Jurnal AUDHI Vol. No. Juli 2023. Pages 37-46 p-ISSN: 2662-2469. e-ISSN: 2774-8243 https://jurnal. id/index. php/AUDHI PERENCANAAN KOMUNIKASI KEMITRAAN UNTUK MENDUKUNG PELAKSANAAN AWAL PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK INTEGRATIF Gusti Asiyani1. Nur Kholik Afandi2. Siti Nor Asiah3 1,2,3 Pasca Sarjana Pendidikan Islam Anak Usia Dini. UIN Sultan Aji Muhammad Idris. Jalan KH. Abdul Hasan No. Samarinda Email: asiyanigusti@gmail. Abstrak - Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan lembaga pendidikan anak usia dini dilakukan dengan cara holistik-integratif untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memberikan layanan yang komprehensif dan berkualitas, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan Perencanaan komunikasi kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran anak, mengakomodasi beragam kebutuhan anak, dan membawa budaya inklusif dalam pendidikan. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan wawasan tentang bagaimana menerapkan strategi kemitraan dan mengatasi hambatan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Penelitian dengan pendekatan Pengumpulan data diperoleh dari studi empiris dan literatur dengan mendokumentasikan dan mereview semua artikel terkait komunikasi kemitraan dari tahun 2007 sampai tahun 2023. Diperoleh sebanyak 32 artikel jurnal nasional dan jurnal internasional terakreditasi yang diperoleh dari Google Scholar. Research Gate. SINTA. DOAJ dan Scopus. Berdasarkan kajian literatur didapatkan hambatan dalam rencana kemitraan komunikasi termasuk sikap menghakimi ketika bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat, sekolah sebagai lingkungan yang tidak bersahabat, asumsi bahwa keluarga dan masyarakat kurang mampu mengenai proses pendidikan, dan kurangnya guru mengenai pelatihan Strategi yang dilakukan yaitu: . keterampilan komunikasi antara guru, keluarga dan masyarakat, . komitmen bersama untuk melakukan tanggung jawab dan peran dalam kemitraan, dan . keterbukaan sekolah mengenai perkembangan belajar anak. Hasil penelitian ini diharapkan agar guru, sekolah, orangtua, dan masyarakat mendapat pemahaman keseluruhan tentang pengembangan komunikasi kemitraan yang dapat berguna bagi pemberlakuan program PAUD HI. Nilai-nilai komunikasi yang dapat diimplementasikan untuk mengembangkan kemitraan yang efektif antara lain pengertian dan penghormatan, keterbukaan, saling percaya, dan komitmen. Kata kunci - Keluarga. Kemitraan. Masyarakat. Pendidikan Anak Usia Dini Abstract - Abstract - The government has issued a policy that requires early childhood education institutions to be carried out in a holistic-integrative way to improve the quality of education, provide comprehensive and quality services, and involve all relevant education stakeholders. Planning communication partnerships between schools, families and communities is expected to improve children's learning, accommodate the diverse needs of children, and bring about an inclusive culture in The aim of the research is to provide insight on how to implement a partnership strategy and overcome obstacles that may occur during the implementation of the Holistic Integrative Early Childhood Development (PAUD HI) program. Research with a qualitative approach. Data collection was obtained from empirical studies and literature by documenting and reviewing all articles related to partnership communication from 2007 to 2023. A total of 32 accredited national journal articles and international journals were obtained from Google Scholar. Research Gate. SINTA. DOAJ and Scopus. Based on the literature review, it was found that there were obstacles in the communication partnership plan including Received 22 Mei 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. judgmental attitudes when working with families and communities, schools as hostile environments, the assumption that families and communities were less able regarding the educational process, and a lack of teachers regarding