Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Identifikasi Minat Belajar pada Mata Pelajaran PAI Murid Kelas X SMK Wiworotomo Purwokerto Hana Rohadatul Aisy 1. Ellen Prima2 Jurusan Pendidikan Agama Islam. UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jurusan Pendidikan Agama Islam. UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto 2017402111@mhs. id ellen. psi07@uinsaizu. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas X SMK Wiworotomo Purwokerto, khususnya minat belajar dengan kategori visual, auditori, dan kinestetik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket. Sampel penelitian terdiri dari 80 siswa kelas X TITL. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan tingkat minat belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas X pada masing-masing jenis minat yaitu minat belajar visual, minat belajar auditori, dan minat belajar Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, minat belajar visual pada mata pelajaran PAI yang tinggi. Sebanyak 56 siswa . %) berada pada kategori tinggi, sedangkan 24 siswa . %) tergolong cukup. Kedua, minat belajar auditori siswa berada pada kategori cukup. Sebanyak 37 siswa . ,25%) masuk kedalam kategori tinggi, 41 siswa . ,25%) berada pada kategori cukup, dan hanya 2 . ,5%) dalam kategori sedang. Ketiga, minat belajar kinestetik menunjukan bahwa sebanyak 47 siswa . ,75%) menunjukan kategori tinggi dan 33 siswa . ,25%) berada pada kategori cukup. Kempat yaitu tidak terdapat siswa yag menunjukan minat belajar dalam kategori rendah untuk ketiga jenis minat belajar . isual,auditori, dan Kata Kunci : minat belajar, pendidikan agama Islam Abstract: This study aims to identify studentsAo learning interest in Islamic Religious Education (PAI) subjects among tenth-grade students at SMK Wiworotomo Purwokerto, specifically in the categories of visual, auditory, and kinesthetic learning interests. This research employed a quantitative method with data collected through questionnaires. The research sample consisted of 80 students from class X TITL. The data obtained were analyzed using descriptive statistics to illustrate the level of learning interest in PAI subjects across each type of learning interest: visual, auditory, and kinesthetic. The findings of the study indicate that: First, studentsAo visual learning interest in PAI is categorized as high, with 56 students . %) in the high category and 24 students . %) in the moderate category. Second, studentsAo auditory learning interest is categorized as moderate, with 37 students . 25%) in the high category, 41 students . in the moderate category, and only 2 students . 5%) in the low category. Third, kinesthetic learning interest shows that 47 students . 75%) are in the high category and 33 students . 25%) are in the moderate category. Fourth, no students were found to demonstrate learning interest in the low category across all three types of learning interest . isual, auditory, and Keywords: learning interest. Islamic Religious Education Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu proses untuk mencerdaskan serta menumbuhkan kemandirian individu yang dapat dilaksanakan oleh perorangan, kelompok, maupun Makna pendidikan tidak terbatas pada penyampaian pengetahuan semata, melainkan juga mencakup pembentukan karakter, internalisasi nilai-nilai, dan pengembangan keterampilan hidup sesuai tuntutan perkembangan zaman. Selain itu, pendidikan dipandang sebagai usaha sadar untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia melalui pemberian dorongan, motivasi, serta penyediaan sarana yang menunjang proses belajar. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting sebagai sarana strategis dalam menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mampu menyesuaikan diri, serta dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan 1 Dalam pendidikan, terdapat dua unsur utama yang tidak dapat dipisahkan, yaitu guru dan peserta didik, yang terikat dalam interaksi komunikasi secara intensif. Interaksi tersebut tidak hanya sebatas proses penyampaian informasi dari guru kepada siswa, melainkan hubungan timbal balik yang mendukung terbentuknya pengetahuan, sikap, serta Proses ini akan berlangsung efektif apabila masing-masing pihak menempatkan diri secara profesional sesuai perannya, di mana guru berfungsi sebagai subjek pendidikan yang berperan sebagai fasilitator, pembimbing, sekaligus motivator, sedangkan peserta didik menjadi objek sekaligus subjek belajar yang aktif menerima, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan yang diperoleh. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan pendidikan sangat bergantung pada kualitas interaksi antara guru dan peserta didik, sebab melalui interaksi yang sehat dapat tercipta suasana belajar yang kondusif, demokratis, dan mampu menunjang tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya sebagai sarana penyampaian pengetahuan agama dalam aspek kognitif, tetapi juga sebagai upaya pembentukan kepribadian, moralitas, dan etika peserta didik secara Tujuan ini sejalan dengan hakikat pendidikan agama yang menekankan pengembangan ranah afektif dan psikomotorik, sehingga nilai-nilai Islam dapat tertanam dan tercermin dalam sikap serta perilaku sehari-hari siswa. Melalui proses pembelajaran, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga mampu menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai dasar dalam menentukan sikap dan menghadapi dinamika kehidupan. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran PAI sangat ditentukan oleh tingkat minat, motivasi, dan partisipasi aktif siswa dalam mengikuti serta menerapkan materi yang disampaikan, karena semakin tinggi minat belajar, semakin besar pula peluang terciptanya pengalaman belajar yang mendalam dan berkesinambungan. Penelitian mengenai minat belajar siswa dalam mata pelajaran PAI sangat penting untuk dilakukan, terutama untuk memahami bagaimana siswa berinteraksi dengan materi ajar dan bagaimana siswa mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan mereka sehari-hari. Minat belajar yang tinggi cenderung meningkatkan efektivitas pembelajaran, sedangkan 1 Dwi Asep Setiani. Mohamad Ali. AoSTRATEGI MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT ABDUL MALIK FADJARAo. AT-TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam. Vi. I . , pp. 1Ae19. 2 Wawan Jaya dkk Purnama. AoPenerapan Fungsi Manajemen Peserta Didik Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan Di Smpi Yaqin 01 Montong Batu BawiAo. Jurnal Pendidikan. Ekonomi. Sosial. Dan Budaya, 1. , pp. 74Ae92. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 minat yang rendah dapat menghambat pencapaian hasil belajar yang diharapkan. 3 Dengan mengetahui tingkat minat belajar siswa, terutama dalam konteks PAI, kita dapat mengidentifikasi berbagai tantangan yang mungkin dihadapi dalam pembelajaran dan mencari solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu teori pendidikan yang relevan dalam konteks ini adalah teori tentang minat belajar. Teori tentang minat belajar menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan tertentu dalam menerima dan mengolah informasi selama proses Salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan belajar siswa adalah minat visual, auditori, dan kinestetik (VAK), yang memetakan preferensi belajar melalui penglihatan, pendengaran, maupun aktivitas fisik. 4 Siswa dengan minat belajar visual lebih mudah memahami materi melalui media penglihatan seperti gambar, grafik, atau diagram. Siswa dengan minat belajar auditori cenderung lebih efektif menerima informasi lewat penjelasan lisan, diskusi, maupun cerita. Sementara itu, siswa dengan minat belajar kinestetik lebih optimal ketika belajar melalui praktik langsung dan aktivitas fisik. Perbedaan minat belajar ini menunjukkan pentingnya guru menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakteristik Dalam konteks PAI, penting untuk mengidentifikasi jenis minat belajar siswa agar proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan preferensnya. Jika sebagian besar siswa memiliki minat belajar visual, maka penggunaan materi ajar seperti gambar, video, dan diagram dapat lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka. Jika siswa lebih cenderung memiliki minat auditori, maka metode pengajaran yang melibatkan penjelasan verbal dan diskusi mungkin lebih sesuai. Sedangkan untuk siswa dengan minat kinestetik, kegiatan yang melibatkan gerakan fisik dan pengalaman langsung dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengajar PAI. Sejalan dengan minat belajar, penelitian yang dilakukan oleh Anisa Amalia. Kusuma Ardhani, dan rekan-rekannya berjudul Peningkatan Hasil dan Minat Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Visual. Auditori. Kinestetik (VAK) pada Materi Cahaya Kelas V SD N Sondakan No. 11, menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran VAK secara efektif mampu meningkatkan minat serta hasil belajar siswa. Indikator minat belajar yang mencakup perasaan senang dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan persentase ketertarikan dari 62,5% pada siklus I menjadi 73% pada siklus II, dengan rata-rata mencapai 67,75% yang termasuk dalam kategori tinggi. Selain itu, indikator perhatian juga meningkat dari 59,5% pada siklus I menjadi 74%, pada siklus II naik sebesar 14,5%. Peningkatan ini mencerminkan bahwa penggunaan model VAK membantu siswa menjadi lebih fokus dan aktif selama proses belajar berlangsung, khususnya dalam diskusi maupun kegiatan kelas Dengan meningkatnya perhatian dan keterlibatan siswa, proses pencapaian tujuan pembelajaran pun menjadi lebih mudah. 5 Kesamaan antara penelitian ini dengan penelitian Anisa terletak pada fokus utama yaitu minat belajar siswa, serta penggunaan kerangka pendekatan Visual. Auditori, dan Kinestetik (VAK). Namun, perbedaan utama terletak pada 3 Nada Fatiyyah Azkia. Abdul Muin, and Ahmad Dimyati. AoPENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKAAo. JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovati. , 6. , pp. 1873Ae86, doi:10. 22460/jpmi. 4 Syahriani Yulianci and Nurjumiati. AoAnalisis Karakteristik Gaya Belajar VAK (Visual. Auditori. Kinesteti. Siswa Pada Pembelajaran FisikaAo. Jurnal Pendidikan Mipa, 10. , pp. 40Ae44, doi:10. 37630/jpm. 5 Anisa Amalia and others. AoPeningkatan Hasil Dan Minat Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Visual. Auditori. Kinestetik (VAK) Pada Materi Cahaya Kelas V SD N Sondakan No. 11Ao, 10 . , pp. 1764Ae75. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 desain penelitian: penelitian ini bersifat deskriptif dengan tujuan mengidentifikasi minat belajar siswa, sementara penelitian Anisa bersifat intervensional yang menerapkan langsung model pembelajaran VAK dalam proses pembelajaran di kelas. Metode Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitaif. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian survei. Penelitian ini memiliki satu variabel, yaitu minat belajar. Minat belajar merupakan cara yang cenderung dipilih atau dilakukan seseorang dalam melakukan kegiatan berfikir, menyerap informasi, memproses atau mengolah, dan memahami suatu informasi melalui belajar dan pengalaman. Dalam penelitian ini, minat belajar dianalisis untuk mengetahui bagaimana tingkat ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran PAI di kelas X SMK Wiworotomo Purwokerto. Dengan hanya memiliki satu variabel yaitu Minat Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari siswa-siswi kelas X Teknik Tenaga Listrik SMK Wiworotomo Purwokerto. Sampel penelitian, peneliti menggunakan purposive sampling karena sampel yang dipilih memiliki karakteristik khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas X jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) di SMK Wiworotomo Purwokerto sebanyak 80 siswa. Pemilihan kelas X TITL sebagai sampel dalam penelitian ini didasarkan pada pertimbangan teknis dan kebijakan sekolah. Pada penelitian ini, teknik analisis yang diterapkan adalah statistik deskriptif. Penelitian ini bersifat deskriptif, yang berarti hanya berfokus pada penyajian, pemaparan, dan penggambaran data yang diperoleh secara objektif, tanpa melakukan pengujian terhadap hipotesis. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu dengan menggunakan angket/kesioner. Metode pengumpulan data yang menggunakan angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara langsung kepada peserta didik. Untuk mengukur variabel minat belajar siswa, kuesioner tersebut menggunakan skala Likert . angat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuj. sebagai instrumen pengumpulan Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif serta analisis frekuensi deskriptif. Dalam penelitian ini, variabel minat belajar dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu minat belajar visual, auditori, dan kinestetik. Melalui analisis deskriptif, peneliti dapat menilai tingkat minat belajar pada masing-masing kategori, mengidentifikasi kecenderungan yang paling menonjol, serta mengevaluasi perbedaan preferensi belajar antar siswa. Selanjutnya, peneliti melakukan kategorisasi berdasarkan indikator minat belajar, yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu minat belajar visual, auditori, dan kinestetik, yang dijelaskan sebagai Tabel 1. Kategorisasi Minat Belajar Kategori Rendah Sedang Cukup Tinggi Visual Auditori Kinesteti Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil uji coba angket yang dilaksanakan di SMK Wiworotomo Purwokerto, peneliti menyajikan temuan mengenai identifikasi minat belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas X. Data yang diperoleh dari penelitian ini disajikan sebagai Tabel 2. Hasil Uji Validitas Instrumen Minat Belajar No Item Soal R hitung R tabel Keterangan Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Bedasarkan hasil data tabel diatas dapat diketahui menggunakan analisis korelasi untuk menentukan validitas item. Penelitian hasil validitas berdasarkan Masrun, batas butir minimum dianggap valid mencapai 0. Dengan demikian, jika butir kurang dari 0. dianggap tidak valid. Berdasarkan hasil uji validitas yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa instrumen dari 30 butir pertanyaan terdapat 20 pernyaataan dinyatakan valid karena rhitung lebih besar dari rtabel 0. hitung > 0. dan terdapat 10 pernyataan dinyatakan tidan valid yaitu nomor 1,5,7 pernyataan minat belajar visual, nomor 12,15,19 pernyataan minat belajar Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 auditori, nomor 21,22,24,27 pernyataan minat belajar kinestetik karena rhitung lebih kecil dari rtabel 0. hitung < 0. Uji reliabilitas yang berarti seberapa dapat diandalkan hasil suatu pengukuran. Pada penelitian ini instrumen pengujian reliabilitas dengan internal consistency. Dilakukan dengan cara menccoba instrumen sekali saja kemudian data diperoleh dianalisis menggunakan aplikasi SPSS. Jika menggunakan SPSS, suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Alfa Croncbach > 0. Berikut hasil uji reliabilitas yang telah dilakukan menggunakan SPSS : Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas Variabel CronbachAos Alpha Jumlah Item Keterangan Minat Belajar 0,823 Reliabel Data penelitian ini dianalisis menggunakan statistik deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai karakteristik data yang dikumpulkan. Pemilihan statistik deskriptif dilakukan karena metode ini mampu menyajikan informasi secara ringkas, teratur, dan sistematis, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami pola atau kecenderungan data tanpa harus menelaah seluruh data mentah secara menyeluruh. Hasil dari statistika deskriptif tersebut disusun menggunakan tabel kategorisasi pada table 4 berikut: Tabel 4. Total Hasil Seluruh Indikator TOTAL SELURUH Indikator Visual Auditori Kinestetik Rendah Sedang Cukup Tinggi Total Indikator minat belajar visual terdapat 24 siswa pada kategorisasi cukup dan terdapat 56 siswa kategori tinggi. Dari total 80 siswa, hasil pengukuran indikator minat belajar visual menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki minat yang tinggi terhadap minat belajar visual sebanyak 56 siswa . % dari tota. berada dalam kategori tinggi, menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki ketertarikan yang kuat terhadap pembelajaran visual seperti gambar, video, dan audio. Sebanyak 24 siswa . %) berada pada kategori cukup, yang berarti mereka menunjukkan minat belajar visual yang sedang mereka cukup tertarik dan merespon pembelajaran visual. Tidak terdapat siswa yang termasuk dalam kategori rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh siswa memiliki minat belajar visual dalam tingkat sedang hingga tinggi. Tabel 5. Kategorisasi Minat Belajar Visual Kategorisasi Rendah Sedang Cukup Tinggi Visual Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Visual Rendah Sedang Cukup Gambar 1. Kategorisasi Minat Belajar Visual Indikator minat belajar auditori terdapat 2 siswa berkaterori sedang, 41 siswa pada kategorisasi cukup dan terdapat 37 siswa kategori tinggi. Dari total 80 siswa, dapat diketahui bahwa minat belajar auditori sebagian besar tergolong dalam kategori cukup dan Sebanyak 37 siswa . ,25%) berada pada kategori tinggi, artinya hampir setengah dari jumlah siswa sangat menyukai pembelajaran dengan pendekatan auditori. Mereka antusias saat belajar melalui ceramah, diskusi, atau audio pembelajaran lainnya. Sebanyak 41 siswa . ,25%) berada pada kategori cukup, menunjukkan bahwa mayoritas siswa mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pembelajaran berbasis auditori. Mereka mungkin nyaman belajar melalui mendengarkan, namun belum optimal atau belum menjadi preferensi utama dalam belajar. Sebanyak 2 siswa . ,5%) berada pada kategori sedang, artinya mereka memiliki minat mendengarkan yang tidak terlalu rendah namun belum menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap pembelajaran berbasis auditori, seperti mendengarkan penjelasan guru, diskusi, atau rekaman suara. Tabel 6. Total Kategorisasi Auditori Kategorisasi Rendah Sedang Cukup Tinggi Auditori Auditori 46% 51% Rendah Sedang Cukup Gambar 2. Kategorisasi Auditori Indikator minat belajar visual terdapat 33 siswa pada kategorisasi cukup dan terdapat 47 siswa kategori tinggi. Dari total 80 siswa, sebanyak 47 siswa . ,75%) masuk dalam kategori tinggi, artinya siswa dalam kategori ini sangat menyukai aktivitas seperti praktik, atau pembelajaran yang melibatkan gerakan tubuh dan pengalaman langsung. Sebanyak 33 siswa . ,25%) tergolong kategori cukup. Siswa dengan minat kinestetik yang tinggi cenderung menyukai pembelajaran yang melibatkan gerak tubuh atau praktik terutama dalam menyerap materi-materi seperti yang ada dalam pelajaran PAI. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Tabel 7. Total Kategorisasi Kinestetik Kategorisasi Rendah Sedang Cukup Tinggi Auditori Kinestetik Rendah Sedang Cukup Tinggi0% Rendah Sedang Cukup Tinggi Gambar 3. Kategorisasi Minat Belajar Kinestetik Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa seluruh peserta didik menunjukkan tingkat minat belajar yang berada pada kategori cukup hingga tinggi terhadap ketiga jenis minat belajar, yakni visual, auditori, dan Tidak ditemukan siswa dengan minat belajar yang tergolong rendah. Menunjukkan bahwa seluruh siswa memiliki keterlibatan positif dalam proses pembelajaran PAI, meskipun dengan kecenderungan minat belajar yang berbeda-beda. Setelah data diolah kemudian muncul data setiap anak yang memiliki dominan minat belajar visual, auditori maupun kinestetik. Setiap siswa memiliki dominan kategori minat belajar yang berbeda. Hasil kategorisasi pada minat belajar mata pelajaran PAI terdapat 4 kategori yaitu rendah (R), sedang (S), cukup (C) dan tinggi (T). Terdapat 31 siswa, yaitu siswa yang memiliki nomor absen 1, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 15, 18, 19, 21, 23, 25, 27, 29, 31, 32, 34, 36, 40, 41, 43, 47, 49, 50, 51, 52, 53, dan 55 yang menunjukkan tingkat minat belajar yang tinggi pada ketiga jenis minat belajar yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa dalam kelompok tersebut tidak memiliki kecenderungan yang menonjol terhadap salah satu jenis minat belajar tertentu secara spesifik. Peserta didik yang menunjukkan ketertarikan tinggi dalam minat belajar visual, auditori, dan kinestetik dapat dikategorikan ke dalam kelompok dengan pendekatan belajar multimodal. Pembelajaran multimodal merupakan suatu pendekatan yang memadukan berbagai bentuk modalitas data seperti visual . ambar, vide. , teks, suara, maupun gerakan fisik. Meskipun tidak secara langsung menggunakan istilah visual, auditori dan kinestetik. Pendekatan ini memiliki kesamaan dengan prinsip minat belajar visual, auditori dan kinestetik, yaitu visual, berupa informasi visual seperti gambar dan grafik. Auditori, meliputi data berbasis suara atau bahasa lisan dan tulisan. Kinestetik, yang tercermin dari data interaktif atau fisik seperti pergerakan, posisi tubuh, atau simulasi aktivitas. Terdapat 14 siswa , yaitu siswa yang memiliki nomor absen 2, 7, 16, 17, 20, 22, 24, 26, 28, 35, 37, 39, 62, dan 72 yang termasuk dalam kategori tinggi dalam jenis minat belajar 6 Yasha Ektefaie and others. AoMultimodal Learning with GraphsAo. Nature Machine Intelligence, 5. , pp. 340Ae50, doi:10. 1038/s42256023-00624-6. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 visual dan kinestetik. Namun demikian, minat belajar auditori hanya berada pada tingkat Hal ini menunjukkan bahwa mereka cenderung lebih menyukai pembelajaran yang melibatkan gambar, atau grafik dan aktivitas gerak fisik, dibandingkan metode yang mengandalkan penjelasan lisan semata. Dalam pembelajaran PAI, karakteristik ini menunjukkan bahwa pendekatan yang hanya mengandalkan penyampaian materi secara lisan kemungkinan besar kurang efektif untuk kelompok siswa ini. Temuan ini sejalan dengan pendapat DePorter dan Hernacki, yang menyatakan bahwa siswa dengan kecenderungan minat belajar visual dan kinestetik lebih mudah memahami materi jika disampaikan melalui penglihatan dan pengalaman langsung. Terdapat 4 siswa, yaitu siswa yang memiliki nomor absen 6, 33, 42, dan 80, yang teridentifikasi memiliki minat belajar yang tinggi pada minat belajar visual dan auditori. Namun demikian, pada minat belajar kinestetik, keempat siswa tersebut menunjukkan tingkat minat pada kategori cukup. Berdasarkan data yang, diketahui bahwa keempat siswa yang menjadi fokus pengamatan memperlihatkan minat belajar yang tinggi terutama pada visual dan auditori. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mudah menyerap informasi ketika materi disajikan dalam bentuk tampilan visual seperti gambar, diagram, atau peta konsep, serta melalui penjelasan verbal yang sistematis seperti ceramah, diskusi kelompok, maupun media audio. Ketika proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media seperti slide PowerPoint, video edukatif, atau narasi kisah, respons siswa tampak sangat positif mereka menunjukkan antusiasme yang tinggi, tingkat konsentrasi yang baik, dan kemampuan menangkap substansi materi secara lebih optimal. Terdapat 6 siswa yaitu siswa yang memiliki nomor absen 11, 44, 45, 46, 65, dan 74 yang menunjukkan tingkat minat belajar yang tinggi pada minat belajar visual, sedangkan minat belajar auditori dan kinestetik berada dalam kategori cukup. Siswa yang memiliki kecenderungan terhadap minat belajar visual cenderung memperoleh hasil yang lebih unggul dibandingkan mereka yang dominan pada minat belajar auditori, baik dalam evaluasi pemahaman bacaan maupun dalam aktivitas menyimak. Terdapat 2 siswa yaitu siswa yang memiliki nomor absen 14 dan 66 menunjukkan tingkat minat belajar yang tinggi pada minat belajar auditori, namun hanya berada pada kategori cukup pada minat belajar visual dan kinestetik. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cenderung lebih efektif dalam menyerap informasi melalui stimulus pendengaran, seperti mendengarkan ceramah, berpartisipasi dalam diskusi, sesi tanya jawab, atau menyimak kisah dan cerita. Terdapat satu siswa yaitu absen 58, menunjukkan kategori tinggi pada minat belajar kinestetik, sedangkan visual dan auditori hanya cukup. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik cenderung memiliki preferensi terhadap metode pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik secara langsung, seperti praktik dan gerakan tubuh. Pendekatan ini sejalan dengan ciri khas dari minat belajar kinestetik yang mengedepankan pengalaman belajar melalui tindakan dan keterlibatan motorik. 9 Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), minat belajar kinestetik dapat difasilitasi melalui aktivitas seperti praktik wudhu dan salat, simulasi ibadah haji, permainan edukatif berbasis nilai-nilai Islam, 7 Fita Mustafida. AoKajian Media Pembelajaran Berdasarkan Kecenderungan Gaya Belajar Peserta Didik SD/MIAo. Madrasah: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 6. , pp. 77Ae96. 8 Beth A. Rogowsky. Barbara M. Calhoun, and Paula Tallal. AoProviding Instruction Based on StudentsAo Learning Style Preferences Does Not Improve LearningAo. Frontiers in Psychology, 11. February . , doi:10. 3389/fpsyg. 9 Auly Pepy Dyah Pramesthy and others. AoGaya Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas XI -7 Di SMA Negeri 14 SemarangAo. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 4. , pp. 831Ae39, doi:10. 53299/jppi. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 bermain peran . ole-pla. tokoh sejarah Islam, maupun keterlibatan langsung dalam kegiatan keagamaan di sekolah. Terdapat siswa dengan nomor absen 61 menunjukkan kategori tinggi pada visual dan kinestetik, tetapi meiliki kategori sedang pada auditori. Siswa semacam ini membutuhkan pendekatan pembelajaran yang memadukan media visual dan kegiatan praktik langsung. Minat belajar seperti ini mencerminkan bahwa siswa tersebut lebih responsif terhadap pembelajaran yang melibatkan unsur visual seperti gambar, peta konsep serta aktivitas fisik atau praktik langsung, sementara ketertarikannya terhadap bentuk penyampaian informasi secara lisan . tidak sekuat dua jenis minat belajar lainnya. Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pendekatan ini sangat penting untuk memastikan bahwa materi yang bersifat abstrak atau konseptual dapat dipahami secara konkret melalui pengalaman nyata dan bantuan visualisasi. 10 Menurut Amalia. Ardhani, dan Novitasari, media visual dan praktik dapat meningkatkan keterlibatan serta pemahaman siswa dalam pembelajaran PAI, terutama pada materi yang memerlukan demonstrasi atau aktivitas nyata. Terdapat satu siswa dengan absen 56 memiliki kategori sedang pada minat belajar auditori dan kategori cukup minat belajar pada visual dan kinestetik. Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), hal ini penting diperhatikan karena sebagian besar materi ajar dalam PAI seperti ceramah, pembacaan ayat Al-QurAoan, dan penjelasan makna ajaran umumnya disampaikan secara lisan oleh guru. Dengan demikian, siswa seperti absen 56 yang memiliki preferensi auditori berpotensi memperoleh pemahaman yang lebih optimal ketika proses pembelajaran disampaikan melalui metode auditorial yang terstruktur dan sesuai. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang mengembangkan indikator auditori perlu dioptimalkan untuk siswa tipe ini. Bagi siswa seperti absen 56, pendekatan pembelajaran PAI yang menggabungkan metode auditorial secara bertahap, seperti mendengarkan murattal, berdiskusi dalam kelompok kecil, atau menonton video ceramah Islam interaktif, akan sangat membantu dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa secara menyeluruh. Strategi ini sejalan dengan pandangan Hamzah dalam karakter siswa yang memiliki minat belajar audtori menyatakan bahwa individu dengan belajar auditori akan lebih mudah menyerap informasi melalui suara, irama, dan Terdapat 21 siswa yang memiliki nomor absen 30, 38, 48, 54, 57, 59, 60, 63, 64, 67, 68, 69, 70, 71, 73, 75, 76, 77, 78, 79 menunjukkan kategori cukup pada semua jenis minat Hal ini menunjukan bahsa, para siswa belum memperlihatkan kecenderungan kuat terhadap salah satu minat belajar. Oleh karena itu, strategi yang dapat diterapkan adalah pendekatan yang bersifat eksploratif dan analisis lanjutan untuk membantu menggali potensi minat belajar dominan yang mungkin belum tergali secara optimal. Sementara itu, sebanyak 70% siswa menunjukkan minat belajar yang tinggi pada minat belajar visual. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa lebih mudah terlibat dalam pembelajaran yang menggunakan elemen visual, seperti gambar, diagram, peta konsep, serta media visual Temuan ini selaras dengan pandangan DePorter dan Hernacki, yang menjelaskan bahwa siswa dengan kecenderungan visual akan lebih mudah memahami materi 10 Ahmad Syauky. AoPengaruh Gaya Belajar Visual Auditorial Kinestetik Terhadap Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di MAN 2 dan SDAo, 1 . , pp. 89Ae103. 11 Amalia and others. 12 Akrim. Strategi Peningkatan Daya Minat Belajar Siswa, ed. by Emilda Sulasmi (Pustaka Ilmu, 2. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 pembelajaran melalui stimulus penglihatan. 13 Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), kecenderungan visual ini dapat dimanfaatkan dengan mengembangkan media pembelajaran visual seperti poster tata cara ibadah, infografis nilai-nilai keislaman, atau video edukatif tentang sejarah Islam. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Rahmawati dan Mulyani yang menyatakan bahwa penggunaan media visual dalam pembelajaran PAI secara signifikan dapat meningkatkan perhatian dan pemahaman siswa terhadap materi yang bersifat abstrak dan normatif. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap 80 responden data minat belajar siswa kelas X SMK Wiworotomo Purwokerto pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), tergolong tinggi dan terbagi ke dalam tiga kategori minat belajar, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Minat Belajar Visual. Pertama, minat belajar visual sebagian besar siswa menunjukkan minat belajar visual yang tinggi. Dari 80 responden, sebanyak 56 siswa . %) berada dalam kategori tinggi, sedangkan 24 siswa . %) tergolong cukup. Tidak ditemukan siswa dengan kategori sedang maupun rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki ketertarikan yang kuat terhadap pembelajaran berbasis visual seperti penggunaan gambar, video, diagram, atau media pembelajaran visual lainnya. Temuan ini konsisten dengan penelitian Amalia yang menyatakan bahwa pendekatan visual dapat meningkatkan daya tarik dan pemahaman siswa dalam pembelajaran berbasis nilai. Kedua yaitu, minat belajar auditori siswa berada pada kategorisasi yang cukup Sebanyak 37 siswa . ,25%) masuk dalam kategori tinggi, 41 siswa . ,25%) berada pada kategori cukup, dan hanya 2 siswa . ,5%) dalam kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa metode pembelajaran berbasis pendengaran seperti ceramah, diskusi kelompok, dan audio pembelajaran masih cukup diminati oleh siswa, meskipun tidak sekuat minat belajar visual. Ketiga yaitu, minat belajar kinestetik sebanyak 47 siswa . ,75%) menunjukkan minat belajar kinestetik pada kategori tinggi dan 33 siswa . ,25%) berada pada kategori Hasil ini menunjukkan bahwa siswa cukup antusias terhadap pembelajaran berbasis praktik, aktivitas fisik, simulasi, atau metode yang melibatkan gerakan tubuh secara langsung dalam memahami materi PAI. Keempat yaitu tidak terdapat siswa yang menunjukkan minat belajar dalam kategori rendah untuk ketiga jenis minat belajar . isual, auditori, dan kinesteti. Hal ini menandakan bahwa seluruh siswa memiliki keterlibatan positif terhadap proses pembelajaran PAI. Meskipun demikian, tingkat dominasi tiap jenis minat belajar bervariasi antara satu siswa dengan yang lain. Kelima, berkaitan dengan dominasi dan perpaduan minat belajar. Hasil analisis yang lebih rinci mengungkap bahwa ada siswa yang cenderung memiliki kecenderungan kuat terhadap salah satu jenis minat belajar saja, seperti hanya visual, hanya auditori, atau hanya Di sisi lain, ada pula siswa yang menunjukkan gabungan dari dua jenis minat belajar, bahkan ada yang memiliki keseimbangan dalam ketiga jenis minat belajar tersebut . isual, auditori, dan kinesteti. Temuan ini semakin menegaskan pentingnya penggunaan 13 Yulianci and Nurjumiati. 14 Nur Wahidah. Nabila Agustin, and Ifa Afida. AoPengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Visual Terhadap Minat Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Smp Plus Bustanul Ulum Mlokorejo PugerAo. As-Sunniyyah, 2. , pp. 1Ae10, doi:10. 62097/assunniyyah. 15 Amalia and others. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 pendekatan pembelajaran yang bersifat diferensiatif agar dapat mengakomodasi beragam karakteristik minat belajar siswa secara menyeluruh dan efektif. Bibliography