60 Nurulanningsih. Penanaman Pendidikan Karakter PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PANTUN DALAM BUKU BAHASA INDONESIA 4: UNTUK SD DAN MI KELAS IV KARYA KASWAN DARMADI DAN RITA NIRBAYA Nurulanningsih Universitas Tridinanti Palembang nurullaningsih@univ-tridinanti. Abstrak Pantun merupakan karya sastra lama yang perlu dilestarikan. Pelestariannya dapat dilakukan dengan memasukkan pantun tersebut ke dalam buku pelajaran di sekolah. Salah satu buku pelajaran yang melestarikan pantun adalah buku Bahasa Indonesia 4: untuk SD dan MI Kelas IV Karya Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Melalui pantun ini pula dapat dimasukkan pembinaan watak atau karakter siswa, atau pengajaran yang berdimensi moral. Untuk itu, dalam tulisan ini akan mendeskripsikan pantun-pantun apa saja dan penanaman nilai-nilai karakter apa saja yang terdapat pada buku tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan teknik analisis data digunakan analisis isi. Hasil yang di dapat berupa 7 buah pantun yang terdapat pada halaman 77, halaman 90, halaman 103, halaman 107, halaman 115, halaman 122, dan halaman 123. Pantun halaman 77, 107, 155, 122, dan 123 merupakan pantun nasihat. Sedangkan pantun halaman 90 dan 103 merupakan pantun gembira. Penanaman nilai-nilai karakter pada pantun-pantun tersebut yakni gemar membaca, rasa kasih sayang, cinta damai, rasa tanggung jawab, baik dan rendah hati, hormat dan santun, pertemanan, jujur, disiplin, kerja keras dan pantang menyerah. Kata kunci: pendidikan, nilai, pantun, karakter Abstract Pantun is an old literary work that needs to be preserved. Preservation can be done by entering of Pantun into textbooks at school. One of the textbooks that preserve of Pantun is book 4 at the fourth grade in Indonesian Language for SD and MI written by Kaswan Darmadi and Rita Nirbaya Published by Ministry of National Education. Through this Pantun included the character or character building for students or moral dimensional in teaching. In this paper will describe of Pantun anything and the cultivation of the values and any character contained in the books. Technique used documentation and techniques of data analysis used content analysis. The results in the form of Pantun 7 contained on page 77, page 90, page 103, 107 pages, page 115, page 122, and 123 pages. Pantun page 77, 107, 155, 122, and 123 is your advice. While on page 90 and 103 were excited Pantun. The cultivating of the character buiding through pantun. Examples an avid reader, compassion, love of peace, responsibility, good and humble, respectful and polite, friendship, honesty, discipline, hard work and perseverance. Keywords: character building, values, pantun. APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Palembang pAeISSN : 2549Ae5305 eAeISSN: 2579Ae7379 Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa tidak akan terwujud jika kecerdasan, kepandaian, atau keterampilan sumber daya manusianya tidak dilandasi dengan keimanan dan akhlak yang mulia. Justru kepandaian dan ketermpilan tanpa moral dan akhlak yang mulia akan cenderung menjerumuskan dan Dimensi kaitannya dengan dimensi watak. Setiap individu memiliki penilaian moral yang berbedaAebeda. Itupun tergantung watak tiap-tiap individu. Krisis moral bisa diatasi dengan pembinaan watak (Kemendiknas, 2011:. Dalam ruang lingkup sekolah, pembinaan watak dapat diterapkan melalui pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Pengajaran Sastr. (Kemendiknas, 2011:. Artinya, pengajaran sastra yang berdimensi moral. Sejatinya, pengajaran Jurnal Bindo Sastra 1 . : 60Ae70 sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. NilaiAenilai moral, seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun, dan sebagainya, banyak ditemukan dalam karya Bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, tentu siswa makin menjunjung tinggi nilai moral. Bertolak dari uraian di atas, pembinaan watak melalui pengajaran sastra telah diterapkan di Sekolah Dasar. Hal ini penulis temukan pada buku Bahasa Indonesia 4: untuk SD dan MI Kelas IV Karya Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008. Dalam buku tersebut penanaman watak kepada anak-anak diajarkan melalui pantun. Hal ini senada dengan kompetensi dasar yang diajarkan pada siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) yakni mengenai pantun. Kemampuan ini dijabarkan dalam silabus KTSP pada Standar Kompetensi 5, 6, 7, dan 8, tepatnya pada: . Kompetensi Dasar 5. Menirukan pembacaan pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat. Kompetensi Dasar 6. 1 Berbalas pantun dengan lafal dan intonssi yang tepat. Kompetensi Dasar 3 Membaca pantun anak secara berbalasan dengan lafal dan intonasi yang tepat dan . Kompetensi Dasar 8. Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema . ersahabatan, ketekunan, kepatuhan, dan lain-lai. Sesuai dengan ciri-ciri pantun. Berdasarkan uraian di atas, dalam tulisan ini akan dideskripsikan pantunpantun apa saja dalam buku Bahasa Indonesia 4: untuk SD dan MI Kelas IV Karya Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional serta penanaman pendidikan karakter apa saja yang terkandung di dalam pantun-pantun Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Pendidikan Thomas Lickona dalam Gunawan . 4, . adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Tujuan pendidikan dalam hal ini agar generasi muda sebagai penerus generasi tua dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma tersebut dengan mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang melatarbelakangi nilai-nilai dan norma-norma hidup dan Sedangkan karakter adalah nilaiAenilai, perkataan, dan perilaku atau perbuatan yang telah membentuk diri seseorang (Zubaedi, 2011:. Jika digabungkan kedua kata tersebut dapat membentuk definisi yakni usaha sengaja . untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan (Zubaedi, 2011:. Membahas mengenai Pendidikan karakter sama halnya juga membahas pendidikan budi pekerti, karena dua pengertian tersebut memiliki kesamaan yakni sebagai pendidikan nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam tindakan nyata. Ada unsur proses pembentukan nilai tersebut dan sikap yang didasari pada pengetahuan mengapa nilai itu dilakukan. Nilai itu adalah nilai yang membantu orang dapat lebih baik hidup bersama dengan orang lain dan dunianya untuk menuju kesempurnaan. Nilai itu menyangkut berbagai bidang kehidupan seperti hubungan sesama . rang lain atau keluarg. , diri sendiri, hidup bernegara, alam dunia, dan Tuhan. Dalam penanaman moralitas tersebut unsur kogniif . ikiran, pengetahuan, dan kesadara. , dan nilai afektif . juga unsur psikomotor . (Muslich, 2013:. Tujuan pendidikan karakter Muslich . penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pembagian nilai-nilai pendidikan karakter menurut Zubaedi . 1:74Ai. sebagai berikut. kerja keras. rasa ingin tahu. semangat kebangsaan. cinta tanah air. menghargai prestasi. bersahabat/komunikatif. Cinta damai. gemar membaca. Peduli . peduli sosial. tanggung Senada dengan pembagian nilainilai dikemukakan Zubaedi di atas, terdapat sembilan karakter dasar yang menjadi Indonesian Heritage Foundation dalam Gunawan . cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya. tanggung jawab, disiplin dan mandiri. hormat dan santun. kasih sayang, peduli, dan kerjasama. percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah. keadilan dan . baik dan rendah hati, dan . toleransi, cinta damai dan persatuan. Begitu pula dengan Sukamto dalam Muslich . dalam membentuk karakter diperlukan penanaman nilai-nilai yang baik pada anak yakni meliputi. Kejujuran. Loyalitas dan dapat . Hormat. Cinta. Ketidakegoisan dan sensitifitas. Baik hati dan pertemanan. Keberanian. Kedamaian. Mandiri dan potensial. Disiplin diri dan moderasi. Kesetiaan dan kemurnian dan . Keadilan dan kasih Pantun Karya sastra adalah ungkapan pikiran dan perasaan seseorang pengarang kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya, baik yang dialaminya maupun yang terjadi masyarakatnya (Astika, 2014:. Bentuk karya sastra bisa berupa lisan maupun Pantun merupakan salah satu bentuk sastra lisan (Amir, 2013:. Berbicara mengenai pantun, bila seseorang Nurulanningsih. Penanaman Pendidikan Karakter menyebutkan sampirannya, yang lain sudah mengetahui isinya, atau paling tidak dapat diucapkan sampiran. Berdasarkan jenisnya Djamaris . peribahasa, pantun, teka-teki, cerita binatang, cerita asal-usul, cerita jenaka, dan pelipur lara termasuk dalam sastra lisan. Sama halnya dengan pendapat Djamaris. Riyadi, dkk . 