Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science Vol. No. September 2025, pp. Pengaruh ROA. ROE. NPM, dan EPS terhadap PBV pada Industri Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2021 - 2023 Salsa Rayhanis1. Annisa Fitri Hartanti2. Nabilla Zahra3 Universitas Pembangunan Jaya Info Artikel ABSTRAK Article history: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM), dan Earnings Per Share (EPS) berdampak pada Price to Book Value (PBV) pada industri mobil dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menggunakan data sekunder dari sepuluh perusahaan yang dipilih melalui teknik sampling purposive. Model regresi data panel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Effect Model (REM), yang dipilih berdasarkan hasil uji Chow. Hausman, dan Lagrange Multiplier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ROA. ROE, dan NPM tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap PBV. Sebaliknya. EPS berpengaruh signifikan negatif terhadap PBV. Temuan ini mengindikasikan bahwa EPS merupakan indikator penting dalam menentukan valuasi pasar perusahaan pada sektor Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi manajemen dan investor dalam mengevaluasi faktor-faktor keuangan yang memengaruhi nilai perusahaan serta mendukung pengambilan keputusan strategis yang tepat. Received September, 2025 Revised September, 2025 Accepted September, 2025 Kata Kunci: Return on Assets. Return on Equity. Net Profit Margin. Earnings Per Share. Price to Book Value. Industri Otomotif. Kinerja Keuangan Keywords: Return on Assets. Return on Equity. Net Profit Margin. Earnings Per Share. Price to Book Value. Industri Otomotif. Kinerja Keuangan ABSTRACT The purpose of this study is to see how Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM), and Earnings Per Share (EPS) impact the Price to Book Value (PBV) in the automobile industry and its components listed on the Indonesia Stock Exchange. This study uses a quantitative approach, using secondary data from ten companies selected through purposive sampling techniques. The panel data regression model used in this study is the Random Effect Model (REM), which was selected based on the results of the Chow. Hausman, and Lagrange Multiplier tests. The results showed that partially ROA. ROE, and NPM did not have a significant influence on PBV. On the other hand. EPS has a significant negative effect on PBV. These findings indicate that EPS is an important indicator in determining a company's market valuation in the automotive sector. This research is expected to provide insight for management and investors in evaluating financial factors that affect the company's value and supporting appropriate strategic decision-making. This is an open access article under the CC BY-SA license. Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jakws Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science A Corresponding Author: Name: Salsa Rayhanis Institution: Universitas Pembangunan Jaya Email: salsa. rayhanis@student. PENDAHULUAN Pada era globalisasi, perekonomian terus mengalami perubahan yang tidak menentu. Hal ini terlihat dari perkembangan strategi ekonomi dan semakin ketatnya persaingan diantara perusahaan-perusahaan besar, terutama perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi persaingan ini menunjukkan bahwa kualitas perusahaan semakin meningkat dari berbagai Salah satu cara untuk menilai kualitas sebuah perusahaan adalah melalui kinerja keuangannya, yang tercermin dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan di BEI . Laporan keuangan mencatat seluruh aktivitas dan transaksi perusahaan dalam periode tertentu, sesuai dengan kebijakan serta prosedur yang telah ditetapkan . Industri ini berperan penting dalam perekonomian nasional melalui kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan inovasi teknologi hijau . Seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kelas menengah, permintaan terhadap kendaraan bermotor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, dinamika global dan domestik, seperti pandemi COVID-19, krisis chip semikonduktor, perubahan tren kendaraan listrik, serta kebijakan pemerintah dalam bentuk insentif pajak, telah mempengaruhi performa industri