Volume 1 Issue 1 . Pages 85-96 Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ISSN: 2721-1169 (Onlin. , 2721-1150 (Prin. MEMPERTEGAS VISI MULTIKULTURAL PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI PENDIDIKAN Siti Fathonah Madrasah Ibtidaiyah Negeri . Magetan email: fathonah79@yahoo. Abstract: Indonesia is a compound country. The diversity of the Indonesian nation on the one hand is a treasure that should be maintained and provide dynamics for the nation, but on the other hand can also be a source of disputes and conflicts. This research uses the hermeneutic method with a philosophical approach. The concept of multicultural Islamic religious education is a division of the concept of multicultural, religious education needs to use the multicultural paradigm as the main foundation for teaching and learning. Multicultural Islamic education is very important because it offers a role model of education that specifically introduces multiculturalism that is beneficial for the inculcation of inclusivemulticulturalistic Islamic values in Indonesia. Abstrak: Indonesia adalah negara majemuk. Keragaman bangsa indonesia disatu sisi merupakan suatu khazanah yang patut dipelihara dan memberikan dinamika bagi bangsa, namun disisi lain dapat pula menjadi sumber perselisihan dan konflik. Penelitian ini dengan menggunakan metode hermeneutik dengan pendekatan filosofis. Konsep pendidikan agama Islam multikultural merupakan devisi dari konsepnya tentang pendidikan agama berwawasan multikultural perlu menggunakan paradigma multikultural sebagai landasan utama penyelenggaraan belajar mengajar. Pendidikan islam multikultural keberadaanya sangat penting lantaran menawarkan role model pendidikan yang secara spesifik mengintrodusisasi multikulturalisme yang bermanfaat bagi penanaman nilai-nilai islam yang inklusifmultikulturalistik di Indonesia. Keywords: Pendidikan, multikultural, majemuk, inklusif Copyright . 2020 Siti Fathonah. ____________________________________________________________________________________ Received 5 Nopember 2019. Accepted 29 Februari 2020. Published 11 Maret 2020 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 85 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural PENDAHULUAN Di tengah bangsa dan masyarakat yang multikultural-multireligius, persoalan sosialkeagamaan memang bukan persoalan yang sederhana. Kompleksitas hubungan sosial antar umat beragama ini dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari politisi, guru, pegawai, pengusaha tokoh agama dan orang tua di rumah. Menafikan keberadaan tradisitradisi agama di muka bumi merupakan pekerjaan yang sia-sia. Masing-masing mempunyai hak yang sama. masing-masing mempunyai cara untuk mempertahankan tradisi dan identitasnya sendiri-sendiri dengan berbagai cara yang bisa dilakukan. Fenomena global terkini menunjukkan bahwa dibeberapa daerah mengalami disorientasi pendidikan karena masih sering munculnya tawuran pelajar, narkoba, pergaulan bebas, radikalisme, terorisme, dan tindakan-tindakan anarkis lainnya. Keragaman yang ada pada bangsa merupakan suatu khasanah yang dapat dipelihara dan memberikan dinamika pada bangsa. Namun disisi lain dapat pula merupakan titik pankal perselisihan dan komplik . aik vertikal maupun horisonta. bagi masyarakat indonesia. Pendidikan merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi secara konstruktif. Sebab, pendidikan bersifat sistemik dengan tingkat penyebaran yang cukup merata. Lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai tingkatantelah tersebar secara luas di berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan menjadi sarana yang cukup efektif untuk mencapai tujuan ideal ini. Pendidikan Islam multikultural juga dapat dipahami sebagai proses pendidikan yang berprinsip pada demokrasi, kesetaraan dan keadilan. berorientasi kepada kemanusiaan, kebersamaan, dan kedamaian. serta mengembangkan sikap mengakui, menerima dan menghargai keragaman berdasarkan al-QurAan dan hadis. Karena secara normatif, al-QurAan sendiri sudah menegaskan bahwa manusia memang diciptakan dengan latar belakang yang Hal ini ditegaskan dalam QS. al-Hujurat:13 Artinya: AuHai Manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Ay. Miftahur Rohman & Mukhibat. AuInternalisasi Nilai-Nilai Sosio-Kultural Berbasis Etno-Religi di MAN Yogyakarta iAy. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. Vol. No. 1, (Februari 2. , 33. Zakiyyudin Baidhawiy. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta Erlangga,2. , 21. Ngainun Naim dan Achmad Sauqi. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta: ArRuzz Media, 2. , 8. 86 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural Sementara itu, penulis menyatakan bahwa multikulturalisme adalah sebuah paham yang menekankan pada kesenjangan dan kesetaraan budaya-budaya lokal dengan tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang ada. Dengan kata lain, penekanan utama multikulturalisme adalah pada kesetaraan budaya. 4 Paradigma pembangunan pendidikan kita yang sentralistik telah melupakan keragaman yang sekaligus kekayaan dan potensi yang dimiliki oleh bangsa ini. Perkelahian, kerusuhan, permusuhan, munculnya kelompok yang memiliki perasaan bahwa hanya budayanyalah yang lebih baik dari budaya lain adalah buah dari pengabaian keragaman tersebut dalam dunia pendidikan. Pendidikan menurut pandangan Islam adalah bagian dari tugas ke-khalifah-an manusia yang harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. Kemudian pertanggungjawaban itu baru bisa dituntut kalau ada aturan dan pedoman pelaksanaan. Oleh karena itu. Islam tentunya memberikan garis-garis besar tentang pelaksanaan pendidikan tersebut. Islam memberikan konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan dan menjadi tanggung jawab manusia untuk menjabarkan dengan mengaplikasikan konsep-konsep dasar tersebut dalam praktik kependidikan. 5 Berangkat dari sini pendidikan agama Islam dapat menjadi salah satu instrumen untuk mencegah konflik dan menebarkan sepirit multikulturalisme di masyarakat. PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL Multikulturalisme merupakan merupakan suatu paham atau situasi dan kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan. Multikulturalisme merupakan perasaan nyaman yang dibentuk manusia yang berpengetahuan. Pengetahuan dibangun oleh ketrampilan yang mendukung suatu proses komunikasi yang efektif, dari setiap orang dari sikap kebudayaan yang ditemui alam situasi yang melibatkan sekelompok orang yang berbeda latar belakangnya. Rasa aman yang diciptakan adalah suatu suasana tanpa kecemasan, tanpa mekanisme pertahanan diri dalam pengalaman dan perjumpaan lintas budaya. 6 Kata multikultural sendiri merupakan kata sifat yang dalam bahasa Inggris berasal dari dua kata, yaitu multi dan culture. Secara umum, kata multi berarti banyak, ragam atau aneka. Sedangkan kata culture dalam bahasa Inggris memiliki beberapa makna, yaitu kebudayaan, kesopanan, dan pemeliharaan. Ngainun Naim dan Achmad Sauqi. Pendidikan Multikultural. , 125. Zuhairi et. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , 148 Alo liliweri. Makna Budaya dalam Komunikasi antar Budaya, (Yogyakarta : LKiS, 2. , 16 Oxford LearnerAos Pocket DictionaryA, 281. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 87 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural Berangkat dari definisi etimologis di atas, beberapa tokoh kemudian mengembangkan pemaknaan tersebut dalam bentuk istilah. Akar kata yang dapat digunakan untuk memahami multikulturalisme adalah kata AukulturAy. 8 Walaupun pengertian kultur sedemikian beragam, tetapi ada beberapa titik kesamaan yang mempertemukan keragaman definisi yang ada Salah satunya dapat dilakukan lewat pengidentifikasian karakteristiknya. Identifikasi ini dilakukan dalam rangka menemukan definisi yang tepat dan komprehensif karena kultur sendiri memiliki arti yang sangat luas. Selain itu, usaha ini juga merupakan salah satu jalan untuk dapat memahami definisi kultur secara mendalam dalam istilah pendidikan Pendidikan agama Islam adalah usahan yang berupa asuhan dan bimbingan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai dapat memahami dan mengamalkan ajaran islam serta menjadikan pandangan hidup. pendidikan agama islam merupakan pendidikan yang cukup penting dalam membentuk kepribadian dalam perkembangan anak, karena hal tersebut menyangkut nilai Ae nilai yang terkandung dalam ajaran islam itu sendiri, oleh karenany pendidikan agam islam lebih dekat atau syarat dengan nilai den pembentukan akhlakul karimah dalam sistem pendidikan. 9 Pendidikan adalah sebagai usaha sadar yang dilakukan pendidik melalui pengajaran, bimbingan dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri kearah tercapainya pribadi yang dewasa-susila. Walaupun tema tersebut dapat dipahami secara berbeda, namun pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem tidak mungkin berdiri tegak tanpa adanya elemen-elemen pembentuk sistem tersebut. Begitu juga sebaliknya, pendidikan agama Islam tidak akan memiliki pondasi kuat secara sistemik tanpa didukung dengan konsep atau pemikiran pendidikan Islam yang kokoh. Tetapi, sudah merupakan kepastian bahwa keduanya samasama dibangun dan dikembangkan dari pondasi utamanya, yaitu al-QurAan dan hadis. MULTIKULTURALISME: Tinjauan Historis Kalau dipelajari sejarah Indonesia, maka harus di katakan bahwa multikulturalisme sampai hari ini belum dijadikan landasan bagi sistem pendidikan di Indonesia. Pada zaman pra modern di Indonesia telah ada berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang berkaitan Ngainun Naim. Pendidikan MultikulturalA, 121. Baharudin. Upaya Mengembalikan esensi Pendidikan di era Multikultural (Jakarta:2. , 60-61 88 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural dengan agama islam. Dalam masa negara kolonial Au colonial StateAy antara 1817-1943 sistem yang dibangun belanda bersifat mokokultural. namun dalam masa itu hampir setiap golongan masyarakat disediakan sekolah-sekolah yang sesuai dengan lingkungan budaya masing masing dengan sistem pendidikan kolonial itu lebih tepat disebut pendidikan segregatif. Pendidikan multikultural juga disebut dengan pendidikan multibudaya. 12 Implementasi pendidikan multibudaya dalam pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya, dan nilai kepribadian. Penanaman pendidikan multikultural/ multibudaya bagi siswa dapat menjadi sarana pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis, dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup bersama secara damai dan saling menghormati Sejak jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya yang kemudian diikuti dengan masa Aera reformasiAy, kebudayaan Indonesia cenderung mengalami disintegrasi. Misalnya krisis moneter pada tahun 1997 . dalam menghadapi realitas hidup yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasaan dan anarki. Krisis sosial budaya di kalangan masyarakat semakin merebak dengan meningkatnya penetrasi dan ekspansi budaya barat. Hal ini bias dilihat misalnya budaya McDonald, juga makanan instan lainnya, budaya serba instan, meluasnya budaya telenovela yanh menyenarkan kekerasan, mawabahnya MTVisasi. ValentineAos day, dan juga pub nihgt dikalangan remaja. Wacana pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia yang digemakan melalui berbagai simposium dan workshop di atas, menurut para penggagasnya, dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak program tentang eksistensi sosial, etnik, dan kelompok keagamaan yang beragam. Problem tersebut disebabkan oleh adanya upaya penyeregaman dalam berbagai aspek kehidupan yang dilakukan oleh pemerintahan masa Orde Baru. Selama Orde Baru berkuasa, pemerintah mengabaikan terhadap perbedaan yang ada, baik dari segi suku, bahasa, agama, maupun budayanya. Semboyan AuBhineka Tunggal IkaAy pun diterapkan secara berat sebelah. Artinya, semangat ke- Sudarminta. Filsafat Pendidikan, (Yokyakarta: IKIP Sanata drama, 1. , 12. Tilaar. Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat dalam Perspektif Sejarah: Departemen dan Pariwisata 2005, (Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2. Arifin. Zainal. AuPendidikan Multikultural-Religius Untuk Mewujudkan Karakter Peserta Didik Yang Humanis-ReligiusAy. Jurnal Pendidikan Islam. Volume I. Nomor 1, (Juni 2. , 92. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 89 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural ika-an lebih menonjol daripada semangat ke-bhineka-annya dalam pengelolaan Negara Indonesia. PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Pendidik Guru merupakan variabel terpenting dalam proses pembelajran. Sesulit apapun materi yang akan diajarkan guru hendaknya mampu mentrasfer pengetahuan kepada anak didik dengan semudah Ae mudahnya. Selain itu guru juga harus punya kepekaan emosional untuk membaca keadaan siswa. Sementara itu menurut Paul Suparno guru mempunyai peran yang penting dalam pndidikan multikultural. Guru harus mengatur dan mengorganisasi isi, proses dan kegiatan sekolah secara multikultural. Dimana tiap siswa dari berbagai suku,gender ras dan ras berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan itu. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa guru perlu menekankan diversity dalam pembelajaran. hal ini dilakukan antara lain dengan cara : . mendiskusikan sumbangan aneka budaya dan orang dari suku lain dalam hidup bersama sebagai bangsa . Mendiskusikan bahwa semua orang dari budaya apapun ternyata juga mengguanakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. pengelompokan siswa di dalam kelas dan diluar kelas guru diharapkan melakukan keragaman Materi Pelajaran Materi dapat dikatagorikan menjadi dua yakni, teks dan konteks. Teks berisi materi pelajaranyang berisi nirmatif dan general. sementara konteks merupakan realitas empirisfaktualyang bersifat partikultural. sumber materi tidak hanya dihasilkan dari guru, tetapi juga berasla dari realitas yang ada disekitarnya. Peran guru disini hanya sekedar fasilitator, mengoptimalkan pengetahuan dan pemahaman siswa. 13 Karakteristik materi potensial yang relevan dengan pembelajaran berbasis multikultural antara lain meliputi: Ngainun Naim dan Ahmad Sauqi. AuPendidikan Multikultural Au, 24 90 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural Menghormati perbedaan antara teman . aya, pakaian, mata pencaharian, suku agama etnis dan buday. Menampilkan prilaku yang didasari oleh kenyakinan ajaran agama masing Ae masing Kesadaran bermasyarakat dan bernegara Membangun kehidupan atas dasar kerja sama umat beragama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Mengembangkan sikap disiplin diri, sosial dan nasional Membangun kerukunan hidup bermasyarakat Dari karakteristik diatas dapat disimpulkan bahwa materi pendidikan multikultural harus mengajarkan kepada siswa nilai Aenilai luhur kemanusiaan nilai-nilai bangsa dan nilainilai kelompok etnis . Metode Dalam implementasinya, sebagai sebuah konsep, multikulturalisme tentu harus dituangkan ke dalam sistem kurikulum pendidikan agar aplicable. Merujuk pada pengalaman di sejumlah Negara, pendidikan multikultural secara umum menggunakan metode dan pendekatan . ethod and approache. yang beragam. Allison Cumming. McCann dalam AuMulticultural Education Connecting Theory to PracticeAy(Vol. Issue B Feb. NCSAAl, 2. , menyebut beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan multikultural antara lain adalah sebagai berikut: Pertama. Metode Kontribusi. Metode ini diterapkan dengan mengajak pembelajar berpartisipasi dalam memahami dan mengapresiasi kultur lain yang berbeda dengan dirinya. Dalam implementasinya yang lebih praktis, metode ini antara lain diterapkan dengan menyertakan peserta didik memilih buku bacaan bersama dan melakukan aktivitas bersama. Selain itu, siswa juga diajak mengapresiasi event-event keagamaan maupun kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Pengampu pendidikan . epala sekolah, gur. bisa melibatkan peserta didik di dalam pelajaran atau pengalaman yang berkaitan dengan eventevent tersebut. Dalam hal tertentu peserta didik juga dapat dilibatkan untuk mendalami sebagian kecil dari kepelbagaian dari setiap tradisi kebudayaan maupun keagamaan. Lembaga pendidikan yang telah menerapkan metode kontributif ini salah satunya adalah Global Sevilla School yang berada di Pulo Mas. Jakarta Timur dan Puri Kembangan. Jakarta Barat. Sekolah yang didirikan oleh tiga cendikiawan keagamaan Indonesia, yakni: Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Dr. Gede Natih dan Sudamek AWS ini sejak awal melibatkan siswa-siswi Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 91 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural yang berlatar etnik, budaya, dan agama yang berbeda untuk saling berkontribusi dalam setiap perayaan keagamaan. (Lihat, http://globalsevilla. org/pages/view/1/histor. Dalam awal-awal implementasinya, sekolah yang didirikan pada tahun 2002 ini tidak sedikit memeroleh kritik terkait dengan metode kontributif dalam penerapan persepektif multikulturalisme ini. Namun, seiring berjalannya waktu tidak hanya antar siswa-siswi yang terlibat, tapi juga para orang tua dari siswa juga turut berperan serta setiap ada event keagamaan di sekolah tersebut. Keterlibatan orang tua menjadi hal menarik karena mereka tidak hanya hadir menyaksikan, tetapi juga berkontribusi dalam ragam kegiatan anak-anak mereka. Ini memungkinkan visi penggunaan pendekatan multikulturalisme tidak hanya menyentuh