RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 02. Agustus 2025. Hal: 142-157 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Peran Pendidikan Kristen dalam Mendorong Kepemimpinan Gembala yang Transformasional Upaya gereja membangun Pemimpin Kristen di Era Postmodern Yoshua Putra Prasedya Ardiwinata Sekolah Tinggi Teologi Intheos. Surakarta yoshuaputra9@gmail. Abstract The postmodern era is characterised by relativism towards truth, high individualism and subjectivity, as well as massive fake news in the digital era. Surely the church faces great challenges in shaping leaders who are relevant and have integrity. Transformational pastoral leadership is an urgent need to respond to the complexity of the times and maintain the authenticity and orthodoxy of the Christian faith in the midst of socio-cultural changes and beliefs. This study aims to analyse and examine the role of Christian education in encouraging the formation of transformational shepherd leadership as a church strategy to form relevant Christian leaders in the postmodern era. The research method used is descriptive qualitative with a practical theology literature study approach. The results of this study conclude that Christian education that is directed, sustainable, and based on Christological spirituality plays a significant role in shaping the mindset and character of transformative leaders. Transformational leadership not only touches managerial aspects, but also spiritual, educative, and relational. The church needs to redesign the Christian education curriculum to be able to foster relevant and impactful pastors in the postmodern context. Keywords: Christian Education. Shepherd Leadership. Transformational. Church. Postmodern Era Abstrak Era postmodern yang ditandai oleh sikap relativisme terhadap kebenaran, individualisme tinggi dan subjektif, serta keadaan berita palsu yang massif di era digital. Tentunya gereja menghadapi tantangan besar dalam membentuk pemimpin yang relevan dan berintegritas. Kepemimpinan gembala yang bersifat transformasional menjadi kebutuhan mendesak guna menjawab kompleksitas zaman serta menjaga otentisitas dan ortodoksi iman Kristen di tengah perubahan sosial budaya dan kepercayaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji peran pendidikan Kristen dalam mendorong terbentuknya kepemimpinan gembala yang transformasional sebagai strategi gereja membentuk pemimpin Kristen yang relevan di era Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur teologi praktis. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen yang terarah, berkelanjutan, dan berbasis pada spiritualitas Kristologis berperan signifikan dalam membentuk pola pikir dan karakter pemimpin yang transformatif. Kepemimpinan transformasional tidak hanya menyentuh aspek manajerial, tetapi juga spiritual, edukatif, dan CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia relasional. Gereja perlu mendesain ulang kurikulum pendidikan Kristen agar mampu membina gembala yang relevan dan berdampak dalam konteks pascamodern. Kata Kunci: Pendidikan Kristen. Kepemimpinan Gembala. Transformasional. Gereja. Era Postmodern. PENDAHULUAN Di era postmodern saat ini, globalisasi telah berkembang menjadi sebuah fenomena yang memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia di seluruh dunia. Postmodernisme dalam konteks ini adalah pandangan dunia yang menolak gagasan bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk melihat dunia, serta memandang kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat subyektif dan relatif. Pada era postmodern ini, globalisasi telah membawa dampak yang signifikan pada masyarakat, ekonomi, budaya, dan politik. Dalam era postmodern, globalisasi terus berkembang dan menjadi topik yang sangat signifikan. Pada era postmodern, terlihat adanya kecenderungan menuju kesetaraan dan keberagaman, namun diiringi oleh dinamika globalisasi yang membawa dampak penting terhadap kehidupan manusia. 1 Di masa globalisasi saat ini, gereja-gereja di Indonesia berhadapan dengan tantangan besar untuk menjaga identitas dan keaslian ajaran mereka sambil tetap terbuka terhadap dunia yang semakin beragam dan terhubung. Dampak lain dari era digital yang dibawa oleh globalisasi adalah meningkatnya waktu yang dihabiskan di media sosial, cara berkomunikasi yang lebih cepat, dan munculnya berbagai konten yang membahas teologi, berdebat, maupun menunjukkan keapatisan dan ketidakpedulian terhadap agama. Budaya berpikir di era postmodernisme menghasilkan rasa puas karena keinginan besar untuk memahami kebenaran yang bersifat subjektif. Kombinasi dari kedua budaya tersebut menimbulkan munculnya keyakinan yang dikenal sebagai AuagamaAy baru, hasil dari sinkretisme dan pluralisme, yang sangat mempengaruhi pola hidup masyarakat dan sering kali mengubah nilai-nilai agama serta sosial. 2 Maka dari itu, dapat dilihat bahwa era postmodern dan globalisasi membawa perubahan besar dalam cara pandang terhadap kebenaran, yang semakin subjektif dan relatif. Gereja di Indonesia menghadapi tantangan menjaga identitas teologis di tengah keberagaman. Digitalisasi mempercepat komunikasi, tetapi juga memunculkan sinkretisme dan pluralisme yang mengubah nilai agama serta sosial masyarakat. Di era globalisasi ini, gereja-gereja di Indonesia harus berjuang keras untuk menjaga identitas dan keaslian ajaran mereka sambil tetap terbuka terhadap dunia yang semakin beragam dan terhubung. Pengaruh globalisasi terhadap pola hidup masyarakat sangat signifikan, sering kali menyebabkan pergeseran dalam nilai-nilai agama dan sosial. 