JURNAL SENTRA ABDIMAS Sinergi dan Transformasi dalam Pengabdian kepada Masyarakat MENGGAMBAR BEBAS SEBAGAI MEDIA EKSPRESI ANAK DI PESANTREN: KAJIAN PSIKOLOGI SENI DAN KEARIFAN LOKAL Cahyo Wahyu Darmawan1. Helna Fitriana2. Ahmad Zaini Mahmud3 Universitas Palangka Raya Rumah Sakit Bhayangkara TK i Palangka Raya IAIN Palangka Raya Email Korespondensi: cahyo. darmawan@fkip. ABSTRAK Seni memiliki fungsi penting sebagai sarana untuk menyalurkan emosi dan merefleksikan kondisi psikologis, serta untuk menyelami kompleksitas emosi manusia, memungkinkan terungkapnya ekspresi emosional secara non-verbal terutama pada anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana anak-anak di Pesantren Al-Munawir mengekspresikan emosi mereka melalui aktivitas menggambar bebas dengan pendekatan tes grafis dengan House-Tree-Person (HTP). Menggunakan metode kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi karya gambar anak. Hasil studi menunjukkan bahwa gambar-gambar yang dihasilkan mencerminkan berbagai emosi seperti kegembiraan, kecemasan, hingga harapan, yang menunjukkan kondisi psikologis masing-masing anak. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas seni, khususnya menggambar bebas, dapat berfungsi sebagai media refleksi diri dan pendekatan terapeutik dalam lingkungan pesantren. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar kegiatan seni dimasukkan secara sistematis ke dalam program pembinaan anak-anak di pesantren untuk mendukung perkembangan emosional dan psikologis mereka secara holistik serta sebagai salah satu upaya untuk melihat perkembangan anak, secara holistik melalui analisis tes grafis yang digunakan. Kata Kunci: Psikologi seni, menggambar bebas, tes grafis, ekspresi anak JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. PENDAHULUAN Seni, khususnya menggambar, merupakan sarana ekspresi yang dapat mencerminkan kondisi psikologis anak. Menggambar merupakan media penting untuk menyelami kompleksitas emosi manusia, memungkinkan terungkapnya ekspresi emosional secara non-verbal. Ekspresi kreatif memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan kognitif, emosional, fisik, dan sosial individu dari segala usia. Kreativitas dapat didefinisikan secara operasional sebagai proses dinamis di mana seorang individu atau kelompok, melalui interaksi keterampilan, proses kognitif, dan pengaruh lingkungan, menghasilkan keluaran yang nyata. Ini mencakup berbagai bentuk ekspresi, seperti seni, musik, tulisan, dan pemecahan masalah yang inovatif, dan berpotensi meningkatkan fungsi emosional, kognitif, dan sosial individu (Jean-Berluche. , 2. Aktivitas ini berperan sebagai sarana untuk menyalurkan emosi melalui bentuk Emosi sendiri melibatkan aspek fisiologis dan kognitif yang memengaruhi tindakan seseorang. Para ahli mengelompokkan emosi secara hierarkis ke dalam kategori positif dan negatif, yang kemudian dijabarkan lagi menjadi subkategori yang lebih rinci. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah circumplex model of affect, yang menjelaskan bahwa setiap kondisi emosional dapat dipetakan berdasarkan dua dimensi utama, yaitu valensi . ositif-negati. dan tingkat gairah . endah-tingg. (Weng, , dkk. , 2. Dalam lingkungan pesantren yang memiliki aturan dan norma cukup ketat, ekspresi emosional anak-anak sering kali terbatas. Menggambar bebas dapat menjadi media bagi mereka untuk menyalurkan perasaan dan pikiran yang sulit diungkapkan secara verbal, karena ketika kita menggambar, kita menggambarkan representasi mental yang kaya yang mencerminkan memori, persepsi, skema, imajinasi, atau perasaan (Bainbridge. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa analisis tes grafis, seperti House-TreePerson (HTP) dan Draw-A-Person (DAP), dapat memberikan wawasan mengenai kondisi emosional dan psikologis anak. Studi menunjukkan bahwa tes HTP, termasuk variannya, tes Synthetic House-Tree-Person (S-HTP), terus menjadi alat proyektif yang valid untuk menyelidiki aspek emosional dan perkembangan pada anak-anak dan Menurut penulis, tes HTP memberikan wawasan berharga untuk menyaring JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. gangguan depresi . elalui analisis spesifik karakteristik gamba. serta untuk menyaring gangguan perkembangan saraf . engan menilai kemampuan untuk menyelesaikan tes dan mengevaluasi usia menta. (Santillo. Morra. Esposito. , & Romani. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana ekspresi psikologis anak-anak di Pesantren Al-Munawir dapat diidentifikasi melalui hasil gambar mereka. METODE Penelitian ini bertujuan untuk memahami ekspresi emosional dan kondisi psikologis anak-anak melalui seni menggambar bebas dalam konteks budaya pesantren, serta mendorong pemanfaatan seni sebagai media refleksi dan pembinaan karakter anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk menggali makna subjektif dari ekspresi visual anak-anak dalam konteks keseharian mereka di pesantren. Studi kasus memungkinkan peneliti memahami secara mendalam fenomena menggambar bebas sebagai medium ekspresi yang unik dan kontekstual pada lingkungan Pesantren Al-Munawir. Lokasi pengabdian dilakukan di Pesantren Al-Munawir, sebuah lembaga pendidikan Islam berbasis asrama yang memiliki fokus pada pembinaan karakter dan nilai-nilai keagamaan, dengan subjek anak-anak usia 8Ae12 tahun yang belajar di Jumlah partisipan berkisar antara 10 orang yang dipilih secara purposif berdasarkan ketersediaan dan kesediaan mereka mengikuti kegiatan menggambar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi partisipatif, dimana peneliti mengamati langsung proses anak-anak saat menggambar, ekspresi wajah, perilaku, dan interaksi selama kegiatan berlangsung. Observasi dilakukan secara alamiah untuk menjaga keaslian ekspresi anak. Dokumentasi hasil karya: Setiap hasil gambar dikumpulkan dan dianalisis sebagai data utama. Foto kegiatan dan catatan lapangan juga menjadi bagian dari dokumentasi visual dan naratif. Wawancara semiterstruktur: Dilakukan kepada anak-anak setelah kegiatan menggambar, untuk menggali narasi mereka terhadap gambar yang dibuat. Selain itu, wawancara juga dilakukan dengan pengasuh atau guru untuk mengetahui latar belakang psikososial anak dan konteks keseharian mereka di pesantren. Teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis tes grafis: Menggunakan pendekatan psikologi seni dengan referensi teori HTP (House-Tree-Perso. untuk JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. memahami elemen-elemen visual dalam gambar, seperti bentuk, ukuran, tekanan garis, dan simbol-simbol khusus. Adapun alat dan bahan yang digunakan antara lain adalah kertas gambar A4, meja, kamera dokumentasi, rekorder suara, pensil dan pulpen warna Prosedur pelaksanaan pengabdian ini dilakukan secara bertahap dan terstruktur untuk memastikan keterlibatan aktif anak-anak serta tercapainya tujuan edukatif dan Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak pengelola Pesantren AlMunawir guna memperoleh izin pelaksanaan dan menyepakati jadwal kegiatan. Tahap berikutnya adalah sosialisasi kepada anak-anak mengenai tujuan dan manfaat kegiatan menggambar bebas, yang dikemas secara komunikatif agar mudah dipahami oleh anak usia 8Ae12 tahun. Setelah sosialisasi, dilakukan sesi menggambar bebas di ruang terbuka atau kelas, dengan penyediaan alat gambar seperti kertas dan pensil. Anak-anak diberi kebebasan untuk menggambar rumah, pohon, dan manusia dengan bebas. Selama kegiatan berlangsung, tim pengabdian melakukan observasi dan dokumentasi secara Setelah sesi menggambar selesai, dilakukan wawancara singkat secara informal dengan anak-anak untuk menggali makna dari gambar yang dibuat, serta wawancara dengan pengasuh untuk mendapatkan perspektif keseharian anak. Kegiatan diakhiri dengan refleksi