partnership training. The strategies used are: . communication skills between teachers, families and communities, . shared commitment to carry out responsibilities and roles in partnership, and . school openness regarding children's learning development. It is hoped that the results of this study will allow teachers, schools, parents, and the community to gain an overall understanding of the development of partnership communications that can be useful for the implementation of the HI ECD program. Communication values that can be implemented to develop effective partnerships include understanding and respect, openness, mutual trust, and commitment. Keywords - Family. Partnership. Community. Early Childhood Education PENDAHULUAN emitraan dimaknai dengan kolaborasi, kerja sama, kerja bersama, atau hubungan antar lembaga kemitraan sebagai gagasan kerja sama dan timbal balik (Robingatin & Khadijah, 2. Sedangkan Yusuf. Mukhoiyaroh, & Tajab . bahwa kemitraan merupakan berbagai pengaturan yang mencakup tujuan, anggota, rentang waktu, struktur, dan prosedur. Berbeda dengan pendapat Fatchurrohman . , kemitraan untuk tujuan bersama, pengaturan dalam proses, hak bersama, sumber daya, dan tanggung jawab, meningkatkan Gagasan kemitraan dalam pengaturan anak usia dini dimaknai sebagai kolaborasi antara berbagai profesional anak usia dini, keluarga, dan komunitas dengan tujuan mendukung Pembelajaran dan perkembangan anak dengan susunan struktur, rentang waktu, dan prosedur untuk membuat kemitraan bekerja secara efektif (Kambouri. Wilson. Pieridou. Quinn, & Liu, 2. Praktik kemitraan dalam Pendidikan Anak Usia Dini Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Implementasi PAUD HI diberlakukan pada tahun 2013 dengan tujuan mendorong seluruh pemangku kepentingan Pengembangan Anak Usia Dini (Mardiana. Suarta, & Rachmayani, 2. Ketentuan diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 60 Tahun 2013, pasal 1 yang mendefinisikan PAUD HI sebagai upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan kendala-kendala Tirtaningtyas . mengungkapkan bahwa Sekolah menghadapi beberapa kendala dalam melakukan program PAUD HI, antara lain: koordinasi antar pemangku kepentingan, kurangnya pengetahuan dan keterampilan untuk mengimplementasikan program kemitraan, dan partisipasi orang tua yang rendah. Mengingat pentingnya komunikasi kemitraan untuk mendukung pelaksanaan awal PAUD HI, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran perencanaan komunikasi kemitraan yang dapat digunakan untuk mendukung layanan pengembangan anak usia dini dalam melakukan kemitraan secara holistik-integratif METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan secara sistematis terhadap artikel penelitian empiris (Chasanah & Prastowo, 2. mengenai kemitraan dalam konteks pendidikan anak usia dini. Artikelartikel itu dicari dan ditemukan pada database menggunakan kombinasi yang berbeda istilah pencarian, yaitu: "kemitraan", "keluarga", "keterlibatan," dan "pendidikan anak usia dini". Berdasarkan studi empiris dan literatur dari Google Scholar. Research Gate. SINTA. DOAJ dan Scopus (Afsari. Safitri. Harahap, & Munthe, 2. diperoleh informasi dalam bentuk jurnal, buku, artikel dan prosiding dari seminar internasional mulai tahun 2007 sampai tahun Peneliti menggunakan analisis data interaktif yang dikembangkan oleh Miles & Huberman (Rohmah & Aflahani, 2. dalam komunikasi untuk mendukung pelaksanaan program PAUD HI. Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. Berikut beberapa kajian pustaka hasil penelitian sebagai rujukan penulis dalam melakukan analisis yaitu: Tabel 1 Referensi Terkait Perencanaan Komunikasi Kemitraan untuk Mendukung Pelaksanaan Awal PAUD HI Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. HASIL DAN PEMBAHASAN Manfaat kemitraan Membangun kemitraan antara semua anggota dalam pendidikan sangat penting karena banyak keberhasilan dalam hubungan untuk menciptakan budaya sekolah. Berdasar riset Harvard Family Research Project menunjukan bahwa keterlibatan aktif pendidik pengalaman belajar anak usia dini secara positif (Arifin, 2. Kemitraan kolaboratif dengan interprofessional seperti praktisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan spesialis juga dapat berkontribusi dalam menghadirkan inklusif budaya dalam pendidikan. Misalnya, ketika kita memiliki anak dengan kebutuhan belajar yang signifikan, membangun kemitraan dengan peneliti atau spesialis akan membawa wawasan baru tentang cara menangani masalah ini. Nantinya hasil dari kolaborasi tersebut akan berguna bagi para pengambil kebijakan untuk membuat kurikulum. Kemitraan Sekolah-keluargamasyarakat menyediakan sarana untuk memenuhi beragam kebutuhan anak-anak secara terkoordinasi. Hatimah . berpendapat bahwa kemitraan antara Sekolah, keluarga, masyarakat dapat memberikan hasil pendidikan yang lebih baik dan ketahanan untuk anak, pemberdayaan orang tua, dan modal sosial untuk anak-anak. Hendro & Vera . memberikan gambaran bahwa pembelajaran terpadu pada pendidikan anak usia dini mempengaruhi aspek perkembangan. Komunitas menunjukkan keefektifan model ini untuk mengatasi beberapa masalah di terintegrasi, menekankan bahwa kemitraan dengan komunitas sangat penting, dan lebih banyak yang dapat diperoleh dengan bersama oranglain daripada melakukan sesuatu untuk mereka (Muslim, 2. Sedangkan menurut pendapat Jamilah . , rencana ini bertujuan untuk menyediakan strategi kemitraan yang efektif bagi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan program PAUD HI. Komponen penting dalam kemitraan Memahami dan Menghormati Nilai ini diadaptasi dari teori Bioekologi yang menyatakan bahwa perkembangan manusia telah dihasilkan dari interaksi banyak faktor. Versi terbaru dari teori Bioekologi (Perdana, 2. menggambarkan teori ini sebagai model processAepersonAecontextAetime (PPCT) yang memandang perkembangan manusia sebagai akibat dari . sistem dan konteks yang saling terkait, . proses yang terletak dalam pengaturan waktu tertentu, dan . orangfaktor terkait. Dalam konsep ini dalam pikiran Ansori . , baik guru maupun profesional harus mengenali pengaruh karakteristik individu anak, sejarah keluarga, dan nilai budaya sebagai beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran anak. Kemampuan menghormati dan memahami diperlukan untuk membangun komunikasi yang efektif antara masing-masing anggota saat berdiskusi tentang program pembelajaran. Dengan menghormati dan memahami nilai budaya di masyarakat setempat, guru dapat menghubungkannya dengan budaya sekolah seperti mengadaptasi nilai-nilai karakter kearifan lokal atau memasukkan budaya seni lokal ke dalam rencana pelajaran. Suminar & Widyastuti . menyatakan nilai-nilai ini juga diperlukan dalam kemitraan antara guru dan anak sejak dini. Guru harus didorong untuk memberikan pengajaran yang berbeda kepada anak untuk mengakomodasi kebutuhan Ningrum. Hasibuan, & Fitri menyadari bahwa setiap anak yang datang ke sekolah membawa "tas virtual" mereka yang pengalaman budaya, dan pengetahuan Dengan demikian, hal ini sangat penting untuk guru memahami latar belakang anak agar kegiatan pembelajaran menjadi Keterbukaan Suarta & Rahayu . merangkum beberapa harapan orang tua dan guru, dan menemukan bahwa guru ingin agar orang tua terbuka dengan mereka mengenai informasi anak dengan kebutuhan khusus atau masalah Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. kesehatan dan keadaan rumah yang mungkin memengaruhi pembelajaran anak. Oleh karena itu, orang tua juga menuntut guru untuk berdiskusi lebih banyak tentang proses belajar anak dan menanggapi suara mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa harapan orang tua dan guru terhadap proses pembelajaran anak mungkin berbeda (Zahrawanny & Fitria, 2. meskipun memiliki tujuan utama yang sama yaitu untuk mendukung anak belajar. Oleh karena itu, masing-masing pihak harus terbuka dan menetapkan kejelasan dan transparansi untuk sukses kemitraan. Penting untuk memperjelas harapan masing-masing anggota dewan sekolah terkait dengan anak belajar untuk membuat program sekolah yang diinginkan yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua orang. Saling percaya. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu tantangan mengimplementasikan kemitraan dalam program PAUD HI adalah kebingungan akan pergeseran peran dan otoritas yang tiba-tiba di antara semua pemangku kepentingan yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua, masyarakat, dan anak. Sistem pendidikan di Indonesia Pemerintah, yang tiba-tiba bergeser peran dan wewenang untuk mengambil bagian dalam Kebijakan sekolah menjadi beban beberapa anggota terutama bagi orang tua dan masyarakat yang tidak pernah memiliki wewenang untuk berpartisipasi dalam kebijakan sekolah sebelumnya. Sebelum reformasi dilaksanakan, keluarga dan masyarakat mempunyai keterlibatan di sekolah dan orang tua biasanya lebih bergantung pada guru, seperti yang mereka lihat guru sebagai Pentingnya peranan guru profesional dikutip dari Novitasari & Fitria . , adalah selalu menjaga kendali atas keputusan untuk masalah akademik anak. Sementara peran orang tua adalah menerima informasi dan instruksi tentang anak-anak mereka karena guru tidak hanya mengajar tetapi juga menganalisa perkembangan anak didiknya. Gagasan "kepercayaan" juga didesak oleh Ngiu. Djafri, & Arwildayanto . dalam pendekatannya yang berpusat pada keluarga dan menyarankan bahwa pendidik harus memberdayakan keluarga sehingga mereka dapat benar-benar menjadi pengambil keputusan mengenai pilihan apa pun dari intervensi dan praktik program untuk mendukung pembelajaran anak-anak dan berbagi informasi serta pengetahuan tentang anak mereka. Sejalan dengan itu Jamilah . kepercayaan dalam model kemitraan. menegaskan, baik orang tua maupun guru harus dipandang sebagai ahli yang dapat berkontribusi dalam pembelajaran anak. Oleh karena itu, rasa saling percaya untuk melaksanakan tanggung jawab dalam kemitraan diperlukan untuk mendorong orang tua dan masyarakat agar dapat mengambil bagian dalam pembelajaran anak-anak, pengembangan, dan kesejahteraan. Sementara pentingnya kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mendukung pembelajaran anak, dimana suara anak sebagai salah satu elemen yang terpenting dalam kemitraan ini. Keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan di sekolah memiliki manfaat baik dalam kaitannya dengan peningkatan pembelajaran maupun untuk diikutsertakan dan dihargai dalam komunitas Melibatkan anak dalam kemitraan dengan orang lain akan memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan suara mereka, dan secara kolaboratif terlibat dalam kegiatan sekolah. Jadi pendidik harus mengakui pendapat mereka dan mempercayai tanggung jawab anak untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Membangun komunikasi dan komitmen yang efektif. Guru perlu memiliki keterampilan komunikasi (Kementrian Pendidikan Nasional RI, 2. yang baik untuk membangun kemitraan dengan orang tua. Keterampilan komunikasi ini membutuhkan pendengaran aktif, konseling, dan ketegasan. Konseling dasar juga diperlukan yang melibatkan keterampilan mendengarkan, memahami dan bertindak perencanaan. Tyas. Jannah. Pratiwi, & Setiawaty . menekankan bahwa guru harus mendengarkan apa yang dikatakan orang tua untuk Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. mengklarifikasi keprihatinan dan ide mereka, kemudian membantu mereka mendapatkan pemahaman yang jelas tentang situasi masalah. Akhirnya, perencanaan tindakan diperlukan untuk membantu orang tua mempertimbangkan opsi yang mungkin untuk mengatasi keprihatinan, mengembangkan rencana untuk Tindakan, dan meninjau kemajuan. Dalam kemitraan demokratis di mana setiap anggota memiliki kekuatan dan kesempatan yang sama untuk menyampaikan suara mereka, keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting untuk mencegah masalah komunikasi seperti asumsi dan prasangka serta penyalahgunaan bahasa. Rochani . mengidentifikasi lima bentuk komunikasi untuk mengembangkan dan memelihara