Recoms: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 2 Desember 2025 E-ISSN: 2987-0909 UPAYA MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI LOCAL WISDOM DALAM FESTIVAL GENERASI EMAS DI NAGORI BAH BIRONG ULU MANRIAH SIDAMANIK-SIMALUNGUN Nabila Arrahma. Harun Al Rasyid Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Indonesia E-Mail Correspondence: nabila0302231003@gmail. ABSTRACT The "Festival Generasi Emas" held in Nagori Bah Birong Ulu Manriah is a community-based character education initiative designed to address the challenges of character development in children in the digital era. This activity combines elements of entertainment, education, local culture, and religious values through various competitions such as the call to prayer . , memorization of short surahs . , coloring, and traditional games. The goal is to instill values such as self-confidence, responsibility, cooperation, tolerance, and discipline naturally through enjoyable, hands-on experiences. The method used is a descriptive qualitative approach with observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The results of the activity show, first, a significant positive impact on children's character development, such as increased empathy, social interaction, and enthusiasm for Second, the festival also reduces dependence on gadgets and builds children's self-confidence. Third, this activity proves that character education can be carried out effectively through a creative, participatory, and local culture-based Keywords: Child Character. Golden Generation Festival. Character Education This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license. DOI: 10. 59548/rc. JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pendahuluan Pendidikan karakter anak adalah fondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, spiritual, dan sosial. tengah derasnya arus globalisasi, transformasi digital, dan perubahan sosial yang cepat, anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang penuh distraksi serta tantangan nilai. Gejala seperti meningkatnya individualisme, melemahnya semangat gotong royong, rendahnya empati, hingga krisis keteladanan menjadi tantangan nyata dalam pembentukan karakter generasi muda saat ini (Widiani et al. , 2. Era digital telah memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, tetapi di sisi lain juga membawa ancaman serius terhadap nilai-nilai moral anak. Paparan terhadap media sosial, konten yang tidak terverifikasi, serta lemahnya pengawasan digital telah menjadikan anak-anak sebagai kelompok rentan terhadap degradasi karakter (Nurhabibah et al. , 2. Di sinilah pendidikan karakter memainkan peran penting, bukan hanya sebagai bagian dari kurikulum formal, tetapi sebagai gerakan kolektif yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Konsep pendidikan karakter berbasis Autiga pusat pendidikanAy . amily, school, communit. sebagaimana dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara sangat relevan untuk menjawab persoalan ini. Pendidikan karakter tidak cukup jika hanya bergantung pada institusi formal. Diperlukan sinergi yang kuat antara orang tua sebagai pendidik pertama, sekolah sebagai lembaga akademik, dan masyarakat sebagai ruang praksis nilai-nilai sosial (Marzuki & Samsuri, 2. Kolaborasi dari ketiga lingkungan inilah yang akan melahirkan karakter yang tidak hanya teoritis, tetapi terinternalisasi secara alami dalam kehidupan sehari-hari anak. Penelitian yang dilakukan oleh Enny Nazrah Pulungan dkk . dalam jurnal PROFICIO: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat menunjukkan bahwa Festival Anak Sholeh dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter anak. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan festival yang berisi lomba adzan, hafalan surah pendek, pidato cilik, dan mewarnai mampu meningkatkan semangat belajar agama, rasa percaya diri, serta keberanian anak dalam mengekspresikan bakatnya. Selain itu, festival ini juga memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan karakter anak. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kegiatan berbasis budaya dan komunitas memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran nilai-nilai moral dan sosial di era modern. Nagori Bah Birong Ulu Manriah merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam hal ini. Masyarakat setempat memiliki kebiasaan rutin menyelenggarakan kegiatan perlombaan untuk anak-anak, baik dalam rangka HUT RI, perayaan hari besar Islam, maupun kegiatan adat dan keagamaan lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari budaya lokal yang memperkuat ikatan sosial dan menjadi ruang RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM tumbuhnya nilai-nilai karakter. Namun, dari sisi konseptual dan edukatif, kegiatan tersebut masih belum terstruktur secara optimal. Inilah yang mendorong mahasiswa pelaksana pengabdian masyarakat untuk menghadirkan Festival Generasi Emas, sebagai upaya untuk menyusun kegiatan yang lebih sistematis, mendalam, dan berdampak secara psikososial dan edukatif. Festival Generasi Emas diinisiasi sebagai media pembelajaran karakter anak yang memadukan antara tradisi lokal dengan pendekatan pendidikan modern. Berbagai lomba yang diselenggarakan, seperti adzan, hafalan surah pendek, mewarnai, membawa guli dalam sendok, makan kerupuk, dan ranking satu bukan hanya untuk memeriahkan acara, tetapi juga menjadi wahana menanamkan nilai-nilai religius, sportivitas, kreativitas, konsentrasi, dan ketahanan mental anak. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini bukan sekadar sebagai panitia teknis, melainkan sebagai fasilitator nilai, pendidik, sekaligus jembatan antara konsep pendidikan tinggi dan kebutuhan sosial masyarakat (Ramli et al. , 2. Kegiatan seperti ini tidak hanya penting untuk anak, tetapi juga berdampak besar bagi Melalui pengalaman ini, mahasiswa mendapatkan ruang praktik dalam menerapkan ilmu kependidikan, psikologi anak, manajemen kegiatan, hingga pendekatan kultural berbasis komunitas. Mereka belajar tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga beradaptasi, mendengar, dan menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata. Hal ini memperkuat prinsip bahwa pendidikan tinggi bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang pengabdian (Ramli et al. , 2. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pembentukan karakter anak di era modern, mendeskripsikan Festival Generasi Emas sebagai media edukatif berbasis budaya lokal, serta mengevaluasi dampaknya terhadap perkembangan karakter anak di lingkungan masyarakat. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan secara utuh, mulai dari proses perencanaan hingga evaluasi, serta menganalisis bagaimana kegiatan tersebut berkontribusi dalam pembentukan karakter anak. Penelitian kualitatif dianggap sesuai karena mampu menjelaskan fenomena sosial dan interaksi yang terjadi selama kegiatan secara mendalam dan apa adanya. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap perencanaan yang melibatkan diskusi dan koordinasi antara mahasiswa dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat. Pada tahap ini, disusun konsep kegiatan, jenis perlombaan, jadwal pelaksanaan, serta pembagian tugas panitia. Anak-anak yang akan mengikuti kegiatan juga diberikan pengarahan secara langsung mengenai tata tertib lomba serta nilai-nilai karakter yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan festival yang dilaksanakan secara langsung di lapangan, melibatkan berbagai lomba seperti adzan, hafalan surah pendek, membawa guli dalam sendok, mewarnai, makan kerupuk, dan ranking satu. Dalam pelaksanaan lomba, mahasiswa berperan sebagai fasilitator, juri, dan pendamping teknis. Anak-anak menunjukkan keterampilan dan keberanian mereka dalam mengikuti lomba, sementara masyarakat turut hadir dan mendukung, menciptakan suasana yang partisipatif dan Data dalam kegiatan ini diperoleh melalui observasi langsung terhadap proses festival, wawancara singkat dengan beberapa anak, orang tua, dan tokoh masyarakat, serta dokumentasi berupa foto dan video kegiatan. Teknik analisis yang digunakan bersifat tematik, di mana peneliti mengelompokkan temuan-temuan berdasarkan nilai-nilai karakter yang muncul dari aktivitas anak selama festival berlangsung. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menangkap realitas sosial dan pengalaman yang dirasakan oleh peserta, bukan hanya dari hasil lomba, tetapi dari proses pembelajaran karakter yang terbentuk secara alami selama interaksi berlangsung. Hasil dan Pembahasan Urgensi Pembentukan Karakter Anak di Era Modern Pendidikan karakter merupakan aspek fundamental dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, karakter anak menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang beradab dan berintegritas. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, disiplin, dan empati adalah pilar penting yang harus ditanamkan sejak dini agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, peduli, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya (Mustamiin. Pembentukan karakter sejak usia dini memiliki implikasi jangka panjang yang Anak-anak yang dibekali dengan nilai moral yang kuat akan lebih siap menghadapi kompleksitas kehidupan modern, mampu mengambil keputusan yang bijak, serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi (Khodijah, 2. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mengembangkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mampu bersaing di era globalisasi (Zahra et al. , 2. Namun, pembentukan karakter anak di era modern tidaklah mudah. Tantangan zaman seperti arus globalisasi, revolusi digital, dan kemudahan akses informasi membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku anak. Kehidupan yang serba instan, meningkatnya individualisme, serta paparan konten yang tidak mendidik seringkali menjadi hambatan serius dalam penanaman nilai karakter. Banyak anak lebih akrab RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM dengan gawai dan dunia maya daripada interaksi sosial langsung, sehingga keterampilan berempati, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan orang lain semakin berkurang. Dampak negatif ini terlihat dalam berbagai fenomena sosial, seperti meningkatnya kasus cyberbullying, rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru, hingga berkurangnya rasa tanggung jawab individu (Afifah Nur Amalia Sari, 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menghambat perkembangan sosial-emosional anak, mengurangi waktu untuk belajar dan berinteraksi secara sehat, serta memengaruhi pembentukan karakter secara keseluruhan (Gunawan. Selain itu, derasnya arus globalisasi memunculkan nilai-nilai baru yang seringkali bertentangan dengan budaya dan norma lokal, sehingga anak-anak berisiko mengalami krisis identitas dan moral jika tidak dibekali karakter yang kokoh. Meski demikian, teknologi digital tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga peluang dalam mendukung pembentukan karakter. Media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan nilai, misalnya melalui aplikasi pembelajaran berbasis etika, permainan edukatif, serta konten kreatif yang menanamkan nilai kebajikan. Guru dan orang tua perlu meningkatkan literasi digital agar dapat membimbing anak menggunakan teknologi secara sehat, kritis, dan produktif (Afifah Nur Amalia Sari, 2. Kurikulum pendidikan juga harus adaptif, dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan aktivitas pembiasaan sehari-hari (Mustamiin, 2. Selain itu, lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembentukan karakter anak. Keluarga sebagai sekolah pertama dan utama berperan menanamkan nilai dasar seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kasih sayang. Sekolah bertugas melanjutkan pendidikan karakter secara sistematis melalui pembelajaran dan keteladanan guru, sedangkan masyarakat menyediakan ruang sosial yang memungkinkan anak mempraktikkan nilai-nilai moral tersebut (Samsinar et al. , 2. Tanpa dukungan sinergis dari ketiga elemen ini, pembentukan karakter tidak akan optimal karena pendidikan formal saja tidak cukup untuk menanamkan nilai secara menyeluruh. Di sinilah kegiatan berbasis komunitas dan nonformal menjadi sangat relevan. Salah satu bentuk nyata adalah Festival Generasi Emas yang di laksanakan di Nagori Bah Birong Ulu Manriah, yang dirancang tidak hanya sebagai ajang hiburan atau perlombaan, tetapi juga sebagai sarana edukatif untuk menumbuhkan berbagai nilai karakter dalam diri anak. Melalui festival ini, anak-anak dilibatkan dalam aktivitas kreatif dan kolaboratif yang mengajarkan kerja sama, kepemimpinan, kepedulian sosial, tanggung jawab, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif. Kegiatan ini juga mendorong keterlibatan orang tua, guru, dan masyarakat sehingga tercipta ekosistem pendidikan karakter yang utuh dan berkelanjutan. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Festival ini menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan era modern karena mampu menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal dan pembentukan karakter berbasis pengalaman nyata. Dengan menggabungkan unsur budaya lokal, permainan edukatif, seni, dan kegiatan sosial, anak-anak dapat belajar nilai-nilai moral secara langsung dan menyenangkan. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam menanamkan karakter dibandingkan pembelajaran konvensional yang hanya menekankan aspek kognitif (Khodijah, 2. Oleh karena itu, urgensi pembentukan karakter anak di era modern tidak hanya terletak pada perlunya menanamkan nilai moral dasar, tetapi juga pada kebutuhan untuk menyesuaikan strategi pendidikan dengan dinamika zaman. Pendidikan karakter harus dilakukan secara kolaboratif, berkelanjutan, dan kontekstual dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, memperkuat peran keluarga dan masyarakat, serta menghadirkan program-program kreatif seperti Festival Generasi Emas. Dengan cara ini, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas, berempati, dan siap menghadapi tantangan global dengan tetap menjaga nilai budaya dan jati diri bangsa Indonesia. Festival Generasi Emas Sebagai Media Edukatif Festival Generasi Emas yang dilaksanakan di Nagori Bah Birong Ulu Manriah merupakan bentuk konkret dari keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung pembentukan karakter anak. Kegiatan ini tidak semata-mata disusun sebagai acara seremonial atau hiburan bagi anak-anak desa, melainkan sebagai media edukatif yang menggabungkan nilai-nilai pembelajaran, budaya, religius, dan kreativitas ke dalam satu wadah kegiatan. Inisiatif ini muncul dari kesadaran mahasiswa akan pentingnya peran sosial mahasiswa dalam membina generasi muda, khususnya anak-anak yang dalam kesehariannya kurang mendapat akses terhadap kegiatan pendidikan karakter yang menyenangkan dan bermakna. Mahasiswa melihat adanya kebutuhan mendesak akan ruang belajar alternatif yang bisa menjadi penyeimbang dari kuatnya pengaruh teknologi, media sosial, dan gaya hidup konsumtif yang kini telah masuk hingga ke pelosok desa. Tantangan karakter anak di era digital menjadi salah satu latar belakang utama diadakannya Festival Generasi Emas. Fenomena meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai telah mengurangi intensitas interaksi sosial yang sehat dan menurunkan minat anak dalam mengikuti aktivitas-aktivitas yang membentuk karakter, seperti kerja sama, kepedulian sosial, serta nilai-nilai religius dan moral. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Dermawan dkk . , pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif jika hanya dibebankan kepada sekolah, mengingat anak-anak hanya menghabiskan kurang lebih 8 jam di sekolah, sementara 16 jam lainnya berada di rumah dan lingkungan. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Maka dari itu, diperlukan intervensi positif yang menyenangkan dan relevan untuk menjangkau anak-anak dalam konteks nonformal, seperti melalui festival ini. Festival Generasi Emas dirancang dengan pendekatan yang mengedepankan partisipasi aktif anak, keterlibatan sosial, dan interaksi edukatif yang menyenangkan. Mahasiswa, sebagai pelaksana program, tidak hanya menyusun konsep acara, tetapi juga terlibat dalam setiap tahap implementasi mulai dari perencanaan, koordinasi dengan masyarakat dan tokoh setempat, pelaksanaan teknis di lapangan, hingga proses evaluasi hasil Dengan berperan sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pendamping bagi anak-anak selama festival berlangsung, mahasiswa secara langsung melatih kemampuan sosial dan kepemimpinan mereka, sekaligus memberikan dampak nyata terhadap perkembangan karakter anak-anak yang terlibat. Beragam perlombaan dalam Festival Generasi Emas dirancang secara kontekstual dan sesuai dengan karakteristik serta tahapan perkembangan anak usia dini dan usia sekolah Lomba adzan dan hafalan surah pendek, misalnya, disusun sebagai media penanaman nilai religius sekaligus latihan keberanian untuk tampil di depan umum. Menurut Munawarah dkk . perlombaan semacam ini mampu meningkatkan semangat anak untuk mempelajari Islam lebih dalam, sekaligus memperkuat identitas keagamaannya sejak dini. Selain kegiatan keagamaan, festival ini juga menghadirkan lomba mewarnai sebagai media untuk menumbuhkan kreativitas, kesabaran, dan rasa percaya diri. Kegiatan ini terbukti sangat disukai anak-anak karena memberikan mereka ruang untuk mengekspresikan ide, imajinasi, dan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai tertentu melalui warna. Setiap karya yang mereka hasilkan menjadi simbol bahwa mereka memiliki kemampuan dan kebanggaan atas apa yang bisa mereka capai. Tidak hanya aspek individual, festival ini juga menggarap aspek sosial melalui permainan tradisional seperti lomba makan kerupuk, membawa guli dengan sendok, hingga lomba makan biskuit tanpa tangan. Permainan-permainan ini terlihat