Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Pengaruh Metode Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Fase E AKL SMK Negeri 1 Painan Rasyid Akmal1*. Reni Respita2. Khurnia Budi Utami3 Pendidikan Ekonomi. Universitas Ekasakti Padang *Email: akmalrasyid697@gmai. 1,2,3 Received: 06/08/2025 . Revised: 12/08/2025 . Accepted: 27/08/2025 . Published: 28/08/2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dan metode konvensional pada Fase E di SMK Negeri 1 Painan. Dengan membandingkan kedua metode tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas PBL dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian terdiri atas dua kelas siswa Fase E AKL di SMK Negeri 1 Painan tahun ajaran 2025: AKL 1 sebagai kelas kontrol dan AKL 2 sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling, dan instrumen penelitian berupa tes hasil belajar. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan PBL mengalami peningkatan hasil belajar akuntansi yang Data dari kedua kelas berdistribusi normal dan homogen, sehingga uji hipotesis yang digunakan adalah uji t. Berdasarkan data yang diolah menggunakan SPSS 16. 0, nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,011, lebih kecil dari taraf signifikansi 5% . , dan nilai t hitung . lebih besar daripada nilai t tabel . Dengan demikian, hipotesis nol ditolak, sehingga disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar akuntansi antara metode PBL dan metode konvensional pada siswa Fase E AKL di SMK Negeri 1 Painan. Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), hasil belajar Kata kunci: Literasi Keuangan. Kontrol Diri. Perilaku Pengelolaan Keuangan Abstract This study aims to determine the difference in student learning outcomes using the Problem Based Learning (PBL) method and the conventional method in Phase E at SMK Negeri 1 Painan. By comparing these two methods, this research is expected to provide insight into the effectiveness of PBL in improving student learning outcomes. This study is a quasi-experimental research with a Nonequivalent Control Group Design. The population consists of two classes of Phase E AKL students at SMK Negeri 1 Painan in the 2025 academic year: AKL1 as the control class and AKL2 as the experimental class. Sampling was done by total sampling, and the research instrument was a learning outcomes test. The analysis showed that students taught with PBL experienced significant improvement in accounting learning outcomes. Data from both classes were normally distributed and homogeneous, so the hypothesis test used was the T-test. Based on data processed using SPSS 16. 0, the significance value (Sig. 2-taile. 011, less than the 5% significance level . , and the t-value . was greater than the t-table value . Therefore, the null hypothesis was rejected, concluding a significant difference in accounting learning outcomes between the PBL and conventional methods in Phase E AKL at SMK Negeri 1 Painan. Keywords: Problem Based Learning (PBL), learning outcomes PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Adanya pendidikan, menjadikan seseorang memiliki berbagai macam pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap, dan tingkah laku (Sinaga & Silaban, 2. Pendidikan memberikan pengaruh terhadap individu sehingga menghasilkan perubahan-perubahan dalam kebiasaan, pemikiran, sikap dan tingkah laku tersebut. Kebutuhan akan pendidikan menjadi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu, setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Berkenaan dengan hal tersebut, di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat . secara tegas disebutkan bahwa AuTiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikanAy. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 233 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Dalam pasal tersebut jelas tertulis bahwa pendidikan memegang peranan yang sangat Hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan tersebut sudah dijamin oleh hukum yang pasti dan bersifat mengikat, artinya tidak ada pihak manapun yang dapat menghalangi seseorang untuk belajar dan mendapatkan pengajaran. Manusia akan mampu bertahan hidup dengan baik jika mempunyai ilmu yang dapat diperoleh salah satunya melalui Pendidikan bertujuan untuk menjadikan seseorang mencapai perubahan kearah yang lebih baik. Pendidikan tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan belajar (He & Harris, 2. Belajar adalah salah satu kegiatan usaha yang sangat penting dan dilakukan sepanjang hayat, karena melalui usaha belajarlah kita dapat mengadakan perubahan . dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan diri kita. Melalui usaha belajar kita dapat memperbaiki nasib dan akan dapat sampai kepada cita-cita yang didambakan. Oleh karena itu, belajar dalam hidup mempunyai tempat yang sangat penting dan strategis untuk mengarahkan dan menentukan arah kehidupan seseorang. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum baru yang dikeluarkan pemerintah Indonesia sebagai bentuk inisiatif dalam mengembangkan kurikulum yang lebih mandiri dan kontekstual bagi para peserta didik di seluruh Indonesia. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik dan memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan materi pembelajaran yang lebih menarik dan Menurut (Siregar, 2. Kurikulum Merdeka lebih mengutamakan sikap kreatif dan menyenangkan dengan memupuk berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta Dalam implementasinya, kurikulum Merdeka memerlukan peran aktif dari para guru dalam menyusun, merancang, dan mengimplementasikan kurikulum tersebut saat proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, kesiapan perencanaan guru sangat penting dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Belajar merupakan suatu tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sehingga suatu tindakan hanya dialami oleh siswa itu sendiri. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal lain yang dapat dijadikan bahan belajar. Menurut (Basyir et al. , 2. Belajar merupakan kegiatan yang kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan Belajar pada intinya untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik yang dilakukan sepanjang hayat. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal berkewajiban memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik. Serta bertanggung jawab untuk mendidik dan menyiapkan peserta didik agar berhasil menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya (Yuswita, 2. Belajar dikatakan suatu peristiwa yang komplek yang memiliki banyak faktor, yang di dalamnya secara bersamaan atau secara individu turut menentukan bagaimana proses belajar berlangsung dan bagaimana hasil belajar yang dicapainya. Sejauh ini kegiatan pembelajaran masih dipandang bahwa pengetahuan sebagai fakta hanya untuk dihafal saja. Padahal pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengatahuan yang bersifat teoretis saja, melainkan juga bagaimana agar siswa memiliki pengalaman belajar yang baik yang berkaitan dengan masalah yang ada dilingkungan Pembelajaran di Sekolah tidak hanya memberikan bekal berinteraksi dengan teman sebaya saja, tetapi juga memberikan konsep menulis dan berhitung serta menganalisa This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 234 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ yang diajarkan pada setiap mata pelajaran yang salah satunya adalah mata pelajaran akuntansi dasar (Zubaidi, 2. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman Hasil belajar biasanya berupa nilai yang dapat diukur atau diperoleh dari hasil ulangan atau tes sumatif. Berdasarkan data dari guru. Hasil belajar di SMK Negeri 1 Painan fase E AKL pada mata pelajaran akuntansi masih rendah. Banyak siswa yang belum memenuhi standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP). KKTP yaitu tingkat pencapaian kompetensi dasar yang harus dicapai oleh setiap siswa pada setiap mata pelajaran dan siswa yang tidak mencapai KKTP dinyatakan belum tuntas. Hal ini tentu bukan hal yang diharapkan bagi siswa maupun guru. Hasil belajar mata pelajaran akuntansi pada fase E AKL SMK Negeri 1 Painan. Berdasarkan data awal diperoleh informasi bahwa nilai tes formatif masih di bawah KKTP. Pada fase E AKL 1 yang terdiri dari 20 siswa yang mendapat nilai di atas KKTP sebanyak 9 siswa . %) dan yang kurang dari KKTP sebanyak 11 siswa . %) sedangkan pada fase E AKL 2 yang terdiri dari 20 siswa yang mendapat nilai di atas KKTP sebanyak 7 siswa . %) dan yang kurang dari KKTP sebanyak 13 siswa . %). Berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di SMK Negeri 1 Painan didapatkan bahwa pembelajaran masih menggunakan metode konvensional. Pembelajaran yang dilakukan bersifat teacher center, siswa hanya sebatas pendengar dan pengamat saja, tanpa siswa yang terlibat secara langsung dalam mendalami materi tersebut. hal ini membuat siswa merasa jenuh dan kurang aktif di dalam proses pembelajaran. Dalam upaya untuk mencapai keberhasilan proses pembelajaran, seorang guru dituntut untuk dapat memilih dan menggunakan metode pembelajaran tepat yang akan diberikan kepada peserta didik, dengan mempertimbangkan kemampuan metode pembelajaran tersebut membangkitkan rangsangan indra penglihatan, pendengaran maupun kefokusan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Metode yang dapat meningkatkan keaktifan dan mengurangi kejenuhan serta mengukur hasil belajar siswa yang paling efektif adalah metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Metode ini mempersiapkan siswa untuk berpikir kritis dan analitis, untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai. Dalam metode problem based learning, sebelum pelajaran dimulai, siswa diberikan masalah-masalah. Masalah yang disajikan adalah masalah yang memiliki konteks dengan dunia nyata, semakin dekat dengan dunia nyata, maka akan semakin baik pengaruhnya pada peningkatan pola pikir siswa. Dari masalah yang diberikan ini siswa kemudian bekerjasama dalam kelompok, mencoba memecahkan masalah dengan kemampuan yang dimiliki, dan sekaligus mencari informasi-informasi baru yang relevan. Metode pembelajaran problem based learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dan tidak terstruktur, bersifat terbuka sebagai konteks atau sarana bagi siswa untuk mengembangkan cara berpikir kritis, mengembangkan keterampilan dan menyelesaikan masalah serta membangun pengetahuan yang baru. Dalam proses pembelajaran siswa secara individual maupun kelompok menyelesaikan masalah nyata dengan menggunakan strategi dan pengetahuan dari pemikirannya sendiri, yang menekankan siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri bukan menerima dalam bentuk jadi dari guru. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa mencari dan menemukan solusi sekaligus menentukan kriteria pencapaian proses pembelajarannya. Proses utama problem based learning terletak pada diri variabel dari luar hanya intruksi yang membantu atau membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 235 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Penerapan model pembelajaran yang tepat akan sangat mempengaruhi hasil belajar karena akan memudahkan siswa dalam menyerap materi yang diberikan. Pemilihan metode atau strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan dan potensi siswa merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan membantu guru dan siswa dalam peningkatan hasil belajar. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Siswa Fase E AKL SMK Negeri 1 PainanAy Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka melalui penelitian ini dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut. AyApakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dan menggunakan metode konvensional Fase E AKL SMK Negeri 1 Painan ?Ay METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif yang fokus pada pengumpulan data berupa data numerik atau kuantitatif dan dianalisis secara statistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperimenta. , yaitu metode penelitian yang mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempunyai pelaksanaan eksperimen. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Painan yang beralamat di Jl. Dr. Moh. Hatta Ae Painan. Kabupaten Pesisir Selatan. Sumatera Barat. Tahun Pelajaran 2024/2025. Waktu pelaksanaannya dimulai pada semester genap tepatnya pada tanggal 14 April 2025 sampai dengan 10 Mei 2025 . Jadwal Pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran akuntansi Fase E AKL. Desain penelitian Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan Nonequivalent Control Group Design. Rancangan ini melibatkan pada dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen dalam proses pembelajarannya diberi perlakuan dengan mengunakan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Sedangkan pada kelas kontrol proses pembelajaranya tetap menggunakan metode konvensional. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa fase E AKL SMK Negeri 1 Painan. Populasi penelitian ini fase E AKL SMK Negeri 1 Painan berjumlah 40 siswa. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi terjangkau melalui teknik AuTotal SamplingAy yaitu pengambilan sampel dimana seluruh anggota populasi dijadikan sampel semua. Metode total sampling adalah metode pengambilan sampelnya sama dengan jumlah populasi. Maka sampel yang diambil dari Fase E AKL SMK Negeri 1 Painan berjumlah 40 siswa. Untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen, peneliti membandingkan hasil belajar siswa pada semester ganjil. Kelas dengan persentase hasil belajar yang lebih tinggi dipilih sebagai kelas kontrol, sedangkan kelas dengan persentase lebih rendah ditetapkan sebagai kelas eksperimen. Kelas Fase E AKL 1 memiliki persentase 45% di atas KKTP, sedangkan kelas Fase E AKL 2 memiliki persentase 35% This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 236 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ di atas KKTP. Oleh karena itu, pengambilan keputusan menetapkan kelas Fase E AKL 1 sebagai kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan dan tetap menggunakan metode pembelajaran konvensional, sedangkan kelas Fase E AKL 2 ditetapkan sebagai kelas eksperimen yang akan mendapatkan perlakuan dengan metode Problem Based Learning (PBL). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. Teknik tes yang digunakan adalah tes berupa soal essay. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan suatu media. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes essay untuk mengukur hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan materi Auneraca saldo dan jurnal penyesuaianAy. Instrumen tes ini harus memiliki empat kriteria, yaitu validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Validitas Validitas adalah syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi atau instrumen. Suatu instrumen dapat dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi . isebut vali. jika telah dapat mengukur apa yang hendak diukur. Pengujian validitas tiap butir soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Kriteria validitas apabila nilai ycEaycnycycycuyci > ycycycaycayceyco . Taraf Kesukaran Taraf kesukaran adalah salah satu ciri dari tes yang perlu diperhatikan, karena tingkat kesukaran tes menunjukkan beberapa sukar atau mudahnya butir- butir tes atau tes secara keseluruhan yang telah dilakukan. Soal yang mudah adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Indeks kesukaran dihitung menggunakan rumus: Mean TK = Skor Maksimum Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kesukaran Nilai (TK) Kategori 0,00 Terlalu sukar 0,01 < 0,30 Sukar 0,3 - 0,70 Sedang 0,70 O 1,00 Mudah TK > 1,00 Terlalu mudah Sumber : (Sundayana, 2. Daya Pembeda Analisis daya pembeda suatu soal adalah kemampuan suatu soal dalam membedakan antara peserta didik yang telah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tersebut. Untuk menentukan kekuatan diferensiasi, skor peserta tes diurutkan dari tertinggi ke terendah. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 237 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menggunakan rumus berikut: ycuI ycaycycayc Oe ycuI ycaycaycycaEa ycycoycuyc ycoycaycu Tabel 2. Indeks Daya Pembeda Interval daya Kategori D > 0,40 Sangat baik 0,30-0,39 Baik 0,20-0,29 Cukup D < 0,19 Kurang baik Sumber : (Arikunto, 2. Reliabilitas Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapan pun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Reliabilitas instrumen hasil belajar Akuntansi pada penelitian ini diuji dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach : yco OcycI 2 ycI11 = ycoOe1 . Oe ycI 2ycn ) yc Tabel 3. Kriteria Pengujian Reliabilitas 0,81 Ae 1,00 Sangat tingi 0,61 Ae 0,80 Tinggi 0,41 Ae 0,60 Sedang 0,21 Ae 0,40 Rendah 0,00 Ae 0,20 Sangat Rendah Sumber : (Sugiyono, 2. Deskripsi Variabel Penelitian Terdapat dua macam teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu teknik analisis data instrumen tes. Data yang dihasilkan dari instrumen tes akan dianalisis kenormalan dan kehomogenannya terlebih dahulu sebagai prasyarat sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Teknik analisis data instrumen tes ini meliputi uji prasyarat hipotesis dan pengujian hipotesis, yaitu sebagai berikut: Uji Prasyarat Hipotesis Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, perlu dilakukan uji prasyarat hipotesis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji normalitas sampel. Untuk uji normalitas digunakan Uji Lilliefors dengan taraf signifikan = 0,05. Dalam pengujian ini menggunakan SPSS versi 16. Hipotesis statistik : This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 238 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. Hyca ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ : Data berdistribusi normal : Data tidak berdistribusi normal Uji Homogenitas Uji Homogenitas adalah pengujian sampel yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kesamaan varians kelompok-kelompok yang membentuk sampel. Dalam penelitian ini, perhitungan homogenitas menggunakan Uji Levene, yaitu membandingkan dua varians atau lebih kelompok dengan taraf signifikansi yca = 0,05. Dalam pengujian ini menggunakan SPSS versi 16. HCA HCA : (Hipotesis no. : Varians antar kelompok adalah sama . : (Hipotesis alternati. : Varians antar. Teknik Analisis Data Uji Hipotesis Setelah uji prasyarat analisis data statisik dilakukan dan data dinyatakan berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan pengujian hipotesis. Uji-t independen pada data tes akhir digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan taraf signifikansi yca = 0,05 yang dilakukan dengan menggunakan uji-t, dan fokus pengambilan keputusan didasarkan pada nilai signifikansi . 2-taile. yang dihasilkan. Pada teknik analisis data dilakukan secara manual, namun pelaksanaannya di bantu SPSS versi 16. Hipotesis Statistik: - H0 (Hipotesis no. : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode PBL dan menggunakan metode konvensional. - Hyca (Hipotesis alternati. : Terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode PBL dan menggunakan metode konvensional. Kriteria Keputusan: - Jika Sig. -taile. > 0,05 H0 diterima, tidak ada perbedaan signifikan. - Jika Sig. -taile. O 0,05 H0 ditolak. Hyca diterima, ada perbedaan signifikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen Pada pertemuan pertama di kelas eksperimen X AKL2, guru menjelaskan terlebih dahulu metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang akan digunakan, serta memberikan penjelasan materi yang disampaikan dengan bantuan media PowerPoint. Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi menjadi lima kelompok dari total 21 siswa. Masing-masing kelompok diminta untuk menggali materi tentang neraca saldo secara aktif dan bekerja sama dalam kelompoknya. Selanjutnya, setiap kelompok diberikan permasalahan yang berkaitan dengan materi untuk dipecahkan bersama. Guru berperan sebagai pembimbing, baik secara individual kepada siswa maupun secara menyeluruh kepada kelompok, dalam membantu proses pemecahan masalah Setelah kelompok menyelesaikan permasalahan yang diberikan, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas secara bergiliran. Kelompok lain diminta untuk memperhatikan, mencocokkan dengan hasil yang telah mereka kerjakan, serta memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan presentasi. Kegiatan ditutup dengan This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 239 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ evaluasi dari guru terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, serta penarikan kesimpulan bersama mengenai materi yang dipelajari. Pada pertemuan kedua, dengan materi jurnal penyesuaian, guru meminta setiap kelompok untuk menggali materi secara mandiri. Setelah itu, kelompok diberikan permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor dalam membimbing proses pemecahan masalah tersebut, sekaligus membantu dalam penyusunan hasil kerja kelompok dalam bentuk laporan. Laporan tersebut kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok di depan kelas. Pertemuan diakhiri dengan evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. Pelaksanaan Pembelajaran Pada Kelas Kontrol Pada pertemuan pertama di kelas kontrol X AKL1, guru menyampaikan materi tentang neraca saldo dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional. Seluruh siswa memperhatikan penjelasan guru dan mencermati contoh-contoh neraca saldo yang Para siswa mengikuti arahan guru dalam menyelesaikan latihan soal yang Namun demikian, siswa belum memperoleh kesempatan untuk secara aktif menggali dan memahami materi secara mandiri. Pada pertemuan kedua, guru menyampaikan materi selanjutnya, yaitu jurnal Dalam penyampaian materi ini, guru memberikan