Jurnal Farmasi SYIFA Volume 2. Nomor 2. Halaman 74-80. Agustus 2024 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS EVALUASI PENYIMPANAN OBAT DI GUDANG FARMASI PUSKESMAS SAPTOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Evaluation of Medication Storage in the Pharmacy Warehouse of Puskesmas Saptosari. Gunungkidul Regency Lulu Laily Aji Warani1. Afrizal Wahyu Darma Syahyeri2*. Yuni Andriani3 S1 Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Indonesia S1 Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Indonesia S1 Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Indonesia *Corresponding author: afrizalsyahyeri@gmail. Info Artikel Diterima: 28 Agustus 2024 Direvisi: 30 Agustus 2024 Dipublikasikan: 31 Agustus 2024 ABSTRAK Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dari layanan kesehatan di puskesmas. Pengelolaan sediaan farmasi di puskesmas adalah aspek penting dalam pelayanan kefarmasian, di mana penyimpanan obat menjadi salah satu tahap penting. Kesalahan dalam penyimpanan dapat menyebabkan kerusakan obat, sehingga mengurangi efektivitasnya saat dikonsumsi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penyimpanan obat serta efisiensi dalam penyimpanan obat di Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan lembar checklist yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 dan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019. Hasil penelitian dari kesesuaian ruang penyimpanan obat di Puskesmas Saptosari sebesar 100% dan kesesuaian proses penyimpanan obat sebesar100%. Efisiensi penyimpanan obat menunjukkan nilai TOR sebesar 7,3 kali per tahun, persentase obat kadaluwarsa sebesar 7% dengan nilai kerugian sebesar Rp 1. 578, tidak ada obat yang rusak, stok mati sebesar 10,82%, kesesuaian obat dengan kartu stok sebesar 100%, dan nilai stok akhir obat sebesar 13,69%. Kesesuaian ruang penyimpanan dan proses penyimpanan obat di Puskesmas Saptosari sudah sesuai dengan standar. Meskipun kesesuaian dengan kartu stok dan persentase obat rusak sudah memenuhi standar. TOR, persentase obat kadaluwarsa, stok mati, dan nilai stok akhir masih belum mencapai standar. Kata kunci: Efisiensi. Penyimpanan obat. Puskesmas This is an open access article under the CC BY-NC 0 license. ABSTRACT Pharmaceutical services are a crucial part of healthcare at community health centers (Puskesma. Managing pharmaceutical supplies at these centers is an essential aspect of pharmaceutical services, with medication storage being a key stage. Improper storage can lead to medication damage, reducing its effectiveness when consumed by patients. This study aims to evaluate the compliance with medication storage standards and the efficiency of medication storage at Puskesmas Saptosari in Gunungkidul Regency. The research was conducted using a descriptive observational approach with a cross-sectional Data were collected using a checklist referring to the Minister of Health Regulation No. 74 of 2016 and the Technical Guidelines for Pharmaceutical Service Standards at Puskesmas 2019. The study results show that the compliance of the medication storage space at Puskesmas Saptosari is 100% and the compliance with the medication storage process is also 100%. The efficiency of medication storage shows a turnover rate (TOR) of 7. 3 times per year, an expiration rate of 7% with a loss value of Rp 1,739,578, no damaged medications, dead stock at 10. 82%, 100% alignment with stock cards, and an ending stock value of 13. The compliance of the medication storage space and the storage process at Puskesmas Saptosari meets the standards. Although alignment with stock cards and the rate of medication damage are up to standard, the TOR, expiration rate, dead stock, and ending stock value still do not meet the standards. Keywords: Community health center. Drug storage. Efficiency Jurnal Farmasi SYIFA PENDAHULUAN Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesma. merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang tersedia untuk masyarakat. Pelayanan kefarmasian merupakan suatu layanan kesehatan yang tersedia di puskesmas (Kemenkes RI, 2. Pelayanan kefarmasian salah satunya berkaitan dengan pengelolaan sediaan farmasi dan BMHP (Mustika et al. , 2. Penyimpanan obat merupakan bagian penting dari pengelolaan sediaan farmasi. Obat-obatan harus disimpan sesuai standar yang ditetapkan agar aman, bebas dari cacat atau kerusakan fisika ataupun kimia, serta kualitas obat dapat dipertahankan. Selain itu, penyimpanan obat juga dimaksudkan untuk meghindari pengguna yang tidak bertanggung jawab, dan mempermudah dalam pengawasan serta pencarian (Kemenkes RI, 2. Sistem penyimpanan obat pada puskesmas telah diatur oleh Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019 yang didalamnya mempertimbangkan beberapa faktor terkait proses penyimpanan obat antara lain penataan obat berdasarkan bentuk sediaan, kelas terapi serta penyusunannya menurut abjad. Selain itu metode penyimpanan obat dapat menggunakan sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) (Kemenkes RI, 2. Efisiensi penyimpanan obat pada puskesmas dapat dilihat dari beberapa indikator diantaranya adalah Turn Over Ratio (TOR), obat kedaluwarsa, stok mati obat, kesesuaian obat dengan kartu stok, obat rusak, dan stok akhir obat (Satibi, 2. Kesalahan penyimpanan obat di puskesmas dapat mengakibatkan rusaknya obat sehingga dapat menyebabkan penurunan potensi/kadar obat sehingga menjadi tidak efektif dalam terapinya jika dikonsumsi oleh pasien (Tuda et al. , 2. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan terkait penyimpanan obat pada puskesmas di Indonesia belum sesuai dilihat dari indikator penyimpanan obat yang tidak memenuhi standar Penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Purwoasri Kabupaten Kediri belum sesuai dengan standar, yakni dengan persentase kesesuaian tata ruang penyimpanan obat dan BMHP sebesar 89%, serta proses penyimpanan obat dan BMHP sebesar Selain itu, efisiensi penyimpanan obat dinyatakan belum sesuai standar dilihat dari hasil Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 stok mati menunjukkan persentase sebesar 38%, obat dan BMHP rusak atau kedaluwarsa sebesar 1% dan stok kosong sebesar 41% (Prasetya et al. Sejalan dengan penelitian di gudang farmasi Puskesmas Sribhawono Kabupaten Lampung Timur menyatakan bahwa presentase kesesuaian proses penyimpanan sediaan farmasi sebesar 83% untuk kesesuaian tata ruang penyimpanan obat sebesar 83%. Selain itu, evaluasi indikator efisiensi menunjukkan bahwa penyimpanan obat yang mendekati kedaluwarsa sebesar 3,3%, stok mati sebesar 3,97%, dan TOR 6,09 kali/tahun (Kurniawati & Maziyyah, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengevaluasi penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul METODE Penelitian yang dilakukan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data penelitian menggunakan data primer berupa observasi data obat bulan Juni 2024 untuk mendapatkan data evaluasi proses penyimpanan, kesesuaian ruang penyimpanan obat, serta kecocokan obat dengan kartu stok. Data sekunder berupa data Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) tahun 2023 yang bertujuan untuk mendapatkan data efisiensi penyimpanan obat yang meliputi Turn Over Ratio (TOR), obat kedaluwarsa dan rusak, stok mati obat dan stok akhir obat. Penelitian ini menggunakan instrumen lembar observasi dalam bentuk checklist untuk memperoleh data kesesuaian proses penyimpanan obat, kesesuaian ruang penyimpanan, dan efisiensi penyimpanan obat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian . dan Indikator untuk menilai Mutu Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Satibi . Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program Microsoft Excel. HASIL Kesesuaian Ruang Penyimpanan Obat Proses Jurnal Farmasi SYIFA Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 Tabel 1. Kesesuaian Ruang Penyimpanan Obat Indikator Luas minimal 3x4 m Ada pintu dilengkapi kunci ganda Cahaya yang cukup Ada ventilasi agar aliran udara tidak lembab Tersedia pengukur suhu dan kelembapan ruangan Ruangan kering dan tidak lembab Lantai dari tegel atau semen yang tidak memungkinkan tertumpuknya debu atau kotoran Dinding dibuat licin Hindari pembuatan sudut lantai atau dinding yang tajam Ada lemari khusus narkotika dan psikotropika yang selalu terkunci Ada lemari pendingin untuk menyimpan obat khusus Ada alat pemadam kebakaran Total indikator sesuai Persentase Hasil Tidak Sesuai Sesuai Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Aa Tabel 2. Kesesuaian Proses Penyimpanan Obat Indikator Obat disusun di lemari dan rak-rak penyimpanan Obat disusun secara alfabetis Masing-masing obat disusun dengan sistem FIFO dan FEFO Sediaan obat dengan jumlah besar . diletakkan diatas pallet Sediaan obat psikotropika dan narkotika disimpan di dalam lemari khusus . intu gand. selalu terkunci dan kunci dipegang apoteker atau tenaga teknis yang dikuasakan Vaksin disimpan di lemari pendingin disertai alat pemantau dan kartu pencatat suhu yang diisi setiap hari Obat yang mendekati kedaluwarsa . sampai 6 bula. diberikan penandaan khusus Obat high alert . bat dengan kewaspadaan tingg. disimpan terpisah Sediaan farmasi dan BMHP mudah terbakar disimpan di tempat khusus dan terpisah dari obat lain. Contoh: alcohol, choler etil. Total indikator sesuai Persentase Hasil Tidak Sesuai Sesuai Aa Efisiensi Penyimpanan Obat Tabel 3. Data Perhitungan Turn Over Ratio (TOR) Uraian Total Harga Obat Total persediaan obat tahun 2023 Rp 955. Persediaan awal tahun 2023 Rp 104. Stok opname Desember 2023 Rp 145. Rata-rata persediaan Rp 125. Perhitungan TOR: (Stok opname 2022 Total persediaan 2. OeStok opname 2023 RataOerata persediaan (Rp 104. 