8:6-. menyatakan pantun termasuk puisi rakyat . astra lisa. , selain pantun yang termasuk puisi rakyat meliputi pantun, gurindam, dan syair. Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas di kenal dalam bahasa-bahasa nusantara. Sebagai jenis puisi lama, pantun memiliki kata-kata yang Kekhasan kata-kata dalam pantun ditunjukkan melalui penggunaan katakatanya, ungkapan pengarang, serta kemerduan bunyinya karena pilihan bunyi akhir yang teratur (Sari,2012:. Menurut Pangesti . pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara, pada mulanya pantun merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Zaidan dkk . 7:143-. Pantun merupakan jenis puisi lama yang terdiri atas empat larik dengan rima akhir Tiap larik biasanya berisi empat kata. Dua larik pertama merupakan sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat mengandung isi. Pada dasarnya ada dua jenis pantun ditinjau dari segi hubungan sampiran dan isi. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam, dan biasanya tidak mempunyai hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima atau sajak. Dua baris terakhir merupaan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut (Sari, 2012:. Senada dengan Zaidan, pendapat yang sama dikemukakan oleh Gani . menyatakan pantun adalah puis lama yang terdiri atas empat baris atau lebih yang bersajak bersilih atau bersilang yaitu a-b-a-b dan tiap baris terdiri atas empat sampai enam kata, jumlah suku kata dalam baris antara delapan sampai dua belas, dua baris pertama merupakan Jurnal Bindo Sastra 1 . : 60Ae70 sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi pantun. Pada jenis pertama, sampiran merupakan persiapan fonetis atas isinya dan tidak ada hubungan senatis antara kedua bagian itu. pada jenis kedua, yang disebut juga dengan pantun mulia, sampiran tidak hanya memperisapkan isi secara fonetis, tetapi juga mengisyaratkan isi secara Ditinjau dari segi tema, ada ragam pantun, antara lain pantun adat, pantun agama, pantun kanak-kanak, pantun jenaka, pantun dagang, pantun perkenalan, dan pantun teka-teki. Pantun dapat dilagukan secara sederhana sebagai nyanyian solo. Selain itu pantun, disajikan dalam berbalas pantun yang merupakan penyajian pantun secara lisan yang dilakukan oleh dua orang kelompok . iasanya pria dan wanit. secara bergiliran dan berbalasan yang dilakukan secara spontan (Zaidan, dkk. Jenis-Jenis Pantun Dalam menulis pantun, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan Tema pantun ini akan berkaitan dengan jenis pantun yang akan ditulis. Oleh karena itu, haruslah mengelompokkan pantun berdasarkan maksud/isi/temanya. Sugiarto . berdasarkan maksud /isi/tema, pantun dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja/dewasa, dan pantun orang tua. Masing-masing kelompok menunjukkan kekhasan tema sesuai dengan perilaku Pantun anak-anak menggambarkan dunia anak-anak yang biasanya berisi rasa senang dan sedih. Oleh karena itu, jenis pantun anak dibagi dua yaitu, pantun sukacita dan pantun berdukacita. Pantun anak-anak biasanya dipakai saat bermain atau digumamkan saat sedih. Pantun remaja atau dewasa berisi kehidupan remaja/dewasa. Tema cinta remaja/dewasa. Pantun remaja atau dewasa dibagi beberapa jenis, yaitu pantun berkasih-kasihan/ Pantun remaja/ dewasa, khususnya pantun muda . antun cinta kasi. , digunakan untuk bersilat lidah dalam memadu cinta di antara muda-mudi. Pantun orang tua berisi pendidikan dan ajaran agama. Pantun jenis ini dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya pantun nasihat, pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun kepahlawanan, pantun kias, dan pantun peribahasa. Pantun orang tua dipakai dalam pertemuan adat sebagai selingan penegas dalam berdialog atau Selain itu, pantun orang tua juga digunakan sebagai kias dan ibarat ketika orang tua menasehati anak/cucunya. Berdasarkan jumlah larik atau baris, pantun dibedakan menjadi berikut (Sari, 2012: 239--. Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri atas empat baris. Pantun biasa sering saja. Karmina atau pantun kilat, yaitu pantun yang terdiri atas dua baris . antun dua seunta. , baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi dengan rima a-a. Talibun, yaitu sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris . ulai dari 6 baris hingga 12 Berirama abc-abc, abcdabcd, abcde-abcde, dan seterusnya. Seloka atau pantun berkait atau pantun rantai. Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindirian, bahkan Seloka tidak cukup ditulis dengan bait saja sebab merupakan jalinan atas beberapa bait. Berdasarkan isinya, pantun terdiri atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut (Sari, 2012: 239--. Pantun anak-anak, terdiri atas pantun-pantun jenaka dan teka-teki. Pantun remaja, terdiri atas pantun perkenalan, pantun percintaan, dan pantun perpisahan. Pantun orang tua, terdiri atas pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun nasihat, pantun kepahlawanan, pantun kias, dan pantun peribahasa. Metode Penelitian Data penelitian diambil dari pantun dalam Buku Bahasa Indonesia 4 Untuk SD dan MI Kelas IV pengarang Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya. Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 dengan jumlah Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini yakni metode dokumentasi. Arikunto . mendefinisikan metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni teknik analisis isi. Teknik analisis isi secara mendasar berorientasi empiris, bersifat menjelaskan, berkaitan dengan gejala-gejala nyata, dan bertujuan prediktif (Ismawati, 2011:. Hasil dan Pembahasan Penanaman pendidikan karakter melalui pantun pada buku Bahasa Indonesia 4 Untuk SD dan MI Kelas IV pengarang Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya didapati sebanyak 7 pantun, yakni pada halaman 77, halaman 90, halaman 103, halaman 107, halaman 115, halaman 122, dan halaman 123. Khusus untuk halaman 107 dan halaman 123 melengkapi pantun, pantun tersebut perlu dilengkapi lagi karena ada bait pantun yang ada hanya sampiran saja atau ada isinya saja. Pantun tersebut penulis lengkapi diselarasakan dengan sampiran atau isi pantun, jika pantun tersebut hanya ada sampiran saja maka penulis melengkapi isinya, demikian pula jika pantun tersebut ada isinya saja maka penulis melengkapi sampirannya. Pantun-pantun yang ada disetiap halaman tidak memiliki judul sehingga penulis hanya menulisakan pantun tersebut terdapat pada halaman berapa. Berikut ini diuraikan dan dideskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam pantun pada buku Bahasa Indonesia 4 Untuk SD dan MI Kelas IV pengarang Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya. Nurulanningsih. Penanaman Pendidikan Karakter Pantun Halaman 77 Bait Pertama Katak jantan berkaca Si betina merasa malu. Anak yang malas membaca. Pasti akan sedikit malu. Penanaman karakter anak pada bait pertama pantun di atas menanamkan kepada anak untuk untuk gemar membaca. Penggalan bait pertama pantun di atas menanamkan karakter anak untuk gemar membaca hal ini di tekankan pada isi dari pantun tersebut yang berbunyi anak yang malas membaca, pasti akan sedikit malu. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca sebagai bahan yang memberikan kebajikan bagi diri sendiri. Anak yang malas membaca tentulah tidak memiliki banyak ilmu pengetahuan sehingga dalam pergaulan sehari-hari terutama di sekolah akan merasa minder . alu dir. dengan teman-teman yang lain. Mengapa anakanak yang tidak suka membaca akan malu dengan teman-teman lainnya karena anak yang tidak suka membaca akan dianggap bodoh karena tidak mempunyai ilmu Oleh sebab itu, penanaman karakter pada anak di atas, anak harus rajin membaca agar tidak malu kepada temantemannya. Bait kedua Gagak terbang tinggi. Rajawali hinggap di batu. Anak yang berbakti. Pasti senang membantu ibu. Penenaman karakter anak pada bait kedua pantun di atas menanamkan kepada anak untuk memiliki rasa kasih sayang. Penggalan bait kedua di atas menanamkan karakter anak untuk sayang kepada orang tua hal ini ditekankan pada isi pantun tersebut yang berbunyi Anak yang berbakti, pasti senang membantu ibu. Seorang anak yang baik haruslah sayang kepada orang tua, rasa sayang seorang anak kepada orang tuanya dapat diwujudkan dengan membantu perlengkapan sekolah sendiri, membantu membereskan rumah, atau membantu segala hal yang meringankan pekerjaan orang tua. Penanaman pendidikan karakter Jurnal Bindo Sastra 1 . : 60Ae70 pada bait kedua pantun di atas yakni menanamkan rasa sayang dan bakti seorang anak dengan membantu orang tuanya. Bait ketiga Katak beramai-ramai. Kupu-kupu indah di bulu. Anak yang pandai-pandai. Tentu disayang oleh guru. Penenaman karakter anak pada bait ketiga pantun di atas menanamkan kepada anak untuk memiliki rasa cinta damai. Penggalan bait ketiga di atas menanamkan karakter anak untuk cinta damai. Penanaman nilai-nilai merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Isi pantun di atas yang berbunyi Anak yang pandai-pandai. Tentu disayang oleh guru menanamkan karakter anak untuk menjadi anak yang pandai, anak yang pandai akan disenangi oleh semua orang, baik teman, guru, maupun orang tua. Anak yang pandai tentulah banyak teman. Bait keempat Singa yang tidur nyenyak. Burung bernyanyi merdu. Bawa uang saku banyak. Pikirannya akan terganggu. Penenaman karakter anak pada bait keempat pantun di atas menanamkan kepada anak untuk memiliki rasa bertanggung jawab. Penggalan bait keempat di atas menanamkan karakter anak untuk bertanggung jawab. Penanaman nilai-nilai bertanggung jawab kepada anak untuk tidak membawa uang jajan yang banyak karena akan mengganggu konsentrasi anak untuk belajar, hal ini dapat dilihat pada isi pantun bait keempat yang berbunyi Bawa uang saku banyak. Pikirannya akan terganggu. Seorang pelajar haruslah bertanggung jawab dengan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru di sekolah dan bukan memikirkan hal-hal lain diluar dari Pantun Halaman 107 (Melengkapi Pantu. Bait pertama Burung dara burung merpati. Terbang tinggi di udara. Jika engkau baik hati. Tentu pasti banyak yang suka. Penanaman karakter anak pada bait pertama pantun di atas menanamkan kepada anak untuk baik dan rendah hati. Penggalan bait pertama di atas menanamkan karakter anak untuk baik dan rendah hati kepada Hal ini dapat dilihat pada isi pantun yakni jika engkau baik hati, tentu pasti banyak yang suka. Penggalan isi pantun di atas mengajak seorang anak untuk berkelakukan baik dan menyenangkan karena anak yang baik tentu akan disukai semua orang. Bait kedua Anak kenari hinggap di tugu Gagak melayang di cakrawala Jangan suka melawan guru Karena itu perbuatan tercela. Penenaman karakter anak pada bait kedua pantun di atas menanamkan kepada anak untuk hormat dan santun. Penggalan bait kedua di atas menanamkan karakter anak untuk hormat dan santun kepada guru. Jika di sekolah, guru adalah pengganti orang tua. Mengghormati guru sama halnya menghormati orang tua. Seorang murid tidak boleh melawan guru karena melawan guru merupakan perbuatan yang tidak Penanaman karakter hormat dan santun dapat dilihat pada isi pantun baik kedua yang berbunyi Jangan suka melawan guru karena itu perbuatan Bait ketiga Di hutan banyak pemburu Burung merpati hinggap di jendela Yang menuruti nasihat guru Tentu akan jadi juara Penanaman karakter anak pada bait ketiga pantun di atas menanamkan kepada anak untuk hormat dan santun. Penggalan bait ketiga di