Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis Vol. 7 No. Desember 2022 . e-ISSN 2527-8215 HOW TO IMPROVE ENVIRONMENTAL PERFORMANCE USING GREEN ACCOUNTING? GENERATION ZAos PERSPECTIVE Nicholas Renaldo1. Suhardjo2. Suyono3. Ienne Yoseria Putri4. Cindy5 1,2,3,&4 Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Email: nicholasrenaldo@gmail. ABSTRACT Environmental performance is a topic of concern of the increase in carbon emissions due to the greenhouse effect. Generation Z as the nation's successor will face this problem. This study aims to improve environmental performance through a green information system, green purchasing, and green training based on the perspective of generation Z. The sample of this study was 69 students of the Pelita Indonesia Institute of Business and Technology. Data processing using SMART PLS application. The results showed that only the green information system had a positive effect on environmental performance, while the other two variables had no effect. Generation Z's perspective still prioritizes technology and information systems but has not paid much attention to other green accounting concepts. It is hoped that the next research can combine the perspectives of various generations so that the research results will be more diverse. Future research is also expected to be able to use other green accounting variables and develop its dimensions and indicators better. Keywords: Environmental Performance. Green Accounting. Generation Z BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN KINERJA LINGKUNGAN MENGGUNAKAN GREEN ACCOUNTING? PERSPEKTIF GENERASI Z ABSTRAK Kinerja lingkungan merupakan topik yang menjadi perhatian sejak adanya peningkatan emisi karbon karena efek rumah kaca. Generasi Z sebagai penerus bangsa akan menghadapi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja lingkungan melalui green information system, green purchasing, dan green training berdasarkan perspektif generasi Z. Sampel penelitian ini sebanyak 69 mahasiswa Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia. Pengolahan data menggunakan aplikasi SMART PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya green information system yang berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan, sedangkan kedua variabel lainnya tidak berpengaruh. Perspektif generasi Z masih mengutamakan sistem teknologi dan informasi, tetapi belum terlalu memperhatikan konsep green accounting lainnya. Diharapkan penelitian berikutnya dapat menggabungkan perspektif berbagai generasi sehingga hasil penelitian akan lebih beragam. Penelitian berikutnya juga diharapkan dapat menggunakan variabel green accounting lainnya serta mengembangkan dimensi dan indikatornya dengan lebih baik. Kata kunci: Kinerja Lingkungan. Green Accounting. Generasi Z Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022 http://w. id/ojs32/index. php/KURS/index e-ISSN 2527-8215 PENDAHULUAN Kinerja lingkungan merupakan topik yang menjadi perhatian sejak adanya peningkatan emisi karbon karena efek rumah kaca. Penipisan lapisan ozon meningkatkan suhu bumi ditandai dengan pencairan es di kutub bumi. Di satu sisi pertumbuhan populasi manusia yang telah mencapai lebih dari tujuh miiar penduduk, membutuhkan banyak sumber daya, dan beberapa sumber daya tersebut malah menyebabkan masalah pada lingkungan. Konsep green accounting dapat menjadi solusi untuk mengatasi fenomena tersebut. Salah satunya adalah proses pengataran dokumen yang menggunakan transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Kesadaran telah tumbuh mengenai dampak buruk terhadap degradasi lingkungan dari berbagai kegiatan Oleh karena itu, semakin banyak upaya telah dicurahkan untuk menemukan praktik-praktik berkelanjutan untuk mengurangi atau bahkan membalikkan degradasi. Generasi Z (Hafni. Renaldo. Chandra, & Thaief, 2020. Nyoto. Renaldo. Karuppannan. Bhuiyan, & Kumarasamy, 2021. Renaldo. Sudarno, & Hutahuruk, 2. adalah generasi penerus bangsa yang akan menghadapi permasalahan ini. Bermodalkan teknologi canggih di abad ke-21 ini, teknologi informasi memainkan peran penting dalam keseluruhan proses ini. Sistem informasi hijau yang dibangun di atas teknologi informasi telah muncul sebagai alat yang sangat praktis untuk memfasilitasi kegiatan berkelanjutan perusahaan seperti, menciptakan inisiatif hijau, meningkatkan komunikasi unit fungsional yang berbeda, meningkatkan efisiensi produksi dan kemampuan manajemen, dan lain-lain. Dalam berbagi informasi (Chandra. Renaldo, & Putra, 2. , selama pemanfaatan sistem informasi hijau, bagaimanapun, membutuhkan pengetahuan yang tergabung, keterampilan yang relevan, dan prestasi untuk melatih keterampilan individu, yang telah menjadi salah satu kunci yang memperbolehkan pengurangan emisi karbon dari transportasi data serta dalam ketentuan penambahan dan harmonisasi database. Sistem informasi hijau menawarkan informasi penting untuk membuat hasil tentang desain ramah lingkungan, dalam kondisi objek dan pengeluaran daya, daur ulang, dan kebangkitan peralatan. Namun gambaran berbagi informasi tersebut merupakan hasil kinerja lingkungan yang secara fungsional terurbanisasi dari tingkat untuk berkembang (Ahmed. Khan. Paul, & Kazmi, 2. Selain pada dokumen . ang dapat diatasi dengan digitalisasi dan virtualisas. , permasalah karbon juga terjadi karena pembelian suatu barang. Bayangkan membeli sayur dari provinsi yang berbeda atau membeli produk atau part dari supplier di luar negeri . ering terjadi pada indsutri otomoti. Ini juga dapat meningkatkan emisi karbon dari transportasi tersebut. Green purchasing dapat diterapkan dalam hal ini. Fungsi pembelian adalah langkah pertama dalam rantai nilai . Nankaya & Sezen, 2. Keberhasilannya akan tergantung pada integrasi upaya lingkungan, kegiatan pembelian dan tujuan lingkungan dari perusahaan. Untuk alasan