IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEJUJURAN PADA PESERTA DIDIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR Malin Azzarima1 . Hervin Rizky Pratama2 . Mita Wahyu Settiya3 Universitas Muhammadiyah Surabaya E-mail: . azzarima-2020@fkip. um-surabaya. i d, . pratama-2020@fkip. id, . settiya-2020@fkip. um-surabaya. 1,2,. Abstrak: peneliti memberikan identifikasi masalah yang akan dijadikan bahan tujuan penetilian yaitu mendeskripsikan implementasi nilai karakter kejujuran pada peserta didik di lingkukan sekolah dasar. Indikator keberhasilan karakter jujur yang digunakan sebagai acuan pada penelitian ini yaitu . tidak mencontek dalam mengerjakan ulangan, . mengungkapkan perasaan apa adanya dan . mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif karena menyajikan data dalam bentuk kata-kata. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif. Hal ini peneliti ingin mengetahui implementasi nilai karakter kejujuran Peserta didikan di sekolah dasar. Tempat pelaksanaan dalam penelitian ini adalah SD Hasyim AsyAoari Surabaya, waktu penelitian 4 bulan yaitu dari bulan Agustus sampai Desember 2022. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini, melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain metode observasi dan wawancara secara mendalam untuk mendapatkan pemahaman tentang suatu fenomena atau masalah yang menarik perhatian di lingkungan sekolah yang diperoleh dari informasi penelitian. Pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiyono 2014:. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Sumber penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer yaitu observasi dan wawancara, sedangkan sumber data sekunder yaitu dokumentasi. Peserta didik mampu berperilaku jujur dengan cara mengurangi nyontek teman, bohong dan selalu berusaha mengakui kesalahan ketika bersalah. Kata Kunci: implementasi, pendidikan karakter, indikator jujur. Abstract: researchers provide identification of problems that will be used as material for research purposes, namely describing the implementation of the character values of honesty in students in elementary schools. Indicators of the success of honest character used as a reference in this study are . not cheating in doing tests, . expressing feelings as they are and . admitting mistakes or deficiencies that are owned. This study uses a qualitative research approach because it presents data in the form of words . This type of research used by researchers is descriptive research. This is the researcher wants to know the implementation of the honesty character values of students in elementary The place of implementation in this study was SD Hasyim Asy'ari Surabaya, the research time was 4 months, from August to December 2022. Data collection techniques in this study were through observation, interviews and Data collection methods used in this study include observation and in-depth interview methods to gain an understanding of a phenomenon or problem that attracts attention in the school environment obtained from research Collecting data with triangulation, the researcher actually collects data which simultaneously tests the credibility of the data, namely checking the credibility of the data with various data collection techniques and various data sources (Sugiyono 2014: . In this study, researchers used source The sources of this research consist of primary an d secondary data sources. Primary data sources are observation and interviews, while secondary data sources are documentation. Students are able to behave honestly by reducing cheating friends, lying and always trying to admit mistakes when Keywords: implementation, character education, honest indicators PENDAHULUAN Pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi memberikan perhatian penting bagi pertumbuhan manusia yaitu perkembangan kemampuan kodrati manusia sebagaimana dimiliki secara berbeda oleh tiap individu . Dalam pengembangan kemampuan kodrati ini manusia tidak dapat mengabaikan relasi negatifnya dengan lingkungan sosial dan dalam relasi antara individu dan masyarakat ini, manusia mengarahkan diri pada nilai-nilai. Karakter yang baik merupakan hal yang kita inginkan bagi anak-anak kita. Menurut Lickona . 