atas menanamkan karakter anak untuk hormat dan santun kepada guru. Penanaman karakter hormat dan santun dapat dilihat pada isi pantun baik ketiga yang berbunyi Yang menuruti nasihat guru Tentu akan jadi juara. Sama halnya dengan bait kedua pantun di atas, bait ketiga pantun ini mendidik anak untuk menuruti nasehat Jika di rumah seorang anak harus menuruti nasehat orang tua, maka di sekolah seorang anak haruslah menuruti nasehat guru. Dengan menuruti nasehat guru misalnya untuk belajar dengan rajin, niscaya akan menjadi juara kelas. Bait keempat Matahari bersinar cerah Hujan rintik jatuh di taman Jadi anak haruslah ramah Barang tentu banyak teman Penenaman karakter anak pada bait keempat pantun di atas menanamkan kepada anak untuk baik dan rendah hati. Penggalan menanamkan karakter anak untuk baik dan rendah hati kepada teman. Hal ini dapat dilihat pada isi pantun yakni Jadi anak haruslah ramah Barang tentu banyak Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk selalu remah kepada semua orang, dengan ramah kepada semua orang tentu akan dikai banyak orang dan akan mendapatkan banyak teman. Pantun Halaman 115 Bait Pertama Buah nangka buah durian Cempedak muda dibuat jamu Buat apa berteman Jika tidak pernah main denganku Penenaman karakter anak pada bait pertama pantun di atas menanamkan kepada anak untuk baik hati dan pertemanan. Penggalan bait pertama pada pantun di atas menanamkan karakter anak untuk baik hati dan pertemanan. Hal ini dapat dilihat pada isi pantun yakni Buat apa berteman Jika tidak pernah main denganku. Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk tidak sombong dalam pergaulan, tidak memilih teman, suka bergaul dan berteman dengan siapa saja. Bait kedua Nurulanningsih. Penanaman Pendidikan Karakter Buah kelapa dingin airmu Nira di piring tumpah kau buang Buat apa main denganmu Jika bermain pasti kau curang Penanaman karakter anak pada bait kedua pantun di atas menanamkan kepada anak untuk jujur. Penggalan bait kedua pada pantun di atas menanamkan karakter anak untuk jujur. Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai seorang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan Penanaman karakter untuk anak agar berbuat jujur dapat dilihat pada isi pantun yakni Buat apa main denganmu Jika bermain pasti kau curang. Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk jujur dan tidak boleh berbuat curang dalam bermain. Jika tidak jujur semua teman tidak akan mau bermain lagi dengan dirimu dan tidak mau berteman dengan dirimu. Bait Ketiga Mangga dipetik berwarna merah Sayang disayang tinggalah satu Duhai abang berbaju merah Sudah lupakah dikau padaku? Bait keempat Mangga dijual satu keranjang Dijual lewat surau Adinda cantik kasihku sayang Mana mungkin lupakan dikau Penenaman karakter anak pada bait ketiga dan keempat pantun di atas pertemanan dan kasih sayang. Penggalan bait ketiga dan keempat di atas menanamkan karakter anak untuk tidak lupa kepada sahabat atau teman. Hal ini dilihat pada isi pantun bait ketiga yaitu Duhai abang berbaju merah Sudah lupakah dikau padaku? Dan isi pantun bait keempat yaitu Adinda cantik kasihku sayang Mana mungkin lupakan dikau . Pantun Halaman 122 Bait pertama Kalau kita main catur Tidak lupa memegang kuda Jurnal Bindo Sastra 1 . : 60Ae70 Kalau hidup kita teratur Badan sehat dan sejahtera Penenaman karakter anak pada bait pertama pantun di atas menanamkan kepada anak untuk jujur. Penggalan bait pertama pada pantun di atas menanamkan karakter anak untuk jujur. Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai seorang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan Penanaman karakter untuk anak agar berbuat jujur dapat dilihat pada isi pantun yakni Buat apa main denganmu Jika bermain pasti kau curang. Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk jujur dan tidak boleh berbuat curang dalam bermain. Jika tidak jujur semua teman tidak akan mau bermain lagi dengan dirimu dan tidak mau berteman dengan dirimu. Bait kedua Ban mobil di taman kota Bila diambil haruslah diikat Badan yang sehat idaman kita Bila belajar semakin giat Bait ketiga Mari bersama naik kuda Kuda ditarik melompat-lompat Mari bersama berolah raga Untuk bekal hidup sehat Bait keempat Jangan suka makan mentimun Lebih baik makan mentega Jangan suka duduk melamun Lebih baik berolahraga Penenaman karakter anak pada bait kedua, ketiga, dan keempat pantun di atas menanamkan kepada anak untuk disiplin. Penggalan bait pertama, kedua, ketiga, dan keempat pada pantun di atas menanamkan karakter anak untuk disiplin. Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan peraturan. Penanaman karakter untuk anak agar disiplin dapat dilihat pada isi pantun bait pertama, kedua, ketiga, dan keempat yakni Kalau hidup kita teratur. Badan sehat dan sejahtera. Badan yang sehat idaman kita . Bila belajar semakin Mari bersama berolah raga. Untuk bekal hidup sehat. Jangan suka duduk Lebih Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk hidup disiplin, dalam hal ini disiplin diri mengikuti pola hidup sehat, makan sehat, tidur teratur dan rajin berolah raga agar hidup sehat dan Pantun Halaman 122--123 Bait pertama Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian Penenaman karakter anak pada bait pertama pantun di atas menanamkan kepada anak untuk bekerja keras dan pantang Penggalan bait pertama pada pantun di atas menanamkan bekerja keras dan pantang menyerah. Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dan mengatasi berbagai hambatan dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya. Penanaman karakter untuk anak bekerja keras dan pantang menyerah dapat dilihat pada isi pantun yakni Bersakit-sakit Bersenang-senang Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk bekerja keras, bersusah payah dahulu dan nanti menikmati hasil dari pekerjaan tersebut. Bekerja keras dalam hal ini belajar dengan giat, jika belajar dengan giat semua ujian dapat dijalani dengan baik. Bait kedua Kalau ada sumur di ladang Boleh kita menumpang mandi Kalau ada umur yang panjang Boleh kita berjumpa lagi Bait ketiga Makan roti di pinggir kali Kali yang jenih banyak ikannya Mari-mari kita bernyanyi Hati yang sedih jadi gembira Penenaman karakter anak pada bait dan ketiga pantun di atas persahabatan dan pertemanan. Penggalan bait kedua dan ketiga pada pantun di atas rasa persahabatan dan pertemanan yang baik. Persahabatan yang baik akan menginginkan pertemuan kembali, meskipun dipisahkan jarak namun tali persahabatan selalu terjalin dengan Penanaman karakter untuk anak bekerja keras dan pantang menyerah dapat dilihat pada isi pantun yakni Kalau ada umur yang panjang. Boleh kita berjumpa lagi dan Mari-mari kita bernyanyi. Hati yang sedih jadi gembira. Bait keempat Burung merak hinggap di jati Burung hantu menerkam mangsa Jadi anak harus berbakti Agar kelak hidup bahagia Penenaman karakter anak pada bait keempat pantun di atas menanamkan kepada anak untuk kasih sayang. Penggalan bait keempat di atas menanamkan karakter anak untuk berbakti kepada orang tua hal ini ditekankan pada isi pantun tersebut yang berbunyi Jadi anak harus berbakti. Agar kelak hidup bahagia. Seorang anak yang baik haruslah berbakti kepada orang tua, menuruti perkataan orang tua. Setiap orang tua pastilah mendoakan agar anaknya Anak durhaka atau anak yang tidak berbakti kepada orang tua pasti tidak akan mendapatkan kebahagian. Bait kelima Jalan-jalan di tepi pantai Biarkan angin menerpa Tidaklah ada orang yang pandai Jika tidak rajin membaca Penenaman karakter anak pada bait kelima pantun di atas menanamkan kepada anak untuk bekerja keras dan pantang Penggalan bait kelima pada pantun di atas menanamkan bekerja keras dan pantang menyerah. Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dan mengatasi berbagai hambatan dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya. Penanaman karakter untuk anak bekerja keras dan pantang menyerah dapat Nurulanningsih. Penanaman Pendidikan Karakter dilihat pada isi pantun yakni Bersakit-sakit Bersenang-senang Penggalan isi pantun di atas menanamkan karakter kepada anak untuk bekerja keras, bersusah payah dahulu dan nanti menikmati hasil dari pekerjaan tersebut. Bekerja keras dalam hal ini belajar dengan giat, jika belajar dengan giat semua ujian dapat dijalani dengan baik. Bait keenam Sungguh cantik si burung dara Burung tekukur terbang kemari Jika ingin hati gembira Ambillah sampur ayo menari Penenaman karakter anak pada bait keenam pantun di atas menanamkan kepada anak untuk persahabatan dan pertemanan. Penggalan bait keenam pada pantun di atas rasa persahabatan dan pertemanan yang baik. Persahabatan yang baik akan mendatangkan kegembiraan. Bergembiran dan menari bersama temanteman akan mendatangkan kebahagiaan dan Penanaman karakter persahabatan dan pertemanan dapat dilihat pada isi pantun yakni Jika ingin hati gembira. Ambillah sampur ayo menari. Pantun Halaman 90 Buah pinang buah belimbing. Ketiga dengan buah mangga. Sungguh senang berbapak sumbing. Biar marah tertawa juga. Pohon manggis di tepi rawa. Tempat kakek tidur beradu. Sedang menangis nenek tertawa. Melihat kakek bermain gundu. Pak Dung Pak Mustafa. Encik Dulah di rumahnya. Tepung dengan kelapa. Gula jawa di tengahnya. Burung nuri burung dara. Terbang ke sisi taman kahyangan. Coba cari, wahai saudara. Makin diisi makin ringan. Pantun Halaman 103 Hilir lorong mudik lorong. Bertongkat batang temberau. Bukannya sayang berkata bohong. Jurnal Bindo Sastra 1 . : 60Ae70 Kakek memikul paha kerbau. Di kedai yahya menjual surat. Do kedai kami menjual sisir. Kaki buaya melomat ke darat. Melihat kambing terjun ke air. Dari Ambon hendak ke Perak Singgah sebentar ke Semarang Si Jibun mencuri kerak Hitam hidungnya kena arang (Alisyahbana. Puisi Lama, 1. Berdasarkan penanaman pendidikan karakter melalui pantun pada buku Bahasa Indonesia 4 Untuk SD dan MI Kelas IV pengarang Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya pada halaman halaman 77, halaman 90, halaman 103, halaman 107, halaman 115, halaman 122, dan halaman 123 didapati pantunpantun tersebut merupakan pantun biasa . antun nasihat dan pantun gembir. yakni pantun yang terdiri dari empat baris, baris pertama dan kedua merupakan sampiran, dan baris ketiga dan keempat berisi isi Rima akhir setiap baitnya berpola a-b-a-b. Isi pantun merupakan nasihat yang disampaikan kepada siswa yakni nasehat untuk gemar membaca, untuk rajin, tidak membawa uang saku yang banyak, baik hati, tidak melawan guru, menuruti nasehat guru, ramah kepada teman, bermain jangan curang, rajin berolah raga, berbakti kepada orang tua, dan selalu gembira. Khusus untuk pantun pada halaman 90 dan 103 tidak dianalisis karena hanya pantun gembira biasa. Simpulan Melalui pengajaran sastra di sekolah dapat meningkatkan kesadaraan dan menghidupkan kembali kesenian memperkenalkannya kepada anak-anak. Kesenian-kesenian daerah itu, sebagai dipelihara, dan dihidupkam selalu. Untuk mewujudkan suatu bangsa yang cerdas dan pandai haruslah dilandasi pula dengan keimanan dan akhlak yang Pembinaan moral erat kaitannya dengan watak, untuk membina watak pengajaran sastra di sekolah. Artinya, pengajaran sastra yang berdimensi moral. Melalui menanamkan sikap atau karakter anak dengan baik. Pelestarian ataupun revitalisasi membuat sastra lisan khususnya pantun tetap ada, dikenal oleh masyarakat. Upaya pelestarian sastra lisan dalam hal ini pantun dimasukkan ke dalam pengajaran di Bukan hanya pelestarian saja, melalui pantun, pendidikan karakter kepada anak juga dapat ditanamkan. Melalui karya sastra, penanaman nilai-nilai karakter dapat diresapi oleh anak-anak dan secara tidak sadar dapat merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka. Diharapkan, melalui pantun yang terdapat dalam buku Bahasa Indonesia 4 Untuk SD dan MI Kelas IV pengarang Kaswan Darmadi dan Rita Nirbaya dapat mendidik karakter siswa yang baik, dan karakter yang baik itu dapat diterapkan oleh siswa baik di lingkungan keluarga masing-masing maupun di lingkungan sekolah. Daftar Pustaka