Vegetalika Vol. 15 No. Februari 2026: 43Ae51 Available online at https://jurnal. id/jbp DOI: https://doi. org/10. 22146/veg. p-ISSN: 2302-4054 | e-ISSN: 2622-7452 Pengaruh Dosis Isolat Trichoderma Lokal pada Media Tanam untuk Pertumbuhan Bibit Hibrida Dendrobium discolor >< lasianthera The Effect of Local Trichoderma Isolate Doses on Planting Media for the Growth of Dendrobium discolor >< lasianthera Hybrid Seedlings Ernita Mey Saputri1. Tri Suwarni Wahyudiningsih1*. Sugiyarto1,2. Ari Pitoyo2 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Tidar Magelang. Indonesia Program Studi Biologi. Fakultas MIPA. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia Penulis untuk korespodensi E-mail: trisuwarni@untidar. Diajukan: 23 Agustus 2024 Diterima: 14 Januari 2026 Dipublikasi: 28 Februari 2026 ABSTRACT Research on Trichoderma sp. isolates derived from the roots of the wild orchid Paphiopedilum javanicum for application in commercial orchid acclimatization is still limited. The study aimed to determine the optimal dose of Trichoderma sp. isolates to grow hybrid Dendrobium discolor >< lasianthera seedlings at the acclimatization stage. The study was conducted using a Complete Randomized Block Design (CRBD) with non-factorial experiments and repeated 4 times as blocks. Treatments in the form of Trichoderma sp. doses were 0 g, 2 g, 2. 5 g, 3 g, and 3. 5 g. Trichoderma doses significantly affected the increase in plant height, the amount of chlorophyll a, and root A dose of 2. 46 g was the optimal dose that gave a Trichoderma infection rate in the roots of A dose of 2. 5 g gave the best results in increasing plant height . 625 c. A dose of 3. gave the best results in chlorophyll a . 55 mg/. Trichoderma has the potential to be propagated into a biofertilizer product to support the growth of commercial orchids during acclimatization. Keywords: acclimatization. Dendrobium. fungi infection. Paphiopedilum javanicum. Trichoderma ABSTRAK Penelitian mengenai isolat Trichoderma sp. yang berasal dari perakaran anggrek liar Paphiopedilum javanicum untuk diaplikasikan pada aklimatisasi anggrek komersial masih terbatas. Tujuan penelitian untuk menentukan dosis optimal isolat Trichoderma sp. untuk pertumbuhan bibit hibrida Dendrobium discolor >< lasianthera pada tahap aklimatisasi. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan percobaan non-faktorial dan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali sebagai blok. Perlakuan berupa dosis Trichoderma sp. yaitu 0 g. 2 g. 2,5 g. 3 g. dan 3,5 g. Dosis Trichoderma sp. berpengaruh nyata pada penambahan tinggi tanaman, kandungan klorofil a, dan infeksi akar. Dosis 2,46 g merupakan dosis optimal yang memberikan tingkat infeksi Trichoderma pada akar sebesar 100%. Dosis 2,5 g memberikan hasil terbaik pada penambahan tinggi tanaman yaitu 0,625 cm. Dosis 3,5 g memberikan hasil terbaik pada parameter kandungan klorofil a sebesar 4,55 mg/l. Trichoderma sp. tersebut mempunyai potensi diperbanyak menjadi produk pupuk hayati untuk mendukung pertumbuhan anggrek komersil saat aklimatisasi. Kata kunci: aklimatisasi. Dendrobium. infeksi fungi. Phaphiopedilum javanicum. Trichoderma Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada PENDAHULUAN Orchidaceae merupakan salah satu famili tanaman hias di Indonesia yang sampai saat ini mempunyai nilai jual yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman hias lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar tahun 2021, tanaman anggrek memiliki nilai jual paling tinggi dibandingkan tanaman hias lain pada tahun 2020 yaitu Rp 62,95 miliar. Anggrek Dendrobium termasuk dalam jenis anggrek epifit. Anggrek Dendrobium merupakan salah satu jenis anggrek yang banyak digemari masyarakat karena lebih sering berbunga hingga mempunyai berbagai kombinasi pada warnanya. Perbanyakan anggrek