bersama dan penyerahan hasil gambar kepada pihak pesantren sebagai dokumentasi kegiatan. Seluruh proses dirancang untuk tidak hanya menghasilkan data penelitian, tetapi juga membangun ruang ekspresi positif bagi anak-anak melalui pendekatan seni yang kontekstual dengan budaya lokal pesantren. HASIL Bagian ini menyajikan hasil temuan dari kegiatan menggambar bebas yang dilakukan oleh anak-anak di Pesantren Al-Munawir. Proses analisis didasarkan pada pendekatan House-Tree-Person (HTP Drawing Tes. yang digunakan untuk menelusuri ekspresi psikologis dan kondisi emosional peserta melalui karya visual. Selain itu, data diperoleh dari observasi partisipatif, dokumentasi hasil gambar, dan wawancara semistruktural dengan anak serta pengasuh. Setiap hasil gambar dianalisis berdasarkan struktur, simbol, dan narasi personal yang disampaikan oleh anak, sehingga memberikan gambaran utuh tentang ekspresi emosional dan sosial mereka dalam konteks kehidupan di pesantren. JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. Interpretasi hasil menggambar bebas juga mempertimbangkan konteks budaya dan nilai-nilai religius yang melekat dalam lingkungan pesantren. Dalam hal ini, simbol-simbol budaya lokal serta identitas religius anak-anak turut muncul dalam karya mereka, baik secara eksplisit maupun implisit. Dengan menganalisis ketiga elemen utama . umah, pohon, dan oran. dari setiap gambar, penelitian ini mengungkap polapola emosi seperti rasa aman, kecemasan, kesepian, hingga harapan, serta menyoroti bagaimana seni menjadi ruang reflektif dan media komunikasi non-verbal bagi anakanak dalam mengekspresikan dunia batin mereka. Selain sebagai alat identifikasi ekspresi psikologis, kegiatan menggambar bebas juga berfungsi sebagai sarana pembinaan karakter dan penanaman nilai budaya lokal secara tidak langsung. Hal ini menguatkan bahwa seni tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga dapat menjadi jembatan antara pengalaman pribadi, pendidikan karakter, dan nilainilai kearifan lokal yang hidup dalam budaya pesantren. Tabel 1. Hasil Gambar 10 Anak Aspek Anak Anak Anak Anak Anak Anak Anak Anak 8 Anak 9 Anak Inisial Anak SAA Usia Jenis Kelamin Ukuran Gambar Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Letak di Kertas Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Bawah Tekanan Garis Sedan Kuat Sedan Sedan Kuat Sedan Sedan Kuat Sedang Sedan Rumah: Kelengk Struktur Lengk Lengk Lengk Lengk Lengk Tidak Lengk Lengk Lengka Lengka Lengk Pohon: Jenis & Detail Realist Non Realist Realist Realist Realist Realist Non Realist Realisti Non Realisti Realist Orang: Postur Tegak Tegak. Tidak Tegak Tegak Tegak. Tidak Tegak Datar Tegak. Senyu Bungku k,Datar Bungku k,Datar Tegak JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. Ekspresi Simbol Budaya/ Religius Cerita Anak . awan Datar Tidak Ada Meng Menga n di Senyu Datar Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Meng Katan ya itu g ke Meng n di Ingin Meng Meng Katan t langit Suka Meng a itu Tidak k hal. Tidak Ada Meng di film Suka Gambar 1. Beberapa gambar anak-anak Senyu Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Mengg Suka Mengg ayah di Katany a ingin di sana Meng Suka n di JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. PEMBAHASAN Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana anak-anak di pesantren mengekspresikan emosi mereka melalui kegiatan menggambar bebas. Berdasarkan hasil yang diperoleh, tujuan tersebut dapat dikatakan telah tercapai secara Anak-anak mampu menuangkan pikiran dan perasaannya ke dalam bentuk visual melalui gambar rumah, pohon, dan manusia tanpa harus mengungkapkannya secara verbal. Gambar adalah aktivitas alami bagi anak-anak dan melibatkan mereka dalam eksplorasi, komunikasi, kesenangan, dan pembelajaran . Dari perspektif realistis, gambar anak-anak berkembang secara bertahap dari coretan menjadi gambar skematis