Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol. 14 No. 1 Februari 2021 ISSN . 1979-1534 ISSN . 2745-8695 Hal. 77 : 86 ANALISIS SAFETY RISK MANAGEMENT PADA KEGIATAN PRAKTIKUM TARUNA TEKNIK PESAWAT UDARA DI POLITEKNIK PENERBANGAN INDONESIA Bhima Shakti Arrafat Politeknik Penerbangan Indonesia Curug e-mail: bhima. shakti@ppicurug. Abstrak: Setiap aktivitas praktikum yang dilakukan oleh taruna pada program studi teknik pesawat udara, maka aktivitas tersebut memiliki risiko yang perlu tindakan mitigasi. Dalam safety risk management mengharuskan program studi untuk melakukan penilaian risiko yang dapat terjadi dari suatu aktivitas dengan menggunakan hazard identification, risk assessment and Dengan mengidentifikasi jenis hazard, menilai risiko, mendapatkan hasil berupa risk matrix dan risk level dan mengidentifikasi tindakan mitigasi yang dapat dilakukan dan diterima. Selanjutnya menghasilkan dokumen hazard identification and risk assessment & mitigation (HIRAM), serta pengendalian risiko sampai pada tingkat acceptable dan tolerable dengan tindakan mitigasi. Safety risk management yang menjadi salah satu standard penerapan safety management system di Program Studi Teknik Pesawat Udara dapat Kata Kunci: hazard identification, mitigation, risk assessment, safety management system, safety risk management. Abstract: Every practical activity carried out by student at Aircraft Engineering Departement, then these activities have risks that need mitigation In safety risk management requires departement to conduct an assessment of the risks that can occur from an activity using hazard identification, risk assessment and mitigation. By identifying types of hazards, assessing risks, getting results in the form of risk matrix and risk level and identifying mitigation actions that can be taken and accepted. Furthermore, it produces hazard identification and risk assessment & mitigation (HIRAM) documents, and controls risks to acceptable and tolerable levels with mitigation measures. Safety risk management which is one of the standards in implementing safety management system in Aircraft Engineering Departement can be fulfilled. http://journal. id/index. php/jurnal-langit-biru Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol. 14 No. 1 Februari 2021 ISSN . 1979-1534 ISSN . 2745-8695 Keyword: hazard identification, mitigation, risk assessment, management system, safety risk management Pendahuluan Program Studi Teknik Pesawat Udara merupakan salah satu unit yang terdapat di Politeknik Penerbangan Indonesia. Program Studi Teknik Pesawat Udara sudah mendapatkan approval dari DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan Pengoperasian Pesawat Udar. yaitu AMTO No. 147D03. Program Studi Teknik Pesawat Udara memiliki 59 ruangan dan beberapa area classroom, laboratory, workshop, store, public facility, toilet, apron dan floor. Secara alamiah, area dan ruanganruangan tersebut memiliki potensi terjadinya kecelakaan dalam bekerja, sehingga perlunya penerapan safety management system (SMS). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 2009 tentang penerbangan dan Peraturan Menteri Pehubungan Republik Indonesia No. PM 62 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 19 (Civil Aviation Safety Regulations Part . tentang Sistem Manajemen Keselamatan (Safety Management Syste. , bahwa setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat, melaksanakan, mengevaluasi, keselamatan . afety management syste. dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional. Safety management system yang diterapkan di Program Studi Teknik Pesawat Udara terimplementasikan sesuai dengan yang tertulis pada SMS manual Teknik Pesawat Udara, khususnya dalam safety risk management yang berfungsi untuk mengelola risiko yang ada dalam sebuah Oleh karena itu dibutuhkan pengendalian risiko keselamatan . afety risk managemen. terhadap kondisi . isalnya aktifitas atau kegiata. atau obyek yang dilakukan pada hangar area di Program Studi Teknik Pesawat Udara, yang dimulai dengan mengidentifikasi hazards . , kemudian menilai risks . yang dapat ditimbulkan hazards tersebut untuk mengetahui tingkat probability dan severity Ae nya, dan kemudian