Vol 2 No. 4 Oktober 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 70 - 73 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI:https://doi. org/10. 69714/br6y7y60 AIR MATA PENGANTIN: KEARIFAN BUDAYA RIAU DALAM TANAMAN DAN MINUMAN TRADISIONAL Annisa Mutiaa*. Syakirah Permata Auliyab. Ginna Arvi Nanda c. Syafira Atikah Putrid. Naila Awaliae Antonif. Yohannes Paulus Sinagag. Rado Justezah. Iqbal Ibrahimi annisamutia1209@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau d Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau e Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau f Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau g Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau h Program Studi Farmasi, ginaarvinanda@gmail. Universitas Muhammadiyah Riau. Pekanbaru. Riau a Program Studi Farmasi, b Program Studi Farmasi. Korespondensi ABSTRACT Air mata pengantin is a term used to refer to both the plant Antigonon leptopus and a traditional beverage of the Malay Riau community. This study aims to examine the botanical aspects of A. leptopus and the cultural significance of the es air mata pengantin beverage within the Malay Riau society. leptopus is a climbing plant from the Polygonaceae family, characterized by clusters of pink to white flowers, and is rich in bioactive compounds such as flavonoids, polyphenols, alkaloids, saponins, and tannins, which have potential antioxidant and anti-inflammatory properties. Meanwhile, es air mata pengantin is a traditional beverage made from colorful agar, grass jelly, basil seeds, red syrup, and shaved ice, named as such due to its appearance resembling the beauty of A. leptopus flowers. The use of the same name for both the plant and the beverage reflects the local wisdom of the Malay Riau community in linking natural beauty with life values and cultural traditions. This phenomenon also indicates the process of cultural value transmission and the transformation of traditional culinary practices into regional cultural identity. Therefore, the preservation and further development of A. leptopus utilization as an ornamental plant and traditional medicinal plant are necessary to support the sustainability of local wisdom and Indonesia's biodiversity Keywords: Local wisdom. Traditional beverage. Malay Riau Abstrak Air mata pengantin merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tanaman Antigonon leptopus serta minuman tradisional khas Melayu Riau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek botani A. dan makna budaya minuman es air mata pengantin dalam masyarakat Melayu Riau. leptopus merupakan tanaman merambat dari famili Polygonaceae yang memiliki bunga berwarna merah muda hingga putih, tumbuh berkelompok, dan kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, alkaloid, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Sementara itu, es air mata pengantin merupakan minuman tradisional yang terdiri atas agar-agar warna-warni, cincau, biji selasih, sirup merah, dan es serut, dinamakan demikian karena tampilannya menyerupai keindahan bunga A. Penamaan yang sama pada tanaman dan minuman ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Melayu Riau dalam mengaitkan keindahan alam dengan nilai-nilai kehidupan dan tradisi budaya mereka. Fenomena ini juga menunjukkan proses pewarisan nilai budaya dan transformasi kuliner tradisional menjadi bagian dari identitas budaya daerah. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan pemanfaatan tanaman A. sebagai tanaman hias maupun tanaman obat tradisional perlu dilakukan untuk mendukung keberlanjutan kearifan lokal dan keanekaragaman hayati Indonesia. Received May 30, 2025. Revised June 30, 2025. Accepted July 24, 2025. Online Available July 29,2025 Annisa Mutia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 70 Ae 73 Kata Kunci: Air mata pengantin, kearifan lokal. Melayu Riau PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang sangat tinggi. Kekayaan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pemanfaatan tanaman lokal dan tradisi kuliner daerah yang beragam serta sarat makna. Salah satu contohnya adalah air mata pengantin, yang memiliki makna budaya mendalam dan digunakan dalam dua konteks berbeda namun saling terkait . Tanaman Air Mata Pengantin (Antigonon leptopu. merupakan salah satu tanaman merambat berbunga yang memiliki daya tarik estetika sekaligus nilai simbolik dalam berbagai budaya, termasuk di wilayah Riau. Keindahan bunganya yang berwarna merah muda hingga putih kerap menjadi simbol kelembutan dan kesucian, sehingga tidak mengherankan jika tanaman ini mendapat julukan "Air Mata Pengantin" . Dalam konteks budaya Riau, tanaman ini tidak hanya dijadikan penghias halaman rumah atau upacara adat, tetapi juga diolah menjadi minuman tradisional yang menyegarkan dan dipercaya memiliki manfaat Penggunaan tanaman ini dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan bentuk kearifan lokal masyarakat yang memadukan alam dan budaya secara harmonis. Kearifan tersebut juga menjadi bentuk resistensi budaya terhadap arus modernisasi yang kian menggeser praktik-praktik tradisional masyarakat Minuman "Air Mata Pengantin" yang dikenal di kalangan masyarakat Riau merupakan hasil dari olahan bunga dan daun tanaman ini, dicampur dengan bahan alami lainnya seperti sirup buah, agar-agar, dan biji Minuman ini biasanya disajikan dalam acara-acara adat maupun kegiatan sosial sebagai simbol kehangatan dan penerimaan terhadap tamu. Lebih dari sekadar minuman, "Air Mata Pengantin" menyimpan nilai filosofis mengenai kehidupan, kesetiaan, dan harapan dalam budaya Melayu Riau. Nilainilai tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas kultural yang penting untuk dipertahankan, terutama di tengah ancaman homogenisasi budaya akibat globalisasi. Oleh karena itu, pelestarian tanaman dan minuman ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya local . Kearifan lokal yang melekat pada pemanfaatan tanaman "Air Mata Pengantin" juga dapat dikaji dari sudut pandang etnobotani dan farmakognosi. Studi etnobotani mencatat bahwa masyarakat lokal telah lama menggunakan tanaman ini tidak hanya sebagai ornamen atau bahan minuman, tetapi juga sebagai obat tradisional untuk meredakan demam dan mengatasi gangguan pencernaan 4. Kandungan senyawa flavonoid dan polifenol dalam tanaman ini memberikan manfaat antioksidan yang mendukung daya tahan tubuh. Kajian farmakologis ini membuka peluang untuk pengembangan produk berbasis tanaman lokal yang berpotensi secara ekonomi dan kesehatan. Namun demikian, penelitian ilmiah yang mendalam masih diperlukan untuk menguatkan klaim manfaat tersebut serta menentukan dosis yang tepat dan aman . Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, penting untuk menjadikan pelestarian tanaman dan minuman "Air Mata Pengantin" sebagai bagian dari program edukatif yang menumbuhkan kesadaran budaya dan lingkungan. Edukasi tentang manfaat, sejarah, dan cara pengolahan minuman ini dapat dilakukan melalui lokakarya, pameran budaya, maupun integrasi dalam kurikulum pendidikan lokal. Kegiatan semacam ini tidak hanya meningkatkan rasa cinta terhadap budaya sendiri, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan berbasis sumber daya lokal. Dengan melibatkan berbagai pihak seperti akademisi, masyarakat adat, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah, upaya pelestarian ini dapat berjalan lebih efektif dan inklusif. Lebih lanjut, integrasi kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan identitas lokal ke tingkat nasional maupun internasional. Minuman "Air Mata Pengantin", jika dikemas dengan baik, memiliki potensi sebagai ikon kuliner khas Riau yang tidak hanya menyegarkan secara fisik, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan historis para Dengan demikian, pelestarian tanaman dan minuman ini bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan juga merupakan investasi budaya dan ekonomi yang bernilai tinggi bagi generasi mendatang. TINJAUAN PUSTAKA 1 Identifikasi Tanaman Air Mata Pengantin di Riau Tanaman Air Mata Pengantin (Antigonon leptopu. merupakan flora tropis yang dikenal akan keindahan bunganya serta ketahanan tumbuhnya di lingkungan panas dan kering. Di Provinsi Riau, tanaman ini tidak Air Mata Pengantin: Kearifan Budaya Riau Dalam Tanaman Dan Minuman Tradisional (Annisa Muti. Annisa Mutia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 70 Ae 73 hanya dikenal sebagai elemen estetika dalam lanskap pekarangan, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa masyarakat tradisional sering memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan ramuan minuman penyegar alami, terutama dalam konteks budaya lokal seperti kenduri adat dan pengobatan herbal ringan. Keterkaitan antara pemanfaatan tanaman lokal dan pelestarian budaya menunjukkan sinergi antara biodiversitas dan kearifan tradisional masyarakat Melayu Riau . 2 Kandungan Bioaktif dan Potensi Farmakologis Tanaman Air Mata Pengantin telah diteliti memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin, yang diketahui memiliki efek antioksidan dan antiradang. Kandungan ini memperkuat kepercayaan masyarakat lokal akan manfaat kesehatannya saat dikonsumsi sebagai minuman herbal, baik secara langsung maupun melalui proses perebusan bunga dan daunnya. Aktivitas farmakologis tersebut turut memperkaya nilai tanaman ini, menjadikannya bukan hanya sekadar hiasan atau simbol budaya, tetapi juga sumber bahan baku fitofarmaka yang potensial dalam pengembangan produk herbal modern . 3 Fungsi Sosial dan Filosofi Budaya dalam Tradisi Melayu Dari sudut pandang budaya, minuman berbasis Air Mata Pengantin sering kali hadir dalam perayaan tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu dan simbol kesegaran batin. Simbolisme ini berkaitan erat dengan warna bunganya yang merah muda cerah, mencerminkan kehalusan perasaan dan ketulusan niat dalam tradisi Melayu. Studi etnobotani di kawasan Riau menegaskan bahwa praktik ini sudah berlangsung lintas generasi, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan kuliner lokalAA. tengah arus modernisasi, pelestarian nilai-nilai tersebut menjadi penting sebagai bentuk perlawanan terhadap homogenisasi budaya global . 4 Peran Perempuan dalam Transmisi Pengetahuan Tradisional Lebih lanjut, peran perempuan dalam pelestarian tanaman dan penyajian minuman tradisional ini sangat Perempuan Melayu, terutama ibu rumah tangga dan penggiat budaya, sering kali menjadi penjaga tradisi melalui pengetahuan turun-temurun mengenai cara budidaya tanaman, pemanenan yang tepat, dan teknik pengolahan yang sesuai dengan kaidah adat. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian tanaman Air Mata Pengantin tidak dapat dilepaskan dari dimensi gender dan peran domestik dalam masyarakat Oleh karena itu, penguatan komunitas lokal dalam mengelola warisan budaya berbasis tanaman perlu mendapat perhatian lebih dalam program pengabdian masyarakat dan pengembangan agroekowisata 5 Integrasi Ilmu Modern dan Tradisi dalam Pelestarian Terakhir, untuk mendukung keberlanjutan pemanfaatan tanaman ini secara modern, pendekatan interdisipliner antara etnobotani, farmakologi, dan antropologi budaya sangat diperlukan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan masyarakat adat akan mampu menciptakan inovasi produk berbasis Air Mata Pengantin yang tetap menghormati nilai-nilai tradisional namun dapat diterima dalam konteks industri herbal kontemporer. Pendekatan semacam ini tidak hanya mendukung konservasi tanaman lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah dalam menghadapi tantangan globalisasi. METODOLOGI PENELITIAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2025 di area publik Stadion Utama Riau, yang dipilih sebagai lokasi strategis karena ramai dikunjungi masyarakat, terutama pada sore hari. Metode yang digunakan bersifat partisipatif-edukatif, dengan pendekatan interaktif untuk menarik minat masyarakat terhadap kearifan lokal berupa tanaman dan minuman tradisional AuAir Mata PengantinAy. Tim pengabdi membagikan minuman Air Mata Pengantin secara gratis kepada pengunjung, baik yang mampu menjawab pertanyaan seputar budaya dan khasiat tanaman lokal maupun yang belum mengetahui jawabannya, sebagai bentuk edukasi sekaligus apresiasi. Pertanyaan yang diajukan bersifat ringan namun informatif, seperti asal-usul nama minuman, komposisi bahan alami, serta manfaat kesehatan yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara langsung dan terbuka dengan mematuhi protokol interaksi sosial yang sopan dan inklusif. Dokumentasi kegiatan dilakukan dalam bentuk foto dan catatan lapangan untuk mendukung evaluasi serta publikasi hasil kegiatan di kemudian hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada sore hari tanggal 22 Juli 2025 di Stadion Utama Riau berhasil menarik perhatian masyarakat dengan antusiasme yang tinggi. Pengunjung yang datang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab seputar tanaman JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 70 - 73 Annisa Mutia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 70 Ae 73 dan minuman tradisional AuAir Mata PengantinAy. Baik peserta yang mampu menjawab pertanyaan maupun yang belum mengetahui jawabannya tetap diberikan minuman gratis, sebagai bentuk pendekatan edukatif sekaligus penghargaan terhadap partisipasi mereka. Suasana kegiatan berlangsung dengan hangat dan interaktif, memperlihatkan ketertarikan masyarakat terhadap informasi budaya lokal yang sebelumnya kurang dikenal. Minuman AuAir Mata PengantinAy yang dibagikan juga mendapat respons positif dari masyarakat, baik dari segi rasa maupun penyajiannya yang menarik. Selain memberikan pengalaman menyenangkan, kegiatan ini juga memberikan pengetahuan baru mengenai manfaat bahan-bahan alami lokal, serta memperkuat identitas budaya masyarakat Riau. Dokumentasi menunjukkan bahwa lebih dari 100 orang terlibat secara aktif dalam kegiatan ini, menjadikannya sebagai langkah awal yang menjanjikan dalam pelestarian kearifan lokal melalui pendekatan kreatif dan edukatif. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif melalui media minuman tradisional AuAir Mata PengantinAy dapat menjadi sarana yang efektif dalam memperkenalkan dan melestarikan kearifan budaya lokal Riau. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan, baik dalam menjawab pertanyaan maupun menikmati minuman yang dibagikan, membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional masih memiliki tempat dan daya tarik tersendiri di tengah masyarakat modern. Minuman tradisional tidak hanya berperan sebagai pelepas dahaga, tetapi juga sebagai pembawa identitas budaya dan nilai kesehatan alami. Sebagai saran, kegiatan serupa hendaknya dilaksanakan secara berkala dan menjangkau lokasi-lokasi strategis lainnya di Riau guna memperluas dampak sosialisasi budaya lokal. Selain itu, diperlukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, seperti dinas kebudayaan, pelaku UMKM lokal, dan institusi pendidikan, agar nilai-nilai tradisional seperti ini tidak hanya dikenang, tetapi juga diberdayakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari identitas daerah yang membanggakan. Ucapan Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak pihak yang telah memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan kegiatan ini, serta kepada warga kota Pekanbaru yang turut mendukung pelestarian budaya lokal. Penghargaan juga kami sampaikan kepada para tokoh adat, budayawan, serta sesepuh masyarakat yang telah berbagi cerita dan pengetahuan tentang sejarah es kasturi, serta kepada teman teman yang menjadi mitra inspiratif dalam kegiatan ini. Tak lupa, kami mengapresiasi mahasiswa, relawan, dan seluruh palaksana yang dengan semangat dan dedikasi tinggi membantu terselenggaranya kegiatan ini sebagai wujud nyata pelestarian kuliner tradisional yang sarat makna dan nilai DAFTAR PUSTAKA