1, trj. 2012:) dalam buku yang berjudul Aueducation for character: how our schools can teach respect and responsibilityAy menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa pendidikan karakter itu diperlukan bagi suatu bangsa adalah adanya kenyataan bahwa kekurangan yang paling mencolok pada diri anak-anak adalah dalam hal nilai-nilai moral. Pendidikan karakter sebagai suatu proses sebagaimana yang dikutip oleh Samawi dan Hariyanto . adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, dan rasa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Menurut Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakankehidupan bangsa, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta berkahklak mulia, sehat, berilumu,cakap,kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan yang telah disebutkan maka harus ditekankan Pendidikan Nasional tersebut sebagai bentuk dari dalam menanamkan karakter yang baik kepada peserta didik. Oleh karena itu, pada saat ini pemerintah mewajibkan kepada pendidik untuk menanamkan pendidikan kepada peserta didik. Pendidikan karakter jika ditinjau dari segi akademik dimaksudkan sebagai bentuk dari pendidikan nilai, pendidikan moral pendidikan akhlak, dan pendidikan budi pekerti yang bermaksud bagi peserta didik untuk memngembangkan dan untuk memberikan keputusan yang baik dan buruk sehingga dapat mewujudkan dan mengimplementasikan bentuk kebaikan dalam kehidupan seharihari. Sekolah dituntut untuk mampu membentuk karakter siswa melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, serta memiliki program yang mampu membentuk karakter peserta didik di sekolah. Peran sekolah sebagai tempat pembentukan karakter siswa dirasa penting dan memiliki pengaruh yang cukup besar. Guru dituntut untuk dapat terus mengembangkan diri dan mampu menjadi teladan bagi siswa untuk membentuk karakter yang baik. Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek penting di dalam proses pendidikan yang diterima peserta didik. Kejujuran di lingkungan Sekolah Dasar menjadi sangat penting untuk menjadikan karakter peserta didik saat ini sebagai bekal mengarungi era global dan kehidupan yang akan datang. Karakter kejujuran dalam konteks akademik dapat dilihat secara langsung di lingkungan sekolah. Dalam proses pembelajaran, guru harus mampu mengintegrasikan nilai- nilai kejujuran pada peserta Guru mempunyai dua peran penting, yaitu mengajar dan mendidik. Kedua tugas tersebut harus dijalankan guru secara bersamaan. Guru sangat berperan sekali dalam pendidikan dan pengajaran dalam membentuk karaktersiswa dalam bersosialisasi dengan masyarakat, baik masyarakat luas maupun masyarakat di lingkungan sekolah. Ki Suratman . menyebutkan bahwa seorang guru atau pamong berkewajiban mengajar dan mendidik. Mengajar berarti memberi ilmu pengetahuan, menuntun gerak pikiran serta melatih kecakapan atau kepandaiananak didik kita agar kelak menjadi orang yang pandai, berpengetahuan dan cerdas. Mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik kita supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila. Dalam kehidupan sikap jujur menjadi perihal penting yang patut dimiliki oleh setiap orang. Sikap ini dapat menjadi tolak ukur tentang baik dan tidaknya sikap seseorang tersebut. Dalam ajaran agama, sikap ini dapat dijadikan ukuran tentang keberimanan kepada Tuhan. Artinya, orang yang memiliki keimanan kepada Tuhan pasti akan selalu berupaya mengaktualisasikan nilai kejujuran dalam pergaulan/sikap keseharian. Maka tidak keliru dikatakan, jika kejujuran sangat berkorelasi dengan keimanan. Berdasarkan observasi awal di SD Hasyim AsyAoari bahwa masih banyak pembelajaran yang menekankan pada aspek kognitif. dibandingkan dengan aspek afektif . Selain itu guru juga sering terlihat kesusahan dalam menyusun Rencana Pelaksana Pembelajaran (RPP) dan masih kurangnya kegiatan yang diprogramkan sekolah yang ditujukan untuk membentuk karakter siswa. Adapun hanya kegiatan ekstrakulikuler pramuka dan pembelajaran pada umumnya selain itu tidak ada. Dan ketika observasi dikelas ketika pemebelajaran berlangsung, guru memberikan soal dipapan tulis untuk dikerjakan di buku tulis secara individu tetapi banyak peserta didik yang tidak jujur dalam mengerjakan tugas tersebut dengan mencontek atau mencari contekan dari teman agar tugas yang diberikan guru segera terselesaikan. Di setiap hari jumAoat peserta didik tidak belajar mata pelajaran tetapi di isi dengan keislaman seperti pembacaan surah yasin, tahlil dan sholawat bersama dari situlah peniliti mampu melihat dan menilai kejujuran peserta didik apakah mereka mengikuti kegiatan dengan sempurna atau banyak Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti memberikan identifikasi masalah yang akan dijadikan bahan tujuan penetilian yaitu mendeskripsikan implementasi nilai karakter kejujuran pada peserta didik di lingkukan sekolah dasar. Indikator keberhasilan karakter jujur yang digunakan sebagai acuan pada penelitian ini yaitu . tidak mencontek dalam mengerjakan ulangan, . mengungkapkan perasaan apa adanya dan . mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nila Hulaini mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Raden Fatah yang berjudul AuImplementasi Pendidikan Karakter Jujur Dalam Membentuk Kepribadian Siswa Kelas VII di SMPN 19 PalembangAy. Hasil penelitiannya menunjukkan tingginya implimentasi tingkat kejujuran peserta didik kelas Kelas VII di SMPN 19 Palembang. Selain itu. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syaiful Huda Mahasiswa Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul AuImplementasi Pendidikan Karakter Bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bina Anak Islam Krapyak Panggungharjo Sewon Bantul YogyakartaAy yang menunjukkan bahwa adanya beberapa kebisaan buruk sebagian siswa di rumah yang dibawa ke sekolah sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku beberapa siswa tersebut yang kemudian berimbas kurang baik pada siswa yang lain. Dan penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian oleh Rosalia Helga Amazona Mahasiswa Universitas Negri Yogyakarta yang berjudul AuImplementasi Pendidikan Karater Di Sekolah Dasar Islam Terpadu Hidayatullah YogyakartaAy. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nilai karakter yang paling menonjol adalah nilai karakter tekun, sedangkan nilai karakter paling sedikit yang diterapkan siswa adalah karakter jujur dan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif karena menyajikan data dalam bentuk kata-kata. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif. Hal ini peneliti ingin mengetahui implementasi nilai karakter kejujuran Peserta didikan di sekolah dasar. Tempat pelaksanaan dalam penelitian ini adalah SD Hasyim AsyAoari Surabaya, waktu penelitian 4 bulan yaitu dari bulan Agustus sampai Desember 2022. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini, melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain metode observasi dan wawancara secara mendalam untuk mendapatkan pemahaman tentang suatu fenomena atau masalah yang menarik perhatian di lingkungan sekolah yang diperoleh dari informasi penelitian. Jenis penelitian ini digunakan agar mendapat suatu pemahaman serta penafsiran secara mendalam mengenai nilai karakter kejujuran pada peserta didik di lingkungan sekolah. Pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiyono 2014:. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Sumber penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer yaitu observasi dan wawancara, sedangkan sumber data sekunder yaitu dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN karakter, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Menurut W. Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat. sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain. Sastrapradja menyebutkan bahwa karakter adalah watak, ciri khas seseorang sehingga ia berbeda dari orang lain keseluruhan. Kejujuran adalah tonggak utama dalam membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Bangsa yang berpegang teguh pada kejujuran adalah bangsa yang memiliki standar moralitas Namun anehnya sebagai bangsa yang mayoritas dihuni oleh penduduk muslim, budaya kejujuran masih belum dipegang teguh oleh bangsa ini. Kondisi ini dapat dilihat dari praktik korupsi yang masih sulit dihilangkan dari bangsa ini. Sejatinya, sebagai bangsa yang penduduk muslimnya besar kejujuran merupakan bagian dari yang tidak dapat dilepaskan dari negeri ini, tetapi kondisi ini masih belum dapat diwujudkan. Menurut Albert Hendra wijaya, kejujuran adalah kemampuan untuk mengakui, berkata atau memberikan sebuah informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran. Dalam ungkapan lain, seseorang yang jujur tidak akan sedikit pun merahasiakan setiap informasi yang bersifat benar. Justru ia akan senang hati menyampaikan informasi berkaitan tentang kebenaran kepada setiap orang yang membutuhkan informasi tersebut. Jujur memiliki tiga tempat, yaitu pada lisan, perbuatan dan hati. Jujur dengan lisan berarti mengucapkan setiap perkataan sesuai dengankebenaran, tidak mengurangi ataupun