dan realistis. Setiap gambar yang dihasilkan mengandung makna simbolik yang mencerminkan dunia batin dan kondisi psikologis anak, baik secara sadar maupun tidak Dengan demikian, kegiatan menggambar bebas terbukti menjadi media eksplorasi emosional yang relevan dalam konteks pendidikan berbasis agama (Bat Or. Ishai, . Barkay. , & Shalev. , 2. Pendekatan House-Tree-Person (HTP) yang digunakan dalam interpretasi gambar mampu mengungkap beragam kondisi emosional anak, seperti rasa bahagia yang tergambar melalui warna cerah dan simbol alam, kecemasan yang muncul dari tekanan garis yang berat atau gambar yang tidak lengkap, serta harapan yang terlihat dari gambar pohon berbuah atau figur tersenyum. Bahkan dalam beberapa kasus, perasaan terisolasi dan ketidaknyamanan sosial dapat dikenali dari gambar rumah tanpa pintu atau orang yang digambarkan tanpa ekspresi. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menangkap nuansa emosi anak yang mungkin sulit terungkap melalui percakapan langsung, terutama di lingkungan pesantren yang memiliki struktur sosial dan kedisiplinan yang kuat. Dengan demikian, menggambar bebas tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas seni, tetapi juga sebagai pendekatan reflektif yang mampu menjembatani aspek psikologis dan spiritual anak-anak dalam proses pembinaan karakter di pesantren, hal ini dikarenakan berbagai aspek sadar maupun bawah sadar dalam proses kreatif anak saat menggambar, penciptaan karya seni, pengaruhnya terhadap individu tertentu, serta cara memahaminya, merupakan bagian penting dalam kajian psikologi seni. Melalui kegiatan menggambar, anak-anak di pesantren mengenal dan mengekspresikan dunia di sekitar mereka melalui bentuk dan visual. Psikologi seni berperan dalam mengidentifikasi mekanisme utama dalam proses ini dengan JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. mempertimbangkan unsur-unsur budaya seperti simbol, bahasa, konsep, gambar, warna, serta nilai-nilai kearifan lokal yang turut membentuk ekspresi mereka (Andrijauskas, , 2. Penggunaan seni sebagai media ekspresi di lingkungan pesantren memberikan dampak positif yang nyata terhadap perkembangan emosional anak. Kegiatan menggambar bebas menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka secara non-verbal, terutama bagi mereka yang cenderung pendiam atau kesulitan mengungkapkan diri melalui kata-kata. Dalam pelaksanaannya, anak-anak menjadi lebih terbuka dan reflektif, terlihat dari keberanian mereka untuk menggambarkan pengalaman pribadi, impian, atau bahkan kecemasan yang mereka Proses ini juga mendorong keterlibatan aktif tanpa tekanan, sehingga anakanak merasa dihargai dan didengar, meskipun tanpa komunikasi lisan secara langsung. Kemudian, pendekatan berbasis seni semakin banyak digunakan untuk program pendidikan orang tua. penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut merupakan keluarga (Tongue. Qualter. , & Bond. , 2. Lebih dari sekadar aktivitas kreatif, seni khususnya dalam bentuk menggambar bebas memiliki potensi besar sebagai pendekatan edukatif sekaligus terapi ringan . rt therap. dalam pembinaan santri usia dini. Pendekatan ini membantu guru dan pengasuh dalam memahami kondisi emosional anak serta mendeteksi dini potensi masalah psikososial. Dalam konteks pendidikan pesantren yang sering kali fokus pada aspek kognitif dan religius, kehadiran seni memperkaya proses pembinaan karakter dengan menyentuh dimensi emosional dan sosial anak. Hal ini penting untuk menciptakan perkembangan yang holistik, di mana anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati, kepekaan sosial, dan kemampuan meregulasi emosi dengan sehat, hal ini dijelaskan bahwa seni ekspresif dapat mendukung siswa secara individu tetapi berkembang menjadi ide-ide dalam humaniora kesehatan (Little, , & Little. , 2. Keunikan pendekatan HTP terletak pada kemampuannya untuk menyingkap aspek