Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 57 - 63 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 MASJID NABAWI SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN MASJID AGUNG KERATON SURAKARTA Heri Hermanto, Atinia Hidayah Dosen Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Sains Al Qur’an Dosen Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Sains Al Qur’an Email: herih@unsiq.ac.id Email: atiniahidayah@unsiq.ac.id 082134097671, 085226555200 INFO ARTIKEL Riwayat Artikel : Diterima : 04 Januari 2022 Disetujui : 25 Januari 2022 Kata Kunci : arsitek, masjid nabawi, arsitektur masjid agung surakarta ARTICLE INFO Article History : Received : 04 Jnauary 2022 Accepted : 25 January 2022 Keywords: architecture, prophet’s mosque, surakarta grand mosque architecture ABSTRAK Nabi Muhammad adalah arsitek dan peletak batu pertama pembangunan Masjid Nabawi di Madinah pada tahun 622. Masjid Nabawi dirancang dengan bentuk yang sangat sederhana tetapi sangat kaya fungsi. Masjid Nabawi menjadi wadah berbagai aktivitas seperti; pusat pemerintahan, pusat pembelajaran, tempat untuk beberapa perawatan medis, pusat penahanan dan rehabilitasi, dan untuk beberapa kegiatan ibadah sosial lainnya. Bangunan dengan bentuk yang sederhana tetapi kaya dengan berbagai fungsi ini belum pernah ada sebelumnya. Di kemudian hari masjid Nabawi kemudian menjadi dasar, inspirasi, dan katalis bagi perkembangan Peradaban Islam khususnya arsitektur masjid. Arsitektur masjid kemudian menjadi identitas yang paling penting bagi kemajuan umat Islam. Inti arsitektur Muslim terletak pada fungsi dengan semua dimensinya: jasmani, akal, dan spiritual. Peran bentuk juga penting, tetapi hanya sejauh untuk melengkapi dan meningkatkan fungsi. Ada empat tipikal masjid yang dianggap mewakili warisan arsitektur Islam di dunia ini yang terinspirasi oleh masjid Nabawi yaitu; tipe Arab, Tipe Turki, Tipe Persia, dan Tipe India. Tipologi tersebut tidak memasukkan tipe masjid Indonesia, padahal masjid yang dibangun oleh Walisongo dan raja-raja Mataram Islam di Jawa tidak kalah hebat dan unik dibandingkan dengan masjid-masjid dunia. Pertanyaannya adalah, apakah Masjid Nabawi menjadi, dasar, dan inspirasi bagi terwujudnya Arsitektur Masjid Agung Keraton Surakarta. ABSTRACT Prophet Muhammad was the architect and groundbreaking stone for the construction of the Prophet's Mosque or an-Nabawi in Medina in 622. The Prophet's Mosque was established with a very simple design yet it owns beneficial functions. The Prophet's Mosque is a place often used for various purposes for instance as government centers, learning centers, medical treatment place, detention and rehabilitation centers, and certainly more social or worshipping center. Building designed with a simple form but rich in functions had never existed before. Therefore, Prophet's Mosque had become the basis, inspiration, and catalyst for the development of Islamic civilization especially mosque architecture. 57 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 101 - 107 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 The architecture of the mosque then became the most important identity for the progress of Muslims. The essence of Muslim architecture lies in function with all of its dimensions including the physical, intellectual, and spiritual aspects. The role of form is also important, but only insofar as it complements and enhances function. There are four typical mosques that are considered to represent the heritage of Islamic architecture in this world which were inspired by the Prophet's Mosque, namely; Arabic Type, Turkish Type, Persian Type, and Indian Type. This typology does not include the type of Indonesian mosque, even though the mosques built by Walisongo and the kings of Islamic Mataram in Java are no less great and unique compared to other famous mosques in the world. The question that then emerges is whether or not the Prophet's Mosque is the basis and inspiration for the realization of the Architecture of the Great Mosque of Keraton Surakarta. 