PROGRESSA: Journal of Islamic Religious Instruction P-ISSN 2579-9665 | e-ISSN 2579-9673 Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 https://jurnal. id/index. php/pgr/index PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM PERSPEKTIF TEORI KONSTRUKTIVISME PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Misnatun Misnatun Institut Agama Islam AL Khoziny. Sidoarjo misnfenny@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan teori konsruktivisme terhadap pembelajaran berdiferensiasi, serta penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau library research, yakni penelitian yang dilakukan melalui mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan berbagai sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel penelitian, dan dokumen-dokumen resmi yang terkait membahas teori konsruktifisme, pembelajaran berdiferensiasi dan penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Hasil dari penelitian ini, peserta didik dapat mengkonstruksikan pemahamannya melalui pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Teori konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu pendekatan di mana peserta didik harus secara individual menemukan dan menstransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan memperbaiki bila perlu. Sedangkan pembelajaran berdiferensiasi merupakan satu cara untuk guru memenuhi kebutuhan setiap peserta didik karena pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya. Walapun bukan hal baru dalam pembelajaran, namun penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada maa pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) hanya terbatas untuk mengukur hasil Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Pendidikan Agama Islam. Teori Konstruktivisme Abstract: This study aims to describe the constructivist theory's perspective on differentiated learning and the application of differentiated learning to Islamic Religious Education (PAI). The type of research used in this study is library research, which is research conducted through collecting data or scientific papers aimed at research objects or collecting data that are library-based. Data collection techniques are carried out from various sources, such as books, scientific journals, research articles, and official documents related to discussing constructivist theory, differentiated learning, and the application of differentiated learning to Islamic Religious Education (PAI). The results of this study show that students can construct their understanding through differentiated learning in Islamic Religious Education (PAI). Constructivist theory in learning is an approach in which students must individually discover and transform complex information, check information with existing rules, and correct it if necessary. Meanwhile, differentiated learning is one way for teachers to meet the needs of each student. It is a teaching and learning process where students can learn subject Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif matter according to their abilities, preferences, and individual needs, preventing frustration and feelings of failure in their learning experience. Although not new in learning, the application of differentiated learning in Islamic religious education (PAI) is limited to measuring learning Keywords: Constructivism Theory. Differentiated Learning, ,Islamic Religious Education PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction, 2025. Vol. 9 No. 2, 87-97 DOI: 10. 32616/pgr. Diserahkan: 30/06/2025. Diterima: 25/08/2025. Diterbitkan: 29/08/2025 E-mail Redaksi: redaktur@jurnal. Naskah ini berada di bawah kebijakan akses terbuka dan Creative Common Attribution License . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. Oleh karena itu, segala penggunaan, distribusi, dan reproduksi artikel ini, di media apa pun, tidak dibatasi selama sumber aslinya disebutkan dengan Pendahuluan Pembelajaran berdiferensiasi merupakan satu cara untuk guru memenuhi kebutuhan setiap peserta didik karena pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya 1 Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami dan menyadari bahwa tidak ada hanya satu cara, metode, strategi yang dilakukan dalam mempelajari suatu bahan pelajaran. 2 Guru perlu menyusun bahan pelajaran, kegiatan-kegiatan, tugas-tugas harian baik yang dikerjakan di kelas maupun yang di rumah, dan asesmen akhir sesuai dengan kesiapan peserta didik dalam mempelajari bahan pelajaran tersebut, minat atau hal apa yang disukai peserta didiknya dalam belajar, dan bagaimana cara menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan profil belajar peserta didiknya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga aspek yang bisa dibedakan oleh guru agar peserta didik-peserta didiknya dapat mengerti bahan pelajaran yang mereka pelajari, yaitu aspek konten yang mau diajarkan, aspek proses atau kegiatan-kegiatan bermakna yang akan dilakukan oleh peserta didik di kelas, dan aspek ketiga adalah asesmen berupa pembuatan produk yang dilakukan di bagian akhir yang dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. 