PEMBERIAN TEH BUNGA ROSELLA TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RT 014 PULO GEBANG JAKARTA TIMUR Abstrak STUDI KASUS Azzahra Putri Ramadhia Rakhmat Isnayati 2* Elfira Awalia Rahmawati 3 Dimas Utomo Hanggoro Putro 4 1,2,4Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: Isnayati email: isnayati@akper-pelni. Pendahuluan: Hipertensi penyakit kardiovaskuler dimana terjadi peningkataan tekanan darah melebihi batas nilai normal yang terjadi dalam pembuluh darah sehingga menggangu suplai oksigen dan nutrisi kejaringan. Salah satu terapi Nonfarmakologi untuk menurunkan tekanan darah yaitu dengan meminum teh bunga rosella . ibiscuss safdariff. Kandungan aktif dalam rosella seperti, threonine, leucin, alanin, thiamine dan asam askorbat yang berfungsi sebagai diuretic dan menjaga elastisitas dinding pembuluh darah arteri, yang diyakinin mampu menurunkan tekanan darah. Kandungan asam organic dan flavonoid yang aktif dapat membantu meningkatkan aliran darah dengan mengurangi kekentalaan darah, sehingga kerja jantung lebih Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis intervensi pemberian teh bunga rosella . ibiscuss safdariff. terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di RT 014 Pulogebang Jakarta Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Responden yang diteliti sebanyak 2 responden, responden I berusia 45 tahun dan responden II berusia 46 tahun. Instrumen yang digunakan adalah sphygmomanometer. SOP pembuatan rebusan teh bunga rosella, lembar observasi. Intervensi pemberian teh bunga rosella dilakukan selama 7 hari dan 2 kali dalam sehari yaitu, pagi hari pukul 08. 00 dan malam hari pukul 20. Hasil: Penelitian pada responden I Pre 158/94 mmHg dan Post 130/82 mmHg, hasil responden II Pre 159/99 mmHg dan Post 127/81 mmHg. Kesimpulan: Terdapat penurunan tekanan darah yang signifikan setelah diberikan teh bunga Kata Kunci: Hipertensi Teh Bunga Rosella Hibiscuss Safdariffa Tekanan Darah Diterima: 03 Juli 2025 Diperbaiki: 17 Juli 2025 Dipublikasikan: 31 Juli 2025 E-ISSN Sitasi artikel ini: Rakhmat. Isnayati. Rahmawati. , & Putro. Pemberian Teh Bunga Rosella Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Rt 014 Pulo Gebang Jakarta Timur. Volume 2 . , 56-65. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler dimana terjadi peningkataan tekanan darah melebihi batas nilai normal yang terjadi dalam pembuluh darah sehingga menggangu suplai oksigen dan nutrisi kejaringan (Cahyadi et al. , 2. Menurut Word Health Organization (WHO), 2020 prevalensi hipertensi didunia sebesar 26. 4% pada tahun 2021 menjadi 29,2%. Pada tahun 2023 menurut Kementrian Kesehatan pravalensi hipertensi di Indonesia sekitar 30,8%, hasil evaluasi data penduduk penderita hipertensi tertinggi dirange usia 55-64 . ,2%) dan usia 45-54 . ,3%) karena,bertambahnya usia Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 RAKHMAT. ISNAYATI. RAHMAWATI. , & PUTRO. e-ISSN: 3089-34337 terjadi proses penuan mengakibatkan gangguan mekanisme neurohormonal perubahan pada arteri didalam tubuh menjadi sempit dan kaku dan aliran pembuluh darah berkurang menyebabkan tekanan darah meningkat. Menurut penelitian Putra & Susilawati, 2022 pravalensi hipertensi Indonesia mencapai 63. 620 jiwa, kota DKI Jakarta merupakan salah satu kota dengan pravalensi hipertensi yang tinggi, pada Jakarta Timur jumlah pravalensi hipertensi 35,45%. Jakarta Barat 33,21%. Jakarta Utara 31,97% dan Jakarta selatan 29,93%, hal ini disebabkan gaya hidup tinggi diperkotaan dan berdampak munculnya gaya hidup tidak sehat Hal ini dapat berpotensi menimbulkan masalah pada kesehataan (Andriani. , 2. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan secara farmakoterapi dengan mengkonsumsi obat antihipertensi seperti, diuretic. ACE-inhibitor. CCB. ARB, dan beta blocker. Penatalaksaan non-farmakoterapi meliputi, perubahan gaya hidup sehat seperti, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alcohol, menjaga berat badan, istirahat cukup dan mengkonsumsi minuman herbal, contoh minuman herbal penderita hipertensi adalah jus delima, jus belimbing, jus tomat, buah bit dan teh bunga rosella Rosella (Hibiscus Sabdariff. (Aritonang et al. , 2. Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariff. tanaman berasal dari keluarga famili malvaceae mempunyai manfaat dibidang kesehataan (Wiyarsi. , 2. kandungan aktif dalam rosella seperti, threonine, valine, leucin, glysin, alanin, thiamine dan asam askorbat yang berfungsi sebagai diuretic dan menjaga elastisitas dinding pembuluh darah arteri, yang diyakinin mampu menurunkan tekanan darah. Hasil penelitian yang dilakukan (Brahmantia et al. , 2. penelitian dilakukan kepada 18 responden selama 7 hari dengan takaran bunga rosella 10 gr dan 200 ml air. Ditemukan bahwa pemberian seduhan bunga rosella memiliki dampak yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah. Sebelum mengkonsumsi rebusan teh bunga rosella tekanan darah sistolik 166 mmHg menjadi 150 mmHg dan diastolik 93 mmHg menjadi 88 mmHg. Penelitian yang dilakukan (Andriani, 2. dilingkungan puskesmas Pariaman. Penelitian dilakukan kepada 18 responden selama 10 hari dengan takaran bunga rosella 5 gr dan 250 ml air. Sebelum mengkonsumsi rebusan bunga rosella tekanan darah sistolik 153 mmHg menjadi 136 mmHg dan diastolic 93 mmHg menjadi 82 mmHg. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari rebusan teh bunga rosella dalam menurunkan tekanan darah. Didukung prevalensi hipertensi di Indonesia dan banyak penelitian tentang efektivitas teh rosella. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Ay Rebusan Teh Bunga Rosella Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di RT 014 Pulogebang Jakarta TimurAy. Tujuan penelitian ini Melakukan analisis intervensi pemberian teh bunga rosella terhadap penurunan tekanan darah pada pasien penderita hipertensi. METODE Desain penelitian menggunakan desain studi kasus. Penelitian dilakukan pada 2 orang responden yang akan dilaksanakan selama 7 hari mulai tanggal 26 Agustus Ae 3 September 2024 di Rt 014 Pulogebang Jakarta Timur. Populasi pada penelitian ini adalah warga penderita hipertensi di RT 014 Pulogebang. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rakhmat. Isnayati. Rahmawati. , & Putro. e-ISSN: 3089-34337 Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 2 responden. Kriteria inklusi yang digunakan pada penelitian ini: . Responden kooperatif. Responden berusia 45-54 tahun. Responden dengan klasifikasi pre-hipertensi dan hipertensi . Responden yang mengkonsumsi obat secara tidak teratur. Responden yang tidak menderita penyakit GERD. Responden tidak alergi bunga rosella Kriteria Eksklusi yang digunakan dalam penelitian ini: . Responden yang tidak bersedia dan tidak kooperatif. Responden yang memiliki hipertensi komplikasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah spghymomanometer yang digunakan untuk mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah meminum rebusan teh bunga rosella, lembar observasi untuk mencatat hasil tekanan darah sebelum dan sesudah minum rebusan teh rosella, lembar observasi untuk mencatat responden minum atau tidak rebusan teh rosella, lembar kuesioner dan SOP pembuatan teh rosella dan pemeriksaan tekanan darah HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik responden Initial Nama Usia Ny. BB/TB (IMT) Riwayat Hipertensi Thn 85 Kg 7 Tahun 160 Cm . Ny. Thn 5 Tahun . ,1 ) Sumber: Data Primer . Responden I Responden penelitian I bernama Ny. S berusia 45 tahun jenis kelamin perempuan, lahir pada tanggal 1 Oktober 1978, beragama Islam, suku Sunda, pendidikan terakhir SMK, pekerjaan sebagai wirausaha, tinggi badan 160 cm, berat badan 85 kg dan Indeks Masa Tubuh (IMT) 33,2 ( obesitas ), tekanan darah 156/95 mmHg, riwayat hipertensi sudah 7 tahun dan sudah melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehataan, responden tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol, tidak melakukan diit khusus dan responden sering mengkonsumsi makanan asin berlebih dan tidak berolahraga rutin Responden II JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RAKHMAT. ISNAYATI. RAHMAWATI. , & PUTRO. e-ISSN: 3089-34337 Responden penelitian II ini bernama Ny. A, berusia 4 tahun, jenis kelamin perempuan, lahir pada tanggal 5 Juli 1977, beragama Islam, suku Jawa. Pendidikan terakhir SMA, pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga, tinggi badan 155 cm, berat badan 53 kg dan Indeks Masa Tubuh (IMT) 22,1 . , tekanan darah 158/97 mmHg, riwayat hipertensi sudah 5 tahun dan sudah melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehataan. Responden tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol, tidak melakukan diit khusus dan responden sering mengkonsumsi makanan asin berlebih dan sering Kondisi sebelum intervensi 1 Responden I Hasil observasi pemeriksaan tanda- tanda vital dan wawancara kepada responden tanggal 25 Agustus 2024, di dapatkan hasil tekanan darah 156/95 mmHg. Suhu 36,5 c. Nadi 82 x/menit, pernafasaan 18 x/menit. Saturasi Oksigen 99%. Responden mengatakan pernah berobat kefasilitas kesehatan dan diberikan obat anti-hipertensi amplodipien 10 mg dan tidak mengkonsumsi obat secara teratur. Responden mengatakan sudah 3 hari belakangan sering merasakan sakit kepala, pusing, panas ditengkuk dan merasa kelelahan berlebih ketika pulang berjualan, responden mengatakan pola makan tidak teratur seperti, mengkonsumsi jajanan makanan mengandung asin berlebih dan tinggi lemak, sehingga berpengaruh pada kestabilan berat badan. 2 Responden II Hasil observasi pemeriksaan tanda- tanda vital dan wawancara kepada responden tanggal 25 Agustus 2024, di dapatkan hasil Tekanan Darah 158/97 mmHg. Suhu 37. 0 c. Nadi 84 x/menit, pernafasaan 19 x/menit. Saturasi Oksigen 99%. Responden mengatakan kemarin merasakan pusing dan pandangan matanya kabur, selesai membersihkan rumah kaki sering terasa kebas dibagian sebelah kanan dan merasakan dada berdebar-debar. Namun tetap saja responden tidak mengkonsumsi obat antihipertensi, hanya mengkonsumsi obat warung untuk menghilangkan nyeri Responden mengatakan pola makanya tidak teratur dan selalu mengkonsumsi makanan yang asin, sering bergadang dimalam hari karena anaknya rewel dan terkadang berolahraga jalan Kondisi setelah intervensi 1 Responden I Dalam penelitian yang dilakukan selama 7 hari berturut turut dapat mengevaluasi hasil dari intervensi pemberian teh bunga rosella, sebelum dilakukan intervensi responden I mengeluh sering merasakan pusing, sakit kepala dan disertai panas ditengkuk, kelelahan yang berlebihan ketika setelah melakukan aktivitas, seperti berjualan, sering merasakan kebas pada malam hari biasanya terjadi dibagian kaki sebelah kanan ataupun keduanya. Hasil pemeriksaan tekanan darah sebelum JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rakhmat. Isnayati. Rahmawati. , & Putro. e-ISSN: 3089-34337 dilakukan intervensi adalah : 156/95 mmHg, setelah diberikan terapi minum rebusan teh bunga rosella rasa pusing, sakit kepala, panas ditengkuk, rasa kebas saat malam hari mulai berkurang dengan hasil tekanan darah: 130/82 mmHg, yang artinya terjadi penurunan tekanan darah yang 2 Responden II Dalam penelitian yang dilakukan selama 7 hari berturut turut dapat mengevaluasi hasil dari intervensi pemberian teh bunga rosella, sebelum dilakukan intervensi responden I mengeluh jarang merasakan pusing dan sakit kepala, tetapi responden mengeluh matanya berkunang kunang, rasa berdebar debar dibagian dada / jantung, pada bagian tengkuk sering terasa panas, dan bagian pundak hingga kaki bagian sebelah kanan sering terasa pegal-pegal dan kebas terutama saat melakukan aktivitas pekerjaan rumah, sering tidak bisa tidur di malam hari. hasil pemeriksaan tekanan darah sebelum intervensi adalah 158/99 mmHg, setelah diberikan terapi rebusan teh bunga rosella rasa panas ditengkuk berkurang, pegal-pegal kebas dibagian pundak hingga kaki berkurang, rasa berdebaar-debar dibagian dada/jantung berkurang dan jam istirahat ataupun tidur mulai membaik dengan hasil tekanan darah : 127/81 mmHg, yang artinya terjadi penurunan tekanan darah yang cukup signifikan. Perbandingan 1 Responden I Gambar 1. Hasil perbandingan tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi Sumber: Data Primer . Dari hasil grafik diatas dapat disimpulkan bahwa responden I mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan, dilihat dari hasil pengukuran tekanan darah sistole dan diastole sebelum intervensi pemberian teh bunga rosella pada pagi hari, didapatkan hasil tekanan darah sistolik 158 JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RAKHMAT. ISNAYATI. RAHMAWATI. , & PUTRO. e-ISSN: 3089-34337 mmHg dan tekanan diastolik 94 mmHg dan sesudah dilakukan intervensi didapatkan hasil tekanan darah sistolik 137 mmHg dan tekanan darah diastolik 82 mmHg, dengan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 21 mmHg dan tekanan darah diastolik 12 mmHg. sebelum intervensi pemberian teh bunga rosella pada malam hari, didapatkan hasil tekanan darah sistolik 156 mmHg dan tekanan diastolik 95 mmHg dan sesudah dilakukan intervensi didapatkan hasil tekanan darah sistolik 130 mmHg dan tekanan darah diastolik 82 mmHg, dengan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 26 mmHg dan tekanan darah diastolik 13 mmHg. 2 Responden II Gambar 2. Hasil perbandingan tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi Sumber: Data Primer . Dari hasil grafik diatas dapat disimpulkan bahwa responden II mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan, dilihat dari hasil pengukuran tekanan darah sistole dan diastole sebelum intervensi pemberian teh bunga rosella pada pagi hari, didapatkan hasil tekanan darah sistolik 159 mmHg dan tekanan diastolik 99 mmHg dan sesudah dilakukan intervensi didapatkan hasil tekanan darah sistolik 130 mmHg dan tekanan darah diastolik 82 mmHg, dengan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 29 mmHg dan tekanan darah diastolik 17 mmHg. sebelum intervensi pemberian teh bunga rosella pada malam hari, didapatkan hasil tekanan darah sistolik 156 mmHg dan tekanan diastolik 97 mmHg dan sesudah dilakukan intervensi didapatkan hasil tekanan darah sistolik 127 mmHg dan tekanan darah diastolik 81 mmHg, dengan. rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 29 mmHg dan tekanan darah diastolik 16 mmHg. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rakhmat. Isnayati. Rahmawati. , & Putro. e-ISSN: 3089-34337 PEMBAHASAN Usia Terapi pemberian teh bunga rosella mengambil 2 responden yang berusia 45-54 tahun. Berdasarkan penelitian (Adila & Mustika. , 2. menjelaskan adanya hubungan bertambahanya usia dengan peningkatan tekanan darah. Kelompok usia 45-64 tahun memiliki risiko tinggi hipertensi karena, perubahan fungsi sistem kardiovaskuler, terjadinya penumpukan kolagen dilapisan otot dan dinding ventrikel kiri, yang mengakibatkan pembuluh darah arteri akan mengalami penyempitan dan menjadi lebih kaku, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Hasil penelitian