58 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 57 - 63 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 1. PENDAHULUAN Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Yatsrib, Yatsrib mengalami perubahan yang signifikan pada hampir semua fiturnya termasuk mengubah namanya dari Yatsrib menjadi Madinah. Perubahan tersebut menyiratkan karakter baru, tujuan dan aspirasi kota atau negara yang berbeda dengan kota kota yang sudah ada. Komponen kota pertama yang diperkenalkan oleh Nabi ke kota Madinah adalah institusi masjid yaitu masjid Nabawi. Sejak awal dibangun, masjid Nabawi berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat. Masjid Nabawi menjadi pusat pemerintahan Nabi, pusat pembelajaran, tempat untuk beberapa perawatan medis, pusat penahanan dan rehabilitasi, pusat kesejahteraan dan amal, dan tempat untuk beberapa kegiatan ibadah sosial lainnya. Bentuk Masjid Nabawi masih sangat sederhana. Meskipun bentuknya sederhana tetapi bagi umat Islam, masjid Nabawi langsung menjadi penentu dan katalis bagi proses pembangunan peradaban Islam. Pada awalnya, Masjid Nabawi berbentuk persegi, terbuat dari bata lumpur dan dibangun di atas fondasi batu mengelilingi area dan tidak berlantai, seluas sekitar 1.200 meter persegi, serta bagian utara beratap daun kurma. Tiga pintu masuk menembus dinding selatan, timur dan barat. Sisi utara adalah dinding kiblat (arah sholat) yang menghadap al-Masjid al-Aqsa di Yerusalem. Sekitar 16 atau 17 bulan setelah hijrah, kiblat Masjid Nabawi dialihkan dari al-Masjid alAqsha ke al-Masjid al-Haram. Dengan demikian, bentuk Masjid Nabawi yang sederhana tidak berubah, hanya ada penutupan dan penambahan pintu baru. Pintu masuk di tembok selatan ditutup dan sekaligus berfungsi sebagai arah kiblat baru, sementara pintu masuk baru dilubangi di dinding utara yang sebelumnya berfungsi sebagai sisi kiblat (Creswell, 1989:4; Hillenbrand, 1994:39). Masjid Nabawi dibangun dengan bentuk yang sangat sederhana tetapi sangat kaya fungsi. Masjid Nabawi menjadi wadah berbagai aktivitas seperti; sholat lima waktu berjama’ah, pusat pemerintahan, pusat pembelajaran, tempat untuk perawatan medis, pusat penahanan dan rehabilitasi, dan untuk beberapa kegiatan ibadah sosial lainnya. Bangunan ibadah ini memiliki bentuk yang sangat sederhana namun kaya fungsi karena mempunyai dimensi sakral dan profane yang tidak pernah dijumpai sebelumnya. Zaman Nabi Muhammad merupakan fase pertama dan tentu saja yang paling menentukan dalam evolusi identitas arsitektur Muslim, seperti yang dikenal saat ini. Apa yang Nabi lakukan berkaitan dengan arsitektur sama dengan menabur benih yang hasilnya dipanen di kemudian hari, terutama selama zaman Umayyah dan Abbasiyah, dan seterusnya. 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan antara metode penelusuran sejarah dan dekriptif-kualitatif. Metode sejarah menitikberatkan pada suatu narasi masa lalu dengan tujuan melakukan pencarian kritis untuk seluruh dokumen yang berkaitan dengan masjid nabawi dan masjid dunia yang menjadi bagian dari kebesaran arsitektur Islam. Data diklasifikasikan, dievaluasi dan diinterpretasikan. Metode deskriptif-kualitatif meliputi tahapan sebagai berikut: (1) tahap pengumpuan data, (2) tahap analisis data, (3) dan tahap penarikan kesimpulan. Pada tahap pengumpulan data, proses yang dilakukan meliputi studi pustaka, observasi, dan pengumpulan data sekunder. Selanjutnya adalah tahap analisis data dengan identifikasi sejarah dan arsitektur masjid yang diakhiri dengan tahap penarikan kesimpulan. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Masjid Nabawi Berikut ini adalah deskripsi tentang bentuk Masjid Nabawi pada saat wafatnya Nabi seperti yang diberikan oleh sebagian besar ulama: “sebuah fondasi batu digali dengan kedalaman tiga hasta (sekitar 1,50 meter). Di atas pondasi ada dinding setinggi manusia dengan tangan terangkat. Masjid dinaungi dengan mendirikan batang-batang kurma dan palang-palang kayu yang ditumbuhi daun-daun kurma. Pada arah kiblat terdapat tiga serambi, atau tiang-tiang, masing-masing serambi memiliki enam – atau bahkan delapan – tiang (batang pohon kurma). Di bagian belakang masjid terdapat peneduh, tempat para muhajir (migran) tunawisma berlindung. Tinggi atap masjid sama dengan tinggi manusia (dengan tangan terangkat)” 59 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 101 - 107 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 (Hamid, 1996:226; al-Samahudi, 1997, Vol. 2 hlm. 481). Gambar 1. Masjid Nabawi sebelum perluasan pertama (Sumber: Courtesy of Museum Dar al-Madinah di Madinah) Menjawab kebutuhan akan peningkatan pesat jumlah jamaah muslim serta ekspansi yang cepat kota Madinah yang dikemudian hari menjadi sebagai prototipe kota muslim, sekitar tiga tahun sebelum wafat yaitu pada tahun ke-7 Hijriah (629 M), Nabi Muhammad SAW kemudian memperluas masjid Nabawi menjadi berukuran sekitar 2.500 meter persegi. arsitektur muslim sejati dengan memperkenalkan aspek konseptual terselubung yang kemudian diberikan penampilan luar yang berbeda sebagaimana ditentukan oleh konteks yang berbeda. Aspek-aspek yang disumbangkan oleh Nabi pada arsitektur muslim menandakan intisari arsitektur muslim dan vitalitas yang meresapi setiap segi dan fiturnya. Dengan demikian, sisi permanen dan paling penting dari arsitektur muslim sama tuanya dengan pesan Islam dan komunitas muslim, tetapi pada masa Nabi hal itu tidak lebih dari bentuk fisik yang sederhana. Evolusi Masjid Nabawi di Madinah adalah lambang kontribusi Nabi terhadap evolusi fenomena revolusioner arsitektur Muslim. 3.2. Tipe Masjid di Dunia Kamiya Takio (2006) membagi type masjid di dunia menjadi 4 tipe, yaitu tipe Arab, tipe Persia, tipe Turki, dan tipe India. Takio tidak memasukkan tipe Indonesia barangkali karena dia belum mempelajari tentang sejarah Islam di Indonesia, khususnya mengenai arsitektur masjidnya. Berikut adalah penjelasanya tentang empat tipe masjid di dunia. a. Tipe Arab Gaya arsitektural ini tersebar luas di seluruh dunia Islam, sejak jaman dinasti Umayyah. Konsep aula hypostyle yang mengelilingi halaman terinpirasi oleh masjid Nabi Nabawi di Madinah. Dari sisi bentuk luar, hampir tidak ada unsur ekspresif di dinding luarnya. Bahan material yang digunakan adalah kayu, batu bata atau batu. Pada konsep entrance, tidak ada pintu gerbang masuk yang besar, hanya beberapa pintu masuk kecil yang disediakan untuk tujuan praktis masuk ke masjid. Gambar 2. Masjid Nabawi setelah perluasan pertama oleh Nabi tahun ke-7 Hijriah (629 M). (Sumber: Courtesy of Hadarah Tayyibah Exhibition di Madinah 2010-2012) Dengan bentuk yang sederhana tetapi kaya fungsi, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa inti arsitektur muslim terletak pada fungsi dengan semua dimensinya: jasmani, akal, dan spiritual. Peran bentuk juga penting, tetapi hanya sejauh ia melengkapi dan meningkatkan fungsi. Nabi Muhammad SAW meletakkan dasar Gambar 3 Denah Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Ibnu Tulun di Kairo (Dari Henri