melalui biji harus dilakukan secara in vitro untuk menjamin ketersediaan nutrisi dari media kultur sebagai pengganti endosperm. Menurut Apriliyania & Wahidah . , biji anggrek tidak membentuk endosperm sebagai tempat cadangan makanan, sehingga sulit untuk dilakukan perkecambahan pada kondisi in vivo. Aklimatisasi merupakan tahap akhir pada kultur jaringan berupa adaptasi planlet dari kondisi kultur in vitro ke kondisi lingkungan in vivo (Priyadi & Hendriyani, 2. Planlet hasil kultur in vitro memiliki beberapa kelemahan fisiologis seperti kondisi stomata yang belum sempurna, sistem perakaran yang lemah, dan perkembangan kutikula yang kurang Hal tersebut menjadikan bibit rentan mengalami kematian (Dewi et al. , 2. Penyerapan unsur hara pada tahap aklimatisasi kurang optimal karena sistem perakaran masih lemah. Simbiosis mutualisme antara fungi endofit dengan akar anggrek mampu membantu penyerapan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman anggrek. Trichoderma telah banyak diaplikasikan pada tanaman untuk meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi, toleransi cekaman, dan kualitas tanaman (Saban et al. , 2. Penelitian mengenai aplikasi Trichoderma sp. pada bibit anggrek komersial masih terbatas, sehingga perlu pengaplikasian isolat Trichoderma sp. dari perakaran anggrek Paphiopedilum Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Paphiopedilum javanicum merupakan spesies anggrek yang terancam punah dengan ciri khas labelumnya yang menyerupai kantung (Fay, 2. Anggrek ini memiliki pertumbuhan yang lambat dan ketergantungan pada simbion selama siklus Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis isolat Trichoderma sp. tepat dari akar anggrek Phaphiopedilum javanicum untuk meningkatkan pertumbuhan bibit anggrek komersial Dendrobium discolor >< Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperbanyak sehingga menjadi produk isolat Trichoderma sp. Pada hasil penentuan dosis isolat Trichoderma sp. yang tepat diharapkan Phaphiopedilum javanicum yang mempunyai pertumbuhan lambat maupun jenis anggrek METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari 2024 sampai bulan April 2024. Isolasi Trichoderma sp. dilakukan di Laboratorium Biologi Terpadu Universitas Sebelas Maret. Perbanyakan Trichoderma sp. dilakukan di Laboratorium Universitas Tidar. Aplikasi dosis Trichoderma sp. pada anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera dilakukan di Greenhouse Anggrek Nambangan di Desa Sidomulyo. Kecamatan Candimulyo. Kabupaten Magelang. Rancangan penelitian Bahan yang digunakan yaitu bibit anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera umur 10 bulan yang diperoleh dari kebun Anggrek Nambangan. Media tanam berupa moss hitam 80% dan moss putih 20%. Isolat fungi Trichoderma sp. berasal dari akar Paphiopedilum javanicum diperbanyak menggunakan media pembawa beras. Bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat 20% digunakan saat mengisolasi Trichoderma sp. Pupuk nano nutrien digunakan untuk nutrisi bibit anggrek. Insektisida untuk mengendalikan hama. Air untuk melarutkan pupuk dan menyiram bibit. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) non factorial. Jumlah ulangan sebanyak 4 kali sebagai blok. Ulangan tiap unit percobaan ada 3 Isolat Trichoderma sp. diperbanyak dengan media pembawa jagung giling, dengan dosis aplikasi berupa 0. 2,5. 