Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. PEREMPUAN DALAM CAKRAWALA SUFISME: TELAAH MENDALAM ATAS KARYA MUHAMMAD NUR JABIR Hidayatul Azizah Gazali Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang hidayatulazizahgazali@uinib. Abstract The reality that develops in society shows that the role of women is often still viewed marginally, both in the social and spiritual domains. Women are frequently reduced to merely biological aspects and domestic roles, without considering their spiritual depth within the Islamic tradition. This study aims to offer a broader and more holistic perspective on women by positioning them as part of the manifestation of Divine beauty, possessing the potential to achieve spiritual perfection. Through the works of Muhammad Nur Jabir, this research seeks to explore how women in Sufism are not only understood as passive objects but also as active subjects in the journey toward God. This research is categorized as a literature study with a qualitative The data analysis method applied is content The findings of this study indicate that, first, women are seen as the dominant reflection of GodAos jamaliyah . attributes, while men reflect jalaliyah . however, these two dimensions complement each other to create spiritual Second, in their essence of creation, women and men are considered spiritually equal as they originate from the same soul, whereas differences in Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Islamic law are more related to physical aspects. Third, women have the same potential as men to reach the highest spiritual levels, such as the maqam of sainthood . nsan kami. and the maqam of caliphate . Keywords Woman, sufism. Muhammad Nur Jabir Pendahuluan Studi tentang perempuan dalam perspektif tasawuf menjadi penting dalam konteks wacana keislaman kontemporer,1 terutama dalam menegaskan posisi perempuan sebagai entitas yang memiliki nilai spiritual dan kosmologis yang setara dengan laki-laki. Realitas yang berkembang dalam masyarakat menunjukkan bahwa peran perempuan sering kali masih dipandang sebelah mata, baik dalam ranah sosial maupun spiritual. 2 Perempuan kerap kali direduksi hanya pada aspek biologis dan peran domestik, 3 tanpa mempertimbangkan kedalaman spiritualitasnya dalam tradisi Islam. Kajian tasawuf, khususnya dalam karya Muhammad Nur Jabir, menawarkan perspektif yang lebih luas dan holistik tentang perempuan, menempatkannya sebagai bagian dari manifestasi keindahan Ilahi yang memiliki potensi mencapai kesempurnaan spiritual. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya pemahaman yang lebih inklusif dan mendalam mengenai peran perempuan dalam tasawuf. Banyak literatur Islam klasik yang lebih menonjolkan laki-laki dalam perjalanan spiritual, sementara perempuan sering kali hanya disebutkan secara sekunder. Padahal, dalam sejarah Islam, banyak figur perempuan sufi yang memiliki peran besar dalam pengembangan tasawuf, seperti RabiAoah al-Adawiyah. Dengan mengkaji pemikiran Muhammad Nur Jabir, penelitian ini Muhammad Ainun Najib. AuTASAWUF DAN PEREMPUAN Pemikiran Sufi-Feminisme KH. Husein Muhammad,Ay Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 8, no. Abd. Mannan. Siti Nur Farida, and Fathorrozy. AuPenguatan Pendidikan Perempuan (Peran Perempuan Dalam Agama. Keluarga. Dan Kehidupan Sosial Di Masa Moder. ,Ay Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak 5, no. M Taufik. Hasnani, and Suhartina. AuPERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KESETARAAN GENDER DALAM KELUARGA (Di Desa Mattiro Ade Kabupaten Pinran. ,Ay SOSIOLOGIA : Jurnal Agama Dan Masyarakat 5, no. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 berusaha menggali bagaimana perempuan dalam tasawuf tidak hanya dipahami sebagai objek pasif, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam perjalanan menuju Tuhan. Penelitian ini mencakup tiga aspek utama: . Bagaimana perempuan diposisikan dalam tasawuf sebagai manifestasi keindahan Ilahi? . Bagaimana relasi perempuan dengan lingkungan sosialnya dalam pandangan tasawuf? . Sejauh mana perempuan memiliki potensi untuk mencapai maqam spiritual tertinggi sebagaimana laki-laki? Batasan penelitian ini akan difokuskan pada pemikiran Muhammad Nur Jabir dalam buku Perempuan dalam Perspektif Tasawuf serta referensi tasawuf klasik yang berkaitan dengan tema perempuan dan spiritualitas. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa perempuan dalam tasawuf memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam aspek spiritual, dengan karakteristik yang lebih dominan dalam dimensi jamaliyah . dibanding jalaliyah . Selain itu, penelitian ini berhipotesis bahwa kajian tasawuf memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan dalam mencapai maqam kewalian dan kesempurnaan spiritual dibandingkan dengan pendekatan fiqh atau teologi normatif yang sering kali bersifat patriarkal. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan pemahaman yang lebih seimbang dan komprehensif mengenai perempuan dalam Islam, khususnya dalam konteks spiritualitas dan tasawuf. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan atau lebih dikenal dengan istilah library research. Penelitian kepustakaan merupakan jenis penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan dalam memperoleh data penelitiannya. Penelitian jenis ini hanya membatasi kegiatannya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan riset lapangan. 4 Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah menggunakan metode deskriptif content analyst . nalisis is. , dimana penulis Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , 1Ae2. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 mendeskripsikan serta menganalisis isi dari buku Perempuan Perspektif Tasauf karya Muhammad Nur Jabir, di mana buku ini menjadi fondasi utama untuk analisis. Peneliti menggunakan data yang dikumpulkan berdasarkan dua sumber, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber datanya, dengan kata lain peneliti harus memperoleh sumber data tersebut secara langsung, 5 dan dalam hal ini buku Perempuan Perspektif Tasauf peneliti jadikan sebagai sumber data primer. Sumber data sekunder diperoleh atau dikumpulkan dari berbagai sumber-sumber lain seperti AlQurAoan. Tafsir, buku dan artikel terkait penelitian. Pembahasan Muhammad Nur Jabir dan Buku AuPerempuan Perspektif TasaufAy Muhammad Nur Jabir adalah seorang pemikir Muslim yang mengabdikan hidupnya pada studi tasawuf dan isu-isu sosial keagamaan. Ia lahir di Makassar pada 21 April 1975 dan merupakan alumni Pascasarjana PARAMADINA. Sebagai seorang intelektual, ia aktif menulis dan menerjemahkan berbagai karya yang berkaitan dengan tasawuf dan filsafat Islam. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Wahdah alWujud Ibn AoArabi dan Filsafat Wujud Mulla Sadra . Road to Return . , serta Dalil Pembuktian Tuhan . Selain itu, ia juga menerjemahkan syair-syair Jalaluddin Rumi dalam buku Kado Cinta Rumi: Kumpulan Syair-Syair Cinta . Matsnawi Maknawi I . Matsnawi Maknawi II . , dan Samudra Wahdatul Wujud . Saat ini. Muhammad Nur Jabir menjabat sebagai Direktur Rumi Institute Jakarta. Salah satu kontribusi penting Nur Jabir dalam literatur Islam adalah bukunya yang berjudul Perempuan dalam Perspektif Tasawuf . Buku ini menyoroti peran perempuan dalam Islam dari sudut pandang tasawuf, dengan memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai posisi perempuan dalam perjalanan spiritual. Nur Jabir tidak Sandu Siyoto and M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2. , 57. Siyoto and Sodik, 57. Muhammad Nur Jabir. Perempuan Perspektif Tasauf (Jakarta Selatan: Rumi Press, 2. , 84. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 hanya membahas ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perempuan, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat perempuan sebagai subjek utama dalam pencarian hakikat dan makna kehidupan. Ia mengembangkan gagasan bahwa perempuan memiliki potensi spiritual yang sama dengan laki-laki, dan perjalanan menuju Tuhan tidak dibatasi oleh gender. Dalam buku ini. Nur Jabir menegaskan bahwa tasawuf tidak hanya berbicara tentang hubungan batiniah manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan landasan etika untuk membangun hubungan sosial yang lebih adil, setara, dan saling Dengan demikian, pemikiran tasawuf yang ia sampaikan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam membentuk masyarakat yang lebih harmonis. Buku ini menjadi salah satu karya penting dalam kajian Islam kontemporer, khususnya dalam mengangkat peran perempuan dalam dimensi spiritual yang sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam wacana keislaman tradisional. Pendekatan yang Digunakan dalam Buku AuPerempuan Perspektif TasaufAy Muhammad Nur Jabir dalam bukunya mengangkat tiga pokok bahasan utama mengenai perempuan dalam perspektif tasawuf, dengan pendekatan yang saling Pertama, perempuan sebagai manifestasi keindahan Ilahi. kedua, dua relasi dalam diri perempuan yang mencakup hakikat penciptaannya. dan ketiga, maqam perempuan dalam perjalanan spiritual Islam. Ketiga aspek ini menjadi dasar bagi pemahaman perempuan dalam tasawuf, tidak hanya sebagai entitas fisik, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai metafisik yang mendalam. Dalam menjelaskan konsep manifestasi Tuhan. Nur Jabir menggunakan pendekatan berbasis Al-QurAoan. Baginya, jika sesuatu hendak disifatkan kepada Tuhan, maka harus menggunakan bahasa Tuhan itu sendiri, sebagaimana Tuhan menjelaskan diri-Nya dalam Al-QurAoan. Dengan kata lain, pemahaman tentang keilahian harus merujuk langsung pada teks wahyu, bukan sekadar interpretasi manusiawi yang Pendekatan ini menunjukkan bahwa keindahan perempuan, dalam pandangan tasawuf, merupakan refleksi dari sifat-sifat Ilahi yang termanifestasi di alam semesta. Jabir. Perempuan Perspektif Tasauf. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Sementara itu, dalam pembahasan mengenai dua relasi dalam diri perempuan. Nur Jabir mengadopsi pendekatan esoteris terhadap teks Al-QurAoan. Ia menyoroti bahwa perempuan tidak hanya memiliki eksistensi dalam dimensi sosial, tetapi juga dalam dimensi hakikat spiritualnya. Dalam menjelaskan konsep ini, ia memperkaya analisisnya dengan analogi yang bersumber dari ranah syariah dan fiqih. Dengan pendekatan ini, ia berusaha menggali lebih dalam makna perempuan dalam Islam, bukan hanya dalam aspek hukum, tetapi juga dalam aspek metafisik dan spiritual. Adapun dalam kajian mengenai maqam perempuan. Nur Jabir menggunakan teori metafisik batiniyah yang merujuk pada kisah-kisah perempuan istimewa dalam AlQurAoan. Ia menunjukkan bahwa banyak perempuan yang memiliki kedudukan spiritual tinggi dan bahkan mencapai maqam kewalian. Dengan demikian, perempuan dalam tasawuf bukan hanya memiliki peran pasif, tetapi juga berhak untuk mencapai kesempurnaan spiritual sebagaimana laki-laki. Pendekatan ini menegaskan bahwa tasawuf menawarkan ruang bagi perempuan untuk berkembang dalam dimensi spiritual yang lebih luas. Dalam metode tafsir Al-QurAoan. Nur Jabir lebih memilih pendekatan tartib dan tafsir maudhuAoi . Namun, ia juga menyadari bahwa pendekatan tematik tidak selalu ideal, karena tidak semua ayat secara eksplisit membahas isu perempuan. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap kandungan Al-QurAoan. Selain itu, pemikirannya diperkaya oleh gagasan para tokoh sufi besar seperti Ibn Arabi. Jalaluddin Rumi, dan RabiAoah al-Adawiyah, yang turut membentuk perspektifnya dalam memahami perempuan dalam tasawuf sebagai bagian dari perjalanan menuju kesempurnaan spiritual. Perempuan Sebagai Manifestasi Keindahan Ilahi Sebelum membahas konsep perempuan dalam tasawuf. Nur Jabir terlebih dahulu menguraikan pentingnya nama-nama Tuhan dalam tradisi sufi. Dalam tasawuf. Asma al-Husna dipandang sebagai manifestasi Zat Ilahi yang tersebar di seluruh alam Keberagaman ciptaan yang tampak di dunia ini berakar dari nama-nama Tuhan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 yang tak terbatas, karena Zat-Nya pun Maha Tak Terbatas. Nama-nama Ilahi hanya dapat dipahami melalui pengenalan Tuhan terhadap diri-Nya sendiri, bukan sekadar melalui penalaran manusia. Sebab, hakikat Ilahi tidak akan dapat dipahami oleh akal manusia tanpa perkenalan langsung dari Tuhan itu sendiri. Untuk memperkuat argumentasinya. Nur Jabir mengutip sebuah hadis Qudsi yang berbunyi: AuAku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku mencintai untuk dikenal, maka Aku mencipta agar Aku dikenal. Ay9 Setiap entitas di alam ini merupakan refleksi dari nama-nama Tuhan, termasuk keberadaan manusia. Misalnya, nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim tampak lebih dominan termanifestasi dalam diri seorang ibu, karena sifat kasih sayang yang