ini, responden II berusia lebih tua dibandingkan responden I. Tetapi hasil penurunan tekanan darah responden II lebih tinggi dibanding responden I, hal ini dikarenakan aktivitas rutin dan olahraga ringan yang dilakukan responden II membantu menjaga kestabilan tekanan darah karena, olahraga rutin dan aktivitas rutin merupakan salah satu cara mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah, hal ini sejalan penelitian oleh (Ekawati. Jenis kelamin Kedua responden yang diberikan intervensi teh bunga rosella berjenis kelamin perempuan, dikarenakan saat berusia 45-64 tahun memiliki risiko tinggi terkena hipertensi, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yunus & Chandra. , 2. menunjukan fase pra- menopause pada perempuan secara bertahap menyebabkan kehilangan hormone estrogen yang berperan dalam melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Penurunan produksi ekstrogen pada perempuan akan berdampak pada kesehataan kardiovaskuler, yang mengakibatkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Obesitas Obesitas menjadi faktor resiko dari hipertensi. berdasarkan perhitungan indeks masa tubuh (IMT) menunjukan responden I dalam kategori obesitas yaitu 33. Sejalan penelitian (Ulfa & Tiara, 2. , individu yang mengalami kelebihan berat badan ( obesitas ) memerlukan lebih banyak volume darah untuk menyuplai nutrisi dan oksigen ke jaringan tubuh, mengakibatkan volume darah beredar dalam pembuluh darah akan meningkat, yang meningkatkan kerja jantung dan berpotensi menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik. Berdasarkan hasil penelitian, penurunan tekanan darah pada responden II lebih tinggi dibandingkan responden I, hal ini berkaitan berat badan responden II diangka normal, dengan IMT 22,1. Sejalan penelitian yang dilakukan oleh (Sukmawaty. , 2. menjelaskan bahwa berat badan merupakan salah satu peran penting yang harus diperhatikan, karena seseorang yang mengalami kegemukan mempunyai resiko tinggi dimana terjadinya peningkatan lemak pada jaringan dan peredaran darah sehingga sirkulasi darah tidak berjalan lancar di dalam tubuh. Genetik Genetik salah satu penyebab terjadinya hipertensi responden yang memiliki faktor hipertensi berisiko tinggi untuk mengalami hipertensi akibat pengaruh genetik yang diturunkan dari orang tua mereka. Pewarisan sifat melalui gen dari JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RAKHMAT. ISNAYATI. RAHMAWATI. , & PUTRO. e-ISSN: 3089-34337 keluarga tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi dalam keluarga. Hal ini berhubungan dengan tingginya kadar sodium di dalam sel dan rendahnya rasio potassium terhadap sodium penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hadi et al. , 2. Hal ini terjadi pada responden II pada penelitian ini, responden mengatakan memiliki keturunan hipertensi dari kedua orang tuanya, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wahyuni. , 2. menunjukan bahwa individu dengan orang tua yang memiliki hipertensi mempunyai risiko dua kali lipat lebih besar untuk menderita penyakit hipertensi dibandingkan orang yang tidak memiliki riwayat hipertensi, tetapi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pola hidup dan pola makan Pola makan Pola makan dapat menyebabkan hipertensi, didapatkan hasil penelitian kedua responden memiliki kebiasaan pola makan tidak sehat seperti, responden I mengkonsumsi makanan yang asin dan berlemak tinggi dan responden II mengkonsumsi makanan yang asin. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Sekar at el. , 2. menunjukan tingginya konsumsi garam berlebih berdampak pada ukuran diameter arteri yang mengecil karena penumpukan atrium, sehingga menyebabkan jantung harus lebih besar dalam memompa volume darah dibandingkan dalam keadaan normal, hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Penelitian yang dilakukan Khairunnissa. makanan yang mengandung lemak jenuh menyebabkan terjadinya hipertensi, karena kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh dapat meningkatkan berat badan dan meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis yang berkaitan dengan terjadinya peningkatan tekanan darah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, responden I memiliki berat badan yang berlebih karena responden I tidak bisa mengontrol pola makan, salah satunya adalah sering mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh seperti, goreng- gorengan dan junkfood sehingga menyebabkan terjadi peningkatan berat badan yang signifikan. Aktivitas fisik Aktivitas fisik menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah, hal ini dilihat hasil penelitian bahwa responden I dan II mengalami peneingkatan tekanan darah setelah melakukan aktivitas yang berlebihan selama Seperti responden I, responden I memiliki aktivitas yang cukup berat dan tidak diiringi olahraga ringan dan responden II yang memiliki aktivitas rutin dan olahraga rutin. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan penurunan tekanan darah pada kedua responden. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Kadek et al. , 2. menjelaskan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan dengan benar, teratur, frekuensi dan durasi sesuai dapat membantu menurunkan tekanan darah. Melakukan aktivitas fisik yang cukup berfungsi untuk memperkuat jantung. Jantung yang kuat dapat memompa lebih banyak darah dengan usaha yang lebih sedikit. Oleh karena itu, semakin ringan kerja jantung semakin rendah tekanan yang di terima pembuluh darah arteri, sehingga tekanan darah dapat menurun, menyebabkan hasil penurunan tekanan darah responden II lebih signifikan disbanding responden. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rakhmat. Isnayati. Rahmawati. , & Putro. e-ISSN: 3089-34337 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di lingkungan RT 014 Pulogebang. Jakarta Timur, intervensi pemberian teh bunga rosella selama 7 hari dengan frekuensi dua kali sehari . agi dan mala. efektif menurunkan tekanan darah pada dua responden penderita hipertensi. Sebelum intervensi, kedua responden berada dalam kategori hipertensi tahap 1. Setelah intervensi, tekanan darah mereka menurun ke kategori prehipertensi. Responden I mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 28 mmHg dan diastolik sebesar 12 mmHg, sedangkan responden II mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 32 mmHg dan diastolik sebesar 18 mmHg. Hasil ini menunjukkan bahwa teh bunga rosella memiliki potensi sebagai alternatif alami dalam membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan para pihak yang terlibat dalam penelitian ini. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang timbul pada saat melakukan penelitian ini. PENDANAAN Penelitian ini tidak dibayai oleh pihak manapun dan menggunakan dana pribadi. KONTRIBUSI PENULIS Azzahra Putri Ramadhia Rakhmat: Penulis utama, konseptualisasi, metodologi, analisis, dan referensi Isnayati: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Elfira Awalia Rahmawati: Validasi, analisis formal, dan kurasi data Dimas Utomo Hanggoro Putro: Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCID Azzahra Putri Ramadhia Rakhmat ORCiD ID: Tidak tersedia Isnayati ORCiD ID: https://orcid. org/0009-0005-6290-6785 Elfira Awalia Rahmawati ORCiD ID: https://orcid. org/0000-0002-0383-2203 Dimas Utomo Hanggoro Putro ORCiD ID: https://orcid. org/0000-0002-6265-8743 JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RAKHMAT. ISNAYATI. RAHMAWATI. , & PUTRO. e-ISSN: 3089-34337 REFERENSI