Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI PASIEN RUJUK BALIK DI KIMIA FARMA PONOROGO Annisa Diyan Meitasari1*). Himma Suci Fajrianti . Hasna Nabila Qotrunada . D3 Farmasi. Sekolah Vokasi. Universitas Sebelas Maret Surakarta *Email: annisadiyanm@staff. Received: 23-07-2023 Accepted:14-04-2024 Published:30-06-2024 INTISARI Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab gangguan jantung. Kepatuhan minum obat bagi pasien penyakit kronis seperti hipertensi sangat penting karena dengan minum obat secara teratur dapat mengontrol tekanan darah pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor apa saja yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien hipertensi program rujuk balik BPJS di Apotek Kimia Farma (KF) Ponorogo. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional . on eksperimenta. dengan pendekatan deskriptif analitik dengan teknik pengambilan sampel secara accidental sampling. Penelitian ini dilakukan di Apotek KF Ponorogo pada bulan Desember 2021-Maret 2022. Kriteria inklusi adalah pasien hipertensi dengan program rujuk balik BPJS di apotek tersebut, tidak memiliki penyakit penyerta, telah menjalani pengobatan minimal 1 bulan, dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah tuna rungu, hamil, tidak bisa membaca dan menulis, pengambilan obat yang diwakilkan. Pengambilan data menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale 8 (MMAS-. Data yang diperoleh diuji Chisquare. Total responden berjumlah 184 dengan persentasi perempuan 59,20% dan laki-laki 40,80%. Responden yang memiliki tekanan darah terkontrol 65,80% sedangkan tidak terkontrol 34,20%. Sejumlah 34,90% responden dengan tekanan darah tidak terkontrol memiliki kepatuhan minum obat antihipertensi yang rendah. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat adalah tekanan darah . =0,. Responden yang memiliki kepatuhan minum obat antihipertensi yang tinggi cenderung memiliki tekanan darah yang terkontrol. Faktor jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, lama waktu menderita hipertensi dan jumlah obat tidak mempengaruhi kepatuhan minum obat . >0,. Kata kunci: (BPJS. Hipertensi. Kepatuhan. Korelasi. Oba. ABSTRACT Hypertension is one of the main risk factors for heart problems. Compliance with taking medication for patients with chronic diseases such as hypertension is very important because taking medication regularly can control the patient's blood pressure. This study aims to analyze what factors influence medication adherence for hypertensive patients with the BPJS referral program at Kimia Farma (KF) Ponorogo Pharmacy. This type of research is observational . research with a descriptive analytical approach with an accidental sampling This research was conducted at the KF Ponorogo Pharmacy in December 2021-March The inclusion criteria were hypertensive patients with the BPJS referral program at the pharmacy, had no comorbidities, had undergone treatment for at least 1 month, and were willing to be respondents. Exclusion criteria were hearing impairment, pregnancy, unable to read and write, taking proxy drugs. Data were collected using the Morisky Medication Adherence Scale 8 (MMASJournal homepage:http:/w. id/publikasiilmiah/index. php/ilmufarmasidanfarmasiklinik ISSN: 1693-7899 . The data obtained was tested by Chi-square. The total number of respondents was 184 with the percentage of women 59. 20% and men 40. Respondents who had controlled blood pressure were 65. 80%, while 34. 20% were uncontrolled. A total of 34. 90% of respondents with uncontrolled blood pressure had low compliance with taking antihypertensive medication. The factor that influences adherence to taking medication is blood pressure . =0. Respondents who have high adherence to taking antihypertensive medication tend to have controlled blood pressure. The factors gender, age, education, occupation, length of time suffering from hypertension and number of medications did not influence medication compliance . >0. Keywords: (Adderence. BPJS. Corelation. Hypertension. Medicin. Nama Institusi Alamat institusi E-mail : Annisa Diyan Meitasari : Universitas Sebelas Maret : Jalan Ir. Sutami No 36 Kentingan. Jebres. Surakarta. Jawa Tengah : annisadiyanm@staff. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan prevalensi hipertensi tertinggi pada Asia Tenggara (Maharani, 2. Peningkatan jumlah penderita hipertensi dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak terkontrolnya tekanan darah pada pasien hipertensi adalah ketidakpatuhan dalam meminum obat antihipertensi. Ketidakpatuhan pasien menjadi masalah serius yang dihadapi para tenaga kesehatan profesional. Hal ini disebabkan karena hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak dialami oleh masyarakat tanpa ada gejala yang signifikan dan juga merupakan penyakit yang menimbulkan penyakit lain yang berbahaya bila tidak diobati secepatnya (Niven, 2. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) memiliki Program Rujuk Balik (PRB) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien BPJS yang menderita penyakit kronis salah satunya adalah penyakit hipertensi. PRB merupakan program BPJS untuk kebutuhan kesehatan di kalangan masyarakat serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,. BPJS kesehatan menyelenggarakan PRB untuk mempermudah akses pelayanan bagi penderita penyakit kronis. Data BPJS kesehatan menyebutkan bahwa biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun rupiah, tahun 2017 dan tahun 2018 sebesar 3 Triliun rupiah (BPJS. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara awal dengan 30 pasien hipertensi peserta BPJS Program Rujuk Balik yang mengambil obat di Apotek Kimia Farma Ponorogo, 14 pasien mengakui bahwa mereka masih memiliki sisa obat yang tidak mereka minum. Beberapa alasannya yaitu merasa sudah sembuh dan tidak perlu minum obat antihipertensi lagi. Hal ini merupakan salah satu indikator yang menunjukkan kurangnya kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Kepatuhan minum obat bagi pasien penyakit kronis seperti hipertensi sangat penting karena dengan minum obat secara teratur dapat mengontrol tekanan darah pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor apa saja yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien hipertensi program rujuk balik BPJS di Apotek Kimia Farma Ponorogo. METODE PENELITIAN Responden Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pasien hipertensi peserta program rujuk balik BPJS di Apotek Kimia Farma Ponorogo pada bulan Desember 2021-Maret 2022 dengan kriteria inklusi pasien hipertensi program rujuk balik BPJS di Apotek Kimia Farma Ponorogo tanpa penyakit penyerta, pasien yang telah menjalani pengobatan oral minimal 1 bulan,dan pasien yang bersedia mengisi Kriteria eksklusi meliputi pasien program rujuk balik BPJS di Apotek Kimia Farma Ponorogo yang tuli, hamil, tidak bisa membaca dan menulis, dan keluarga pasien yang mengambil Analisis Faktor yangA(Meitasari dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 obat tanpa mengajak pasien yang bersangkutan. Perhitungan menggunakan rumus Slovin didapatkan sampel minimal pada penelitian ini adalah 174 responden. Instrumen Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional . on eksperimenta. dengan pendekatan deskriptif analitik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah data demografi responden dan kuesioner kepatuhan minum obat menggunakan MMAS- 8 dengan delapan daftar pertanyaan (Morisky et al. , 2. Kepatuhan minum obat diklasifikasikan menjadi rendah jika nilai skor pada MMAS 8 (<=. , sedang (<6-<. , tinggi (=. Data demografi berisi nama, alamat, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, tekanan darah, jenis obat yang dikonsumsi, edukasi minum obat, dukungan keluarga. Analisis Data Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang . ross sectiona. dan analisa data dengan metode Chi-square. Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kepatuhan pengobatan melalui pengisian kuisioner pada 184 responden dengan cara accidental sampling. Faktor- faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, jenis pekerjaan, lama waktu hipertensi, jumlah obat, dan tekanan darah dianalisis untuk melihat homogenitas dan hubungan faktor tersebut terhadap kepatuhan minum obat. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 di Apotek Kimia Farma Ponorogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pasien hipertensi peserta Program Rujuk Balik BPJS di Apotek Kimia Farma Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner, yang diberikan kepada pasien BPJS yang datang mengambil obat hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 184 dari jumlah sampel minimal sebanyak 174. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel I. Karakteristik Pasien Pada penelitian ini didapatkan 184 responden. Jumlah responden yang jenis kelaminnya perempuan yaitu 59,2%. Sejumlah 40,8% responden lansia dan 37% dari total responden merupakan pensiunan sehingga mayoritas responden berpendidikan sarjana . ,5%). Responden yang mengalami hipertensi dalam kurun waktu 1-5 tahun sejumlah 70,7%, dalam kurun waktu 6-10 tahun sejumlah 23,3%, serta yang lebih dari 10 tahun adalah 6%. Pengobatan pada hipertensi di dasarkan pada stage dan keadaan pasien, terdapat pasien yang hanya mengkonsumsi 1 jenis obat dan ada yang lebih dari 1 obat. Pada penelitian ini mayoritas responden . ,8%) mengkonsumsi dua jenis antihipertensi. Menurut dengan JNC 8 (James dkk. , 2. , responden dengan tekanan darah terkontrol sejumlah 65,8% dan yang tidak terkontrol sejumlah 34,2%. Menurut data Riskesdas 2018, penderita hipertensi lebih banyak perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan mengalami menopause yang dapat menurunkan fungsi hormonal dimana terjadi penurunan kadar estrogen dan androgen yang dapat menyebabkan meningkatnya pelepasan renin yang dapat memicu meningkatnya tekanan darah. Perempuan yang belum menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL) (Tri. Karakteristik usia yaitu semakin tinggi usia, semakin tinggi resiko kejadian hipertensi. Hal tersebut diakibatkan oleh perubahan fisiologi berupa penebalan dinding arteri karena penumpukan zat kolagen lapisan otot yang menyebabkan penyempitan dan kekakuan pembuluh darah (Louisa , 2. Pada tingkat pendidikan, menurut Setyorogo dan Trisnawati . , tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menerapkan perilaku hidup sehat terutama dalam pencegahan hipertensi. Semakin tinggi pendidikaan seseorang, maka akan memudahkan seseorang menerima informasi sehingga meningkatkan kualitas hidup dan menambah luas pengetahuan (Puspita, 2. JIFFK Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Tabel I. Hubungan Karakteristik Responden terhadap Kepatuhan Penggunaan Antihipertensi Karakteristik n = 184 Kepatuhan n (%) Rendah Sedang Tinggi Jenis Kelamin ,0%) ,3%) ,0%) ,7%) 0,213 ,0%) ,0%) ,0%) 0,332 ,7%) ,3%) ,6%) ,0%) ,5%) ,3%) ,3%) ,7%) ,3%) ,0%) SMP ,5%) ,0%) ,5%) ,2%) ,0%) ,3%) ,6%) ,0%) ,4%) ,7%) ,9%) ,0%) ,0%) ,7%) ,0%) ,0%) ,9%) ,0%) ,1%) ,9%) ,4%) ,9%) ,0%) ,8%) ,9%) ,4%) ,3%) ,0%) ,5%) ,6%) ,5%) 0,570 ,2%) ,2%) ,5%) ,2%) ,6%) ,2%) ,2%) ,6%) ,2%) 0,499 ,6%) ,8%) ,6%) ,2%) 0,00 Perempuan A Laki-laki A Dewasa akhir A Lansia awal A Lansia akhir Usia Manula Pendidikan A A A A SMA Sarjana Jenis Pekerjaan A A A Guru IRT Karyawan A Wirausaha Pensiunan A Swasta Lama Waktu Hipertensi 1-5 tahun 6-10 tahun >10 tahun Jumlah Obat 1 jenis 2 jenis > 2 jenis . ,8%) . ,3%) . ,1%) 0,145 0,418 . ,4%) 0 . ,0%) . ,8%) . ,2%) . ,6%) Tekanan Darah Terkontrol A Tak terkontrol 5 . ,1%) 22 . ,9%) . ,2%) . ,9%) Analisis Faktor yangA(Meitasari dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Jenis pekerjaan pada responden mempengaruhi tingkat kepatuhan dalam menjalani Orang yang aktif bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga akan semakin sedikit pula ketersediaan waktu dan kesempatan untuk melakukan pengobatan. Selain itu, semakin tinggi beban kerja seseorang dapat mempengaruhi tingkat stress yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah (Mongi, 2. Lamanya waktu menderita hipertensi dapat mempengaruhi seseorang dalam menerima dan menyikapi penyakit yang diderita. Pada umumnya semakin lama orang menderita suatu penyakit maka ia akan semakin paham terhadap penyakit yang dideritanya, namun hasil yang berbeda juga ditemukan, yaitu semakin lama durasi seseorang menderita suatu penyakit maka akan menjadi faktor pemicu seseorang menjadi bosan terhadap pengobatan sehingga menurunkan kepatuhan dalam menjalani terapi. Hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa jenuh menjalani pengobatan sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan (Tumole dkk. , 2. Jumlah obat yang dikonsumsi pasien dapat memengaruhi kepatuhan minum obat karena pasien akan lebih nyaman jika meminum obat dengan jenis yang tidak banyak. Dilihat dari jumlah obat yang digunakan oleh pasien, secara umum semakin kompleks rigimen pengobatan, semakin kecil kemungkinan pasien akan mematuhinya. Berdasarkan tekanan darahnya, paling banyak ditemui pasien yang memiliki tekanan darah terkontrol, yaitu sebanyak 121 pasien . ,8%). Kategori tekanan darah terkontrol dan tidak terkontrol dibedakan berdasarkan pada guidelines Eighth Joint National Committee (JNC . Pasien dengan usia dibawah 60 tahun dikategorikan terkontrol apabila tekanan darahnya <140/90 mmHg, sedangkan pasien berusia Ou60 tahun dikatakan terkontrol apabila tekanan darah pasien <150/90 mmHg (Dina dkk. , 2. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Jenis Kelamin Hasil karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin adalah mayoritas berjenis kelamin perempuan . ,2%) dan memiliki tingkat kepatuhan sedang . ,0%). Setelah dilakukan analisis bivariat dengan chi-square, diperoleh hasil dengan nilai p- value 0,213 (> 0,. yang berarti bahwa H0 ditolak atau tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kepatuhan minum obat responden. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Asseggaf dan Ulfah . ,bahwa tidak ada hubungan bermakna usia, jenis kelamin, jenis obat, dosis obat, dan frekuensi pemberian obat antihipertensi terhadap kepatuhan minum obat pasien. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fitriananci, jenis kelamin juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan minum obat di Puskesmas Pengandonan. Pagar Alam . -value = 0,. (Dina , 2. Hipertensi pada perempuan meningkat setelah menopouse ketika kadar esterogen Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya pelepasan renin yang dapat memicu meningkatnya tekanan darah (Tri, 2. Jenis kelamin juga bukan merupakan suatu parameter tingginya kejadian hipertensi pada masyarakat, karena peningatan hipertensi bisa disebabkan banyak faktor, seperti perilaku, riwayat penyakit, dan ketidakteraturan dalam berobat (Dina , 2. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Usia Menurut report dari BPOM usia berpengaruh terhadap kepatuhan dalam menerapkan terapi non farmakologi berupa aktivitas fisik (Sampurno dkk. , 2. Pada kelompok usia dewasa akhir terdapat 20 responden . ,9%) dengan 15,0% memiliki kepatuhan yang rendah, 70% memiliki kepatuhan yang sedang, dan 15,0% sisanya memiliki kepatuhan yang tinggi. Setelah dilakukan analisis bivariat dengan metode chi-square, diperoleh nilai p-value 0,332 (> 0,. Artinya. H0 ditolak atau tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan kepatuhan minum obat pasien. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pramana, yaitu umur adalah satu di antara beberapa faktor yang tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi peserta prolanis di puskesmas Pringapus. Semarang (Pramana dkk. , 2. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Asseggaf dan Ulfah . , bahwa usia tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien peserta posyandu lansia Kartini Surya Khatulistiwa Pontianak. Journal homepage:http:/w. id/publikasiilmiah/index. php/ilmufarmasidanfarmasiklinik ISSN: 1693-7899 Seiring dengan meningkatnya usia, elastisitas pembuluh darah akan semakin berkurang, sehingga tekanan darah akan meningkat yang mengakibatkan pembuluh darah cenderung Kelenturan pembuluh darah besar yang kurang menyebabkan sistolik meningkat seiring dengan bertambahnya umur hingga dekade ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik mengalami peningkatan hingga dekade kelima dan keenam lalu kemudian menetap atau cenderung menurut (Asseggaf dan Ulfah, 2. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Pendidikan Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri (Notoatmodjo, 2. Mayoritas responden merupakan sarjana, yaitu sebanyak 91 orang dengan 15,4% memiliki tingkat kepatuhan yang rendah, 52,7% kepatuhan sedang, dan 31,9% pada tingkat kepatuhan tinggi. Dari hasil analisis bivariat menggunakan chi-square, diperoleh nilai pvalue 0,145 (> 0,. yang berarti H0 ditolak atau tidak ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan minum obat. Sejalan dengan beberapa penelitian, yaitu penelitian oleh Tambuwun . , yaitu tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kapatuhan berobat pada penderita hipertensi di Puskesmas Wori. Minahasa Utara. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Handayani dkk. , yaitu tidak ada hubungan signifikan antara tingat pendidikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Jatinom. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Jenis Pekerjaan Responden dalam penelitian ini terbagi dalam beberapa kategori pekerjaan, yaitu guru, ibu rumah tangga, karyawan, wirausaha, pensiunan, dan swasta. Adapun mayoritas responden adalah seorang pensiunan . dengan 7,4% memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah, 58,8% sedang, dan 33,8% tinggi. Nilai p- value yang didapat setelah pengolahan data menggunakan analisis bivariat dengan metode Chi-square adalah 0,418 (> 0,. yang berarti bahwa H0 ditolak atau tidak ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat pasien dengan jenis pekerjaan. Hasil analisis bivariat tersebut sesuai dengan beberapa penelitian lainnya, di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Handayani dkk. , yaitu berdasarkan hasil uji Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dengan nilai p=0,934 . >0,. Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adi Pramana dkk. , yang menyatakan bahwa pekerjaan tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepatuuhan minum obat pada pasien hipertensi peserta prolanis di puskesmas Pringapus. Semarang. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Lama Waktu Hipertensi Semakin lama seseorang menderita hipertensi maka tingkat kepatuhannya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan penderita akan merasa bosan untuk berobat (Puspita. Pasien yang menderita hipertensi selama 1-5 tahun lebih patuh dalam hal mengkonsumsi obat dibanding kategori lama waktu menderita lainnya. Lama waktu menderita hipertensi 1-5 tahun memiliki frekuensi paling banyak. Frekuensi tingkat kepatuhan tinggi pada lama waktu menderita 1-5 tahun sebesar 28,5%, kepatuhan sedang sebesar 56,2%, serta kepatuhan rendah sebesar 15,4%. Hasil analisis bivariat dengan metode Chi-square, menghasilkan nilai p-value sebesar 0,570 (>0,. yang artinya H0 ditolak atau tidak ada hubungan signifikan antara lama waktu hipertensi dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi yang menjadi responden pada penelitian ini. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani dkk. bahwa tidak ada hubungan signifikan antara lama menderita hipertensi dengan kepatuhan mengonsumsi obat dengan nilai p 1,000 (>0,. Hasil yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Adi Pramana dkk. , bahwa lama terapi hipertensi memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kepatuhan minum obat. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Jumlah Obat Berdasarkan Tabel 1, penggunaan 2 jenis obat memiliki persentase jumlah lebih banyak. Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan metode Chi-square, diperoleh p-value sebesar 0,499 (> Analisis Faktor yangA(Meitasari dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Hal ini berarti H0 ditolak atau tidak ada hubungan signifikan antara jumlah obat dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pramana dkk. , bahwa jumlah obat yang dikonsumsi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi dengan nilai p 0,66 (> 0,. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Asseggaf dan Ulfah . , dinyatakan bahwa tidak ada pula hubungan sifnifikan antara jenis obat dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Tekanan Darah Pada karakteristik tekanan darah terdapat 121 responden . ,8%) dengan tekanan darah Analisis bivariat dengan menggunakan metode Chi-square, diperoleh p-value sebesar 0,00 (< 0,. Hal ini berarti H0 diterima atau ada hubungan signifikan antara tekanan darah dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien. Didukung oleh penelitian yang dilakukan Anwar dan Masnina . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan tekanan darah . ilai p = 0,. Alasannya adalah dalam mengontrol tekanan darah pada penderita hipertensi diperlukan kepatuhan minum obat hipertensi secara teratur sehingga dapat mengontrol tekanan darah tetap berada pada batas normal. Dibuktikan dengan hasil pemeriksaan tekanan darah pada responden dengan kepatuhan tinggidan kepatuhan sedang didapatkan hasil tekanan darah sistolik dan diastolik cenderung lebih banyak berada dalam batas normal sedangkan hasil pemeriksaan yang dilakukan kepada responden dengan kepatuhan rendah menunjukkan hasil tekanan darah sistolik dan diastolik cenderung lebih banyak mengalami peningkatan . idak terkontro. (Anwar dan Masnina, 2. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Apotek Kimia Farma Ponorogo tentang hubungan kepatuhan minum obat dengan beberapa faktor pada pasien hipertensi program rujuk balik BPJS, dengan 184 responden, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin, usia, pendidikan, jenis pekerjaan, lama waktu menderita hipertensi, dan jumlah obat tidak memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat kepatuhan minum obat pasien. Sedangkan untuk faktor tekanan darah memiliki hubungan signifikan terhadap kepatuhan minum obat dengan p-value 0,00 . < 0,. UCAPAN TERIMA KASIH Apotek Kimia Farma Ponorogo yang telah memberikan izin sebagai lahan penelitian. DAFTAR PUSTAKA