ini secara signifikan, khususnya pada periode 2021 hingga 2023. Industri otomotif adalah sektor yang mencakup semua jenis produksi dan layanan yang berhubungan dengan kendaraan bermotor, termasuk mobil penumpang, bus, minibusa, midibusa, truk, traktor, kendaraan berat, dan sepeda motor . Situasi ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat akan kendaraan pribadi untuk mendukung mobilitas kegiatan sehari-hari. Kontribusinya terhadap ekonomi nasional juga terlihat dari besarnya nilai investasi yang terus Menurut data dari Kementerian Perindustrian . , nilai investasi di industri otomotif Indonesia telah mencapai Rp 71,35 triliun, menjadikannya sebagai salah satu kontributor utama dalam perekonomian nasional. Kinerja perusahaan dalam industri otomotif menjadi perhatian penting bagi para investor dan analis pasar. Dalam proses pengambilan keputusan investasi, investor cenderung memperhatikan berbagai indikator keuangan sebagai bahan pertimbangan. Rasio-rasio keuangan seperti Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM), dan Earning per Share (EPS) menjadi indikator utama yang digunakan untuk menilai efisiensi dan profitabilitas suatu perusahaan. Rasio-rasio ini berfungsi sebagai representasi dari kinerja operasional dan keberhasilan manajerial dalam menghasilkan laba. Salah satu indikator penting dalam menilai kinerja perusahaan otomotif adalah rasio Price to Book Value (PBV). PBV menggambarkan bagaimana pasar menilai saham suatu perusahaan dibandingkan dengan nilai bukunya, sehingga menjadi salah satu acuan dalam mengevaluasi valuasi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia . PBV yang lebih tinggi mencerminkan ekspektasi pasar yang positif terhadap kinerja perusahaan dan prospek pertumbuhannya di masa depan . Rasio ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor keuangan, terutama Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Return on Investment (ROI), dan Earnings Per Share (EPS). Berbagai studi sebelumnya telah meneliti pengaruh rasio-rasio keuangan terhadap PBV, namun dengan ruang lingkup dan variabel yang berbeda. meneliti pengaruh ROA. ROE, dan NPM terhadap nilai perusahaan di sektor otomotif, namun belum menyertakan variabel EPS. Penelitian ini berkontribusi dengan menambahkan EPS sebagai variabel independen guna memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science A PBV. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh . menganalisis pengaruh Current Ratio. Debt to Equity Ratio, dan ROE terhadap PBV pada perusahaan otomotif periode 2019-2021. Sementara, penelitian ini memperbarui dan memperluas cakupan waktu hingga 2023, memungkinkan analisis dampak peristiwa terbaru terhadap PBV. Terakhir, beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh . , meneliti pengaruh ROA. ROE. EPS, dan PBV terhadap harga saham dan return saham pada perusahaan manufaktur secara umum. Penelitian ini akan memberikan kontribusi dengan fokus spesifik pada industri otomotif dan komponennya, yang memiliki karakteristik unik dan berbeda dari sektor manufaktur lainnya. Studi sebelumnya menunjukkan berbagai hasil mengenai bagaimana ROA. ROE. NPM, dan EPS mempengaruhi nilai perusahaan di industri mobil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Menemukan bahwa ROA dan ROI memiliki dampak positif, meskipun tidak signifikan, terhadap nilai perusahaan, sementara ROE dan EPS tidak memiliki dampak negatif. Studi sebelumnya . menunjukkan bahwa return on assets (ROA) secara parsial memengaruhi nilai perusahaan secara Studi lain . menemukan bahwa, karena banyak hal lain di luar profitabilitas. Net Profit Margin (NPM) tidak berdampak signifikan pada nilai perusahaan otomotif dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Namun, hasil penelitian ini masih menunjukkan adanya ketidakpastian dalam hubungan antara rasio-rasio keuangan tersebut dengan PBV, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperjelas hubungan ini dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang lebih terkini dan karakteristik industri otomotif yang dinamis. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat secara menyeluruh bagaimana ROA. ROE. NPM, dan EPS mempengaruhi nilai perusahaan dalam industri mobil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2021 hingga 2023. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi manajemen perusahaan otomotif dalam mengoptimalkan strategi keuangan dan meningkatkan nilai perusahaan di pasar. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen keuangan perusahaan. Gambar 1. ROA. ROE. NPM. EPS DAN PVB Grafik di atas menunjukkan perkembangan indikator keuangan utama yaitu Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM). Earnings Per Share (EPS), dan Price to Book Value (PBV) dari industri otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2021 hingga 2023. Secara umum, kelima indikator menunjukkan tren yang cenderung meningkat, mencerminkan perbaikan kinerja keuangan sektor otomotif dalam tiga tahun terakhir. Nilai ROA meningkat dari 0,0718 pada tahun 2021 menjadi 0,1008 pada tahun 2023, menunjukkan efisiensi perusahaan dalam mengelola aset untuk menghasilkan keuntungan yang semakin baik. Sementara itu. ROE juga mengalami peningkatan dari 0,118 menjadi 0,113, mengindikasikan adanya pertumbuhan pengembalian terhadap ekuitas pemegang saham. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memaksimalkan modal yang dimiliki untuk menghasilkan laba. Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science A Peningkatan serupa juga terjadi pada indikator NPM, di mana terjadi kenaikan dari 0,079 pada tahun 2021 menjadi 0,1004 pada tahun 2023. Hal ini mencerminkan efisiensi perusahaan dalam mengelola beban usaha sehingga mampu menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi terhadap pendapatan yang diperoleh. Sementara itu. EPS yang sempat mencapai puncaknya pada tahun 2021 dengan nilai 252,53 menunjukkan sedikit penurunan pada tahun-tahun berikutnya . ,07 pada 2022 dan 243,33 pada 2. Meskipun demikian, nilai EPS masih berada pada kisaran tinggi yang menunjukkan profitabilitas perusahaan tetap terjaga. Adapun PBV menunjukkan pergerakan yang cukup berfluktuasi, meski tetap mengarah Setelah menurun dari 1,4649 pada 2021 menjadi 1,13712 di tahun 2022. PBV kembali naik ke angka 1,4649 pada 2023. Kenaikan ini mengindikasikan meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan otomotif, sehingga investor bersedia membayar lebih tinggi dari nilai buku perusahaan. Secara keseluruhan, grafik ini mencerminkan bahwa sektor otomotif di Indonesia mengalami pemulihan dan pertumbuhan yang cukup kuat pasca pandemi COVID-19, sebagaimana ditunjukkan oleh membaiknya kinerja keuangan dan meningkatnya kepercayaan pasar. TINJAUAN PUSTAKA 1 Return on Assets (ROA) Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana sebuah organisasi dapat menghasilkan laba dengan memanfaatkan semua aset yang dimilikinya adalah dengan melihat return on assets (ROA) . Rasio ini diperoleh dengan membandingkan laba bersih setelah pajak . et income after ta. dengan total aset . ROA yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan asetnya secara optimal dalam operasional dan produksi kendaraan, sehingga meningkatkan Keunggulan ROA yang dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh yang sensitif terhadap setiap hal yang mempengaruhi keadan perusahaan . , dianggap lebih baik untuk digunakan dalam penelitian ini dibanding pengukuran kinerja keuangan 2 Return on Equity (ROE) Setelah dikurangi dengan pajak dan modal sendiri, laba bersih (ROE) adalah rasio keuangan yang menunjukkan seberapa efektif perusahaan mengelola modal pemegang saham untuk memperoleh keuntungan . Return on Equity yang tinggi menunjukkan betapa efisiennya perusahaan menggunakan ekuitas untuk menghasilkan keuntungan dan menunjukkan betapa baiknya kinerja finansial perusahaan . ROE yang tinggi menandakan bahwa perusahaan mampu mengoptimalkan ekuitasnya guna mendukung ekspansi bisnis, inovasi teknologi kendaraan, dan peningkatan kualitas produk. Kemampuan ini memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap PBV. Rumus yang akan digunakan untuk perhitungan ROE sebagai berikut: 3 Net Profit Margin (NPM) Net Profit Margin (NPM) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari setiap penjualan yang dilakukan. Margin ini mencerminkan tingkat pengembalian yang menggambarkan seberapa besar laba bersih yang diperoleh dibandingkan dengan total penjualan. Rumus perhitungannya adalah: Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science . Semakin tinggi nilai NPM, semakin menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan lebih besar dari aktivitas operasionalnya. Margin laba bersih yang tinggi menandakan efisiensi dalam operasional perusahaan, di mana perusahaan dapat memperluas usahanya hanya dengan mengandalkan modal kerja yang tersedia tanpa perlu menambah utang, sehingga potensi peningkatan pendapatan menjadi lebih besar . 