Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 1, 2025, pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index Discrimination Against Women In The Novel "Cantik Itu Luka " By Eka Kurniawan (Literary Sociology Stud. 1Puput Indriani, 2Najwa Patricia Azzahra 1 Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon. Indonesia. AUniversitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia Corresponding authorAos email: Puput1993indriani@gmail. com, patricia. azzahra@upi. ARTIKEL INFO A B S T R A CT Article history: Received 29 October 2024 Accepted 1 December 2024 Published 28 January 2025 A novel is a literary work in the form of long and complex prose written in a story. The story in the novel is the reality of life and the author's imagination that are interrelated. In this study, researchers want to examine the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. This research aims to find out and describe the sociology of literary works about the discrimination of women's lives in the colonial era to post-independence Indonesia in the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. This descriptive qualitative research method produces descriptive data as problem solving by presenting the state of a subject or object in the form of written words. The data source in this research is literature or written data in the form of the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. Based on the analysis of the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan, it can be concluded that this novel can provide an overview of the discrimination of women in society. Women experience injustice, physical violence, and sexual exploitation that reflect the social structure at that time. Keywords: Discrimination. Discrimination Against Women. Novel. Sociology. Sociology of Literature DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Sastra merupakan suatu wadah yang digunakan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasannya. Sebuah gagasan berupa ungkapan perasaan, pemikiran, pengalaman, dan ide seorang pengarang yang dituangkan dalam tulisan sehingga menjadi karya sastra (Faidah, 2. Karya sastra yang diciptakan pengarang melalui proses kreativitas dan hasil imajinasi yang dipadukan dengan penggambaran realitas yang terjadi (Rozani. , 2. Penggambaran tersebut berupa wawasan pengarang, realitas kehidupan pengarang, dan dapat juga campuran keduanya (Nabor & Danu, 2. Selain itu, dapat juga berupa penggambaran penderitaan, kebencian, perjuangan, dan segala aspek yang dialami oleh Salah satunya penggambaran tentang diskriminasi perempuan. Diskriminasi perempuan merupakan. suatu bentuk perlakuan yang tidak adil terhadap seorang perempuan berdasarkan jenis kelamin (Unsriana, 2. Perlakuan tidak adil yang menyebabkan terjadinya ketidaksetaraan sosial (Nurafia, 2. Diskriminasi ini p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dapat juga berupa kekerasan-kekerasan yang diterima oleh perempuan (Rusli. Sugono, & Suendarti, 2. Kekerasan yang mengakibatkan perempuan terampas kebebasan, paksaan, kerugian mental, fisik dan seksual. Hal tersebut dapat tertuang dalam novel. Novel merupakan sebuah karya sastra bentuk prosa panjang dan kompleks yang ditulis secara cerita. Novel berisikan rangkaian cerita dari kehidupan seseorang dengan orang di sekitarnya (Sari, 2. Cerita dalam novel yaitu tentang segala aspek yang dialami oleh manusia dengan lingkungannya yang diceritakan melalui tokoh, karakter, dan tempat tinggal tokoh tersebut (Sidiq & Manaf, 2. Pembahasan dalam novel berkaitan dengan penggambaran berbagai persoalan kehidupan yang dikreasikan oleh pengarang (Saragih. Manik, & Br Samosir, 2. Persoalan dalam novel seperti masalah budaya, politik, ekonomi, agama, dan lain-lain (Paulia & Astuti, 2. Maka dari itu, diperlukan suatu kajian karya sastra untuk mengetahui isi yang dimiliki sebuah novel, salah satunya dengan kajian sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan suatu pendekatan dalam studi sastra yang populer dalam pengkajian sastra di Indonesia. Sosiologi yang berkembang di Indonesia menaruh perhatian sastra pada masyarakat yang berusaha untuk mengembalikan karya sastra kepada kompetensi struktur sosial (Rismayanti. Martha, & Sudiana, 2. Sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai suatu hasil interaksi pengarang dengan masyarakat (Anggaeni, 2. Selain itu, karya sastra dipandang sebagai penjabaran dari perjalanan hidup berhubungan dengan peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya (Fajar, 2. Oleh karena itu, karya sastra dapat berfungsi sebagai respon terhadap sesuatu dalam kehidupan Keterkaitan antara karya sastra dengan kondisi dan kehidupan masyarakat membuat karya sastra dapat dikaji dengan pendekatan sosiologi sastra (Irma, 2. Pendekatan sosiologi sastra merupakan pengembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam kaitannya dengan realitas dan aspek sosial masyarakat (Sipayung, 2. Dengan demikian, kajian karya sastra dengan pendekatan sosiologi sastra dilakukan dengan cara mendeskripsikan, memahami, dan menjelaskan unsur-unsur karya sastra dalam kaitannya dengan perubahan struktur sosial yang terjadi di sekitarnya (Ananda et al. , 2. Maka dari itu, dalam penelitian ini digunakan pendekatan sosiologi karya Sosiologi karya sastra adalah ilmu yang mempelajari sosiologi sastra dalam hubungannya dengan karya sastra dengan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Fokus perhatian sosiologi karya sastra dalam penelitian ini menggunakan teori yang p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dikemukakan oleh Wellek dan Warren . yaitu isi karya sastra, tujuan, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan isu-isu sosial. Sekait dengan hal tersebut, isu-isu sosial dapat ditelusuri dengan mengkaji novel melalui pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian Matanari. Lubis, & Marsella . yang berjudul AuNilai-Nilai Perjuangan dalam Novel Jalan Pasti Berujung Karya Benyaris Adonia Pardosi: Kajian Sosiologi SastraAy ditemukan isu sosial nilai perjuangan yang digambarkan pengarangnya dalam sikap dan perilaku tokoh-tokoh yang berperan di Penelusuran isu tersebut sebagai saran menemukan nilai-nilai perjuangan seperti persatuan, kemauan berkorban, pantang menyerah, saling menghormati, sabar dan Nilai-nilai perjuangan tersebut yang menjadikan para tokoh berhasil dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun, dalam penelitian ini, peneliti ingin mengkaji novel Cantik Itu Luka. Novel Cantik Itu Luka merupakan novel pertama karya Eka Kurniawan yang meraih penghargaan World Readers pada tahun 2016. Novel ini menjadi buku best-seller yang sudah diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa. Pada novel Cantik Itu Luka ini menceritakan tentang diskriminasi perempuan era kolonial hingga pasca kemerdekaan Indonesia. Pada era kolonial perempuan ditahan dan dipaksa menjadi seorang pelacur untuk pemuas nafsu lelaki. Selanjutnya pada pasca kemerdekaan Indonesia, diskriminasi masih terus berlanjut karena perempuan hanya keluar dari tahanan penjajahan mereka masih dijadikan sebagai objek pemuas nafsu. Perempuan yang selalu menerima kekerasan fisik dan seksual karena kecantikan yang dimilikinya. Kecantikan seorang perempuan yang selalu mendapatkan nasib sial sehingga kecantikan dianggap sebagai suatu kutukan. Alasan peneliti melakukan kajian sosiologi sastra pada novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan karena novel tersebut menceritakan tentang permasalahan sosial dalam kehidupan perempuan pada era kolonial hingga pascakemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sosiologi karya sastra tentang diskriminasi kehidupan perempuan pada era kolonial hingga pasca kemerdekaan Indonesia dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dengan menambah perspektif dan pemahaman mengenai kajian sosiologi karya sastra. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. METODE Penelitian ini menggunakan kajian sosiologi karya sastra. Teori utama yang digunakan yakni sosiologi karya sastra yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren . Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian kualitatif deskriptif ini menghasilkan data deskriptif sebagai pemecahan masalah dengan menyajikan keadaan suatu subjek atau objek dalam bentuk kata-kata tertulis. Sumber data dalam penelitian ini data kepustakaan atau tertulis berupa novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Data dalam penelitian berupa dialog, kalimat, dan paragraf yang menggambarkan diskriminasi perempuan dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara Aubaca-catatAy yaitu membaca dengan cermat dan berulang-ulang semua novel yang menjadi objek kajian (Arikunto, 2. Data-data dalam penelitian ini diuji keabsahannya menggunakan Adapun teknik analisis yang dipilih peneliti yaitu model analisis interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan menggambarkan luka yang Novel mengungkapkan bahwa kecantikan bisa menjadi sebuah kutukan dan perempuan sering kali menjadi objek eksploitasi dan kekerasan. Novel Cantik Itu Luka juga bercerita tentang sejarah dan perubahan sosial di Indonesia. Berikut penggambaran diskriminasi kehidupan perempuan pada era kolonial hingga pasca kemerdekaan Indonesia yang terjadi dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Bentuk Diskriminasi Perempuan pada Era Kolonial hingga Pascakemerdekaan Indonesia Bentuk Diskriminasi Perempuan pada Era Kolonial p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Pada era kolonial. Indonesia mengalami transformasi politik, ekonomi, dan sosial menimbulkan dampak bagi masyarakat, khususnya perempuan. Perempuan pada era kolonial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan digambarkan mengalami diskriminasi. Diskriminasi perempuan dalam novel tersebut menjadi refleksi sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Berikut ini penggambaran diskriminasi perempuan era kolonial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. "Dengarlah, pelacur yang telah tidur dengan semua lelaki kami," katanya dengan sedikit dendam. "kalau kau mau mati maka matilah tapi jangan awetkan tubuhmu, sebab hanya mayat busuk yang tidak kami cemburui. " Ia mendorong tubuh Dewi ayu namun ia hanya berguling tanpa terbangun. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan tentang stigma sosial terhadap pekerja seks . Tindakan-tindakan ini mencerminkan struktur sosial yang memungkinkan terjadinya perlakuan tidak adil dan kekerasan terhadap perempuan, terutama mereka yang berada dalam lapisan sosial yang rendah. Penilaian terhadap pekerja seks ini mewakili sikap konservatif atau patriarki yang ada dalam struktur sosial masyarakat. Bahwa kebangkitannya sebagai sebuah mukjizat, dan tak seorangpun akan memperoleh mukjizat jika ia bukan orang suci. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan kritik terhadap adanya peminggiran . tigma negati. mengenai profesi pelacur. Perempuan yang berprofesi sebagai perempuan penghibur selalu dianggap ahli neraka, menjijikan, najis, dan perempuan Setelah peristiwa mendapatkan mukjizat untuk bangkit dari kubur cara pandang masyarakat tiba-tiba berubah. Maka dari itu, hal tersebut mengungkapkan bahwa apapun profesi yang dijalani seseorang atas dasar pilihannya sendiri sehingga orang lain tidak berhak melekatkannya sebagai perempuan hina dan AuKe mana kau pergi?Ay AuKe rumah Tuan Belanda. Ay AuUntuk apa? Kau tak perlu jadi jongos orang Belanda. Ay p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. AuMemang tidak,Ay kata si gadis. AuAku jadi gundik. Kelak kau panggil aku Nyai Iyang. Ay AuTai,Ay kata Ma Gendik. AuKenapa kau mau jadi gundik?Ay AuSebab jika tidak. Bapak dan Ibu akan jadi sarapan pagi ajak-ajak. Ay (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut sebenarnya adalah suatu representasi mengenai diskriminasi perempuan yang disebabkan karena perbedaan kekuasaan antara kelompok kolonial Belanda dan masyarakat pribumi. Penguasa kolonial yang mempunyai kontrol penuh sehingga memberikan ancaman terhadap hidup perempuan agar mengikuti setiap keputusannya. Perempuan yang terpaksa menerima peran tersebut untuk melindungi keluarga dari bahaya meskipun harus mengorbankan dirinya. Perempuan yang hidup penuh dengan ketakutan dan tekanan akibat otoritas Belanda. AoAoSaya lebih suka terbangAoAo (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut sebenarnya adalah suatu representasi kritis atas fenomena ketidakbebasan perempuan yang membatasi mereka dalam berbagai aspek kehidupan, seperti perempuan yang sepanjang hidupnya selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit karena dituntun oleh yang dinamakan AokodratAo atau bahkan dituntut melakukan sesuatu tanpa memberikan ruang bagi dirinya. Perempuan dalam masyarakat dituntut untuk memenuhi standar yang diharapkan banyak orang seperti masalah kecantikan. Perempuan cantik yang digambarkan harus mempunyai wajah putih, hidung mancung, badan tinggi, langsing, dan Ia melihat satu rombongan truk militer di jalanan yang membentang sepanjang pantai, ia telah menduganya, mereka akan mengangkut seluruh orang Belanda yang tersisa dan membawanya ke kamp tahanan. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan kondisi perempuan Belanda di bawah kekuasaan Jepang. Perempuan yang menghadapi ketakutan atas nasibnya sehingga mengakibatkan tekanan mental. Tekanan mental akibat rasa takut, ketidakpastian p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Perempuan ketidakberdayaan dan kehilangan kebebasan hidup. Tak ada listrik di dalam tahanan, tapi hampir semua orang membawa lilin sehingga nyala kecil memenuhi ruangan dan dinding dipenuhi bayangan yang bergoyang-goyang membuat banyak anak kecil ketakutan. Mereka berbaring beralaskan matras, tampak menyedihkan, dan tak pernah sungguh-sungguh memperoleh tidur yang nyenyak. Tikustikus menyerang mereka di malam hari, dan nyamuk berdengung-dengung dari telinga yang satu ke telinga yang lain, dan codot beterbangan silang-menyilang. Hal ini diperparah oleh kunjungan mendadak tentara-tentara Jepang itu untuk melakukan pemeriksaan barangbarang bawaan. Mereka mencari orang yang menyembunyikan uang dan perhiasan. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan kondisi tahanan yang tidak layak menimbulkan ketakutan, penderitaan, dan ketidaknyamanan kepada perempuan anak-anak. Ketidaksetaraan tersebut mengakibatkan penderitaan fisik dan mental bagi perempuan dan anak-anak. Selain itu, pemeriksaan barang bawaan yang tiba-tiba menambah suasana tidak nyaman dan menambah ketakutan ekstra kepada perempuan karena merasa terancam. AuBiarlah ia mati,Ay katanya sambil sesenggukan. AuApa kau bilang?Ay tanya Dewi Ayu. Ola menggeleng dengan lemah sambil melap air matanya dengan ujung lengan baju. AuTak mungkin,Ay katanya pendek. AuKomandan itu mau memberiku obat jika aku tidur dengannya. Ay (Kurniawan, 2023: . Pada pengobatan karena adanya syarat untuk tidur dengan komandan untuk memperoleh Hal itu juga menunjukkan adanya eksploitasi seksual terhadap perempuan. Perempuan akan mengalami tekanan emosional yang berat bahkan menjadi trauma. Penderitaan yang dialami perempuan karena kesehatan yang tindakan seksual yang tidak etis. "Kau pikir kau tahu apa yang akan terjadi atas kita?" tanya Ola. "Ya," jawabnya. "Jadi pelacur. " (Kurniawan, 2023: . p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Pada kutipan tersebut sebenarnya adalah suatu representasi atas fenomena ketidakberdayaan kaum perempuan ketika masa perang Belanda-Jepang di Indonesia. Kaum perempuan Belanda yang tersisa dibawa tentara Jepang ke kamp Setelah itu mereka menyeleksi perempuan yang masih muda untuk dipindahkan ke rumah hiburan dan dipaksa untuk menjadi pelacur bagi tentara Jepang. Perempuan-perempuan tersebut dipaksa untuk menjadi objek pemuas tentara Jepang. Kemudian tentara-tentara itu mulai mengambil gadis-gadis tersebut satu persatu, dalam satu perkelahian yang dengan mudah mereka menangkan. Mereka membawa gadisgadis itu dalam jepitan tangan bagaikan membawa kucing sakit, dan mereka meronta-ronta penuh kesia-siaan. Malam itu Dewi Ayu mendengar dari kamar-kamar mereka, jeritanjeritan histeris, perkelahian yang masih berlanjut, beberapa bahkan berhasil meloloskan diri dari kamar dalam keadaan telanjang sebelum tentara-tentara berhasil menangkap dan melemparkannya kembali ke atas tempat tidur. Mereka melolong selama persetubuhan yang mengerikan itu, dan ia bahkan mendengar Helena meneriakkan beberapa baris Mazmur sementara seorang lelaki Jepang membobol kemaluannya. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan tindakan kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Tindakan tentara Jepang dalam penyalahgunaan kekuasaan militer sehingga perempuan yang menjadi korban ketidakadilan. Ketidakberdayaan perempuan dalam melakukan perlawanan untuk membebaskan diri yang menimbulkan kesia-siaan. Hal itu menggambarkan perempuan yang mengalami penderitaan fisik dan mental sehingga perempuan hanya menggunakan agama sebagai perlindungan dan kekuatan spiritual dalam menghadapi situasi tersebut. Bentuk Diskriminasi Perempuan Pascakemerdekaan Indonesia Pada pascakemerdekaan Indonesia ini menciptakan harapan bagi perempuan untuk mendapatkan kesetaraan gender, tetapi hal tersebut tidak berjalan dengan Diskriminasi perempuan dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan pada pascakemerdekaan Indonesia tetap ada. Novel tersebut menggambarkan bahwa perempuan tetap mendapatkan diskriminasi terhadap kesetaraan gender p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Indonesia. Berikut diskriminasi perempuan pascakemerdekaan Indonesia dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. AuNamanya Isah Betina,Ay kata seorang gelandangan kepadanya, tak lama setelah itu. AuSebab demikianlah orang-orang menyebutnya. Ay AuDari mana ia datang?Ay Kliwon memburunya dengan pertanyaan. AuMereka menemukannya seminggu lalu di trotoar, memerkosanya beramai-ramai nyaris setiap hari sebelum kau membunuh satu di antara mereka,Ay kata si gelandangan. AuOtaknya miring,Ay dan ia menambahkan: AuGadis itu. Ay (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan bahwa perempuan selalu dijadikan sebagai objek seksual. Perempuan yang mengalami gangguan kejiwaan pun tidak dilewatkan sebagai pemuas nafsu. Pelecehan seksual yang brutal diterima perempuan tersebut setiap hari tetapi hanya dianggap hal biasa oleh masyarakat. Pandangan masyarakat terhadap kondisi mental perempuan itu yang menimbulkan perlakuan tidak adil dan tidak mendapatkan perhatian. Sang Shodancho berbaring sejajar dengannya dengan napas satu-satu yang demikian perlahan membuat Alamanda berpikir bahwa laki-laki itu telah jatuh tertidur setelah lelah memerkosa dirinya. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan bahwa terjadinya ketidaksetaraan kekuasaan antara Shodancho dan Alamanda. Kekuasaan yang dimiliki oleh Shodancho yaitu komandan peleton memberikan kekuasaan dan hak istimewa tertentu yang menjadi faktor penyebab mengeksploitasi dan menindas individu yang berada di bawahnya. Hal tersebut menyoroti kedudukan sosial dapat memperkuat ketidaksetaraan yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan Ia tak tahu berapa lama terbius karena guncangan seperti itu, namun ketika ia bangun dan tersadar, ia menemukan dirinya masih terlentang telanjang di atas tempat tidur. Alamanda mencoba bangun dan mencari tali pengikat, namun rupanya ikatan itu begitu kencang sehingga apa yang terjadi hanya membuat pergelangan tangan maupun kakinya terasa sakit. (Kurniawan, 2023: . p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Pada kutipan tersebut mengungkapkan bahwa adanya pemaksaan dalam berhubungan suami-istri. Istri yang dipaksa untuk melakukan hubungan yang tidak Ketidakberdayaan istri dalam melawan situasi yang dipaksakan. Situasi pemaksaan yang menyebabkan istri mendapatkan kekerasan fisik dan seksual. AuIa masih dua belas tahun. Ay AuAnjing kawin di umur dua tahun dan ayam di umur delapan bulan. Ay AuIa bukan anjing dan apalagi ayam. Ay AuItu karena kau tak pernah pergi sekolah. Semua manusia mamalia seperti anjing, dan berjalan dengan dua kaki seperti ayam. Ay (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan tentang ketidakadilan hak dan martabat yang diterima perempuan. Perempuan yang dinilai berdasarkan usia, bukan berdasarkan keinginan atau kemampuan yang dimiliki. Perempuan yang direndahkan dengan cara menyamakannya dengan hewan. Perempuan yang tidak dihargai dan dianggap rendah. Hal itu merupakan penggambaran perempuan yang mengalami ketidaksetaraan dan penindasan dalam kehidupan. AuAku diperkosa seekor anjing di toilet sekolah,Ay kata Si Cantik tanpa menunggu siapa pun bertanya. (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan terjadinya pelecehan seksual terhadap perempuan ketika berada di lingkungan sekolah. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh kembang individu, tetapi berubah menjadi saksi Kejadian ini menggambarkan ketidakamanan dan kekejaman yang dialami perempuan korban dari pelecehan seksual. Hal tersebut terjadi karena kegagalan lembaga pendidikan dan sistem hukum dalam memberikan perlindungan dan hukuman terhadap pelaku. Rengganis Si Cantik berbalik, memandang ujung langit, memunggungi Krisan. Lama ia menunggu sampai ia melihat tangan Krisan melingkar begitu cepat, dan sebelum sadar ia telah tercekik. Lehernya dililit saputangan kecil yang di setiap ujungnya ditarik tangan Krisan yang begitu kuat. Rengganis Si Cantik mencoba meronta, kakinya menendang ke sana-kemari, dan tangannya mencoba mengendorkan saputangan tersebut. Tapi Krisan jauh lebih kuat. Mereka bertarung sekitar lima menit, sebelum Rengganis Si Cantik kalah, mati p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dan tergeletak di lambung perahu, di samping mayat gadis yang lain. (Kurniawan, 2023: Pada kutipan tersebut mengungkapkan tentang ketidakadilan yang seringkali diabaikan dalam realitas kehidupan perempuan. Tindakan kejam yang diterima perempuan disebabkan karena terjadi ketidaksetaraan dalam kekuatan fisik untuk Keterbatasan perempuan dalam melakukan perlawanan dalam situasi Ketika perempuan berusaha untuk melawan tetapi ketidaksetaraan tersebut yang menjadi penghambat dalam memperoleh keadilan. Orang-orang tak mau berteman dengannya, sebab ia buruk rupa. (Kurniawan, 2023: Pada kutipan tersebut mengungkapkan mengenai diskriminasi perempuan akibat standar kecantikan yang tidak masuk akal. Perlakuan sosial yang diterima perempuan bergantung pada citra fisik. Perempuan yang tidak cantik akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial karena penilaian terhadap Mereka akan mendapatkan penolakan dalam hal pertemanan karena tidak memenuhi standar kecantikan tersebut. Hal itu menciptakan ketidaksetaraan hak, peluang, dan perlakuan sosial yang diterima perempuan. Hingga suatu ketika Si Cantik bertanya. Aukenapa kau menginginkan aku?Ay Ia menjawab, tanpa tau ia jujur atau tidak. AuSebab aku mencintaimu. Ay AuMencintai seorang perempuan buruk rupa?Ay AuYa. Ay AuKenapa?Ay AuSebab cantik itu luka. Ay (Kurniawan, 2023: . Pada kutipan tersebut mengungkapkan bahwa kecantikan seringkali menyebabkan tindakan buruk terhadap perempuan. Perempuan cantik yang dijadikan sebagai objek pemuas seksual. Perempuan yang selalu menerima kekerasan fisik dan mental karena kecantikan yang dimilikinya. Kecantikan seorang perempuan yang selalu mendapatkan nasib sial sehingga kecantikan dianggap sebagai suatu kutukan. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Perbedaan Bentuk Diskriminasi Perempuan pada Era Kolonial hingga Pascakemerdekaan Indonesia Diskriminasi Perempuan pada Era Kolonial Penggambaran diskriminasi kehidupan perempuan pada era kolonial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan menceritakan sejarah era kolonial di Indonesia mengenai berbagai kisah pahit yang dialami perempuan. Perempuan yang kekerasan fisik, mental, dan seksual, serta ketidakberdayaan perempuan selama masa perang Belanda dan Jepang di Indonesia. Pada masa itu perempuan seringkali menjadi korban permasalahan sistemik yang menimbulkan beban berat terhadap Perempuan yang mengalami beban berat seperti ancaman dan perampasan hak kebebasan. Adapun ancaman dan perampasan hak kebebasan pada perempuan berdampak terhadap keselamatan fisik dan mental. Hal ini terjadi karena dampak perang yang menghancurkan komunitas dan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, perempuan menghadapi kondisi yang merendahkan martabat karena tekanan ekonomi dan pelecehan kekuasaan yang menimbulkan ketidaksetaraan gender. Bentuk ketidaksetaraan gender tersebut terjadi ketika perempuan mengalami ketakutan dan tekanan mental akibat perang. Perempuan menjadi sasaran pemerkosaan, kekerasan seksual, dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Diskriminasi memberikan keadilan dan melindungi perempuan. Ketidakberdayaan perempuan tercermin dalam keterbatasan untuk ikut partisipasi dalam mengambil keputusan hidup dalam masyarakat. Sistem patriarki dan norma-norma sosial yang mendorong ketidaksetaraan gender dan membatasi perempuan dalam memperoleh hak-haknya. Pada masa itu perempuan juga mengalami penderitaan psikologis akibat dampak trauma perang. Perang yang mengakibatkan kehilangan rumah, pemisahan keluarga, dan kematian sehingga menimbulkan luka emosional. Selain itu, kondisi kehidupan dan ketidakpastian masa depan juga mengakibatkan beban psikologis p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. pada perempuan. Akibat hal tersebut, perempuan era kolonial banyak yang mengalami kecemasan dan gangguan stres pascatrauma. Diskriminasi Perempuan Pascakemerdekaan Indonesia Penggambaran kehidupan perempuan pada pasca kemerdekaan Indonesia dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan menceritakan tentang perempuan yang menghadapi berbagai bentuk diskriminasi. Perempuan yang seringkali mengalami pelecehan seksual. Kondisi ini dikarenakan lingkungan yang tidak aman. Diskriminasi ini dapat muncul di sekolah, di jalan, di tempat kerja, bahkan di rumah. Pemaksaan dalam hubungan suami istri juga termasuk dari diskriminasi yang seringkali dialami oleh perempuan. Perempuan yang mengalami kerugian dan kondisi tidak sehat karena kontrol dan kekuatan berada di tangan lakilaki. Selain itu, perempuan juga mengalami kekerasan fisik dan verbal. Perempuan Kekuasaan yang dimiliki memberikan hak istimewa tertentu yang menjadi faktor penyebab mengeksploitasi dan menindas individu yang berada di bawahnya. Hal tersebut menyoroti kedudukan sosial dapat memperkuat ketidaksetaraan yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, stereotipe gender juga membatasi perempuan dalam kehidupan. Diskriminasi juga terjadi berdasarkan standar kecantikan yang dikonstruksi oleh masyarakat. Perlakuan sosial yang diterima perempuan bergantung pada citra Perempuan yang tidak cantik akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial karena penilaian terhadap penampilannya. Mereka akan mendapatkan penolakan dalam hal pertemanan karena tidak memenuhi standar kecantikan tersebut. Adapun dalam beberapa kasus, kecantikan dianggap sebagai pemicu terjadinya tindakan buruk. Perempuan cantik seringkali menjadi sasaran eksploitasi atau pelecehan seksual yang menimbulkan lingkungan tidak aman. Kecantikan seorang perempuan yang selalu mendapatkan nasib sial ini menciptakan stereotipe bahwa kecantikan dianggap sebagai suatu kutukan. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Puput Indriani1. Najwa Patricia Azzahra econd2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. SIMPULAN Permasalahan diskriminasi perempuan tidak hanya menjadi masalah dalam realitas Namun, juga merupakan permasalahan yang tergambar dalam karya sastra. Hal itu dikarenakan sebuah karya sastra merupakan fenomena sosial-budaya. Cerita dalam karya sastra merupakan realitas kehidupan dan imajinasi pengarang yang saling berkaitan karena yang terjadi dalam kehidupan nyata menjadi inspirasi pengarang dalam menciptakan sebuah karya sastra seperti novel. Berdasarkan hasil analisis novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, dapat disimpulkan bahwa novel ini dapat memberikan gambaran tentang terjadinya diskriminasi perempuan yang ada di masyarakat. Hal itu seperti ketidakadilan dan ketegangan yang dialami oleh masyarakat terutama perempuan. Kaum perempuan mengalami perlakuan tidak adil, kekerasan fisik, dan eksploitasi seksual yang mencerminkan masalah yang serius dalam struktur sosial pada masa itu. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing yang telah memberikan masukan, arahan, dan bimbingan yang berharga dalam proses penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga tercinta atas doa, semangat, dan dukungan yang tiada henti dalam setiap langkah yang diambil. Tidak lupa, penulis berterima kasih kepada sahabat-sahabat yang telah memberikan bantuan, motivasi, dan kebersamaan yang berarti selama proses penelitian ini berlangsung. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan kajian sosiologi sastra. REFERENSI