3,5 g/tanaman. Isolasi Trichoerma sp. dari perakaran anggrek Paphiopedilum javanicum Anggrek P. javanicum berasal dari hasil penangkaran yang dilakukan oleh petani di Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Kecamatan Kretek. Kabupaten Wonosobo. Isolasi fungi yang berasosiasi dengan akar P. javanicum dilakukan melalui beberapa tahap yaitu pencucian dan sterilisasi sampel akar, kultur non selektif pada media PDA dengan Chloramphenicol, dan kultur pada media PDA Chloramphenicol. Sampel dibersihkan dengan air mengalir. Bagian berwarna gelap dipotong 1-2 cm lalu disterilisasi menggunakan alkohol 70% selama 1 menit dan Natrium Hipoklorit 20% . lorin aktif 0,5%) selama 4 menit, kemudian dicuci 5 kali dengan air steril. Potongan akar diiris tipis dan lapisan epidermis dihilangkan, kemudian diinokulasi pada media PDA serta diinkubasi pada suhu Pengamatan yang dilakukan berupa muncul hifa dan koloni miselium yang tumbuh dari peloton. Koloni tersebut disubkultur dengan PDA chloramphenicol 40 mg/l, kemudian diinkubasi pada suhu 25oC selama 5 hari. Ujung hifa pada tiap koloni dipindahkan pada media PDA yang baru namun tanpa penambahan chloramphenicol untuk mendapatkan isolat murni. Karakterisasi mikroskopis dan makroskopis Pengamatan makroskopis isolat diamati secara visual. Pengamatan mikroskopis diamati dengan menggunakan mikroskop. Parameter pengamatan berupa adanya spora, fialid, dan cabang konidiofor. Aklimatisasi Tahapan aklimatisasi meliputi persiapan media tanam, persiapan bahan tanam, dan Media tanam moss putih dan akar kadaka direndam dengan air panas setelah dingin ditiriskan dan dikeringanginkan. Persiapan bahan tanam berupa seedling anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera berumur 10 bulan yang disterilisasi dengan cara direndam dalam larutan bakterisida Agrept 20WP, kemudian dicuci bersih dan ditiriskan. Penanaman dilakukan dengan wadah soft pot yang telah diisi media tanam moss putih dan akar kadaka, kemudian disusun di atas tray pot dan diletakan di dalam screenhouse. Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, dan pemupukan dengan nutrien 1 Pengaplikasian Trichoderma sp. dimulai setelah seedling mulai beradaptasi pada lingkungan in vivo dan hidup 100 % yaitu dua minggu setelah aklimatisasi di Pengaplikasian dosis Trichoderma dilakukan tiap dua minggu sekali selama 10 Persiapan media pembawa Media pembawa berupa jagung giling 100 g/plastik yang telah dikukus selama 30 menit, kemudian setelah dingin digunakan untuk media perbanyakan isolat Trichoderma sp. Setelah dua minggu, isolat Trichoderma sp. telah menutupi media jagung secara merata (Gambar . Hasil perbanyakan isolat tersebut sudah siap Gambar 1. Hasil perbanyakan isolat Trichoderma sp. pada media jagung giling Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Pengamatan Fungi Trichoderma sp. Keberadaan fungi Trichoderma sp. akar tanaman anggrek diamati dengan metode pewarnaan sampel akar . oot stainin. Akar tanaman dibersihkan dari media tanam. Akar yang dipilih merupakan akar terpanjang. Akar tersebut dimasukkan ke dalam botol vial yang berisi larutan KOH 10% direndam selama 24 jam hingga akar berubah warna menjadi pucat, lalu dibilas dengan air selama 5 menit. Selanjutnya, akar direndam dalam larutan HCl 2% dan metylane blue selama 12 jam. Akar yang akan diamati dibilas terlebih dahulu menggunakan aquades (Misrofah et al. , 2. Pembuatan preparat dilakukan sebanyak tiga preparat sebagai ulangan. Preparat diletakkan di atas gelas benda dan ditutup dengan cover glass serta diberi label sesuai Selanjutnya preparat tersebut diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali (Kafrawi et al. , 2. Tingkat infeksi Trichoderma dihitung dengan cara menghitung jumlah akar yang terinfeksi dibagi dengan jumlah seluruh akar yang diamati dikali 100%. Tingkat infeksi akar menurut (Kafrawi et al. , 2. diklasifikasikan sebagai berikut. Kelas 1, bila infeksinya 0 5% termasuk sangat rendah. Kelas 2, bila infeksinya 625% termasuk Kelas 3, bila infeksinya 2650% termasuk sedang. Kelas 4, bila infeksinya 51 75% termasuk tinggi. Kelas 5, bila infeksinya 76100% termasuk sangat tinggi. Analisis Data Data hasil penelitian dianalisis sidik ragam serta diuji lanjut DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) dan orthogonal polynomial. Parameter yang diamati yaitu penambahan tinggi tanaman, tinggi batang tanaman, penambahan jumlah daun, penambahan panjang daun, penambahan lebar daun, luas daun, penambahan jumlah akar, kandungan klorofil . , b, total a/. pada daun Harboune menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis. Perhitungan pada klorofil a = 12,21 663 Ae 2,81 646 mg/L, klorofil b = 20,13 646 Ae 5,03 663 mg/L, dan klorofil total = 17,3 646 7,18 663 mg/L, dan infeksi fungi pada akar. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Isolat Trichoderma sp. Karakterisasi isolat Trichoderma sp. digunakan secara makroskopis yaitu memiliki permukaan datar berbentuk bulat dan berserat dengan bagian tepi halus dan membentuk koloni berwarna hijau (Gambar . Karakterisasi isolat Trichoderma sp memiliki hifa berwarna hijau, terdapat tangkai fialid yang pendek dan tebal, konidia/spora bergerombol berwarna hijau muda (Gambar . Gambar 2. Isolat Trichoderma sp. Dari perakaran Paphiopedilum javanicum Gambar 3. Isolat Trichoderma sp makroskopis Keterangan: . Konidia/spora . Fialid . Cabang konidiofor Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Tabel 1. Persentase hidup pada jumlah sampel 60 bibit anggrek hibrida Dendrobium discolor >< Perlakuan dosis formulasi Trichoderma . Persentase bibit hidup (%) Tabel 2. Hasil uji sidik ragam pada parameter pengamatan Parameter Pengamatan Penambahan tinggi tanaman . Tinggi batang . Penambahan akar terpanjang . Penambahan jumlah akar . Penambahan jumlah daun . Penambahan panjang daun . Penambahan lebar daun . Luas daun . Kandungan klorofil total . Kandungan klorofil a . Kandungan klorofil b . Infeksi Akar (%) Nilai F-Hitung Dosis Formulasi Trichoderma sp. 4,95* 0,74ns 1,92ns 1,19ns 0,75ns 0,23ns 0,92ns 1,04ns 1,51ns 4,27* 0,20ns Blok 1,58ns 13,63** 1,18ns 0,27ns 1,12ns 1,04ns 0,44ns 4,49* 2,79ns 1,30ns 3,99* 1,45ns Keterangan : * = signifikan, ** = sangat signifikan, ns = non-signifikan Pengaruh Dosis Trichoderma sp. Pertumbuhan Bibit Dendrobium discolor >< lasianthera pada Media Tanam Aklimatisasi Berdasar hasil pengamatan persentase bibit anggrek yang hidup setelah diberi perlakuan dosis formulasi Trichoderma selama 2,5 bulan diperoleh hasil bahwa bibit 100 % hidup pada seluruh perlakuan (Tabel . Hal ini menunjukkan bahwa Trichoderma mampu mendukung Pada dosis 0 g atau kontrol juga 100 % bibit hidup, namun pertumbuhannya lebih rendah dibanding dengan perlakuan yang menggunakan Trichoderma sp. Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 2 Trichoderma sp yang diaplikasikan pada bibit anggrek hibrida Dendrobium discolor >< lasianthera pada tahap aklimatisasi berpengaruh kandungan klorofil a, dan infeksi akar. Dosis formulasi Trichoderma sp tidak berpengaruh pada parameter tinggi batang, penambahan akar penambahan jumlah daun, penambahan panjang daun, penambahan lebar daun, luas daun, kandungan klorofil total dan klorofil b. Blok menunjukkan berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman, dan berpengaruh nyata pada luas daun dan kadar klorofil b. Gambar 4 merupakan morfologi anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera pada lima perlakuan dosis Trichoderma sp. saat tahap Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian formulasi Trichoderma menghasilkan morfologi yang lebih baik dilihat dari ukuran tinggi dan gradasi warna daun jika dibandingkan dengan tanaman tanpa Tanaman anggrek dengan perlakuan Trichoderma sp. memiliki tinggi tanaman yang lebih tinggi dibanding tanpa perlakuan serta memiliki warna daun hijau yang lebih pekat dibanding tanpa perlakuan (Gambar . Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Gambar 4. Morfologi anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera pada 70 hari setelah diaplikasikan Trichoderma sp . 0 g . 2 g . 2,5 g . 3 g . 