3 Gereja harus mampu beradaptasi dan merespons tantangan yang ada, tetapi ini tidak berarti bahwa kebenaran dan integritas teologisnya harus dikorbankan. Dalam situasi relativisme, memberikan respons teologis yang tepat sangat diperlukan. Hal ini berkaitan dengan memperdalam pengertian teologis tentang karakter Rosyfi Zakiyatul AfAoidah. AuGlobalisasi Di Era Postmodern SekarangAy . : 282. Yulius Wijaya and Giarti Nugraeni. AuMenyusun Teologi Injili Yang Relevan Dalam Era Masyarakat Digital Dan Postmodernisme,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. Bendrio Pandapotan Sibarani. AuEKUMENISME DAN DIALOG ANTAR AGAMA DI INDONESIA: Tantangan Dan Peluang Di Era Posmodern,Ay Kognisio 1, no. : 56Ae64. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kebenaran dalam Injil serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Gereja perlu mampu menanggapi tantangan ini dengan mengedepankan pentingnya perubahan hidup yang dihasilkan dari iman kepada Kristus, yang bukan hanya sebuah ajaran tetapi sebuah pengalaman nyata. 4 Peran pemimpin gereja sangat penting dalam membimbing umat Kristen agar mampu memahami dan terlibat dalam politik secara positif, dengan mengacu pada prinsip-prinsip moral dan etika yang diajarkan oleh Alkitab. 5 Maka dari itu, pemimpin transformasional berusaha membangkitkan inspirasi dan motivasi dalam pengikutnya agar mereka mencapai tujuan yang lebih tinggi, yang sejalan dengan ajaran Yesus mengenai cinta dan pengorbanan. 6 Dalam rangka menghadapi tantangan postmodern, menyiapkan sosok-sosok pemimpin Kristen yang berkualitas sangat Kepercayaan yang teguh pada dasar Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas penuh dalam hidup dan pelayanan. Hal yang sangat krusial adalah mengatur waktu dan disiplin belajar dari Tuhan, serta melatih disiplin diri sebagai pemimpin Kristen, keduanya harus dikerjakan walau membutuhkan waktu. 7 Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa gereja di indonesia menghadapi tantangan globalisasi dan postmodernisme yang menggeser nilai-nilai Untuk meresponsnya, gereja harus mempertahankan integritas teologis sambil tetap Pemimpin transformasional berperan penting dalam membangkitkan inspirasi dan motivasi jemaat, menekankan perubahan hidup melalui iman kepada Kristus, disiplin rohani, dan pembelajaran berkelanjutan. Berdasarkan topik di atas temuan yang serupa pernah di teliti oleh Inge Gunawan. Kalis Stevanus, dan Yonatan Alex Arifianto yang berjudul Kepemimpinan kristen transformasional: interpretasi 2 timotius 3: 10 dan signifikansinya bagi pemimpin kristen di era disrupsi membahas bahwa Kepemimpinan Kristen transformasional, berdasarkan 2 Timotius 3:10, menekankan teladan hidup, iman, kesabaran, dan kasih dalam menghadapi tantangan. Di era disrupsi, pemimpin Kristen harus beradaptasi dengan perubahan, tetap berpegang pada nilai-nilai Kristiani, serta menginspirasi dan membimbing dengan integritas, ketekunan, dan visi yang berpusat pada Kristus. Adapun penelitian ini dapat disimpulkan bahwa menyoroti kepemimpinan Paulus sebagai contoh kepemimpinan Kristen yang transformatif. Paulus mengajarkan dan menjalani nilai-nilai yang ia sampaikan, sehingga kepemimpinannya menginspirasi dan mentransformasi pengikutnya. Kepemimpinan Kristen yang transformatif menuntut pemimpin untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan menghidupi ajaran mereka dalam kehidupan sehari-hari. 8 Temuan yang serupa juga pernah di teliti oleh Alvrianti Palallang dan Oktovianus P. yang berjudul Menganalisis teologi Armin Paipi et al. AuMisi Kristen Di Era Postmodern: Tantangan Relativisme Dan Respon Teologis Terhadap Pemberitaan Injil,Ay HUMANITIS: Jurnal Homaniora. Sosial dan Bisnis 2, no. : 1462Ae1472. Yudhy Sanjaya. Victor Angsono Huatama, and Talizaro Tafonao. AuKepemimpinan Gereja Dan Politik: Menggerakkan Suara-Suara Kristen Untuk Transformasi Politik Kontemporer,Ay AMBASSADORS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 3, no. : 103Ae115. Fikarisman Halawa. AuNilai-Nilai Kepemimpinan Dalam Alkitab: Dari Konteks Sejarah Ke Dinamika Era Global,Ay GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies 3, no. : 88Ae95. Suci Titis Aprianti. AuPemimpin Gereja Di Masa Postmodern,Ay Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 6, no. ): 119Ae138. Inge Gunawan. Kalis Stevanus, and Yonatan Alex Arifianto. AuKepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3:10 Dan Signifikansinya Bagi Pemimpin Kristen Di Era Disrupsi,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 7, no. : 567Ae578. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia pastoral dalam membentuk semangat kepemimpinan kristen pada era postmodern: tinjauan yesaya 40:1 membahas bahwa bagaimana teologi pastoral, khususnya dalam konteks Yesaya 40:1, dapat membentuk semangat kepemimpinan Kristen di era postmodern. Yesaya 40:1 menawarkan pesan penghiburan dan pemulihan yang relevan bagi pemimpin Kristen dalam menghadapi tantangan Pendekatan hermeneutika holistik digunakan untuk memahami teks dan mengidentifikasi prinsip kepemimpinan yang dapat diterapkan. Adapun penelitian ini disimpulkan bahwa peran teologi pastoral dalam membentuk semangat kepemimpinan Kristen di era postmodern dengan meninjau Yesaya 40:1. Era postmodern membawa perubahan nilai dan pandangan dunia, sehingga kepemimpinan Kristen perlu beradaptasi. Yesaya 40:1 menawarkan penghiburan dan pemulihan sebagai inspirasi bagi pemimpin Kristen. 9 Berdasarkan dua temuan di atas masih terdapat aspek yang belum diselidiki, yakni berfokus pada bagaimana pendidikan teologi dapat membentuk pemimpin gereja yang efektif di era postmodern. Studi ini menyoroti pentingnya pendidikan rohani bagi gembala dalam membimbing jemaat, meningkatkan kepemimpinan gereja, dan menghadapi tantangan zaman. Pendidikan teologi membantu gembala memahami peran mereka sebagai pemimpin dan pelayan, serta memperkuat karakter kepemimpinan yang transformatif dalam pertumbuhan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendidikan Kristen dapat berperan dalam membentuk kepemimpinan gembala yang transformatif di era postmodern. Dengan pendekatan strategis dan spiritual, pendidikan Kristen diharapkan mampu membekali pemimpin gereja dengan pemahaman doktrinal yang kuat, relevansi sosial yang tinggi, serta semangat misioner yang kontekstual. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif,10 dengan pendekatan studi pustaka . yang bersifat eksploratif dan analitis. Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam konsep kepemimpinan transformasional gembala dalam terang pendidikan Kristen, serta relevansinya terhadap konteks zaman postmodern. Sumber data utama berasal dari literatur teologi sistematis, teologi praktis, filsafat pendidikan Kristen, serta jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional terkait kepemimpinan Kristen dan formasi spiritual. Prosedur penelitian mencakup pengumpulan, klasifikasi, analisis kritis, dan sintesis terhadap literatur yang relevan. Peneliti juga melakukan dialog teologis terhadap teks-teks Alkitab, guna membangun kerangka konseptual yang kokoh. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan tidak hanya menjelaskan secara deskriptif hubungan antara pendidikan Kristen dan kepemimpinan transformasional, tetapi juga menawarkan formulasi strategis dan teologis bagi gereja dalam membangun pemimpin Kristen di era postmodern. Alvrianti Palallang. AuMenganalisis Teologi Pastoral Dalam Membentuk Semangat Kepemimpinan Kristen Pada Era Postmodern: Tinjauan Yesaya 40:1,Ay HUMANITIS: Jurnal Humaniora. Sosial dan Bisnis 1, no. 360Ae372. Umrati and Hengky Wijaya. Analisis Data Kualitatif Teori Konsep Dalam Penelitian Pendidikan (Sulawesi Selatan: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2. , 36. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Pendidikan Kristen dalam Perspektif Teologi Praktis Pendidikan, ketika dipelajari dari asal katanya, bermakna "mengarahkan atau membimbing ke luar", konsep ini berasal dari bahasa Latin ducare. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai upaya untuk merawat serta melatih dalam hal moral dan kecerdasan intelektual. 11 Dalam studi dan pemikiran terkait pendidikan, kita harus mengenali perbedaan antara dua istilah yang serupa, yaitu pedagogi dan pedagoik, yang memiliki peran penting dalam dunia akademis. Istilah pedagogi berarti AupendidikanAy sambil pedagoik mengacu pada Auilmu pendidikanAy. 12 Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan No. 20 Tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dilakukan secara sadar serta terencana guna menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang mendorong siswa secara aktif mengembangkan potensi dan keterampilan mereka guna memperkuat aspek spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan masyarakat. Dalam pengertian yang luas, pendidikan merujuk pada seluruh pengalaman belajar yang dialami oleh individu sepanjang hidupnya, yang dapat terjadi di berbagai lingkungan dan waktu, dan memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia secara menyeluruh. 13 Berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan memiliki peran penting dalam memanusiakan manusia sehingga setiap orang dapat menjadi manusia yang sesuai dengan hakikatnya. 14 Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter individu. Melalui pendidikan, seseorang dapat memahami dunia, berpikir kritis, serta berkontribusi bagi masyarakat. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, melalui pengalaman, interaksi sosial, dan refleksi diri. Ini adalah fondasi kemajuan manusia. Pendidikan Kristen perlu dipahami dengan mendalam dan menyeluruh. Menurut sudut pandang B. S Sidjabat menjelaskan bahwa pendidikan Kristen dapat diinterpretasikan sebagai "pendidikan yang berbasis Kristen" yang memiliki nuansa, dasar, dan orientasi Kristiani. Pendidikan Kristen adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan disengaja, dengan tujuan yang Dengan demikian, pendidikan Kristen tidak hanya terfokus pada pendidikan agama Kristen di sekolah secara formal. 15 Menurut Robert W. Pazmino. Pendidikan Kristen adalah usaha yang dilakukan secara sengaja dan sistematis, yang didukung oleh kekuatan rohani dan manusiawi untuk menyalurkan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, dan reformasi pribadi maupun Eunike Agoestina. AuGereja Sebagai Pusat Pendidikan Kristen,Ay Kaluteros Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 1Ae17. D A N Unsur-unsur Pendidikan. AuPengertian Pendidikan. Ilmu Pendidikan Dan Unsur-Unsur Pendidikan,Ay Al-Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2, no. : 1Ae8. Arifuddin. Nelfa Yosi, and Marlina. AuPeran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Di Era Digital,Ay Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 2, no. : 70Ae78. Ruhut Parningotan Tambunan. AuPenggunaan Teknologi Digital Dalam Pendidikan Agama Kristen Di Era Postmodern,Ay Megethos: Jurnal Teologi. Pendidikan Kristiani dan Pastoral Konseling 1, no. : 15Ae33. Delpi Novianti. AuHakikat Pendidikan Kristen Dalam Gereja,Ay Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 3, 1 . : 108Ae119. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kelompok melalui kuasa Roh Kudus, sehingga siswa dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana tercermin dalam Alkitab, terutama dalam kehidupan Yesus Kristus. 16 Pendidikan Kristen adalah usaha yang terorganisir dan lengkap guna mengajarkan pengetahuan, nilai-nilai, pereilaku, keterampilan, serta perilaku yang sesuai dengan kepercayaan Kristen. Tujuan dari proses ini adalah untuk mendorong pembaruan dalam diri seseorang, kelompok, serta struktur melewati kekuatan dari Roh Kudus, sehingga siswa mampu hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang diajarkan pada Alkitab, terutama melalui contoh yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus. 17 Menurut Abineno, pendidikan Kristen adalah proses mengajar, mendidik, dan membentuk anggota jemaat Yesus Kristus agar mereka menjalani kehidupan dalam persekutuan dengan Allah di bawah pimpinan Roh Kudus serta dalam hubungan dengan Yesus Kristus. AnakNya. Dengan cara ini, mereka menjadi bagian dari sebuah gereja Tuhan yang telah dipersiapkan serta dilengkapi untuk menjalankan tugas kesaksian serta pelayanan di dunia. 18 Dari defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kristen adalah proses pembelajaran yang berlandaskan ajaran Kristus, bertujuan membentuk karakter, iman, dan moral peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Pendidikan ini tidak hanya menekankan pengetahuan akademik, tetapi juga pertumbuhan spiritual, kasih, dan pelayanan, sehingga individu dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan berdampak bagi sesama. Teologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari doktrin mengenai Allah dan merangkum seluruh ajaran serta praktik Kristen. Definisi tersebut menyatakan bahwa teologi adalah pengajaran yang meliputi dan berhubungan dengan Allah. Dalam pendidikan agama Kristen, pendekatan praktis teologi menimbulkan respons manusiawi melalui sikap pluralisme yang menghargai keberagaman serta bersikap terbuka terhadap upaya berbagi dan menerima penemuan, pemahaman, dan transformasi bersama. 19 Dalam pendidikan Kristen, praktis merujuk pada pendekatan yang menggabungkan pengalaman, refleksi, dan ajaran iman guna memahami dan mengaplikasikan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya, individu mampu menemukan dan mengekspresikan cerita serta visi pribadi yang berlandaskan prinsip-prinsip Kristen. Mereka dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai agama dalam tindakan nyata, yang berkontribusi pada pembentukan karakter yang sesuai dengan ajaran Kristiani. Secara praktis, dalam kerangka Kristen, hal ini berarti menggabungkan pengetahuan dan pengalaman hidup saat ini dengan ajaran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh tradisi Kristen. 20 Dengan menggunakan pendekatan praktis teologi, pendidikan agama Kristen dapat meningkatkan pemahaman terhadap ajaran dan keyakinan, memperkuat Reynhard Malau. AuImplikasi Pendidikan Kristen Dalam Keluarga Menurut Efesus 6:1-4 Pada Masa Pandemi Covid-19,Ay Harati: Jurnal Pendidikan Kristen 1, no. : 54Ae68. Cecep Alba. AuStrategi Peningkatan Mutu Pendidikan Perguruan Tinggi,Ay Jurnal Sosioteknologi Edisi 24 Tahun 10 10, no. : 1184Ae1190. Novianti. AuHakikat Pendidikan Kristen Dalam Gereja. Ay Yurlina Ndruru. Andreas Teko, and Sandra Rosiana Tapilaha. AuTeologi Pendidikan Agama Kristen: Fondasi Dan Implikasi Untuk Pendidikan Modern,Ay Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Katolik 2, no. : 167Ae176. Justice Zeni Zari Panggabean. AuPendekatan Praksis-Teologis Dalam Fondasi Pendidikan Kristiani,Ay Kurios 4, no. : 167. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia spiritualitas, membangun karakter yang baik, dan mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan praktis teologis menjadi penting agar para pendidik dapat memilih, melaksanakan, dan merencanakan pendidikan agama Kristen yang sesuai dengan realitas kebenaran Alkitabiah. 21 Pendekatan praksis teologi tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan menginterpretasikan serta menjelaskan pembebasan secara kontekstual, melainkan juga menitikberatkan pada penerapan praktis teologis dalam pendidikan agama Kristen. Menurut sudut pandang Richard P. McBrien menekankan bahwa teologi yang kuat sangat diperlukan untuk pendidikan agama yang unggul. di sisi lain, teori dan praktik pendidikan yang efektif juga sama penting dalam menguasai dan menyampaikan teologi yang berkualitas. 22 Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa teologi praktis adalah cabang teologi yang berfokus pada penerapan prinsipprinsip iman dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pelayanan gereja, etika kristen, dan Bidang ini menghubungkan teori teologi dengan praktik nyata, membantu individu dan komunitas memahami serta menjalankan ajaran agama dalam konteks sosial dan budaya yang Kepemimpinan Gembala yang Transformasional Sebuah Teologi. Model, dan Karakteristik Dalam kepemimpinan, keberhasilan model tergantung pada karakteristik yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan yang mutlak diperlukan adalah model yang memiliki karakteristik sesuai dengan budaya organisasi. Seluruh komponen organisasi akan didorong oleh kepimpinan ini. Selain memimpin, kepemimpinan ini juga yang akan menetapkan arah sebuah organisasi. 23 Kepemimpinan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, termasuk organisasi keagamaan. Dalam konteks gereja, kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan manajemen administratif atau struktur organisasi, melainkan lebih menekankan pada bagaimana pemimpin dapat mengarahkan jemaat agar mencapai panggilan spiritual yang sejati. Peranan pemimpin gereja sangat penting dalam mempersiapkan jemaat agar gereja dapat berkembang. Kepemimpinan di dalam gereja adalah motor utama yang mendorong gerakan atau aksi sosial demi melayani jemaat secara menyeluruh. Maka dari itu, kepemimpinan gereja berperan krusial dalam menentukan arah dan keberhasilan organisasi keagamaan. Lebih dari sekadar manajemen, kepemimpinan ini harus selaras dengan budaya gereja, mengarahkan jemaat menuju panggilan spiritual sejati, serta mendorong aksi sosial yang berdampak luas bagi perkembangan dan pelayanan gereja secara menyeluruh. Sebagai organisasi, gereja memiliki seorang pemimpin yang harus mampu menegakkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, integritas, kredibilitas, kebijaksanaan, dan belas kasih, yang berperan dalam membentuk moral dan akhlak baik diri sendiri maupun orang lain, sehingga Hope S Antone. Pendidikan Kristiani Kontekstual (BPK Gunung Mulia, 2. Richard P McBrien. AuBasic Questions for Christian EducatorsAy . Andreas Joswanto et al. AuGereja Dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 5, no. : 25Ae38. Aji Suseno and Yonatan Alex Arifianto. AuPrinsip Kepemimpinan Alkitabiah Dalam Membangun Jemaat Yang Misioner Dan Berdampak Di Era Global,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 6, no. : 63Ae76. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kepemimpinan ini dikenal sebagai kepemimpinan yang berbasis spiritual. 25 Sebagai pemimpin gereja, gembala memiliki peran penting dalam membimbing, mengajar, dan merawat jemaat agar mereka tumbuh dalam iman dan kebenaran. 26 Setiap pemimpin akan menentukan gaya atau corak kepemimpinan yang tepat untuk digunakan dalam menjalankan tugasnya demi mencapai 27 Dalam kepemimpinan transformatif, penekanan lebih diberikan pada revitalisasi pengikut dan organisasi secara keseluruhan daripada instruksi-instruksi yang bersifat hierarkis. Pemimpin yang bersifat transformatif cenderung menempatkan diri mereka sebagai mentor yang siap mendengarkan aspirasi dari bawahan mereka. 28 Kepemimpinan transformasional sangat dibutuhkan di sini agar proses transfo rmasi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Bass, model kepemimpinan transformasional menggambarkan situasi di mana seorang pemimpin dapat memotivasi seluruh anggota secara kolektif untuk mengembangkan keberadaan organisasi melalui penumbuhan kesadaran dan motivasi internal. 29 Berdasarkan pendapat Achmad Supriyanto dan Eka Troena, kepemimpinan transformasional adalah proses di mana pemimpin dan pengikut secara bersama-sama mendorong satu sama lain menuju tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Pemimpin berupaya melakukan regenerasi dengan meningkatkan kesadaran pengikut agar mereka mampu melampaui pemimpin saat ini. Pola ini berlandaskan pada nilai moral yang meliputi keadilan dan kemanusiaan. Keserakahan, kecemburuan, dan kebencian sebagai unsur emosional merupakan konsep yang berlawanan atau bertolak belakang dengan pola kepemimpinan transformasional. 30 Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang menginspirasi perubahan positif dalam organisasi dengan menekankan visi, motivasi, dan pengembangan individu. Pemimpin transformasional membangun hubungan yang kuat dengan anggota, mendorong inovasi, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan, sehingga organisasi dapat berkembang secara berkelanjutan dan mencapai tujuan yang lebih besar. Pemimpin transformasional pada dasarnya memimpin organisasi gereja menuju pengembangan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, pemimpin mengarahkan organisasi agar berkembang secara konsisten berdasarkan paradigma pengembangan organisasi demi membentuk organisasi yang secara terus-menerus berpindah dari satu stage ke stage berikutnya dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Bahkan, kepemimpinan ini juga berdampak pada perubahan dan pengembangan manajemen yang berlangsung secara bertahap karena telah dirancang sebelumnya. Proses perubahan ini dilaksanakan secara terencana dan sistematis untuk meningkatkan efektivitas Alki Firton Tambunan and Yohanes Natanael Situmorang. AuDisfungsional Kepemimpinan Gembala Gereja Akibat Intervensi Orang Kaya,Ay TEOLOGIS. RELEVAN. APLIKATIF. CENDIKIA. KONTEKSTUAL 4, no. 47Ae75. Ferdiandus Tamu Ama and Gloria Gabriel Lumingas. AuPeran Gembala Dalam Membimbing Dan Memberdayakan Jemaat Di Era Disrupsi,Ay Ritornera-Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 5, no. : 88Ae100. Jamilatul Hasanah et al. AuBudaya Organisasi Dan Kepemimpinan Transformasional: Sistematika Tinjauan Literatur,Ay Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa 1, no. : 248Ae261. Muhammad Iqbal. AuKepemimpinan Transformasional Dalam Upaya Pengembangan Sekolah/Madrasah,Ay Pionir: Jurnal Pendidikan 10, no. Gunawan. Stevanus, and Arifianto. AuKepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3:10 Dan Signifikansinya Bagi Pemimpin Kristen Di Era Disrupsi. Ay Joswanto et al. AuGereja Dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11. Ay CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia organisasi melalui penyesuaian posisi struktural dalam gereja. 31 Karakteristik kepemimpinan transformatif dapat diartikan sebagai sifat khas yang melekat pada gaya mempengaruhi, yang berupaya mengubah penampilan atau bentuk organisasi dari satu bentuk ke bentuk lain melalui proses tertentu. Kepemimpinan transformatif terdiri dari beberapa komponen utama. Terkait hal ini, ada yang menyebutkan bahwa pengukuran kepemimpinan transformasional meliputi dua belas komponen, yaitu: atribut karisma, pengaruh ideal, kepemimpinan inspirasional, stimulasi intelektual, perhatian terhadap individu, penghargaan kontingen, manajemen berdasarkan pengecualian aktif, manajemen berdasarkan pengecualian pasif, kepemimpinan laissez-faire, usaha ekstra, efektivitas, dan kepuasan. 