Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 TRADISI WALIMA SEBAGAI BASIS AKUNTABILITAS SPIRITUAL: INTERPRETASI NILAI-NILAI BUDAYA GORONTALO Fitri Nurhayati M1. Niswatin2. Tri Handayani Amaliah3 Sains Akuntansi. Universitas Negeri Gorontalo Email: fitrinurhayatim121@gmail. niswatin@ung. id, triamaliah@ung. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Walima sebagai praktik akuntabilitas spiritual berbasis kearifan lokal Gorontalo melalui paradigma spiritualisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literature review terhadap publikasi ilmiah yang relevan pada periode 2015Ae2024. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi nilai-nilai utama yang terkandung dalam tradisi Walima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Walima memuat tiga nilai utama, yaitu nilai spiritual, nilai sosial-budaya, dan nilai akuntabilitas Nilai spiritual tercermin melalui praktik syukur, sedekah, keikhlasan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW yang diwujudkan dalam kontribusi sukarela masyarakat. Nilai sosialbudaya, khususnya konsep Huyula, menegaskan pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan amanah sebagai dasar hubungan sosial. Sementara itu, nilai akuntabilitas spiritual dalam Walima diwujudkan melalui pertanggungjawaban non-moneter yang bersifat informal, berbasis nilai, serta berorientasi pada pertanggungjawaban vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Walima merupakan bentuk akuntansi spiritual berbasis kearifan lokal yang memperluas pemahaman akuntabilitas di luar pencatatan keuangan formal. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan akuntansi spiritual dan akuntansi berbasis budaya. Kata kunci: walima, huyula, akuntabilitas spiritual, kearifan lokal. Abstract This study aims to examine the Walima tradition as a form of spiritual accountability practice grounded in Gorontalo local wisdom through the paradigm of spiritualism. The research employs a qualitative approach using a literature review method of relevant scholarly publications from the period 2015Ae2024. Data analysis is conducted using thematic analysis to identify the core values embedded in the Walima tradition. The findings reveal that Walima embodies three main values: spiritual values, socio-cultural values, and spiritual accountability values. Spiritual values are reflected in practices of gratitude, almsgiving, sincerity, and devotion to the Prophet Muhammad . eace be upon hi. , which are manifested through voluntary community contributions. Sociocultural values, particularly the concept of Huyula, emphasize the importance of togetherness, mutual cooperation, and trustworthiness as the foundation of social relations. Meanwhile, spiritual accountability in the Walima tradition is manifested through non-monetary, informal, and valuebased forms of accountability, oriented toward vertical accountability to God and horizontal accountability to the community. This study concludes that the Walima tradition represents a form of spiritual accounting rooted in local wisdom that broadens the understanding of accountability beyond formal financial recording. These findings are expected to contribute theoretically to the development of spiritual accounting and culture-based accounting. Keywords: walima, huyula, spiritual accountability, local wisdom. PENDAHULUAN menghasilkan praktik sosial, ekonomi, dan religius yang sesuai dengan nilai-nilai Salah satu tradisi religius dan Tradisi budaya dan agama Indonesia Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 budaya yang paling menonjol di Provinsi Gorontalo adalah Festival Walima, yang diadakan setiap tahun untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Walima adalah sebuah perayaan yang dilaksanaka dalam bentuk zikir bersama, arak-arakan AoAoTolanggaAoAo yang dihias dan disi dengan kue tradisonal dan makanan yang kemudian diarak ke mesjid dan setelah doa akan dibagikan kepada masyarakat luas, pengunjung dan pezikir (Antara News, 2. Tradisi Walima tidak hanya bersifat keagamaan atau kultural namun menunjukkan solidaritas, gotong-royong, dan pembagian sumber daya komunitas, di mana setiap anggota masyarakat memberikan kontribusi secara sukarela atas dasar kebersamaan dan kewajiban sosial. Sebagian besar kontribusi berasal dari masyarakat secara sukarela tanpa pamrih dan tanpa system pencatatan formal seperti laporan Dalam konteks ini, praktikpraktik sosial yang melibatkan pemberian, kontribusi, dan pertukaran antaranggota masyarakat dapat dipandang sebagai bentuk akuntabilitas spiritual, yakni berorientasi pada aspek material, tetapi juga pada nilai-nilai transendental dan etika komunal (Antara Gorontalo, 2. Dalam konteks ilmu akuntansi, hal ini membuka ruang berpikir alternatif pertanggungjawaban tidak selalu harus berbentuk dokumen dan angka, tetapi bisa berbasis nilai, moral, spiritual, dan akuntansi sering diartikan sebagai sistem teknis tetapi tradisi seperti Walima dengan menunjukkan bahwa praktik akuntansi/bagian dari akuntabilitas juga bisa bersifat sosial-budaya dan spiritual. Menurut beberapa penelitian, akuntansi dapat dianggap sebagai praktik sosial yang memengaruhi nilai budaya, moral, dan spiritual, bukan hanya dokumentasi keuangan formal. Penelitian Dian Andriani Hermawan . menunjukkan bahwa praktik budaya lokal seperti Sedekah Bumi mengandung nilai- nilai non-material yang sangat penting dalam membentuk pemahaman akuntansi yang lebih holistik. Penelitian tersebut menegaskan bahwa akuntansi tidak hanya terkait dengan angka atau pelaporan akuntabilitas berbasis nilai, seperti rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, empati, kebersamaan, gotong royong, serta penghargaan terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Penelitian Rosalina et al. , . menunjukkan bahwa praktik akuntansi dalam masyarakat Gorontalo tidak hanya berlandaskan pada logika ekonomi, tetapi justru dibangun di atas nilai-nilai kearifan lokal yang sarat spiritualitas. Hal ini menunjukkan bahwa sistem akuntabilitas di masyarakat tradisional tidak dapat dilepaskan dari dimensi religius dan nilai kearifan lokal yang melekat kuat. Berdasarkan tersebut, kajian mengenai Walima sebagai spiritual-budaya menjadi semakin relevan untuk dikaji secara filosofis melalui paradigma Pendekatan bagaimana nilai-nilai religius seperti syukur, niat, keberkahan, serta nilai sosial seperti gotong royong dan solidaritas membentuk mekanisme akuntabilitas dalam tradisi Walima. Namun demikian, hingga saat ini kajian akuntansi belum secara sistematis menginterpretasikan tradisi Walima sebagai basis akuntabilitas Penelitian yang ada cenderung memandang Walima dari perspektif akuntabilitas dalam akuntansi. Hal ini menciptakan kesenjangan penelitian antara praktik akuntabilitas berbasis nilai lokal yang hidup dalam masyarakat dengan konstruksi teoretis akuntabilitas dalam ilmu akuntansi atau belum terbangunnya pemahaman konseptual dan interpretatif mengenai bagaimana Tradisi Walima akuntabilitas spiritual dalam konteks Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 budaya Gorontalo . Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman baru mengenai perluasan makna akuntansi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek spiritual, etis, dan budaya lokal. Walima dianggap sebagai cara untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Maulid. Walima menjadi sarana bagi masyarakat untuk meneguhkan hubungan vertikal dengan Allah SWT . ablum minalla. dan hubungan horizontal dengan sesama manusia . ablum Nilai-nilai spiritual yang muncul dalam tradisi ini menggambarkan Gorontalo menerjemahkan ajaran agama ke dalam tindakan sosial, budaya, dan ekonomi. Triyuwono . berpendapat bahwa aktivitas sosial yang dilandasi niat ibadah dan keikhlasan merupakan bentuk menghubungkan manusia dengan Tuhan melalui tindakan nyata. Dengan demikian, pemahaman Walima sebagai praktik spiritual sejalan dengan pendapat ini. Bentuk rasa syukur adalah nilai Walima. Untuk menunjukkan rasa terima kasih atas rezeki dan keberkahan yang mereka terima selama setahun, masyarakat memberikan makanan dan buah-buahan. Pemberian ini dianggap sebagai ibadah dan metode penyucian rezeki, bukan sekadar tradisi. Ritual tolangga, yang merupakan hiasan makanan piramida yang dibuat dengan hati-hati untuk kemudian dibagikan menunjukkan nilai syukur ini. Menurut pembagian makanan ini, rezeki tidak boleh dinikmati sendiri akan tetapi sebaliknya, harus dibagikan agar membawa kebaikan kepada seluruh Penelitian yang dilakukan oleh Anisa Fitriyani et al. sejalan dengan nilai yang ada pada tradisi walima bahwa masyarakat melakukan kenduri untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT dengan menyediakan makanan dan membaginya dengan Dengan demikian, tradisi Walima tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga representasi nyata dari METODE Penelitian pendekatan Untuk memahami fenomena budaya-spritual dalam tradisi Walima secara lebih mendalam, penelitian ini dengan metode litelature review. Karena penelitian ini berfokus pada sintesis teori dan hasil empiris tentang akuntansi spiritual, kearifan lokal Gorontalo, dan akuntabilitas non-material, metode review literatur digunakan. Menurut Snyder menyatakan bahwa ulasan literatur dilakukan dengan tujuan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang fenomena dengan mengumpulkan, menilai, dan mengintegrasikan temuan penelitian sebelumnya secara sistematis. Sumber data dalam penelitian ini sepenuhnya berasal dari data sekunder, karena penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literature review. Data sekunder tersebut diperoleh dari berbagai publikasi ilmiah nasional maupun internasional yang diterbitkan pada rentang tahun 2015 hingga 2024. Literatur yang digunakan mencakup jurnal ilmiah tentang akuntansi spiritual, akuntansi budaya, akuntansi sosial, kearifan lokal, dan studi etnografi yang relevan dengan konteks Gorontalo. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Nilai Spritual dalam Walima Tradisi Walima adalah salah satu tradisi spiritual orang Gorontalo yang menggabungkan elemen keagamaan, rasa terima kasih, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam yang telah dikulturasikan dengan adat setempat. Pada dasarnya. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 nilai spiritual syukur yang berakar pada ajaran Islam. Keikhlasan ini menjadi dasar mengapa masyarakat Gorontalo tidak pernah menilai Walima sebagai beban AoAoBiayaAoAo, tetapi sebagai AoAoAmalAoAo. Keikhlasan ini menjadi fondasi penting spiritual: masyarakat merasa bahwa apa yang diberikan bukan untuk dinilai secara material, tetapi untuk diperhitungkan oleh Allah SWT. Selain itu. Walima mengandung nilai ta'zim atau penghormatan kepada Rasulullah SAW yang tercermin dalam pelaksanaan shalawat, pengajian, dan Barzanji. Nilai memperkuat identitas spiritual orang Gorontalo yang sangat menghormati ajaran Islam. Masyarakat Gorontalo berpartisipasi dalam kegiatan ini karena mereka mencintai Rasulullah, jadi semua acara dilakukan dengan sangat hormat, mulai dari pengajian, salawat, hingga pembacaan Barzanji. Nilai ta'zim ini meneguhkan identitas spiritual mereka sebagai komunitas religius yang mengikat kepercayaan mereka dengan simbolsimbol budaya. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roszi & Mutia . Nilai ini memperkuat identitas spiritual masyarakat yang sangat menghormati ajaran Islam. Hal ini mencerminkan konsep bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang ekspresi nilai keagamaan. dan tanggung jawab moral bersama yang menjadi ciri khas masyarakat Gorontalo. Menurut sejumlah kajian empiris, budaya saling membantu dan kerja sama, atau membentuk struktur sosial tetapi juga menjadi mekanisme yang efektif untuk menanggung tanggung jawab sosial dalam komunitas tradisional. Misalnya, menjelaskan nilai gotong-royong sebagai menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam praktik berbagi dan kerja kolektif dapat mempertahankan nilai kebersamaan dan menjaga kehidupan budaya lokal tetap hidup dan dinamis. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Butler, . yang berpendapat bahwa keterlibatan komunitas dalam kegiatan budaya adalah bentuk nyata dari tanggung jawab sosial bersama, bukan hanya tradisi. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Aldi Alfarizi et al. , . bahwa partisipasi melestarikan budaya gotong-royong sangat penting untuk membangun solidaritas sosial dan tanggung jawab Ini terutama berlaku ketika menghadapi tantangan modernisasi yang dapat mengikis nilai-nilai budaya yang sudah ada. Penelitian tentang partisipasi gotong-royong menunjukkan bahwa tanggung jawab moral masyarakat terhadap kegiatan komunitas tidak hanya bersifat praktis tetapi juga normative dipandu oleh kesadaran sosial yang kuat untuk menjaga keseimbangan dan persatuan dalam Dalam konteks Walima, nilai huyula dan gotong-royong ini tampaknya sangat terkait dengan cara orang Gorontalo berpartisipasi secara sukarela dalam ritual, membagi tolangga, dan makan bersama. Aktivitas ini lebih dari sekadar partisipasi sosial. itu adalah mekanisme pertanggungjawaban sosial diwujudkan 2 Nilai Sosial-Budaya : Huyula dalam Kebersamaan Nilai sosial-budaya Walima menunjukkan prinsip kebersamaan dan solidaritas, yang merupakan ciri khas masyarakat Gorontalo. Hubungan sosial dibangun atas dasar tanggung jawab moral bersama daripada kontrak formal atau kepentingan pribadi, seperti yang ditunjukkan oleh praktik gotong royong, partisipasi sukarela, dan pembagian makanan dalam Walima. Nilai sosialbudaya yang berasal dari tradisi Walima menunjukkan solidaritas, gotong-royong. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 melalui tindakan dan keterlibatan nyata daripada melalui dokumen atau laporan Oleh karena itu. Walima berfungsi sebagai ruang budaya yang merangkum nilai moral dan spiritual yang menjadi landasan interaksi sosial masyarakat dan memperkuat nilai kebersamaan dalam Praktik meningkatkan pemahaman kita tentang akuntabilitas sebagai fenomena sosial budaya dan bukan hanya ide administratif. Ini adalah konsep yang diterapkan dalam berbagai praktik gotong-royong di Indonesia. Temuan ini sejalan dengan Mulawarman . menyebutkan bahwa akuntansi yang berbasis nilai, spiritual, niat, etika dan kesadaran merupakan elemen utama dalam betanggung jawab. Oleh karena itu, walima dapat dianggap sebagai praktik akuntabilitas non-material yang dapat memprioritaskan aspek etis dan spiritual daripada aspek Keikhlasan tercermin dari pemberian yang tidak menuntut balasan, pengakuan maupun legimitasi sosial. Sehingga dikur dengan melalui niat, sikap, dan keselarasan antara Tindakan dengan nilai moral dan religious yang diyakini. 3 Nilai-nilai Akuntabilitas Spiritual dalam Tradisi Walima Tradisi walima dalam budaya Gorontalo tidak hanya dimaknai sebagai akuntabilitas spritualyang berakar kuat pada nilai-nilai religious serta sosial Masyarakat. Walima dianggap sebagai cara manusia bertanggungjawab kepada tuhan atas rezeki yang mereka terima yang dilakukan dengan berbagi secara tulus yang diwujudkan melalui pembagian makanan kepada orang lain. Praktik ini menunjukan menjadi kesadaran transcendental bahwa setiap sumber daya yang dimiliki menjadi Amanah secara moral dan spiritual. Konsep ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Triyowono et al. , . yang menunjukan bahwa Akuntabiltas Spritualis bukan hanya memberikan laporan keuangan saja namun merupakan pertanggungjawaban vertikal kepada tuhan dan horizontal kepada sesama Keikhlasan dalam memberikan tanpa mengharapkan imbalan menunjukan bahwa akuntabilitas dapat diwujudkan melalui integritas moral pelaku sosial, bukan melalui proses formal atau dokumen tertulis. Nilai Amanah serta bentuk akuntabilitas yang berbasis KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Walima di Gorontalo merupakan praktik budaya-religius yang mengintegrasikan nilai spiritual, nilai sosial-budaya, dan nilai akuntabilitas Nilai spiritual dalam Walima tercermin melalui rasa syukur, sedekah, keikhlasan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW yang diwujudkan dalam kontribusi sukarela masyarakat. Nilai sosial-budaya, khususnya Huyula, kebersamaan dan gotong royong sebagai landasan hubungan sosial yang dibangun atas dasar amanah dan tanggung jawab Sementara akuntabilitas spiritual dalam Walima diwujudkan melalui pertanggungjawaban non-moneter yang bersifat informal, berbasis nilai, dan berorientasi pada pertanggungjawaban kepada Tuhan dan Dengan demikian. Walima dapat dipahami sebagai bentuk akuntansi spiritual berbasis kearifan lokal yang memperluas makna akuntabilitas di luar pencatatan keuangan formal. DAFTAR PUSTAKA