komunikasi dua arah antara orang tua dan guru yang meliputi: . kontak informal . aktu sekolah, parenting, tamasy. , . kontak telepon, . berbagai bentuk komunikasi tertulis . aitu, buku pegangan, buletin, email, buku harian sekolah rumah, dan laporan kemajua. , . pertemuan orang tua dan guru, serta . kunjungan ke rumah. Dapat dilihat bahwa ada berbagai macam strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi antara guru dan keluarga. Namun. Triwardhani. Trigartanti. Rachmawati, & Putra . menekankan bahwa penggunaan metode yang sebenarnya tergantung pada preferensi orang tua dan guru serta konteks Di dalam program PAUD HI, pertemuan orang tua biasa digunakan sebagai bentuk strategi Tersedianya berbagai strategi akan mengarah pada peningkatan substansial dalam tingkat keterlibatan orang tua dan masyarakat di sekolah. Last but not least, komitmen untuk melakukan tanggung jawab dan peran dalam kemitraan juga menjadi elemen penting. Mulyani . , berpendapat pentingnya mendefinisikan peran kepala sekolah, guru, orangtua dalam kemitraan. Peran yang dipilih harus didasarkan pada preferensi mereka dan dihormati oleh semua orang yang terlibat. Kemungkinan Tantangan dalam Rencana Komunikasi Kemitraan Terdapat beberapa kemungkinan tantangan dalam rencana komunikasi kemitraan. Pertama. Kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat seringkali sulit untuk Pada umumnya sebagian orangtua merasa power berada ditangan mereka sehingga banyak guru tidak nyaman dengan hal tersebut. Namun orangtua juga berpendapat bahwa sebagian besar guru dan administrator sering memiliki asumsi bahwa mereka adalah "pemimpin individu" dalam pendidikan anak, dan memiliki sedikit perhatian pada pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat. Keterbukaan sekolah dipandang sebagai lingkungan yang tidak bersahabat dan terkadang bisa mengintimidasi bagi orang tua dan Ada asumsi sekolah bahwa keluarga dan masyarakat kurang mampu dalam proses komunikasi dan komitmen pendidikan serta kurangnya pengetahuan guru tentang interpersonal, dan keterampilan dalam Sikap guru dan administrator terhadap orang tua sering dipengaruhi oleh nilai budaya. Akibatnya, keterlibatan keluarga kemungkinan besar terjadi dengan keluarga yang lebih berpendidikan dan stabil secara ekonomi daripada keluarga dari sosial ekonomi bawah. Untuk mengatasi kendala ini, guru harus menghindari prasangka terhadap keluarga dan Di dalam praktik yang berpusat pada keluarga. Yus & Ray . berpendapat bahwa setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang seharusnya Sikap menghakimi tidak hanya menentang konsep "pendidikan untuk semua" tetapi juga dapat mendorong marjinalisasi dalam pendidikan dan mempengaruhi Selanjutnya, asumsi terhadap pilihan keluarga dan menanggapi kegiatan sekolah juga harus dihormati. Hatimah . menyebutkan bahwa guru tidak boleh berasumsi bahwa orang tua yang tidak datang ke pertemuan orang tua, tidak tertarik dengan pendidikan anak-anak mereka. Untuk menyikapi hal tersebut diperlukan profesional pendidik sesuai dengan standar kompetensi profesional guru (Tsabitah & Fitria, 2. Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. Ada beberapa alasan mengapa beberapa orang tua tidak menghadiri pertemuan orang tua, termasuk masalah transportasi dan mengasuh anak, serta sikap negatif orang tua terhadap perasaan tentang hari-hari mereka di sekolah. Tentu saja, sangat sulit bagi para guru ketika orang tua tidak menghadiri pertemuan orang tua karena program itu memberikan kesempatan bagi guru-orang tua untuk berbicara tentang perkembangan anak-anak di Namun, dalam bukunya. Setiawan & Harfiani . berpendapat bahwa hal itu penting bagi guru dan administrator untuk kebutuhan khusus keluarga, mahir dalam keterampilan membangun hubungan dan interaksi khusus serta memiliki pengetahuan dan akses untuk dukungan dan akses yang Kedua. Hendro & Vera . berpendapat hambatan yang mungkin terjadi untuk menerapkan nilai keterbukaan adalah sekolah sering dipandang sebagai musuh lingkungan