Aviation Science and Technology Journal DOI : https://doi. org/10. 54147/astj. | Vol. 01 | No. 01 | Januari 2024 Halaman 09 - 19 Analisis Reliability untuk Menentukan Mean Time Between Failure (MTBF) Battery Pesawat Airbus 330 di PT GMF AeroAsia Tbk Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 Politeknik Penerbangan Indonesia. Indonesia Email : Firdaus. abizar@gmail. com, 2lilies. esthi@ppicurug. id , 3iwan. engkus@ppicurug. 1,2,3 Received : 01 Feb 2024 Revised : 01 Feb 2024 Accepted : 01 Feb 2024 ABSTRAK Penelitian ini membahas masalah kegagalan pada komponen battery pesawat airbus A330 dengan P/N 405CH yang sangat berpengaruh terhadap keselamatan Metode mix metode digunakan untuk menganalisis keandalan dan akar masalah dari komponen battery tersebut. Metode kuantitatif digunakan untuk menghitung mean time between failure (MTBF) dan didapatkan hasil MTBF sebesar 1801,509804 jam untuk komponen battery P/N 405CH pada pesawat airbus A330. Metode kualitatif menggunakan root cause analysis (RCA) dengan bantuan fishbone diagram dan fault tree analysis (FTA) untuk mengidentifikasi faktor penyebab kegagalan. Beberapa faktor yang diidentifikasi antara lain faktor manusia, mesin, metode, dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan tindakan preventif seperti memberikan training khusus kepada teknisi terkait komponen battery, memantau kondisi lingkungan penyimpanan, dan memastikan prosedur perawatan sesuai dengan CMM. Pengawasan terhadap teknisi junior juga penting untuk memastikan dilakukan dengan baik dan mengurangi risiko kegagalan pada komponen battery. Kata kunci: MTBF. RCA. FTA, battery ABSTRACT This research discusses the problem of failure in the battery components of the Airbus A330 aircraft with P/N 405CH which greatly affects flight safety. The mix method is used to analyze the reliability and root problems of the battery Quantitative methods were used to calculate the mean time between failure (MTBF) and obtained MTBF results of 1801. 509804 hours for the P/N 405CH battery component on the Airbus A330 aircraft. The qualitative method uses root cause analysis (RCA) with the help of fishbone diagrams and fault tree analysis (FTA) to identify factors that cause failure. Several factors identified include human, machine, method and environmental factors. To overcome this problem, preventive measures are needed, such as providing special training to technicians regarding battery components, monitoring storage environmental conditions, and ensuring maintenance procedures are in accordance with CMM. Supervision of junior technicians is also important to ensure it is done properly and reduces the risk of failure of battery components. Keywords: MTBF. RCA. FTA, battery Aviation Science and Technology Journal Ae 9 Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 PENDAHULUAN Pesawat terbang merupakan transportasi udara yang sangat populer di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh atau mengirim barang dengan waktu yang lebih singkat. Karena besarnya minat masyarakat terhadap moda transportasi ini, penting untuk memastikan bahwa pesawat terbang dapat beroperasi dengan baik dan dalam keadaan yang aman. Di dalam industri penerbangan, kondisi ini biasanya disebut dengan kelaikan udara. Undang-undang no. 1 tahun 2009 menyatakan bahwa kelaikudaraan adalah terpenuhinya persyaratan desain tipe pesawat udara dan dalam kondisi aman untuk beroperasi . Agar pesawat udara dapat terbang dalam kondisi aman untuk beroperasi, suatu perusahaan penerbangan atau pemilik pesawat udara harus melaksanakan perawatan. Perawatan merupakan bagian yang penting dalam menyiapkan pesawat yang layak terbang sesuai dengan standar keselamatan penerbangan yang meliputi pemeriksaan, penggantian, perbaikan kerusakan dan perwujudan dari perubahan atau perbaikan pesawat . Perawatan pesawat udara menjadi unsur penting dalam dunia penerbangan . Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pesawat terjaga kelaikudaraannya agar dapat dioperasikan dengan aman dan terpercaya. Apabila perawatan tidak dilakukan dengan benar sesuai standar dan prosedur yang berlaku, maka dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Setiap pesawat udara memiliki program perawatan . aintenance progra. yang berisi informasi rinci tentang tindakan perawatan yang harus dilakukan, termasuk kapan waktu yang tepat dan bagaimana melakukan perawatan tersebut. Dalam hal ini menentukan nilai reliability atau keandalan dari komponen pesawat merupakan salah satu dari bagian dari perawatan agar komponen pada pesawat dapat berfungsi dan bekerja secara maksimal tanpa mengalami kegagalan sebelum waktu yang telah ditentukan untuk dilakukan perawatan atau maintenance. Dalam jurnal . menyatakan reliability atau keandalan adalah kemampuan suatu komponen atau sistem untuk menjalankan fungsinya selama periode waktu . yang telah ditentukan tanpa mengalami kegagalan dalam Keandalan adalah salah satu faktor yang dapat memengaruhi kinerja operasional suatu sistem dengan signifikan. Battery pesawat memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai suplai listrik ketika pesawat di darat, suplai listrik pada kondisi emergency, sebagai suplai arus DC di pesawat, dan lain-lain . Pada studi kasus ini penulis membahas akar permasalahan suatu kegagalan dan mengukur keandalan atau reliability pada komponen battery pesawat airbus A330 khususnya pada komponen battery dengan P/N 405CH, karena masalah battery ini sangat mengganggu operasional penerbangan dan sangat berpengaruh terhadap faktor keselamatan penerbangan. Pada periode bulan januari 2017 sampai dengan oktober 2022 atau dalam rentan waktu 5 tahun kebelakang menunjukkan komponen dengan P/N 405CH telah 51 kali dilakukan unscheduled removal dari 205 kejadian unscheduled component removal pada ATA 24 pesawat airbus A330 Garuda Indonesia di PT. GMF AeroAsia Tbk. Berdasarkan uraian diatas diketahui banyaknya jumlah kegiatan komponen removal yang dilaksanakan menandakan bahwa komponen battery masih sering terjadi kegagalan contoh dari masalah yang sering terjadi pada battery yaitu low voltage, weak,dan fault pada komponen battery. Selain data komponen removal diatas, terdapat 8 kejadian menyebabkan pesawat delay, return to apron (RTA), dan batal untuk melaksakan penerbangan. Untuk itu perlu dilakukan analisis reliability dan akar masalah dari komponen battery untuk mengetahui nilai reliability pada komponen battery penulis menggunakan mean time between failure (MTBF) untuk meghitung nilai Dalam buku the new weibull handbook . mean time between failure (MTBF) adalah waktu rata-rata antara kegagalan dan dihitung dengan membagi total waktu operasi pada semua sistem dengan jumlah kegagalan yang terjadi pada sistem yang dapat diperbaiki. Aviation Science and Technology Journal Ae 10 Analisis Reliability untuk Menentukan Mean Time Between Failure (MTBF) Battery Pesawat Airbus 330 di PT GMF AeroAsia Tbk bertujuan untuk dapat mengetahui nilai reliabilty atau keandalan dari suatu komponen, khususnya pada komponen yang memiliki umur atau dikenal dengan komponen hardtime. MTBF adalah waktu rata-rata yang diperlukan oleh sistem umtuk bekerja tanpa mengalami kegagalan dalam periode waktu tertentu. MTBF menggunakan satuan jam, semakin tinggi nilai MTBF maka semakin tinggi keandalan suatu sistem . Setelah diketahui nilai reliability dari komponen battery peneliti juga melakukan penelitian untuk dapat mengetahui akar masalah dari komponen pada battery pesawat airbus A330 dengan P/N 405CH yang mengakibatkan terjadinya kegagalan pada sistem electrical power khususnya pada komponen battery dengan menggunakan metode root cause analysis (RCA). root cause analysis (RCA) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatasi masalah atau ketidaksesuaian,dalam rangka untuk mendapatkan akar penyebab suatu masalah . root cause analysis (RCA) merupakan suatu metode untuk penyelesaian permasalahan, mencoba mengidentifikasi faktor penyebab dari suatu permasalahan atau kejadian yang tidak root cause analysis (RCA) merupakan suatu metode untuk membantu menjawab pertanyaan Aoapa yang terjadi?Ao. Aobagaimana bisa terjadi?Ao, dan Aomengapa itu terjadi?Ao . Untuk mencari akar masalah penulis menggunakan bantuan tools fishbone analysis dan fault tree Menurut . dalam jurnalnya menyatakan metode fishbone atau yang juga dikenal dengan diagram sebab-akibat adalah suatu teknik dalam pemecahan masalah yang membantu untuk memikirkan berbagai kemungkinan penyebab dari suatu masalah yang ingin Diagram ini dikenal dengan istilah diagram tulang ikan . ishbone diagra. yang diperkenalkan pertama kalinya oleh Profesor Kaoru Ishikawa (Tokyo Universit. pada tahun 1943. Diagram ini berguna untuk menganalisa dan menemukan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan dalam menentukan karakteristik kualitas output kerja . Diagram ini digambarkan seperti tulang ikan, dimana "kepala ikan" merupakan masalah yang ingin dipecahkan, sedangkan tulang-tulangnya mewakili berbagai penyebab yang mungkin menjadi akar Dengan menggunakan metode ini, kita dapat melakukan analisis terhadap berbagai kemungkinan penyebab masalah dengan lebih sistematis dan efektif. Setelah digambarkan menggunakan diagram sebab akibat atau fishbone dilakukan penelitian untuk mencari akar masalah menggunakan fault tree analysis (FTA) agar dapat mengetahui akar masalah secara terperinci. Fault tree analysis (FTA) adalah suatu model diagram yang terdiri dari beberapa kombinasi kesalahan . secara pararel dan secara berurutan yang mungkin menyebabkan awal dari failure event yang sudah ditetapkan. Fault tree analysis (FTA) adalah suatu metode grafis yang memodelkan bagaimana kegagalan menyebar melalui sistem, yaitu, bagaimana kegagalan satu atau lebih komponen menyebabkan kegagalan seluruh system. Fault tree analysis (FTA) mengidentifikasi, memodelkan, dan mengevaluasi keterkaitan dari peristiwa yang mengarah ke kegagalan dan kejadian yang tidak diinginkan. METODE Untuk menganalisis komponen battery pada pesawat Airbus A330 menggunakan metodologi mix metode, yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan dalam perhitungan nilai Mean Time Between Failure (MTBF). MTBF merupakan metrik yang digunakan untuk mengukur rata-rata waktu antara kegagalan komponen battery pada pesawat Airbus A330. Dengan menghitung MTBF, penulis dapat memperoleh informasi tentang laju kegagalan komponen battery dan memahami seberapa sering kegagalan terjadi. Metode kualitatif digunakan melalui pendekatan root cause analysis (RCA). Dengan menggunakan metode RCA, penulis dapat mengidentifikasi akar masalah dari komponen RCA membantu penulis dalam menelusuri dan menganalisis penyebab kegagalan Aviation Science and Technology Journal Ae 11 Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 komponen battery, sehingga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi keandalan dan kinerja battery. Selain itu, penulis juga menggunakan bantuan tools fishbone analysis method untuk mendukung analisis RCA. Fishbone analysis, atau juga dikenal sebagai diagram sebab-akibat, membantu penulis dalam mengidentifikasi faktor-faktor potensial yang dapat menjadi penyebab kegagalan komponen battery. Dengan menggunakan fishbone analysis, penulis dapat mengorganisir dan memvisualisasikan hubungan antara faktor-faktor yang berbeda, sehingga dapat mengidentifikasi sumber masalah dengan lebih jelas. Dengan menggunakan metodologi mix metode ini, penulis bertujuan agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang akar masalah dari komponen battery pada pesawat Airbus A330 dan mengetahui laju kegagalan komponen battery tersebut. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian ini memungkinkan penulis untuk melihat secara mendalam. faktor-faktor penyebab kegagalan dan memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan terkait perbaikan dan perbaikan yang diperlukan pada komponen battery. HASIL DAN PEMBAHASAN DESKRIPSI DATA DAN KRITERIA Komponen battery dengan P/N 405CH pada pesawat airbus A330 memiliki spesifikasi sebagai berikut: Part number : 405CH Vendor : Saft Maintence manual : CMM 24-38-53 (F6. Klasifikasi spare part : Rotable Part Interval sign to shop : 3000 flight hour / 12 Month for overhaul Operating temperature : -40 to 71 Aya (- 40 to 160 Ay. Spesifkasi battery P/N 405CH Tabel. 1 Spesifkasi battery P/N 405CH Nominal voltage Rated capacity ya1 Ah Battery terminals Consumable volume of electrolyte 40 Ah Connector according to MS 3509 Solution of KOH 60 ycayco3 . 66 ycnycu3 ) per cell Maximum dimensions of the battery -Length -Width -Height 4 mm . 57 i. 300 mm . 8 i. 262 mm . 31 i. Battery maximum weight 8 kg . 7 lb. Arus yang digunakan untuk charging pada komponen battery dapat dilihat pada Tabel. pada tabel tersebut menerangkan bahwa setiap item untuk melaksanakan charging harus dapat disesuaikan dengan nilai yang sudah ditentukan agar komponen battery tidak mengalami kerusakan karena tidak sesuai prosedur yang sudah ditentukan oleh manufaktur melalui component maintenance manual. Item 1 ya1 A 5 ya1 A 1 ya1 A Tabel. 2 arus yang digunakan untuk charging Value Use for Charge/Discharge Charge Charge Aviation Science and Technology Journal Ae 12 Analisis Reliability untuk Menentukan Mean Time Between Failure (MTBF) Battery Pesawat Airbus 330 di PT GMF AeroAsia Tbk Data tersebut didapat dari component maintenance manual battery. Total data flight hour (FH) per tahun unschedule removal dari tahun 2017-2022 didapat dari TSI: : 33099 flight hour (FH), 21826 flight hour (FH), : 8179 flight hour (FH), : 9104 flight hour (FH), : 14631 flight hour (FH), : 5038 flight hour (FH). PENELITIAN KUANTITATIF Mean Time Between Failure (MTBF) Dari total keselurahan unschedule removal pada tahun 2017-2022 yaitu sebesar 91877 FH selanjutnya akan dilakukan perhitungan untuk mengetahui laju kegagalan dan hasil dari perhitungan mean time between failure (MTBF) komponen battery pesawat airbus A330 P/N 405CH. Dari data AFML pada kolom TSI untuk menentukan nilai MTBF pada komponen battery dilakukan perhitungan nilai laju kegagalan () terlebih dahulu setelah diketahui nilai laju kegagalan () dilanjutkan untuk perhutingan nilai MTBF dari komponen battery yang ditunjukkan pada perhitungan berikut: Laju kegagalan (): yuI= Oc ycycycoycoycaEa ycoyceycycycycaycoycaycu = 91877 = 0,00055509 FH Oc ycycaycoycyc ycuycyyceycycaycycn Mean Time Between Failure (MTBF): = 0,00055509 = 1801,509804 FH yuI Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai MTBF pada komponen battery P/N 405CH sebesar 1801,509804 FH yang masih jauh dibawah umur yang ditentukan oleh manufactur yaitu 3000 FH untuk melaksanakan regular check. maka perlu adanya tindak lanjut terkait perawatan pada komponen battery P/N 405CH untuk menambahkan regular check yang mendekati hasil dari perhitungan MTBF yaitu 1800 FH. Dari maintenance program ditemukan bahwa ada kegiatan perawatan di 1600 FH sehingga dapat dilaksanakan penambahan kegiatan regular check pada komponen battery dan tambahkan treatment untuk full cleaning dan insulation check pada battery untuk mengurangi kegagalan battery P/N 405CH. PENELITIAN KUALITATIF DENGAN METODE ROOT CAUSE ANALYSIS Penentuan Top Event Kegagalan Dari Komponen Battery P/N 405CH Setalah dilakukan perhitungan nilai MTBF dadapatkan hasil 1801,509804 hours nilai tersebut tidak sesuai dengan maintenance program yang yang ditentukan oleh manufaktur yaitu 3000 FH untuk dilakukan regular check. Hal ini perlu dilakukan penelitian lebih mendalam untuk dapat mengetahui apa yang membuat komponen baterai tersebut tidak dapat mencapai flight hour yang sudah ditentukan oleh maintenance program yaitu 3000 FH dilakukan regular check. Dari uraian tersebut perlu dilaksanakan penentuan top event kegagalan dari komponen battery P/N 405CH sehingga diketahui kegagalan apa saja yang sering terjadi pada komponen battery dengan bantuan tools diagram pareto sehingga diketahui peyebab kegagalan apa yang sering terjadi untuk mencari akar masalah kegagalan pada komponen battery pesawat airbus A330 pada pesawat Garuda Indonesia. Aviation Science and Technology Journal Ae 13 Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 Dari data AFML didapatkan hasil top event dari kegagalan pada komponen battery dengan P/N 405CH pesawat airbus A330 Garuda Indonesia dengan menggunakan diagram pareto yang ditampilkan pada Gambar. Top Event Unschedule Removal DIRTY . LOW INSULATION AND NEED MORE BATTERY LIQUID DIRTY (SALT PARTICLE), LOW INSULATION, NEED MORE BATTERY LIQUID DIRTY AND LOW LEVEL LIQUID LOW LEVEL LIQUID DIRTY AND NEED MORE BATTERY LIQUID DIRTY (SALT PARTICLE), NEED MORE BATTERY LIQUID DIRTY . LOW INSULATION Gambar. 1 diagram top event kegagalan battery Diketahui penyebab terjadinya kegagalan tertinggi yaitu dirty, low insulation and need more battery liquid merupakan faktor tertinggi terjadinya kegagalan komponene battery dengan P/N 405CH yang masih jauh dibawah umur yang ditentukan oleh manufactur yaitu 3000 FH untuk dilaksanakan regular check. Setelah diketahui top event kegagalan battery selanjutnya melaksanakan wawancara terstruktur terhadap 3 narasumber expert di lapangan, untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan pada komponen battery P/N 405CH pada pesawat airbus A330 series dilanjutkan dengan pembuatan diagram faktor penyebab kegagalan pada komponen battery. Pembuatan Diagram Faktor Penyebab Kegagalan Berikut faktor-faktor kegagalan dari Gambar. 1 disajikan dengan menggunakan diagram fishbone atau diagram sebab akibat dari kesimpulan wawancara terstruktur dari 3 narasumber exepert pada pesawat Airbus A330 series di PT. GMF AeroAsia: Gambar. 2 Fishbone diagram Aviation Science and Technology Journal Ae 14 Analisis Reliability untuk Menentukan Mean Time Between Failure (MTBF) Battery Pesawat Airbus 330 di PT GMF AeroAsia Tbk Pada diagram fishbone di atas, terdapat beberapa indikator yang menjadi faktor terbesar dari kegagalan battery yaitu "man," "environment," "material," dan "method". Tabel. 3 Data Penyebab Kegagalan Komponen Battery Faktor Penyebab Man Penyebab kegagalan Belum adanya training spesifik terkait penanganan komponen battery pada teknisi di Kurangnya experience pada teknisi Environment Temperature suhu tidak Kelembapan udara tinggi Material Leak of electrolit Overcharge Banyak debu Method Perlu supervisi pada teknisi Keterangan Terdapat beberapa penyebab permasalahan, yaitu kurang pengalaman dan belum adanya pelatihan . Faktor yang memiliki resiko sangat tinggi adalah ketiadaan pelatihan, karena seorang teknisi pesawat harus memahami bagaimana cara menangani dan melakukan perawatan khususnya pada komponen battery di pesawat, dan ilmu tersebut diperoleh melalui terdapat permasalahan yang merupakan faktor paling utama dalam kegagalan pada komponen battery, yaitu suhu yang tidak stabil dan kelembapan udara yang sangat Kedua faktor ini memiliki peran besar karena battery merupakan komponen elektronik yang sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu dan tingginya kelembapan udara. masih terdapat beberapa faktor, yaitu "leak of electrolyte," "overcharge," dan "banyak Tempat penempatan battery yang memiliki sirkulasi udara yang tinggi dapat menyebabkan battery mudah kotor. Auleak of electrolyteAy disebabkan karena prosedur penyesuaian level dari elektrolit tidak dilakukan dengan benar dan mengakibatkan kebocoran pada elektrolit. Diperlukan pengawasan atau supervisi terhadap mekanik junior. Hal ini untuk memastikan bahwa mekanik junior yang masih kurang berpengalaman menyebabkan kegagalan pada komponen Berdasarkan uraian pada Tabel. 3 adapun kesimpulan untuk menentukan jenis perawatan yang tepat pada komponen battery pada pesawat airbus A330 dilalukan dapat dilihat pada tabel. Aviation Science and Technology Journal Ae 15 Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 Tabel. 4 Kesimpulan dari diagram fishbone Faktor Penyebab Man Penyebab Kegagalan Belum adanya training spesifik terkait penanganan komponen battery pada teknisi di Kurangnya experience pada teknisi Environment Temperature suhu tidak Kelembapan udara tinggi Material Leak of electrolit Banyak debu Perlu adanya supervisi pada teknisi junior Method Mitigasi tindakan preventif seperti memberikan training pada teknisi yang spesifik khususnya pada komponen baterai agar tidak terjadi Setelah melaksanakan training teknisi harus dapat memahami bagaimana cara menangani dan melakukan perawatan dengan baik dan benar sesuai pada component maintenance Untuk menjaga suhu ruangan penyimpanan battery teknisi harus memastikan untuk mengatur air conditioning pada suhu 20 Aya A 15 Aya . Aya A 27 Ay. memastikan prosedur perawatan dilakukan dengan benar sesuai dengan CMM Pengawasan terhadap mekanik junior juga dilakukan dengan baik sehingga tidak menimbulkan kegagalan pada komponen Pembuatan Diagram Fault Tree Analysis Gambar. 3 Diagram FTA kegagalan Battery Aviation Science and Technology Journal Ae 16 Analisis Reliability untuk Menentukan Mean Time Between Failure (MTBF) Battery Pesawat Airbus 330 di PT GMF AeroAsia Tbk Untuk mengetahui kegagalan yang lebih mendalam pada komponen battery dengan kegagalan tertinggi yaitu dirty, low insulation and need more battery liquid pada hasil dari diagram pareto yang ditampilkan pada Gambar. 1 selanjutnya untuk dbuatkan diagram FTA pada Gambar. 3 untuk mengetahui akar permasalahan yang terjadi sehingga dapat menentukan jenis perawatan yang tepat pada komponen battery P/N 405CH pada pesawat airbus A330 di PT. GMF AeroAsia. Setelah diketahui dan digambarkan pohon akar permasalah dari komponen battery dapat dilihat pada tabel. 5 Fault Tree Analysis (FTA) untuk mengetahui deskripsi lebih dan penjelasan terkait Gambar. 3 Diagram FTA kegagalan Battery secara spesifik dan EVENT Tabel. 6 Fault Tree Analysis (FTA) KETERANGAN Kegagalan battery karena dirty, low insulation and need more battery liquid Kegagalan disebabkan oleh faktor manusia Kegagalan disebabkan oleh faktor lingkungang Kegagalan disebabkan oleh faktor material Kegagalan disebabkan oleh faktor method Belum adanya training pada teknisi mengenai bagaimana cara handle battery dengan benar sehingga mengakibatkan battery mengalami kegagalan Kurangnya pengalaman dari teknisi untuk meng handle battery Kegagalan battery disebabkan suhu yang tidak stabil Kegagalan battery disebabkan karena kelembapan udara tinggi Kegagalan battery disebabkan leak of electrolyte akibat dari overcharge Kegagalan battery disebabkan karena terdapat banyaknya debu dari tingginya sirkulasi udara pada ruang penyimpanan battery Kegagalan battery disebabkan karena teknisi belum bekerja sesuai prosedur pada CMM Kegagalan battery disebabkan karena teknisi belum sepenuhnya memahami cara maintenance battery sesuai prosedur Tidak mengikuti prosedur perawatan sesuai dengan CMM. Kegagalan baterai dapat terjadi karena faktor manusia, lupa mematikan tombol baterai setelah penggunaan pesawat, yang menyebabkan baterai terus terpakai dan menyedot energi. Kegagalan baterai dapat terjadi karena faktor manusia, seperti salah handling, jatuh, atau distorsi barang. Akar penyebab kegagalan air conditioning tidak bisa langsung menyesuaikan suhu ketika ada perubahan suhu yang drastis dan air conditioning tidak bekerja secara optimal yang menyebabkan suhu ruangan pada tempat penyimpanan battery tidak Tidak mengikuti prosedur perawatan sesuai dengan CMM Ketika teknisi melaksanakan charging pada komponen battery teknisi tidak memperhatikan arus yang digunakan sehingga mengakibatkan komponen battery mengalami overcharge karena arus yang digunakan terlalu besar. Kurangnya pengawasan dan cleaning yang tidak dilakukan secara berkala pada tempat penyimpanan baterai menjadi kotor. Tidak mengikuti prosedur perawatan sesuai dengan CMM Teknisi merasa sudah sering menangani perawatan terkait komponen battery dan belum ada sosialisasi terkait pentingnya handling battery secara baik dan benar yang mengakibatkan teknisi tidak membaca prosedur perawatan yang ada pada CMM dan menyebabkan kegagalan pada komponen battery. Aviation Science and Technology Journal Ae 17 Firdaus Abizar Maulana1. Lilies Esthi Riyanti2. Iwan Engkus Kurniawan3 diketahui akar permasalahan dari kegagalan komponen battery terjadi karena faktor teknisi tidak mengikuti prosedur perawatan sesuai dengan CMM ketika teknisi melaksanakan perawatan. KESIMPULAN Kesimpulan dari hasil evaluasi keandalan komponen battery P/N 405CH pada pesawat Airbus A330 sebagai berikut: Untuk menentukan nilai reliability atau keandalan pada komponen battery P/N 405CH pada pesawat airbus A330 menggunakan perhitungan MTBF dan didapatkan hasil perhitungan nilai MTBF dari total keseluruhan flight hour dari periode tahun 2017 sampai dengan 2022 adalah sebesar 1802 flight hours pada komponen battery dengan P/N 405CH pada pesawat airbus A330 series. Dari analisi akar permasalahan yang terjadi dapat disimpulkan bahwa penyebab utama dari rendahnya nilai reliability komponen battery adalah teknisi tidak mengikuti prosedur perawatan sesuai dengan CMM sehingga perlu dilakukan training terkait komponen Perlu adanya tindak lanjut terkait perawatan pada komponen battery P/N 405CH untuk menambahkan regular check yang mendekati hasil dari perhitungan MTBF yaitu 1800 FH. Dari maintenance program ditemukan bahwa ada kegiatan perawatan di 1600 FH sehingga dapat dilaksanakan penambahan kegiatan regular check pada komponen battery dan tambahkan treatment untuk full cleaning dan insulation check pada battery untuk mengurangi kegagalan battery P/N 405CH. DAFTAR PUSTAKA