penjelasan disertai dengan contoh-contoh jurnal penyesuaian. Siswa mencermati penjelasan guru dan diberikan kesempatan untuk menyelesaikan latihan soal secara bersama-sama di papan tulis. Selanjutnya, guru memberikan soal latihan tambahan untuk dikerjakan secara mandiri oleh siswa, sambil membimbing dan mengamati pekerjaan mereka. Deskripsi Data Hasil Belajar Siswa Tes soal uraian dilakukan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan materi yang sama, yaitu neraca saldo dan jurnal penyesuaian. Tes ini bertujuan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah penerapan metode pembelajaran yang berbeda di masing-masing kelas. Berdasarkan, hasil belajar terbanyak kelas kontrol X AKL1 terdapat pada rentang nilai 32 Ae 45, yaitu sebanyak 5 orang . ,3%), dengan data nilai Mean 984/19=51,7. Median, nilai tengah pada data hasil belajar = 48. Modus, nilai yang paling sering muncul yaitu 40 muncul 3 kali. Nilai minimum sebesar 18 dan nilai maksimum sebesar 100. Berdasarkan, hasil belajar terbanyak kelas eksperimen X AKL2 terdapat pada rentang nilai 36 Ae 46 dan 80 - 90, yaitu sebanyak 5 orang . ,81%), dengan data nilai. Mean 1476/21=70,2. Median, nilai tengah pada data hasil belajar = 74. Modus, nilai yang paling sering muncul yaitu 42, 74, 86, 96, 98 muncul 2 kali. dengan nilai minimum sebesar 36 dan nilai maksimum sebesar 98. Selanjutnya, berdasarkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang ditetapkan di SMK Negeri 1 Painan untuk mata pelajaran Akuntansi Fase E, yaitu sebesar 80. Berdasarkan batas minimal KKTP sebesar 80, terdapat 3 orang siswa atau sebesar 15,7% dari kelas kontrol yang mencapai nilai 80 ke atas. Sementara itu, pada kelas eksperimen terdapat 9 orang siswa atau sebesar 42,8% yang memperoleh nilai di atas 80. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi siswa pada kelas eksperimen dan pada kelas This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 240 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Uji Prasyarat Analisis Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi penelitian berdistribusi normal atau tidak. Untuk pengujian normalitas digunakan uji Liliefors karena jumlah sampelnya kecil kurang dari 50 data dengan menggunakan taraf signifikan = 0,05. Perhitungan uji normalitas dengan menggunakan uji Liliefors berbantuan sofware SPSS versi 16. 0 dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Tests of KolmogorovAeSmirnov Kelas df Sig. Statistic NormalityVariabel hasil belajar siswa hasil belajar siswa 0,126 0,165 19 0,200* 21 0,138 ShapiroAeWilk Statistic df Sig. 0,969 0,906 19 0,747 21 0,045 Lilliefors Significance Correction A Nilai ini adalah batas bawah dari signifikansi yang sebenarnya. Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS V16 Berdasarkan uji Liliefors (Kolmogorov-Smirno. , hasil belajar siswa pada kelas kontrol memiliki nilai signifikansi sebesar 0,200 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Sementara itu, pada kelas eksperimen, nilai signifikansi sebesar 0,138 > 0,05 juga menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar siswa dari kedua kelas, baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen, berdistribusi normal. Homogenitas Uji prasyarat berikutnya adalah pengujian homogenitas, yang bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil tes akhir belajar siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians yang sama . atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 16. Adapun hasil pengujian homogenitas disajikan pada tabel berikut. Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas of Variances Variabel Levene Statistic Sig. hasil belajar siswa 0,097 0,757 Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS V16 Berdasarkan hasil pengujian menggunakan SPSS versi 16. 0, dapat dilihat pada tabel Test of Homogeneity of Variances bahwa nilai signifikansi sebesar 0,757. Karena nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 . ,757 > 0,. , maka data dapat dinyatakan Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians yang sama atau bersifat homogen. Hasil Uji Hipotesis Uji (T-tes. Hipotesis dilakukan apa bila uji prasyarat analisis telah dilakukan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Berdasarkan uji nornalitas dan uji homogenitas diketahui bahwa data berdistribusi nornal dan homogen. Maka untuk menguji hipotesis uji indipendent sampel Ttest dengan bantuan program SPSS versi 16. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 241 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Berdasarkan hasil analisis uji T-test terhadap hasil belajar, sebagaimana ditunjukkan pada tabel Independent Sample Test, diperoleh nilai signifikansi . -taile. sebesar 0,011. Nilai ini lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,011 < 0,. Sejalan dengan nilai Thitung >Ttabel . 683>2. Dengan demikian, yaycu ditolak dan yayca diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dan menggunakan metode konvensional. Kesimpulannya, metode PBL terbukti memiliki perbedaan dalam meningkatkan hasil belajar akuntansi siswa. Pembahasan Pada penelitian ini diambil program keahlian akuntansi dan keuangan lembaga Fase E yang berjumlah dua kelas yaitu Fase E AKL1 sebagai kelas kontrol dan Fase E AKL2 sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) mendapatkan tanggapan yang sangat positif dari siswa Fase E AKL SMK Negeri 1 Painan. Hal ini di buktikan melalui pengujian hipotesis menggunakan uji t, terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode PBL pada Fase E AKL terutama pada materi neraca saldo dan jurnal penyesuaian di SMK Negeri 1 Painan dengan tingkat signifikansi . -taile. sebesar 0,011 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,011 < 0,. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan hasil belajar siswa di kelas eksperimen memiliki perbedaan dengan hasil belajar di kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah (PBL), sedangkan kelas kontrol menerapkan metode pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode PBL dan menggunakan metode konvensional. Hal ini didukung hasil penelian oleh Nurbayti Rini . bahwa adanya pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa. Hal senada didukung oleh hasil penelitian Annisa Pramadhany . terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa kelas XI Kuliner SMK Negeri 3 Payakumbuh. Dan juga didukung oleh hasil penelitian Mutawali . menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas V MI Nurul Islam Sukarbeda Mataram tahun pelajaran 2019/2020. Dan juga diperkuat teori. Menurut (Marwati, 2. menyatakan bahwa PBL menggunakan masalah nyata sebagai konteks belajar yang dapat melatih berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, sehingga meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif, dan Pada metode ini melibatkan siswa secara aktif, baik secara mental maupun fisik selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam metode ini, tanggung jawab siswa terhadap proses belajar menjadi lebih besar karena mereka lebih banyak melakukan aktivitas belajar dari pada hanya menerima informasi secara pasif. Selain itu, siswa juga dilatih untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi serta pola pikir kreatif. Proses pembelajaran pada kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional menunjukkan hasil belajar yang relatif lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Hal ini dikarenakan pembelajaran konvensional lebih berpusat pada guru sehingga siswa cenderung bersikap pasif sebagai pendengar. Selain itu, jumlah siswa yang banyak dalam kelas membuat perhatian dan bimbingan guru kepada setiap siswa menjadi kurang optimal. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 242 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa Fase E pada kompetensi keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) di SMK Negeri 1 Painan. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji hipotesis dengan menggunakan Independent Sample T-Test, yang menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,011. Karena nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 5% . ,011 < 0,. , sejalan dengan nilai Thitung >Ttabel . 683>2. maka yaycu ditolak dan yayca diterima. Artinya, terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan metode PBL dan siswa yang diajar dengan metode Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi menggunakan metode PBL dan menggunakan metode konvensional Fase E AKL SMK Negeri 1 Painan. Metode pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pencapaian hasil belajar siswa. Penggunaan metode yang tepat, seperti PBL, dapat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara lebih optimal. DAFTAR PUSTAKA