TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Penurunan Perilaku Merokok Sebagai Pengendali Tekanan Darah Bagi Masyarakat Supardi1*. Endang Sawitri2. Desi Febriati3. Marwanti4. Mawardi5. Romadhani Tri Purnomo6 1,2,3,4,5,6D3 Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan Dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Klaten. Email: supardi@umkla. id1*, sawitri@umkla. id2, marwanti@umkla. id4, mawardi@umkla. roma@umkla. Abstract The habit of smoking is very detrimental to health, as it can trigger various diseases such as cancer, heart attack, impotence, pregnancy and fetal disorders. If the smoking habit continues for a long period of time it can cause death. To analyze the relationship between smoking habits and blood pressure. This type of research is Analytical observational with Cross Sectional design, data collection is done by visiting the respondent's house one by one. 88 men were willing to be respondentsRespondents who had mild smoking behavior with normal blood pressure were 5 respondents, respondents who had mild smoking behavior with prehypertension blood pressure were 5 respondents, respondents who had moderate smoking behavior with normal blood pressure were 28 respondents, respondents who had moderate smoking behavior with prehypertension blood pressure were 24 respondents, respondents who had moderate smoking behavior with Stage 1 hypertension blood pressure were 5 respondents, respondents who had heavy smoking behavior with normal blood pressure were 13 respondents, respondents who had heavy smoking behavior with prehypertension blood pressure were 8 respondents. Based on the results of the bevariate analysis, there is an insignificant relationship between smoking habits and blood pressure in RW 01 Juwiran Village. Juwiring District. Klaten Regency, which is indicated by a coefficient value of -0. 094 with a p value of 0. 386 (P>0. Keyword: Behavior. Smoking. Blood Pressure Abstrak Kebiasaan merokok sangat merugikan, dimana dari aspek kesehatan kebiasaan merokok dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Apabila kebiasaan merokok terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama maka akan dapat menyebabkan Untuk menganalisa hubungan kebiasaan merokok dengan tekanan darah. Jenis penelitian ini adalah observasional Analitik dengan desain Cross Sectional, pengumpulan data dilakukan dengan cara mendatangi rumah responden satu persatu. sebanyak 88 orang laki laki bersedia untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini. Responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah normal sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah normal sebanyak 28 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah prehipertensi sebanyak 24 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah Hipertensi Stage 1 sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah normal sebanyak 13 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 8 responden. Hasil analisis bevariat Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara kebiasaan merokok dengan tekanan darah di RW 01 Desa Juwiran Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten, yang ditunjukkan dengan nilai koefisien -0. 094 dengan p value sebesar 0. (P>0. Kata Kunci: Perilaku. Merokok. Tekanan Darah Pendahuluan Merokok merupakan kebiasaan buruk yang sangat mempengaruhi kesehatan, karena selain memberi efek buruk kepada perokok itu sendiri, juga akan memberi efek negatif bagi orangorang di sekitar perokok yang menghirup asap rokok yang mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Lebih mencengangkan usia perokok remaja terus meningkat dengan usia yang sangat belia. Sebanyak 20% mulai merokok saat duduk di kelas 6 SD, 60% saat SMP kelas 1 dan masing-masing 10% saat berada di kelas 2 dan 3. Semua itu berawal dari coba- coba sampai akhirnya ketagihan . Asap rokok yang dihisap itu mengandung 4000 jenis bahan kimia dengan berbagai jenis daya kerja terhadap tubuh. Beberapa bahan kimia yang terdapat dalam rokok mampu memberikan TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 efek mengganggu kesehatan, antara lain karbonmonoksida, nikotin, tar dan berbagai logam berat Karbonmonoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah dan membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. Nikotin adalah obat perangsang . timulus dru. yang bisa memberikan rangsangan, ketagihan, perasaan senang sekaligus menenangkan. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru . Merokok berhubungan erat dengan hipertensi karena di dalam rokok banyak mengandung zat-zat kimia beracun sehingga mengakibatkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Salah satu zat beracun tersebut yaitu nikotin, ketika nikotin memasuki kelenjar adrenal, tubuh akan merasakan sentakan energi yang memicu pengeluaran adrenalin sehingga tekanan darah dan detak jantung meningkat . Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah seseorang dapat lebih atau kurang dari batasan normal. Jika melebihi nilai normal, orang tersebut menderita tekanan darah tinggi/hipertensi. Sebaliknya, jika kurang dari nilai normal, orang tersebut menderita tekanan darah rendah/hipotensi . Terdapat dua macam kelainan tekanan darah darah, antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah. Hipertensi telah menjadi penyakit yang menjadi perhatian di banyak Negara di dunia, karena hipertensi seringkali menjadi penyakit tidak menular nomor satu di banyak negara . Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi. Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di dalam tubuh. Jika sirkulasi darah menjadi tidak memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada sistem transportasi oksigen, karbondioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya. Di lain pihak fungsi organ-organ tubuh akan mengalami gangguan seperti gangguan pada proses pembentukan air seni di dalam ginjal ataupun pembentukan cairan cerebrospinalis dan lainnya . Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti Di Desa Juwiran khususnya RW 1 mayoritas adalah perokok, baik itu perokok elektrik atau yang biasanya disebut dengan Vape maupun perokok biasa. Disetiap rumah warga yang ada di RW 01 ada 1-2 orang perokok didalamnya, hal tersebut dapat menurunkan kualitas Kesehatan bagi dirinya sendiri dan orang Penelitian lain juga yang dilakukan di Rumkit Ramelan Surabaya Tahun 2015 menyebutkan bahwa perilaku merokok pada TNI memiliki nilai OR yang bermakna terhadap hipertensi (Oktavia dan Martini, 2. Merokok merupakan masalah global yang sangat berbahaya bagi kesehatan, secara global di tahun 2015 sebanyak 942 juta laki-laki dan 175 juta perempuan usia 15 tahun keatas mengkonsumsi rokok. Tiga negara dengan konsumsi rokok paling besar adalah China. India dan Indonesia dan jumlah korban yang meninggal karena penyakit akibat tembakau di Indonesia lebih dari 225. 700 orang. Masalah konsumsi rokok di Indonesia sangat memperihatinkan dimana terdapat 469. 000 orang anak usia 10- 14 tahun dan 53. 000 orang usia 15 tahun ke atas yang mengkonsumsi tembakau setiap hari di Indonesia di tahun 2015 . Metode Metode penelitian dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Observasional Analitik dengan rencana penelitian cross sectional study. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah laki-laki merokok dan tidak merokok di RW 01 Desa Juwiran. Kecamatan Juwiring. Kabupaten Klaten. Populasi 114 warga, sampel 88 Dalam penelitian ini menggunakan dua variable. Lokasi penelitian RW 01 Desa Juwiran Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten pada tanggal 27 Juni Ae 03 Juli 2023. Analisa data menggunakan Analisa univariat dan Bevariat. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa responden dengan usia 17-25 tahun sebanyak 45 . 1%) dan responden dengan rentan usia 26-35 tahun sebanyak 43 . 9%). Responden dengan Pendidikan terakhir SMP sebanyak 19 orang . 6%). SMA sebanyak 69 orang . 7%), Dan Diploma/Sarjana sebanyak 7 orang . 0%). Responden dengan penghasilan <1. sebanyak 49 orang . 7%), dan responden dengan jumlah penghasilan >1. 000 sebanyak 39 orang . 3%). Responden yang memiliki Riwayat hipertensi di keluarganya sebanyak 60 orang . 2%), dan responden yang keluarganya tidak memiliki Riwayat hipertensi sebanyak 28 orang . 8%). Responden dengan lama bekerja <40 Jam dalam satu minggu ada 47 orang . 4%) dan responden dengan lama bekerja >40 jam dalam satu minggu ada 41 orang . 6%). Tabel 1. Data Karakteristik Responden Data Karakteristik Responden Frekuensi Usia 17-25 Tahun 26-35 Tahun Pendidikan Terakhir SMP SMA Diploma/Sarjana Jumlah Pendapatan <1. >1. Riwayat Hipertensi Keluarga Ada Tidak Ada Lama kerja <40 Jam/Minggu >40 Jam/Minggu Total 100,00 Hasil data penelitian di atas menunjukan bahwa dari 156 sampel yang di ambil terdapat siklus menstruasi teratur sebanyak 118 siswi . ,6%) dengan agama paling terbanyak yaitu islam sebanyak 141 siswi . ,4%). Tingkat pendidikan SMP sebanyak 73 siswi . ,8%) dan SMA sebanyak 83 siswi . ,2%). Tabel 2. Data Variabel penelitian Bebas Kebiasaan Merokok Frekuensi Rendah Sedang Tinggi Total Berdasarkan Tabel 2 diatas diketahui bahwa responden dengan Perilaku merokok ringan sebanyak 10 orang. 4%), responden dengan Perilaku merokok sedang sebanyak 57 orang . 8%), dan responden dengan kebiasaan merokok berat sebanyak 21 orang . 9%). Tabel 3. Data Variabel Terikat Tekanan Darah Frekuensi Normal Prehipertensi Hipertensi Stage 1 Total TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Berdasarkan Table 3 diatas dapat diketahui bahwa responden dengan tekanan darah normal sebanyak 46 orang . 3%). Prehipertensi sebanyak 37 orang . 0%). Dan responden dengan hipertensi sebanyak 5 orang . 7%). Tabel 4. Analisa Bevariat Tekanan Darah Total P Value Perilaku Merokok Hipertensi Hipertensi Normal Prehipertensi Stage 1 Stage 2 Ringan Sedang Berat Total : Berdasarkan uji data pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah normal sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah normal sebanyak 28 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah prehipertensi sebanyak 24 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah Hipertensi Stage 1 sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah normal sebanyak 13 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 8 responden. Setelah melalui analisa data dengan menggunakan Uji Korelasi Spearman diketahui bahwa nilai Signifikansinya adalah sebesar 0. 363, dan koefisien korelasi sebesar -0. 2 Pembahasan Karakteristik Responden. Berdasarkan deskripsi data sampel penelitian, peneliti mendeskripsikan responden menurut karakteristik usia. Pendidikan terakhir, penghasilan. Riwayat hipertensi pada keluarga, serta lama bekerja. Pada peneitian ini, jenis kelamin laki laki merupakan kriteria inklusi yang digunakan sebagai sampel penelitian sehingga secara keseluruhan dari sampel adalah berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan aspek perkembangan psikologisnya, karakteristik usia sampel pada penelitian ini digolongkan menjadi 2 kelompok usia yaitu usia remaja akhir . -25 Tahu. dan usia dewasa awal . sia 26-35 Tahu. menurut Departemen Kesehatan, usia 17-25 Tahun merupakan Masa peralihan dari remaja menjadi dewasa di ikuti oleh perkembangan hormon pada seseorang yang mengubahnya menjadi berbeda secara fisik yang lebih matang, pemikiran yang terbuka dan Sedangkan usia 26-35 Tahun disebut dewasa awal karena Di umur tersebut, anak sudah harus berkembang secara mandiri untuk mencari jati diri yang akan menentukan masa Umur di posisi ini diharapkan sudah dewasa dalam menghadapi satu permasalahan. Masalah dalam hal ini adalah masalah Kesehatan salah satunya adalah perilaku merokok. Merokok digunakan sebagai alat psikologis seperti meningkatkan kepercayaan diri dalam penampilan atau kenyamanan psikologis . Responden pada penelitian ini berumur 17-35 tahun dengan jumlah presentase usia 17-25 tahun sebanyak 45 . 1%) dan responden dengan rentan usia 26-35 tahun sebanyak 43 . 9%). Tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku seseorang dalam mengonsumsi rokok. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semak in rendah konsumsi terhadap rokok. Hal tersebut dikarenakan lebih terbentuknya kesadaran terhadap bahaya merokok. Hal ini serupa dengan hasil survei Ttembakau global yang menyatakan bahwa prevalensi merokok banyak pada orang yang memiliki pendidikan rendah . Hal ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan di China, bahwa individu yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi ini memiliki kemungkinan yang kecil terhadap perilaku merokok (Wang et al. , 2. Selain itu, rendahnya pendidikan lebih cenderung tidak memiliki upaya dalam berhenti merokok, bahkan dapat meningkatkan kecanduannya dalam merokok . TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Namun, tingkat pendidikan bukan satu- satunya faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada seseorang. Kegiatan bekerja sambil merokok sudah menjadi budaya di Indonesia, hal ini sesuai dengan laporan Riskesdas 2018 dan survei tembakau global yang menyatakan bahwa perokok lebih banyak pada orang yang bekerja dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja. Penelitian di China pun mendukung hasil ini, yang menemukan bahwa pekerjaan memiliki pengaruh terhadap peningkatan perilaku merokok . Berdasarkan table 4. 3 diketahui bahwa responden dengan penghasilan <1. 000 sebanyak 49 orang . 7%), dan responden dengan jumlah penghasilan >1. 000 sebanyak 39 orang . 3%). Hasil penelitian di China Utara, yang menemukan bahwa semakin tingginya tingkat merokok, semakin rendah social ekonominya (Wang et al. , 2. Menurut penelitian di Amerika Serikat, dikatakan bahwa konsumsi rokok yang tinggi menyebabkan pengeluaran yang tinggi pula, tekanan keuangan, dan kekurangan biaya untuk kebutuhan pangan rumah tangga (Siahpush et al. , 2. Menurut WHO, hal ini terjadi karena adanya pengalihan kegunaan uang yang seharusnya digunakan dalam memenuhi kebutuhan primer menjadi untuk pembelian rokok. Diketahui bahwa responden yang ada Riwayat hipertensi di keluarganya sebanyak 60 orang . 2%), dan responden yang keluarganya tidak memiliki Riwayat hipertensi sebanyak 28 orang . 8%). Riwayat keluarga dan faktor genetic yang berasal dari keluarga dengan riwayat hipertensi, mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita hipertensi dibanding dengan keluarga tanpa riwayat hipertensi. Jika kedua orangtua hipertensi, maka angka kejadian hipertensi pada keturunannya meningkat 4 sampai 15 kali dibanding bila kedua orangtua adalah Bila kedua orangtua menderita hipertensi esensial, maka 44,8% anaknya akan menderita hipertensi. Jika hanya salah satu orangtua hipertensi maka 12,8% keturunannya akan mengalami hipertensi. Ekspresi dari hipertensi pada seseorang sepertinya merupakan hasil dari perubahan-perubahan pada genetik. Telah terbukti bahwa bukan hanya tekanan darah, tapi juga mekanisme pengaturan sistem reninangiotensin-aldosteron, sistem saraf simpatis, semuanya dipengaruhi secara genetik. Teknik biomolekular modern telah memungkinkan pemeriksaan gen yang bertanggungjawab terhadap terjadinya hipertensi pada seseorang . Berdasarkan table 4. 4 diketahui bahwa responden dengan lama bekerja <40 Jam dalam satu minggu ada 47 orang . 4%) dan responden dengan lama bekerja >40 jam dalam satu minggu ada 41 orang . 6%). Jam kerja panjang buruk bagi kesehatan kita. Sebuah penelitian di Prancis baru-baru ini menemukan bahwa bekerja terus-menerus selama sepuluh hari atau lebih dapat meningkatkan risiko terkena stroke. Penelitian lain juga menemukan bahwa pekerja yang memiliki jam kerja panjang cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk dan kualitas tidur yang lebih rendah. Orang dengan jam kerja yang panjang juga cenderung punya kebiasaan merokok, minum alkohol berlebihan, dan penambahan berat badan. Hubungan Perilaku Merokok Dengan Tekanan Darah. Berdasarkan uji data pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah normal sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok ringan dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah normal sebanyak 28 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah prehipertensi sebanyak 24 responden, responden yang memiliki perilaku merokok sedang dengan tekanan darah Hipertensi Stage 1 sebanyak 5 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah normal sebanyak 13 responden, responden yang memiliki perilaku merokok berat dengan tekanan darah Prehipertensi sebanyak 8 responden. Setelah melalui analisa data dengan menggunakan Uji Korelasi spearman diketahui bahwa Signifikansinya adalah sebesar 0. 363, karena signifikansi >0,05 maka disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Perilaku merokok dengan tekanan darah di RW 01 Desa Juwiran. Uji korelasi Charles Spearman atau SpearmanAos Rank Correlation Coefficient atau SpearmanAos rho adalah uji hipotesis untuk mengetahui hubungan 2 variabel. Uji Koefisien Korelasi SpearmanAos Rank adalah uji statistik untuk menguji 2 variabel yang berdata ordinal atau salah satu variabel berdata ordinal dan lainnya nominal maupun rasio. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Nilai koefisien korelasi Hubungan Perilaku Merokok Dengan Tekanan Darah sebesar -0. Sebagaimana dasar pengambilan keputusan tersebut maka terdapat hubungan dengan tingkat kekuatan korelasi lemah yang tidak signifikan antara Perilaku Merokok Dengan Tekanan Darah, selanjutnya dari hasil nilai koefisien korelasi maka nilai ini menandakan hubungan yang sangat lemah antara Perilaku merokok dengan tekanan darah di RW 01 Desa Juwiran karena nilainya diantara nilai 0. 20 yang berarti nilai korelasinya sangat rendah. Yang dimaksud dari nilai korelasi yang bertanda negatif adalah semakin tinggi Perilaku merokok maka akan berpengatuh pada tekanan darah begitu juga sebaliknya. Namun hubungan ini tidak kuat dalam saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya karena korelasi yang lemah dan tidak signifikan secara statistic karena memiliki nilai signifikasi 0,363 atau >0. Sebagaimana dasar pengambilan keputusan tersebut maka terdapat hubungan dengan tingkat kekuatan korelasi lemah yang signifikan antara Perilaku Merokok Dengan Tekanan Darah, selanjutnya dari hasil nilai koefisien korelasi sebesar -0. 098, maka nilai ini menandakan hubungan yang sangat rendah antara Perilaku merokok dengan tekanan darah di RW 01 Desa Juwiran. Untuk jenis rokok bisa berpengaruh karena kandungan yang terdapat di dalam rokok filter dan kretek yang berupa nikotin dan tar mengandung zat adiktif bahkan zat beracun yang Orang merokok untuk nikotin tetapi penyebab kematian merokok karena tar. Ini disebabkan karena penumpukan zat berbahaya didalam darah dan dapat menyebabkan berbagai penyakit salah satunya kardiovaskuler serta komplikasi lainnya. Karena zat nikotin dan tar yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan dinding pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi. Hasil penelian ini sejalan dengan penelian yang dilakukan oleh Yeni Jati. Berdasarkan hasil analisis data pada perilaku merokok dengan kepercayaan diri dapat di ketahui bahwa tidak ada hubungan antara perilaku merokok dengan kepercayaan diri pada remaja di SMAN Kedunggalar Ngawi . Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari . yang menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0,435. Berdasarkan peneliti didapatkan bahwa terdapat mahasiswa yang tidak merokok tetapi mengalami hipertensi sebanyak 3 orang . ,6%), hal ini dikarenakan bukan hanya merokok saja yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi namun terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain usia, jenis kelamin, konsumsi alkohol, konsumsi makanan asin dan berlemak. Penelitian yang dilakukan oleh . yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan tekanan darah pada pasien yang berobat di poli jantung RSU Haji Surabaya dengan nilai p = 0. Menurut penelian yang dilakukan oleh (Hikmah, 2. Terhadap 23 pria dewasa 20-60 tahun, yang mendistribusikan lama merokok 20 tahun, hasil analisis memperlihatkan, tekanan darah mulai miningkat pada perokok setelah 10 tahun. Atau dampak buruk terhadap kesehatan khususnya hipertensi, mulai terlihat setelah 10 tahun. Senada dengan penelitain yang dilakukan terhadap 135 subjek dewasa usia 35-55 tahun yang dibagi ke dalam periode merokok 10 tahun. dimana mayoritas dari subjek yang merokok lebih dari 10 tahun memiliki tekanan darah nggi, sehingga lamanya seseorang merokok memiliki kontribusi terhadap kejadian hipertensi, . Kesimpulan Sebagian besar responden di RW 01 Desa Juwiran Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten perilaku merokok sedang 64. Sebagian besar Kadar Tekanan darah pada responden di RW 01 Desa Juwiran Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten adalah normal (<120/<. dengan jumlah sebanyak 46 responden . 3%). Hubungan dengan tingkat kekuatan korelasi lemah yang tidak signifikan antara Kebiasaan Merokok Dengan Tekanan Darah di RW 01 Desa Juwiran Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten, yang ditunjukkan dengan nilai koefisien -0. 094 dengan p value 363 (P>0. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Ucapan Terimakasih