yang terkadang dapat mengintimidasi orang tua dan masyarakat. Dewees. Febriana. Usman, & Herarti . mesndeskripsikan bahwa beberapa keluarga mungkin tidak terlibat dalam kemitraan karena mereka memiliki kenangan dan pengalaman yang tidak menyenangkan tentang Sekolah. Keadaan ini memunculkan penghindaran dan lolos dari perilaku yang membuat keterlibatan keluarga menjadi sulit. Untuk mengatasi kendala ini, guru harus memberdayakan keluarga dan menciptakan lingkungan yang ramah di sekolah. Indriyani . juga mendorong pendekatan sekolah seperti keluarga yang mendorong guru untuk welcome kepada semua keluarga. Tidak hanya keluarga yang mudah dijangkau. Dengan mendirikan sekolah yang ramah keluarga, keluarga dan masyarakat akan merasa diterima sehingga dapat mendorong keterbukaan untuk berbagi informasi mengenai perkembangan belajar anak. Ketiga, komponen mutual trust adalah anggapan sekolah bahwa keluarga dan masyarakat kurang mampu dalam proses pendidikan berupa sikap terhadap keterlibatan orang tua yang meliputi: orang tua sebagai masalah, orang tua sebagai musuh, orang tua sebagai rentan, orang tua sebagai kurang mampu, orang tua sebagai membutuhkan perawatan, orang tua sebagai kausal dan orang tua perlu dijaga pada "jarak profesional. " (Utari, 2. Semua identifikasi tersebut menekankan bahwa orang tua sering dilihat sebagai bagian dari masalah daripada solusi (Subianto, 2. Tantangan ini dapat diselesaikan dengan menumbuhkan pemahaman guru bahwa keluarga dan masyarakat memiliki hak dan peran dalam pengembangan pembelajaran Sehingga sudah seharusnya guru mengakui hak orang tua untuk terlibat dalam kegiatan sekolah dan berbagi akuntabilitas dan tanggung jawab dalam bentuk kemitraan. Dikutip dari Mahmud . mengenai teori Eipsten yang menetapkan kerangka kerja menjadi enam jenis keterlibatan untuk sekolahkeluarga-masyarakat termasuk pengasuhan, pengambilan keputusan, dan berkolaborasi dengan keluarga serta melibatkan orang tua dan masyarakat dalam berbagai kegiatan Keempat, komitmen adalah kurangnya pengetahuan guru Bahasa. Puspitasari . berpendapat bahwa guru mungkin ahli dalam presentasi dan penjelasan namun, keterampilan mendengarkan, konseling, dan ketegasan, kurang berkembang. Ketiga keterampilan komunikasi interpersonal ini penting untuk kemitraan dengan orang tua dan masyarakat. Teori Epstein juga menunjukkan bahwa mayoritas guru telah bekerjasama dengan orang tua. Karena itu, mereka kekurangan keterampilan dan menghadapi orang tua dan masyarakat dalam pendekatan kemitraan. Maka untuk meminimalkan hambatan tentunya pendidik harus meningkatkan penguasaan teknologi. Pendidik harus dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman tentang model kemitraan, termasuk praktik kolaborasi Studi percontohan yang dilakukan menunjukkan Received 22 Mei 2023. Accepted 25 Juli 2023. Published 30 Juli 2023 Asiyani. Afandi. Asiah. Vol. No. 1, 2023, pp. bahwa pelatihan kepada profesional sekolah dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi serta membawa perubahan positif dalam sikap terhadap kolaborasi. Tantangan lain yang mungkin adalah hambatan bahasa antara guru, keluarga, dan SIMPULAN DAN SARAN Temuan penelitian ini adalah mengenai strategi perencanaan komunikasi kemitraan untuk mendukung pelaksanaan awal PAUD HI. Untuk memaksimalkan perencanaan kemitraan diperlukan strategi yaitu: . Keterampilan komunikasi antara guru, keluarga dan masyarakat, . Komitmen bersama untuk melakukan tanggung jawab dan peran dalam kemitraan, dan . Keterbukaan sekolah mengenai perkembangan belajar anak. Dari hasil penelitian ini diharapkan guru, sekolah, orangtua dan masyarakat mendapat pengembangan komunikasi kemitraan yang dapat berguna bagi pemberlakuan program PAUD HI serta nilai-nilai komunikasi yang mengembangkan kemitraan yang efektif. Lebih lanjut agar guru meningkatkan kompetensinya, maka harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan komunikasi terutama kompetensi penguasaan teknologi mengenai model kemitraan. DAFTAR PUSTAKA