuan dan keterampilan, sehingga perlu ditingkatkan dan dikembangkan (Santi et al. , 2. Kemampuan ini melibatkan kemampuan untuk berpikir kritis dan menggunakan penalaran dengan tepat untuk menemukan solusi dari problem (Rudiansah, 2. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini adalah proses berpikir siswa di tingkat kognitif yang lebih tinggi. Ini dihasilkan dari berbagai konsep dan taksonomi pembelajaran dan taksonomi, termasuk metode penyelesaian masalah, taksonomi bloom, dan taksonomi pembelajaran, pengajaran, dan penilaian (Yuniarti, 2. Dari beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) adalah hasil dari pengembangan kognitif yang melibatkan berbagai konsep dan metode pembelajaran yang melibatkan proses penalaran yang tinggi dan penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Brookhart dalam Sutami et al. , . menguraikan pemikiran tingkat tinggi, yang berada di ujung taksonomi kognitif Bloom. Salah satu tujuan pengajaran dari adanya taksonomi kognitif ini meliputi pengajaran pada peserta didik untuk bisa menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada saat pengajaran Pemerolehan hal tersebut tergolong pada konteks baru yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh hal baru meskipun tidak selalu baru secara universal. Tujuan lainnya yaitu untuk dapat membuat peserta didik dapat menghubungkan pembelajaran yang nggak ada di luar untuk menunjang proses berpikir tingkat. Brookhart di atas menyebutkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi ini merupakan bagian dari ujung atas pada taksonomi kognitif Bloom. Taksonomi Bloom adalah konsep struktur berpikir yang dikemukakan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956. Dalam konsep ini. Bloom membagi 3 ranah kemampuan intelektual, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam ranah kognitif terbagi menjadi enam level yakni pengetahuan (C. , pemahaman (C. , aplikasi (C. , analisis (C. , sintesis (C. , dan evaluasi (C. (Utari, 2. Hampir setengah abad, tingkatan taksonomi dijadikan sebagai dasar pengelolaan pada bidang pendidikan, tes, dan kurikulum. Taksonomi Bloom kemudian mengalami revisi oleh Kratwohl dan Anderson. Revisi ini mengubah kata benda . alam taksnonomi Bloo. menjadi kata kerja . alam taksonomi revis. Anderson mengubah taksonomi kognitif Bloom menjadi mengingat (C. , memahami (C. , mengaplikasikan (C. , menganalisis (C. , mengevaluasi (C. , dan mencipta (C. (Gunawan & Paluti, 2. 52187/rdt. 293 | 228 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Bertolak belakang dengan HOTS, ada pula istilah LOTS atau Low Order Thinking Skill. Soal-soal ini tidak memerlukan kemampuan analisis tinggi dan umumnya merupakan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Dari taksonomi tersebut, kemampuan berpikir siswa dibagi menjadi dua tingkatan. Level satu sampai tiga (C1AiC. merupakan tingkatan berpikir rendah atau LOTS sedangkan level empat sampai enam (C4AiC. merupakan tingkatan berpikir tinggi atau HOTS (Ariyana et , 2. Soal-soal yang memuat mengenai LOTS berdasarkan penelitian Febriyani & MuAoarifah . dapat digunakan sebagai alat pengukur untuk mengetahui daya ingat peserta didik terhadap materi sebelumnya. Berdasarkan daya ingat tersebut dapat mendorong berpikir tingkat tinggi yang nantinya akan diimplementasikan pada soal-soal HOTS yang akan dapat mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis. Berdasarkan dua muatan pada soal di buku teks tersebut dapat meningkatkan tingkat maksimal pemakaian buku teks pada proses pembelajaran berlangsung yang secara langsung dapat mengembangkan kemampuan peserta didik (Alkarima et al. , 2. Sebagai contoh LOTS, terdapat soal yang memiliki muatan C2 atau memahami pada buku Kompeten Berbahasa Indonesia yaitu Jelaskan amanat yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Pada soal tersebut termasuk pada muatan soal LOTS karena memiliki kata kerja operasional menjelaskan yang termasuk pada C2 atau memahami. Contoh selanjutnya yaitu terdapat dengan muatan soal HOTS dengan kata kerja operasional Soal tersebut adalah sebagai berikut. Membuat video atau siniar berupa resensi terhadap sebuah buku. Kedua muatan tersebut terdapat pada buku yang akan diteliti nantinya. Namun, hanya terfokus pada muatan HOTS dengan basis soal