menambahkan atau berbicara sesuai dengan fakta yang terjadi. Adapun jujur dengan perbuatan adalah senantiasa melakukan perbuatan dengan benar, seperti tidak berbuat curang, tidak korupsi dan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang merugikan kemanusiaan. Sedangkan jujur dengan hati meyakini secara mendalam bahwa kejujuran merupakan bagian dari perintah Tuhan yang patut dilaksanakan oleh setiap manusia dan meyakini pula jika perbuatan tersebut akan mendatangkan kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat. Kecurangan mencontek ketika Ujian Ujian atau penilaian merupakan salah satu bentuk evaluasi pembelajaran baik berfungsi formatif maupun sumatif. Hasil dari evaluasi pembelajaran ini diharapkan mampu memberikan gambaran kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Pelaksanaan ujian yang efektif adalah siswa mengerjakan ujian dengan kemampuannya sendiri. Namun realitanya masih ada sebagian siswa yang melakukan kecurangan saat melaksanakan ujian. Penelitian dari Khodaie, et al. sebanyak 95% dari 336 siswa di sekolah Tehran mengaku pernah mencontek saat ujian. efektif adalah siswa mengerjakan ujian dengan kemampuannya sendiri. Namun realitanya masih ada sebagian siswa yang melakukan kecurangan saat melaksanakan ujian. Penelitian dari Khodaie, et al. sebanyak 95% dari 336 siswa di sekolah Tehran mengaku pernah mencontek saat ujian. Kecurangan akademik merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan untuk mendapatkan prestasi akademik yang baik. Kecurangan akademik muncul akibat beberapa faktor. Faktor-faktor pendorong perbuatan tersebut antara lain 10% dipengaruhi oleh kontrol diri, efikasi diri akademik, dan prestasi akademik dan 90% lainnya dipengaruhi oleh tingkat hukuman yang diberikan atas perilaku tersebut, pengaruh teman sebaya, persepsi terhadap materi dan pengajar serta faktor lainnya (Aulia, 2. Hal ini dapat dikatakan faktor eksternal justru berpengaruh besar dalam melakukan kecurangan akademik. Hamdani . menyebutkan faktor penyebab terjadinya perilaku menyontek ialah: . tidak mengerti dengan pelajaran yang disampaikan. rasa malas untuk belajar. berorientasi pada nilai. pengaruh teman dan lingkungan. Orientasi nilai atau tujuan untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik menjadi salah satu alasan kuat kenapa tindakan menyontek dilakukan (Anderman & Koenka, 2. Dalam dunia pendidikan, perilaku menyontek memang bukan hal yang Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa perilaku menyontek telah berkembang di berbagai kalangan, mulai dari tingkat pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cizek (Lusiane & Garvin, 2. disebutkan bahwa sepertiga dari usia siswa SD melakukan kecurangan akademik atau menyontek. Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Hariandi . yang mengatakan bahwa penyebab siswa melakukan perilaku curang ketika ujian adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan atau situasi yang mendukung untuk berbuat curang, contohnya ketika pengawas keluar dari ruangan ujian atau minimnya pengawasan ketika ujian berlangsung. Satuan Pendidikan (Sekola. , guru, dan orang tua memiliki peran penting dalam mengatasi kecurangan akademik yang dilakukan siswa. Menurut Sagoro . kecurangan akademik dapat diatasi jika terdapat sinergi antara siswa, guru, dan lembaga. Guru yang memiliki kemampuan kepemimpinan, saling bekerja sama, dan etos kerja yang tinggi ternyata memiliki tingkat kecurangan akademik yang rendah diantara siswanya (Ramberg & Modin, 2. Budaya penguasaan materi/kompetensi harus ditingkatkan dengan menjunjung tinggi tujuan pendidikan menjadi prioritas maka peluang melakukan kecurangan akademik lebih kecil dibandingkan budaya yang menjadikan nilai ujian sebagai prioritas (Day et al. , 2. Berkata tidak bohong Jujur dalam Bahasa Arab mengandung arti benar . Benar maknanya adalah benar dalam perkataan dan benar dalam perbuatan. Berlaku jujur dengan perkataan dan perbuatan mengandung makna bahwa dalam berkata harus sesuai dengan yang sesungguhnya dan sebaliknya jangan berkata yang tidak sesuai dengan yang sesungguhnya. Perkataan itu sendiri disesuaikan dengan tingkah laku perbuatan. Rasa saling percaya itu hanya tercipta karena ada kejujuran di antara masing-masing pihak. Sebaliknya, perbuatan bohong akan menimbulkan rasa saling membenci antara sesama teman. Rasa saling mempercayai antar sesama akan hilang dan akan tercipta suatu bentuk masyarakat yang tidak