ini, fungsi pembelian hijau juga merupakan komponen penting dari manajemen rantai pasokan. Atas perhatian pada sistem informasi dan sistem pembelian, kita juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Pelatihan hijau menjadi solusinya. Pelatihan hijau adalah salah satu kegiatan sumber daya manusia hijau terbesar yang signifikan untuk kinerja manajemen hijau dalam bisnis. Pelatihan lingkungan adalah teknik yang efektif untuk pengembangan sumber daya manusia (Ahakwa. Yang. Tackie, & Asamany. Penelitian (Arulrajah. Senthilnathan, & Rathnayake, 2. menunjukkan pengaruh positif green information technology terhadap kinerja lingkungan. Penelitian (Ahmed et al. , 2. juga menunjukkan pengaruh positif green information system terhadap kinerja lingkungan. Akan tetapi penelitian (Gholami. Sulaiman. Ramayah, & Molla, 2. sangat unik. Green information system dengan pengukuran product stewardship memberikan pengaruh negatif pada kinerja lingkungan, tetapi dengan pengukuran pollution prevention tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Penelitian mengenai pengaruh green purchasing terhadap kinerja lingkungan, baik oleh (Green. Zelbst. Meacham, & Bhadauria, 2. , (Younis. Sundarakani, & Vel, 2. , dan . Nankaya & Sezen, 2. menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Dari referensi yang peneliti temukan, belum didapatkan referensi mengenai pengaruh signifikan green purchasing terhadap kinerja lingkungan. Sedangkan untuk pengaruh green training terhadap kinerja lingkungan, penelitian (Ahakwa et al. , 2. dan (Sakharina et al. , 2. menunjukkan pengaruh positif, tetapi belum ada ditemukannya pengaruh negatif atau pengaruh tidak signifikan. Atas dasar fenomena dan research gap tersebut, akan menjadi penelitian yang menarik untuk membahas ketiga faktor tersebut yang dapat mempengaruhi kinerja lingkungan. Ketiga faktor ini dapat disebut sebagai Green IPT (Information system. Purchasing, and Trainin. , yang dapat mendongkrak kinerja lingkungan karena sampai saat ini masih menarik untuk dibahas. Kebaruan yang diajukan dalam penelitian ini adalah pengukuran variabel yang lebih sederhana dan pengembangan dimensi pembentuk variabel. TINJAUAN PUSTAKA Stakeholder Theory Berdasarkan teori stakeholder, manajemen organisasi diharapkan dapat melakukan kegiatan yang dianggap penting oleh pemangku kepentingan dan melaporkan kembali kegiatan tersebut kepada pemangku kepentingan. Teori pemangku kepentingan, menjelaskan bahwa manajemen organisasi diharapkan dapat melakukan kegiatan Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Lingkungan Menggunakan Green Accounting? Perspektif Generasi Z (Nicholas Renaldo. Suhardjo. Suyono. Ienne Yoseria Putri, dan Cind. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis e-ISSN 2527-8215 yang dianggap penting oleh pemangku kepentingan dan melaporkan kembali kegiatan tersebut pada pemangku kepentingan (Hariyati. Nuswantara, & Venusita, 2. Teori stakeholder mendukung strategi yang diterapkan perusahaan dapat meningkatkan keuntungan bagi pemangku kepentingan perusahaan. Keuntungan disini dapat berupa finansial maupun non-finansial seperti Information Processing Theory Dari perspektif informasi, organisasi dipandang sebagai sistem fungsional pemrosesan informasi. Untuk mencapai pemrosesan informasi yang efisien, struktur internal yang tepat diperlukan untuk mengatasi kesesuaian antara kemampuan organisasi dalam menangani informasi dan jumlah informasi yang dibutuhkan. Information Processing Theory (IPT) menyoroti dengan jelas bagaimana desain dan struktur organisasi berubah sesuai dengan kebutuhan untuk memproses sejumlah informasi tertentu selama operasinya. Menerapkan operasi ramah lingkungan tidak hanya berfokus pada pemilihan praktik yang tepat di dalam perusahaan tetapi juga mencakup pemahaman interaksi dengan pemangku kepentingan eksternal yang lebih luas seperti pihak rantai pasokan, lingkungan, masyarakat, pemerintah, dan lain-lain. Oleh karena itu, jumlah informasi yang akan dikeluarkan selama proses ini, informasi bervolume tinggi mungkin menjadi tantangan besar bagi perusahaan dengan kapasitas pemrosesan informasi yang terbatas (Liu. Wang, & Li, 2. Green information system yang dirancang dengan baik dapat memecahkan masalah ini dengan memungkinkan komunikasi yang efisien dengan berbagai pemangku kepentingan eksternal, serta kontrol dan manajemen operasi internal yang efektif. Ini juga dapat membantu secara aktif memantau jejak lingkungan operasi dan mengurangi dampak lingkungan yang merugikan secara signifikan. Oleh karena itu. IPT menawarkan wawasan yang signifikan tentang kemampuan pemrosesan informasi di bawah skenario keberlanjutan secara efektif mengelola semua pemangku kepentingan terkait lingkungan dan berbagai operasi hijau. Social Learning Theory Teori pembelajaran sosial yang diajukan oleh Albert Bandura mungkin telah menjadi teori pembelajaran yang paling berpengaruh dan telah banyak digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku organisasi. Teori ini berpendapat bahwa orang dapat mempelajari informasi dan perilaku baru dengan mengamati orang lain. Dikenal sebagai pembelajaran observasional . tau pemodela. , jenis pembelajaran ini terdiri dari empat langkah: perhatian, retensi, reproduksi, dan motivasi. Dalam organisasi, pemimpin memiliki status yang lebih tinggi, otoritas formal, dan kontrol sumber daya, dan mereka lebih mungkin menjadi panutan bagi pengikut untuk mengamati dan belajar (Su et al. , 2. Pemimpin lingkungan akan dengan jelas menjelaskan nilai-nilai lingkungan kepada pengikut dan mengambil tindakan praktis untuk menerapkan konsep perlindungan lingkungan. Perilaku tersebut menunjukkan sinyal penting kepada pengikut, yaitu praktik lingkungan didorong dalam organisasi, yang akan meningkatkan kemauan karyawan untuk berpartisipasi dalam praktik lingkungan. Selain