sederhana, namun menyimpan nilai-nilai yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Anakanak diajarkan untuk bekerja sama, saling mendukung, menjaga sportivitas, dan tetap ceria dalam suasana kompetisi. Dalam konteks ini, permainan menjadi sarana pembelajaran yang lebih efektif daripada ceramah yang kaku dan formal. Enny Nazrah Pulungan . dalam jurnalnya menyebut bahwa anak-anak lebih mudah menyerap nilai-nilai karakter dalam situasi menyenangkan dan kompetitif yang terarah, dibandingkan dengan pendekatan yang menekankan pada hafalan semata. Sementara itu, lomba ranking satu menjadi media yang menggabungkan aspek kognitif dan afektif. Anak-anak dilatih untuk berpikir cepat, menjawab pertanyaan secara spontan, dan menunjukkan kepercayaan diri mereka di hadapan teman-teman. Meski terkesan seperti permainan sederhana, kegiatan ini menyentuh aspek yang sangat penting dalam RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM pendidikan karakter, yaitu ketangguhan mental, keberanian, dan rasa hormat terhadap proses belajar. Yang membuat festival ini semakin kuat dalam membentuk karakter anak adalah adanya kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, orang tua, dan guru. Anak-anak tidak belajar sendiri, tetapi didampingi oleh lingkungan sosial yang mendukung pembentukan karakter mereka. Dalam pendekatan ini, mahasiswa berperan sebagai penghubung antara dunia anak dengan nilai-nilai kehidupan yang ingin ditanamkan. Menurut Dermawan dkk . , sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan adalah fondasi utama dalam pendidikan karakter yang berkelanjutan. Ketika semua unsur ini bersatu dalam sebuah kegiatan seperti Festival Generasi Emas, maka nilai-nilai yang ditanamkan tidak berhenti pada satu hari acara, tetapi bisa terus tumbuh dalam kebiasaan harian anak-anak. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam festival ini sangat beragam, mulai dari religius, kepercayaan diri, ketekunan, tanggung jawab, hingga sportivitas dan kedisiplinan. Semua nilai tersebut ditanamkan bukan melalui ceramah atau teori panjang, tetapi melalui pengalaman langsung dan praktik yang bermakna. Festival ini menjadi ruang di mana anak-anak bisa mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja sama, menerima kekalahan, merayakan kemenangan, dan tetap menghormati satu sama lain dalam suasana yang Inilah makna dari pendidikan karakter yang hidup, yang tidak hanya diceramahkan tetapi dirasakan dan dijalani bersama. Melalui Festival Generasi Emas, mahasiswa berhasil membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan tetap bermakna. Mereka menghadirkan model pendidikan yang tidak konvensional namun justru lebih dekat dengan dunia anak. Dalam suasana yang penuh semangat, tawa, dan kebersamaan, karakter anak dibentuk dengan cara yang alami, tidak menggurui, dan mampu meninggalkan kesan yang kuat dalam ingatan mereka. Festival ini juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa sebagai agen perubahan, bahwa kontribusi kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat menghasilkan dampak sosial yang besar dan Dampak dan Evaluasi Festival Generasi Emas terhadap Perkembangan Karakter Anak Festival Generasi Emas yang diselenggarakan di Nagori Bah Birong Ulu Manriah merupakan sebuah inisiatif yang tidak hanya berorientasi pada hiburan untuk anak-anak, tetapi juga diarahkan sebagai upaya konkret dalam pembinaan karakter anak sejak usia Kegiatan ini didesain sedemikian rupa agar setiap elemen acaranya memiliki nilainilai edukatif yang membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian anak. Setelah kegiatan ini berlangsung, berbagai dampak positif mulai terlihat dan memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan karakter anak-anak yang terlibat. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Salah satu dampak yang paling mudah diamati adalah meningkatnya rasa kebersamaan dan keterbukaan dalam menjalin hubungan sosial. Sebelum festival dilaksanakan, banyak anak yang cenderung bermain dengan teman-teman sebaya yang sudah mereka kenal, dan interaksi antar kelompok masih terbatas. Namun setelah mengikuti festival, anak-anak mulai menunjukkan inisiatif untuk berkenalan, berinteraksi, dan menjalin relasi dengan anak-anak dari lingkungan atau latar belakang yang berbeda. Mereka tidak lagi merasa canggung untuk bekerja sama dalam satu tim, bahkan terlihat antusias dalam membangun komunikasi dan kerja sama. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah berhasil menciptakan suasana yang inklusif, di mana setiap anak merasa diterima dan diberi ruang untuk berkontribusi. Festival ini juga mendorong tumbuhnya sikap saling mendukung dan empati di antara anak-anak. Dalam setiap aktivitas, baik yang bersifat lomba maupun kerja tim, anak-anak belajar untuk tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan dan mendukung teman-temannya. Misalnya, saat salah satu anak mengalami kesulitan, anakanak lain dengan sigap memberikan bantuan tanpa diminta. Bahkan dalam kompetisi, mereka tidak menunjukkan sikap menjatuhkan, melainkan memberikan semangat, tepuk tangan, dan dukungan moral satu sama lain. Fenomena ini mencerminkan keberhasilan festival dalam menanamkan nilai-nilai sosial yang penting seperti solidaritas, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, tampak adanya perubahan dalam hal sikap saling menghargai dan toleransi. Anak-anak mulai memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbedabeda dan bahwa keberagaman tersebut bukanlah halangan untuk bekerja sama, tetapi justru kekuatan yang harus dihargai. Mereka belajar untuk mendengarkan pendapat teman, menerima perbedaan pandangan, dan menghindari konflik. Dalam beberapa momen ketika ada perbedaan pendapat atau perdebatan kecil, anak-anak mampu menyelesaikannya secara dewasa, dengan saling mengalah dan mengutamakan kesepakatan bersama. Ini merupakan indikator bahwa nilai toleransi dan penghargaan terhadap orang lain telah mulai tertanam melalui proses belajar yang alami dan Meskipun demikian, harus diakui bahwa tidak semua anak menunjukkan perubahan perilaku yang sama. Beberapa anak masih terlihat sulit berbaur atau kurang antusias dalam menjalin komunikasi lintas kelompok. Ada juga yang lebih memilih untuk tetap bermain dengan teman lamanya dan kurang terbuka terhadap kolaborasi. Namun hal ini wajar mengingat setiap anak memiliki ritme adaptasi dan perkembangan sosial yang berbeda-beda. Yang terpenting, ruang dan kesempatan untuk berkembang telah tersedia dan terbukti berhasil membangkitkan kesadaran bagi sebagian besar dari mereka. Tak kalah penting, festival ini juga memberikan pengaruh signifikan terhadap pola kebiasaan anak yang selama ini cenderung pasif dan terikat dengan gawai. Selama kegiatan berlangsung, perhatian anak-anak benar-benar tersita oleh keseruan aktivitas RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM yang dilakukan secara langsung. Mereka terlibat secara fisik, emosional, dan sosial dalam kegiatan yang nyata, sehingga tanpa disadari, waktu mereka bersama gawai pun berkurang drastis. Banyak anak yang biasanya menghabiskan waktu luangnya dengan bermain HP, kini lebih memilih berinteraksi dengan teman, berlatih untuk lomba, atau menonton penampilan Ini menyediakan ruang aktivitas yang bermakna dan menyenangkan, anak-anak bisa diarahkan untuk meninggalkan ketergantungan terhadap gawai dan kembali menikmati dunia nyata dengan cara yang sehat dan membangun. Meski begitu, ada sebagian kecil anak yang terlihat masih membawa dan sesekali memainkan HP-nya selama jeda Namun, dibanding sebelum kegiatan berlangsung, intensitasnya jauh menurun, menunjukkan bahwa pendekatan ini sudah berada di jalur yang benar. Dampak lainnya adalah meningkatnya rasa percaya diri anak-anak. Banyak peserta festival yang sebelumnya cenderung pemalu, tidak berani tampil, atau merasa minder dengan kemampuan yang dimiliki. Namun seiring berjalannya kegiatan, mereka mulai terdorong untuk ikut serta dalam berbagai lomba, tampil di depan umum, bahkan mengambil peran penting dalam kelompoknya. Rasa percaya diri ini muncul karena festival memberikan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan dirinya tanpa takut diejek atau direndahkan. Anak-anak merasa dihargai dan dilihat, sehingga keberanian untuk berbicara, bertindak, dan menunjukkan potensi mereka menjadi lebih kuat. Ini menjadi modal penting dalam pembentukan karakter anak yang tangguh dan mandiri. Di sisi lain, pelaksanaan festival juga memberikan pelajaran penting tentang disiplin dan tanggung jawab. Anak-anak dilatih untuk datang tepat waktu, mengikuti aturan kegiatan, serta menyelesaikan tugas atau peran yang diberikan kepada mereka. Proses ini secara perlahan membentuk kesadaran bahwa disiplin bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi bagian dari komitmen dan integritas pribadi. Sifat tanggung jawab ini juga terlihat ketika anak-anak diberi kepercayaan untuk mengatur jadwal latihan, menjaga