http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. ANALISIS POSTUR KERJA PADA BAGIAN PEMOTONGAN UMKM PRODUKSI RAMBAK KULIT KRECEK SUMBER BAROKAH DENGAN METODE NORDIC BODY MAP DAN RAPPID ENTIRE BODY ASSESSMENT 1,2,3 Rahayuningsih1. Brillian Nur Diansari2. Febrina Agusti3 Program Studi Teknik Industri - Universitas Duta Bangsa Surakarta Email: 210312011@mhs. ABSTRAK Postur kerja merupakan posisi kerja pada saat bekerja, postur kerja yang baik membantu mengurangi resiko gangguan musculoskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja pada bagian pemotongan di UMKM Rambak Kulit Krecek Sumber Barokah dengan menggunakan metode Nordic Body Map (NBM) dan Rapid Entire Body Assessment (REBA). Responden dalam penelitian ini berjumlah 18 pekerja. Aktivitas pemotongan dilakukan secara manual dalam waktu kerja yang panjang, yang berpotensi menimbulkan keluhan musculoskeletal pada pekerja. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan dokumentasi foto postur kerja, kemudian dianalisis dengan metode REBA untuk mengetahui tingkat risiko ergonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa postur membungkuk dalam jangka panjang menyebabkan keluhan pada punggung, tangan, dan kaki. REBA menunjukkan tingkat risiko tinggi sehingga diperlukan tindakan perbaikan seperti penggunaan meja kerja yang ergonomis dan penyuluhan posisi kerja yang tepat. Penelitian ini memberikan rekomendasi konkret bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan kerja. Kata Kunci : Postur. Kerja. NBM. REBA PENDAHULUAN Di era industri saat ini, perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja menjadi hal penting, khususnya pada sektor Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sebagian besar proses produksinya masih mengandalkan tenaga manusia. Pekerjaan yang terlihat sederhana sering kali memiliki potensi risiko tinggi, terutama bila dilakukan dengan postur kerja yang tidak ergonomis. Lingkungan kerja dan dampaknya pada keberlanjutan bisnis juga menjadi perhatian utama di kalangan industri. Data BPJS Ketenagakerjaan mencatat 168. 335 kasus kecelakaan kerja di Indonesia pada semester I tahun 2023 . , menunjukkan pentingnya upaya pencegahan di berbagai sektor kerja, termasuk UMKM. Postur kerja adalah faktor kunci dalam menganalisis seberapa efektif dan efisien suatu pekerjaan dilakukan . Postur yang tidak ergonomis menimbulkan ketidaknyamanan jangka panjang yang berujung menurunnya produktivitas . Penerapan postur kerja yang baik pada UMKM sangat penting untuk mencegah risiko gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung, leher, dan bahu yang sering dialami pekerja akibat posisi tubuh yang salah. menghambat efisiensi pekerja . usaha dapat terjaga dengan baik. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. Pada industri pengolahan makanan tradisional, seperti produksi rambak kulit krecek, sebagian besar aktivitas dilakukan secara manual dan menuntut postur kerja statis yang berulang. Salah satu tahapan krusial adalah proses pemotongan kulit krecek, di mana pekerja harus duduk di kursi rendah dengan posisi tubuh membungkuk selamaberjam-jam. Postur ini berpotensi menimbulkan keluhan muskuloskeletal seperti nyeri punggung, bahu, dan leher. Observasi awal di UMKM Rambak Kulit Krecek AuSumber BarokahAy di Boyolali menunjukkan lebih dari 70% pekerja mengeluhkan nyeri di pinggang, bahu, dan kaki akibat posisi kerja yang tidak ergonomis, terutama pada bagian pemotongan kulit. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, analisis ergonomi diperlukan. Metode Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk memetakan keluhan muskuloskeletal berdasarkan area tubuh yang dirasa nyeri, sedangkan metode Rappid Entire Body Assessment (REBA) menganalisis tingkat risiko postur kerja yang dapat memicu Penelitian ini berfokus pada tahap pemotongan kulit krecek, dengan tujuan memberikan rekomendasi perbaikan postur kerja guna mengurangi keluhan pekerja dan meningkatkan produktivitas di sektor UMKM. TINJAUAN PUSTAKA Postur Kerja Postur atau sikap kerja merupakan suatu tindakan yang diambil pekerja dalam melakukann pekerjaan . Postur kerja merupakan elemen penting dalam ergonomi yang berkaitan langsung dengan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan pekerja saat melakukan aktivitas. Postur kerja yang tidak sesuai dapat memicu tekanan berlebih pada otot dan sendi, yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan sistem musculoskeletal. Musculoskeletal Disorders (MSD. Muskuloskeletal mengacu pada risiko kerja yang berkaitan dengan masalah otot, yang seringkali timbul akibat sikap kerja yang keliru saat melakukan suatu gerakan Keluhan muskuloskeletal adalah ketidaknyamanan yang dirasakan seseorang pada bagian otot rangka. Keluhan ini dapat bervariasi tingkat keparahannya, mulai dari rasa sakit yang sangat parah hingga yang sangat ringan. Kerusakan pada sendi, ligamen, dan tendon dapat memicu keluhan apabila otot menahan beban statis dalam waktu yang lama. Nordic Body Map Nordic Body Map adalah metode pemetaan tubuh yang bertujuan untuk mengidentifikasi area otot yang dirasakan sakit atau tidak nyaman oleh para pekerja . Pekerja diberikan gambar peta tubuh manusia yang dibagi menjadi 28 bagian utama, dengan 4 skala likert. ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . Gambar 1 Kuesioner NBM . Total skor yang didapatkan perindividu dijumlahkan dan diklasifikasikan sesuai tabel klasifikasi pada NBM. Tabel 1 Klasifikasi Skor NBM Total Skor Individu Tingkat Risiko Tindakan Perbaikan 28 Ae 49 Rendah Belum ditemukan tindakan perbaikan 50 Ae 70 Sedang Mungkin diperlukan 71 Ae 90 Tinggi Diperlukan tindakan segera 92 Ae 122 Sangat Tinggi Diperlukan tindakan menyeluruh segera mungkin Sumber : . Rappid Entire Body Assessment Rapid Entire Body Assessment (REBA) adalah metode observasi ergonomi yang dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney pada tahun 2000 untuk mengevaluasi risiko postur kerja yang dapat menyebabkan gangguan Metode ini digunakan dengan cara mengamati langsung postur tubuh pekerja saat melakukan aktivitas kerja, kemudian memberi skor pada beberapa bagian tubuh. REBA (Rapid Entire Body Assessmen. memiliki keunggulan dibandingkan metode ergonomi lainnya karena pendekatannya yang menyeluruh dalam menganalisis seluruh tubuh pekerja. Metode ini berfokus pada postur tubuh secara keseluruhan untuk meminimalkan potensi terjadinya gangguan muskuloskeletal, yaitu cedera pada otot, sendi, ligamen, atau saraf . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . Gambar 2 REBA Employee Assessment Worksheet . METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi postur kerja. Responden merupakan pekerja bagian pemotongan sebanyak 18 pekerja. Pengukuran postur dilakukan dengan mendokumentasikan posisi kerja pekerja saat memotong kulit menggunakan foto. Postur tubuh kemudian dianalisis menggunakan metode REBA untuk menilai tingkat risiko ergonomi, sedangkan data keluhan fisik diperoleh dari kuesioner Nordic Body Map. HASIL DAN PEMBAHASAN Kuesioner Nordic Body Map (NBM) Rekapitulasi kuesioner Nordic Body Map (NBM) menunjukkan bagian-bagian tubuh yang dikeluhkan oleh 18 responden. Tingkat keluhan dinilai dari rasa tidak nyaman hingga nyeri parah. Total skor dan persentase keluhan untuk setiap bagian tubuh disajikan dalam tabel di bawah. Rekapitulasi Hasil Kuesioner NBM Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner NBM Responden Bagian Tubuh Total Skor Sari Lestari Parni Siti Wahyuni ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . Responden Bagian Tubuh Total Skor Yuli Endang Rohayati Samiyem Desi Tutik Kartini Karsiyem Ngatmini Mulyani Ambar Warsiyem Sri H. Dari hasil rekapitulasi kuesioner Nordic Body Map pada proses pemotongan menunjukkan adanya keluhan yang tertinggi pada Ibu Parni. Ibu Wahyuni dan Ibu Rohayati dengan skor 80 yang menandakan skor tinggi dan diperlukan tindakan Skor tertinggi terlihat pada bagian kedua bahu, pinggang,punggung serta pada area pantat kebawah, yang menandakan area tersebut paling banyak mengalami Sementara itu, beberapa bagian tubuh lain seperti tangan kiri memperoleh skor rendah, yang mengindikasikan keluhan yang lebih ringan. Skor rata Ae rata yang diperoleh sebesar 66 yang beresiko Sedang, menandakan bahwa mungkin diperlukan perbaikan dikemudian hari. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. Rappid Entire Body Assessment (REBA) Perhitungan REBA dilakukan dengan mengukur sudut postur tubuh pada bagian Gambar 2 Postur dan sudut pekerja yang dianalisis Berdasarkan proses pemotongan di UMKM Sumber Barokah yang dilakukan oleh salah satu pekerja, dibuat sudut untuk menentukan skor REBA agar mendapatkan skor akhir tubuh pekerja. Tabel 3 Skor Postur Tubuh Grub A Postur Tubuh Skor Keterangan Skor Akhir Leher ( Neck ) 19A ( 1 memutar kesampin. Batang Tubuh ( Trunk ) 4 143A ( 1 miring kesampin. Kaki ( Legs ) Duduk dengan bobot tidak merata ( 2 97A) 4 ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . Tabel 4 Tabel REBA Skor Grub A Neck Legs Trunk Dari hasil perhitungan Tabel Skor Grub A diatas, diketahui skor leher sebesar 2, skor batang tubuh sebesar 5 dan skor kaki sebesar 4, menghasilkan skor tabel A sebesar 9 dengan nilai pembebanan yang dialami pekerja adalah 0 pada proses pemotongan Maka, skor akhir pada Grub A adalah 9. Tabel 5 Skor Postur Tubuh Grub B Proses Pemotongan Postur Tubuh Skor Keterangan Skor Akhir Lengan Atas 15A ( 1 abducted, -1 bobot lengan ditopan. Lengan Bawah 45A ( 1 berputa. Pergelangan Tangan 2 ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . Tabel 6 Skor Grub B Proses Pemotongan Lower Arm Wrist Upper Arm Score Dari hasil perhitungan pada tabel REBA skor Grub B diatas, diketahui bahwa skor lengan atas 1, lengan bawah adalah 2 dan pergelangan tangan sebesar 3 menghasilkan skor tabel B sebesar 3 dengan skor genggaman yang didapatkan pada proses pemotongan adalah 0. Maka, skor akhir pada grub B sebesar 3. Selanjutnya melihat skor gabungan untuk Grub A dan Grub B dalam tabel C berikut Tabel 7 Tabel Grub C Score B Score A http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. 10 11 11 11 11 12 12 12 12 Pada tabel Grub A mendapat skor sebesar 9 dan skor Grub B sebesar 3, maka skor gabungan pada tabel Grub C yaitu 9, tambahan aktivitas pada saat pemotongan mendapatkan skor 3, hal ini dikarenakan pekerja mempertahankan posisi duduk statis selama 8 jam, mengulangi gerakan yang sama >4x dan mendapatkan perubahan besar pada sikap kerja pada saat meraih bahan kulit yang berada disekitarnya. Maka skor akhir yang didapat pada proses pemotongan sebesar 12. KESIMPULAN DAN SARAN C Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 18 pekerja di bagian pemotongan UMKM Rambak Kulit Krecek Sumber Barokah, dapat disimpulkan Mayoritas pekerja mengalami keluhan musculoskeletal, terutama pada bagian punggung, pinggang, bahu, dan kaki. Hal ini dibuktikan dari hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM), dengan skor rata-rata sebesar 66 yang termasuk dalam kategori risiko sedang, serta beberapa individu mencapai skor 80, yang termasuk kategori risiko tinggi, sehingga memerlukan tindakan segera. Hasil analisis Rapid Entire Body Assessment (REBA) menunjukkan bahwa postur kerja pada proses pemotongan berada dalam tingkat risiko tinggi dengan skor akhir Skor ini mengindikasikan bahwa postur kerja yang dilakukan dalam waktu lama dengan posisi duduk membungkuk, gerakan berulang, serta pengambilan bahan yang tidak ergonomis berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal serius. C Saran Setelah menganalisa postur pekerja pemotongan pada UMKM Sumber Barokah, maka berikut saran yang dapat diberikan : Penggunaan Meja dan Kursi yang Ergonomis Disarankan adanya perbaikan fasilitas kerja seperti penggunaan meja kerja yang lebih tinggi dan kursi dengan penopang punggung untuk mengurangi posisi membungkuk dalam jangka panjang. Penyuluhan dan Pelatihan Posisi Kerja Perlu dilakukan penyuluhan kepada pekerja mengenai pentingnya postur kerja yang benar dan ergonomis, serta pelatihan cara duduk dan memotong yang benar agar tidak menyebabkan cedera. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 53-62 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA