Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities Vol. 2 No. eISSN: 2797-1821 The Effect of Group Counseling Through the Solution Focused Brief Counseling (SFBC) Approach to Improving Adolescent Emotional Management Bima Ardiyanza . Indiati. Astiwi Kurniati Department of Guidance and Counseling. Universitas Muhammadiyah Magelang. Indonesia ardiyanzabima21@gmail. https://doi. org/10. 53017/ujsah. Received: 17/02/2022 Revised: 25/03/2022 Accepted: 27/03/2022 Abstract This study aims to examine the effect of group counseling through a solution focused brief counseling . approach to improve adolescent emotional management. This study uses the one group pretest-posttest design. The samples taken in study were 8 teenagers consisting of one experimental group. Sampling using an emotion management questionnare. The data analysis method used is parametric analysis paired sample t-test. The results of this study indicate that group counseling through a solution focused brief counseling . approach has an effect on on improving adolescent emotional management. This evidenced from the results of the paired sample t-test with a probability value of sig . -taile. 0,000 < 0,05. Based on the results of the analysis and discussion, there is a difference in the average score of the emotional management questionare 12,90% from the results of pretest and posttest. The results of the research can be concluded that group counseling through a solution focused brief counseling . approach has an effect on improving adolescent emotional management. Keywords: Group counseling. Solution Focused Brief Counseling. Emotional management Pengaruh Konseling Kelompok Melalui Pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) Terhadap Peningkatan Pengelolaan Emosi Remaja Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh konseling kelompok melalui pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) untuk meningkatkan pengelolaan emosi remaja. Penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest-Poesttest Design. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 8 remaja yang terdiri dari satu kelompok eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket pengelolaan emosi. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis parametrik Paired sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konseling kelompok melalui pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) berpengaruh untuk meningkatkan pengelolaan emosi remaja. Hal ini dibuktikan dari hasil uji paired sample t-test dengan probabilitas nilai sig . -taile. 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil merup dan pembahasan, terdapat perbedaan skor rata-rata angket pengelolaan emosi 12,90% dari hasil pretst dan posttest. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok melalui pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) berpengaruh untuk meningkatkan pengelolaan emosi remaja. Kata kunci: Konseling kelompok. Solution Focused Brief Counseling. Pengelolaan emosi Pendahuluan Pribadi yang positif tidak hanya akan membuat orang lain merasa nyaman berada di dekat kita, namun dengan menjadi pribadi yang positif dapat membantu kita dalam Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Bima Ardiyanza et al menghadapi situasi sulit. Kecerdasan emosional untuk membentuk pribadi yang positif tidak datang begitu saja, namun perlu adanya pembelajaran secara perlahan dan terus menerus untuk mencapainya . Keberadaan emosi di satu sisi dapat menjadikan orang pasif dan tidak berdaya, tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan. Emosi di sisi lain dapat menjadi sumber energi yang membuat seseorang sanggup melakukan apa saja secara tepat tanpa terpikirkan sebelumnya. Seseorang perlu mengontrol emosinya. Menurut . kontrol emosi bukan berarti eliminasi atau penekanan emosi moral, tetapi belajar mengekspresikan emosi dengan cara-cara yang lebih dapat diterima atau disetujui oleh kelompok sosial dan pada saat yang sama tetap dapat memberikan kepuasan yang maksimum dan mengurangi gangguan ketidakseimbangan. Kenakalan remaja sebagian disebabkan oleh pencapaian emosi yang kurang matang. Kematangan emosi adalah kemampuan remaja dalam mengekspresikan emosi secara tepat dan wajar dengan pengendalian diri, memiliki kemandirian, memiliki konsekuensi diri, serta memiliki penerimaan diri yang tinggi. Pengendalian diri adalah kemampuan remaja dalam mempertahankan dorongan emosi, serta memahami emosi diri untuk diarahkan kepada tindakan-tindakan positif. Kemandirian adalah keadaan dimana remaja tidak menggantungkan dirinya kepada orang lain. Rasa konsekuen adalah rasa tanggung jawab remaja dengan kesadaran untuk menjalankan keputusan, serta berani bertanggung jawab terhadap semua akibat dan keputusan yang telah diambil. Penerimaan diri adalah kemampuan remaja untuk dapat menerima keadaan diri sendiri, baik kelemahan maupun kelebihan, menerima diri secara fisik maupun psikis dengan baik. Remaja yang telah berhasil menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan emosinya lebih berkembang dalam bidang akademik, pertemanan dan hubungan sosial . Manajemen pengelolaan emosi ini dapat dipelajari remaja, beik dari orang tua melalui contoh dan instruksi maupun dari sekolah . Remaja menjadi nakal karena belum mampu melakukan kontrol secara lebih tepat dan mengekspresikan emosi dengan cara-cara yang diterima oleh masyarakat. Manajemen pengelolaan emosi marah yang sehat berdasarkan pada prinsip, . mengidentifikasi dan mengenali emosi negative di balik kemarahan. mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mengubah harapan dan kesimpulan yang tidak . mempelajari ketrampilan relaksasi dan setrategi untuk mereduksi ketegangan . Dan . mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah . Dinamika perubahan psikologis yang tidak terkontrol akan memungkinkan remaja terlibat kenakalan yang lebih beresiko. Kematangan emosi dan konsep diri sebagai konstruk psikologi positif yang berkembang dengan baik akan menurunkan potensi remaja terlibat Misalnya, perkelahian remaja secara psikologis disebabkan konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan perasaan rendah diri. Asmani . bahwa remaja usia 14 tahun sering meledak-ledak dan tidak bisa mengendalikan perasaan. Sebaliknya, remaja usia 16 tahun biasanya tidak atau kurang memiliki kekhawatiran. Secara detail, ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan emosi remaja secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut. Kematangan emosi. Memiliki minat pada bidang-bidang tertentu. minat Rekreasi. Minat social. Minat pribadi. Minat terhadap pendidikan. Minat terhadap pekerjaan. Minat terhadap agama. Minat terhadap hal-hal simbolis. Kemampuan mengatur emosi yang rendah dan perilaku menjalin interaksi dengan orang lain menyebabkan gangguan perilaku, memilih tindakan agresif sebagai stategi keluar dari masalah. Pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa emosi pada remaja harus diarahkan pada hal yang lebih bermanfaat, karena jika tidak dapat berakibat buruk jika tidak terkontrol. Pengelolaan emosi di usia remaja tidak datang begitu saja, harus dilatih perlahan sedikit demi sedikit. Dalam lingkungannya berada remaja haruslah saling mengerti, toleransi dan menjaga hubungan baik secara berkelanjutan dikarenakan jika remaja memiliki pengelolaan emosi dengan baik maka dilingkungannya akan baik. Menjadi nilai positif bagi berbagai aspek kehidupan. Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Bima Ardiyanza et al lingkungan akan jauh lebih tenang dalam menjalankan rutinitas dan nyaman untuk beribadah dan belajar. Hasil observasi dan wawancara dengan penanggung jawab santri pondok Pesantren Pabelan kabupaten Magelang. Bapak Nafis pada tanggal 3 Agustus 2021. Bapak Nafis menyampaikan bahwa 30% santri memiliki tingkat ketersinggungan yang tinggi dan juga berbagai permasalahan lain seperti pencurian sandal, surat menyurat antara santri putra dan putri, masalah kedisiplinan seperti bangun waktu sholat subuh sering terlambat, kurangnya percaya diri di depan umum, merokok di dalam dan luar pondok, membolos dan keluar pondok tanpa ijin. Terdapat banyak masalah yang timbul mulai dari senioritas yang berlebihan, jika kakak tingkat tidak disapa seringkali kakak tingkat akan menyindir adik tingkatnya dan tak jarang terjadi perkelahian hingga harus dipisah dengan bapak pengawas Dikarenakan fasilitas pondok yang tidak memenuhi banyaknya santri menimbulkan efek berebut fasilitas, misalnya kamar mandi. Seringkali berebut kamar mandi menjadi hal yang tidak terhindarkan pada saat pagi dan sore hari namun yang menimbulkan masalah terdapat pada pagi hari. Banyaknya santri mengakibatkan harus mengantri dan sebagian kakak senior sering menyalip antrian, ada yang membiarkan namun ada juga yang melawan dan berujung perkelahian. Pada masa remaja dekat dengan emosi yang kurang stabil, penulis berupaya untuk mengarahkan ke hal yang positif. Jika permasalahan tersebut tidak ditindak lanjuti dengan serius memungkinkan terjadinya masalah-masalah baru yang lebih besar. Upaya terdahulu oleh Bapak Aziz selaku pengurus pondok dalam menyelesaiankan permasalahan santri di pondok pesantren hanya di damaikan antar kedua belah pihak tanpa teguran yang serius, diakrenakan tidak diberi sangsi teguran yang serius pertengkaran antar santri sering Solution Focused Brief Counseling (SFBC) adalah model konseling yang menekankan pada kemampuan kompetensi manusia daripada ketidakmampuannya, dan lebih pada kekuatan daripada kelemahan. Menurut . Solution Focused Brief Counseling (SFBC) dipilih untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang berkelanjutan tersebut, menyelesaikan permasalahan dengan menekankan kemampuan kompetensi agar tercapainya solusi permasalahan daripada menganalisis ketidakmampuan, akar permasalahan dan timbulnya permasalahan yang lembih rumit. maka peneliti mencoba menggunakan konseling kelompok melalui pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) untuk meningkatkan pengelolaan emosi remaja. Metode Penelitian ini menggunakan Konseling Kelompok melalui Teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC) sebagai variable bebas . ndependent variabl. dan pengelolaan emosi sebagai variable terikat . ependent variabl. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah siswa sekolah usia 16-18 tahun di Pondok Pesantren Pabelan Kab. Magelang. Sampel dalam penelitian ini adalah 8 remaja putra di Pondok Pesantren Pabelan Kab. Magelang. sebagai kelompok eksperimen. Penentuan pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Random Sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket model skala likert dengan 4 pilihan jawaban yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Pengujian instrumen dalam penelitian ini yang dilakukan terlebih dahulu adalah dengan melakukan try out, kemudian melakukan pengujian instrumen melalui uji validitas dan reliabilitas dengan bantuan program SPSS versi 24. Jumlah item pernyataan dalam angket pengelolaan emosi yang digunakan bejumlah 58 item dengan kriteria item pernyataan yang dinyatakan valid adalah 46 item dengan nilai r-hitung lebih besar dari r-tabel . -hitung > rtabe. pada taraf signifikan 5% = 0,05. Berdasarkan hasil try out angket pengelolaan emosi diperoleh 46 item pernyataan valid dan 18 item penyataan gugur. Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Bima Ardiyanza et al Langkah Penelitian Desain penelitian ini menggunakan eksperimen semu atau pra eksperimental dengan menggunakan metode one group pretest-posttest design. Pelaksanaan eksperimen dengan desain ini dilakukan dengan memberikan perlakuan (X) terhadap satu kelompok, yaitu kelompok eksperimen. Tahap dalam penelitian ini yaitu kelompok tersebut diberi pretest (O. , kemudian diberikan perlakukan (X) pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC), dan yang terakhir diberikan posttest (O. Hasil kedua test tersebut dibandingkan untuk menguji apakah pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) efektif terhadap peningkatan pengelolaan emosi remaja pada kelompok eksperimen. Langkah Penelitian Penelitian ini dilakukan delapan kali pertemuan. Pada awal pertemuan sebelum perlakukan, sampel diberikan pretest, kemudian diadakan delapan kali pertemuan untuk perlakuan konseling kelompok dengan pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC). Setelah pemberian perlakuan selesai maka akan diberikan posttest pada hari yang berbeda dari pertemuan ke delapan pada sampel. Hasil pretest dan posttest dibandingkan, maka diperoleh perbedaan antara keduanya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah efektif kenseling kelompok dengan menggunakan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) terhadap pengelolaan emosi remaja. Hasil dan Pembahasan Hasil analisis penelitian mengenai pengaruh Konseling Kelompok melalui pendekatan Solution Focused Brief Counseling (SFBC) untuk peningkatan pengelolaan emosi remaja, dimana hasil analisis menunjukan bahwa adanya pengaruh yang menunjukan meningkatnya pengelolaan emosi remaja. Dalam penelitian ini mengalami beberapa kendala saat berlangsungnya proses perlakuan yang diambil dari waktu istirahat siang remaja pondok dimana itu mempengaruhi dalam daya konsentrasi remaja pondok seperti sering menguap, mengantuk dan tidak konsentrasi, hal tersebut terjadi pada pertemuan pertama dan kedua. Selain itu remaja pondok juga merasa canggung dan tidak terbuka dalam pertemuan kesatu dan kedua. Setelah mengalami beberapa perkenalan dan pertemuan, seiring berjalannya waktu mulai pertemuan keempat dan seterusnya remaja pondok mulai terbuka berani menyampaikan pendapatnya dan terjadinya dinamika kelompok, penayangan video dan permainan yang menarik menambah suasana menjadi lebih menyenangkan dan materi yang dibahas lebih mudah dipahami. Selain hasil analisis yang menunjukan bahwa penelitian pengelolaan emosi remaja pondok pesantren pabelan Kab. Magelang, berpengaruh terhadap peningkatan pengelolaan emosi remaja, hal lain yang menunjukkan adanya perubahan adalah salah satu contoh yaitu GFN dimana GFN mengalami banyak perubahan dari sebelum dan sesudah diberi perlakuan berupa konseling kelompok dengan pendekatan SFBC, dimana hasil terlihat dari visual diaman sebelum perlakuan GFN Sering membentak dan Suka menyuruh anggota lain untuk berpendapat kemudian setelah berjalannya penelitian dan setelah penelitian GFN Lebih menghargai anggota lain dan sering memulai berpendapat, hal tersebut menunjukan bahwa GFN mengalami peningkatan dalam pengelolaan emosi dan interaksi sosialnya. Penelitian menunjukkan bahwa teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC) berpengaruh untuk meningkatan pengelolaan emosi remaja pada remaja Pondok Pesantren Pabelan dibuktikan dengan adanya perubahan peningkatan tentang hasil skor angket pengelolaan emosi pada remaja sebelum diberikan perlakuan dan sesudah diberikan Diantaranya AAM adalah remaja yang pengelolaan emosi rendah dengan skor pretest 128 kemudian meningkat dengan skor posttest 149. Peningkatan pengelolaan emosi remaja meningkat secara keseluruhan apabila dilihat dari hasil prestest dan posttest. Peningkatan Pengelolaan Emosi juga dilihat dari pengamatan rata-rata skala pretest yang awalnya 132. 88 menjadi 147. 88 pada saat posttest. Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Bima Ardiyanza et al Peningkatan tersebut terjadi karena materi membahas intropeksi diri, menahan diri dan empati ditambah lagi dalam perlakuan peneliti selalu menyampaikan bahwa terdapat asas dalam konseling kelompok yang salah satunya adalah kenormatifan yaitu menghargai anggota kelompok lainnya. Hasil Pretest dan Posttest Tabel 1 menunjukkan peningkatkan skor tertinggi yaitu GFN sebesar 22 atau 15,82 %, dan terendah yaitu IPP sebesar 2 atau 1,44 %. Pada tabel tersebut terdapat peningkatan skor, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penaingkatkan skor skala pengelolaan emosi pada kelompok eksperimen mengalami peningkatkan. Tabel 1. Perbandingan Skor Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen Nama Pretest Posttest Rata-rata Minimum Maksimum AAM MBA GFN MFG MNNA IPP APMW Peningkatan Nilai 13,93 % 16,40 % 10,29 % 15,82% 12,76% 7,51% 1,44% 12,69 % 12,90 11,35 % 1,44 % 15,82 % Uji Prasyarat Analisis data untuk uji hipotesis harus melewati pengujian prasyarat terlebih dahulu yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas dimana pengujian ini bertujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak dan apakah varian dalam penelitian ini mempunyai varian yang sama atau bersifat homogen. Uji Normalitas Uji normalitas dilkakukan dengan bantuan SPSS versi 24, dimana penentuan normal atau tidaknya distribusi skor menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Asumsi yang digunakan apabila nilai signifikansi (Asymp. >Alpha 5% maka data berdistribusi normal dan sebaliknya apabila signifikansi (Asym. 0,05 berarti varian bersifat homogen, sebaliknya apabila signifikansi<0,05 berarti varian bersifat heterogen. Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas PRETEST Levene Statistic Sig. Berdasarkan Tabel 3 uji homogenitas tersebut diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,200 yang berarti >0,05 dengan demikian varian dalam penelitian ini mempunyai varian yang sama atau bersifat homogen. Uji Hipotesis Hipotesis yang diajukan adalah Konseling Kelompok melalui pendekatan SFBC berpengaruh terhadap peningkatan pengelolaan emosi remaja putra Pondok Pesantren Pabelan, untuk membuktikan hipotests tersebut dilakukan pengujian menggunakan program komputer SPSS versi 24 for Windows dengan teknik analisis uji t-test karena data tersebut homogen. Mengetahui perbedaan pengisian anget pengelolaan emosi remaja pada saat pretest dan posttest maka digunakan teknik analisis uji t-test. Tabel 4. Hasil Uji t-test Paired Samples Statistics Pair 1 PRETEST POSTTEST Mean Std. Deviation Std. Error Mean Tabel 5. Hasil Uji t-test Paired Samples Correlations Pair 1 PRETEST & POSTTEST Correlation Sig. Tabel 6. Hasil Uji t-test Paired Samples Test Pair PRETEST Ae POSTTEST Mean Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Deviation Mean Lower Upper Sig. Berdasarkan Tabel 4. Tabel 5 dan Tabel 6 uji t-test maka diperoleh Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa probabilitas asymp. Sig. -taile. <0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima, sedangkan jika probabilitas asymp. Sig. -taile. >0,05 maka H0 diterima dan Ha Padatabel diatas dapat dilihat nilai probabilitas asymp. Sig. -taile. <0,05 atau 0,001<0,05 atau H0 ditolak dan Ha diterima, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji paired sample t-test dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai pretest dan posttest yang signifikan pada pengisian angket pengelolaan emosi, sehingga konseling kelompok dengan pedekatan SFBC berpengaruh terhadap pengelolaan empsi Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC) efektif dalam meningkatakan pengelolaan emosi remaja. Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Bima Ardiyanza et al Hasil tersebut dapat dibuktikan dari adanya perbedaan kenaikan skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukan adanya perubahan skor kelompok eksperimen setelah mendapatkan perlakuan teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC). Hasil penelitian juga menunjukan bahwa terdapat perbedaan kenaikan pengelolaan emosi pada remaja setelah diberi teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC), maka teknik Solution Focused Brief Counseling (SFBC) efektif untuk meningkatkan pengelolaan emosi pada remaja. References