NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 85-91 GAMBARAN TIPE KEPRIBADIAN MAHASISWA Di KEPERAWATAN Nisa Zeni Cahya Putri1. Dian Pitaloka Priasmoro2. Dion Kunto Adi Patria3 1,2,3 Jurusan Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. ITSK RS dr. Soepraoen. Malang *Correspondence: Dian Pitaloka Priasmoro Email: dianpitaloka@itsk-soepraoen. ABSTRAK Pendahuluan: Kepribadian adalah elemen dasar yang memengaruhi cara individu berpikir, merasakan, dan bertindak, yang pada gilirannya berdampak pada kesejahteraan psikologis, kualitas hubungan interpersonal, serta kinerja dalam berbagai aspek kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tipe kepribadian yang dimiliki oleh mahasiswa keperawatan tingkat 3. Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa tingkat 3 keperawatan Itsk Soepraoen Malang. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling. Variabel yang diteliti adalah Tipe Kepribadian. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner. Penelitian dilakukan pada tanggal 2 Instrumen penelitian menggunakan kuesioner tipe kepribadian dan variable yang diteliti adalah tipe kepribadian. Analisa data menggunakan analisa data univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia mahasiswa sebagian besar 20-25 tahun 4%, berjenis kelamin perempuan sebesar 59%, memiliki relasi pertemanan Sedangkan berdasarkan data khusus didapatkan sebagian besar memiliki tipe kepribadian ekstrovert sebanyak 26 orang . 7%) dan hampir sebagian memiliki tipe kepribadian introvert sebanyak 13 orang . 3%). Kesimpulan: Sehingga sangat penting diperhatikan adalah membangun kepribadian positif mahasiswa, fokus pada peningkatan keterampilan sosial, pengelolaan emosi, dan pengembangan diri melalui penetapan tujuan. Dorong rasa percaya diri, tanggung jawab, dan keseimbangan hidup. Ajarkan empati, toleransi, dan kepemimpinan beretika. Promosikan kebiasaan positif dan kreativitas untuk mendukung kesuksesan akademik dan kesejahteraan pribadi. Kata Kunci: tipe kepribadian. ABSTRACT Introduction: Personality is a fundamental element that influences how individuals think, feel, and act, impacting their psychological well-being, the quality of interpersonal relationships, and their performance in various aspects of life. This study aims to describe the personality types of third-year nursing students. Method: The research design is quantitative descriptive. The sample consists of third-year nursing students from ITSK Soepraoen Malang. Total sampling was employed as the sampling method. The variable under investigation is personality type. Data was collected using a questionnaire. The study was conducted on March 2, 2024. The research instrument used was a personality-type questionnaire, with personality type being the key variable. Data analysis was performed using univariate analysis. Results: The results show that most students are between 20 and 25 years old . 4%), 59% are female, and 74. 4% have friendships. Regarding personality types, most students were classified as extroverts . students, 66. 7%), with nearly half identified as introverts . students, 33. 3%). NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 85 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 Halaman 85-91 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Conclusion: Therefore, it is crucial to focus on building a positive personality among students, emphasizing the enhancement of social skills, emotional management, and personal development through goal-setting. Encouraging self-confidence, responsibility, and life balance is essential. Teaching empathy, tolerance, and ethical leadership, while promoting positive habits and creativity, will support academic success and personal wellbeing. Keywords: personality types. PENDAHULUAN Mahasiswa keperawatan dituntut untuk terus mengembangkan diri sepanjang hidup, karena profesi perawat sangat terkait dengan aspek kehidupan manusia secara menyeluruh, guna menjadi seorang perawat yang profesional. Selama pendidikan, mahasiswa keperawatan memiliki berbagai tugas, seperti memberikan asuhan dan layanan keperawatan kepada masyarakat saat praktik klinik, yang juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran (Dwidiyanti et al. , 2. Dalam aspek teori, mahasiswa keperawatan mempelajari berbagai bidang, seperti farmakologi, keperawatan medis bedah, keperawatan gawat darurat, keperawatan jiwa, maternitas, keperawatan anak, dan banyak lagi. Penilaian terhadap mahasiswa keperawatan tidak hanya berfokus pada pengetahuan dan keterampilan mereka, tetapi juga pada kepribadian mereka. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Debbie Cohen dan Melody Rhydderch, kepribadian seorang perawat dapat menjadi indikator penting untuk memprediksi kualitas pelayanan yang akan diberikan (Cohen & Rhydderch, 2. Mahasiswa adalah individu yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik di lembaga pendidikan negeri, swasta, atau institusi setara lainnya. Seorang mahasiswa biasanya dikenal dengan sikap kritis dalam berpikir dan bertindak (Sariani et al. , 2. Hal ini juga berlaku pada mahasiswa keperawatan, yang merupakan calon perawat dengan peran yang sangat penting dalam dunia kesehatan dan medis di masa depan. Salah satu tipe kepribadian yang mungkin dimiliki adalah individu yang kesulitan dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Oleh karena itu, penting untuk memahami kepribadian seseorang sebelum memasuki dunia kerja (Noviana & Oktaviani, 2. Kualitas pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kepribadian perawat. Kepribadian yang berbeda dapat memengaruhi cara perawat berinteraksi dengan pasien, komunikasi, empati, serta pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks (Alwisol, 2. Perawat dengan tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebih mudah beradaptasi dalam interaksi sosial, sedangkan perawat introvert mungkin lebih fokus pada tugas teknis. Kepribadian yang positif dan adaptif berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan, menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi pasien dan kolega. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk menggali hubungan antara kepribadian perawat dan kualitas pelayanan keperawatan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan (Hazrati-Viari et al. , 2. Kepribadian individu dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seringkali terkait dengan faktor genetik, sementara faktor eksternal berkaitan dengan pengaruh lingkungan sekitar. Tipe kepribadian yang berbeda akan menghasilkan respons yang berbeda terhadap situasi atau lingkungan, baik dalam konteks akademis maupun sosial, selama mahasiswa menjalani pendidikan keperawatannya (Karim, 2. Menurut World Stats. Indonesia menempati peringkat 8 dari 20 negara yang memiliki kepribadian ekstrovert ditinjau dari budaya dan ramah tamah kepada seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali orang orang turis mancanegara yang sedang berlibur ke Indonesia (Kocabulut & Albayrak, 2. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Yahoo bersama dengan Taylor Nelson Sofrens (TNS) di Indonesia pada tahun 2019 menunjukkan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 86 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 85-91 bahwa ekstrovert di dominasi pada wilayah Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekasi. Surabaya. Bandung. Bali. Medan. Semarang. Palembang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan mahasiswa Keperawatan ITSK RS. Dr. Soepraoen yang menjadi responden utama, di dapatkan data dari 39 mahasiswa 26 orang . 7%) diantaranya memiliki kepribadian ekstrovert, dimana dari 66. 7% kepribadian ekstrovert ini terbentuk dari beberapa faktor yaitu usia, faktor jenis kelamin, dan relasi pertemanan. Tipe kepribadian seseorang memiliki korelasi yang signifikan terhadap bagaimana ia menghadapi dan menanggapi tuntutan akademik, termasuk bagi mahasiswa keperawatan. Kepribadian mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan lingkungannya, cara mereka mengatur diri, serta respons terhadap tantangan atau stres yang muncul selama proses belajar (Ma et al. , 2. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti tentang tipe kepribadian mahasiswa. METODE Desain penelitian merupakan strategi penelitian dalam mengidentifikikasi permasalaha sebelum perencaan akhir pengumpulan data. Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Desain penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan tentang suatu keadaan secara objektif dengan satu variabel (Nursalam, 2. Penelitian ini dilakukan di kampus ITSK RS dr Soepraeon. Malang. Instrumen yang digunakan untuk variabel tipe kepribadian pada mahasiswa diukur menggunakan skala yang disusun peneliti berdasarkan teori tipe kepribadian oleh Eyeseck . Yang terdiri dari 14 pertanyaan dan dibagi 2 klasifikasi pertanyaan ekstrovert dan introvert dengan pilihan AuYaAy dan AuTidakAy. Penilaian tipe kepribadian: semakin tinggi skor semakin kecenderungan ke tipe kepribadian masing-masing klasifikasi. HASIL Penelitian didapatkan hasil: Tabel 1. Distribusi Frekuensi responden berdasarkan usia, jenis kelamin, relasi pertemanan, suku/budaya . Data Umum Frekuensi Persentase% Usia 20-25 tahun 26-31 tahun Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Relasi Pertemanan Ya Memiliki Tidak Memiliki Total Suku/Budaya Jawa Non Jawa Total NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 87 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 85-91 Pada tabel diatas menunjukkan bahwa hampir seluruhnya responden berusia 20-25 tahun dengan jumlah 37 orang . 9%) dan sebagian kecil responden berusia 26-31 tahun dengan jumlah 2 orang . 1%). Sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 23 orang . 0%) dan hampir sebagian berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang . 0%). Hampir seluruh responden memiliki teman berjumlah 29 orang . 9%). Dan sebagian kecil responden tidak memiliki teman berjumlah 10 orang . 6%). Hampir seluruh responden berasal dari suku Jawa berjumlah 38 orang . 4%). Dan sebagian kecil responden berasal dari non Jawa berjumlah 1 orang . 6%). Tabel 2. Tabulasi silang data umum dan distribusi frekuensi tipe kepribadian mahasiswa ITSK Data Umum Kategori Ekstrovert Introvert Usia 20-25 tahun 26-31 tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Suku/Budaya Jawa Non Jawa Total Relasi Pertemanan Memiliki teman Tidak Memiliki Total Total Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa pada data usia hampir seluruhnya responden berusia 20-25 tahun sebanyak 37 orang . 9%). Untuk jenis kelamin sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 23 orang . 0%) dan hampir sebagian berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang . 0%), sedangkan untuk suku hampir seluruhnya bersuku Jawa sebanyak 38 orang . 3%). Kemudian relasi pertemanan sebagian besar memiliki relasi pertemanan sebanyak 26 orang . 7%). PEMBAHASAN Berdasarkan data hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,7%) memiliki tipe kepribadian ekstrovert, yang tercermin dalam pola komunikasi, pelayanan, dan kemampuan bergaul dengan pasien secara objektif dan simpatik. Menurut Friedman & Schustack . hal ini merupakan modal utama bagi mahasiswa untuk membangun kepribadian yang kuat dalam menunjang kemmapuan akademik. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa tipe kepribadian ini sangat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, termasuk dalam konteks keperawatan, di mana komunikasi yang baik dan empati sangat diperlukan untuk membangun hubungan yang efektif dengan pasien (Kvintova et al. , 2. Penelitian sebelumnya oleh Sakata et al. juga menyatakan bahwa mengenali tipe kepribadian individu sangat penting untuk memahami kelebihan dan kekurangan diri. Dengan mengenali karakteristik kepribadian, seseorang dapat mencari cara yang tepat untuk memperbaiki kelemahan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Pemahaman ini sangat NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 88 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 Halaman 85-91 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. relevan dalam konteks profesi keperawatan, di mana pengembangan diri perawat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Terkait dengan hubungan usia dan tipe kepribadian. Rahamtillah et al. , . dalam penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat ekstroversi seseorang cenderung lebih tinggi pada usia 20-25 tahun dan menurun seiring bertambahnya usia. Penelitian ini menemukan bahwa 94,9% responden berusia 20-25 tahun, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar responden berada dalam masa dewasa awal, di mana eksplorasi diri dan pembentukan kepribadian sedang berlangsung. Asri et al. juga mendukung temuan ini, dengan menjelaskan bahwa perubahan signifikan dalam kepribadian sering terjadi pada usia dewasa awal . -25 tahu. dan dewasa madya . -40 tahu. , karena pada usia ini individu sering terlibat dalam proses pencarian identitas yang lebih matang. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . %). Menurut Priasmoro . menjelaskan bahwa laki-laki cenderung lebih senang bersosialisasi dan lebih mudah bergaul dengan orang lain dibandingkan dengan perempuan. Laki-laki sering memiliki banyak teman karena lebih terbuka dalam menjalin hubungan, sementara perempuan, terutama dalam budaya tertentu, mungkin cenderung lebih selektif dalam memilih teman. Hal ini mungkin berkaitan dengan pandangan sosial dan budaya yang mengedepankan kelembutan dan ketahanan perempuan, seperti dalam budaya Jawa, yang sering mengidealkan perempuan sebagai sosok yang lebih pendiam dan tertutup (Fakih, 2. Berdasarkan tabel hasil penelitian ini, juga ditemukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert cenderung memiliki banyak pertemanan . ,7%), sedangkan mereka yang cenderung introvert lebih sedikit memiliki pertemanan . ,3%). Hal ini sesuai dengan Dalyono . yang mengemukakan bahwa frekuensi pertemanan sangat erat kaitannya dengan tipe kepribadian seseorang. Feist & Feist . menyatakan bahwa individu ekstrovert cenderung lebih banyak berinteraksi dengan orang lain, sementara introvert lebih memilih untuk menjaga hubungan yang lebih dalam dan Penelitian ini juga didukung oleh hasil temuan dari Guilford & Kinicki . , yang menyatakan bahwa orang introvert memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjalin hubungan pertemanan. Introvert lebih memilih sedikit teman yang sangat dekat dan memiliki hubungan yang lebih mendalam, sedangkan ekstrovert lebih mudah berinteraksi dengan banyak orang, bahkan dengan orang yang baru dikenal (Alberti & Emmons, 2. Hal ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam cara kedua tipe kepribadian tersebut membentuk dan menjaga hubungan sosial (Lu et al. , 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa prodi Di Keperawatan TK i ITSK RS. Dr. Soepraoen Malang sebagian besar memiliki tipe kepribadian ekstrovert sebanyak 26 orang . 7%) dan hampir sebagian memiliki tipe kepribadian introvert sebanyak 13 orang . 3%). Berdasarkan temuan-temuan ini, jelas bahwa kepribadian memegang peranan penting dalam membentuk pola komunikasi, hubungan sosial, dan kualitas pelayanan keperawatan. Pengembangan kesadaran akan tipe kepribadian dapat membantu perawat dalam meningkatkan keterampilan interpersonal mereka, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien. Selain itu, pemahaman tentang perbedaan antara introvert dan ekstrovert dapat digunakan untuk menciptakan strategi yang lebih efektif dalam interaksi sosial, baik dalam konteks profesi keperawatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. UCAPAN TERIMAKASIH