4 Pembelajaran berdiferensiasi berbeda dengan pembelajaran individual seperti yang dipakai untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru tidak menghadapi peserta didik secara khusus satu persatu . n-one-o. agar ia mengerti apa yang diajarkan. didik dapat berada di kelompok besar, kecil atau secara mandiri dalam belajar. 5 Hal ini juga bisa diterapkan dalam mata peljaran pendidikan agama Islam (PAI) Pendidikan agama Islam memiliki tujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan 1 H Pitaloka and M Arsanti. AuPembelajaran Diferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka,Ay Seminar Nasional Pendidikan Sultan A, no. November . : 2020Ae23, http://jurnal. id/index. php/sendiksa/article/view/27283. 2 Ahmad Teguh Purwanto. AuPembelajaran Berdiferensiasi,Ay Jurnal Ilmiah Pedagogy 2, no. : 34Ae54, http://jurnal. id/index. php/sendiksa/article/view/27283. 3 Bahauddin Azmy and Arif Mahya Fanny. AuPembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Pendahuluan,Ay Inventa : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 7, no. : 217Ae23. 4 Redhatul Fauzia and Zaka Hadikusuma Ramadan. AuImplementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka,Ay Jurnal Educatio 9, no. : 1608Ae16, https://doi. org/10. 31949/educatio. 5 Dian Aprelia Rukmi et al. AuPembelajaran Berdiferensiasi Dalam Menumbuhkan Percaya Diri Siswa SD Dian,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti 10, no. : 798Ae810. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam. Sehingga peserta didik menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah, serta berakhlak mulia. 7 Sehingga untuk mewujudkan tujuan tersebut seorang guru PAI harus mampu melakukan pembelajaran yang berbeda dengan keragaman peserta didik yang ada. Keragaman layanan dari tinjauan perbedaan karakteristik peserta didik disebut dengan diferensiasi 8 Ketika peserta didik datang ke sekolah, mereka memiliki berbagai macam perbedaan baik secara kemampuan, pengalaman, bakat, minat, bahasa, kebudayaan, cara belajar, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Namun tidak sedikit guru PAI yang menerapkan pembelajaran di kelas tanpa memperhatikan perbedaan peserta didik. Oleh karena itu dalam tulisan ini penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran mata pelajaran PAI perspektif teori konstuktifisme. Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan pengetahuannya sendir. Sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi merupakan satu cara untuk guru memenuhi kebutuhan setiap peserta didik karena pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya. Tulisan tentang pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran PAI telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Diantaranya tulisan oleh Dini Husnah Nurdini yang berjudul Pembelajaran Beriferensiasi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Fokus penelitiannya tentang bagaimana pembelajaran di kelas tanpa membedakan karakteristik siswa, metode yang digunakan adalah Mixed Method, dan penelitian ini menghasilkan temuan siswa kelas IX dengan gaya belajar. Kinesetik ( gera. Audio . Visual . Audio Visual . engar dan liha. , serta data tentang hobi dan kebiasaan siswa masing- masing. Hasil belajar meningkat menjadi 90,1%, dengan kriteria sangat baik/ sangat memadai, terjadi kenaikan hasil belajar sebanyak 35%. 9 Terdapat kesamaan tulisan di atas dengan tulisan yang akan penulis lakukan, yakni sama-sama meneliti tentang pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran PAI. Namun terdapat perbedaan antara tulisan di atas dengan tulisan penulis yakni tulisan oleh Dini menggunakan metode penelitian mixed method sedangkan penulis menggunakan metode penelitian kajian pustaka. Dari perbedaan tersebut masih terdapat peluang penulis untuk melakukan kajian ini. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan teori konstruktivisme dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini untuk memaksimalkan hasil yang diinginkan dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir, menyelesaikan masalah, memahami peran orang dewasa, mandiri, melakukan eksplorasi, dan menghasilkan 6 Mokh Firmansyah. Iman. AuPendidikan Agama Islam: Pengertian. Tujuan. Dasar Dan Fungsi,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam 17, no. : 79Ae90. 