3,5 g Tabel 3. Uji lanjut pengaruh dosis Trichoderma sp. terhadap pertambahan tinggi bibit Dendrobium discolor >< lasianthera dengan jumlah 4 ulangan/blok dan tiap unit percobaan ada 3 ulangan. dosis Trichoderma . /tanama. Perlakuan Pertambahan tinggi bibit . 0,05A0,01b 0,40A0,14ab 0,62A0,4a 0,27A0,13b 0,15A0,14b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% Tabel 4. Pengaruh dosis Trichoderma sp. terhadap kandungan klorofil a bibit Dendrobium discolor >< lasianthera pada 20 sampel dengan 4 ulangan Kandungan klorofil a . g/L) per dosis Trichoderma . /tanama. Perlakuan Kandungan klorofil a 3,63A0,51b 4,02A0,2ab 4,35A0,49ab 3,9A0,28b 4,55A0,18a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 1 % dan 5% Uji Lanjut Parameter Penambahan Tinggi Tanaman. Kadar Klorofil a, dan Infeksi Trichoderma sp. pada Akar Penambahan Tinggi Tanaman Hasil analisis sidik ragam perlakuan dosis Trichoderma sp berpengaruh nyata pada penambahan tinggi tanaman bibit anggrek Dendrobium discolor >< lasianthera pada tahap Oleh karena itu, diuji lanjut menggunakan uji DMRT taraf 5%. Hasil uji lanjut disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3, dosis formulasi Trichoderma sp. sebanyak 2,5 g memberikan hasil terbaik meskipun tidak berbeda dengan dosis 2 g dengan rerata penambahan tinggi tanaman yaitu 0,62 cm dan 0,40 cm. Trichoderma sp. dapat membantu perluasan serapan hara seperti nitrogen yang dapat meningkatkan tinggi tanaman. Perakaran bibit yang masih lemah saat tahap aklimatisasi memerlukan simbiosis dengan mikroorganisme untuk meningkatkan serapan hara. Menurut penelitian Ulinnuha & Farid . bahwa Trichoderma sp. berpengaruh terhadap tinggi tanaman anggrek Papilionanthe hookeriana >< Vanda limbata pada tahap aklimatisasi karena menghasilkan serapan N. P, dan K yang lebih tinggi jika dibandingkan tanpa perlakuan. Keberadaan Trichoderma sp. di dalam perakaran anggrek memberikan keuntungan bagi perluasan bidang serapan. Trichoderma sp. hifa tipis di dalam perakaran yang dapat menjangkau nutrisi yang terletak pada pori yang lebih kecil sehingga dapat membantu fungsi akar dalam melakukan penyerapan unsur hara. Trichoderma sp. juga menghasilkan enzim protease yang dapat mensintesis IAA. Menurut Nieto-Jacobo et al. Trichoderma sp. menghasilkan hormon IAA sebagai bentuk Hormon auksin berperan dalam pembelahan dan pemanjangan sel pada meristem apikal di ujung batang sehingga memberikan hasil penambahan tinggi pada tanaman anggrek. Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Kandungan Klorofil a . Pengaruh dosis Trichoderma terhadap parameter kandungan klorofil a pada tanaman. Hasil analisis sidik ragam kandungan klorofil a tanaman anggrek pada tahap aklimatisasi menunjukkan hasil yang berpengaruh nyata. Oleh karena itu, diuji lanjut menggunakan uji DMRT taraf 5% dan diperoleh hasil yang disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4, dosis 3,5 g merupakan hasil kandungan klorofil a terbaik . ,55 mg/. meskipun tidak berbeda nyata dengan dosis 2 g dan 2,5 g dengan rerata kandungan klorofil a yaitu 4,02 mg/l dan 4,35 mg/l. Adanya peningkatan kandungan klorofil a diduga karena terdapat hara nitrogen yang terserap dan tersedia secara optimum bagi tanaman karena peran Trichoderma sp. Trichoderma sp. berperan untuk mendorong pertumbuhan tanaman dan meningkatkan penyerapan hara, termasuk nitrogen (Singh et , 2. Nitrogen merupakan salah satu hara pembentuk klorofil. Menurut penelitian Tini et al. pada tanaman anggrek Phalaenopsis, nitrogen yang tinggi sampai batas optimumnya akan meningkatkan kandungan klorofil. Semakin banyak jumlah nitrogen yang terserap maka Penangkapan intensitas cahaya matahari yang optimum dapat meningkatkan jumlah klorofil a. Cahaya yang dapat diadsorpsi oleh klorofil dapat Fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman seperti pembentukan daun. Semakin banyak dan luas daun yang dihasilkan maka jumlah klorofil akan semakin banyak. Infeksi Trichoderma sp. pada Akar Dosis Trichoderma sp. sangat nyata terhadap persentase akar yang terinfeksi Trichoderma sp. Selanjutnya, diuji lanjut menggunakan orthogonal polynomial yang disajikan pada Gambar 5. Pada grafik menunjukkan bahwa pada dosis 0 g atau kontrol tidak terdapat infeksi Trichoderma sp. Kemudian, terjadi peningkatan persentase infeksi hingga dosis 2,5 g kemudian infeksi Trichoderma sp. pada akar mulai menurun pada dosis 3 g. Pada Gambar 5, terlihat bahwa dosis 2,46 g merupakan dosis optimum dengan rerata infeksi 100%. Infeksi Trichoderma pada akar secara makroskopis ditandai dengan adanya Trichoderma sp. yang menempel pada perakaran anggrek. Pengamatan secara mikroskopis ditandai dengan adanya vesikel pada jaringan akar berbentuk bulat hingga oval yang dapat dilihat pada Gambar 6. Persentase infeksi akar yang tinggi diduga kemampuan bibit anggrek dalam menyerap unsur hara termasuk rendah karena struktur morfologi akar yang belum kuat setelah dipindah dari botol kultur. Akar juga belum berfungsi optimal menyerap unsur hara pada kondisi lingkungan in vivo. Dengan adanya infeksi Trichoderma sp. pada akar diduga mampu membantu penyerapan unsur hara pada tahap Pertumbuhan akar saat aklimatisasi masih terbatas, sehingga pemberian perlakuan dosis Trichoderma sp. hanya ditabur di permukaan media tanam. Bibit anggrek saat aklimatisasi baru dapat menyerap unsur hara di permukaan media tanam. Hal tersebut didukung oleh penelitian Sari et al. , bahwa akar bibit anggrek hanya dapat menyerap hara pada bagian yang mudah dijangkau seperti pada Gambar 5. Uji lanjut Orthogonal polynomial pengaruh dosis Trichoderma sp. persentase infeksi Trichoderma sp. pada akar Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Gambar 6. Infeksi Trichoderma sp. pada akar anggrek Dendrobium >< lasianthera pada 70 hari setelah diaplikasikan Trichoderma sp. diamati secara mikroskopis dengan perbesaran 40X. Keterangan: . 0 g . 2 g . 2,5 g . 3 g . 3,5 g Hifa eksternal Trichoderma yang terletak pada bulu akar membantu menjangkau unsur hara yang terletak pada bagian yang tidak terjangkau akar yaitu pada bagian dalam media tanam yang jauh dari permukaan, selanjutnya hifa eksternal akan melakukan transportasi hara ke akar tanaman dengan pembentukan hifa internal yang akan berkembang menjadi vesikel sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Mekanisme Trichoderma menginfeksi perakaran tanaman menurut Harman et al. , dimulai permukaan akar yaitu diantara sel epidermis sebagai hasil pembengkakan hifa dari perkecambahan spora, kemudian hifa akan menembus dinding epidermis akar tanaman inang sampai jaringan korteks, di dalam jaringan korteks akar hifa akan tumbuh dan membentuk vesikel serta arbuskular. menunjukkan bahwa isolat Trichoderma sp. perakaran Paphiopedilum javanicum pada dosis 2,5 gAe3,5 g mampu memberikan dampak positif untuk pertumbuhan bibit anggrek komersial khususnya pada hibrida Dendrobium. KESIMPULAN Apriliyania. , & Wahidah. Perbanyakan anggrek Dendrobium sp. Faktor-faktor 1. : 33Ae46. Berdasarkan diperoleh dapat disimpulkan bahwa Inokulasi Trichoderma pertumbuhan anggrek Dendrobium discolor >< Dosis aplikasi Trichoderma 2,5 g/tanaman penambahan tinggi bibit. Dosis formulasi Trichoderma 3,5 g/tanaman signifikan pada parameter kandungan klorofil a. Dosis optimal 2,46 g/tanaman signifikan pada tingkat infeksi Trichoderma pada akar. Hasil penelitian ini UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Tidar melalui Skema Penelitian Guru Besar tahun 2023 yang telah memberikan pendanaan pada penelitian ini dan kepada Bapak Hasan Sulaimansyah. yang telah menyediakan tempat penelitian, serta seluruh pihak yang membantu pelaksanaan penelitian mulai eksplorasi hingga aplikasi. DAFTAR PUSTAKA