ARTIKEL Optimalisasi Posyandu Remaja Berbasis Sekolah Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Ema Arum Rukmasari1. Furkon Nurhakim2. Kosim3 1,2,3 Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia Email: arum@unpad. Abstrak Stunting masih menjadi persoalan kesehatan yang cukup serius di masyarakat. Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini terutama pada masa remaja. Salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan kegiatan Posyandu remaja di sekolah. Posyandu remaja berbasis sekolah merupakan tempat yang strategis untuk melakukan pencegahan stunting, melalui kegiatan peer education tentang pentingnya kesehatan dan gizi seimbang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di wilayah Desa Rancaekek Wetan Kabupaten Bandung, dengan membentuk dan memberdayakan kader kesehatan remaja di sekolah. Terbentuk sebanyak 25 kader kesehatan remaja dari siswa SMP Negeri 01 Rancaekek dan SMA 05 Muhammadiyah Rancaekek yang berdomisili di wilayah setempat. Metode yang diterapkan dalam pembentukan kader kesehatan remaja adalah edukasi gizi seimbang dan pencegahan stunting, pelatihan pemeriksaan kesehatan dasar dan pendampingan pelayanan Posyandu. Berdasarkan hasil kegiatan, adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran remaja Pentingnya menjaga status gizi dan kesehatan sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini. Keterlibatan kader kesehatan remaja sebagai peer educator dan agen perubahan diharapkan dapat memunculkan wadah positif dan preventif dengan fungsi Posyandu sebagai wadah promosi dan kesehatan berbasis Metode tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi pada keberlangsungan upaya pencegahan Stunting berbasis sekolah dengan mendukung Posyandu remaja. Kata Kunci: Kader Kesehatan Remaja. Pengabdian Masyarakat. Posyandu Remaja. Sekolah. Stunting. Abstract Stunting remains a serious public health problem in the community. Stunting prevention should be initiated early, particularly during adolescence. One effective approach is optimizing school-based Adolescent Integrated Health Services (Posyandu Remaj. School-based Posyandu Remaja provide a strategic setting for stunting prevention through peer education activities that emphasize the importance of health and balanced nutrition. This community service activity was conducted in Rancaekek Wetan Village. Bandung Regency, by establishing and empowering adolescent health cadres in schools. A total of 25 adolescent health cadres were formed from students of SMP Negeri 01 Rancaekek and SMA Muhammadiyah 05 Rancaekek who reside in the local area. The methods applied in forming adolescent health cadres included education on balanced nutrition and stunting prevention, training in basic health examinations, and mentoring in Posyandu service activities. The results showed an increase in adolescentsAo knowledge and awareness of the importance of maintaining nutritional status and health as early efforts to prevent stunting. The involvement of adolescent health cadres as peer educators and agents of change is expected to create a positive and preventive platform by strengthening the function of school-based Posyandu Remaja as a health promotion and prevention facility. This approach is expected to contribute to the sustainability of school-based stunting prevention efforts through the strengthening of Posyandu Remaja. Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL Keywords: Adolescent Health Cadres. Community Service. Adolescent Integrated Health Services (Posyandu Remaj. School-Based. Stunting. PENDAHULUAN Stunting masih merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang dapat berdampak jangka panjang terhadap mutu sumber daya manusia. Kondisi stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, namun juga berkaitan dengan gangguan perkembangan kognitif, rendahnya produktivitas di masa dewasa, serta meningkatnya risiko penyakit tidak Stunting dapat terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan yang berkaitan dengan berbagai faktor, diantaranya status