7 Suwarno. AuPendekatan Kebijakan Publik Dalam Politik Pendidikan Islam,Ay Jurnal As-Salam 1, no. : 62Ae72. 8 Maura Trynovita Sakliressy. AuDeskripsi Pembelajaran Diferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Di Sma Yppk Teruna Bakti,Ay Journal of Education Papua Baru 1, no. : 16Ae24. 9 Dini Husniah Nurdini. AuPembelajaran Berdiferensiasi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti,Ay Asaatidzah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 1, no. : 124Ae38. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif berbagai jenis hasil belajar. Sesuai dengan teori konstruktivisme, pembelajaran harus berfokus pada peserta didik dan menekankan pengalaman dalam membangun pengetahuan yang mereka Metode Penelitian Adapun jenis penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian Library Research. Maksudnya adalah suatu riset kepustakaan. Jenis penelitian ini digunakan oleh penulis untuk memperoleh data yang bersifat teoritis sebagai landasan teori ilmiah, yaitu dengan memilih dan menganalisa literatur-literatur yang relevan dengan judul yang akan diteliti 10 Teknik pengumpulan data diperoleh dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel penelitian, dan dokumen-dokumen resmi terkait, selain itu data diambil dari sumber utama berupa metode pembelajaran berdiferensiasi dan teori konstruktifisme, dan sumber sekunder dari beberapa literature yang terkait dengan metode pembelajaran berdiferensiasi dan teori konstruktifisme. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui proses membaca, memahami, dan meneliti setiap referensi yang telah dikumpulkan, kemudian mengelompokkan informasi sesuai dengan tema yang diteliti. Data yang telah dikumpulkan disusun untuk dianalisis secara mendalam dan diintegrasikan menjadi sebuah diskusi yang utuh. Dengan metode ini, peneliti berusaha untuk menyusun pemahaman yang menyeluruh tentang konsep pembelajaran yang berbeda-beda dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tantangan dalam pelaksanaannya, serta strategi yang dapat diterapkan oleh para pengajar. Diharapkan hasil analisis ini dapat memberikan kontribusi ilmiah untuk pengembangan pembelajaran yang relevan dan efektif dalam konteks PAI. Hasil dan Pembahasan Konsep Teori Konstruktivisme Teori kontruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam stuktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. 12 Pengetahuan itu terbentuk bukan dari objek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang di amatinya. 13 Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikontruksi dalam diri seseorang. Oleh sebab itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat Tergantung individu yang melihat dan mengkontruksinya. Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan menstransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa 10 Nursapia Harahap. AuPenelitian Kepustakaan,Ay IqraAo 8, no. : 68Ae73. 11 Ramsah Ali Khusnul Auliyah. Suwarno. Uswatun Chasanah. AuStudent Centered Learning In Surah Thaha 17-18 And It Ao s Implication In Islamic Boarding School Education,Ay Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journa. , no. : 4887Ae99. 12 Siska Nerita et al. AuPemikiran Konstruktivisme Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran,Ay Jurnal Edication and Development 11, no. : 292Ae97, https://doi. org/10. 37081/ed. 13 Muh. Syafir. Ramlan Mahmud, and Ediaman. AuTeori Belajar Skinner,Ay Jurnal Sigma: Suara Intelektual Gaya Matematika 1 . : 57, https://journal. id/index. php/sigma/article/view/7205/pdf. 14 Suparlan. AuTeori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran,Ay Islamika : Jurnal Keislaman Dan Ilmu Pendidikan 1, no. : 79Ae88. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu. Adapun konsep kunci dari teori konstruktivisme antara lain: Pertama, peserta didik sebagai individu yang unik yaitu teori konstruktivisme berpandangan bahwa pembelajar merupakan individu yang unik dengan kebutuhan dan latar belakang yang unik pula. 16 Dalam teori ini tidak hanya memperkenalkan keunikan dan kompleksitas pembelajar tetapi juga secara nyata mendorong, memotivasi dan memberi penghargaan kepada siswa sebagai integral dari proses Kedua . Self Regulated Leaner (Pembelajar yang dapat mengelola diri sendir. siswa dikembangkan menjadi seorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif, yang sesuai dengan gaya belajarnya dan tahu bagaimana serta kapan menggunakan pengetahuan itu dalam situasi pembelajaran yang berbeda. Self Regulated Leaner termotivasi untuk belajar oleh dirinya sendiri, bukan dari nilai yang diperolehnya sebagai hasil belajar atau karena motivasi eksternal yang lain, misalnya dari guru atau orang tuanya. Keempat. Tanggung jawab Pembelajaran dalam konstruktivisme