kebersihan area kegiatan, dan lainnya. Meskipun sederhana, hal-hal tersebut berkontribusi besar dalam melatih kedewasaan anak dalam berperilaku. Meski belum semua anak bisa konsisten dalam hal ini, dorongan awal yang ditanamkan lewat kegiatan ini menjadi pondasi penting untuk perubahan jangka panjang. Festival ini juga berhasil menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat. Anak-anak berlomba dengan penuh semangat dan antusias, tetapi tetap menjaga sikap sportif. Mereka bisa menerima kekalahan tanpa merasa rendah diri, dan tidak sombong saat meraih kemenangan. Bahkan dalam beberapa lomba, peserta yang kalah tetap memberikan ucapan selamat kepada pemenang dan mengakui usaha teman-temannya. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kejujuran, sportivitas, dan semangat belajar lebih diprioritaskan dibanding sekadar hasil akhir. Dari sini, anak-anak belajar bahwa setiap pengalaman adalah bagian dari proses pembelajaran yang berharga. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Kegiatan ini juga memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas anak. Festival yang mencakup beragam aktivitas seni, budaya, keterampilan, dan permainan edukatif, memungkinkan anak-anak menyalurkan minat dan bakatnya. Banyak anak yang sebelumnya belum pernah tampil, akhirnya berani menunjukkan kemampuannya dalam bidang seni tari, bernyanyi dan menggambar. Hal ini tidak hanya membantu menemukan potensi tersembunyi dalam diri anak, tetapi juga memberi kepercayaan diri bahwa mereka memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan dan dikembangkan lebih lanjut. Secara keseluruhan, evaluasi dari pelaksanaan Festival Generasi Emas menunjukkan bahwa pendekatan pembinaan karakter melalui kegiatan berbasis komunitas seperti ini sangat efektif dan relevan. Anak-anak belajar bukan melalui ceramah atau hukuman, tetapi melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan suasana yang menyenangkan. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah, tetapi berdampak mendalam. Oleh karena itu, kegiatan seperti Festival Generasi Emas sangat direkomendasikan untuk diadakan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari strategi pembinaan karakter anak di tingkat desa. Bila dimaksimalkan dengan dukungan dari berbagai pihak, kegiatan ini berpotensi besar menjadi gerakan pendidikan karakter yang berkelanjutan dan mengakar kuat di masyarakat. Simpulan Festival Generasi Emas yang diselenggarakan di Nagori Bah Birong Ulu Manriah merupakan salah satu bentuk nyata pendekatan edukatif berbasis komunitas yang mampu menjawab tantangan pembentukan karakter anak di era digital. Kegiatan ini tidak hanya berperan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual secara langsung melalui pengalaman nyata yang menyenangkan. Anak-anak yang terlibat dalam festival menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai aspek, seperti meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, rasa empati, toleransi terhadap perbedaan, serta kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Selain itu, festival ini juga mampu menjadi alternatif positif dalam mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Anak-anak lebih tertarik untuk mengikuti berbagai aktivitas yang melibatkan interaksi sosial langsung, keterampilan motorik, dan pengembangan kreativitas. Berbagai perlombaan yang dirancang secara kontekstual dan sesuai dengan tahap perkembangan anak terbukti mampu menjadi media pembelajaran karakter yang efektif dan menyenangkan. Keberhasilan Festival Generasi Emas juga tidak lepas dari peran aktif mahasiswa sebagai pelaksana sekaligus fasilitator yang mampu menjembatani antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan sosial masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa, orang tua, guru, dan masyarakat desa membentuk ekosistem pendidikan karakter yang utuh RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM dan berkelanjutan. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter yang dilakukan secara kolektif, kreatif, dan kontekstual dapat memberikan dampak yang mendalam dan bertahan lama dalam kehidupan anak-anak. Dengan Festival Generasi Emas pengembangan program pembinaan karakter yang tidak hanya relevan, tetapi juga Kegiatan dikembangkan lebih lanjut agar menjadi bagian integral dari strategi pembangunan pendidikan karakter di berbagai wilayah, terutama yang minim akses terhadap pendidikan nonformal yang bermakna dan menyenangkan. Referensi