Stierlin, Arsitektur de l'Islam, 1979) (Sumber: Courtesy of Museum Dar alMadinah di Madinah) 60 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 57 - 63 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Gambar 4. Halaman Masjid Ahmad Ibn Tulun dengan paviliun air mancur di tengahnya ada kubah kecil di atas mihrab, berhadapan dengan kubah air mancur. Bukit Muqattam terlihat di bagian belakang kawasan perkotaan Kairo yang padat. (Dari Takeo Kamia,2006) (Sumber: Courtesy of Museum Dar alMadinah di Madinah) b. Tipe Persia Perkembangan pada tipe ini dimulai setelah Islam menaklukkan kerajaan Persia. Tipe Persia, pengenalan 'Iwan', sebuah warisan arsitektur dari Dinasti Sassanid pra-Islam. Iwan selama era Sassanid memiliki fungsi tahta atau ruang penonton. Iwan adalah ruang beratap atau berkubah yang terbuka pada salah satu sisinya yang ditemukan di Asia Tengah dan Iran, serta di bagian lain dunia Islam Pada masa-masa awal, para pembangun membuat bentang tengah gang beratap ruang ibadah yang menghadap halaman cukup luas dan lebih tinggi dari yang lain, menekankan bagian tengah menuju Mihrab. Ketika Iwan diletakkan pada posisi tersebut halaman serta merta menjadi hidup. Iwan bentuknya diadopsi dengan tujuan memuliakan masjid secara formatif. Posisi iwan yang saling berhadapan menghasilkan masjid 'Iwan Ganda’. Sebuah masjid tipe arab atau aula hypostyle yang mengelilingi sebuah halaman kemudian ditambah dengan dua atau empat iwan menjadikan masjid tumbuh menjadi sebuah bangunan mengesankan dan megah. Gambar 5. Skema rencana pembangunan Masjid Jum'at Isfahan (pada tahapan periode Abbasiyah dan Seljukid) (Dari Henri Stierlin, Arsitektur de l'Islam, 1979) (Sumber: Takeo Kamia, 2006) Gambar 6. Masjid Tipe Persia: Masjid Kalan di Bukhara, Uzbekistan. Meskipun iwan sisi Mekah diatapi dengan kubah simbolis, ukurannya tidak begitu besar seperti masjid tipe Turki, menutupi seluruh aula ibadah. (Dari Henri Stierlin, Arsitektur de l'Islam, 1979) (Sumber: Takeo Kamia, 2006) c. Tipe Turki Arsitektur Ottoman, mereka mengembangkan jenis masjid yang benar-benar berbeda dari Persia. Lebih berbeda lagi dengan ruang hypostyle tipe Arab. Arsitektur Ottoman mengembangkan arsitektur kubah dengan ruang yang sangat besar dan megah. Memperkaya ruang interior di bawah kubah-kubah besar dengan kolom-kolom, kaligrafi dan ornamentasi Islam. Arsitektur kubah dibuat berdasarkan arsitektur kubah Kekaisaran Romawi, Pantheon Romawi yang dipengaruhi oleh arsitektur oriental. 61 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 101 - 107 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 Arsitektur Turki menutupi seluruh ruangan sholat dengan sebuah kubah besar dengan jendela sebanyak mungkin sehingga interior menjadi lebih cerah dalam cuaca berawan yang sering gelap di Istanbul. Ruang interior besar dengan cahaya di mana-mana sebagai manifestasi dari sifat ilahi. Gambar 8. Denah Masjid Jumat di Delhi, India. (Dari Henri Stierlin, Arsitektur de l'Islam, 1979) Gambar 7. Denah dan tampak depan masjid Yeni Jamii in Istanbul, Turki. Arsitektur Ottoman yang dipengaruhi oleh katedral St Sophia. (Sumber: Takeo Kamia,2006) d. Tipe India Di masjid-masjid besar yang dibangun oleh kaum Mughal di awal zaman modern, adanya sebuah halaman sangat besar seperti alun-alun atau plaza dan bukan bagian dalam istana. Mereka bukan tipe Arab dengan aula hipostyle, atau tipe Persia dengan empat Iwan mengelilinginya, tatapi sebuah bangunan tempat ibadah yang menonjol ke halaman. Tipe India adalah 'arsitektur pahatan', yaitu, tampil indah dan mempesona saat dilihat dari luar, tidak mengatur ruang interior yang besar atau halaman sentripetal yang tertutup sebagai tujuan utama seperti masjid jenis Turki, di mana sebuah kubah besar menutupi seluruh aula ibadah. Halaman bukaan (iwan) bukan bagian dari tradisi India dan tidak cocok untuk kehidupan dan budaya India. 