4 Earnings Per Share (EPS) Earnings Per Share (EPS) besarnya laba bersih yang dapat dibagikan kepada pemegang saham per lembar saham. EPS yang tinggi mencerminkan kinerja keuangan yang solid serta potensi imbal hasil yang menarik bagi investor. Dalam industry tomotif yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti permintaan pasar, kebijakan pemerintah, dan harga bahan baku. EPS menjadi indikator penting dalam menilai stabilitas serta pertumbuhan perusahaan. Calon pemegang saham maupun pemegang saham biasa sangat memperhatikan EPS sebagai indikator tingkat keberhasilan perusahaan. Jika nilai per lembar saham meningkat setiap tahun, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat memberikan keuntungan bagi pemegang saham. Sebaliknya, jika nilai per lembar saham mengalami penurunan, maka perusahaan berpotensi membawa kerugian bagi pemegang saham . METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh rasio keuangan terhadap nilai perusahaan. Dengan Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM), dan Earnings Per Share (EPS) sebagai variabel independen, dan Price to Book Value (PBV) sebagai variabel dependen, masingmasing merupakan variabel yang diteliti. Penelitian ini menyelidiki rasio keuangan dari perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam industri otomotif dan komponennya. Selama periode 2021Ae2023, subjek penelitian adalah seluruh perusahaan otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh keuangan tahunan perusahaan yang dipublikasikan di situs resmi BEI . serta Yahoo Finance . untuk mencari jumlah saham beredar. Data yang dikumpulkan meliputi informasi numerik mengenai ROA. ROE. NPM. EPS, dan PBV dari masing-masing perusahaan dan tahun. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Kriteria yang digunakan meliputi: . perusahaan merupakan bagian dari industri otomotif dan komponennya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan . perusahaan telah secara konsisten menerbitkan laporan keuangan tahunan secara lengkap selama periode 2021 hingga 2023. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sepuluh perusahaan yang memenuhi syarat dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Perusahaan tersebut meliputi PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT). PT Indo Kordsa Tbk (BRAM). PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR). PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). PT Indospring Tbk (INDS). PT Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN). PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA), dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM). Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Uji Pemilihan Model Berdasarkan hasil uji Chow, diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,0000 yang berarti menggunakan Fixed Effect Model (FEM). Namun, uji Hausman menunjukkan nilai probabilitas sebesar 6,153002 . ebih besar dari 0,. , sehingga model yang lebih tepat adalah Random Effect Model (REM). Hal ini diperkuat dengan hasil uji LM yang juga menunjukkan probabilitas 0,0197, mengindikasikan penggunaan Random Effect Model sebagai model terbaik untuk analisis data panel dalam penelitian ini. Table 1 Uji Pemilihan Model Model Selection Test Probability Value Critical Value Model Selection Decision Uji Chow 0,05 FEM Uji Hausman 6,153002 0,05 REM Uji Lagrange Multiplier 0. 0,05 REM Sumber: Data Diolah . 2 Analisis Persamaan Regresi Berdasarkan hasil regresi data panel dengan model REM, diperoleh persamaan sebagai PBV = 0. 808219851896 - 7. 13634177241 x ROA 4. 12098557666 x ROE 15. 