ini berpandangan bahwa tanggung jawab belajar bertumpu kepada siswa. Teori ini menekankan bahwa siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, dan berbeda pendapat dengan pandangan pendidikan sebelumnya yang menyatakan tanggung jawab pembelajaran lebih kepada guru, sedangkan siswa berperan secara pasif dan reseptif. Disini para pembelajar mencari makna dan akan mencoba mencari keteraturan dari berbagai kejadian yang ada di dunia, bahkan seandainya informasi yang tersedia tidak lengkap. Kelima. Motivasi belajar secara kuat bergantung kepada kepercayaan siswa terhadap potensi belajarnya sendiri. Perasaan kompeten dan kepercayaan terhadap potensi untuk memecahkan masalah baru, diturunkan dari pengalaman langsung di dalam menguasai masalah pada masa lalu. Maka dari itu belajar dari pengalaman akan memperoleh kepercayaan diri, serta motivasi untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks lagi. 18 Keenam, peran guru sebagai fasilitator jika seorang guru menyampaikan kuliah/ceramah yang menyangkut pokok bahasan, maka fasilitator membantu siswa untuk memperoleh pemahamannya sendiri terhadap pokok bahasan/konten kurikulum. Ketujuh. Kolaborasi Antarpembelajar Pembelajar dengan keterampilan dan latar belakang yang berbeda diakomodasi untuk melakukan kolaborasi dalam penyelesaian tugas dan diskusidiskusi agar mencapai pemahaman yang sama tentang kebenaran dalam suatu wilayah bahasan yang spesifik, dan Kedelapan. Proses Top-Down (Proses dari Atas ke Bawa. dalam proses ini siswa diperkenalkan dulu dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dengan bantuan guru menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah seperti itu. Pada prinsipnya pembelajaran dimulai dengan pemberian dan pelatihan keterampilanketerampilan dasar dan secara bertahap diberikan keterampilan-keterampilan yang lebih 15 Meyniar Albina et al. AuModel Pembelajaran Di Abad Ke 21,Ay Warta Dharmawangsa 16, no. : 939Ae55, https://doi. org/10. 46576/wdw. 16 Achmad Supriyanto Kharisma Anjelita. AuTeori Belajar Konstruktivistik Dan Implikasinya Di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Citra Pendidikan Anak 3 . : 916Ae22. 17 Suwarno et al. AuUsing Tahsin Al-QurAoan Based on Self-Regulated Learning to Improve StudentsAo Capabilities in Reading The Al-QurAoan,Ay TaAodib: Jurnal Pendidikan Islam 28, no. : 121Ae35, https://doi. org/10. 19109/td. 18 E S M Habbah et al. AuStrategi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Yang Efektif Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa,Ay Holistika: Jurnal Ilmiah https://jurnal. id/index. php/holistika/article/view/16719https://jurnal. id/index. php/holistik a/article/download/16719/8715. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif Teori konstruktivisme dalam pembelajaran menekankan bahwa siswa secara aktif menciptakan pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, bukan sekadar menerima informasi secara pasif. Pengetahuan dipandang sebagai hasil dari konstruksi kognitif masing-masing individu, bukan sebagai salinan dari kenyataan. Berikut Adalah hal-hal utama yang berkaitan dengan teori konstruktivisme dalam proses belajar Aktif membangun pengetahuan: Peserta didik tidak hanya menerima informasi secara diam, tetapi secara aktif mengembangkan pemahaman mereka sendiri. Pengetahuan dibangun dari pengalaman: Pengalaman pribadi menjadi landasan dalam membentuk arti dan pengetahuan. Peran Penting konteks: Faktor sosial dan budaya mempengaruhi cara pengetahuan dibentuk. Peran guru sebagai fasilitator: Guru memiliki tanggung jawab dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung serta membimbing murid dalam proses pengembangan pengetahuan. Pembelajaran Berdireferensiasi Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan kontruktivisme ada pembelajaran Diferensiasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pembedaan, penyusunan atau pembagian atas dua bagian yang berbeda . enurut fungsi ds. 20 Pembelajaran berdiferensiasi merupakan satu cara untuk guru memenuhi kebutuhan setiap peserta didik karena pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami dan menyadari bahwa tidak ada hanya satu cara, metode, strategi yang dilakukan dalam mempelajari suatu bahan pelajaran. Guru perlu menyusun bahan pelajaran, kegiatan-kegiatan, tugas tugas harian baik yang dikerjakan di kelas maupun yang di rumah, dan asesmen akhir sesuai dengan kesiapan peserta didik dalam mempelajari bahan pelajaran tersebut, minat atau hal apa yang disukai peserta didik peserta didiknya dalam belajar, dan bagaimana cara menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan profil belajar peserta didik-peserta didiknya. Jadi dalam pembelajaran berdiferensiasi ada 3 aspek yang bisa dibedakan oleh guru agar peserta didiknya dapat mengerti bahan pelajaran yang mereka pelajari, yaitu aspek konten yang mau diajarkan, aspek proses atau kegiatan-kegiatan bermakna yang akan dilakukan oleh peserta didik di kelas, dan aspek ketiga adalah asesmen berupa pembuatan produk yang dilakukan di bagian akhir yang dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. 24 Pembelajaran berdiferensiasi berbeda dengan pembelajaran individual seperti yang dipakai untuk mengajar 19 Ayu Irnadianis Ifada. AuPeningkatan Kemampuan Kolaborasi Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Problem Based Learning,Ay PTK: Jurnal Tindakan Kelas 4, no. : 447Ae60. 20 Dkk Dendy Sugono. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2. 21 Ahmad Teguh Purwanto. AuPembelajaran Berdiferensiasi. Ay 22 Pitaloka and Arsanti. AuPembelajaran Diferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka. Ay 23 Susanti Arian Fitri Suwarno. Ramadan. AuPotential and Problem in Learning Tahsin Al-QurAoan to Improve StudentsAo Ability to Read Al-QurAoan,Ay LITERATUS Vol. 4, no. Nomor 1 . : 82Ae86. 24 Desy Wahyuningsari. AuPembelajaran Berdiferensiasi Dalam Rangka Mewujudkan Merdeka Belajar,Ay Jurnal Jendela Pendidikan 2, no. : 529Ae35. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif anak-anak berkebutuhan khusus. 25 Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru tidak menghadapi peserta didik secara khusus satu persatu . n-one- o. agar ia mengerti apa yang diajarkan. didik dapat berada di kelompok besar, kecil atau secara mandiri dalam belajar. 26 Mariati dkk . Tomlinson menyatakan dalam bukunya bahwa ada prinsip yang harus diingat guru dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat disimpulkan berdasarkan gambar berikut ini : Gambar 1. 1 Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi Adapun dalam penerapannya, pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan melalui serangkaian tahapan yang saling terkait, berkesinambungan, dan berulang, yang menciptakan sebuah siklus proses. Gambar 2. 2 Siklus Proses Pembelajaran Berdiferensiasi (Sumber: Diadaptasi dari Oaksford and Jone. Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pembelajaran berdiferensiasi pada dasarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan, hanya penerapannya dalam pembelajaran kembali diprioritaskan sejak program merdeka belajar dengan mengetahui keragaman karakter dan kebutuhan setiap peserta didik dapat membantu 25 Dwi Putriana Naibaho. AuStrategi Pembelajaran Berdiferensiasi Mampu Meningkatkan Pemahaman Belajar Peserta Didik,Ay Journal of Creative Student Research (JCSR) 1, no. 26 Moh Bisri Fitriyah. AuPembelajaran Berdiferensiasi Berdasarkan Keragaman Dan Keunikan Siswa Sekolah Dasar Manajemen Pendidikan Islam . Universitas Islam Negeri ( UIN ) Raden Mas Said Surakarta 1 , 2,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Hasil Penelitian 9, no. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif peserta didikdan memberikan kesempatan belajar yang berbeda sesuai dengan minat belajar peserta didik. 27 Namun pada pelaksanaannya, pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum merdeka masih menemui berbagai kendala. Pembelajaran berdiferensiasi juga masih jarang dilakukan, karena guru masih melakukan pembelajaran yang seragam, meskipun sudah mengetahui bahwa karakteristik peserta didik di kelas tersebut berbeda-beda baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang selaras dengan pendidikan agama Islam, yang dimana memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menentukan gaya belajarnya masing-masing sehingga menjadikan peserta didik menjadi lebih mandiri, hal tersebut sesuai dengan pendidikan agama Islam yaitu mewujudkan manusia yang memiliki rasa tanggung jawab. 29 Dengan merespons perbedaan individual, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memotivasi, sehinggapeserta didik dapat lebih aktif terlibat dalam pemahaman dan praktik ajaran agama Islam. Implementasi ini perlu didukung oleh dukungan dan pelatihan yang memadai bagi para pendidik agar dapat menghadapi tantangan dengan lebih Dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah menenangah tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga bertujuan untuk mengembangkan dan menanamkan sikap dan nilai-nilai Islami pada peserta didik. 30 Pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu guru untuk menanamkannilai-nilai Islami dengan cara yang lebih personal dan relevan bagi setiap peserta didik, karena guru bertanggung jawab untuk memberikan materi yang beraganam dengan menyesuaikan minat belajar dan kebutuhan peserta didik, proses pembelajaran yang dilaksankan juga sesuai dengan cara belajar pesertadidik, dan peserta didik juga diajak untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan minat mereka. 