152 Rp 955. OeRp 145. Rp 125. = 7,3 kali/tahun. Jurnal Farmasi SYIFA Uraian Jumlah Item Obat Kedaluwarsa Total Keseluruhan Item Obat Jumlah Kerugian Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 Tabel 4. Data Perhitungan Obat Kedaluwarsa Jumlah Item Obat Rp. Persentase Obat Kedaluwarsa: Jumlah item obat kedaluwarsa x 100% Total jumlah item obat x 100% =7% Tabel 5. Data Perhitungan Obat Rusak Uraian Jumlah Item Obat Jumlah Item Obat Rusak Total Keseluruhan Item Obat Persentase Obat Rusak: Jumlah item obat rusak = Total jumlah item obat x 100% = 157 x 100% =0% Tabel 6. Data Perhitungan Stok Mati Obat Uraian Jumlah item obat yang tidak mengalami transaksi selama 3 bulan berturut-turut Total keseluruhan item obat Jumlah Item Obat Persentase Stok Mati Obat: JycycoycoycaEa ycnycyceyco obat yang tidak mengalami transaksi selama 3 bulan berturutOetuut x 100% Total keseluruhan item obat x 100% = 10,82 % Tabel 7. Data Kecocokan Obat dengan Kartu Stok Uraian Jumlah Item Obat Jumlah item obat yang sesuai dengan kartu stok Jumlah kartu stok Persentase Kecocokan Obat dengan Kartu Stok: Jumlah item obat yang sesuai dengan kartu stok x 100% Jumlah kartu stok = 28 x 100% = 100 % Tabel 8. Data Nilai Stok Akhir Obat Uraian Nilai TOR Keterangan 7,3 kali/tahun Persentase Stok Akhir Obat: x 100% Jumlah TOR = 7,3 x 100% = 13,69 Jurnal Farmasi SYIFA PEMBAHASAN Kesesuaian penyimpanan obat berdasarkan indikator kesesuaian tata ruang penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul diamati secara langsung dengan standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016. Ruang penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari diperoleh nilai persentase kesesuaian sebesar 100% sudah memenuhi persyaratan. Sejalan dengan penelitian di Puskesmas Mangunsari Kota Salatiga yang menunjukkan hasil persentase ruang penyimpanan sebesar 92,8% dan dinyatakan dalam kategori baik (Dewi & Yuswantina, 2. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan penelitian di gudang penyimpanan obat pada Puskesmas Wara Utara Kota yang menyatakan bahwa tata ruang belum terpenuhi dengan baik (Razak & Nfn, 2. Ruang penyimpanan obat yang sudah sesuai akan penyusunan obat, pencarian obat, sirkulasi udara, yang baik di gudang farmasi, lantai gudang farmasi mudah dibersihkan, dan obat ditempatkan pada rak . enghemat tempat dan sirkulasi udar. (Satibi. Kesesuaian penyimpanan obat berdasarkan indikator kesesuaian proses penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul diamati secara langsung dengan standar Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019. Proses penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari diperoleh nilai persentase kesesuaian sebesar 100% sudah memenuhi persyaratan. Sejalan dengan penelitian pada Puskesmas Sungai Pua Kabupaten Agam didapatkan hasil sebesar 90% penyimpanan obat sesuai dengan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas dan terdapat 10% pada aspek umum yang belum sesuai dengan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas (Febriyoldini et al. , 2. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tompobolu Kabupaten Moros yang menemukan hasil 61% saat melakukan penelitian sejenis pada proses penyimpanan obat (Sakri & Hurria, 2. Proses penyimpanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerugian seperti mutu sediaan farmasi tidak dapat terpelihara . idak dapat mempertahankan mutu obat dari kerusakan. Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 rusaknya obat sebelum masa kedaluwarsanya tiba (Sakri & Hurria, 2. Nilai Turn Over Ratio (TOR) di gudang Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul didapatkan sebesar 7,3 kali/tahun. Hal tersebut belum sesuai dengan standar yaitu 812 kali/tahun (Satibi, 2. Sejalan dengan penelitian yang menunjukkan hasil perhitungan TOR di Puskesmas AuXAy Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2021 sebesar 3,04 kali/ tahun (Izma et , 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai TOR lebih rendah dibandingkan dengan penelitian di beberapa Puskesmas Yogyakarta yang menyatakan bahwa TOR pada Puskesmas Sleman sebesar 10,87 kali/tahun. Puskesmas Kota Yogyakarta sebesar 9,55 kali/tahun dan Puskesmas Bantul sebesar 11,33 kali/tahun yang sudah sesuai dengan persyaratan yaitu 8-12 kali/tahun (Rosita et , 2. Nilai TOR yang semakin tinggi menunjukan pengelolaan obat semakin efisien. Namun TOR yang melebihi standar dapat mengakibatkan kekosongan stok (Rosita et al. Obat kedaluwarsa di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul didapatkan 11 item obat kadaluwarsa dari 157 item obat dengan kerugian sebesar Rp 1. Dengan demikian, persentase obat kadaluwarsa yang diperoleh sebesar 7% belum memenuhi standar untuk efisiensi penyimpanan obat yaitu 0% Sejalan dengan penelitan di beberapa Puskesmas Daerah Yogyakarta dimana persentase obat kedaluwarsa pada Puskesmas Sleman sebesar 9,38%. Puskesmas Kota Yogyakarta sebesar 10,12% dan Puskesmas Bantul sebesar 1,35%. Persentase obat kedaluwarsa mencerminkan tidak tepatnya dalam proses perencanaan dan kurang baiknya pengamatan mutu obat dalam proses penyimpanan obat (Rosita et al. , 2. Obat rusak di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul didapatkan persentase sebesar 0% sudah memenuhi standar untuk efisiensi penyimpanan obat yaitu 0% (Satibi. Sejalan dengan penelitian di Puskesmas X Kota Magelang dan Puskesmas Y Kabupaten Magelang tidak ditemukan adanya obat rusak (Khairani et al. , 2. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan penelitian di Puskesmas wilayah Kabupaten Jombang tahun 2019 adalah Jurnal Farmasi SYIFA sebesar 0,26% dengan nilai sebesar Rp. 893,00 (Carolien et al. , 2. Faktor penyebab obat rusak adalah faktor eksternal dan internal. Ruang penyimpanan yang tidak sesuai standar, sistem pengolahan dan sirkulasi udara yang tidak baik adalah faktor eksternal. Perubahan fisik obat adalah faktor internal (Khairani et al. , 2. Stok mati obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul didapatkan 17 item obat dari 157 item obat yang tidak mengalami transaksi selama 3 bulan berturut-turut. Hasil persentase stok mati sebesar 10,82% dimana tidak memenuhi standar persentase stok mati yaitu 0% (Satibi, 2. Sejalan dengan penelitian di Puskesmas Wilayah Magelang hasil yang diperoleh obat yang mengalami stok mati sebanyak 20% (Khairani et al. , 2. Hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan penelitian yang dilakukan di Puskesmas AuXAy Kabupaten Sleman persentase stok mati sebesar 2,45% (Rugiarti et al. , 2. Persentase stok mati yang tinggi menunjukkan perputaran obat yang tidak lancar karena banyak persediaan obat yang tertahan dan menumpuk di Banyaknya obat yang menumpuk akan meningkatkan resiko obat kadaluwarsa atau rusak Kesesuaian obat dengan kartu stok di gudang Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul diperoleh hasil persentase sebesar Hasil yang diperoleh telah mencapai standar yaitu 100% (Satibi, 2. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian di Puskesmas Boja 1 sebesar 100% (Richa et al. , 2. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian persentase kesesuaian obat dengan kartu stok di Puskesmas Sumberpitu sebesar 77,9% (Azizah & Susanto, 2. Nilai stok akhir obat di gudang farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul diperoleh persentase stok akhir sebesar 13,69%. Hasil ini belum memenuhi target persentase stok akhir gudang farmasi yaitu O3% (Zahrin & Cholisah, 2. Sejalan dengan penelitian di Kota Banjarbaru nilai persentase stok akhir obat secara berturut- turut pada tahun 2014-2015 sebanyak 14,27%. dan 16,94% (Akbar et al. , 2. Penelitian lain di Puskesmas Mlati II Sleman hasil nilai stok akhir yang diperoleh sebesar 20% hasil tersebut belum memenuhi standar (Hidayati, . Beberapa faktor yang menyebabkan Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 persentase nilai stok akhir obat tidak memenuhi standar adalah perubahan pola penggunaan obat dan ketidaktepatan dalam proses manajemen obat (Akbar et al. , 2. SIMPULAN Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah kesesuaian ruang penyimpanan dan proses penyimpanan obat di Gudang Farmasi Puskesmas Saptosari Kabupaten sudah sesuai dengan standar. Meskipun kesesuaian dengan kartu stok dan tingkat kerusakan obat sudah memenuhi standar. TOR, persentase obat kedaluwarsa, stok mati, dan nilai stok akhir masih belum mencapai standar. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih penulis ucapkan kepada Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta dan Puskesmas Saptosari Kabupaten Gunungkidul yang telah bersedia menjadi lokasi REFERENSI