8702902573 x NPM 00315208048808 x EPS Tabel hasil regresi dapat dilihat sebagai berikut: Table 2 Analisis Persamaan Regresi Variabel Koefisien Std. Error t-Stat Prob. Konstanta (C) 0,808 0,518 1,561 0,132 ROA -7,136 13,418 -0,532 0,600 ROE 4,121 6,792 0,607 0,550 NPM 15,870 10,331 1,536 0,138 EPS -0,003 0,001 -3,562 0,002 Sumber: Data Diolah . Berdasarkan hasil regresi dengan model Random Effect Model (REM), diperoleh bahwa ROA. ROE, dan NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV karena nilai probabilitas masingmasing variabel lebih besar dari 0,05. ROA memiliki koefisien negatif (-7,. , sedangkan ROE . dan NPM . memiliki koefisien positif, namun pengaruhnya tidak signifikan. Sementara itu. EPS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PBV dengan koefisien 0,003 dan nilai probabilitas 0,002 (< 0,. Artinya, hanya EPS yang secara signifikan memengaruhi PBV dalam model ini, sedangkan variabel lainnya tidak. 3 Uji Hipotesis 1 Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R. Untuk mengukur seberapa besar variabel independen memengaruhi variabel dependen dalam model ini, digunakan nilai Adjusted Rsquared. Nilai ini memberikan gambaran seberapa baik model regresi menjelaskan variasi dari variabel terikat. Nilai Adjusted R-squared sebesar 0,309067 atau setara dengan 30,9067%. Nilai koefisien determinasi tersebut menunjukkan bahwa variabel independen yang terdiri dari ROA. ROE. NPM, dan EPS mampu menjelaskan variabel dependen PBV sebesar 30,9067%, sedangkan sisanya yaitu 69,0933% . % - 30,9067%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science A 2 Uji F (Simulta. Untuk menguji pengaruh variabel independen secara simulta terhadap variabel dependen, digunakan uji F. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi yang dibangun secara keseluruhan signifikan. Nilai F hitung sebesar 4,131225 > F tabel yaitu 2,76 dan nilai signifikansi sebesar 0,010971 < 0,05, maka HCA ditolak dan HCa diterima, artinya secara simultan variabel ROA. ROE. NPM, dan EPS berpengaruh signifikan terhadap PBV pada industri otomotif dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021Ae2023. 3 Uji t (Parsia. Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen PBV. Hasil pengujian menunjukkan: A ROA: Tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV . = 0,600 > 0,. A ROE: Tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV . = 0,550 > 0,. A NPM: Tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV . = 0,138 > 0,. A EPS: Berpengaruh negatif signifikan terhadap PBV . = 0,002 < 0,. 4 Pembahasan Pengamatan ini memiliki empat hipotesis. Hasil analisis pada masing-masing variabel independen dan dependen adalah sebagai berikut: 1 Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap Price to Book Value (PBV) Berdasarkan hasil uji regresi, nilai probabilitas ROA terhadap PBV lebih besar dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV pada perusahaan otomotif dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian, hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh terhadap PBV tidak dapat diterima. Secara teori. ROA menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki. Namun, pada sektor otomotif, penggunaan aset yang besar dan sifat industri yang padat modal membuat efisiensi aset tidak selalu tercermin dalam nilai pasar perusahaan. Investor kemungkinan lebih memperhatikan faktor eksternal seperti perkembangan teknologi kendaraan listrik, regulasi emisi, serta perubahan tren konsumen dibandingkan efisiensi penggunaan aset semata. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya . , yang juga menemukan bahwa nilai perusahaan dalam industri otomotif di Bursa Efek Indonesia tidak selalu dipengaruhi secara signifikan oleh ROA. 2 Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Price to Book Value (PBV) Hasil uji regresi menunjukkan bahwa ROE juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PBV. Nilai probabilitas ROE terhadap PBV lebih besar dari 0,05, sehingga hipotesis alternatif ditolak. Return on Equity secara teori merefleksikan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dari modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Namun, pada perusahaan otomotif. ROE bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti fluktuasi biaya produksi, kebutuhan investasi jangka panjang, dan dinamika industri global yang menyebabkan pergerakan ROE tidak sepenuhnya mencerminkan nilai perusahaan di mata investor. Hasil ini mendukung temuan sebelumnya dari . , yang menyatakan bahwa ROE tidak selalu menentukan nilai pasar perusahaan, terutama dalam industri manufaktur berat. 