32 Dengan demikian, seorang pemimpin yang transformatif sangat diperlukan dalam menginisiasi perubahan-perubahan positif. Kepemimpinan transformatif dapat mencapai perubahan positif dengan cara melalui pendidikan Kristen yang berfokus pada penanaman nilai-nilai Alkitabiah kepada orang lain. 33 Maka dari itu, karakter kepemimpinan transformasional gereja mencakup visi rohani, iman kuat, integritas, keteladanan, kasih, pelayanan, komunikasi efektif, inspiratif, empati, rendah hati, disiplin, komitmen, keadilan, kesabaran, pengorbanan, kepedulian, pemberdayaan jemaat, pembimbing rohani, motivasi tinggi, transparansi, kepercayaan, keteguhan, doa tekun, keberanian, adaptabilitas, inovatif, kolaboratif, membangun komunitas, mendukung pertumbuhan iman, dan berorientasi pada misi. Gereja dan Kepemimpinan Kristen di Era Postmodern Kemajuan teknologi digital saat ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh jemaat dari berbagai usia, dan gereja perlu hadir tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai lembaga yang membantu jemaat menghadapi tantangan dari perkembangan era digital. Tidak hanya fokus pada digitalisasi, gereja juga perlu memperhatikan bagaimana tren-tren baru yang muncul dapat mempengaruhi kedewasaan jemaat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, yang salah satunya dapat dilihat dari tingkat partisipasi jemaat dalam pelayanan-pelayanan 34 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah AugerejaAy memiliki dua definisi. Yang pertama, gereja merujuk pada bangunan ataupun tempat yang di mana umat Kristen berkumpul untuk beribadah serta melakukan ritual keagamaan. 35 Gereja merupakan institusi yang didirikan oleh Tuhan Yesus. 36 Pada era postmodern ini gereja sering kali terpengaruh oleh arus zaman sehingga dogma-dogma gereja dipengaruhi oleh pemikiran zaman, yang kemudian menyebabkan teologi menjadi tidak tetap. Sementara itu, teologi menunjukkan sifat yang sangat fleksibel mengikuti perubahan zaman, namun di sisi lain, keaslian aslinya telah hilang. Catatan sejarah Joswanto et al. AuGereja Dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11. Ay Sarman Parhusip. Alvonce Poluan, and Steven Tommy Dalekes. AuKepemimpinan Yang Transformatif Terhadap Organisasi Gereja Masa Kini,Ay Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen . Yakobus Adi Saingo. AuKarakter Kepemimpinan Transformasional Petrus Octavianus Sebagai Pendidik Kristen,Ay Jurnal Shanan . Joswanto et al. AuGereja Dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11. Ay Johanes Augustinus. Beni Chandra Purba, and Budi Kelana. AuEfektivitas Manajemen Kepemimpinan Dalam Gereja,Ay JUITAK : Jurnal Ilmiah Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 27Ae39. Stevie Kalangi. AuPeran Gereja Dalam Pemuridan Di Era Masyarakat Postmodernisme,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 3, no. : 253Ae264. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia memperlihatkan bahwa teologi yang dipengaruhi oleh pemikiran zaman tampaknya mampu menjawab tantangan zamannya secara praktis, namun kemudian akan diubah oleh zaman Teologi yang benar berpusat pada ketangguhan dan konsistensi kepada Allah melalui Firman-Nya yang kekal dan hidup tidak akan pernah tergoncangkan. Dalam konteks ini, teologi pastoral juga harus mampu mengatasi tantangan kepemimpinan Kristen di era postmodern. Dalam menghadapi tantangan segregasi di era digital, seluruh umat Tuhan harus memberikan jawaban yang benar. Gereja, sebagai komunitas orang percaya, memiliki tugas untuk menyinari dan memberi rasa asin pada dunia yang semakin rusak, dan oleh karena itu Tuhan telah menyediakan segala hal yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tersebut. Dalam perannya, gereja harus mengajarkan serta membangun nilai-nilai iman Kristen dalam kehidupan para jemaat. Dalam perjalanan iman. Tuhan memberikan janji dan acuan kepada umat-Nya agar mereka dapat memperoleh anugerah keselamatan kekal. 38 Maka dari itu, dapat disimpulkan kepemimpinan gereja di era postmodern berfungsi sebagai penuntun kebenaran di tengah relativisme, membangun komunitas yang autentik, menjembatani tradisi dengan konteks modern, serta mengembangkan kepemimpinan partisipatif. Sehingga, pemimpin gereja juga menjadi agen transformasi sosial, memanfaatkan teknologi untuk pelayanan, dan menjadi teladan spiritual bagi jemaat yang menghadapi tantangan zaman. Dalam era postmodern yang penuh tantangan, pemimpin Kristen perlu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan perkembangan zaman, sambil tetap berlandaskan Firman Tuhan. Diharapkan pemimpin mampu menempatkan pembangunan watak dan nilai-nilai Kristiani sebagai prioritas, berkarakter seperti Kristus, serta menjalani kehidupan sesuai standar berpikir, berperasaan, dan ber tindakan seperti Kristus. 39 Sehingga, dalam era postmodern, terjadi pergeseran yang signifikan dalam paradigma sosial serta budaya, yang membawa tantangan baru bagi kepemimpinan Kristen. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan kompleksitas saat ini, pemimpin Kristen memiliki tugas utama untuk membimbing dan memotivasi komunitas mereka. Perubahan mendesak dalam paradigma sosial dan budaya yang terjadi selama era postmodern menuntut kepemimpinan rohani untuk menyesuaikan diri. Di tengah tantangan dan ketidakpastian zaman ini, pemimpin harus mampu membimbing serta menginspirasi komunitas iman jemaat dengan penuh tanggung jawab. Dalam konteks ini, seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 4:5, terdapat landasan teologi yang signifikan dan relevan untuk membimbing umat Kristen di era postmodern, tidak hanya dalam pengelolaan gereja tetapi juga dalam pelayanan rohani yang mengedepankan integritas moral dan kepemimpinan yang menjadi teladan. 41 Dalam kepemimpinan Kristen, dasar utamanya adalah ajaran Alkitab yang mencontohkan kehidupan dan teladan Yesus Kristus sebagai pemimpin. 42 Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa Aprianti. AuPemimpin Gereja Di Masa Postmodern. Ay Joswanto et al. AuGereja Dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11. Ay Aprianti. AuPemimpin Gereja Di Masa Postmodern. Ay Palallang. AuMenganalisis Teologi Pastoral Dalam Membentuk Semangat Kepemimpinan Kristen Pada Era Postmodern: Tinjauan Yesaya 40:1. Ay FaAoahakhododo Halawa and Malik Bambangan. AuKepemimpinan Dan Kesetiaan Hamba Tuhan Dalam Pelayanan Di Era Postmodern Berdasarkan 2 Timotius 4: 1-8,Ay Jurnal Magistra 2, no. : 139Ae152. Frederich Oscar L Lontoh. AuKepemimpinan Kristen,Ay AMU Press . : 1Ae264. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kepemimpinan kristen di era postmodern menghadapi tantangan besar akibat perubahan sosial dan budaya yang cepat. Sehingga, pemimpin kristen harus tetap berpegang pada Firman Tuhan, membangun karakter Kristus, dan menjadi teladan bagi jemaat. Dengan integritas moral dan kepemimpinan yang inspiratif, mereka dapat membimbing komunitas iman menghadapi ketidakpastian zaman. Kepemimpinan yang sesuai zaman adalah yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga menjaga kesetiaan terhadap dasar iman dan prinsip Alkitab. Di era digital, pemimpin Kristen perlu menggabungkan pendekatan modern dengan kedalaman spiritual dan prinsip etika yang 43 Dalam era posmodern, memimpin gereja menuntut strategi yang mampu menanggapi tantangan dan dinamika budaya modern. Dalam konteks posmodernisme yang skeptis terhadap institusi dan doktrin formal, pemimpin gereja harus menekankan pentingnya hubungan yang otentik dengan jemaat. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan harus bersifat relasional dan inklusif, sehingga jemaat dapat merasakan kehadiran Tuhan melalui komunitas yang saling Mencapai pertumbuhan gereja memerlukan kerja keras dan keinginan dari gereja untuk melayani serta memperkuat iman mereka agar dewasa dalam Tuhan. 44 Menurut Kolose 3:2324, semua tindakan harus dilakukan dengan sepenuh hati sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Dasar ini menjadi fondasi bagi kepemimpinan Kristen di setiap zaman, termasuk dalam konteks digital. Teknologi harus dimanfaatkan guna memperluas jangkauan pelayanan, mempererat hubungan, serta memudahkan akses ke pembinaan rohani. 45 Untuk mewujudkan kepemimpinan Kristen di era postmodern, diperlukan pendekatan manajemen yang berlandaskan pada etika dan moralitas, baik di lingkungan pendidikan maupun gereja. 46 Oleh karena itu, kepemimpinan kristen yang efektif di era postmodern harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa mengorbankan prinsip iman. Sehingga, pemimpin gereja perlu menggabungkan pendekatan modern dengan nilai-nilai spiritual yang kuat, membangun hubungan otentik dengan jemaat, dan menciptakan komunitas yang inklusif. Pemimpin Kristen memanfaatkan teknologi menjadi alat untuk memperluas pelayanan dan mempererat hubungan Rohani antar jemaat. Strategi dan aktualisasi Pendidikan Kristen untuk Mendorong Kepemimpinan Gembala yang Transformasional Pendidikan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan suatu bangsa, karena mutu pendidikan secara langsung berdampak pada kemajuan atau kemunduran bangsa tersebut. Dalam konteks pelayanan Gereja, pendidikan Kristen memegang peranan yang sangat penting. 47 Gereja Glori Aaron Rumondor and Dean Justine Ticoalu. AuAnalisis Faktor-Faktor Multipikasi Efektivitas Kepemimpinan Kristen Di Era Digital,Ay Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 3, no. : 125Ae133. Markus Kusni. AuKesiapan Generasi Muda Dalam Kepemimpinan Gereja Di Era Posmodern,Ay MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 6, no. : 110Ae122. Rumondor and Ticoalu. AuAnalisis Faktor-Faktor Multipikasi Efektivitas Kepemimpinan Kristen Di Era Digital. Ay Endang Pasaribu et al. AuEtika Moral Kepemimpinan Kristen Di Era Post Modern,Ay JSSHA ADPERTISI JOURNAL 3, no. : 13Ae18. Roy Damanik and Purwisasi Yuli. AuPeranan Pendidikan Kristen Dalam Membentuk Karakter Generasi Muda Di Era Digital,Ay REAL DIDACHE: Journal of Christian Education 4, no. 2 (September 30, 2. : 97Ae111, https://ojs. id/index. php/didache/article/view/583. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia berfungsi sebagai pondasi utama dalam mengerti dan menghayati ajaran agama Kristen. Melalui pendidikan Kristen, gereja berusaha membangun karakter spiritual umatnya, memperdalam pengertian tentang akhlak, dan mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus. 48 Dalam kekristenan, pemimpin adalah individu yang dipilih oleh Allah untuk melaksanakan misi dan rencana-Nya. Kepemimpinan Kristen merupakan proses yang direncanakan, di mana dalam campur tanganNya Ia memilih dan menugaskan seseorang sebagai alat untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan serta misiNya. Pemimpin Kristen bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana Tuhan dalam pekerjaan mereka. Pemimpin Kristen sangat bergantung pada pimpinan dan bimbingan Roh Kudus karena alasan tersebut. Tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin tidak bisa dipenuhi tanpa kehadiran Tuhan. mereka harus mengintegrasikan pekerjaan dan tanggung jawab sesuai dengan sasaran dari Allah. 49 Dalam gereja, gembala memegang peranan penting dalam merancang strategi yang membantu membimbing dan memberdayakan jemaat serta kaum muda. Supaya pelayanan tetap maju, jemaat harus dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai. 50 Pemimpin gereja perlu mengajarkan nilai-nilai Kristen yang relevan dengan kehidupan nyata sekaligus memperkenalkan prinsip etika digital dalam pengajaran mereka. Selain itu, para pemimpin gereja harus menunjukkan karakter etika, menjalani hidup yang tanpa cela dan penuh kesetiaan, serta mengajarkan sesuai dengan kebenaran Firman Allah agar pengajaran mereka tidak menjadi batu penghalang. 51 Pengajaran ini meliputi peningkatan moralitas, pengembangan spiritual, pemberdayaan komunitas di lingkungan gereja maupun keluarga, dan penggunaan sumber daya manusia serta peran vital sumber daya gereja dalam mendukung perubahan moral tersebut. Gereja juga mampu menyampaikan pengajaran yang memperkuat komitmen dan dedikasi dalam mewujudkan kekudusan. 52 Maka dapa dilihat, bahwa gembala sidang sebagai pemimpin transformatif bertanggung jawab mengarahkan jemaat dengan firman Tuhan, mendorong perubahan, dan memberdayakan mereka. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan keberanian untuk berubah, menginspirasi inovasi, serta menerapkan prinsip penghambaan Kristus. Pemimpin transformasional membimbing pengikutnya agar berkembang, berkreasi, dan mencapai prestasi lebih baik. Seorang gembala sidang menunjukkan kemampuan kepemimpinan dengan mengarahkan, mempengaruhi, mendorong, dan mengendalikan jemaat yang dipimpin agar mereka mampu melakukan tugas tertentu. Firman Tuhan, pelayanan, atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan, berdasarkan sifat, perilaku, dan karakter pemimpin. Seorang gembala sidang adalah pemimpin dari komunitas umat Allah yang dipercayakan Tuhan untuk memimpin Dina Weli Ornace Lake. Hendrik A E Lao, and Andrian Wira Syahputra. AuImplementasi Pelayanan Pastoral Dalam Pembentukan Karakter Spiritual Jemaat Berbasis Pendidikan Kristen Di GMIT Lanud Eltari,Ay POIMEN Jurnal Pastoral Konseling 5, no. : 1Ae17. Purim Marbun. AuPemimpin Transformatif Dalam Pendidikan Kristen,Ay MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 1, no. : 72Ae87. Ama and Lumingas. AuPeran Gembala Dalam Membimbing Dan Memberdayakan Jemaat Di Era Disrupsi. Ay Yonatan Alex Arifianto. Elisa Nimbo Sumual, and Yohana Fajar Rahayu. AuMeningkatkan Efektivitas Kepemimpinan Kristen Di Dunia Digital: Upaya Pemimpin Gereja Dalam Membentuk Etika Digital Bagi Jemaat,Ay MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 6, no. : 77Ae88. Indra Richard Sigarlaki. AuTransformasi Hidup Dalam Kekudusan: Upaya Peningkatan Moralitas Kepemimpinan Gereja,Ay Manna Rafflesia 10, no. : 476Ae489. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia mereka. 53 Sebagai pemimpin transformatif dalam pendidikan Kristen, tanggung jawabnya tidak sebatas menjalankan kepemimpinan secara efektif, melainkan juga mendorong perubahan di berbagai aspek yang berlandaskan firman Tuhan. Pemimpin yang bersedia dan mampu menerapkan prinsip Tuhan Yesus tentang penghambaan akan merasakan pengalaman kepemimpinan yang sangat luar biasa dalam organisasi yang dipimpinnya. Dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu membawa perubahan karena tanpa keberanian untuk berubah dan memimpin perubahan, ia tidak akan pernah mencapai keberhasilan sebagai pemimpin. Orang yang dipimpin dan pihak lain yang bukan dipimpin tidak akan menganggap seorang pemimpin efektif jika mereka melihat bahwa tidak ada perubahan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut. 54 Para pemimpin transformasional dalam kepemimpinannya dapat membantu pengikutnya untuk berkembang dan tumbuh, sekaligus memberdayakan mereka agar mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sebelumnya. Pemimpin transformasional berusaha memacu pengikutnya agar mampu berinovasi dan berkreasi dengan mengkritisi asumsi, membingkai masalah, dan menggunakan pendekatan yang berbeda. 55 Maka dari itu Gembala sidang sebagai pemimpin transformatif bertanggung jawab mengarahkan jemaat dengan firman Tuhan, mendorong perubahan, dan memberdayakan mereka. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan keberanian untuk berubah, menginspirasi inovasi, serta menerapkan prinsip penghambaan Kristus. Pemimpin transformasional membimbing pengikutnya agar berkembang, berkreasi, dan mencapai prestasi lebih baik. KESIMPULAN Pendidikan Kristen dalam perspektif teologi praktis adalah proses pembelajaran yang tidak hanya menanamkan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, iman, dan moral peserta didik berdasarkan ajaran Alkitab. Pendidikan ini berakar pada nilai-nilai Kristiani dan dilaksanakan secara sadar dan sistematis, dipandu oleh Roh Kudus, untuk membentuk individu yang hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Teologi praktis menjadi pendekatan penting dalam pendidikan Kristen karena menghubungkan antara ajaran iman dan pengalaman hidup, serta memungkinkan penerapan nilai-nilai Kristus dalam tindakan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, pendidikan Kristen bukan hanya tanggung jawab sekolah atau institusi formal, tetapi juga gereja dan pemimpin rohani yang harus memperlengkapi umat dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks kepemimpinan gereja, terutama di era postmodern, diperlukan model kepemimpinan transformasional yang mampu menanggapi dinamika sosial-budaya yang cepat berubah tanpa mengabaikan prinsip kebenaran firman Tuhan. Seorang gembala sidang sebagai pemimpin transformasional harus mampu memimpin dengan teladan Kristus, memotivasi jemaat Dapot Tua Simanjuntak and Joseph Christ Santo. AuKepemimpinan Gembala Sidang Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Jemaat: Sebuah Refleksi 1 Petrus 5,Ay Paria 6, no. : 66Ae76. Marthen Mau and Markus Amid. AuManajemen Pendidikan Kristen Dan Kepemimpinan,Ay BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS . Juliati Elisabeth Seran. AuKepemimpinan Transformasional Yesus Sebagai Model Kepemimpinan Toleran Di Indonesia,Ay PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen . CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia untuk bertumbuh secara spiritual, serta menciptakan perubahan positif melalui pemberdayaan dan Kepemimpinan ini juga harus inklusif, etis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu membangun komunitas iman yang autentik. Maka, pendidikan Kristen dan kepemimpinan transformasional adalah dua pilar yang saling mendukung untuk memperkuat gereja dalam menjawab tantangan zaman secara relevan, bermakna, dan setia pada ajaran Kristus. DAFTAR PUSTAKA