Madani : Indonesian Journal Of Civil Society Vol. No. Juli 2022, pp. p-ISSN: 2686-2301, e-ISSN: 2686-035X. DOI: 10. 35970/madani. Aplikatif Sistem Agroforestri Pada Tanaman Umbiumbian Lokal dan Kemiri dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Hendra Pribadi1*. Syukur Umar2. Sudirman Dg. Massiri3. Abdul Muis4. Sri Jumiyati5. I Ketut Widnyana6. Jamila Mustabi7. Frizkiawan I Sompalele8 1,2,3 Dosen Program Studi Kehutanan. Universitas Tadulako. Indonesia Dosen Program Studi Agribisnis. Universitas Tadulako. Indonesia Dosen Program Studi Agribisnis. Universitas Muhammadiyah Palu. Indonesia Dosen Program Studi Agroteknologi. Universitas Mahasaraswati. Indonesia Dosen Program Studi Peternakan. Universitas Hasanuddin. Indonesia Mahasiswa Program Studi Kehutanan. Universitas Tadulako. Indonesia Email: 1pribadi2525@gmail. com, 2syukur_umar@yahoo. com, 3sudi_untad@yahoo. abdulmuis_oke11@gmail. com, 5srijumiyati1068@gmail. com, 6widnyanaketut@unmas. jamila@unhas. INFORMASI ARTIKEL Data artikel: Naskah masuk, 21 Juni 2022 Direvisi, 25 Juli 2022 Diiterima, 26 Juli 2022 Kata Kunci: Optimizing Agroforestry Income ABSTRAK Abstract- Optimizing farmers' income can be done by optimizing land use, namely the agroforestry system, the problem is that the community has not applied the agroforestry system to their land on the grounds that plants growing under stands will not produce maximum production. For this reason, it is necessary to carry out training activities for planting an agroforestry system for candlenut plants and tubers. Local tubers and The method used is firstly observing the location of the land that will be used as a training ground, secondly carrying out training activities on agroforestry systems by paying attention to the fertilizers used, the model beds. Which is The results of the training show that people who initially only planted tubers in open land would plant them under the candlenut plant. Enthusiastic in participating in the activity and there is also an increased understanding of the agroforestry system, this agroforestry training activity is important to optimize land use and increase farmers' income. Abstrak- Optimalisasi pendapatan petani dapat dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan lahan yaitu dengan sistem mengaplikasikan sistem agroforestri pada lahan yang dimiliki dengan alasan tanaman yang tumbuh dibawah tegakan tidak akan menghasilkan produksi yang maksimal. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan pelatihan penanaman sistem agroforestri tanaman umbi-umbian lokal dan kemiri Metode yang digunakan adalah pertama observasi lokasi lahan yang akan dijadikan tempat pelatihan, kedua melaksanakan kegiatan pelatihan sistem agroforestri dengan memperhatikan pupuk yang digunakan, model bedeng yang dibuat. Hasil pelatihan menunjukkan masyarakat yang awalnya hanya menanam umbi-umbian di lahan terbuka akan melakukan penanaman di bawah tanaman kemiri dan juga terdapat peningkatan pemahaman sistem agroforestri, kegiatan pelatihan agroforestri ini penting https://ejournal. id/index. php/madani Madani : Indonesian Journal Of Civil Society Vol. No. Agustus 2022, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X dilakukan demi mengoptimalkan penggunaan lahan dan peningkatan pendapatan petani. Korespondensi: Hendra Pribadi Jurusan Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Universitas Tadulako Jl. Soekarno Hatta No. KM. Tondo. Kec. Mantikulore. Kota Palu. Sulawesi Tengah 94148 PENDAHULUAN Analisis Situasi Komoditas dikembangkan petani dapat meningkatkan ekonomi namun petani tidak menyeimbangkan dengan tanaman keras yang dapat mengurangi kualitas lahan. semangat petani dalam memperbaiki dan mempertahankan kualitas lahan dengan menggunakan sistem agroforestri yang tidak membutuhkan modal yang banyak. salah satu alternatif yang dilakukan (Zain & Nurrochmat, 2. Kegiatan Pengabdian Masyarakat merupakan salah satu tri dharma perguruan Tinggi yang wajib di lakukan, dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diharapkan IPTEK khususnya masyarakat pedesaan. Pembangunan daerah pedesaan memerlukan partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, hal tersebut dilakukan guna menyelesaikan masalah tentang apa yang akan di kerjakan dan bagaimana cara menyelesaikannya (Dewi et al. , 2020. Yoman et , 2. Peningkatan pedapatan masyarakat petani khususnya petani sekitar hutan yang ada di Dalam produktivitas komoditas pangan ke dalam program kehutanan dilakukan dengan cara sistem agroforestri. Pada tanaman kehutanan yang berusia lebih dari tiga tahun pengkayaan tanaman dengan menggunakan jenis tanaman serba guna dan tanaman buah-buahan lainnya. Dengan demikian akan terjadi pemanfaatan lahan secara maksimal dan diperoleh hasil yang optimal dari tanaman pangan (Pribadi et al. https://ejournal. id/index. php/madani Petani telah melakukan evolusi dalam menjaga kondisi lahan untuk mempertahankan hidup salah satu yang dilakukan adalah menggunakan sistem agroforestri atau penggunaan sistem-sistem pertanian yang berbasis pada pohon. Walaupun dalam lapangan petani telah melakukan pengelolaan sistem agroforestri namun tingkat pengetahuan dan penerapannya petani hanya berada pada kategori buruk sampai dengan sedang (Hiola & Puspaningrum, 2. Sistem agroforestri akan berhasil jika berlandaskan sistem pertanian-kehutanan, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah keuntungan yang diterima karena sistem agroforestri tidak hanya menghasilkan pangan tapi juga sebagai penghasil pakan (Pabottingi et al. , 2020. Rudiansah et al. , 2. Meskipun petani subsisten yang bermukim di sekitar hutan Taman Nasional Lore Lindu kapasitas sumberdaya manusianya masih relatif rendah, akan tetapi petani pada umumnya memiliki pengetahuan tradisional yang amat spesifik dari aspek teknologi budidaya tanaman dan aspek sosial budaya setempat dalam memanfaatkan lahan marginal. Menurut (Absori et al. , 2. terjadinya masalah dalam pembukaan lahan baru disebabkan beberapa hal pertama masyarakat takut akan kehilangan mata pencaharian sebagai petani, kedua perbedaan persepsi dan kepentingan antara masyarakat dan pemerintah. Petani subsisten yang berada sekitar hutan mempunyai budaya yang kuat diantaranya masih adanya saling percaya, masih diakuinya pranata sosial, kemampuan dan kemauan untuk selalu belajar, dan tingkat gotong-royong yang Peningkatan sumberdaya manusia dan penguatan modal sosial ini dapat dilakukan Madani : Indonesian Journal Of Civil Society p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Vol. No. Agustus 2022, pp. dengan proses pendidikan formal dan penyuluhan, penguatan kelembagaan kelompok tani, dan pendampingan dalam suksesnya suatu Proses pembelajaran yang diterima masyarakat dapat mengurangi waktu, biaya dan tenaga namun dampak positifnya akan dapat memberikan wawasan dan cara berpikir petani agar lebih baik sehingga dapat membuka akses terhadap berbagai informasi dan meningkatkan kemahiran dan juga kesejahteraan. Perubahan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan merupakan bagian integral yang dihadapi oleh setiap manusia. Namun perubahan ini tidak mengikuti dengan perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lahan. Keluarga petani perhutanan sosial perlu memiliki kesadaran diri, keselarasan, dan komitmen untuk bekerja sama berdasarkan saling menghargai perbedaan atau kontroversi dengan kesopanan di tingkat kelompok masyarakat untuk mencapai tujuan bersama (Umar et al. , 2. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka pola-pola pemanfaatan agroforestri dalam hubungannya dengan tanaman pangan yang diusahakan oleh petani yang berada di sekitar hutan (Taman Nasional Lore Lind. , khususnya pada kawasan sekitar hutan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah Permasalahan Mitra Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat di Desa Petimbe dan Desa Bobo adalah pengetahuan dan ketertarikan masyarakat dalam pengelolaan agroforestri khususnya pada tanaman umbi-umbian dan Permasalahan lain yang muncul Bagaimana membuat bedeng di bawah tegakan kemiri. Bagaimana cara penanamannya. Bagaimana cara pemelihaaran sampai dengan pasca panen. https://ejournal. id/index. php/madani Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan Solusi yang Ditawarkan. Melakukan pelatihan terkait pengelolaan sistem agroforestri pada tegakan kemiri. Memberikan pengetahuan masyarakat tanaman umbi-umbian lokal sehingga tanaman kemiri yang dimanfaatkan dapat secara maksimal baik secara penggunaan lahan maupun secara pendapatan. Target Luaran Target dan luaran dihasilkan sesuai dengan kegiatan dalam program pengabdian ini adalah sebagai berikut: IPTEK dalam bentuk pengetahuan dan pemahaman tentang sistem agroforestri. IPTEK dalam bentuk informasi jenisjenis tanaman angrofoeestri. IPTEK dalam pembuatan kebun percobaan angroforestri umbi-umbian lokal dan kemiri. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan kegiatan dimulai dengan tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan evaluasi, jelasnya terlihat pada gambar. Identifikasi Permasalahan Mitra Observasi Lingkungan dan Masyarakat Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi Kegiatan Persiapan Kegiatan Pelatihan Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Sebelum pelatihan penanaman sistem agroforestri kemiri dan umbi-umbian lokal, maka perlu dilakukan beberapa persiapan antara lain: Observasi kepada Desa Petimbe dan Desa Bobo. Madani : Indonesian Journal Of Civil Society Vol. No. Agustus 2022, pp. Mengukur Lahan yang akan dijadikan kebun percobaan dengan pertimbangan lahan di bawah tegakan kemiri dengan jarak tanam 5x5 dan 6x6 meter. Menyusun instrumen wawancara terkait sistem agroforestri. Mengumpulkan alat yang akan digunakan saat aplikatif sistem agroforestri seperti bibit umbi-umbian . bi kayu, ubi jalar dan tala. , pupuk kendang, pupuk NPK dan lain Mengumpulkan bahan yang akan digunakan saat aplikatif sistem agroforestri seperti terpal, parang, cangkul dan lain sebagainya. Metode pengabdian yang dilakukan adalah tahap pertama dengan cara memberikan pemahamanan dan diskusi langsung kepada ketertarikan terhadap sistem agroforestri dan tahap kedua dengan mengaplikasikan langsung sistem agroforestri pada lahan yang telah di Kegiatan ini laksanakan di dua desa yaitu Desa Petimbe dan Desa Bobo. Kabupaten Sigi. Provinsi Sulawesi Tengah. Waktu pelaksanaan 7 Mei Sampai dengan 11 Juni 2022, dengan jumlah peserta 6 orang pada setiap desa. Tahapan kegiatan dilakukan antara lain: melakuan observasi kecocokan lahan yang akan di jadikan kebun percobaan, melakukan kegiatan diskusi kepada masyarakat tentang ketertarikan masyarakat dalam mengelola agoforestri, berikutnya pengaplikan langsung sistem agroforestri dibawah tanaman kemiri dimulai dari cara pengolahan lahan, pembuatan bedeng tanam yang baik dan sistem penanaman umbi-umbian lokal. Setelah dilakukan kegiatan dilanjutkan dengan sesi evaluasi dan diskusi kepada petani terkait saran dan masukan dalam kegiatan aplikatif sistem agroforestri umbi-umbian p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X terdapat 4 lokasi yang cocok untuk dijadikan kebun percobaan, sedangkan hasil diskusi dengan masyarakat terkait ketertarikan untuk melakukan sistem agroforstri di lahan kemiri masih kurang dengan alasan umbi-umbian yang di bawah naungan tidak akan tumbuh dengan baik karena kurang mendapatkan matahari. Namun hasil observasi terdapat umbi-umbian lokal yang hidup secara alami di bawah tegakan kemiri, untuk itu perlu dilakukan pembuktian penanaman umbi-umbian di bawah kemiri. Gambar 2. Talas Yang Tumbuh di Bawah Kemiri Hasil observasi kesiapan pengabdian ditemukan lahan-lahan yang mempunyai potensi untuk dijadikan kebun-kebun percobaan dan merujuk pada tahapan berikutnya dilakukan wawancara pemilik lahan dan kesediaan penggunaan lahan. Gambar 3. Diskusi dengan Masyarakat Terkait Ketertarikan Penanaman Agroforestri HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari observasi lapangan yang dilakukan di Desa Petimbe dan Desa Bobo https://ejournal. id/index. php/madani Madani : Indonesian Journal Of Civil Society Vol. No. Agustus 2022, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Gambar 6. Pelatihan Pembuatan Bedeng Dibawah Tanaman Kemiri Gambar 4. Pengukuran Diameter Pohon Kemiri Bersama Masyarakat Pada dasarnya masyarakat melakukan penanaman umbi-umbian tidak membuat Karena penanaman dilakukan dibawah tegakan kemiri maka perlu dilakukan pelatihan. Pelatihan pembuatan bedeng dilakukan dengan cara sistem jalur mengikuti cahaya matahari dengan ketinggian bedeng setinggi 15 cm dengan lebar 20 cm. Pelatihan pembuatan pupuk kombinasi dengan mencampurkan pupuk kandang dan pupuk KCL dengan perbandingan 10 kg banding 2 kg, pelatihan ini juga dilakukan agar masyarakat mengetahui secera jelas cara pencampuran pupuk yang akan digunakan untuk luasan kebun percobaan sebesar 10x10 m. Hasil pelatihan pembuatan bedeng dan pupuk kombinasi meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang sistem agroforestri khususnya tanaman umbi-umbian di bawah Hal ini dibuktikan saat observasi awal masyarakat hanya melakukan penanaman secara turun menurun dan setelah pelatihan terjadi peningkatan pemahaman dalam pengelolaan sistem agroforestri. Gambar 7. Kebun Percobaan Yang Telah Selesai Gambar 5. Pelatihan Pembuatan Pupuk Kombinasi KCL dan Pupuk Kandang Gambar 8. Pelatihan Pemberian Pupuk Campuran https://ejournal. id/index. php/madani Madani : Indonesian Journal Of Civil Society p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Vol. No. Agustus 2022, pp. Gambar 9. Pelatihan Pemberian Pupuk Campuran Gambar 10. Pelatihan Penanaman Umbi-umbian di bawah Tanaman Kemiri Peningkatan pemahaman dapat dilihat dengan mengukur tingkat sikap masyarakat terhadap pengelolaan sistem agroforestri. Setelah dilakukan kegiatan pelatihan dimana awalnya masyarakat tidak tertarik melakukan sistem agroforestri setelah dilakukan pelatihan masyarakat mulai mencoba dilahan masingmasing. Berdasarkan hasil penelitian (Jasa et , 2. sikap masyarakat dalam pengelolaan lahan khususnya lahan sekitar hutan cenderung positif dalam memberikan pernyataan terkait pengelolaan sistem agroforestri karena mengoptimalkan suatu lahan. Petani agroforestri mempunyai strategi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tetap memperhatikan eksistensi instruktur dan struktur sosial serta sistem budaya yang namun hal tersebut terbatas karena dua hal yaitu modal dan waktu kontribusi penuh dalam pengelolaan agroforestri (Salatalohy et , 2. Dengan melakukan sistem https://ejournal. id/index. php/madani agroforestri pada lahan kemiri dengan fokus tanaman umbi-umbian lokal terdapat beberapa faktor penghambat antara lain : Kurangnya melakukan sistem agroforestri kemiri dan umbi-umbian. Pengolahan lahan sangat sulit karena banyaknya akar tanaman di bawah tegakan Sedangkan ada beberapa faktor-faktor pendorong kegiatan pengabdian : Potensi lahan masyarakat yang luas. Ketertarikan pengembangan lahannya terutama dengan sistem agroforestri. Kepastian akan adanya peningkatan Hasil kegiatan aplikatif ini memberikan dampak positif langsung kepada petani, kerena hal tersebut tidak hanya menambah kemampuan petani dalam mengoptimalkan penggunaan lahan tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan petani. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan membandingkan hasil instrument pertanyaan sebelum dan setelah kegiatan. Hasil instrument pada 12 peserta pada tabel berikut: Tabel 1. Evaluasi Kegiatan Uraian Pertanyaan Sebelum Setelah . T TT T TT Pengetahuan sistem agoforestri umbi lokal dan kemiri Penerapan sistem agroforestri umbi lokal dan kemiri Kepercayaan sistem agroforestri umbi lokal dan kemiri Ket: T = Tahu/Tertarik TT = Tidak Tahu / Tidak Tertarik Tabel 1 menunjukkan terdapat kenaikan pengetahuan dan ketertarikan masyarakat dalam sistem agroforestri khususnya pada tanaman umbi-umbian lokal dan kemiri. Namun terdapat peserta belum tertarik dengan sistem agroforestri karena peserta masih memiliki luasan yang cukup selain tanaman kemiri. KESIMPULAN Madani : Indonesian Journal Of Civil Society Vol. No. Agustus 2022, pp. Penerapan sistem agroforestri belum sepenuhnya dilakukan masyarakat, karena masyarakat mempunyai anggapan bahwa jenis tanaman yang hidup di bawah tegakan sulit untuk menghasilkan produksi yang baik. Hasil pelatihan menunjukkan respon dan antusias yang baik dari petani, diharapkan dengan adanya kebun percobaan dari hasil pelatihan yang dilakukan masyarakat mau untuk menerapkan dilahannya masing-masing. UCAPAN TERIMA KASIH