problem dan project. Selain itu, disarankan agar soal HOTS digunakan dalam berbagai format penilaian hasil belajar. Ini jelas bahwa soal-soal HOTS juga harus dimasukkan ke dalam buku teks pelajaran. Selain dapat dibuat secara langsung oleh guru soal-soal HOTS dapat pula diperoleh dari buku teks siswa. Buku teks atau dikenal sebagai buku pendamping siswa, adalah buku yang dirancang untuk membantu siswa belajar dan meningkatkan kemampuan mereka sendiri. Buku teks memiliki tujuan utama yaitu untuk pendidik dan peserta didi pada saat pengajaran berlangsung yang dapat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kurikulum secara sistematis dan menyeluruh pada kompetensi inti serta dasar (Riangsari & Sufanti, 2. Menurut Huda et al. , buku pelajaran atau buku teks berfungsi sebagai penyedia bahan ajar, sumber pembelajaran alternatif untuk siswa, dan alat penting untuk membantu 52187/rdt. 293 | 229 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA guru menentukan topik apa yang harus disampaikan kepada siswa. Selain itu, buku pelajaran juga berfungsi sebagai alat yang membantu guru melaksanakan proses belajar-mengajar. Dalam penelitian ini, buku teks yang akan dikaji adalah buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia Kelas XI terbitan Erlangga. Alasan pemilihan buku teks ini untuk objek kajian adalah karena penerbit Erlangga merupakan salah satu penerbit buku yang populer di Indonesia. Pertanyaan tingkat rendah lebih mendominasi beberapa buku teks pelajaran, sedangkan pertanyaan tingkat tinggi masih tergolong sedikit (Awaliyah et al. , 2. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia Kelas XI terbitan Erlangga ini juga mencerminkan kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS). Terdapat beberapa penelitian yang telah dikaji oleh peneliti sebelumnya yang memiliki kemiripan dengan penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan oleh Suvina & Ramly . dengan judul AuAnalisis Pertanyaan HOTS Buku Teks Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMK/MAK Kelas X Terbitan ErlanggaAy. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada 60 pertanyaan HOTS dengan rincian: 38 pertanyaan menganalisis, 22 pertanyaan mengevaluasi, dan tidak ditemukan pertanyaan mencipta. Penelitian kedua dilakukan oleh Rudiansah . dengan judul AuMuatan Hots Buku Ajar Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Terbitan KemendikbudristekAy. Berdasarkan dari artikel tersebut memuat hasil bahwa terdapat 72% soal yang termasuk pada kategori HOTS. Soal-soal HOTS tersebut didominasi oleh level menganalisis. Penelitian ketiga dilakukan oleh Rohimakumullah & Mukhlis . dengan judul AuHigher Order Thinking Skills pada Buku Teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas X SMA/SMKAy. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya latihan muatan HOTS ditemukan sebesar 71% dengan kategori (C. 23,3%, (C. 27,1%, dan (C. 20,5%. Sedangkan LOTS ditemukan sebesar 29% pada aspek kognitif memahami (C. sehingga dapat dijelaskan muatan HOTS pada buku teks Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA/SMK Kelas X terbitan Kemdikbud sudah memenuhi kriteria muatan latihan yang berkategori HOTS. Penelitian tersebut memiliki kesamaan kajian yakni mengkaji muatan HOTS dalam buku teks bahasa Indonesia. Selanjutnya, terdapat perbedaan antara ketiga penelitian tersebut dengan yang akan dilakukan pada penelitian ini. Perbedaannya meliputi jenjang yang digunakan yaitu pada kelas XI SMA/MA sedangkan penelitian pertama dan ketiga adalah kelas X sera penelitian kedua jenjang kelas VII SMP. 52187/rdt. 293 | 230 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Selain itu, penelitian kedua dan ketiga mengambil objek berupa buku terbitan Kemendikbudristek, sedangkan penelitian ini mengambil objek berupa buku terbitan Erlangga. Terakhir, penelitian ini difokuskan pada basis project dan problem soal HOTS, sedangkan ketiga penelitian tersebut berfokus pada taksonomi Bloom revisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi muatan soal HOTS berbasis problem dan project dalam butir soal buku bahasa Indonesia terbitan Erlangga. Penelitian ini memiliki manfaat teoretis yang dapat berupa sumbangan pemikiran dalam pengembangan instrumen penilaian HOTS berbasis project dan problem dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Selanjutnya, manfaat praktis dapat untuk membantu guru bahasa Indonesia dalam memilih dan menggunakan butir soal yang tepat untuk mengembangkan HOTS siswa. Selain itu juga bermanfaat untuk Membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan HOTS dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tuntutan pembelajaran abad 21 pada kurikulum merdeka. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode menginterpretasikan isi serta makna yang terkandung dalam dokumen. Metode ini biasanya diterapkan untuk menganalisis berbagai jenis dokumen, salah satunya adalah buku yang dijadikan sebagai objek penelitian (Eriyanto, 2. Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif yang menekankan pada pemaknaan isi buku teks, interpretasi simbol, dan penilaian kebermanfaatannya sebagai media Sumber data penelitian ini adalah buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia (KBI) untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022. Data penelitian ini berupa soal-soal berbasis problem dan project dalam buku KBI. Buku tersebut dipilih sebagai sumber data karena penerbit Erlangga dikenal sebagai salah satu penerbit terkemuka dan banyak digunakan di Indonesia, termasuk di jenjang pendidikan menengah. Pertanyaan tingkat rendah lebih mendominasi beberapa buku teks pelajaran, sedangkan pertanyaan tingkat tinggi masih tergolong sedikit (Awaliyah et al. , 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi Data yang sudah ditemukan kemudian diklasifikasikan berdasarkan basis problem dan basis project. Soal berbasis problem disusun dengan menyajikan masalah atau berisi masalah yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Soal ini termasuk dalam level kognitif C4 dan C5. Sedangkan soal berbasis project menunutut peserta didik untuk menyelesaikan suatu tugas baik secara mandiri atau 52187/rdt. 293 | 231 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA kelompok dan termasuk dalam level kognitif C6. Tahap selanjutnya adalah menafsirkan terhadap data yang ditemukan. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teori. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan soal di dalam buku teks dengan panduan kurikulum dan pendapat ahli untuk memastikan validitas data. Sementara itu. HOTS menganalisis data secara mendalam. Pendekatan ini memastikan hasil penelitian lebih kredibel dan objektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan adanya soal-soal berbasis problem dan project dalam buku teks ini. Berikut ini tabel yang mengilustrasikan persebaran soal-soal berbasis problem dan project yang ditemukan dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun Tabel 1. Persebaran soal-soal berbasis problem dan project Basis Soal Problem Project Level Kognitif Kata Kerja Operasional (KKO) Mengidentifikasi Menganalisis Membandingkan Menentukan Menunjukkan Mempertimbangkan Menyimpulkan Menginterpretasikan Menilai Mengkritik Mempertimbangkan Merencanakan Menciptakan Membuat Mengembangkan Memproduksi Memainkan peran Mengombinasikan Merancang Jumlah Jumlah Persentase Pembahasan 52187/rdt. 293 | 232 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Kurikulum merdeka kurikulum yang memberikan keleluasaan belajar. Model pembelajaran menggunakan problem-based learning dan project based learning akan sangat mendukung proses belajar mengajar. Buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022 ini mampu mendukung adanya proses pembelajaran tersebut karena di dalamnya memuat soalsoal HOTS berbasis problem dan project. Muatan Soal Berbasis Problem Dalam mengembangkan pembelajaran, guru dituntut untuk mengetahui bagaimana pengaplikasian soal dengan basis berpikir tingkat tinggi. Salah satunya adalah memberikan soal-soal berbasis problem. Tan Onn Seng dalam Ariyana et al. , mengungkapkan bahwa model pembelajaran berbasis problem merupakan pembelajaran yang menggunakan kemampuan berpikir individu dan kelompok siswa dan lingkungan nyata untuk menyelesaikan problem sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual. Pada soal-soal berbasis problem, siswa harus meningkatkan keterampilan berfikir kritis, pemecahan problem, dan pengetahuan konsep melalui pembelajaran Pembelajaran meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan mengarahkan diri dalam situasi yang berorientasi pada problem. Di sini, guru tidak banyak memberikan materi, namun harus memfokuskan dan mengarahkan siswa dalam pemecahan suatu problem (Saputra, 2. Berdasarkan tabel muatan soal pada kompetensi soal berbahasa dan bersastra di buku Kompeten Berbahasa Indonesia kelas XI terbitan Erlangga yang dijadikan objek, memiliki butir soal berbasis problem dan project. Terdapat data soal muatan berbasis problem dengan level C4 dan C5 sesuai dengan taksonomi Anderson. Dalam taksonomi Anderson terdapat level C4 yang berarti menganalisis dan level C5 yang berarti menilai. Pada muatan soal ini terdapat dominan berbasis problem yang terdiri dari level C4. Pada level C4 terdapat muatan soal yang terdiri dari kata kerja operasional Aumengidentifikasi, menganalisis membandingkan. Ay Sedangkan pada level C5, terdapat muatan soal yang terdiri dari kata kerja operasional Aumenilai, mengkritik, dan mempertimbangkan. Ay Berdasarkan kata kerja operasional (KKO) tersebut, pada muatan soal didominasi oleh KKO "menganalisis". Pada kata kerja menganalisis tampak lebih mudah bagi peserta didik karena sudah disediakan seperti teks atau pranala lain untuk nantinya menemukan jawaban yang bermakna, relevan, dan kontekstual 52187/rdt. 293 | 233 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA sesuai kemampuan berpikir penyelesaian problem. Berkaitan dengan adanya soal pada level C4 dan C5 yang termasuk pada muatan berbasis problem, sesuai dengan pengaplikasian untuk menuntut peserta didik agar dapat berpikir tingkat tinggi dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal demikian sesuai dengan teori soal berbasis problem yang nantinya akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir setiap peserta didik untuk dapat menyelesaikan problem dan mengaitkan ke kehidupan sehari-hari. Pada level C5, didominasi oleh kata kerja operasional AuMenilaiAy. Kata kerja operasional tersebut memiliki dominan yang menuntut peserta didik untuk berkreasi atas pendapatnya terhadap objek yang akan dibahas. Berdasarkan hal tersebut, kata kerja operasional pada level C5 ini memiliki dominan yang mengarah ke lebih berat karena relevansi dari jawaban tergantung kreasi dari gagasan peserta Berikut adalah contoh implementasi pada soal yang memiliki level C4 dengan kata kerja operasional menganalisis dan kode data PB/KBI/16. Jika Anda menteri lingkungan hidup, apa saja yang akan Anda lakukan untuk pemenuhan air bersih bagi masyarakat luas? Berdasarkan soal tersebut memiliki kata kerja operasional yaitu menganalisis karena sajian pada soal mengandung pemikiran untuk peserta didik dapat menganalisis pemikirannya saat nanti menjadi seorang menteri lingkungan hidup. Berkaitan dengan hal itu, maka soal tersebut dapat termasuk salah satu muatan berbasis problem karena menuntut peserta didik untuk dapat berkreasi pada pendapatnya sampai menemukan argumen yang relevan. Sajian contoh implementasi selanjutnya terdapat pada soal level C4 dengan kata kerja operasional AumengidentifikasiAy dan kode data PB/KBI/22. Menurut pendapat Anda, apakah tokoh bila memiliki karakter kuat dan tabah karena suka minum kopi pahit? Pada sajian contoh soal tersebut, termasuk pada muatan berbasis problem dengan kriteria level C4 dan mengandung kata kerja operasional Aumengidentifikasi. Ay Dapat dikatakan demikian karena peserta didik dituntut untuk dapat menyatakan argumennya berdasarkan identifikasi atas teks atau pranala yang digunakan pada soal tersebut. Sajian contoh implementasi selanjutnya terdapat pada soal level C5 dengan kata kerja operasional menilai dan kode data PB/KBI/32. Berikanlah tanggapan terhadap presentasi kelompok lain dengan memberikan persetujuan, penolakan, masukan, dan sebagainya. Gunakan bahasa yang baik, sopan, dan tidak memojokkan. 