sosial ekonomi, asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, kekurangan mikronutrien, dan lingkungan (WHO, 2. Upaya pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini melalui pendekatan yang komprehensif semenjak awal siklus kehidupan . ife cycle approac. , dimulai pada masa remaja sebagai periode pra-konsepsi yang krusial (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, 2. , dan pelaksanaan percepatan penurunan stunting salah satu sasarannya adalah pada kelompok remaja (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2. Remaja sebagai agen perubahan dan calon orangtua memegang peran yang sangat penting dalam pencegahan stunting, karena masa remaja merupakan masa persiapan menuju kehamilan dan juga masa dimana mereka akan berperan sebagai orang tua di masa depan. Partisipasi remaja bisa menjadi salah satu faktor penting dalam memutus siklus stunting. Status gizi remaja, kesehatan reproduksi, serta perilaku kesehatan yang terbentuk pada fase ini akan sangat menentukan kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak di kemudian hari. hal ini berkaitkan dengan status gizi, kesehatan reproduksi, serta perilaku kesehatan yang bisa menentukan kualitas kehamilan dan tumbuh kembang generasi di kemudian hari (Mokoagow et al. , 2. (Ulya Lutfa Zulfiana et al. , 2. Berbagai permasalahan gizi pada remaja, seperti anemia, status gizi kurang maupun lebih, rendahnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan kesehatan reproduksi, masih banyak ditemukan di masyarakat (UNICEF, 2. Kondisi tersebut berpeluang meningkatkan risiko terjadinya stunting pada anak yang dilahirkan di masa depan, sehingga intervensi kesehatan pada remaja menjadi sangat penting dalam memutus siklus stunting antargenerasi (Mokoagow et al. , 2024. Masturoh et al. , 2024. Ulya Lutfa Zulfiana, 2. Remaja perlu dipersiapkan melalui asupan gizi seimbang dan perilaku hidup sehat karena status kesehatan remaja menentukan kualitas kehamilan dan pertumbuhan anak di kemudian hari. (Harmonis & Nadhiroh, 2. Tindakan untuk meningkatkan wawasan pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi telah dilaksanakan pada kaum remaja, yaitu dengan terbentuknya kelompok masyarakat Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Pendekatan upaya promotif-preventif yang terpadu antar siklus kehidupan, dimulai sejak masa remaja sampai masa nifas, dilakukan melalui pendampingan individu, dan dipadukan dengan pendampingan kelompok melalui pembentukan Posyandu Remaja dan Balita, pelatihan kader lintas usia, serta pemanfaatan buku Pemantauan Kesehatan Remaja (PKR). Program Posyandu Remaja memperlihatkan perubahan yang berpengaruh terhadap tingkah laku dan kesadaran remaja. Peran serta remaja dalam kegiatan Posyandu meningkat dari 64% . menjadi 90%, dan angka pernikahan dini menurun hingga nol kasus pada tahun 2024. Pengetahuan serta perilaku sehat meningkat pada semua kelompok sasaran, dengan rata-rata kenaikan lebih dari 30 poin persentase. (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan, 2. Posyandu Remaja sebagai salah satu tindakan promotif dan preventif ditujukan untuk meningkatkan kondisi kesehatan remaja. Program kerja Posyandu Remaja mencakup Pendidikan kesehatan, pengawasan status gizi, pemberian konseling, serta peningkatan kapasitas kader remaja selaku agen perubahan di wilayah sekitarnya (Kementerian Kesehatan Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL Republik Indonesia, 2. Walaupun begitu, implementasi kegiatan Posyandu Remaja di pelbagai wilayah masih mengalami banyak rintangan, seperti peran serta remaja yang masih rendah, kemampuan kader yang masih kurang, serta integrasi program Posyandu Remaja dengan upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan belum optimal (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, 2. Optimalisasi Posyandu Remaja adalah langkah strategis guna memperkuat pencegahan stunting sejak dini. Peningkatan wawasan pengetahuan, kesadaran, dan juga peran serta remaja diharapkan dapat memacu perubahan perilaku kesehatan yang lebih positif, terutama berkaitan dengan masalah gizi serta kesehatan reproduksi(UNICEF, 2. Selain itu, memperkuat fungsi kader kesehatan remaja sebagai peer educator sangat efektif dalam meningkatkan penerimaan serta peran serta remaja dalam pelaksanaan program kesehatan Dalam kerangka pencegahan stunting pada remaja, sekolah merupakan lingkungan yang strategis karena tempat berkelompoknya remaja secara terorganisir dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, optimalisasi Posyandu Remaja hendaklah ditujukan pada pendekatan berbasis sekolah dengan sasaran utamanya adalah anak usia sekolah menengah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di wilayah Rancaekek Wetan. Kabupaten Bandung, dengan melibatkan siswa sekolah menengah yang berdomisili di wilayah tersebut sebagai kader kesehatan remaja. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat peran Posyandu Remaja sebagai wadah promotive dan preventif yang terintegrasi dengan lingkungan sekolah, dan berkontribusi dalam membantu program percepatan penurunan stunting serta meningkatkan layanan kesehatan remaja secara berkelanjutan di tingkat komunitas remaja. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Rancaekek Wetan. Kecamatan Rancaekek. Kabupaten Bandung, dengan sasaran utamanya remaja usia 10Ae18 tahun yang bersekolah di SMP Negri 01 Rancaekek atau di SMA 05 Muhammadiyah Rancaekek dan berdomisili di wilayah kerja Desa Rancaekek Wetan. Kegiatan dirancang menggunakan strategi promotif dan preventif berbasis pemberdayaan remaja, dengan menitikberatkan pada optimalisasi peran Posyandu Remaja berbasis sekolah sebagai sarana edukasi dan pembinaan kesehatan remaja dalam upaya pencegahan stunting sejak dini. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melibatkan remaja sebagai kader Posyandu Remaja, serta perangkat desa dan tenaga kesehatan di wilayah Puskesmas Rancaekek. Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, tetapi juga pada pembentukan kader kesehatan remaja sebagai kader Posyandu Remaja. Kader kesehatan remaja yang dibentuk diberikan pembekalan untuk berperan aktif dalam pelaksanaan edukasi . eer educatio. , pendampingan teman sebaya, serta penguatan fungsi Posyandu Remaja dalam upaya pencegahan stunting. Gambar 1. Foto Bersama Perangkat Desa Rancaekek Gambar 2. Foto Bersama Kepala Puskesmas Rancaekek dan Tim Kesehatan Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini terdiri dari tiga tahapan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi. Tahap persiapan dimulai dengan melakukan koordinasi terhadap Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL pihak Kecamatan Rancaekek, desa Rancaekek Wetan. SMP Negeri 01 Rancaekek dan SMA 05 Muhammadiyah Rancaekek serta Puskesmas Rancaekek, identifikasi persoalan kesehatan remaja terkait stunting, dan penyusunan materi edukasi yang mencakup gizi remaja, anemia, kesehatan reproduksi, dan peran remaja dalam pencegahan stunting. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan, diskusi interaktif, serta penguatan kapasitas kader Posyandu Remaja dalam memberikan pendampingan dan edukasi sebaya . eer Selain itu, dilakukan pemantauan sederhana status kesehatan remaja sebagai bentuk penguatan fungsi Posyandu Remaja. Pada tahap evaluasi penilaian dilakukan guna melihat keefektifan kegiatan berdasarkan pengukuran peningkatan pengetahuan remaja menggunakan pre-test dan post-test, observasi keaktifan peserta selama kegiatan, serta evaluasi peran kader dalam mendukung program Posyandu Remaja secara berkesinambungan. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif untuk menampilkan hasil kegiatan serta dampaknya terhadap peningkatan fungsi Posyandu Remaja sebagai upaya dalam mencegah stunting di tingkat masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2025, dengan menghasilkan beberapa kegiatan, diantaranya: Pembentukan Kader Kesehatan Remaja sebagai Penguatan Posyandu Remaja Pembentukan kader kesehatan remaja sebagai kader Posyandu Remaja merupakan langkah strategis dalam optimalisasi peran Posyandu Remaja berbasis sekolah di Desa Rancaekek Wetan. Pada kegiatan ini, disusun dan ditetapkan kader kesehatan remaja sebanyak 25 orang sebagai kader Posyandu Remaja. Kader tersebut merupakan siswa SMP Negeri 01 Rancaekek dan siswa SMA Muhammadiyah Rancaekek. Kedua sekolah tersebut berada di wilayah Desa Rancaekek Wetan, dan seluruh siswa yang terlibat merupakan remaja yang berdomisili di wilayah tersebut. Pemilihan kader ini berdasarkan pada peran serta, keinginan serta kesiapan remaja untuk turut serta dalam melaksanakan program kegiatan Posyandu Remaja secara berkesinambungan. Pembentukan kader kesehatan remaja sebagai kader Posyandu Remaja menjadi langkah utama dalam kegiatan pengabdian ini, dengan tujuan memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis sekolah. Kader kesehatan remaja diposisikan sebagai pelaku perubahan yang berperan dalam edukasi kesehatan, memberikan pendampingan teman sebaya, serta meningkatkan keberlanjutan layanan kesehatan remaja di tingkat desa. Berdasarkan konsep dikatakan bahwa pembentukan kader kesehatan remaja sesuai dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berbasis komunitas dimana remaja dianggap sebagai pelaku perubahan dalam pencegahan Program pemberdayaan kader Posyandu Remaja yang menitikberatkan pada peran peer educator terbukti dapat meningkatkan kompetensi kader dalam memberikan edukasi serta mendukung pencegahan stunting secara dini, sehingga kader berperan sebagai agent of change di komunitas (Made Ayu A. B et al. , 2. Dengan adanya partisipasi aktif dari kader remaja. Posyandu Remaja memiliki kemampuan untuk berfungsi secara terus menerus dan memberikan kontribusi dalam memutus siklus stunting diantara generasi melalui peningkatan pengetahuan serta perilaku kesehatan remaja. Para kader kesehatan remaja yang sudah dibentuk tersebut kemudian mereka diberikan pembekalan tentang peran, fungsi serta tugas kader di masing-masing meja Posyandu, konsep dasar stunting, gizi remaja, anemia, serta kesehatan reproduksi sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Selain itu, para kader juga mendapatkan pelatihan yang intensif tentang pemeriksaan kesehatan dasar berupa pengukuran tinggi badan, penimbangan berat badan, pengukuran lingkar lengan atas, serta perhitungan indeks masa tubuh. serta pelatihan tentang aplikasi pendataan kesehatan remaja. Peningkatan kemampuan kader kesehatan remaja melalui Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL pelatihan dapat meningkatkan kapasitas kader dalam melaksanakan pengukuran antropometri serta pemantauan gizi sebagai upaya pencegahan stunting (Wuryandari et al. , 2. Gambar 3. Pembekalan materi Posyandu Remaja Gambar 4. Penjelasan dan Simulasi kegiatan Posyandu dengan sistem 5 meja Pelatihan yang diberikan dilakukan secara terstruktur dengan maksud untuk memperjelas peran dan meningkatkan kompetensi kader dalam melaksanakan kegiatan Posyandu Remaja secara mandiri dan terus menerus. Strategi untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan melalui pelatihan secara langsung dapat meningkatkan pemahaman kader mengenai deteksi dini pencegahan stunting serta mendorong keikutsertaan remaja dalam pelayanan kesehatan (Dariani et al. , 2. Pelatihan kader kesehatan remaja secara terstruktur yang mencakup pembelajaran megenai gizi, penggunaan alat ukur antropometri serta pendampingan dalam kegiatan posyandu, merupakan bagian penting dari strategi dari upaya meningkatkan kapasitas kader untuk menjalankan fungsi promotive dan preventif secara Pembentukan kader kesehatan remaja di sekolah memiliki dampak yang positif terhadap keikutsertaan remaja dalam aktivitas Posyandu Remaja. Kader kesehatan remaja bertindak sebagai peer educator yang mempermudah dalam memberikan penjelasan tentang kesehatan kepada teman sebaya, sehingga kegiatan edukasi berjalan lebih komunikatif dan mudah diterima. Pendekatan ini bisa meningkatkan keikutsertaan dan keaktifan remaja selama kegiatan berlangsung, serta memperkuat peran Posyandu Remaja sebagai forum edukasi dan pembinaan kesehatan remaja. Pendidikan teman sebaya . eer educatio. mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, serta perilaku remaja tentang fungsi gizi dalam pencegahan stunting, menunjukkan bahwa kader dapat menjadi peer educator yang efektif dalam komunitas remaja (Rasmaniar et al. , 2. Pembentukan serta pembekalan kader kesehatan remaja mengindikasikan bahwa Posyandu Remaja bisa dioptimalkan dengan cara melibatkan remaja melalui pendekatan pemberdayaan remaja berbasis sekolah. Program pemberdayaan kader Posyandu Remaja berbasis sekolah, yang menggunakan pendekatan kader teman sebaya, telah terbukti berhasil meningkatkan kemampuan remaja sebagai agen perubahan dan pendukung dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan temuan program pemberdayaan kader remaja yang sukses meningkatkan wawasan pengetahuan kader tentang cara mencegah stunting melalui pelatihan, bimbingan, serta penyuluhan kesehatan yang dilakukan secara terus menerus (Made Ayu A. B et al. , 2. Pembentukan kader kesehatan remaja sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat Posyandu Remaja berhasil meningkatkan kemampuan remaja sebagai peer educators. Hal ini sesuai dengan program pemberdayaan kader yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan serta kemampuan kader dalam memberikan pendidikani kesehatan tentang stunting (Made Ayu A. B et al. , 2. Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Remaja terhadap Pencegahan Stunting Pembentukan dan pelatihan kader kesehatan remaja yang telah dilakukan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pencegahan stunting. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi pre-test Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL dan post-test yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja terkait konsep stunting, faktor risiko, serta pentingnya status gizi dan kesehatan reproduksi selama masa remaja yang merupakan periode persiapan sebelum kehamilan. Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Kader Kesehatan Remaja Sebelum dan Sesudah Mendapatkan Edukasi Kesehatan Tentang Pencegahan Stunting Rata-Rata Nilai Materi Edukasi Pre Test Post Test Pengetahuan Posyandu remaja Pengetahuan tentang stunting Pengetahuan gizi remaja Kesehatan reproduksi remaja Setelah mendapatkan edukasi kesehatan terkait stunting dan pencegahannya, para remaja semakin memahami bagaimana kondisi kesehatan mereka saat ini bisa berpengaruh terhadap risiko terjadinya stunting di masa depan. Edukasi gizi seimbang dan kesehatan reproduksi dapat meningkatkan pengetahuan gizi seimbang dan kesehatan reproduksi (Emylisa et al. , 2. Peningkatan pengetahuan tersebut didukung oleh metode pembelajaran yang bersifat interaktif dan partisipatif, baik melalui penyampaian materi oleh tim pengabdi maupun melalui peran kader kesehatan remaja sebagai peer educator. Pendekatan edukasi teman sebaya membuat remaja lebih aktif bertanya dan berdiskusi, sehingga materi mengenai gizi seimbang, pencegahan anemia, serta kebersihan lingkungan mudah dipahami. Remaja sebagai educator bagi teman sebaya juga menunjukkan peningkatan pengetahuan terkait faktor risiko dan pencegahan stunting, sekaligus memotivasi remaja untuk menjadi peer educator. Keterlibatan kader remaja dalam proses edukasi juga memperkuat rasa kepemilikan remaja terhadap kegiatan Posyandu Remaja. Pendidikan kesehatan melalui peer group education merupakan intervensi untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang Pendekatan edukasi ini menggunakan pertemanan antar remaja dalam mennyampaikan informasi kesehatan, yang terbukti berhasil dalam mengubah pemahaman remaja (Mandar et al. , 2. Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga turut membantu mengubah cara pandang remaja terhadap pentingnya menjaga kesehatan diri serta lingkungan. Remaja kini lebih menyadari akan pentingnya menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan Posyandu Remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa optimalisasi Posyandu Remaja melalui edukasi terstruktur dan pemberdayaan kader remaja berpotensi menjadi strategi efektif dalam membangun perilaku kesehatan yang mendukung pencegahan stunting sejak dini. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu membantu menurunkan angka kejadian stunting karena mereka mampu menyampaikan informasi yang tepat mengenai stunting serta memiliki keterampilan dalam pengukuran yang benar dan akurat. Optimalisasi Fungsi Posyandu Remaja dalam Pencegahan Stunting Optimalisasi fungsi Posyandu Remaja dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan cara melibatkan kader kesehatan remaja secara aktif pada setiap tahapan pelayanan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Kader remaja yang telah dibentuk dan dilatih ditempatkan di setiap meja pelayanan Posyandu Remaja, sesuai dengan tugas dan peran mereka, sehingga proses pelayanan menjadi lebih terorganisir dan berjalan lebih efektif. Pada pelaksanaannya, kader kesehatan remaja terlibat dalam kegiatan mencatat serta mengumpulkan data kesehatan remaja, melakukan pengukuran antropometri seperti pengukuran tinggi badan, menimbang berat badan, dan menghitung Indeks Massa Tubuh, serta menyampaikan edukasi dasar tentang gizi, kebersihan diri, dan cara hidup sehat. Selain itu, para kader juga dilibatkan dalam memberikan penyuluhan mengenai stunting, termasuk Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL menjelaskan faktor-faktor risiko yang bias menyebabkan stunting serta upaya pencegahannya sejak usia remaja. Keterlibatan remaja dalam menjalankan layanan ini tidak hanya membuat Posyandu Remaja lebih efisien, namun juga memperkuat kapasitas remaja sebagai agen perubahan . gent of chang. di lingkungan sekitarnya. Optimalisasi Posyandu Remaja juga didukung dengan cara pendekatan edukatif yang terintegrasi, yaitu menghubungkan isu gizi, kesehatan reproduksi, kebersihan lingkungan, dan pengelolaan sampah sebagai faktor yang mendukung pencegahan stunting. Pendekatan ini membuat Posyandu Remaja tidak hanya menjadi tempat layanan kesehatan biasa, namun juga sebagai sarana untuk membina dan memberdayakan remaja dalam menciptakan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan. Peluncuran Posyandu Remaja Berbasis Sekolah sebagai upaya Pencegahan Stunting Pada akhir kegiatan pengabdian masyarakat, ditutup dengan diluncurkannya Posyandu Remaja berbasis sekolah yang diadakan di SMP Negeri 01 Rancaekek. Pada kegiatan tersebut dihadiri oleh Perwakilan Desa Rancaekek Wetan. Bidan Desa yang mewakili Kepala Puskesmas Rancaekek, serta Kader Kesehatan Remaja serta siswa-siswi dari ke dua sekolah. Acara ini dirancang untuk menampilkan bagaimana materi yang disampaikan dalam penyuluhan dan pelatihan pada minggu lalu bias diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada acara peluncuran posyandu remaja berbasis sekolah, mereka melakukan kegiatan Posyandu mulai dari proses pendaftaran, pemeriksaan kesehatan dasar, hingga memberikan konseling kepada teman sebaya. Peluncuran Posyandu ini bertujuan untuk menyebarkan informasi dan mensosialisasikan keberadaan Posyandu kepada mereka di lingkungan sekolah. Adanya pelayanan Posyandu Remaja di sekolah akan mempermudah mereka dalam melakukan pemeriksaan kesehatan dasar. Layanan ini dimaksudkan sebagai upaya deteksi dini pencegahan Layanan Posyandu di sekolah dan dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku remaja agar lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. (Yanti Andriani et , 2. Gambar 5. Pendaftaran Posyandu Remaja Gambar 6. Pemeriksaan Kesehatan Dasar Pengukuran Tinggi Badan Gambar 7. Pendampingan Pemeriksaan Kesehatan Remaja Dampak Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan pengaruh positif baik secara individual maupun kelompok remaja. Pada tingkat individu, remaja menunjukkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menjaga kesehatan diri serta memahami peran penting mereka dalam pencegahan stunting. Remaja tidak lagi dilihat sebagai objek sasaran semata, melainkan sebagai subjek aktif yang terlibat langsung dalam upaya promotif dan Sedangkan pada tingkat kelompok remaja, terbentuknya kader kesehatan remaja berkontribusi terhadap penguatan fungsi Posyandu Remaja di wilayah Rancaekek Wetan. Kehadiran kader kesehatan remaja membantu tenaga kesehatan dan kader dewasa dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu, serta meningkatkan partisipasi remaja lain untuk hadir Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL dan terlibat dalam kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa optimalisasi Posyandu Remaja melalui pemberdayaan kader remaja dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung program percepatan penurunan stunting di tingkat desa. Pendekatan kader teman sebaya dan edukasi gizi yang terstruktur di Posyandu Remaja dapat mendukung peningkatan pengetahuan dan perilaku positif remaja, sesuai dengan temuan pemberdayaan kader di daerah lain yang menunjukkan kemampuan kader dalam membangkitkan komunitas untuk pencegahan stunting (Dariani et al. , 2025. Yuliani et al. , 2. Keberlanjutan Program Pengembangan program pengabdian ini akan dilanjutkan melalui penguatan kapasitas kader kesehatan remaja agar mampu menjalankan perannya secara mandiri setelah kegiatan pengabdian selesai. Kader kesehatan remaja remaja diharapkan terus berperan sebagai fasilitator edukasi kesehatan bagi teman sebaya, serta terlibat aktif dalam kegiatan rutin Posyandu Remaja yang difasilitasi oleh puskesmas dan pemerintah setempat. Keberlanjutan program juga didukung dengan sinergi antara pihak sekolah, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan pemerintah kelurahan, sehingga Posyandu Remaja dapat menjadi bagian dari program kesehatan masyarakat yang berkesinambungan. Dengan adanya kader kesehatan remaja yang terlatih dan sistem Posyandu Remaja yang optimal, upaya pencegahan stunting diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berdampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas kesehatan generasi muda. Peran kader kesehatan sangat penting dalam pembinaan remaja dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan, sebagaimana ditunjukkan dalam studi yang menegaskan bahwa kader yang dilatih mampu menjalankan fungsi edukasi dan monitoring stunting secara efektif (Retno Hapsari et al. , 2. KESIMPULAN Pelaksanaan program optimalisasi Posyandu Remaja menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesadaran gizi dan deteksi dini risiko stunting di kalangan remaja. Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa dengan adanya edukasi gizi yang terstruktur dan keterlibatan aktif remaja sebagai kader posyandu, terjadi peningkatan pemahaman tentang pentingnya asupan nutrisi yang seimbang, terutama dalam pencegahan stunting. Dampak dari program ini terlihat dari meningkatnya kesadaran remaja terhadap risiko stunting, yang ditandai dengan peningkatan partisipasi dalam kegiatan posyandu, peningkatan pemantauan status gizi, serta perubahan perilaku konsumsi makanan Selain itu, program ini juga berkontribusi pada deteksi dini risiko stunting dengan melakukan pemeriksaan antropometri secara berkala, sehingga remaja yang berisiko dapat segera diberikan intervensi yang tepat. Untuk meningkatkan efektivitas Posyandu Remaja dalam deteksi dini risiko stunting, diperlukan langkah-langkah strategis yang mencakup peningkatan kapasitas kader, penguatan dukungan kebijakan, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi dalam edukasi kesehatan. Pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran guna mendukung operasional Posyandu Remaja, termasuk penyediaan alat ukur status gizi yang lebih akurat. Selain itu, kolaborasi antara dinas kesehatan, pendidikan, dan organisasi masyarakat perlu diperkuat guna memastikan keberlanjutan program. Tenaga kesehatan juga diharapkan dapat lebih aktif dalam membimbing kader remaja serta memberikan layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan mereka. Dengan implementasi rekomendasi ini, diharapkan Posyandu Remaja dapat lebih optimal dalam menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting, sehingga kesehatan dan kualitas hidup generasi mendatang lebih terjamin. Jurnal Abdimas Peradaban: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 ARTIKEL DAFTAR PUSTAKA