itu, dengan menunjukkan perilaku lingkungan secara langsung, para pemimpin dapat menunjukkan kepada karyawan cara berpartisipasi dalam praktik lingkungan di tempat kerja. Terlebih lagi, pemimpin lingkungan juga akan memberi karyawan kesempatan belajar yang sesuai untuk membantu mereka meningkatkan kemampuan mereka untuk mengatasi masalah lingkungan, sehingga mempromosikan praktik lingkungan organisasi secara keseluruhan, salah satunya adalah green purchasing. Contingency Theory Teori Kontingensi adalah tidak adanya konsep atau desain organisasi yang dapat diterapkan secara universal di mana-mana atau dalam setiap kondisi secara efektif. Sebuah desain organisasi hanya sesuai atau cocok untuk konteks atau kondisi tertentu Penggunaan teori kontingensi harus mendukung peneliti untuk mengidentifikasi kondisi yang tepat untuk merancang organisasi tertentu dan mengembangkan teori yang dapat mendukungnya. Teori Kontingensi mengidentifikasi bentuk optimal untuk mengendalikan organisasi di bawah kondisi operasi yang berbeda dan mencoba menjelaskan prosedur operasi pengendalian organisasi (Hariyati et al. , 2. Pelatihan yang akan diterapkan perusahaan yang bergerak di sektor tertentu tidak dapat diterapkan secara umum. Setiap perusahaan memiliki hak untuk melakukan atau tidak melakukan pelatihan yang ada dan rigid secara teori karena perusahaan memiliki kebebasan menentukan pelatihan karyawan yang paling efektif mencapai tujuan Green Accounting Green accounting merupakan sarana pelaporan perusahaan yang terkait dengan lingkungan. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang kinerja operasional perusahaan berbasis perlindungan lingkungan. Akuntansi konvensional hanya memberikan informasi ekonomi yang bersifat keuangan kepada pemegang saham dan pemegang obligasi untuk pengambilan keputusan. Ukuran kinerja perlu ditingkatkan untuk meningkatkan Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022 e-ISSN 2527-8215 ukuran kinerja yang ada. Dampak lingkungan perlu dilaporkan sebagai bentuk tanggung jawab kepada pemangku kepentingan (Ashari & Anggoro, 2021. Sudarno et al. , 2. Kinerja Lingkungan Banyak organisasi mencari cara untuk memahami, mendemonstrasikan, dan meningkatkan kinerja lingkungan Hal ini dapat dicapai dengan mengelola secara efektif elemen-elemen kegiatan, produk, dan layanan mereka yang dapat berdampak signifikan terhadap lingkungan. Kinerja lingkungan didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk melindungi lingkungan dan untuk menunjukkan parameter operasional terukur yang berada dalam batas yang ditentukan dari perawatan lingkungan. Ukuran kinerja lingkungan yang komprehensif mencakup pengurangan insiden, peningkatan berkelanjutan, kinerja daur ulang, persepsi pemangku kepentingan, audit independen, pengurangan limbah, konsumsi sumber daya, dan penghematan biaya. Manajer memainkan peran penting dalam mencapai tujuan kinerja lingkungan melalui rekrutmen, pelatihan, penilaian, dan insentif untuk tempat kerja yang sadar lingkungan (Olayeni et al. , 2. Peningkatan kinerja lingkungan bertujuan untuk meningkatkan reputasi perusahaan, yang secara tidak langsung meningkatkan kemampuannya dalam mengelola sumber dayanya. Menggabungkan sumber daya dan kemampuan di semua bagian yang berbeda dari suatu perusahaan akan memberikan nilai tambah. Kinerja lingkungan perusahaan menjadi sangat penting karena kebutuhan untuk menyelaraskan kembali strategi perusahaan untuk mengatasi masalah lingkungan alami seperti perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, dan polusi (Fuadah. Kalsum, & Arisman, 2. Kinerja lingkungan dapat diukur dengan pengelolaan lingkungan suatu organisasi untuk tidak merusak lingkungan alam. Dalam konteks saat ini, pengelolaan lingkungan yang efektif dapat membawa perusahaan mencapai keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, kinerja lingkungan dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu organisasi yang tidak merusak lingkungan alam sebagai hasil dari kegiatan organisasi dalam menggunakan tanah dan sumber daya lainnya dan melepaskan polutan . dara, air, gas, dan lain-lai. ke alam (Arulrajah et al. , 2. Green Information System Sistem informasi hijau adalah konsekuen dari keunikan pengaturan tersebut dikembangkan oleh berbagi informasi yang merupakan keterampilan untuk sinkron membagi informasi langsung dengan orang lain. Selanjutnya kemampuan untuk secara eksplisit berbagi informasi dengan individu dengan cara yang tepat. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan segera oleh semua rekanan rantai pasokan. Secara umum, diakui bahwa jenis informasi ini sepenuhnya dapat diperoleh selama membangun sistem Enterprise Resource Planning (ERP). Selain itu, sistem informasi hijau digunakan untuk mengamati prosedur untuk menjamin stabilitas lingkungan. Sistem informasi tersebut digunakan untuk mengikuti informasi kinerja lingkungan yang mengurangi konsumsi daya, dan mengamati emisi dan menghancurkan produksi. Tambahan, sistem informasi hijau menawarkan informasi yang mendukung opsi hijau oleh individu untuk meningkatkan pengambilan keputusan oleh manajer terkait dengan masalah keberlanjutan (Ahmed et al. , 2. Sistem informasi hijau mengacu pada informasi sistem yang menangani masalah lingkungan dan mendukung atau memungkinkan inisiatif berkelanjutan. Sistem informasi hijau dipandang mampu membantu sebagian memecahkan banyak masalah lingkungan. Sistem informasi hijau sangat membantu dalam mencapai simbiosis industri yang merupakan sistem efisien yang menampilkan penggunaan kembali energi dan limbah secara mutualistik di berbagai industri dengan sangat sedikit dampak lingkungan yang merugikan (Liu et al. Green Purchasing Pembelian hijau dapat didefinisikan sebagai mengintegrasikan masalah lingkungan dan perhatian ke dalam proses pengadaan/pembelian barang. Memilih pemasok yang