melekat pada dirinya, terutama dalam peran merawat dan mencintai anak-anaknya. Demikian pula, sifat-sifat keindahan lainnya yang hadir dalam diri manusia sesungguhnya merupakan pancaran dari sifat-sifat Ilahi. Nama-nama Tuhan ini terbagi dalam dua dimensi utama, yakni jalaliyah . dan jamaliyah . , yang keduanya saling melengkapi dan tidak pernah terpisah. Dalam setiap keagungan, terselip keindahan, dan dalam setiap keindahan, terdapat keagungan. Nur Jabir mengilustrasikan konsep ini dengan beberapa ayat dalam Al-QurAoan, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 179, di mana hukum qishash . merupakan manifestasi dari jalal, sedangkan hayat . adalah refleksi dari jamal. Dimensi jalal dan jamal ini juga terlihat dalam ajaran syariat. Meskipun ibadah terkadang terasa berat . , di dalamnya terkandung kenikmatan batin . , sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. Al-MaAoarij: 5 tentang "sabar yang indah" dan QS. Al-Muzammil: 10 yang membahas hijrah yang membutuhkan kekuatan tetapi membawa keindahan. Dalam QS. Ar-Rahman: 43-45, neraka . tetap diiringi dengan pengingat akan nikmat Tuhan . Bahkan dalam penciptaan, keagungan Tuhan tersembunyi dalam keindahan-Nya, dan keindahan-Nya tersembunyi dalam keagungan-Nya. Ayat seperti QS. Az-Zumar: 62 dan QS. As-Sajdah: 7 menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan Jabir, 7Ae8. Jabir, 9. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dengan keseimbangan sempurna antara jalal dan jamal. Namun. Nur Jabir menegaskan bahwa Zat Tuhan itu sendiri tidak memiliki sifat jalal atau jamal. Sifat-sifat ini baru tampak setelah Tuhan memperkenalkan diri-Nya dalam bentuk manifestasi. Dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan, keduanya terhubung erat dengan sifat jalal dan jamal. Laki-laki lebih dominan dalam aspek jalaliyah . , sedangkan perempuan lebih dominan dalam aspek jamaliyah . Dominasi ini memengaruhi peran mereka dalam kehidupan sehari-hari. Nur Jabir mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi, "Akal wanita ada pada dan keindahan laki-laki ada pada akalnya. Ungkapan ini menggambarkan bahwa laki-laki cenderung mengutamakan akal yang melambangkan jalal . , di mana keindahannya tersembunyi, sedangkan perempuan lebih dominan dalam keindahan yang melambangkan jamal, dengan akalnya yang Namun, hal ini bukan berarti laki-laki lebih berakal atau perempuan lebih indah, melainkan hanya menegaskan aspek dominan dalam peran mereka masingmasing. Nur Jabir mencontohkan bagaimana dimensi keindahan perempuan termanifestasi dalam ketahanan menghadapi penderitaan dan kesabaran, yang secara alami lebih bisa ditanggung oleh perempuan. Hal ini dapat dilihat dalam tugas melahirkan dan pengasuhan anak, yang membutuhkan kelembutan dan kasih sayang. Sebaliknya, laki-laki dengan sifat jalaliyah-nya yang lebih dominan memiliki tanggung jawab mencari nafkah dan melindungi keluarga. Di sisi lain, perintah menuntut ilmu yang diwajibkan bagi laki-laki dan perempuan menurut Nur Jabir menunjukkan bahwa keduanya memiliki potensi yang sama untuk mencapai puncak pengetahuan dan kebijaksanaan. Ketika perempuan mencapai kesempurnaan akalnya, ia menjadi tegas, sedangkan ketika laki-laki mencapai kesempurnaan akalnya, ia menjadi lembut. Kesempurnaan ini tercapai jika unsur jalaliyah dan jamaliyah dalam diri manusia saling melengkapi. Dengan demikian, jalal dan jamal bukanlah sekadar atribut fisik, tetapi merupakan prinsip penciptaan yang Jabir, 12Ae19. Jabir, 20. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menegaskan keseimbangan sifat Tuhan dalam diri manusia. Keselarasan antara kedua aspek ini menjadi kunci dalam memahami peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan, serta dalam perjalanan spiritual mereka menuju Tuhan. 13 Secara sederhana, konsep perempuan sebagai manifestasi keindahan Ilahi yang diungkapkan Jabir dapat dilihat pada konsep berikut. Gambar 1. Konsep konsep perempuan sebagai manifestasi keindahan Ilahi Nur Jabir Konsep Jalal dan Jamal oleh Nur Jabir di atas senada dengan penjelasan Sachiko Murata dalam The Tao of Islam terkait dualitas yang ada dalam sifat Tuhan, seperti antara jalal . dan jamal . , yang dianggap sebagai manifestasi dari Jabir, 21Ae22. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 harmoni kosmik yang lebih besar. Pada pembahasan AuDua TanganAy Allah. Sachiko Murata mengutip pandangan sejumlah tokoh Sufi besar seperti Mu'ayyiduddin Jandi. Abdul Razak Kasyani. Dawud Qaishari. Shadruddin Qunawi, dan Sa'iduddin Farghani untuk memperdalam pemahaman tentang dualitas dalam sifat Tuhan, yang digambarkan sebagai "dua tangan" Tuhan. Konsep ini menggambarkan keseimbangan antara dua aspek Tuhan yang saling melengkapi, yaitu keagungan . dan keindahan . Tokoh-tokoh Sufi ini menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya memiliki sifat yang mengarah pada ketakterbandingan dan kebesaran, tetapi juga sifat yang menyiratkan kelembutan, kasih sayang, dan kedekatan dengan ciptaan-Nya. Dalam hal ini, jalal melambangkan sisi Tuhan yang transenden dan kuat, sementara jamal menggambarkan sisi Tuhan yang penuh kasih dan penuh kedamaian. Dalam pandangan Sufi, kedua aspek ini, keagungan dan keindahan, dapat diterjemahkan dalam relasi gender sebagai pasangan yang saling melengkapi. Seperti halnya Tuhan yang memiliki dua sisi tersebut, laki-laki dan perempuan dalam Islam dipandang sebagai dua entitas yang memiliki peran penting dalam tatanan alam semesta yang lebih besar. Melalui prinsip ini, relasi antara laki-laki dan perempuan tidak bersifat hierarkis atau bertentangan, tetapi lebih pada saling mendukung dan menciptakan harmoni. 15 Konsep Sachiko Murata ini dapat dilihat pada konsep di bawah ini. Sachiko Murata. The Tao of Islam (Bandung: Mizan, 2. , 13. Murata, 14Ae15. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Gambar 2. Konsep Jalal dan Jamal Sachiko Murata Dari pemaparan di atas, terlihat bahwa konsep perempuan sebagai manifestasi keindahan Ilahi dalam pemikiran Nur Jabir menunjukkan bahwa tasawuf menawarkan perspektif yang lebih holistik terhadap peran perempuan dalam Islam. Pendekatan ini menggarisbawahi bahwa perempuan dan laki-laki bukan sekadar entitas biologis dengan peran sosial yang berbeda, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang saling melengkapi melalui sifat jalaliyah . dan jamaliyah . Dominasi sifat jalaliyah dalam laki-laki dan jamaliyah dalam perempuan tidak menunjukkan superioritas salah satu atas yang lain, tetapi lebih kepada keseimbangan peran yang telah tertanam dalam penciptaan. Perempuan dengan dominasi sifat jamaliyah-nya lebih diidentikkan dengan kelembutan, kasih sayang, serta ketahanan dalam menghadapi penderitaan, seperti yang terlihat dalam perannya dalam melahirkan dan mengasuh anak, sementara laki-laki dengan sifat jalaliyah-nya lebih cenderung bertanggung jawab dalam melindungi dan menafkahi keluarga. Perspektif ini juga senada dengan gagasan Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, yang melihat keagungan . dan keindahan . sebagai dua aspek Tuhan yang membentuk keseimbangan kosmik dan tercermin dalam relasi gender manusia. Dengan demikian, tasawuf tidak hanya mengakui kesetaraan spiritual antara laki-laki Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dan perempuan seperti dalam potensi mereka untuk mencapai maqam kewalian . nsan kami. dan maqam khalifah, tetapi juga menegaskan bahwa hubungan gender seharusnya bersifat harmonis dan saling melengkapi, bukan hierarkis atau kontradiktif. Dalam konteks ini. Islam melalui tasawuf menawarkan sebuah konsep kesetaraan yang tidak didasarkan pada persamaan fungsional, tetapi pada keseimbangan peran dalam tatanan ilahi, di mana laki-laki dan perempuan memiliki jalan masing-masing menuju Tuhan, dengan karakteristik yang tetap saling menopang dalam perjalanan spiritual Dua Relasi dalam Diri Perempuan dan Hakikat Penciptaannya Menurut Nur Jabir, dalam diri perempuan terdapat dua relasi utama, yaitu relasi yang berkaitan dengan hakikat keperempuanannya serta relasi dengan lingkungan Selama pembahasan mengenai perempuan sering kali lebih menitikberatkan pada aspek sosial dan peran domestiknya, tanpa menggali lebih dalam hakikat penciptaannya. Padahal, jika ditinjau dari sudut pandang esensial, tidak ada perbedaan hakikat antara laki-laki dan perempuan, karena keduanya berasal dari roh yang sama, bukan dari tubuh. Perbedaan yang tampak dalam hukum syariat lebih berkaitan dengan aspek fisik, bukan dengan dimensi ruhani. Sebagai contoh, kewajiban menuntut ilmu berlaku bagi laki-laki maupun perempuan karena ilmu merupakan kebutuhan roh, bukan semata-mata kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, perbedaan dalam fikih lebih banyak berakar pada perbedaan biologis, sementara dalam dimensi ruhani, laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan yang mutlak. Islam menegaskan bahwa hakikat laki-laki dan perempuan bersumber dari roh yang sama, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa: 1 yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari jiwa yang satu . afs wahida. Pada awal penciptaannya, roh manusia tidak memiliki perbedaan gender. istilah nafs yang digunakan dalam Al-QurAoan merujuk pada inti eksistensi manusia, bukan pada bentuk fisiknya. Hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, menurut Nur Jabir. Perempuan Perspektif Tasauf, 23. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Jabir, bukanlah penegasan tentang inferioritas perempuan, melainkan sebuah simbol yang menggambarkan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling Dengan demikian, penciptaan Hawa sesungguhnya setara dengan penciptaan Adam, karena keduanya berasal dari sumber yang sama. Bahkan. Ibn Arabi menambahkan perspektif unik bahwa dalam dimensi batin, laki-laki juga mengalami haid dalam bentuk metaforis, yakni ketika mereka berdusta. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek biologis tidak sepenuhnya menentukan identitas spiritual seseorang, karena yang lebih utama adalah aspek ruhaniahnya. Dalam Islam, manusia dihargai bukan berdasarkan tubuh atau jenis kelamin, tetapi berdasarkan roh yang menjadi sumber kemuliaan dan ketakwaan. Al-QurAoan menyebut manusia dengan istilah insan, yang mencakup laki-laki dan perempuan tanpa membedakan hakikatnya. Perbedaan biologis yang tampak di dunia hanyalah bagian dari fungsi materi, sementara dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan, laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Nur Jabir mencontohkan hal ini dalam QS. Ar-Rahman, di mana Al-QurAoan tidak membedakan penciptaan laki-laki dan perempuan secara terpisah, melainkan menegaskan bahwa mereka berasal dari hakikat yang satu. Begitu pula dalam QS. Al-Insyiqaq: 6. Allah menegaskan bahwa setiap insan, baik laki-laki maupun perempuan, berjalan menuju Tuhan dalam kesetaraan Dimensi roh menjadi faktor utama yang menentukan kemuliaan manusia, karena roh merupakan wadah bagi nilai kebaikan, ketakwaan, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang menjadi esensi utama bukanlah perbedaan biologis, melainkan roh yang menjadi inti penciptaan manusia. Berikut konsep sederhana dua relasi dalam diri perempuan dan hakikat penciptaannya menurut Nur Jabir: Jabir, 26. Jabir, 29. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Gambar 3. konsep sederhana dua relasi dalam diri perempuan dan hakikat penciptaannya menurut Nur Jabir Dengan demikian, konsep dua relasi dalam diri perempuan menurut Nur Jabir menunjukkan bahwa Islam memandang manusia baik laki-laki maupun perempuan sebagai entitas spiritual yang hakikatnya tidak dibedakan oleh tubuh atau jenis kelamin, melainkan oleh roh yang menjadi esensi utama kemuliaan manusia. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum syariat lebih berkaitan dengan aspek tubuh dan fungsi biologis, bukan dengan nilai intrinsik atau potensi spiritual mereka. Konsep ini diperkuat oleh ayat-ayat Al-QurAoan, seperti QS. An-Nisa: 1 dan QS. Al-Insyiqaq: 6, yang menegaskan bahwa manusia berasal dari jiwa yang satu dan memiliki perjalanan spiritual yang sama menuju Tuhan. Pemikiran ini juga sejalan dengan pandangan Ibn Arabi yang menekankan bahwa aspek batin manusia tidak terbatas pada gender, sehingga keduanya memiliki potensi yang setara dalam mencapai kesempurnaan Dengan demikian. Nur Jabir membangun sebuah pemahaman bahwa kesetaraan dalam Islam bukan sekadar kesamaan hak dalam aspek sosial, tetapi lebih mendalam pada dimensi eksistensial manusia sebagai makhluk yang memiliki Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 hubungan langsung dengan Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa Islam secara fundamental menghargai perempuan dan laki-laki sebagai makhluk yang setara dalam esensi spiritual, dengan perbedaan yang hanya muncul pada fungsi biologis dan peran sosial, bukan pada nilai dan kapasitas rohaniah mereka. Maqam Perempuan dalam Tasawuf Dalam pemikiran Nur Jabir, perjalanan ruhaniah manusia terbagi ke dalam empat tingkatan utama. 19 Pertama, perjalanan dari makhluk menuju Tuhan, di mana seseorang berusaha mengenali dan mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta. Kedua, perjalanan dari Tuhan menuju Tuhan bersama Tuhan, yang merupakan perjalanan tanpa batas karena berkaitan dengan Asmaul Husna yang tak terhingga jumlahnya. Ketiga, perjalanan dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan, yang mencerminkan maqam kewalian, di mana seorang individu telah mencapai kesempurnaan spiritual dan tetap bersama Tuhan dalam segala tindakannya. Keempat, perjalanan dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan, di mana seorang insan kamil tidak hanya mencapai kesucian diri, tetapi juga membawa cahaya ilahi dalam interaksi dengan sesama manusia. Dalam tasawuf, perjalanan pertama harus diselesaikan terlebih dahulu agar seseorang benar-benar dapat dikatakan bersama Tuhan, sementara perjalanan kedua dan ketiga disebut sebagai perjalanan wilayah, dengan puncaknya adalah maqam kewalian. Mereka yang mencapai tahap ini disebut insan kamil, manusia sempurna yang telah menyempurnakan dirinya dalam aspek spiritual. Dalam Al-Qur'an, maqam tertinggi yang dapat dicapai manusia adalah maqam khalifah, yang tidak hanya berlaku di dunia materi, tetapi juga mencakup alam ruh. Para nabi telah mencapai maqam ini, dengan Rasulullah Muhammad saw. sebagai puncak kesempurnaan, yang tidak hanya memahami perbedaan antara jalan yang benar dan yang salah, tetapi juga membimbing umatnya menuju kesempurnaan spiritual. Nur Jabir menegaskan bahwa maqam khalifah dapat dicapai oleh siapa saja, tanpa memandang Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk mencapai Jabir, 42. Jabir, 42. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 maqam ini, khususnya pada tahap ketiga dalam perjalanan ruhaniah. Dalam tahap ini, seseorang yang telah mencapai maqam kewalian disebut sebagai insan kamil, yang berarti manusia yang telah mencapai kesempurnaan ruhani. Tasawuf mencatat bahwa maqam wilayah juga dapat diraih oleh perempuan, sebagaimana dicontohkan oleh Sayyidah Maryam, yang mencapai maqam kewalian melalui kesucian jiwa dan pengabdiannya kepada Tuhan. Al-Qur'an dalam QS. AsySyams: 7-8 menegaskan bahwa manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki jiwa yang dapat menerima ilham ketakwaan dan memiliki peluang yang sama untuk menyucikan diri. Oleh karena itu, perempuan yang mampu melewati hijab duniawi dengan kesungguhan spiritual . ihad akba. dapat mencapai nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Fajr: 27-28. Sementara maqam tabligh, yang berkaitan dengan tugas menyampaikan risalah secara syariat, diemban oleh laki-laki seperti para nabi, maqam wilayah terbuka bagi siapa saja yang mampu mencapai kesucian diri. Dengan demikian, tasawuf mengajarkan bahwa maqam kewalian tidak dibatasi oleh gender, melainkan ditentukan oleh kualitas spiritual Dalam tradisi tasawuf, perempuan memiliki kedudukan yang istimewa dan dipandang sebagai manifestasi keindahan dan kelembutan Ilahi. Ibn Arabi menegaskan bahwa menyaksikan Tuhan melalui diri perempuan adalah bentuk penyaksian paling sempurna, karena perempuan mencerminkan dua aspek utama: mempengaruhi dan Dalam pandangannya, perempuan adalah gabungan dari kedua sifat ini, sebagaimana terlihat dalam proses penciptaan manusia, di mana perempuan menerima nuthfah dari laki-laki dan pada saat yang sama memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan Maulana Rumi Matsnawi mengungkapkan bahwa meskipun secara lahiriah laki-laki tampak mendominasi Jabir, 44. Jabir, 52. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 perempuan, secara batiniah perempuan justru lebih mendominasi laki-laki karena kekuatan rasa dan kelembutan yang dimilikinya dapat menguasai akal laki-laki. Dalam filsafat tasawuf, perempuan sering kali dijadikan simbol untuk menggambarkan keseimbangan antara sifat jalaliyah . dan jamaliyah . Tuhan. Misalnya, rambut panjang yang menutupi wajah melambangkan aspek jalaliyah, sementara wajah yang tersingkap mencerminkan jamaliyah. Bahkan dalam perspektif sufistik, pada diri perempuan terdapat keseimbangan antara jalal dan jamal, sementara laki-laki lebih dominan dalam jalal. Oleh karena itu, seorang laki-laki membutuhkan unsur jamal dalam dirinya agar dapat mencapai kesempurnaan spiritual dan meraih puncak perjalanan menuju Tuhan. Namun, dalam ilmu irfan, istilah "perempuan" tidak selalu bersifat literal, tetapi sering kali digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan hakikat Ilahi. Hal ini menegaskan bahwa perempuan adalah cerminan dari emanasi cinta dan kesempurnaan Tuhan. Rasulullah saw. dalam sabdanya menyatakan. AuAda tiga hal yang aku cintai dari dunia kalian: perempuan, parfum, dan Ay Dalam konteks sufistik, perempuan yang dimaksud dalam hadis ini bukan sekadar perempuan dalam makna fisik, melainkan dimensi jamaliyah atau keindahan. Sebagai seorang laki-laki. Rasulullah saw. memiliki dominasi sifat jalaliyah, namun untuk mencapai Tuhan dengan sempurna, seseorang harus menyatukan dua nama-Nya: jalal dan jamal. Melalui keseimbangan ini, seorang hamba dapat berjalan menuju Tuhan dengan sempurna, mencapai maqam insan kamil, dan menempuh perjalanan ruhaniah hingga ke singgasana Ilahi. 24 Berikut perjalanan ruhaniah manusia sekaligus maqam perempuan menurut Nur Jabir: Jabir, 3. Jabir, 82Ae83. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Gambar 4. Perjalanan Ruhaniah Manusia menurut Nur Jabir Berdasarkan konsep perjalanan ruhaniah dalam pemikiran Nur Jabir di atas, dapat dipahami bahwa tasawuf menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kedudukan yang setara dalam pencapaian spiritual, tanpa membedakan mereka berdasarkan gender, melainkan berdasarkan kualitas ruhani masing-masing individu. Perjalanan menuju Tuhan dalam tasawuf terdiri dari tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh setiap manusia untuk mencapai maqam tertinggi, yaitu maqam khalifah, yang tidak hanya terbatas pada dunia materi, tetapi juga mencakup alam ruh. Konsep ini diperkuat dengan contoh Sayyidah Maryam, yang dalam Al-QurAoan digambarkan sebagai perempuan yang mencapai maqam kewalian karena kesucian jiwanya. Dalam filsafat tasawuf, perempuan juga dijadikan simbol keseimbangan antara sifat jalaliyah dan jamaliyah . , yang menunjukkan bahwa pencapaian spiritual Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 tidak hanya bergantung pada kekuatan akal, tetapi juga pada kelembutan dan keindahan Ibn Arabi dan Maulana Rumi menegaskan bahwa perempuan, dengan dimensi emosional dan spiritualnya, memiliki pengaruh yang besar dalam perjalanan ruhani Oleh karena itu, dalam konteks sufistik, perempuan bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga merupakan manifestasi dari emanasi cinta dan kesempurnaan Ilahi. Dengan demikian, konsep ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju kesempurnaan spiritual membutuhkan keseimbangan antara keagungan dan keindahan, akal dan rasa, serta kesadaran dan ketundukan kepada Tuhan. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perempuan dalam perspektif tasawuf, sebagaimana diuraikan oleh Muhammad Nur Jabir, memiliki kedudukan yang sangat mulia dan signifikan baik secara spiritual maupun kosmologis. Nur Jabir menyoroti tiga aspek utama tentang perempuan, yaitu manifestasi sifat Jamal . dan Jalal . , dua relasi dalam diri perempuan yang mencakup hakikat penciptaannya, serta maqam spiritual perempuan. Perempuan dipandang sebagai cerminan dominan sifat jamaliyah . Tuhan, sementara laki-laki mencerminkan sifat jalaliyah . Meski demikian, kedua dimensi ini saling melengkapi untuk menciptakan keseimbangan spiritual. Dalam hakikat penciptaannya, perempuan dan laki-laki dianggap setara secara spiritual karena berasal dari roh yang sama, sementara perbedaan dalam syariat lebih terkait dengan aspek fisik. Selain itu, perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk mencapai maqam spiritual tertinggi, seperti maqam kewalian . nsan kami. dan maqam khalifah, sebagaimana dibuktikan oleh figur perempuan seperti Sayyidah Maryam. Tasawuf memandang perempuan sebagai simbol keindahan dan kelembutan Ilahi yang mencerminkan keseimbangan antara sifat keagungan dan keindahan Tuhan. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 DAFTAR PUSTAKA