Volume 06. Nomor 02. Desember 2023 Naskah Masuk: 26 September 2023. Direvisi: 28 Oktober 2023. Diterima: 2 Desember 2023. Diterbitkan: 20 Desember 2023 DOI https://doi. org/10. 123/1234 Al-Musthpfa. JSI by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. International License Rekonstruksi Peran Dan Fungsi Masjid Sebagai Ruang Publik (Studi Kasus Masjid Namira Lamonga. Khurul Aimmatul Umah Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan. Indonesia Email: khurulaimmah12@gmail. Avif Alfiyah Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan. Indonesia Email: vie. joeha@gmail. Abstract: The reality that there is a society has undergone a change and so the masjid has also experienced its development, both in terms of buildings and Inevitably entering the millennium there is a new problem which is the effect of rapid social change, namely the narrowing of the function of the masjid. Therefore, in this case, it acts as a human life guide, namely religion, which must carry out its function as a controlling agent of social change that has an impact on social life. This study aims to find out how the dynamics of the development of Namira Masjid are reviewed from the manager's perspective in optimizing the function and role of the masjid. The researcher used a qualitative research method with a phenomenology approach with the technique of collecting data through observation and interviews. Qualitative research was chosen as the type of research in this study because it was judged to be used to reveal and understand the social phenomena that exist in society. The role of Namira masjid as an optimal public space is directed at strengthening-strengthening in several aspects that must be a priority, namely: First, optimizing the function of the Hissiyah . Second, optimizing the function of the masjid in the aspect of meaning . Third, optimizing the function of the masjid in the aspects of ijtimaAoiyah . ll Because the essence of the function of the masjid is not only as a place of prayer alone, the masjid is the center of all activities both for worship that have vertical encounters . ablun minalla. and horizontal worship services . ablun Keywords: Functions. Public spaces, and Masjid Abstrak: Optimalisasi fungsi masjid sebagai ruang publik merupakan penelitian yang menekankan pada kajian mengenai gambaran masjid yang menerapkan fungsi ruang publik dengan melakukan penelaahan terhadap peran pengelola masjid dalam upaya membentuk fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika perkembangan Masjid Namira ditinjau dari perspektif pengelola dalam mengoptimalkan fungsi dan peran masjid. KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan teknik mengumpulkan data melalui pengamatan dan wawancara. Penelitian kualitatif dipilih menjadi jenis penelitian dalam penelitian ini karena dinilai dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami fenomena sosial yang ada dalam Masyarakat. Peran masjid Namira sebagai ruang publik sudah mulai diarahkan untuk penguatanpenguatan pada beberapa aspek yang harus menjadi prioritas yaitu: Pertama, mengoptimalkan fungsi masjid aspek hissiyah . Kedua, mengoptimalkan fungsi masjid pada aspek maknawiyah . Ketiga, mengoptimalkan fungsi masjid pada aspek ijtimaAoiyah . egala Karena hakikatnya fungsi masjid bukan hanya sebagai tempat shalat semata, masjid merupakan pusat segala aktivitas baik untuk ibadah yang bemuansa vertikal . ablun minalla. maupun ibadah-ibadah yang horisontal/muarnalah . ablun minanna. Kata kunci: Fungsi. Ruang Publik, dan Masjid PENDAHULUAN Fungsi masjid secara luas seharusnya bisa berfungsi secara optimal, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga kegiatan-kegiatan lain. Masjid sebagai pusat dakwah hal ini diungkapkan oleh (Usman 2. , (Alghamdy 2. , (Mustofa 2. , (Muhammad Irham 2. , (Elkhateeb 2. dan juga masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi ummat hal ini diungkapkan oleh (Jawahir. Muhammad 2. , (Rahmawati 2. Hal ini seperti masjid Namira yang telah mengalami perkembangan yang cukup signiAkan sehingga dapat mengembangkan kesalehan personal maupun kesalehan sosial. Masjid Namira memiliki seperti masjid pada umumnya yang mempunyai rencana kegiatan, ataupun visi dan misi, agar masjid mempunyai perkembangan fungsi, dengan demikian kegiatannya bisa dikaitkan dengan kebutuhan jamaAoah dari berbagai bidang kehidupan, seperti ibadah, kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Masjid tetap hanya sebagai tempat penyelenggaraan ibadah semata, yang artinya masjid hanya berfungsi sebagai pusat pembinaan mental spiritual, akan tetapi penyelenggaraan ibadah semakin Padahal, peran strategis masjid bukan hanya sekedar itu melainkan sebagai pusat memberdayakan, pembinaan dalam upaya melindungi, dan mempersatukan umat untuk mewujudkan umat yang berkualitas, masjid pada umumnya hampir tidak memiliki kepedulian needs jamaAoah nya. Penelitian ini mencoba mengamati optimalisasi perkembangan dan dinamika sebuah masjid yang ada di Kota Lamongan yang bernama masjid Namira merupakan salah satu masjid yang cukup banyak memiliki aktivitas dalam pembangunan tatanan moral dalam masyarakat dan sampai saat ini masjid Namira menjadi tujuan wisata religi salah satunya KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH karena optimalnya sebuah fungsi masjid itu snediri. Tentunya dari semua kegiatan yang ada di masjid ini, peran pengelola masjid begitu besar dalam membentuk sebuah ide dan gagasan untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan untuk mengaplikasikan fungsi masjid yang sesungguhnya, penelitian ini juga mencoba melihat peran pengelola masjid dalam menciptakan kultur di Masjid Namira beserta dinamika-dinamika yang ada dalam perjalanannya. Kemudian beranjak dari semua itu, penelitian ini juga akan mencoba menyelami terjadinya optimalisasi fungsi masjid di era modern ini. KAJIAN PUSTAKA Istilah AuRuang PublikAy merupakan suatu istilah yang tidak asing terdengar dalam kajian studi social, politik, dan humaniora. Konsep AuRuang PublikAy sendiri memiliki perkembangan makna serta menjadi populer dalam pembahasan para ilmuwan social. AuRuang PublikAy dalam Inggris dikenal dengan Public sphere, dan di Jerman dikenal dengan istilah Offentlichkeit. Di dalam bahasa Jerman proses pembentukan kata benda Offentlichkeit berasal dari kata sifat yang lebih tua, offentlich, yang sudah berlangsung pada abad ke-18 (Habermas 2. , yang maknanya sejalan . dengan AuPubliciteAy dalam bahasa Perancis, lalu dalam bahasa Inggris dikenal dengan AuPublicityAy. Istilah kata AupublikAy (Publi. dan AukepublikanAy (Publicit. bukan berasal dari bahasa Indonesia, namun istilah ini sudah ada dilacak hingga zaman Yunani dan Romawi Kuno (Hadirman 2. Konsep Public ditelisik lahir bersamaan dengan terbentuknya polis (Negara Kot. di Yunani yang juga bertepatan tempat kelahirannya dengan tempat kelahiran istilah politik. Sedangkan dalam masyarakat Romawi ditemukan bahwasanya terdapat dua makna dalam Selain pengenalan istilah Public dilacak sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno, istilah Public juga menjadi perbincangan pada pertengahan abad ke-17 di Inggris Raya. Sedangkan di Perancis istilah yang menjadi perbicangan ialah le Publica yang pada abad ke-18 dikenal dengan istilah publikum. Kemudian di Jerman juga tidak lepas dari pengaruh istilah ini pada waktu itu yang penyebarannya dimulai dari Berlin, menurut Worterbuch-nya Grimm. Dialog mengenai ruang publik juga tidak terlepas dengan sebuah konsep dari Habermas yang dipaparkan lengkap disertai studi kasusnya dalam buku AuRuang Publik Masyarakat BorjouisAy. Habermas menelaah suatu kajian terkait peran dan dampak Public sphere dalam membentuk suatu perubahan sosial. Ia lebih menekankan pembahasannya dengan mengambil sebuah sampel di negara- negara di Eropa. Penelitian ini menjadi berbeda dengan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya yang ada dalam pembahasan ini. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan peneliti mencoba menelisik fungsi lain masjid disamping KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH menjadi tempat beribadah namun juga menjadi ruang publik (Boulahnane Tabel 2. Persinggungan ciri Masjid dan Ruang Publik Masjid (Rumah Allah/Baitulla. Ruang Publik Terjadi Interaksi sosial di dalamnya Terjadi interaksi sosial di Bersifat umum, meskipun tidak selalu Bersifat umum, meskipun tidak dapat dimasuki semua orang dapat dimasuki semua orang Tempat penyampaian dan Tempat dimana pembahasan dandialog-dial pembahasanopiniopini publik dan lebih luas lagi terkait ilmu dunia dan akhirat Tempat mencurahkan ide dan Tempat mencurahkan ide dan gagasanuntuk membentuk perubahan social perubahan social sesuai tuntunan ajaran Islam Sumber: Penjabaran Ruang Publik dan Penjelasan Fungsi Masjid oleh (Ayub, 2. Apabila melihat tabel diatas terdapatlah sebuah gambaran persinggungan ciri Masjid dan Ruang Publik. Diantaranya terdapat suatu hubungan dan kemiripan fungsi. Namun meskipun demikian, ruang publik tidaklah harus musti berada di masjid. Namun masjid pada dasarnya selain digunakan untuk tempat beribadah juga dapat digunakan untuk fungsi ruang publik meskipun lebih mengakomodir kalangan Islam (Irfany. Wulan, and Fitri 2. Tentunya ruang publik yang ada di masjid merupakan ruang publik yang dibatasi oleh norma-norma ajaran Islam, karena pada esensinya pendirian bangunan ini difungsikan untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian arah pembahasan maupun aplikasi fungsi yang terjadi di masjid sehingga menimbulkan suatu hasil tertentu memiliki tuntunan-tuntunan yang telah ada dan arahan dalam ajaran Islam. berbeda dengan ruang publik dalam penjelasan Habermas, dimanaruang publik yang dibentuk pada penjabarannya bersifat bebas METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian harus disertakan dalam artikel yang diajukan. Metodologi penelitian berisi tentang rancangan penelitian yang akan digunakan yaitu: pengumpulan informasi/ data pendukung, populasi dan penetuan sampel, alat analisis yang digunakan, menguraikan langkahlangkah untuk menganalisis . endefinisikan variabel, teknik komputas. serta penjelasan asumsi. Metodologi dapat menggambarkan teknik atau prosedur analisis data. KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Optimalisasi fungsi masjid sebagai ruang publik merupakan penelitian yang menekankan pada kajian mengenai gambaran masjid yang menerapkan fungsi ruang publik dengan melakukan penelaahan juga terhadap peran pengelola masjid dalam upaya membentuk fungsi itu serta mencari tahu bagaimana terjadinya trasformasi ruang publik di masjid Namira. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi (Nencioni 2. Penelitian kualitatif biasa dikaitkan dengan teknik mengumpulkan data melalui pengamatan dan Penelitian kualitatif dipilih menjadi jenis penelitian dalam penelitian ini karena dinilai dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami fenomena sosial yang ada dalam masyarakat. Disamping itu jenis penelitian ini juga dapat mencari tahu tentang suatu fenomena yang belum banyak diketahui, sehingga peneliti bisa mencari tahu lebih banyak secara mendalam terkait objek penelitian. Penelitian kualitatif juga memiliki kelebihan dapat memberikan rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh penelitian kuantitatif (Sugiyono 2. Dalam penelitian ini peneliti berusaha masuk kedalam dunia konseptual dari subjek penelitian. Bagaimanakah terjadinya optimalisasi fungsi masjid sebagai ruang publik di era modern pada masjid Namira adalah paradigma yang dipakai oleh peneliti, kemudian dari pemahaman subjek tentang fenomena perubahan ini, oleh peneliti disusun sebuah hasil penelitian dalam bentuk deskripsi. Peneliti berusaha memahami suatu strategi optimalisasi fungsi masjid Namira dari sudut pandang pemaknaan Ketua Yayasan. Takmir, pengurus serta masyarakat. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji (Castro 2. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil wawancara terkait pengelolaan dan organisasi pengelola pengelola masjid Namira sebagai bukti masjid adalah ruang publik masyarakat yaitu sebagai berikut : KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Tabel 1. 2 Resume Wawancara Terkait Optimalisasi Fungsi Masjid SebagaiRuang Publik No Informan Optimalisasi Fungsi Masjid Sebagai Ruang Publik Ketua Takmir Masjid Fungsi masjid sebagai media untuk Namira Lamongan menghantarkan hamba bertemu dengan Tuhannya Aset masjid adalah Ummat bukan bangunan atau fasilitas karena kehilangan atau kerusakan sebuah bangunan atau fasilitas bisa di ganti akan tetapi aklau kehilangan umat tidak bisa diganti Program yang diselenggarakan masjid atas usulan jamaAoah Imam didatangkan dari semua golongan untuk media promosi bahwa masjid Namira berdiri untuk semua golongan Jasa yang diberikan masjid Namira adalah jasa pelayanan Pengelola masjid tidak hanya butuh disiplin ilmu saja akan tetapi butuh komitmen yang tinggi Pengelolana Masjid Namira melayani 24 jam bahkan untuk para musafir disediakan untuk untuk bermalam Pegelolaan masjid Namira transparan dan dipertanggung jawabkan secara umum Membentuk kaidah iman yaitu saat mengingat Allah seperti dengan bertadabur Sarana masjid dapat menujang ciri khas tersendiri dan tatanan syarAoinya dalam menjaga kebersihan dan keindahannya Jangan sampai peretmuan dengan Allah gagal hanya karena pelayanan keberihan dan kesucian masjid itu sendiri Adanaya yang manjadi kesunahan dalam beribadah seabagai ciri khas masjid Namira yang mengingatkan Masjidil haram Sarana dan prasarana yang baik dan bagus untuk menunjang kegiatan Masjid KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Ketua Yayasan Fungsi masjid yakni untuk melayani umat secara profesional Pengelolaan masjid yang baik akan mendatangkan keloyalan jamaAoah terhadap Apabila pengurus masjid melayani dengan baik bukan masjid yang mencari donatur akan tetapi donatur yang akan mencari Pengelolaan Namira transparan salah satunya dibuktikan dengan adanaya LCD / TV sebagai media transparansi dan Allah seabgai pengawas dalam setiap kondisi. Pelayanan yang baik dan profesional adalah kunci untuk memakmurkan masjid Apabila masjid dikelola dengan ikhlas maka Allah sendiri yang akan mengangkat derajat masjid Namira Peneglolan masjid Namira tidak ada donatur secara tetap Pengelolaan masjid Namira membutuhkan niat yang ikhlas sehingga akan tercipta SDM yang profesional dalam mengelola Pengelolaan masjid Namira membutuhkan toleransi dan sinergi dari kalangan kaum muda maupun tua Program yang diselenggarakan masjid Namira atas dasar usulan jamaAoah KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Pengunjung Masjid Namira JamaAoah Masjid Namira Fungsi masjid Namira sangat baik dibuktikan dengan fasilitas sarana dan prasarana masjid Namira, pengelolaan masjid Namira sangat memperhatikan hala-hal kecil seperti parfum masjid yang dibeli dari timur tengah yang menjadi ciri khas masjid Namira Dalam pengelolaan masjid Namira tidak membedakan jamaAoah nya pengelolaan masjid Namira membuat para jamaAoah nya merindukan masjidil haram Fasilitas-failitas Namira menyediakan alat bantu untuk kaum difabel, parkir yang sangat luas dan strategis memudahakn para Pengunjung Fungsi masjid bukan hanya sebagai sarana ibadah dan dakwah saja akan tetapi juga menjadikan masjid sebagai media fasilitas atau sarana dan prasarana. Masjid dapat melayanai jamaAoah dengan pelayanan yang professional maka bukan masjid yang mencari donatur akan tetapi para donatur yang mencari masjid Pengelolaan masjid ala Rasulullah yang manjadikan kiblat masjid Namira Masjid sebagai sarana mempersatukan umat dari setiap golongan karena masjid Namira berkiblat pada masjidil Haram Kiswah yang didatangkan langsung dari timur tengah yang membuat kerinduan akan Masjidil haram. Pengelolaan masjid tidak hanya membutuhakan wawasan membutuhkan komitmen yang sungguhsungguh sebagai pelayan ummat. Programprogram yang diselenggarakan masjid Namira sebagai penarik untuk semua kalangan pengelolaan masjid yang loyal akan mendatangkan jamaAoah yang loyal juga terhadap masjid Sumber : Wawancara 2023 Optimalasasi masjid Namira tersebut diklarifikasikan sebagai KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH persoalan dalam pengelolaan masjid Namira sebagai ruang publik untuk PEMBAHASAN Masjid Namira telah menerapkan fungsi masjid yang bukan hanya sebagai tempat ibadah mahdhoh saja akan tetapi dapat dijadikan sebuah tempat berkumpul, berinteraksi, dan mencurahkan ide gagasan guna mengupayakan perubahan sosial yang lebih baik. Pengupayaan ini dapat diimplementasikan dalam sebuah program atau aktivitasaktivitas prakarsa aktor-aktor dalam ruang publik tersebut sehingga pengoptimalan fungsi ruang publik di masjid akan diterapkan berlandaskan prinsip- prinsip dalam agama Islam. Dengan demikian, pola yang terjadi akan menyesuaikan nilai dan norma yang terkandung dalam agama tersebut. Hanya saja fungsi ruang untuk berinteraksi dan untuk mengeksplorasikan gagasan yang tidak tersekat strata karena Rasulullah mempraktikkan masjid sebagai pusat pembinaan umat. Pada zaman Nabi SAW, masjid senantiasa padat dengan kegiatan terutama shalat berjamaAoah. Setiap shalat di selenggarakan berjamaAoah, sehingga masjid tidak pernah sepi dari kegiatan. Jika akhir-akhir ini kita melihat wujud fisik masjid dengan bangunan yang megah tetapi sepi dari kegiatan, itu jelas merupakan penyiumpangan fungsi yang (Ayub dkk, 2. Aspek bangunan . dalam hal bangunan fisik masjid Namira, bangunan masjid Namira sangat unik yang menyerupai bangunan yang bernuansa Timur tengah dimana Bangunan masjid yang baru, 300 meter dari bangunan lama, ke arah belakang. Salah satu yang membuat masjid dengan dominasi material marmer dan kaca tebal ini sangat istimewa dibandingkan masjid lain di Indonesia adalah keberadaan kiswah kakbah. Bekas kain penutup kakbah asli itu sengaja didatangkan dari Masjidil Haram. Kiswah itu terpasang di dinding mihrab imam, tampak kokoh dilindungi kaca tebal. Sementara potongan kiswah berukuran kecil lainnya terbingkai rapi dan dipajang di dinding masjid. Masing-masing tiga di sebelah kiri dan kanan Disamping itu wewangian khas Tanah Suci Makkah menambah kerinduan akan Baitulloh. Karpetnya empuk seperti berada di Raudhoh Madinah. Dalamnya seperti ini, sebuah kiswah berukuran besar di bagian depan mihrab yang dilindungi dengan kacar Kiswah-kiswah kecil juga dipajang di sekeliling area dalam masjid. Para imam masjid sebagian para hafiz bersuara merdu yang didatangkan langsung dari Timur Tengah, seperti Palestina. Mesir dan Mekah. Seacra bagunan masjid Namira sudah mengedepankan keindahan dan kebersihan dengan keindahannya menjadi daya tarik tersendiri oleh para jamaAoah . Apabila kenyamanan atas sebuah keindahan yang ada pada masdjid Namira tersebut maka menjadi nilai plus tersediri untuk beribadah mahdzah ataupun ghari mahdzoh. Dari sinilah biasanya kalangan anak KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH muda yang biasanya enggan untuk kemasjid menjadi daya tarik tersendiri untuk ke masjid karena banyak keindahan yang membuat para jmaAoah untuk bertadabur dengan alam hal ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah SWT. Misalnya di halaman masjid Namira adanya taman-taman yang ditumbuhi bunga aneka warna, dengan hamparan rumput hijau, dan dilengkapi kolam ikan, tentunya dapat menambah cantik suasana. Setiap pengunjung akan dibuat betah, terutama anak-anak. Di dekat area wudhu, terdapat televisi layar datar yang menayangkan agendaagenda masjid. Sandal, sarung, mukena tersedia di tempat peminjaman. Dan ada taman dan kolam ikan masjid Namira. Begitu memasuki masjid, kaki akan dimanjakan dengan empuknya karpet yang membentang dan bau semerbak wangi kontan tercium. Tubuh yang panas karena terpaan hawa panas akan didinginkan oleh udara dingin Dua proyektor dengan layar lebar tersedia di antara lukisan kaligrafi. Bagian depan mihrab imam terbentang kiswah yang dilindungi kaca. Kaca juga dipilih menjadi dinding masjid. Nah, dari dalam masjid, lewat dinding kaca inilah bisa disaksikan pengunjung masjid tengahberswafoto di pelataran masjid. Belakangan ini bermunculan masjid yang menampakkan gaya dan bentuk arsitektur yang beraneka ragam. Terutama dikota-kota besar, banyak masjid yang berdiri dengan kemewahan dan Dalam masalah bangunan fisik masjid, akan tetapi hal tersebut Islam tidak menentukan dan mengatur secara spesifik. Sehingga ummat Islam diberikan keleluasaan dan kebebasan membangun masjid dengan bentuk arsitektur beraneka ragam, selama bangunan itu berperan sebagai rumah ibadah dan kegiatan jamaAoah atau ummat. Aspek kegiatan . yang ada di masjid Namira atas saran dan kebutuhan JamAoah sehingga kegiatan yang dilaksanakan sesuai kebutuhan jamaAoah bahkan materi dan pemateri yang diusung dalam sebuah kajian atas usulan jamaAoah, karena masjid Namira didirikan sebagai tempat ibadah dan dakwah dengan melayani jamaAoah masjid dengan sebaik baiknya sebab bagaimana tidak berat menjadi pengurus masjid, karena sebagai sarana mengahntarakan hamba . amaAoa. untuk bertemu dengan Tuhannya. Dengan demikian masjid Namira setiap bulan mengundang Ustadz -Ustadz dari luar bukan hanya dari kalangan satu golongan organisasi masyarakat saja akan tetapi mengundang dari semua golongan misalnya seperti dari salaf. Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah dan Umum, dengan mendatangkan pemateri dari luar akan menjadi sebuah promosi tersendiri karena untuk mengenalakan bahwa masjid Namira berdiri diatas semua golongan seperti halnya masjid Nabawi dan masjidil Haram, masjid KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH Namira memiliki visi sebagai pusat penyatuan umat dalam ibadah, dakwah, pendidikan, dan manajemen menuju masyarakat madani. Karena perbedaan paham dalam masalah khilafiyah, misalnya, bukan harga mati untuk menolak kerja sama yang berdimensi keagamaan. Karena sungguh ironis jika pengurus masjid sampai terjebak pada fanatisme sempit atas nuansa perbedaan yang bersifat tidak terlalu Berdirinya masjid Namira berada untuk setiap golongan bahkan dalam pengundangan pemateri kajian mendatangkan dari beberapa ORMAS (Organisasi Masyaraka. misalnya seperti. Muhammadiyah. Nahdhlatul Ulama. Salafi dan juga dari praktisi Hal itu mennjukan bahwa masjid Namira sesuai dengan visi dan misinya yaitu masjid sebagai pusat persatuan umat dalam ibadah, dakwah. Pendidikan dan managemen menuju masyarakat madani. Takmir masjid juga membuat terobosan dengan menggunakan mesin absensi sidik jari elektronik untuk absensi para petugas masjid guna merekam data anak- anak yang mengikuti program shalat berjamaah, kreativitas takmir masjid ditunjukkan dengan menggiatkan AuGerakan Anak Cinta MasjidAy melalui AuProgramAku Cinta MasjidAy. Disamping itu juga untuk menggiatkan aktivitas shalat Subuh berjamaah, masjid ini juga memiliki warung subuh gratis. Program tersebut berupa menggelar sarapan bersama setiap Minggu di teras Jamaah bisa memilih sendiri jenis makanan kesukaan, dari nasi bungkus, nasi jagung, lontong sayur, mi instan, aneka gorengan, hingga minuman teh, kopi, dan susu jahe. Sebab dalam rangka untuk memakmurkan masjid tidak boleh tanggung- tanggung karena jasa yang diberikan adalah jasa palayan maka harus siap melayani 24 jam, karena jamaAoah adalah aset masjid yang harus dilayani dengan baik dengan dengan sendirinya hal tersebut akan membentuk keloyalan jamaAoah. Fasilitas fasilitas lainnya masjid ini juga menyediakan kursi roda dan tempat duduk bagi jamaah yang tidak bisa melakukan shalat dengan berdiri sehingga masjid ini juga sangat ramah kepada pengunjung difabel. Beberapa jalur khusus untuk kursi roda tersedia di akses masuk masjid. Bahkan, beberapa kursi roda pun disiapkan bagi yang membutuhkan. Termasuk disiapkan beberapa kursi bagi jamaah yang tidak mampu shalat dengan berdiri. Apabila ditinjau dari pembahasan diatas, terdapatlah beberapa ciri-ciri AuRuang PublikAy di dalam konsep masjid Namira, yaitu tempat dimana dapat dimasuki oleh kalangan yang luas meskipun juga bukan berarti bisa dimasuki siapa saja. Terkait hal ini konsep AuRuang PublikAy sendiri menurut Habermas tidak selaludimasuki oleh semua orang: AuNamun seperti dalam istilah Aubangunan publikA, ternyata tidak harus selalu mengacu kepada sifatnya yang bisa dimasuki siapa saja, karena bangunan itu tidak bisa dijadikan jalan umum. KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH misalnya. AuBangunan publikA apa pun bahkan tidak mesti terbuka lebarlebarnya sebagai tempat Public berlalu-lalang di dalamnya. Mengapa? Karena Aubangunan publikA bisa saja hanyalah sebuah bangunan institusi Negara, namun dengan keadaan yang seperti ini pun dia sudah termasuk di dalam kategori AupublikAy (Oktarina 2. Begitu pula dengan masjid, bahwa memang masjid (Rumah Alla. ini memang memiliki sifat yang mengkhususkan untuk ummat Keadaan masjid Namira mencerminkan keadaan umat Islam. Makmur atau sepinya masjid sangat bergantung pada mereka. Apabila mereka rajin beribadah ke masjid, maka makmurlah tempat ibadah itu. Tapi apabila mereka enggan dan malas beribadah ke masjid, maka sepi pulalah baitullah tersebut. Logis pula jika keadaan umat Islam dapat di ukur dari kehidupan dan kemakmuran masjidnya. Masjid yang makmur menunjukan kemajuan umat disekitarnya, sedangkan masjid yang terlantar dan kurang terawat mengisyaratkan tipisnya iman dan kurangnya rasa tanggung jawab umat di sekitarnya. Aspek kegiatan masjid Namira sebenarnya dapat dilihat berdasarkan ruang lingkup kelembagaan masjid itu sendiri. Diantara lembaga masjid yang mengejawantahkan aspek kegiatan masjid itu adalah lembaga dakwah dan bakti sosial, lembaga manajemen, dan dana, serta lembaga pengelola dan jamaAoah . Dinamika sebuah masjid Namira ditentukan oleh faktor objektif umat Islam di sekitarnya. Umat yang dinamis akan menjadikan masjidnya dinamis. Berbagai aktivitas dan kreativitasnya tentu akan berlangsung di masjid. Tempat ibadah ini jadi memiliki daya tarik bagi jamaAoahnya. Masjid tidak luput dari berbagai problematika, baik menyangkut pengurus, kegiatan, maupun yang berkenaan dengan jamaAoah. Jika saja rupa-rupa problematika ini dibiarkan berlarut-larut, kemajuan dan kemakmuran masjid bisa terhambat. Fungsi masjid menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga keberadaan masjid tak berbeda dengan bangunan biasa. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku dimasjid Namira karena pengelolaan masjid Namira membutuhkan sinergi baik dari kaum muda ataupun tua dengan menggunakan semboyan Auseng tuo rumongso, sing enom weruh dugoAy makhsud dari kalimat tersebut yaitu yang tua menyadari dan yang muda mengerti adab . enghargai yang tu. Untuk mengelola masjid sangat dibutuhkan sebuah kerja sama baik dari kalangan muda maupun tua dari situlah apabila kaum muda dan tua dapat bersinergi dengan baik makan terciptalah sebuah keharmonisan dalam mengelola masjid disamping itu juga setiap problematika masjid yang muncul perlu diatasi sesuai dengan keadaan dan kemampuan pengurus dan jamaah tentu saja tidak semuanya dapat diatasi, tetapi niscaya ada KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH yang dapat ditangani dengan baik dengan mendahulukan yang lebih Dengan demikian banyak yang berfikir bahwa organisasi masjid adalah organisasi yang tidak membutuhkan komitmen yang tinggi, padahal hal demikian adalah kesalahan yang besar. Karena justru tolok ukur masyarakat muslim dapat dilihat dari pengelola masjidnya. Seperti halnya yang dikatakan oleh ketua Yayasan bahwa pengelola masjid tidak cukup hanya membutuhkan sebuah kedisiplinan ilmu saja akan tetapi sangat membutuhkan komitmen yang tinggi dan niat yang tulus untuk mengelola masjid. Pengurus di masjid Namira harus mempunyai jiwa dan komitmen yang tinggi itu dan mengutamakan kepentingan umat. Sehingga sebagian besar pengelola masjid Namira tidak boleh memberikan status bahwa menjadi pengurus masjid adalah pekerjaan yang bersifat sampingan, karena keloyalan dalam berorganisasi untuk mengelola masjid mumbutuhkan kesungguhan dalam mengelolanya. Karena hal tersebut akan berdampak terhadap kurangnya pemeliharaan mengakibatkan masjid kotor dan rusak bila tempat mengambil wudhu dan WC-nya kurang dirawat dan dibersihkan, banyak masjid yang mengabaikan kebersihan kedua tempat rawan itu. Bau tidak sedap yang ditimbulkan dapat mengganggu orang-orang yang hendak beribadah di masjid. Citra masjid pun lama- lama akan menjadi tidak baik. Hal tersebut berbeda dengan masjid Namira karena masjid Namira sangat mengutamakan kebersihan karena kunci diterimanya ibadah adalah kesucian, sehingga sebagai tempat ibadah harus dibebaskan dari kesan jorok. Bukankah sunnah bagi umat Islam untuk senantiasa bersih dan memelihara Hal ini juga sangat bertolak belakang dengan keadaan masjid Namira yang identik dengan keindahannya dan mengutamakan kesucian dan kebersiahn masjid, karena jangan sampai para jamaAoah tidak sah dalam ibadah hanya karena terkena najis atau tidak terjamin kebersihan dan kesucian masjid itu sendiri. Setiap problematika masjid yang muncul perlu diatasi sesuai dengan keadaan dan kemampuan pengurus dan jamaAoah masjid dan tentu saja tidak semuanya dapat diatasi, tetapi niscaya ada yang dapat ditangani dengan baik dengan mendahulukan yang lebih patut. Teknik pemecahan masalah pada umumnya diselesaikan dengan cara bertahap karena terapi yang drastis cenderung berakibat mengejutkan (Umah Meski pendekatan berjenjang ini agak memakan waktu, sasaran terpenting adalah suksesnya mencapai tujuan. seperti halnya dengan yang dikatakan ketua takmir masjid Namira dengan semboyan Auseng tuo rumongso, sing enom weruh dugoAy makhsud dari kalimat tersebut yaitu yang tua menyadari dan yang muda mengerti adab . enghargai yang tu. Untuk mengelola masjid sangat dibutuhkan sebuah kerja sama baik dari kalangan muda maupun tua dari situlah apabila dapat KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH bersinergi dengan baik makan terciptalah sebuah keharmonisan dalam mengelola masjid. Akan tetapi hal yang perludiingat kembali bahwa fungsi utama masjid adalah tempat sujud kepada Allah SWT tempat shalat dan tempat beribadah kepada- Nya. Lima kali sehari semalam umat islam dianjurkan mengunjungi masjid guna melaksanakan shalat berjamaAoah. Masjid juga merupakan tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah melalui adzan, qamat, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan ucapan lain yang dianjurkan dibaca di masjid sebagai bagian dari lafaz yang berkaitan pengagungan asma Allah, selain itu masjid juga berfungsi sebagai. Masjid merupakan tempat kaum muslimin beribadah dan mendekatkan dirikepada Allah SWT. Masjid merupakan tempat kaum muslimin beritikaf membersihkan diri, menggemblengbaton untuk membina kesadaran dan mendapatkan pengalaman batin/keagamaan sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta keutuhan kepribadian. Masjid merupakan tempat kaum muslimin bermusyawarah guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul di . Masjid merupakan tempat kaum muslimin berkonsultasi mengajukan kesulitan dan meminta bantuan dan perotongan. Masjid merupakan tempat kaum muslimin membina keutuhan ikatan jamaAoah dan gotong royan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Masjid dengan majlis taklimnya merupakan wahana untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan kaum mislimin. Masjid merupakan tempat pembinaan dan pengembangan kader-kader pemimpin umat. Masjid merupakan tempat mengumpulkan dana, menyimpan dana dan membagikannya kepada yang muzakki. Masjid tempat melaksanakan pengaturan dan supervisi social misalnya seperti pelangsungan acara akad nikah, menuntut ilmu, semiar, diskusi danmelkaukan pertemuan keagamaan dll. Fungsi masjid Namira tersebut telah diaktualisasikan dengan kegiatan operasional yang sejalan dengan pelayanan ruang publik. Dimana masjid Namira KESIMPULAN Peran masjid Namira sebagai ruang publik di masa sekarang ini, masjid sudah mulai diarahkan untuk penguatan-penguatan pada beberapa aspek yang harus menjadi prioritas : Pertama, mengoptimalkan fungsi masjid aspek hissiyah . Seacra bagunan masjid Namira sudah mengedepankan keindahan dan KHURUL AIMMATUL U. AFIF ALFIYAH kebersihan dengan keindahannya menjadi daya tarik tersendiri oleh para jamaAoah apabila kenyamanan atas sebuah keindahan yang ada pada masdjid Namira tersebut maka menjadi nilai plus tersediri untuk beribadah mahdzah ataupun gharu mahdzoh Kedua, mengoptimalkan fungsi masjid pada aspek maknawiyah . karena fungsi utama masjid adalah tempat sujud kepada Allah SWT tempat shalat dan tempat beribadah. Lima kali sehari semalam umat islam dianjurkan mengunjungi masjid guna melaksanakan shalat berjamaAoah. Masjid juga merupakan tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah melalui adzan, qamat, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan ucapan lain yang dianjurkan dibaca di masjid sebagai bagian dari lafaz yang berkaitan pengagungan asma Allah. Ketiga, mengoptimalkan fungsi masjid pada aspek ijtimaAoiyah . egala kegiata. dimana masjid sebenarnya dapat dilihat berdasarkan ruang lingkup kelembagaan masjid itu sendiri. Diantara lembaga masjid yang mengejawantahkan aspek kegiatan masjid itu adalah lembaga dakwah dan bakti sosial, lembaga manajemen, dan dana, serta lembaga pengelola dan jamaAoah. Merujuk kepada sejarah masjid di zarnan Rasulullah Saw, temyata masjid bukanlah tempat untuk melangsungkan rutinitas ibadah-ibadah mahdhah semata, tetapi lebih dari itu masjid merupakan pusat segala aktivitas baik untuk ibadah yang bemuansa vertikal . ablun minalla. maupun ibadah-ibadah yanghorisontal/muarnalah . ablun minanna. Selain itu strategi -strategi yang mendukung keberhasilan optimalisasi fungsi masjid sebagai ruang publik meliputi. sumber daya . engetahuan dan keterampilan, kompetensi, dukungan dana, ketersiadaan sarana prasaran. , komunikasi . osialisasi dan koordinas. dan struktur organisasi . ompleksitas, formalitas dan sentralisas. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya dalam mendukung optimalisasi fungsimasjid sebagai ruang publik DAFTAR PUSTAKA