Counseling & Humanities Review Vol. No. 02 2025, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. 24036/0001315chr2025 Received (October 01st 2. Accepted (October 15th 2. Published (October 29th 2. Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Membolos Wulan Sephia Marwinda1*). Zadrian Ardi2. Frischa Meivilona Yendi3. Rahmi Dwi Febriani4 Departemen Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Padang. Indonesia *Corresponding author, e-mail: wulansephia21@gmail. Abstract Perilaku membolos merupakan bentuk pelanggaran tata tertib sekolah yang berdampak buruk pada proses belajar, hasil akademik, serta pembentukan karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada siswa SMPN 4 Lubuk Alung. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel sebanyak 203 siswa kelas VII dan XI yang dipilih melalui teknik stratified ramdom sampling, serta data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada kategori rendah (A = 0,369. p < 0,. , yang berarti semakin tinggi tingkat konformitas siswa terhadap teman sebaya, semakin besar kecenderungan mereka untuk membolos. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya peran sekolah dan guru bimbingan konseling dalam mengarahkan pengaruh teman sebaya ke arah positif melalui kegiatan kelompok, pembinaan karakter, serta penguatan solidaritas yang sehat, guna membentuk konformitas teman sebaya positif yang dapat meminimalkan perilaku membolos. Keywords: konformitas teman sebaya, perilaku membolos, siswa This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2019 by author. Introduction Masa remaja merupakan salah satu fase perkembangan yang ditandai dengan perubahan signifikan dalam aspek fisiologis, emosional, sosial, maupun intelektual. Pada fase ini individu sering digambarkan sebagai sosok yang emosional, tidak stabil, dan sulit diprediksi sehingga disebut sebagai masa yang penuh dengan tekanan (Hurlock, 1980. Sulhan, 2024. Putri et al. , 2. Remaja berada pada fase pencarian identitas diri dan cenderung rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial, khususnya teman sebaya (Husna. Ruaidah, & Zulhendri, 2023. Sari. Chikita. Nurmal, & Wahyudi, 2023. Leswidyanti. Abdullah, & Mujayapura, 2. Salah satu bentuk perilaku yang sering muncul pada masa ini adalah perilaku membolos, yaitu ketidakhadiran siswa di sekolah tanpa izin atau alasan yang sah (Fardani, 2015. Prameswari. Ratnawati, & Puspitarini, 2. Perilaku membolos bukan hanya bentuk pelanggaran tata tertib sekolah, tetapi juga berpotensi menurunkan prestasi akademik, melemahkan motivasi belajar, dan menghambat pembentukan karakter positif siswa (Januardi, 2017. Santoso. Kusuma, & Nurani, 2023. Anggriani. Handayan, & Lestari, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa membolos merupakan masalah serius yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, terutama dalam konteks pendidikan menengah pertama. Faktor penyebab perilaku membolos bersifat kompleks dan melibatkan aspek internal maupun Reid . mengelompokkan penyebabnya ke dalam dua kategori, yaitu faktor eksternal seperti konflik keluarga, kurangnya pengawasan orang tua, dan lemahnya kontrol sekolah, serta faktor internal seperti rendahnya motivasi belajar, kondisi psikologis, dan konformitas teman sebaya. Menurut Baron & Byrne . , konformitas adalah suatu pengaruh sosial yang mengubah sikap dan tingkah laku individu agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Dalam konteks remaja, konformitas Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. ini muncul karena kebutuhan akan pengakuan dan rasa memiliki dalam kelompok sosial. Siswa sering kali meniru perilaku teman sebaya, termasuk perilaku negatif seperti membolos, meskipun mereka sebenarnya menyadari bahwa tindakan tersebut tidak benar. Dengan demikian, konformitas teman sebaya berperan penting dalam membentuk perilaku siswa baik dalam arah yang positif maupun Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku membolos di kalangan siswa masih tergolong tinggi. Penelitian Putri. Daharnis, & Zikra . di SMAN 7 Padang menunjukkan bahwa rata-rata siswa membolos selama 19,86 jam pelajaran dalam dua bulan. Penelitian Marhain. Winata, & Wati . SMPN 3 Melaya menemukan bahwa 84% siswa pernah membolos. Temuan serupa dilaporkan oleh Idris & Syukur . di SMPN 34 Padang, yang mengungkapkan bahwa faktor internal, termasuk konformitas teman sebaya, berada pada kategori cukup tinggi dengan persentase 38,89%. Penelitian terbaru oleh Priandini. Nawawi, & Alfaien . di SMP PGRI 6 Bogor menunjukkan tingkat membolos siswa masih tinggi yaitu 46,4%. Selain itu, penelitian Fransisca . Adriel & Indrawati . , serta Putri. Deliana, & Rizki . secara konsisten menemukan bahwa semakin tinggi konformitas teman sebaya, semakin besar kecederungan siswa untuk membolos. Hasil-hasil ini diperkuat oleh penelitian Dwita. Kamal. Arifnaldi, & Arif . serta Kamilah & Ardi . , yang menegaskan bahwa pengaruh teman sebaya memiliki peran dominan dalam membentuk perilaku Bahkan laporan Kemendikbud (Azmi. Elvika, & Illahi, 2. mencatat meningkatnya angka ketidakhadiran siswa tingkat SMP di kota besar akibat dorongan kelompok teman sebaya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SMPN 4 Lubuk Alung pada tanggal 14-15 Juli 2025, masih ditemukan siswa yang melakukan tindakan membolos dengan beragam bentuk. Salah satu faktor yang paling menonjol adalah konformitas teman sebaya, di mana siswa cenderung mengikuti ajakan kelompok untuk meninggalkan kelas atau sekolah meskipun menyadari bahwa tindakan tersebut melanggar aturan. Kondisi ini menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya memiliki pengaruh nyata terhadap perilaku membolos. Research gap yang muncul adalah minimnya kajian yang secara khusus menelaah hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada jenjang SMP di Indonesia. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak menitikberatkan pada faktor internal, sepeti motivasi dan minat belajar, maupun faktor eksternal, seperti pola asuh keluarga dan disiplin sekolah (Syukur et al. , 2023. Putra & Hariko, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis keterkaitan keduanya guna memberikan konstribusi bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang mampu menekan angka ketidakhadiran tidak sah melalui pendekatan berbasis pembahaman terhadap konformitas teman sebaya. Method Penelitian ini menggunakan desain pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menguji hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos pada siswa SMPN 4 Lubuk Alung. Subjek penelitian mencakup seluruh siswa kelas Vi dan IX SMPN 4 tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 216 orang, dengan sampel sebanyak 203 siswa yang dipilih melalui teknik stratified random sampling berdasarkan tingkat kelas (Sugiyono, 2. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dikembangkan peneliti berdasarkan teori perilaku membolos (Reid, 1. dan teori konformitas teman sebaya (Baron & Byrne, 2. Masing-masing menggunakan skala likert dengan lima poin. Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi Spearman Rank, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan CrombachAos Alpha yang menghasilkan koefisien 0,922 untuk skala konformitas teman sebaya dan 0,917 untuk skala perilaku membolos, yang menunjukkan reliabilitas yang tergolong pada kategori baik. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26 for windows menggunakan analisis deskriptif untuk memperoleh nilai frekuensi, persentase, dan rata-rata setiap veriabel. Selanjutnya. Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Membolos Wulan Sephia Marwinda et al. dilakukan uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan distribusi data, dan karena hasil menunjukkan data tidak berdistribusi norml, maka hubungan antar veriabel diuji menggunakan korelasi Spearman Rank. Interpretasi hasil dilakukan berdasarkan nilai koefisien korelasi dan Tingkat signifikansi dengan batas probabilitas = 0,05. Penelitian ini juga telah memperoleh persetujuan dari pihak sekolah, dan seluruh partisipan berpartisipasi secara sukarela, dengan tetap menjaga kerahasiaan data serta mematuhi prinsip etika penelitian pendidikan. Results and Discussion Tabel 1. Skor dan Kategori Konformitas Teman Sebaya (X) dan Perilaku Membolos (Y) Variabel Min Max Mean Kategori Konformitas teman sebaya 82,32 21,65 Sedang Perilaku membolos 55,72 18,32 Rendah Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor konformitas teman sebaya berada pada kategori Hal ini menunjukkan bahwa siswa cukup dipengaruhi oleh teman sebaya dalam hal sikap, nilai, maupun perilaku, meskipun tidak sepenuhnya dominan. Sementara itu, skor rata-rata perilaku membolos berada pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa jarang melakukan pelanggaran berupa membolos, meskipun masih ada sebagian kecil yang melakukannya. Konformitas Teman Sebaya Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data digambarkan sub variabel konformitas teman sebaya sebagai berikut: Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 1. Grafik Distribusi Frekuensi dan Persentase Konformitas Teman Sebaya Berdasarkan grafik 1 di atas, dapat dilihat bahwa konformitas teman sebaya berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 78 siswa dengan persentase 38%. Sebanyak 51 siswa dengan persentase 25% berada pada kategori tinggi, selanjutnya 42 siswa dengan persentase 21% berada pada kategori rendah, dan 16 siswa dengan persentase 8% berada pada kategori sangat tinggi, serta 16 siswa dengan persentase 8% berada pada kategori sangat rendah. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa konformitas teman sebaya siswa di SMPN 4 Lubuk Alung berada pada kategori Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok sebaya, namun masih dalam batas yang wajar sehingga tidak sepenuhnya terpengaruh oleh tekanan kelompok. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. Perilaku membolos Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data digambarkan sub variabel perilaku membolos sebagai berikut: Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 2. Grafik Distribusi Frekuensi dan Persentase Perilaku Membolos Berdasarkan grafik 2 di atas, dapat dilihat bahwa perilaku membolos siswa berada pada kategori rendah, yaitu sebanyak 71 siswa dengan persentase 35%. Sebanyak 54 siswa dengan persentase 27% berada pada kategori sangat rendah, selanjutya 41 siswa dengan persentase 20% berada pada kategori tinggi , dan 37 siswa dengan persentase 18% berada pada kategori sedang, serta tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat rendah. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku membolos siswa di SMPN 4 Lubuk Alung cenderung rendah. Rendahnya tingkat membolos menunjukkan bahwa siswa memiliki kesadaran akan pentingnya hadir di sekolah serta mampu mengendalikan diri dalam menjalankan tanggung jawab akademiknya. Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat hasil uji normalitas. Adapun data lengkap mengenai hasil uji normalitas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Uji normalitas Variabel Konformitas Teman Sebaya (X) dan Perilaku Membolos (Y) One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov Test. Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data penelitian tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis habungan antar variabel tidak dapat menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment yang mensyaratkan distribusi normal, melainkan menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman Rank, yang lebih sesuai untuk data dengan distribusi tidak normal (Sugiyono, 2. Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Membolos Wulan Sephia Marwinda et al. Tabel 3. Uji Korelasi Variabel Konformitas Teman Sebaya (X) dan Perilaku Membolos (Y) Correlations Spearman's rho Konformitas Teman Sebaya Perilaku Membolos Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Konformitas Teman Sebaya Perilaku Membolos Berdasarkan Tabel 3, uji korelasi Spearman Rank digunakan untuk mengetahui hubungan konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,369 dengan signifikansi 0,000 (< 0,. Hal ini membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan, artinya semakin tinggi konformitas terhadap teman sebaya, semakin besar pula kecenderungan siswa melakukan perilaku membolos. Menurut Sugiyono . koefisien korelasi positif menunjukkan adanya hubungan searah. Sementara Arikunto . menjelaskan bahwa hubungan yang signifikan menunjukkan adanya keterkaitan yang nyata dan bukan sekedar kebetulan, sehingga hasil ini dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pendidikan. Sejalan dengan teori Baron & Byrne . individu cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok untuk memperoleh penerimaan sosial atau menghindari penolakan, meskipun penyesuaian tersebut dapat mengarah pada perilaku menyimpang, seperti membolos. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya pada siswa SMPN 4 Lubuk Alung berada pada kategori sedang. Hal tersebut mengindikasikan kecenderungan siswa untuk menyesuikan diri dengan norma, nilai, atau perilaku kelompok. Fransisca . menemukan bahwa semakin tinggi konformitas teman sebaya, semakin besar kecenderungan siswa untuk membolos. Hal serupa ditegaskan oleh Dwita. Kamal. Arifnaldi, & Arif . yang menyatakan bahwa faktor konformitas teman sebaya lebih dominan dibandingkan faktor lain. Dorongan dari kelompok sebaya menjadi salah satu penyebab utama siswa membolos (Azmi. Elvika, & Illahi, 2. Oleh karena itu, konformitas teman sebaya yang berada pada kategori sedang perlu diarahkan secara positif agar dapat memperkuat disiplin, tanggung jawab, dan kepatuhan siswa. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, tingkat konformitas teman sebaya di SMPN 4 Lubuk Alung yang berada pada kategori sedang. Penelitian Putri. Deliana, & Rizki . menunjukkan bahwa kontribusi konformitas teman sebaya sebasar 34,9% terhadap perilaku membolos, sementara Prameswari. Ratna, & Puspitarini . menekankan rendahnya kontrol diri sebagai faktor yang memperkuat kelompok sebaya. Perbedaan hasil ini menunjukkan adanya variasi kontekstual, seperti kualitas hubungan sosial antar siswa, efektivitas pengawasan sekolah, maupun kontrol diri individu. Sementara itu, perilaku membolos siswa di SMPN 4 Lubuk Alung berada pada kategori rendah. Hal ini dapat dianggap sebagai indikator positif, meskipun tetap memerlukan perhatian. Ahmad . menegaskan bahwa membolos adalah tindakan meninggalkan proses belajar tanpa izin resmi yang berdampak negatif pada perkembangan akademik maupun pribadi siswa. Sejalan dengan itu. Putri. Daharnis, & Zikra . menyatakan bahwa perilaku membolos menghambat pencapaian akademik, serta menimbulkan konsekuensi administratif. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, tingkat membolos di SMPN 4 Lubuk Alung tergolong lebih rendah. Penelitian Marhain. Winata, & Wati . di SMPN 3 Melaya menunjukkan angka membolos yang sangat tinggi, yakni mencapai 84%. Temuan lain oleh Idris & Syukur . di SMPN 34 Padang juga memeperlihatkan bahwa faktor internal siswa sebagai penyebab perilaku membolos berada pada kategori cukup tinggi yaitu 38,89%. Selanjutnya, penelitian Priandini. Nawawi, & Alfaien . di SMP PGRI 6 Bogor melaporkan tingkat membolos sebesar 46,4%. Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya pengaruh faktor kontekstual yang bervariasi, antara lain efektivitas sistem pengawasan di sekolah, tingkat keterlibatan orang tua dalam pendidikan, kondisi sosial-ekonomi keluarga, serta iklim sekolah. Selain itu, faktor lain yang belum diteliti, seperti motivasi belajar, pengaruh media sosial, maupun keterikatan dengan sekolah, juga berpotesi mempengaruhi perilaku membolos yang pada akhirnya turut membentuk kecenderungan siswa dalam melakukan perilaku membolos (Purnamasari & Muis, 2. Layanan bimbingan dan konseling berperan penting tidak hanya untuk menangani masalah siswa, tetapi juga sebagai upaya preventif dalam menekan perilaku tidak disiplin seperti membolos, dengan membantu siswa meningkatkan kesadaran diri serta tanggung jawab akademik (Febriani & Triyono. Putri. Ifdil. Yusri, & Yendi . juga menegaskan bahwa layanan bimbingan dan konseling memiliki peran strategis dalam membentuk kebermaknaan hidup siswa, sehingga mampu mencegah munculnya perilaku negatif seperti membolos. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru bimbingan dan konseling dalam mengarahkan pengaruh teman sebaya melalui konseling kelompok peer mentoring, serta program pembinaan disiplin . Dari sisi kebijakan, sekolah perlu menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat dan mendukung sehingga konformitas teman sebaya berkembang ke arah positif. Aturan kehadiran siswa juga perlu ditegakkan secara tegas namun tatap mendidik, sehingga tidak hanya menekan perilaku membolos tetapi juga menumbuhkan kesadaran disiplin pada siswa. Conclusion Berdasarkaan hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya pada siswa di SMPN 4 Lubuk Alung secara umum berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 82,32 atau persentase 60,98% dari skor ideal. Sementara itu, perilaku membolos siswa berada pada kategori rendah dengan rata-rata skor 55,72 atau persentase 48,45% dari skor ideal. Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku membolos, dengan koefisien 0,369 dan nilai signifikansi <0,000. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat konformitas siswa terhadap teman sebaya, maka semakin besar pula kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku membolos. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengaruh kelompok teman sebaya berperan penting dalam membentuk perilaku siswa, termasuk hal kecenderungan melanggar aturan sekolah. Kondisi ini sejalan dengan pendapat Baron & Byrne . yang menjelaskan bahwa individu sering kali menyesuaikan perilakunya agar sesuai dengan norma kelompok, meskipun hal tersebut mengarah pada perilaku yang menyimpang. References