tepat memiliki pengaruh yang signifikan dalam mewujudkan tujuan lingkungan perusahaan. Namun, memilih pemasok yang sesuai tidak cukup dengan sendirinya untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Setelah pemasok yang sesuai telah dipilih, proses pasokan harus dikelola dengan mengadopsi pemahaman strategis dan kolaboratif dengan pemasok. Selain pemilihan dan pengelolaan pemasok, penting juga untuk menilai apakah pemasok memenuhi kriteria lingkungan perusahaan . Nankaya & Sezen, 2. Pembelian hijau dapat didefinisikan sebagai inisiatif pembelian lingkungan yang bertujuan untuk memastikan bahwa produk dan bahan yang dibeli memenuhi tujuan lingkungan yang ditetapkan oleh perusahaan pembelian seperti mengurangi sumber limbah, mendorong daur ulang, penggunaan kembali, dan penggantian bahan (Younis et al. , 2. Pembelian hijau berfokus pada kerja sama dengan pemasok untuk tujuan mengembangkan produk yang ramah lingkungan (Green et al. , 2. Green Training Pelatihan hijau adalah salah satu kegiatan sumber daya manusia hijau terbesar yang signifikan untuk kinerja manajemen hijau dalam bisnis. Pelatihan lingkungan merupakan teknik yang efektif untuk pengembangan sumber Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Lingkungan Menggunakan Green Accounting? Perspektif Generasi Z (Nicholas Renaldo. Suhardjo. Suyono. Ienne Yoseria Putri, dan Cind. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis e-ISSN 2527-8215 daya manusia. Tujuannya adalah untuk mempromosikan perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan dan kesadaran mereka, membangun sikap aktif terhadap inisiatif penghijauan dan meningkatkan pengurangan limbah dan penghematan energi (Ahakwa et al. , 2. Pelatihan hijau meningkatkan kemampuan pekerja untuk mengidentifikasi masalah terkait lingkungan, memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah sulit yang dihadapi lingkungan dan pemahaman yang efisien tentang bagaimana lingkungan dipengaruhi melalui praktik kerja mereka. Penghargaan untuk pelatihan hijau karena mendukung keterampilan pekerja untuk mengenali masalah lingkungan, mengambil keputusan yang sesuai, dan bereaksi secara tepat melalui kegiatan mereka untuk peningkatan kinerja lingkungan (Sakharina et al. Pengembangan Hipotesis Sistem informasi hijau dapat digunakan untuk mendaur ulang dan memulihkan fasilitas mengenai investasi berlebih organisasi seperti inventaris, skrap, dan peralatan modal berlebih lainnya. Berdasarkan IPT, kapasitas pemrosesan informasi yang ditingkatkan dapat memungkinkan informasi dikumpulkan, dibagikan, dan disintesis dengan segera ke seluruh organisasi. Hal ini akan dapat meningkatkan kinerja lingkungan suatu organisasi. Berbagai studi empiris juga menemukan bahwa sistem informasi hijau berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan (Ahmed et al. , 2019. Arulrajah et al. , 2020. Liu et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1: Green information system berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan. Inisiatif dari supplier yang menerapkan praktik green sangat diperlukan apabila kita ingin menjaga lingkungan alam. Organisasi harus selektif dalam memilih supplier sehingga produk yang ditawarkan organisasi kepada konsumen juga terjaga kualitasnya. Berbagai studi empiris masih belum menemukan pengaruh positif yang signifikan green purchasing terhadap kinerja lingkungan, tetapi penelitian (Younis et al. , 2. menunjukkan pengaruh positif yang tidak signifikan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H2: Green purchasing berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan. Rencana strategis yang ditetapkan oleh organisasi mempengaruhi bagaimana organisasi melatih Penerapan pelatihan hijau memberikan peluang yang mendorong pengembangan perusahaan dan meminimalkan ancaman lingkungan dalam kegiatan operasional. Berbagai studi empiris juga menemukan bahwa pelatihan hijau berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan (Ahakwa et al. , 2021. Sakharina et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H3: Green training berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan. Kerangka Pemikiran Berdasarkan pengembangan hipotesis, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Hijau Variabel Independen Green Information System (GIS) H1 ( ) Variabel Dependen Green Purchasing (GP) H2 ( ) Environmental Performance (EP) H3 ( ) Green Training (GT) Variabel Kontrol GPA Status (Sta. Semester (Se. Sumber: Elaborasi berbagai artikel penelitian, 2022 Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022 e-ISSN 2527-8215 METODOLOGI PENELITIAN Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah para mahasiswa yang mengambil kuliah di Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia. Dengan adanya empat buah variabel, maka jumlah sampel minimum menurut (Bujang. SaAoat, & Sidik, 2. adalah minimal 12 responden. Sedangkan menurut (Hair. Black. Babin, & Anderson, 2. , rule of thumb adalah sepuluh kali jumlah variabel bebas, yakni tiga variabel kali sepuluh, hasilnya minimal 30 responden. Penelitian ini menggunakan 69 repsonden sebagai sampel penelitian sehingga sudah memenuhi ketentuan minimum sampel pengamatan. Defenisi Operasional Variabel Penelitian ini menggunakan pertanyaan sederhana berupa AuPenerapan green information system penting dalam organisasiAy. AuPenerapan green purchasing penting dalam organisasiAy. AuPenerapan green training penting dalam organisasiAy, dan AuKinerja lingkungan penting dalam organisasiAy dengan enam tingkat skala pengukuran mulai dari 1 . angat tidak setuj. sampai dengan 6 . angat setuj. Penelitian ini juga akan mengembangkan dimensi dan indikator masing-masing variabel. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden. Kemudian dilanjutkan dengan uji asumsi klasik seperti uji linieritas . ji F yang signifikan (Sureiman & Mangera, 2. ), uji normalitas . ji Kolmogorov-Smirnov dengan ketentuan tidak signifikan (Razali & Wah, 2. ), uji multikolinieritas . ilai VIF dibawah 10 (Raheem. Udoh, & Gbolahan, 2. ), dan uji heteroskedastisitas . ji glejser yang tidak signifikan (Machado & Silva, 2. Uji autokolerasi tidak diperlukan karena ini adalah data cross-section. Apabila menggunakan statistik paramterik dan data tidak berdistribusi normal, maka akan menggunakan statistik non-parametrik dengan bantuan aplikasi SMART PLS. Kemudian dilanjutkan dengan analisis regresi linier berganda. Persamaan pertama yang dibentuk adalah sebagai EP = a1 b1GIS b2GP b3GT e1 Sedangkan persamaan kedua diuji dengan menambahkan karakteristik responden sebagai variabel kontrol. Tujuannya adalah untuk mengetahui model manakah yang paling tepat untuk mengukur kinerja lingkungan berdasarkan prespektif generasi Z. Adapun persamaan kedua yang dibentuk adalah sebagai berikut. EP = a2 b4GIS b5GP b6GT b7GPA b8Stat b9Sem e2 Keterangan: : Environmental Performance / Kinerja Lingkungan GIS : Green Information System / Sistem Informasi Hijau : Green Purchasing / Pembelian Hijau : Green Training / Pelatihan Hijau GPA : Indeks Prestasi Kumulatif Stat : Status Pekerjaan Sem : Tingkatan Semester a1 & a2 : Konstanta regresi b1Ab9 : Koefisien regresi e1 & e2 : Error Koefisien Determinasi Koefisien determinasi menunjukkan proporsi varians dan variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen secara bersama-sama. Semakin tinggi nilai R2 . maka agregasi persamaan regresi semakin baik, karena tingkat ketepatan variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat semakin tinggi (Yusrizal. Renaldo, & Hasri, 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap dependen (Suyono et , 2. Hipotesis akan diterima ketika nilai signifikansi lebih kecil daripada nilai alfa yang ditetapkan (Hafni, et al. , 2. Nilai alfa yang ditetapkan adalah 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Statisitk deskriptif diperlukan untuk mengetahui karakteristik responden sehingga Peneliti dapat menafsirkan hasil penelitian dengan lebih baik. Analisa statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel 1. Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Lingkungan Menggunakan Green Accounting? Perspektif Generasi Z (Nicholas Renaldo. Suhardjo. Suyono. Ienne Yoseria Putri, dan Cind. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis e-ISSN 2527-8215 Tabel 1. Statistik Deskriptif Karakteristik Responden Karakteristik Responden Jumlah Usia dibawah 20 tahun 50,7% 43,5% diatas 24 tahun 5,8% GPA Dibawah 2,0 4,3% 2,1 sampai dengan 2,5 4,3% 2,6 sampai dengan 3,0 0,0% 3,1 sampai dengan 3,5 20,3% 3,6 sampai dengan 4,0 71,0% Sumber: Hasil olahan data, 2022 Karakteristik Responden Status Belum bekerja Sudah bekerja Wirausaha Semester Semester 1 Semester 3 Semester 5 Semester 7 Jumlah 20,3% 78,3% 1,4% 0,0% 50,7% 1,4% 47,8% Berdasarkan tabel 1, terlihat para generasi Z di lingkungan kampus Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia didominasi usia dibawah 20 tahun. Generasi Z di lingkungan kampus memiliki indeks prestasi kumulatif yang cukup tinggi, dimana 71 persen berada pada interval 3,6 sampai dengan 4,0. Generasi Z pada lingkungan kampus didominasi oleh mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Kebanyakan mahasiswa yang menjadi responden berasal dari tingkatan semester tiga. Dari data karakteristik tersebut, dapat dilihat bahwa mereka sudah memumpuni untuk menjadi responden karena berdasarkan usia, indeks prestasi, pengalaman kerja, dan tingkatan semester, mereka setidaknya telah menguasai sistem informasi pada komputer, mempelajari manajemen pemasaran dan sumber daya manusia, serta dasar akuntansi. Analisis Regresi Linier Berganda Berdasarkan hasil uji menggunakan statistik parametrik, diketahui data tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, digunakan statistik non-parametrik untuk mengatasi hal ini. Hasil analisis terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Model 1 Hipotesis Model Original Sample T Statistics P Values VIF Adjusted R Square GIS > EP 0,514 2,936 0,003 2,342 GP > EP 0,226 1,191 0,234 1,685 0,417 GT > EP -0,020 0,091 0,928 1,973 Sumber: Hasil olahan data, 2022 Berdasarkan tabel 2, dapat dibentuk persamaan model 1 sebagai berikut. EP = 0,514GIS 0,226 GP Ae 0,020GT Ketika Green Information System ditingkatkan satu satuan, maka kinerja lingkungan akan meningkat 0,514 satuan. Ketika Green Purchasing ditingkatkan satu satuan, maka kinerja lingkungan akan meningkat 0,226 Ketika Green Training ditingkatkan satu satuan, maka kinerja lingkungan akan turun 0,020 satuan. Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Model 2 Hipotesis Model Original Sample T Statistics P Values VIF Adjusted R Square GIS > EP 0,483 2,736 0,006 2,559 GP > EP 0,246 1,127 0,260 1,800 GT > EP 0,018 0,071 0,944 2,112 0,411 GPA > EP 0,021 0,183 0,855 1,080 Status > EP -0,146 1,458 0,145 1,074 Semester > EP -0,016 0,178 0,859 1,056 Sumber: Hasil olahan data, 2022 Berdasarkan tabel 3, untuk tiga variabel utama, hanya green training yang mengalami perubahan arah dari negatif menjadi positif. Asumsi klasik yang digunakan ketika mengolah data menggunakan SMART PLS adalah multikolinieritas dengan syarat nilai VIF dibawah 10. Karena kedua model sudah memenuhi asumsi ini, maka dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya. Koefisien Determinasi Nilai adjusted R square pada model 1 sebesar 0,417. Ini berarti pengaruh green information system, green purchasing, dan green training terhadap kinerja lingkungan sebesar 41,7 persen, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian. Sedangkan pada model 2 nilainya adalah 0,411. Meskipun model 2 memiliki 6 variabel prediktor, akan tetapi model 1 tetap lebih baik dalam menjelaskan perubahan pada kinerja lingkungan. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022 e-ISSN 2527-8215 Uji Hipotesis Berdsarkan tabel 2, nilai P Values variabel GIS lebih rendah dari 0,05 sehingga hipotesis pertama diterima. Variabel GP memiliki P Values lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis kedua gagal diterima. Variabel GT memiliki P Values lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis ketiga gagal diterima. Hasil ini konsisten untuk model 1 dan model 2. Sedangkan untuk variabel control, meskipun GPA. Status, dan Semester tidak dihipotesiskan, ketiga variabel ini masing-masing tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Pembahasan Green information system memberikan pengaruh positif terhadap kinerja lingkungan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ahmed et al. , 2. , (Liu et al. , 2. , dan (Arulrajah et al. , 2. tetapi tidak sejalan dengan penelitian (Gholami et al. , 2. Dengan adanya suatu sistem yang mendukung kinerja lingkungan, tentu ini akan menjadi roda penggerak bagi perusahaan untuk mengembangkan sistem tersebut. Semakin cepat sistem ini diterapkan, semakin cepat juga peningkatan kinerja lingkungan. Pengaruh green information system terhadap kinerja lingkungan sejalan dengan stakeholder theory dan information processing theory. Dengan sistem yang berjalan, informasi dapat diproses lebih cepat dan akan diterima oleh pemangku kepentingan lebih cepat juga sehingga dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk mencapai keunggulan kompetitif perusahaan. Informasi adalah senjata yang sangatlah kuat untuk menghadapi persaingan pasar. Perspektif generasi Z ini mengandalkan teknologi yang memumpuni untuk mencapai keunggulan pasar. Green purchasing tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Green et al. , 2. , (Younis et al. , 2. , dan . Nankaya & Sezen, 2. Berdasarkan penelitian terdahulu yang ditemukan ditambah dengan hasil penelitian, salah satu indikator green supply chain management ini masih konsisten tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Hal ini dapat disebabkan karena green purchasing ini memiliki banyak kegiatan yang dapat dikatakan menjadi beban perusahaan sehingga terkesan membuang waktu perusahaan. Padahal jika dapat diterapkan, keunggulan kompetitif perusahaan dapat meningkat melalui kinerja lingkungan. Pengaruh green purchasing terhadap kinerja lingkungan sejalan dengan stakeholder theory dan social learning theory. Manajemen cenderung meniru apa yang dilakukan oleh perusahaan sekitarnya sehingga apa yang sering dilakukan pihak lain . eskipun tidak diketahui benar atau sala. , akan tetap ditiru, termasuk oleh para pemangku kepentingan. Perspektif generasi Z masih belum memikirkan pentingnya tindakan green purchasing dalam transaksi pembelian barang karena mereka sangat memanfaat sistem informasi untuk membeli barang yang dibutuhkan secara online dan masih belum memikirkan bahwa jarak pengantaran produk dengan alat transportasi . misi karbon yang meningkat seiring bertambahnya jarak apabila menggunakna kendaraan dengan bahan bakar minya. dapat merusak lingkungan. Green training tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian (Ghouri. Mani. Khan. Khan, & Srivastava, 2. , (Sakharina et al. , 2. , dan (Ahakwa et al. , 2. Menurut para generasi Z, pelatihan tenaga kerja memang diperlukan, tetapi masih belum memikirkan dari aspek Ini perlu untuk ditegaskan bahwa green training dan training adalah hal yang berbeda. Green training fokus pada aspek lingkungan sehingga karyawan yang dilatih akan lebih peduli terhadap lingkungan dan juga akan terbiasa untuk lebih hemat energi. Pengaruh green training terhadap kinerja lingkungan sejalan dengan stakeholder theory dan contingency theory. Para pemangku kepentingan akan menerapkan sistem yang mereka anggap baik untuk perusahaan mereka. Ketika mereka beranggapan bahwa konsep green kurang diperlukan, maka akan menjadi ciri khas perusahaan dan akan berbeda untuk setiap orang. Meskipun GPA. Status, dan Semester dari generasi Z tidak dihipotesiskan. Peneliti mencoba untuk membahas makna dari perspektif mereka. Peningkatan GPA akan meningkatkan pemahaman akan kinerja Ini berarti ilmu yang mereka pelajari di era virtualisasi ini dapat mendongkrak pemahanan yang lebih ramah lingkungan. Sedangkan status pekerjaan dan tingkat semester, dimana semakin tinggi akan semakin kurang dalam pemahaman konsep lingkungan. Ini berarti seiring bertambahnya tingkatan semester dan ketika sudah membuka usaha sendiri, sudah tidak terlalu mementingkan lingkungan lagi. Hal ini dapat disebabkan karena mereka fokus pada kinerja keuangan saja karena sadar keuangan lebih penting daripada lingkungan. Dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa generasi Z ini memang mendukung adanya pemanfaatan green information system untuk peningkatan kinerja lingkungan, tetapi belum mendukung sepenuhnya pada green purchasing dan green training. Setiap aspek green accounting ini sangatlah diperlukan untuk mencapai kinerja lingkungan yang keberlanjutan, baik generasi Z. Y . X, baby boomers, dan generasi lainnya yang akan muncul di masa depan. Pada dasarnya generasi Z sudah memahami pentingnya lingkungan . erutama dalam penerapan sistem teknologi informas. tetapi masih belum paham dalam metode aplikasi manajemen, salah satunya green purchasing dan green training. Pengembangan Dimensi dan Indikator Variabel Pengembangan dimensi dan indikator diperlukan sebagai acuan untuk penelitian berikutnya. Tabel 4 menyajikan dimensi, indikator, dan sumber yang dapat digunakan sebagai referensi penelitian berikutnya. Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Lingkungan Menggunakan Green Accounting? Perspektif Generasi Z (Nicholas Renaldo. Suhardjo. Suyono. Ienne Yoseria Putri, dan Cind. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis e-ISSN 2527-8215 Tabel 4. Pengembangan Dimensi dan Indikator Variabel Atribut Dimensi Indikator Green Information System GIS1 Perusahaan menerapkan sistem tanpa kertas dan mengurangi pekerjaan di kertas GIS2 Perusahaan tertarik untuk membeli komputer, printer, dan peralatan lainnya yang hemat energi GIS3 Berlatih cloud computing seperti sistem online, seluler, mudah, aplikasi mandiri, otomatisasi, dan lain-lain GIS4 Perusahaan mengadopsi pusat data hijau/manajemen data hemat GIS5 Teknologi Perusahaan meningkatkan efisiensi dan efektivitas melalui Informasi* virtualisasi dan digitalisasi GIS6 Jaringan hemat energi dan ada efisiensi tinggi dalam pemanfaatan energi perusahaan GIS7 Perusahaan mengurangi jumlah server/komputer yang diperlukan dan mengadopsi penggunaan sumber daya komputasi yang efisien seperti teknologi konsolidasi server GIS8 Perusahaan mengadopsi sistem inti untuk sebagian besar database GIS9 Perusahaan mendaur ulang limbah elektronik secara efektif GIS10 Perusahaan menggunakan sistem dan pemrosesan real-time GIS11 Perusahaan memiliki sistem formal mengenai perbaikan lingkungan dalam operasi GIS12 Perusahaan memiliki departemen formal yang bertanggung jawab untuk urusan lingkungan GIS13 Praktik dan langkah-langkah dalam sistem mengenai praktik hijau tersedia secara luas Sistem Informasi* Perusahaan secara resmi melacak dan melaporkan kinerja GIS14 GIS15 Perusahaan secara teratur melacak, memantau, dan berbagi informasi lingkungan di dalam perusahaan GIS16 Perusahaan memiliki database yang dikembangkan dengan baik untuk melacak dan memantau masalah lingkungan Green Purchasing GP1 Perusahaan memberikan spesifikasi desain kepada pemasok yang mencakup persyaratan lingkungan untuk barang yang dibeli Aspek GP2 Perusahaan melakukan kerjasama dengan pemasok untuk tujuan Sosial* GP3 Perusahaan memilih pemasok berdasarkan kriteria lingkungan GP4 Perusahaan memastikan sertifikasi ISO14000 pemasok GP5 Perusahaan melakukan audit lingkungan untuk manajemen Evaluasi* internal pemasok GP6 Perusahaan melakukan evaluasi praktik ramah lingkungan pemasok lapis kedua Green Training GT1 Perusahaan memberikan pelatihan lingkungan kepada anggota Sadar dan organisasi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan Butuh* GT2 Perusahaan mempertimbangkan kebutuhan masalah lingkungan saat kebutuhan pelatihan dianalisis GT3 Perusahaan mengikuti program Induksi yang menekankan pada masalah lingkungan GT4 Semua materi pelatihan tersedia online bagi karyawan untuk mengurangi biaya kertas GT5 Pelatihan lingkungan adalah prioritas jika dibandingkan dengan Program* jenis pelatihan perusahaan lainnya GT6 Perusahaan mengembangkan program pelatihan dalam manajemen lingkungan untuk meningkatkan kompetensi Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022 Sumber (Arulrajah et , 2. (Liu et al. Sudarno et al. , 2. Nankaya & Sezen, 2019. Sudarno et al. (Younis et al. (Ghouri et al. (Islam. Jantan. Yusoff. Chong, & Hossain, 2. e-ISSN 2527-8215 Atribut EP1 EP2 EP3 Dimensi Internal* EP4 EP5 EP6 Eksternal* Indikator Environmental Performance Kami selalu mematuhi peraturan lingkungan Kami membantu organisasi dalam mengurangi krisis lingkungan Kami selalu berusaha untuk membatasi dampak lingkungan di luar kepatuhan terhadap peraturan Karyawan dan masyarakat selalu teredukasi dan tercerahkan tentang lingkungan hijau Perusahaan melakukan lebih baik daripada perusahaan saingan Produk/layanan perusahaan lebih ramah lingkungan dibandingkan produk sejenis dari perusahaan pesaing Sumber (Olayeni et al. (Petera. Wagner, & Pakiovy, *) Kebaruan dengan membentuk dimensi variabel Sumber: Elaborasi Artikel dan Peneliti, 2022 Seluruh indikator yang Peneliti temukan sudah sangat baik, akan tetapi belum memiliki dimensi yang Peneliti menambahkan dimensi-dimensi sesuai dengan sifat dari indikatornya. Dari hal ini akan menjadi peluang untuk pengembangan dimensi baru atau penambahan indikator baru per dimensinya. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis, maka kesimpulan dari artikel ini adalah green information system berpengaruh postiif terhadap kinerja lingkungan, sedangkan green purchasing dan green training masing-masing tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja lingkungan. Variabel green information system memberikan pengaruh terbesar terhadap kinerja lingkungan. Ini berarti semakin cepat dalam pemanfaatan sistem informasi, sistem yang baik dibutuhkan untuk mencapai kinerja lingkungan yang optimal. Perspektif generasi Z masih mengutamakan sistem teknologi dan informasi, tetapi belum terlalu memperhatikan konsep green accounting lainnya. Keterbatasan penelitian ini adalah hasil yang masih belum sesuai dengan ekspektasi Peneliti, dimana masih ada dua variabel utama yang tidak berpengaruh signifikan. Diharapkan penelitian berikutnya dapat menggabungkan perspektif berbagai generasi sehingga hasil penelitian akan lebih beragam. Penelitian berikutnya juga diharapkan dapat menggunakan variabel green accounting lainnya serta mengembangkan dimensi dan indikatornya dengan lebih baik. DAFTAR RUJUKAN Ahakwa. Yang. Tackie. , & Asamany. Green Human Resource Management Practices and Environmental Performance in Ghana: The Role of Green Innovation. SEISENSE Journal of Management, 4. , 100Ae119. https://doi. org/10. 33215/sjom. Ahmed. Khan. Paul. , & Kazmi. Role of Green Information System and Information Cycle in Environmental Performance. In Proceedings ofthe Twelfth International Conference on Management Science and Engineering Management . 465Ae. Springer International Publishing. https://doi. org/10. 1007/978-3-319-93351-1_37 Arulrajah. Senthilnathan. , & Rathnayake. Green information technology and environmental performance of the banks. Journal of Governance and Regulation, 9. , 27Ae39. https://doi. org/10. 