3 Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap Price to Book Value (PBV) Berdasarkan hasil pengujian. Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV, karena nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05. NPM mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap pendapatan yang diperoleh. Namun, pada industri otomotif yang sangat kompetitif, margin keuntungan bisa sangat tipis dan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti harga bahan baku, biaya tenaga kerja, dan strategi harga. Oleh sebab itu, investor mungkin tidak hanya mempertimbangkan margin laba dalam menilai nilai perusahaan, melainkan juga prospek pertumbuhan jangka panjang dan inovasi produk. Vol. No. September 2025: pp. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science A Temuan ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh . , yang menyatakan bahwa pada sektor industri tertentu, seperti otomotif. NPM tidak secara langsung berpengaruh terhadap nilai pasar karena tingginya ketergantungan pada faktor eksternal. 4 Pengaruh Earnings Per Share (EPS) terhadap Price to Book Value (PBV) Hasil penelitian menunjukkan bahwa EPS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PBV, dengan nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05. Earnings Per Share (EPS) merupakan salah satu indikator penting yang menunjukkan berapa besar laba bersih yang tersedia bagi setiap lembar Penurunan EPS mengindikasikan penurunan laba perusahaan, yang berdampak langsung pada penurunan kepercayaan investor dan menyebabkan PBV juga turun. Dalam teori signaling. EPS dipandang sebagai sinyal keuangan penting yang digunakan oleh pasar untuk mengevaluasi prospek masa depan perusahaan. EPS yang rendah atau menurun dapat diartikan sebagai sinyal negatif tentang kesehatan keuangan perusahaan, sehingga mempengaruhi valuasi pasar. Hasil ini sejalan dengan penelitian . , . , yang menyatakan bahwa EPS adalah salah satu variabel keuangan yang paling berpengaruh terhadap nilai perusahaan karena berhubungan langsung dengan profitabilitas yang dapat diterima investor. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Net Profit Margin (NPM), dan Earnings Per Share (EPS) terhadap Price to Book Value (PBV) pada perusahaan otomotif dan komponennya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa secara simultan keempat variabel tersebut berpengaruh terhadap PBV, namun secara parsial hanya EPS yang memiliki pengaruh signifikan. Return on Assets. Return on Equity, dan Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap Price to Book Value, sehingga menunjukkan bahwa faktor profitabilitas tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam penilaian pasar terhadap nilai perusahaan di sektor otomotif. Sebaliknya. Earnings Per Share menjadi faktor penting yang memberikan pengaruh terhadap valuasi pasar perusahaan, sehingga kinerja laba per saham menjadi fokus utama dalam meningkatkan kepercayaan investor. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan dalam jumlah variabel dan periode pengamatan, sehingga disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan penambahan variabel lain seperti Debt to Equity Ratio (DER). Current Ratio (CR), maupun faktor eksternal seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan perubahan regulasi industri, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi nilai perusahaan di sektor otomotif. ACKNOWLEDGEMENTS Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ini dengan baik. Ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya penulis sampaikan kepada Bapak Zulkifli. selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar Topik Mutakhir, yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, serta masukan berharga selama proses penyusunan karya ini. Berkat kesabaran, perhatian, dan keilmuan beliau, penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan lebih terarah dan sistematis. Penulis sangat menghargai segala waktu, tenaga, dan kesempatan yang telah Bapak berikan. Semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang setimpal. DAFTAR PUSTAKA