berlandaskan asas saling tolong-menolong atau gotong royong. Apabila bohong sudah merajalela ke dalam tubuh masyarakat, hilanglah rasa senang dan keakraban antara anggota-anggotanya. Di dalam proses belajar mengajar anak harus diperhatikan dan diposisikan sesuai dengan kemampuannya, serta pendidikan hendaknya lebih bersifat menolong berkembangnya pikiran kritis, tidak hanya berupa pemberian materi pelajaran yang tidak memenuhi kepada apa yang dibutuhkan anak. Karena itulah, kreatifitas itu harus diarahkan ke arah yang positif dan baik, terutama terkait dengan penanaman kepribadian yang baik, seperti berlaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus proaktif dalam hal ini. Guru harus segera mengingatkan dan memperbaiki jika ada perilalku yang tidak jujur di kelas, seperti : ketika anak bermain curang, berkata bohong, meminjam tanpa minta ijin, mencuri, tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau meminta maaf. Selain itu, pemberian hukuman bisa diberikan pada anak yang berbuat Namun pemberian hukuman merupakan pilihan yang paling akhir dan diberikan mulai dari yang paling ringan. Hukuman bisa diberikan jika anak telah memahami konsep baik buruk dengan benar. Mengakui Kesalahan Kerendahan hati perlu dibiasakan sejak dini, karena pola pembiasaan yang mendidik untuk membentuk karakter individu. Berawal dari pola pembiasaan mengakui kesalahan yang artinya adanya kesadaran akan ketidaksempurnaan diri dalam Berawal dari pola pembiasaan mengakui kesalahan yang artinya adanya kesadaran akan ketidaksempurnaan diri dalam kehidupan. Djajendra . mempertegas dengan mengakui kelemahan diri yang berarti adanya kesadaran akan ketidaksempurnaan diri dalam kehidupan. Mengakui ketidaksempurnaan diri berarti adanya kesadaran untuk setiap hari bersikap rendah hati, dan secara berkelanjutan memperbaiki diri, untuk bisa melayani kehidupan dengan kualitas diri yang lebih baik. Kesadaran diri dalam mengakui kesalahan, kesadaran diri untuk bertanggung jawab dalam memperbaiki kesalahan, dan kesadaran diri menjadi orang yang lebih baik, merupakan bagian nilai moral feeling yaitu kerendahan hati yang perlu ditumbuhkan untuk mendidik siswa dalam membentuk karakter dasar. Kesadaran diri . elf-awarenes. dalam kerendahan hati diartikan bahwa untuk menjadi orang yang rendah hati mampu menyadari ketidaksempurnaan yang ada di dalam dirinya dan orang lain. Artinya siswa mampu memahami dan menerima kelemahan dan kelebihan diri sendiri dan orang lain . iswa lai. Pada dasarnya, peneliti masih menemukan peserta didik di SD yang belum menampakkan perilaku atau sikap kesadaran diri dalam mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Mengakui kesalahan dan kelemahan diri berarti sadar akan ketidaksempurnaan diri dalam kehidupan. Hal yang perlu digarisbawahi, bahwa kerendahan hati bukan merupakan perilaku atau sikap yang dapat dilihat secara langsung, melainkan kerendahan hati merupakan nilai yang ada di dalam diri yang dapat teramati melalui transaksi . omunikasi percakapa. , tindakan perbaikan yang ditunjukkan dengan tingkah laku. Perbedaan pendapat atau pemikiran yang terjadi antar remaja, kesalahpahaman, perselisihan, perkelahian, konflik merupakan bentuk kejadiankejadian yang tidak jauh dari kehidupan siswa saat ini yang dikarenakan tidak memiliki kesadaran diri dalam mengakui kesalahan dan bertanggung jawab memperbaiki kesalahan. Orang yang rendah hati bersedia mengakui batasan atau kesalahannya, tidak egois (Emmons, 2000. Exline et al, 2004. Myers, 1995. Rowatt et al, 2006 dalam Elliott, 2. Lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya, dan memilih untuk tidak menonjol dirinya di tengah orang banyak (Peterson & Seligman, 2004 dalam Elliott, 2. Selain itu orang yang rendah hati tidak berpikir mereka lebih baik daripada lain, tetapi cenderung menjadi sederhana, dan tidak menyombongkan diri atau menarik perhatian yang tidak semestinya untuk dirinya sendiri (Ashton &Lee, 2005. Exline et al, 2004. Owens, 2010. Tangney, 2000. dalam LaBouff. Rowatt. Johnson. Tsang. J, 2. Kesimpulan dan Saran Indikator keberhasilan karakter jujur yang digunakan sebagai acuan pada penelitian ini yaitu . tidak mencontek dalam mengerjakan ulangan, . mengungkapkan perasaan apa adanya dan . mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki. Peserta didik mampu berperilaku jujur dengan cara mengurangi nyontek teman, bohong dan selalu berusaha mengakui kesalahan ketika DAFTAR PUSTAKA