siswa/siswi tetapi juga para orang tua. Kedua. Metode Pengayaan. Metode ini memperkaya kurikulum dengan literatur dari atau tentang masyarakat yang berbeda kultur, etnis atau agamanya. Penerapan metode ini, dan kemudian mengapresiasikan cara pandang masyarakat tetapi peserta didik tidak mengubah pemahamannya tentang hal itu, seperti tata cara atau ritual ibadah, pernak-pernik dalam ritual ibadah, pernikahan, dan lain-lain. Metode pengayaan ini salah satunya diterapkan oleh Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dalam mata kuliah Studi Agama. Program yang secara khusus hasil kerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini dalam menghelat mata kuliah studi agama berbeda dengan di kampus-kampus lain. Di kampus lain pada umumnya, mahasiswa akan mendapatkan mata kuliah agama sesuai keyakinannya dan diajarkan oleh pengajar yang Dalam program yang dilaksanakan UPJ dan ICRP ini seluruh mahasiswa, apapun agamanya, berhak mengikuti mata kuliah studi agama secara bersama-sama. Pengajarnya pun beragam latar belakang agama. Ada Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Buddha. Khonghucu, bahkan Penghayat Kepercayaan. Dalam rangka memperkaya wawasan dan persepektif mahasiswa, pengampu program ini mengadakan ekskursi dengan mengajak mahasiswa mengunjungi 8 . rumah ibadah yang berbeda. Tahun ini misalnya, kunjungan tersebut dihelat pada 11 dan 18 Oktober 2018 lalu. Sebanyak 171 mahasiswa mengunjungi masjid Istiqlal, gereja Katedral, gereja Imanuel. Gurdwara Sikh. Klenteng Boen Tek Bio. Lithang Kong Cu Bio. Vihara Ekayana, dan Pura Parahyangan Jagat Guru. 92 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural Acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan keragaman budaya dan agama kepada peserta didik sebagai sarana untuk memperkaya wawasan mereka tentang Metode ini juga tak luput dari kritik. Misalnya ada sejumlah mahasiswa yang khawatir justru mengalami pendangkalan iman. Namun dalam pelaksanaannya yang sudah berjalan selama tiga tahun ini, jika melihat tulisan refleksi para mahasiswa, justru mereka mengaku mendapatkan banyak pengkayaan tanpa harus kehilangan keimanan dan Di antara mereka juga berkeinginan melanjutkan kegiatan serupa di luar kegiatan kampus. Ketiga. Metode Transformatif. Metode ini secara fundamental berbeda dengan dua metode sebelumnya. Metode ini memungkinkan peserta didik melihat konsep-konsep dari sejumlah perspektif budaya, etnik dan agama secara kritis. Metode ini memerlukan pemasukan perspektif-perspektif, kerangka-kerangka referensi dan gagasan-gagasan yang akan memperluas pemahaman pembelajar tentang sebuah ide. Jika pada metode pengkayaan lebih banyak menggali titik-temu dari etnisitas, budaya dan agama, maka dalam metode transformative justru sebaliknya: menelanjangi nilai-nilai AunegativeAy dari budaya, etnik dan juga agama. Metode ini dapat mengubah struktur kurikulum, dan memberanikan peserta didik untuk memahami isu dan persoalan dari sejumlah perspektif etnik dan agama tertentu. Misalnya, membahas konsep Aumakanan halalAy. AupoligamiAy. AujihadAy. AutrinitasAy dari agama atau kebudayaan tertentu yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat. Metode ini menuntut pembelajar mengolah pemikiran kritis dan menjadikan prinsip kebhinekaan sebagai premis dasarnya. Beberapa lembaga yang menerapkan metode ini dalam studinya adalah Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP. Kedua lembaga ini secara berkala menggelar studi-studi lintas budaya dan agama dengan, salah menggunakan metode transformative. ttp://crcs. id/pluralis. Selain metode transformative, program yang dihelat ICRP juga menggunakan persepektif pluralism dan perennialisme. Keempat. Metode Pembuatan Keputusan Aksi Sosial. Metode mengintegrasikan metode transformasi dengan aktivitas nyata di masyarakat, yang pada gilirannya bisa berdampak terjadinya perubahan sosial. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk memahami dan membahas isu-isu sosial, tapi juga melakukan sesuatu yang penting Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 93 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural berkaitan dengan hal itu. Artinya, peserta didik tidak hanya berhenti pada penguasaan teori, tapi juga terjun langsung di masyarakat untuk menerapkan teori-teori yang mereka peroleh dari ruang pendidikan. Metode ini memerlukan peserta didik tidak hanya mengeksplorasi dan memahami dinamika keterbelakangan, ketertindasan, atau ketidakadilan, tetapi juga berkomitmen untuk membuat keputusan dan mengubah sistem melalui aksi sosial. Tujuan utama metode ini adalah untuk mengajarkan kepada peserta didik untuk berpikir dan memiliki kemampuan mengambil keputusan guna memberdayakan dan membantu mereka mendaptkan sense kesadaran terhadap dinamika yang berkembang di masyarakat dan turut berperan serta dengan aksi-aksi nyata. Dalam praktiknya, tentu tidak semua metode tersebut diterapkan oleh satu lembaga pendidikan sekaligus. Ada beberapa lembaga yang hanya menerapkan dua atau tiga metode saja, bahkan ada pula yang hanya satu metode saja. Hal itu terkait dengan kesiapan sumberdaya manusia dan pra-sarana dan sarananya di masing-masing lembaga pendidikan. Media Media merupakan segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi kepada penerima informasi dari guru dan siswa, sehingga dapat merangsang pikiran , dan perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Ada beberapa manfaat media pembelajaran yakni : . menyampaikan materi pembelajaran dapat diseragamkan . proses pembelajara lebih jelas dan menarik . proses pembelajaran lebih menarik . efisien dalam waktu dan tenaga . meningkatkan kwalitas hasil belajar siswa . memungkinkan proses belajar dilakukan dimana dan kapan . Menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar . Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif. Peserta Didik Dalam aktivitas pendidikan manapun, siswa merupakan sarana objek dan sekaligus sebagai subyek pendidikan oleh karena itu, dalam memahami hakekat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri Aeciri umum peserta didik. secara umum peserta didik setidaknya memiliki ciri sebagai berikut : Peserta didik dalam keadaan sedang berdaya maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan . Ardiani Mustika sari. Au Mengenal Media Pembelajaran Au 121 94 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural Mempunyai keinginan untuk berkembang kearah kedewasaan Peserta didik mempunyai latar belakang yang beragam Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitar Peserta didik bukanlah manusia yang tidak memiliki pengalaman. Sebaliknya berjutjuta pengalaman yang cukup beragam ia telah miliki, dan hal tersebut merupakan satu modal Oleh karena itu, dikelas pun harus kritis membaca kenyataan kelas, dan siap Pendidikan agama Islam berwawasan multikultural keberdaanya sangat penting lantaran menawarkan role mode pendidikan yang secara spesifik mengintrodusisasi multikulturisme yang bermanfaat bagi penanaman nilai Ae nilai agama islam yang inklusif dan Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural adalah proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran . Pendidikan multikultural menekankan sebuah filosofi pluralisme budaya ke dalam sistem pendidikan yang didasarkan pada prinsip- prinsip persamaan . , saling menghormati dan menerima serta memahami dan adanya komitmen moral untuk sebuah keadilan sosial. PENUTUP Konsep pendidikan agama Islam yang berwawasan multikultural merupakan derivasi dari konsep tentang tentang pendidikan agama berwawasan multikultural secara pendidikan agama mestinya mampu mengantisipasi segregasi sosial dan konflik sektarian, dan pada saat dan pada saat yang sama ia dapat menanamkan nilai Ae nilai yang harmoni diantara keanekaragaman intrnal atau eksternal agama, etnik, kultur. Karena itu pendidikan agama perlu menggunakan paradigma multikultural sebagai landasan utama sbagai penyelenggara proses belajar mengajar. konsep pendidikan agama islam berwawasan multikultural bertitik tolak dari tolak dari kalimatin sawa. disini ada beberapa karakteristik atau nilai-nilai utama yang yaang harus ditekankan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama islam berwawasan multikultural yaitu . belajar hidup dari perbedaan . membangun rasa saling percaya . saling menghargai . Saling memahami . terbuka dalam berfikir. Sementara itu, untuk merealisasi pembelajaran agama islam yang yang multikulturalis, ada lima hal yang harus diperhatikan, yakni : pendidik dan peserta didik, sumber atau media pembelajaran, metode pembelajaran media dan evaluasi. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 95 Mempertegas Visi Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Multikultural DAFTAR PUSTAKA