melakukan tindakan pencegahan atau mitigasi agar tingkat risiko dari harms yang ditimbulkan masih dalam angka yang masih dapat diterima . cceptable leve. Metode Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Peneliti akan menggunakan data kualitatif yang penulis dapatkan dari hasil observasi langsung ke lapangan, berdasarkan lembar observasi dan diisi oleh peneliti sendiri di hangar dan menggunakan data dari studi pustaka yang memiliki hubungan dengan tema yang diambil oleh peneliti. Metode kuantitatif ditunjukan untuk mendapatkan dan mengetahui nilai objek penelitian dari kondisi real sesuai di lapangan. Kategori sifat dari penelitian ini adalah deskriptif Analisis Safety Risk Management pada Kegiatan Praktikum Taruna Teknik Pesawat Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih . tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang Data hasil observasi akan dipergunakan untuk menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dengan menggunakan metode HIRA (Hazard Identfication and Risk Assessmen. yang hazards, menilai risiko, dan kemudian Langkah selanjutnya adalah pembuatan tabel HIRAM (Hazard Identification. Risk Assessment and Mitigatio. yang akan memberikan suatu bentuk pencegahan . atau preventive action untuk meminimalisir risk yang ada di Program Studi Teknik Pesawat Udara sampai pada tingkat yang dapat diterima. Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini, metode dalam pengumpulan data yaitu dengan cara: Obsevasi . Mengumpulkan data atau keterangan yang harus dijalankan dengan langsung ke tempat yang akan Penulis akan mencatat bahaya yang teridentifikasi dan perhitungan risiko. Wawancara . Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit. Peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur, pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garisgaris besar permasalahan yang akan Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden. Berdasarkan jawaban dari responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan pertanyaan yang lebih terarah pada suatu tujuan. Dalam wawancara ini, peneliti lebih memfokuskan pada hal mitigasi yang telah dilakukan dari bahaya-bahaya yang ada. Dokumentasi Dokumentasi (Studi Kepustakaan atau Library Researc. adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subyek penulisan melainkan dengan cara memperoleh data yang memuat masalah Safety Management System dari sumber lain, seperti dari dokumen lnternational Civil Aviation Organization (ICAO), annex, buku ilmu pengetahuan, literatur, laporan kerja, dan lain-lain. Dokumentasi juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan kamera untuk bahaya apa saja yang ada. Dalam teknik pengumpulan data pada menggunakan instrument bantuan yaitu berupa lembar observasi. Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol. 14 No. 1 Februari 2021 ISSN . 1979-1534 ISSN . 2745-8695 Lembar observasi digunakan sebagai pedoman peneliti dalam melakukan pengamatan terhadap kondisi tempat atau ruangan yang akan diteliti di Program Studi Teknik Pesawat Udara. Dalam penggunaan lembar ini agar peneliti lebih terfokus pada permasalahan pada saat melakukan Lembar observasi ini berupa check list yang mengadopsi pada check list Ergonomic Checkpoint. Ergonomic Checkpoint ILO (International Labour Offic. dan IEA (International Ergonomic Associatio. pada tahun 2010. Check list dari ILO dan IEA yang berjumlah 132 butir, disesuaikan dengan kondisi yang ada di tempat atau ruangan pengurangan dan penambahan isi Pengurangan penambahan pernyataan ini masih dalam koridor penyataan ILO dan IEA, tetapi disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. dengan metode HIRA serta dengan tindakan pencegahannya . Dengan pelaksanaannya sudah harus dimulai sejak tahap pengumpulan data di lapangan kemudian dianalisis secara Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model Miles dan Huberman. Proses analisis model Miles dan Huberman terdiri dari tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Metode Analisis Data Pada tahap metode penelitian ini akan dijelaskan secara ringkas tentang teknik analisis data sebagai metode yang digunakan untuk dapat menyelesaikan permasalahan sehingga