22495/jgrv9i3art2 Ashari. , & Anggoro. How is the implementation of green accounting in public hospital? Journal of Islamic Accounting and Finance Research, 3. , 131Ae154. https://doi. org/10. 21580/jiafr. Bujang. SaAoat. , & Sidik. Determination of Minimum Sample Size Requirement for Multiple Linear Regression and Analysis of Covariance Based on Experimental and Non-experimental Studies. Epidemiology Biostatistics Public Health, 14. , e12117-1-e12117-9. https://doi. org/10. 2427/12117 yNankaya. , & Sezen. Effects of green supply chain management practices on sustainability Journal Manufacturing Technology Management, 30. , 98Ae121. https://doi. org/10. 1108/JMTM-03-2018-0099 Chandra. Renaldo. , & Putra. Stock Market Reaction towards SPECT Events using CAPM Adjusted Return. Opciyn. Ayo 34(Especial No. , 338Ae374. Fuadah. Kalsum. , & Arisman. Determinants Factor Influence Environmental Management Accounting and Corporate Environmental Performance: Evidence in Indonesia. Journal of Southwest Jiaotong University, 56. , 582Ae601. Gholami. Sulaiman. Ramayah. , & Molla. Senior managersAo perception on green information systems (IS) adoption and environmental performance: Results from a field survey. Information & Management, 50. , 431Ae438. https://doi. org/10. 1016/j. Ghouri. Mani. Khan. Khan. , & Srivastava. Enhancing business performance Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Lingkungan Menggunakan Green Accounting? Perspektif Generasi Z (Nicholas Renaldo. Suhardjo. Suyono. Ienne Yoseria Putri, dan Cind. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis e-ISSN 2527-8215 through green human resource management practices: an empirical evidence from Malaysian manufacturing International Journal of Productivity and Performance Management, 69. , 1585Ae1607. https://doi. org/10. 1108/IJPPM-11-2019-0520 Green. Zelbst. Meacham. , & Bhadauria. Green supply chain management practices: Supply Chain Management, 17. , 290Ae305. https://doi. org/10. 1108/13598541211227126 Hafni. Renaldo. Chandra. , & Thaief. The Use of Regression Models with Supply Chain Management to Increase Financial Satisfaction of Generation Z. International Journal of Supply Chain Management, 9. , 1641Ae1650. Hair. Black. Babin. , & Anderson. Multivariate Data Analysis (Eight. Hampshire: Cengage. https://doi. org/10. 1002/9781119409137. Hariyati. Nuswantara. , & Venusita. Mediation Effect of Environmental Performance : The Relations with Green Innovation Strategy and Business Performance. International Journal of Economics. Business and Management Research, 4. , 199Ae217. Islam. Jantan. Yusoff. Chong. , & Hossain. Green Human Resource Management (GHRM) Practices and Millennial EmployeesAo Turnover Intentions in Tourism Industry in Malaysia: Moderating Role of Work Environment. Global Business Review, (April 2. , 1Ae21. https://doi. org/10. 1177/0972150920907000 Liu. Wang. , & Li. The Antecedents of Green Information System and Impact on Environmental Performance. International Journal of Services. Economics and Management, 9. , 111Ae124. https://doi. org/10. 2139/ssrn. Machado. , & Silva. GlejserAos test revisited. Journal of Econometrics, 97. , 189Ae202. https://doi. org/10. 1016/S0304-4076. Nyoto. Renaldo. Karuppannan. Bhuiyan. , & Kumarasamy. The Determinance of the Financial Behavior among Graduate Students in Indonesia. Australian Finance & Banking Review, 5. , 29Ae42. https://doi. org/https://doi. org/10. 46281/afbr. Olayeni. Ogbo. Okwo. Chukwu. Ifediora. , & Ezenwakwelu. Green Strategy Effect on Financial and Environmental Performance: A Mediation Analysis of Product Quality. Sustainability, 13. , 1Ae17. https://doi. org/10. 3390/su13042115 Petera. Wagner. , & Pakiovy. The influence of environmental strategy, environmental reporting and environmental management control system on environmental and economic performance. Energies, 14. https://doi. org/10. 3390/en14154637 Raheem. Udoh. , & Gbolahan. Choosing Appropriate Regression Model in the Presence of Multicolinearity. Open Journal of Statistics, 09. , 159Ae168. https://doi. org/10. 4236/ojs. Razali. , & Wah. Power Comparisons of Shapiro-Wilk. Kolmogorov-Smirnov. Lilliefors, and Anderson-Darling Tests. Journal of Statistical Modeling and Analysis, 2. , 21Ae33. Renaldo. Sudarno, & Hutahuruk. The Improvement of Generation Z Financial Well-being in Pekanbaru. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 22. , 142Ae151. https://doi. org/10. 9744/jmk. Sakharina. Kadarudin. Patittingi. Hasrul. Latif. , & Palutturi. The impact of green human resource practices on environmental performance. Polish Journal of Management Studies, 22. , 470Ae486. https://doi. org/10. 17512/pjms. Su. Xu. Lin. Chen. Liu. , & Xu. Environmental Leadership. Green Innovation Practices. Environmental Knowledge Learning, and Firm Performance. SAGE Open, 10. , 1Ae14. https://doi. org/10. 1177/2158244020922909 Sudarno. Renaldo. Hutahuruk. Suhardjo. Suyono. Putri. , & Andi. Development of Green Trident Measurements to Improve Environmental Performance: Literature Study. International Journal of Advanced Multidisciplinary Research and Studies, 2. , 53Ae57. Sureiman. , & Mangera. F-test of Overall Significance in Regression Analysis Simplified. Journal of the Practice of Cardiovascular Sciences, 6. , 116Ae122. https://doi. org/10. 4103/jpcs. jpcs_18_20 Younis. Sundarakani. , & Vel. The impact of implementing green supply chain management practices on corporate performance. Competitiveness Review, 26. , 216Ae245. https://doi. org/10. 1108/CR04-2015-0024 Yusrizal. Renaldo. , & Hasri. Pengaruh Good Governance dan Whistleblowing System terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Risiko Sanksi Pajak sebagai Moderasi di KPP Pratama Pekanbaru Tampan. Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi, 5. , 119Ae134. Kurs : Jurnal Akuntansi. Kewirausahaan dan Bisnis--- Vol. 7 No. Desember 2022