3.3. Masjid Keraton Yogyakarta dan Surakarta Keberadaan Masjid Agung Surakarta tidak terlepas dari peristiwa pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745. Pindahnya keraton terjadi di masa pemerintahan Pakubuwana II. Pembangunan keraton baru di Surakarta diikuti dengan pembangunan Masjid Agung. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII (1830-1875) diadakan kembali renovasi berupa pendirian Pawestren (1850), perluasan serambi (emper) dengan menggunakan kolomkolom bergaya doric, serta dibangun dengan lantai yang lebih rendah. Perbedaan ketinggian membuat hirarki antara kedua serambi terlihat jelas. Pembangunan tersebut selesai pada tahun 1272 H/1784 J/ 1855 M. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII pada tahun 1858 juga dibangun pagar tembok keliling masjid. Pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893-1939 M), sebuah menara dibangun di halaman masjid (1901). Pada tahun 1901, kolam air yang sebelumnya difungsikan untuk membersikan kotoran ketika masuk masjid diganti dengan pancuran atau kran. 62 Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, Vol. 9 No. 1, 57 - 63 ISSN(print): 2354-869X | ISSN(online): 2614-3763 4. 5. Gambar 9. Denah Masjid Agung Keraton Surakarta (Sumber: Iqbal B.M, Antarikasa, 2018) Keterangan: A. Ruang Utama B. Serambi Samping C. Pawestren D. Serambi E. Tempat Wudhu 5. Konsep adanya kolam yang mengelilingi masjid adalah merupakan konsep yang orisinil arsitek pembangun masjid-masjid di Indonesia. Hal tersebut yang membedakan dengan tipe masjid di Negara yang lain. Konsep tersebut berangkat dari fiqih Madzhab Syafi ‘i tentang konsep syarat sah sholat dimana menyaratkan bahwa badan, pakaian, dan tempat harus suci dari najis. Sehingga ini menjadi dasar dibuatnya konsep kolom yang mengelilingi masjid untuk menjaga kesucian najis masjid. DAFTAR PUSTAKA Ayyad, Essam. 2013. “The ‘House of the Prophet’ or the ‘Mosque of the Prophet’”. Journal of Islamic Studies. 24. 273-334. Hamid, Abbas. 1996. Story of the Great Expansion. Jeddah: Saudi Bin Ladin Group. Hillenbrand, Robert. 1994. Islamic Architecture: Form, Function and Meaning. Edinburgh: Edinburgh University Press. Sunyoto, Agus. 2016. Atlas Wali Songo. Yogyakarta: Pustaka Liman (Mizan Grup) Baik tata ruang ataupun bentuk masjid yang dibangun oleh kerajaan Islam di Indonesia memang berbeda dengan tipe-tipe masjid yang sudah disampaikan di atas. Keberadaan ruang pawestren dan serambi tidak dijumpai di tipe masjid di dunia. Konsep serambi dan pawestren sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep area yang mengelilingi hypostyle yang ada pada masjid tipe Arab. Keberadaan kolam yang mengelilingi https://medinanet.org/author/spahic/ masjid juga merupakan keunikan yang hanya di http://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma jumpai di Indonesia. Konsep kolam ini juga di /index bangun berdasarkan kaidah fiqih yang sebagaian http://www.ne.jp/asahi/arc. besar dianut oleh masyarakat Indonesia 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa terhadap data sejarah dan beberapa temuan maka; 1. Konsep bentuk ruang sholat utama mengacu pada masjid Nabawi. 2. Konsep adanya mihrab mengacu pada masjid yang di bangun oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik di jaman dinasti Umayyah. 3. Konsep aula hypostyle, atau lapangan terbuka tidak diterapkan, mengacu pada konsep yang ada di tipe masjid India. Tetapi konsep serambi sebenarnya menjadi konsep aula yang mengelilingi hypostyle pada tipe masjid Arab. 63