52187/rdt. 293 | 234 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Pada sajian data di atas, merupakan implementasi dari kata kerja operasional menilai dengan level soal C5. Pada contoh soal tersebut memuat sajian muatan yang mengarah ke soal yang lebih berat karena peserta didik dituntut untuk dapat memberikan penilaiannya berupa persetujuan atau penolakan atau masukan dan dituntut untuk dapat menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka peserta didik tidak hanya diminta untuk dapat memberikan jawaban saja, melainkan harus bisa menggunakan bahasa sesuai dengan tempatnya dan proporsinya. Tuntutan soal seperti itu merupakan soal yang berbobot dan mampu menjadi bahan belajar peserta didik dalam komunikasi di kehidupan sehariharinya. Sajian contoh implementasi selanjutnya masih ditingkat soal level C5 dengan kata kerja operasional AumengkritikAy dan kode data PB/KBI/34. Berikan kritik terhadap para pengusaha pemilik pabrik terkait pembuangan limbah ke sungai ataupun pengolahan limbah yang tidak sesuai aturan. Selain didominasi dengan kata kerja operasional menilai, pada soal muatan berbasis problem di level C5 juga terdapat kata kerja operasional AumengkritikAy yang kaitannya tidak jauh berbeda dengan KKO Aumenilai. Ay Data yang disajikan di atas merupakan contoh muatan soal berbasis problem dengan KKO Aumengkritik. Ay Soal tersebut selain menuntut peserta didik untuk dapat memberikan jawaban, juga memuat mengenai daya berpikir kritis untuk dapat mengidentifikasi bagaimana evaluasi yang harus dilakukan oleh para pengusaha yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data tersebut, maka peserta didik dapat memecahkan suatu problem dengan menggunakan daya berpikir tingkat tinggi dan dapat menjadi bahan belajar peserta didik saat menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan adanya muatan soal berbasis problem yang terdiri dari level C4 dan C5 di atas, dapat dijadikan sebagai langkah untuk meningkatkan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik. Hal demikian juga mengarah kepada faktor tugas pendidik mengembangkan kreativitas dan kemampuannya untuk mengolah daya pikir lebih tinggi lagi. Dengan adanya muatan soal berbasis problem ini dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuannya dan mengaitkan pada kehidupan sehari-hari. Kemampuan berpikir yang lebih kritis akan dapat mengarahkan diri peserta didik untuk lebih siap menghadapi situasi yang memiliki orientasi pada problem yang lebih kompleks nantinya. Berkaitan dengan hal itu, jika peserta didik 52187/rdt. 293 | 235 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA dapat memecahkan suatu problem berdasarkan muatan soal pada level C5 dan C6, maka tingkat berpikir kritis pada peserta didik dapat meningkat. Muatan Soal Berbasis Project Soal-soal berbasis project adalah tipe soal yang mengharuskan siswa untuk mengerjakan, membuat atau menciptakan suatu project. Project ini bisa berfokus pada pemecahan problem ataupun penciptaan suatu hal baru. Soal-soal ini biasa digunakan dalam pembelajaran dengan model project-based learning (PjBL). Model PjBL adalah model pembelajaran yang memanfaatkan keaktifan siswa dalam pemecahan problem dengan batasan waktu tertentu yang kemudian dituangkan dalam bentuk produk. Tugas dalam pembelajaran ini dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok. Pada akhir kegiatan, siswa akan mempresentasikan hasil karyanya kepada orang lain (Ariyana et al. , 2. Pembelajaran dengan memanfaatkan soal-soal berbasis project ini akan menuntut siswa untuk lebih aktif, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa dalam menjawab persoalan yang ada. Pembelajaran ini dapat memunculkan perubahan sikap pada siswa seperti meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan untuk menyampaikan pendapat, dan kemampuan kolaborasi (Purnomo & Ilyas, 2. Berdasarkan data muatan soal berbasis project pada kompetensi soal berbahasa dan bersastra di buku Kompeten Berbahasa Indonesia kelas XI terbitan Erlangga, terdapat dominasi penggunaan Kata Kerja Operasional (KKO) pada level C6 sesuai dengan taksonomi Anderson. Level C6 merupakan tingkatan tertinggi dalam domain kognitif, yang mencakup kemampuan untuk mencipta, merancang, atau mengembangkan suatu produk atau gagasan baru. Dari butir soal berbasis project yang disajikan, terdapat 18 butir soal yang termasuk dalam kategori level C6. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas muatan soal berbasis project menuntut peserta didik untuk mencapai tingkat berpikir tertinggi dalam ranah kognitif. KKO yang paling dominan digunakan pada level C6 adalah AumenciptakanAy dan Aumembuat,Ay masing-masing muncul sebanyak lima kali. Kata kerja menciptakan menuntut peserta didik untuk menghasilkan suatu produk atau gagasan yang benar-benar baru dan orisinal, sedangkan kata kerja AumembuatAy menuntut peserta didik untuk menghasilkan suatu produk atau hasil karya berdasarkan kriteria atau pedoman yang telah ditetapkan. Contoh penggunaan KKO AumenciptakanAy dapat dilihat pada soal kode PB/KBI/5, yaitu sebagai berikut. 52187/rdt. 293 | 236 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA Amatilah peristiwa yang terjadi di sekitar Anda, dan tulislah dalam cerpen berjudul nasehat-nasihat yang ada kaitannya dengan kejadian sehari-hari. Pada soal ini, peserta didik dituntut untuk mengamati lingkungan sekitar, mengolah informasi dan pengalaman tersebut, kemudian menciptakan sebuah karya sastra berupa cerpen dengan tema tertentu. Selain itu, contoh penggunaan KKO "membuat" dapat dilihat pada butir soal kode PB/KBI/4, yaitu sebagai berikut: Buatlah poster secara berkelompok dengan panduan langkah kerja yang telah Pada soal ini, peserta didik harus mengikuti panduan atau kriteria yang telah ditetapkan dalam membuat sebuah poster. Selain "menciptakan" dan "membuat," terdapat beberapa KKO lain yang digunakan pada level C6, antara lain "merencanakan, mengombinasikan dan merancang. " Keberagaman KKO ini menunjukkan bahwa muatan soal berbasis project pada buku tersebut mencakup berbagai jenis kegiatan dan tugas yang menuntut tingkat berpikir tinggi dari peserta didik. Dengan adanya dominasi muatan soal berbasis project pada level C6, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, kritis, dan inovatif. Mereka tidak hanya dituntut untuk mengingat atau memahami konsep, tetapi juga harus mampu mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan akhirnya menciptakan suatu produk atau gagasan baru yang bermanfaat. Muatan soal berbasis project pada level C6 juga mendukung implementasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. Peserta didik tidak lagi menjadi penerima pasif informasi, melainkan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan mengeksplorasi, berkreasi, dan menghasilkan karya nyata. Pada level C4 dan C5 muatan berbasis masalah memiliki presentase 68%. Pada level C4 didominasi kata kerja operasional Aumenganalisis,Ay sedangkan level C5 didominasi oleh kata kerja operasional Aumenilai. Ay Berdasarkan hal itu, maka dapat disimpulkan bahwa buku yang dijadikan objek pada penelitian ini memiliki dominasi soal HOTS yang berbasis problem. Pada level C6 muatan berbasis project memiliki presentase 32%. Pada level tersebut didominasi oleh kata kerja operasional menciptakan dan membuat. Kedua kata kerja operasional tersebut memilih kaitan dan kemiripan pada konsep serta tujuan hasil belajar peserta didik. Secara keseluruhan buku Kompeten Berbahasa Indonesia kelas XI terbitan Erlangga mencerminkan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengembangkan keterampilan peserta didik, seperti berpikir kritis, kreatif, 52187/rdt. 293 | 237 Rahmad Nanda Viky Susanto, et al. Muatan Soal Berbasis ProblemA kolaboratif, dan komunikatif. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk membentuk peserta didik yang memiliki kompetensi dan kecakapan hidup yang dibutuhkan di era saat ini. SIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, peneliti menemukan muatan soalsoal berbasis problem dan project pada buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022. Sesuai dengan taksonomi Bloom revisi, muatan soal berbasis problem terdiri dari level kognitif C4 dan C5. Sedangkan muatan soal berbasis project berada pada level kognitif C6. Muatan soal berbasis problem dan project dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022 didominasi oleh KKO menganalisis. Hal ini menunjukkan bahwa buku ini sangat menunjang pembelajaran dengan kemampuan berpikir secara kritis. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI terbitan Erlangga tahun 2022 ini mampu membantu guru untuk menunjang siswa dalam berpikir tingkat tinggi pada kurikulum merdeka. Meskipun begitu, komposisi soal-soal berbasis problem dan project belum seimbang. Soal-soal berbasis problem masih mendominasi dalam buku ini. Hal tersebut tentu saja kurang ideal dalam penyelenggaraan pembelajaran di kurikulum merdeka yang sudah terintegrasi dengan problem-based learning dan project-based learning. DAFTAR PUSTAKA