akan didapatkan suatu pembahasan yang mudah untuk dilakukan analisis dan memiliki struktur, rinci dan tahapan standard yang jelas. Setiap proses tahapan pada metode penelitian ini sangatlah penting agar dapat terhubung kepada tahapan Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Penyajian Data Penyajian data dalam penelitian ini Hazard Identification. Risk Assessment and Mitigation (HIRAM). Dimana data yang telah direduksi akan dibuat dalam tabel HIRAM. Yang akan disajikan pada tabel HIRAM yaitu variable berupa software, hardware, environment dan liveware, isi dari tabel HIRAM itu sendiri yaitu Hazards Description. Consequences. Exiting Mitigation. Probability. Severity. Risk Index Acceptability,Mitigation Plan. Reduksi Data Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah gambaran yang lebih jelas dan Analisis Safety Risk Management pada Kegiatan Praktikum Taruna Teknik Pesawat Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia Expected Risk Acceptability. Index HIRA terisi merupakan kesimpulan yang bersifat sementara. Jika kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal sudah didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten, kemukakan adalah kesimpulan yang kredibel dan terpercaya. Penarik Kesimpulan Setelah data pada penelitian direduksi dan disajikan dalam tabel HIRA, langkah selanjutnya adalah menarik Kesimpulan yang ditarik setelah tabel Diskusi Identifikasi Bahaya (Hazard Identificatio. Tabel 1. Identifikasi bahaya di Welding Workshop No. Bahaya Konsekuensi Menghubungkan Gas Metal Arc Welding ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tersengat listrik Prosedur Kerja Penggunaan Nitrogen tanpa melihat ceklist Tabung Nitrogen rusak. Prosedur Kerja Alat pemadam kebakaran expired Tidak dapat digunakan secara maksimal jika terjadi kebakaran Peralatan Melakukan aktifitas welding tanpa alat pelindung yang diharuskan. Kulit terbakar. Peralatan Asap yang dihasilkan pada saat aktifitas welding berlangsung tanpa dilengkapi ventilasi ruangan workshop yang memadai. Sesak nafas Lingkungan Fasilitas Pencahayaan yang kurang Terganggunya Lingkungan Fasilitas Iritasi Keterangan Tabel 2. Identifikasi bahaya di Painting Workshop No. Bahaya Konsekuensi Keterangan Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tersengat listrik Prosedur Kerja Sisa thinner dan cat yang berserakan Terpeleset jatuh Prosedur Kerja Melakukan aktifitas painting pelindung yang diharuskan. tanpa alat Iritasi kulit, sesak nafas, iritasi mata, pusing Peralatan Tidak adanya wadah pembuangan material khusus untuk sisa Ae sisa Pencemaran lingkungan. Lingkungan Fasilitas Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol. 14 No. 1 Februari 2021 ISSN . 1979-1534 ISSN . 2745-8695 No. Bahaya Konsekuensi Tempat eyewash yang tidak terawat Keterangan Dapat iritasi pada mata jika terkena bahan kimia mudah terbakar Peralatan Tabel 3. Identifikasi bahaya di Composite workshop No. Bahaya Konsekuensi Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tersengat listrik Prosedur Kerja Sisa resin dan fiber yang berserakan Merusak lantai Prosedur Kerja Melakukan aktifitas composite pelindung yang diharuskan. Iritasi kulit, nafas, iritasi Penggunaan ekstension kabel yang bertumpuk dan melebihi kapasitas beban listrik dari ekstension tersebut. Terbakar Peralatan Tidak adanya wadah khusus untuk pembuangan material sisa Ae sisa praktik Pencemaran Lingkungan Fasilitas Tempat eyewash yang tidak terawat Dapat menyebabkan iritasi pada mata jika terkena bahan kimia mudah terbakar Peralatan tanpa alat Keteranagn Peralatan Penilaian Risiko . isk assessmen. Tabel 4. Penilaian risiko di Welding Workshop Hazard Sev. Prob. Risk Index Risk Level Menghubungkan Gas Metal Arc Welding ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tolerable Penggunaan Nitrogen tanpa melihat ceklist penggunaan Tolerable Alat pemadam kebakaran expired Tolerable Melakukan aktifitas welding tanpa alat pelindung yang Tolerable Asap yang dihasilkan pada saat aktifitas welding berlangsung tanpa dilengkapi ventilasi ruangan workshop yang memadai. Tolerable Pencahayaan yang kurang Acceptable Analisis Safety Risk Management pada Kegiatan Praktikum Taruna Teknik Pesawat Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia Tabel 5. Penilaian risiko di Painting Workshop Hazard Sev. Prob. Risk Index Risk Level Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tolerable Sisa thinner dan cat yang berserakan Acceptable Melakukan aktifitas painting tanpa alat pelindung yang Tolerable Tidak adanya wadah khusus untuk pembuangan material sisa Ae sisa pengecatan. Tolerable Tempat eyewash yang tidak terawat Tolerable Tabel 6. Penilaian risiko di Composite Workshop Hazard Sev. Prob. Risk Index Risk Level Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Tolerable Sisa resin dan fiber yang berserakan Acceptable Melakukan aktifitas composite tanpa alat pelindung yang diharuskan. Tolerable Penggunaan ekstension kabel yang bertumpuk dan melebihi kapasitas beban listrik dari ekstension Tolerable Tidak adanya wadah khusus untuk pembuangan material sisa Ae sisa praktik komposit. Tolerable Tempat eyewash yang tidak terawat Tolerable Pencegahan (Mitigatio. Tabel 7. Mitigation Table di Welding Workshop Hazard Existing Mitigation Menghubungkan Gas Metal Arc Welding ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Membuat Ceklist penggunaan alat Penggunaan Nitrogen tanpa melihat ceklist Membuat Ceklist penggunaan alat Alat pemadam kebakaran expired Melihat pressure indikator pada alat pemadam Melakukan pembaharuan isi secara teratur Mitigation Plan Risk Index Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol. 14 No. 1 Februari 2021 ISSN . 1979-1534 ISSN . 2745-8695 Existing Mitigation Hazard Melakukan aktifitas welding pelindung yang diharuskan. Asap yang dihasilkan pada saat aktifitas welding berlangsung tanpa dilengkapi ventilasi ruangan workshop yang memadai. Pencahayaan yang kurang Mitigation Plan Menyiapkan alat pelindung diri di Risk Index Pembuatan ventilasi yang Tersedianya didalam ruangan Mitigation Plan Risk Index Tabel 8. Mitigation Table di Painting Workshop Hazard Existing Mitigation Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Membuat Ceklist penggunaan alat Sisa thinner dan cat yang berserakan Mengalasi lantai dengan terpal Melakukan aktifitas painting pelindung yang diharuskan. Menyiapkan alat pelindung diri di Tidak adanya wadah khusus untuk pembuangan material sisa Ae sisa pengecatan. Menyediakan wadah yang Tempat eyewash yang tidak terawat Membuat jadwal rutin tanpa alat Tabel 9. Mitigation Table di Composite Workshop Hazard Existing Mitigation Menghubungkan kompresor ke sumber listrik tanpa sarung tangan atau kondisi tangan dalam keadaan basah Membuat Ceklist penggunaan alat Sisa resin dan fiber yang berserakan Mengalasi lantai Melakukan aktifitas composite pelindung yang diharuskan. Menyiapkan alat pelindung diri di tanpa alat Mitigation Plan Risk Index Analisis Safety Risk Management pada Kegiatan Praktikum Taruna Teknik Pesawat Udara di Politeknik Penerbangan Indonesia Existing Mitigation Mitigation Plan Risk Index Penggunaan ekstension kabel yang bertumpuk dan melebihi kapasitas beban listrik dari ekstension tersebut. Menyediakan yang dipakai. Tidak adanya wadah khusus untuk pembuangan material sisa Ae sisa praktik komposit. Menyediakan wadah yang Tempat eyewash yang tidak terawat Membuat jadwal rutin Hazard Kesimpulan Bahaya yang teridentifikasi di masing-masing obyek penelitian yaitu sejumlah 17 meliputi: Welding Workshop terdapat sejumlah 6 hazard, pada Painting Workshop terdapat sejumlah 5 hazard dan pada Composite Workshop sejumlah 6 hazard. Penilaian risiko di masing-masing obyek penelitian yaitu: pada Welding Workshop dengan tingkat risiko sedang sejumlah 5 bahaya dan tingkat risiko rendah 1 bahaya, pada Painting Workshop dengan tingkat risiko sedang 4 bahaya dan tingkat risiko rendah 1 bahaya dan pada Composite Workshop dengan tingkat risiko sedang 5 bahaya dan tingkat risiko rendah 1 bahaya. Pengendalian risiko atau mitigasi yang dilakukan di masing-masing yaitu: existing mitigation sejumlah 4 tindakan dan mitigation plan sejumlah 3 tindakan pada Welding Workshop, sejumlah 3 tindakan dan mitigation plan sejumlah 2 tindakan pada Painting Workshop, mitigation sejumlah 3 tindakan dan mitigation plan sejumlah 3 tindakan pada Composite Workshop Daftar Pustaka