31 Guru juga perlun melihat latar belakang pengetahuan agama yang dimiliki peserta didik, agar guru dapat menyesuaikan perbedaan tersebut untuk memastikan peserta didik dapat memperoleh pemahaman yangbaik. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) berarti menyusun cara belajar sesuai dengan kebutuhan beragam peserta didik. Ini mencakup pengetahuan tentang kesiapan siswa dalam belajar, ketertarikan mereka, dan cara belajar yang berbeda, serta penerapan berbagai metode untuk memenuhi perbedaan tersebut. Adapun Langkah-langkah sebagai berikut: Pemetaan Kebutuhan Belajar Peserta Didik Kesiapan Belajar: Guru harus mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai konsepkonsep dasar PAI dengan memanfaatkan tes awal atau pertanyaan pembuka 27 Saefiana Saefiana et al. AuTeori Pembelajaran Dan Perbedaan Gaya Belajar,Ay Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 3, no. : 150Ae58, https://doi. org/10. 33487/mgr. 28 Farid Haluti et al. AuPenerapan Metode Pendekatan Kecerdasan Emosional Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,Ay Damhil Education Journal 3 . : 85Ae92, https://doi. org/10. 37905/dej. 29 Desy Wahyuningsari. AuPembelajaran Berdiferensiasi Dalam Rangka Mewujudkan Merdeka Belajar. Ay 30 Suwarno Suwarno et al. AuPembelajaran Aqidah Akhlak Mengunakan Metode Bernyanyi Untuk Membantu Daya Ingat Siswa Kelas i Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (Mi. 1 Aceh Tengah,Ay TAAoLIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam 5, no. : 124Ae39, https://doi. org/10. 52166/talim. 31 Abdulah Abdulah and Muhammad Nur Wangid. AuNeeds Analysis of Interactive Multimedia Based on Drill and Practice to Improve Motivation and Critical Reading Skills in Elementary Schools,Ay Jurnal Pendidikan: Teori. Penelitian. Dan Pengembangan 6, no. : 356, https://doi. org/10. 17977/jptpp. 32 Annisa Armadani. AuPeran Guru Dalam Membangun Kecerdasan Emosional Peserta Didik Sekolah Dasar,Ay Jurnal CERDAS Proklamator 12, no. : 55Ae64. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Misnatun. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif Minat Belajar: Guru perlu memahami tingkat ketertarikan peserta didik terhadap topik tertentu dalam PAI, misalnya dengan melakukan survei atau mengadakan diskusi. Gaya Belajar: Guru perlu harus memahami cara peserta didik lebih menyukai belajar, apakah itu melalui visual, auditori, atau kinesteti, dengan cara observasi atau menggunakan kuesioner. Penyusunan Rencana Pembelajaran: Diferensiasi Konten: Menyediakan materi yang beragam, seperti bacaan dengan berbagai tingkat kesulitan, video edukasi, atau grafik informasi Diferensiasi Proses: Menyediakan pilihan kegiatan belajar, seperti diskusi dalam kelompok, presentasi individu , atau penelitian proyek. Diferensiasi Produk: Memungkinkan peserta didik untuk memilih metode dalam mengekspresikan pemahaman mereka, contohnya dengan menyusun makalah, poster, atau video singkat. Pelaksanaan Pembelajaran Pengelompokan Peserta Didik: peserta didik dapat dikelompokkan berdasarkan kesiapan, minat, atau gaya belajar untuk kegiatan tertentu. Pemanfaatan Berbagai Media: Menggunakan berbagai sumber belajar dan media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Pendekatan Kontekstual: Mengaitkan materi PAI dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan konteks sosial budaya. Evaluasi Evaluasi Formatif: Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau pemahaman peserta didik dan memberikan umpan balik. Evaluasi Sumatif: Dilakukan di akhir pembelajaran untuk mengukur pencapaian tujuan Kesimpulan Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) dengan 3 aspek yang bisa dibedakan oleh guru agar peserta didiknya dapat mengerti bahan pelajaran yang mereka pelajari, yaitu aspek konten yang mau diajarkan, aspek proses atau kegiatan-kegiatan bermakna yang akan dilakukan oleh peserta didik di kelas, dan aspek ketiga adalah asesmen berupa pembuatan produk yang dilakukan di bagian akhir yang dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Adapun pembelajaran berdiferensiasi dalam sudut pandang konstruktivisme pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) menekankan pada proses belajar yang focus pada siswa. Di sini, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik dalam membentuk pengetahuan mereka sendiri tentang ajaran Islam dengan mempertimbangkan pengalaman dan cara belajar masing-masing. Metode ini mengakui bahwa setiap siswa memiliki variasi dalam hal pengetahuan sebelumnya, minat, serta metode belajar, sehingga proses pembelajaran harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing Daftar Pustaka