psikologis anak secara non-verbal, tanpa intervensi langsung yang bersifat Dalam konteks pesantren yang cenderung memiliki sistem pembinaan yang disiplin dan berorientasi pada aspek kognisi seperti hafalan kitab dan pemahaman JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. keagamaan pendekatan ini menghadirkan alternatif yang humanistik dan berpusat pada Sebagian besar lembaga serupa masih berfokus pada pencapaian akademik atau religius formal, sehingga dimensi emosional anak kerap terabaikan. Oleh karena itu, integrasi seni sebagai media ekspresi dan terapi dalam pembinaan anak di pesantren menjadi inovasi penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih menyeluruh dan responsif terhadap kebutuhan perkembangan anak (Creative Education as An Innovation In Islamic Boarding Schools, 2. Pelaksanaan kegiatan menggambar bebas sebagai media ekspresi di pesantren menghadapi beberapa hambatan yang perlu dicermati. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu untuk kegiatan non-akademik, mengingat padatnya jadwal harian santri yang berfokus pada kegiatan keagamaan dan pembelajaran formal. Selain itu, belum banyak pendidik atau pengasuh yang memiliki pemahaman memadai tentang psikologi seni, sehingga kegiatan menggambar seringkali dipandang sekadar sebagai aktivitas rekreatif tanpa makna terapeutik. Hal ini mengakibatkan potensi seni sebagai alat untuk memahami kondisi emosional anak belum dimaksimalkan secara optimal dalam program pembinaan pesantren. Keterbatasan dalam membaca simbol visual dan makna psikologis dari gambar anak dapat diatasi melalui pendekatan kolaboratif. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah memberikan pelatihan dasar tentang art therapy kepada guru atau pengasuh pesantren, agar mereka mampu menginterpretasikan elemen-elemen visual dalam gambar dengan lebih bijak dan terarah. Selain itu, pesantren juga dapat menjalin kerja sama dengan psikolog, praktisi pendidikan seni, atau fasilitator art therapy untuk mendampingi kegiatan ini secara berkala. Integrasi kegiatan seni ekspresif ke dalam kurikulum ekstrakurikuler secara sistematis akan memperkaya model pembinaan yang tidak hanya bersifat kognitif dan spiritual, tetapi juga responsif terhadap perkembangan emosional dan sosial anak secara holistik. Kegiatan menggambar bebas memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkala sebagai instrumen pemantauan emosional santri di pesantren. Dengan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian rutin dari program pembinaan, pendidik dan pengasuh dapat lebih mudah mengamati dinamika psikologis anak dari waktu ke waktu tanpa harus menggunakan metode formal yang mungkin terasa kaku atau menekan. Gambar-gambar yang dihasilkan dapat dianalisis sebagai bentuk refleksi emosional JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. yang jujur dan spontan, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan individu santri. Pendekatan ini tidak hanya membantu dalam deteksi dini gangguan emosional, tetapi juga memperkuat komunikasi empatik antara santri dan pendidik. SIMPULAN Kegiatan menggambar bebas sebagai media ekspresi anak di Pesantren AlMunawir memberikan manfaat nyata dalam membantu anak-anak menyalurkan emosi secara positif dan non-verbal. Melalui pendekatan tes grafis House-Tree-Person (HTP), anak-anak dapat merefleksikan kondisi psikologis mereka dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengancam. Pengabdian ini berhasil menciptakan ruang aman bagi anak untuk berekspresi, serta memberikan wawasan baru bagi pengasuh dan pendidik dalam memahami dinamika emosional santri. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana reflektif sekaligus pendekatan pembinaan yang efektif dalam lingkungan pesantren, serta layak untuk diintegrasikan dalam program pembinaan karakter anak secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA