MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat. Vol. No. November, 2025 e-ISSN 2988-3997 Copyright A 2025 Indah Nur Ramadina, et al. Pendekatan Asset-Based Community Development dalam Pengabdian Masyarakat: Studi Kasus Pendirian Gugus Depan Pramuka IAI Badrus Sholeh Indah Nur Ramadina1* Alfet Robi Nur Muhammad2 1,2Institut Agama Islam Badrus Sholeh Purwoasri. Kediri. Jawa Timur Indonesia e-mail: nur. ramaadina@gmail. com1*, muhammadalfeth93@gmail. Abstract The purpose of this community service project was to establish a scout troop in accordance with the values of Islamic boarding schools at IAI Badrus Sholeh. The scout troop was established using an Asset-Based Community Development The result of the community service activity is the establishment of a scout troop using the ABCD approach, which includes the discovery stage, where IAI Badrus Sholeh has potential assets that support the establishment of a scout troop. The dream stage, where the enabler formulates the target to be achieved, which is to establish a scout troop in accordance with Islamic boarding school values. The design stage involved discussions on the types of assets that could be used to ensure the successful establishment of the scout troop. The definition stage involved discussions to determine the details of the implementation of the establishment of the scout troop. In the implementation stage, the empowerment team sent a letter requesting a scout troop number to the Purwoasri Subdistrict Scout Headquarters and obtained the scout troop number approval document. Keywords: Asset-Based Community Development. Scouts. Scout Troops. Islamic Boarding Schools. Universities. Abstrak Tujuan pengabdian untuk mendirikan gudep pramuka yang sesuai dengan nilainilai kepesantrenan di IAI Badrus Sholeh. Pendirian gudep pramuka ini dilakukan dengan pendekatan Asset-Based Community Development. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat adalah pendirian gudep menggunakan pendekatan ABCD meliputi, tahap menemukan . IAI Badrus sholeh mempunyai aset-aset yang berpotensi mendukung pendirian gudep pramuka. Tahap mimpi . pemberdaya merumuskan target yang dicapai yaitu mendirikan gugus depan pramuka yang sesuai dengan nilai kepesantrenan. Tahap merancang . dilakukan diskusi mengenai macam-macam aset yang dapat digunakan dalam rangka menyukseskan pendirian gudep. Tahap menentukan . dilakukan diskusi untuk menentukan detail pelaksanaan pendirian gugus depan. Tahap melakukan . , pemberdaya mengirimkan surat pengajuan nomor gugus depan ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri, dan mendapatkan dokumen pengesahan nomor gudep. Kata Kunci: Asset-Based Community Development. Pramuka. Gugus Depan. Pesantren. Perguruan Tinggi Pendahuluan Kepanduan di era pribumi diketahui sudah mulai ada pada masa Pemerintahan Belanda. Nederlance Padvinders Organisatie atau NPO merupakan kepanduan lokal pertama yang lahir di Jakarta pada tahun 1912 (Hakim, 2. Selanjutnya, kepanduan pribumi terbentuk di Mangkunegaran pada tahun 1916, kepanduan tersebut dikenal dengan nama Javansche Padvinders Organisattie atau JPO (Hakim, https://miftahul-ulum. id/ojs/index. php/mayara/index Vol. No. November 2025 e-ISSN 2988-3997 Di era Indonesia merdeka. Gerakan pramuka ditetapkan sebagai organisasi berbadan hukum. Pada tanggal 20 Mei tahun 1961, ditetapkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 sebagai kelanjutan dan pembaruan atas Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia dan ditetapkannya tanggal 1 Agustus sebagai Hari Pramuka (Pramuka, 2. Gerakan Pramuka merupakan sebuah wadah pembinaan serta pengembangan generasi muda, yang mencakup anak-anak maupun dewasa muda. Sejalan dengan (Surahman, 2. Gerakan Pramuka adalah sebuah gerakan pendidikan kepanduan Praja Muda Karana yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak-anak dan para pemuda. Gerakan pramuka merupakan organisasi pendidikan non-formal yang turut berperan dalam pembangunan bangsa. Pendidikan kepramukaan diberikan kepada anak-anak serta pemuda yang merupakan tunas bangsa agar mereka menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dalam mengisi kemerdekaan bangsa. Sebagaimana pendapat (Dian Nur Izzah et al. , 2. bahwa pendidikan kepramukaan merupakan pendidikan di luar pendidkan formal dan di luar pendidikan keluarga yang dikemas dalam bentuk kegiatan yang menarik, menyenangkan, sehat, teratur dan terarah yang dilakukan di alam terbuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan untuk membentuk kepribadian, kecakapan hidup dan akhlak mulia. Begitu juga (Afandi & Rocmah, 2. tentang kepramukaan menyatakan, kegiatan pramuka merupakan sebuah wadah pembentuk generasi bangsa yang beragama, berakhlak mulia, bertanggung jawab, cerdas, memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, patriotik serta terampil. Dari pendapat-pendapat tersebut jelaslah, bahwa pendidikan kepramukaan merupakan sebuah wadah bagi tunas bangsa dalam memperoleh kecakapan hidup dan wadah pembentukan karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kegiatan pramuka dalam lembaga pendidikan formal dilaksanakan di luar kegiatan akademis formal, disebut ekstrakulikuler bagi tingkat sekolah dan disebut unit kegiatan mahasiswa (UKM) bagi tingkat perguruan tinggi. Pendidikan kepramukaan dapat diselenggarakan dengan membentuk gugus Gugus Depan adalah satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan penyelenggara pendidikan kepramukaan (Pramuka, 2. Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan formal dapat membentuk gugus depan dengan berbasis satuan Hal ini sebagaimana pada pasal 21 Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 2010 mengenai Gerakan Pramuka dijelaskan jenis gugus depan bahwa, gugus depan meliputi gugus depan berbasis satuan pendidikan dan gugus depan berbasis komunitas (Nasution, 2. Pandega merupakan peserta didik dalam pendidikan kepramukaan yang berusia 21-25 tahun (Afandi & Rocmah, 2. Dimana, pada umumnya di Indonesia usia 21 hingga 25 tahun berada di tingkat pendidikan perguruan tinggi. Pandega yang berpangkalan di perguruan tinggi merupakan sumber daya manusia yang mempunyai potensi besar dalam pembentukan kader pimpinan gerakan pramuka maupun sebagai pimpinan masyarakat bangsa (Fadiyatunnisa et al. , 2. Institut Agama Islam Badrus Sholeh merupakan salah satu lembaga perguruan tinggi swasta di Kecamatan Purwoasri Kediri. IAI Badrus Sholeh didirikan di lingkup pondok pesantren Al-Hikmah, dibawah naungan yayasan Al-Hikmah Purwoasri Kediri yang dirintis oleh Almarhum KH. Badrus Sholeh Arif sejak tahun 1968 M. IAI Badrus Sholeh sebagai salah satu lembaga pendidikan formal dibawah naungan pesantren memiliki tugas dan tanggungjawab besar, termasuk membentuk lulusan yang cakap dan terampil di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni budaya yang berlandaskan nilai-nilai kepesantrenan dan kearifan lokal. Tugas dan tanggung jawab IAI Badrus Sholeh secara umum adalah untuk mewujudkan tercapainya visi menjadi PTKIS yang unggul dan kompetitif berdasarkan nilai-nilai kepesantrenan dan kearifan lokal pada tahun 2030. IAI Badrus Sholeh menawarkan MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat e-ISSN 2988-3997 enam program studi yang tersebar di tiga fakultas program studi S1. Diantaranya, program studi pendidikan bahasa arab, program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, program studi Pendidikan Anak Usia Dini, program studi Hukum Keluarga Islam. Program studi Ekonomi Syariah. Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Mahasiswa di IAI Badrus Sholeh mayoritas adalah santriwan dan santriwati yang berasal dari berbagai daerah yang mukim di pondok pesantren milik yayasan Al-Hikmah Purwoasri Kediri, dan sebagian lagi berasal dari warga sekitar. IAI Badrus Sholeh memiliki infrastruktur akademik yang memadai serta tenaga pengajar yang berkualitas dan berkompeten dibidang masing-masing. Dapat dimengerti bahwa, terdapat banyak aset berharga di dalam perguruan tinggi IAI Badrus Sholeh ini, baik dari segi sumber daya manusianya, nilai sosial dan budaya, finansial, maupun sarana dan prasarana yang ada di dalamnya. Pendekatan Asset-Based Community Development merupakan sebuah pendekatan yang menjadikan aset sebagai sumber kekuatan dalam pengembangan komunitas (Suprihatiningsih & Istikhomah, 2. Pendekatan ABCD fokus pada identifikasi serta penggunaan aset lokal dalam rangka pembangunan serta pemberdayaan masyarakat (Kurniawan et al. , 2. Pendapat lain menyebutkan bahwa. ABCD adalah metode pembangunan masyarakat yang fokusnya adalah aset lokal, yang meiputi keterampilan, juga pengetahuan serta sumber daya milik suatu komunitas, bukan mengidentifikasi kebutuhan ataupun masalah komunitas (Rinawati et al. , 2. Berbeda dengan sebagian besar studi ABCD sebelumnya yang menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi, sosial, atau pengembangan masyarakat desa (Fuadi & SaiAoin, 2023. Susilowati, 2. , penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan memperluas penerapan pendekatan ABCD ke dalam ranah pendidikan kepramukaan berbasis pesantren. Integrasi ini menghadirkan model konseptual baru yang menggabungkan nilai-nilai kepramukaan: seperti kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawabAidengan prinsip pemberdayaan berbasis aset yang berorientasi pada penguatan sumber daya spiritual, sosial, dan kultural pesantren. Dengan demikian. ABCD tidak hanya diposisikan sebagai strategi pembangunan masyarakat, tetapi juga sebagai pendekatan pedagogis yang menumbuhkan kepemimpinan sosial dan karakter religius di lingkungan akademik Studi berikut menunjukkan penerapan pendekatan Asset-Based Community Development berhasil digunakan dalam pengembangan potensi sosial di Desa Durenan Sidorejo Magetan yang berfokus pada tiga bidang, yaitu pendidikan, keagamaan, dan UMKM (Fuadi & SaiAoin, 2. Berikutnya, studi pendampingan matrikulasi kompetensi bahasa Arab di MAN 1 Pasuruan menggunkan pendekatan Asset-Based Community Development melalui lima tahapan yaitu menemukan . , impian . , merancang . , menentukan . , dan melakukan . menunjukkan hasil sangat baik, peserta didik mampu mengeksplorasi kompetensi yang dimiliki dan seluruhnya mengikuti proses kegiatan dengan baik (Syarifah et al. , 2. Selanjutnya, studi mengenai Optimalisasi Peran Rukun Nelayan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development Pada Peningkatan Perekonomian Masyarakat berkembangnya usaha pemilik kapal sehingga dapat menyerap tenaga kerja, kegiatan penangkapan ikan yang semakin lancar juga memberikan dampak pada pendapatan masyarakat Desa Palang (Susilowati, 2. Dari paparan tersebut dapat dimengerti bahwa. Asset-Based Community Development atau disebut juga pendekatan ABCD efektif digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dengan cara mengidentifikasi aset yang dimiliki suatu komunitas kemudian memanfaatkan aset-aset tersebut untuk pembangunan berkelanjutan. Pendirian Gugus Depan Pramuka di IAI Badrus Sholeh sebagai upaya strategis dalam membantu mewujudkan salah satu misi kampus yaitu melaksanakan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya yang beriman, bertaqwa, dan Vol. No. November 2025 e-ISSN 2988-3997 berakhlakul karimah. Iman, taqwa dan akhlak perlu dipupuk dan dikembangkan untuk membentuk jati diri dan perilaku yang luhur. Dengan didirikannya gudep pramuka, mahasiswa IAI Badrus Sholeh akan mendapat fasilitas berupa wadah untuk mengembangkan nilai-nilai luhur yang ada pada diri mereka sesuai dengan nilai-nilai kepramukan. Hal ini dikarenakan, pendidikan kepramukaan mengajarkan nilai-nilai luhur. Sebagaimana (Yulianti, 2. meyatakan, nilai-nilai kepramukaan adalah nilai-nilai positif yang diajarkan dan ditanamkan pada para anggota Sumber nilai-nilai kepramukaan terdapat pada Tri Satya. Dasa Dharma Pramuka dan Kecakapan serta Keterampilan yang dikuasai anggota pramuka. Tri Satya merupakan kode janji yang menggambarkan sikap nasionalisme dan sosialisme anggota pramuka. Dasa Dharma yaitu kode moral anggota pramuka. Dasa Dharma wajib dimengerti juga diamalkan oleh anggota agar mereka punya kepribadian baik, sedangkan Kecakapan dan keterampilan pramuka diajarkan agar bermasyarakat(Margunaji, 2. Secara konseptual, hubungan antara pendidikan kepramukaan dan pemberdayaan berbasis aset pesantren berakar pada kesamaan orientasi keduanya dalam menumbuhkan potensi internal individu dan komunitas. Kepramukaan menekankan pendidikan karakter melalui pengalaman langsung dan pengabdian sosial, sementara pesantren menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan kemandirian. Keduanya sama-sama berfokus pada pembentukan insan yang berdaya, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat. Penerapan pendekatan ABCD dalam konteks ini memperkuat sinergi antara aspek spiritual dan sosial, menjadikan santri serta mahasiswa bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan yang memanfaatkan aset pesantren untuk membangun komunitas kepramukaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pendirian gugus depan pramuka yang berkelanjutan di IAI Badrus Sholeh ini bukan sekedar membawa manfaat untuk mahasiswa atau untuk perguruan tinggi IAI Badrus Sholeh secara pribadi, namun lebih dari itu akan memberi manfaat untuk pembangunan bangsa Indonesia. Melalui Gugus Depan pramuka, kampus berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten perihal akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemandirian, serta kepekaan sosial sesuai dengan nilai kepesantrenan dan kearifan lokal, sehingga diharapkan lulusan IAI Badrus Sholeh dapat bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keisalaman dan nasionalismenya. Metode Pelaksanaan Pendektan Program Program pengabdian kepada masyarakat berupa mendirikan gugus depan pramuka ini dilaksanakan dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). ABCD masyarakat(Politeknik Negeri Bali et al. , 2. Pendekatan ABCD dibangun dari prinsip-prinsip Jhon McKnight dan Jody Kretzmann. Pendekatan ini mengedepankan identifikasi aset, dengan identifikasi aset maka akan dapat membantu mengetahui potensi-potensi yang dimiliki sebuah komunitas sehingga dapat merencanakan sebuah perubahan melalui potensi tersebut (Andianto et al. Adapun aset yang dimaksud dalam hal tersebut mencakup aset ekonomi, aset lingkungan, aset fisik maupun non fisik, serta aset sosial (Ramadhani & Saputra. Pendekatan ABCD bertujuan untuk mengembangkan dan memaksimalkan aset yang dimiliki suatu komunitas sehingga dapat menjadi keunggulan serta kekuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Haines, 2. Artinya, makna aset dalam hal ini sangat luas, tidak hanya terbatas pada kepemilikan dalam bentuk fisik seperti tanah ataupun gedung, namun bisa juga berupa sumber daya manusia . ahasiswa, dosen, alumni, masyaraka. , lingkungan alam, finansial, spiritual, nilai ataupun budaya yang ada pada lembaga. MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat e-ISSN 2988-3997 Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mengarah pada sebuah perubahan, berfokus pada tujuan yang ingin dicapai, serta membantu mewujudkan visi sebuah komunitas(Setyawan et al. , 2. Berkaitan dengan program pengabdian kepada masyarakat ini. IAI Badrus Sholeh memiliki aset berupa: SDM meliputi pejabat akademik, dosen, mahasiswa. sarana dan prasarana. dan budaya yang mampu saling bersinergi dalam rangka pendirian gugus depan pramuka. Berdasaran Christopher Dureau metode AssetBased Community Development (ABCD) memiliki lima tahap yaitu, menemukan . , impian . , merancang . , menentukan . , dan melakukan . (Dureau, 2. Adapun Langkah-langkah Proses Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menggunakan Metode Asset-Based Community Development digambarkan pada diagaram sebagai berikut: Menemukan (Discover. (Discover. pment Langkah-langkah Proses Pengabdian kepada Masyarakat Metode Asset-Based Community Development Community Development Pengabdian kepada Masyarakat Pengabdian Impian (Drea. Masyarakat (Discover. pment Metode Asset-Based Pengabdian Merancang (Desig. Masyarakat (Discover. pment Community Development Metode Asset-Based Pengabdian Menentukan (Defin. Masyarakat (Discover. pment Community Development Metode Asset-Based Pengabdian Melakukan (Destin. Masyarakat Community Development (Discover. pment Metode Asset-Based Diagram 1 Langkah-langkah PkM menggunakan metode ABCD Metode Asset-Based Pengabdian Community Development Community MasyarakatDevelopment Lokasi Kegiatan dan Mitra Pengabdian Metode Asset-Based Pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini dilakukan di lembaga Perguruan Development Tinggi Keagamaan Islam Swasta IAI BadrusCommunity Sholeh yang beralamat di Jl. Raya Purwoasri No. Templek. Purwoasri. Kec. Purwoasri. Kabupaten Kediri. Jawa Timur. Mitra program pengabdian ini diantaranya : pejabat akademik di IAI Badrus Sholeh. dosen IAI Badrus Sholeh. seluruh mahasiswa S1 IAI Badrus Sholeh tahun ajaran 2024/2025 yang meliputi mahasiswa program studi pendidikan bahasa arab, program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, program studi Pendidikan Anak Usia Dini, program studi Hukum Keluarga Islam. Program studi Ekonomi Syariah, dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Alur Pelaksanaan Pengabdian Sejalan dengan Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang diadopsi dari Christopher Dureau memiliki lima tahapan krusial dalam mendirikan Gugus Depan (Gude. Pramuka di IAI Badrus Sholeh, di mana setiap tahap berfokus pada pemanfaatan kekuatan internal lembaga. Tahap Menemukan (Discover. Tahap ini merupakan fondasi program yang bertujuan mengidentifikasi aset dan potensi yang dimiliki oleh IAI Badrus Sholeh. Kegiatan utama meliputi wawancara dengan dosen dan mahasiswa, observasi sarana dan prasarana, serta identifikasi kuesioner mahasiswa. Aset yang berhasil diidentifikasi mencakup aset lingkungan . ilai kepesantrena. , aset fisik . arana prasarana yang memada. , dan aset sumber daya manusia . osen dan mahasiswa yang kompeten, termasuk adanya dosen dengan ijazah kepramukaa. Tahap Impian (Drea. Berdasarkan aset yang ditemukan, tahap ini berfokus pada perumusan visi dan target masa depan yang ingin dicapai, yaitu membayangkan perubahan positif yang mungkin terwujud. Hasilnya adalah perumusan target spesifik: Mendirikan Gugus Vol. No. November 2025 e-ISSN 2988-3997 Depan Pramuka berbasis satuan pendidikan yang segala aktivitasnya disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai kepesantrenan. Target ini selaras dengan misi kampus untuk membentuk lulusan yang beriman, bertaqwa, dan berakhlakul karimah. Tahap Merancang (Desig. Tahap ini melibatkan perencanaan kreatif untuk mewujudkan impian yang telah ditetapkan. Kegiatan inti adalah Focus Group Discussion (FGD) dengan pimpinan akademik (Wakil Rektor. Dekan. Kaprod. A Menentukan alokasi aset fisik . engfungsikan satu ruangan untuk sanggar Gude. A Merencanakan anggaran kegiatan dan inventaris. A Merencanakan susunan Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigu. dan Dewan Racana. A Menyusun instrumen need assessment untuk mahasiswa. Tahap Menentukan (Defin. Setelah rancangan disepakati, tahap ini bertujuan menentukan detail pelaksanaan dan memperkuat konsep. Melalui FGD lanjutan dengan mahasiswa dan Kaprodi, dilakukan finalisasi: A Penguatan konsep Gudep berbasis nilai kepesantrenan. A Penyusunan keanggotaan Mabigus dan Gudep. A Penyusunan Program Kerja (Proke. Gudep dalam jangka waktu triwulan, satyawulan, dan tahunan. A Penyiapan dokumen pengajuan nomor Gudep ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri. Tahap Melakukan (Destin. Tahap akhir ini adalah pelaksanaan tindakan inovatif yang berkelanjutan menuju visi yang diinginkan. Kegiatan utama adalah pengiriman surat dan dokumen pengajuan nomor Gudep kepada Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri. Tahap ini mencapai puncaknya dengan kunjungan dari pengurus Kwartir Ranting dan penyerahan dokumen pengesahan nomor Gudep. Hasil dan Pembahasan Pembahasan hasil penelitian, dimulai dengan deskripsi identitas responden yang menjadi objek penelitian. Kuesioner dibagikan dalam bentuk google formulir yang diisi oleh sebanyak 57 mahasiswa IAI Badrus Sholeh. Berdasarkan jenis kelamin, yang mengisi angket terdapat 7 mahasiswa laki-laki dan 50 mahasiswa perempuan yang berasal dari prodi PGMI. PIAUD. Bahasa Arab, serta Ilmu Al-QurAoan dan Hadist. Program pengabdian kepada masyarakat berupa pendirian gugus depan pramuka di IAI Badrus Sholeh melalui lima tahapan, sebagai berikut: Menemukan (Discover. Proses menemukan dilakukan melalui percakapan atau wawancara yang kemudian menjadi temuan personal dan dijadikan dasar peruahan(Dureau, 2. Pada tahap ini dilakukan identifikasi aset yang dimiliki oleh IAI Badrus Sholeh Purwoasri Kediri. Pengambilan data lapangan dilaksanakan melalui wawancara langsung dengan 6 dosen dan 5 mahasiswa, observasi, serta identifikasi dokumentasi data kuesioner dalam google formulir yang telah diisi oleh sebanyak 57 mahasiswa IAI Badrus Sholeh. Dalam tahapan ini diperoleh data-data yang menunjukkan aset IAI Badrus Sholeh, yang meliputi aset lingkungan, aset fisik, dan aset sumber daya manusia. IAI Badrus Sholeh didirikan di lingkungan pondok pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri dibawah naungan yayasan Al-Hikmah. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa, yayasan pendidikan islam Al-Hikmah yang saat ini telah berkembang dan memiliki lembaga pendidikan formal ini dirintis oleh almarhum Kyai H. Badrus Sholeh Arif. Beliau tercatat sebagai tokoh pertama yang MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat e-ISSN 2988-3997 mendirikan pondok pesantren putri di Kabupaten Kediri. Sejak tahun 1968 yayasan ini telah mendirikan lembaga pendidikan formal yaitu MuAoalimin MuAoalimat yang kemudian berubah menjadi Lembaga Pendidikan Guru Agama (PGA). Dan saat ini yayasan Al-Hikmah Purwoasri Kediri telah mengalami perkembangan yang cukup Yayasan pendidikan Islam Al-Hikmah Purwoasri Kediri telah mendirikan beberapa pondok pesantren yang di dalamnya juga terdapat lembaga pendidikan formal yang lengkap di setiap jenjang. Pada jenjang perguruan tinggi, yayasan AlHikmah Purwoasri Kediri mempunyai Institut Agama Islam Badrus Sholeh. Dengan ini dapat dimengerti bahwa. IAI Badrus Sholeh memiliki aset lingkungan yang kuat perihal kepesantrenan atau pendidikan keagamaan islam. Sehingga segala aktivitas yang dilaksanakan dalam perkuliahan maupun luar perkuliahan harus dengan berlandaskan nilai-nilai atau budaya kepesantreanan. IAI Badrus sholeh memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk dijadikan tepat perkuliahan. Terdapat beberapa ruangan perkuliahan yang cukup luas, dengan dilengkapi fasilitas berupa LCD proyektor, papan tulis, meja dan kursi serta ventilasi udara yang cukup. Gedung perkuliahan IAI Badrus Sholeh juga dilengkapi dengan CCTV di setiap ruangan, serta Wifi yang dapat diakses seluruh civitas akademika IAI Badrus Sholeh. Gedung perkuliahan IAI Badrus Sholeh dilengkapi juga dengan ruangan auditorium, laboratorium komputer, ruangan dosen, ruangan staf, ruangan pimpinan, kamar mandi putra, kamar mandi putri, tempat ibadah, serta halaman parkir yang cukup luas. Berdasarkan hasil observasi juga diperoleh bahwa. IAI Badrus Sholeh memiliki 1 ruangan yang belum Hal ini menunjukkan bahwa. IAI Badrus Sholeh memiliki aset fisik yang sangat mendukung bagi seluruh civitas akademika IAI Badrus sholeh, yang meliputi mahasiswa, dosen, staf serta pimpinan untuk melaksanakan kegiatan akademik. Fasilitas fisik yang dimiliki IAI Badrus Sholeh ini juga cukup mendukung untuk pelaksanaan kegiatan non akademik, seperti ekstrakulikuler dan intrakulikuler IAI Badrus Sholeh memiliki tenaga pengajar yang berkualitas dan kompeten dalam bidang masing-masing, diantaranya dalam bidang ilmu tarbiyah, ilmu syariah dan ilmu ushuludin. Dari kegiatan observasi diperoleh informasi. IAI Badrus Sholeh mempunyai 47 dosen yang seluruhnya mempunyai latar belakang pendidikan S2, satu diantaranya sudah menempuh pendidikan S3 dan sebagian sedang menempuh pendidikan S3. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa, beberapa dosen juga mempunyai pengalaman non akademik, khususnya di bidang Dari 47 dosen, terdapat 6 dosen yang telah mengikuti kursus di bidang kepramukaan. Dari 6 dosen tersebut, sebanyak 5 dosen telah mengikuti dan mendapatkan ijazah kursus kepramukaan mahir tingkat dasar, dan 1 lainnya telah mengikuti dan mendapatkan ijazah kursus kepramukaan mahir tingkat lanjutan (KML). Dan beberapa diantaranya memiliki pengalaman mengikuti ekstrakulikuler pramuka di jenjang pendidikan tingkat SMP. SMA, dan saat kuliah. Serta juga terdapat dosen yang memiliki pengalaman sebagai pembina pramuka. Demikian dapat dimengerti bahwa IAI Badrus Sholeh memiliki aset berupa sumber daya manusia yang berkompeten dalam bidang akademik dan non akademik bidang ilmu Impian (Drea. Pada tahap ini dilakukan perumusan target, perumusan ini didasarkan pada aset-aset yang telah ditemukan di IAI Badrus Sholeh. Sebagaimana (Rinawati & Arifah, 2. menerangkan bahwa yang dilakukan pada tahap ini menerawang segala macam kemungkinan masa depan yang mungkin terwujud. Artinya berdasarkan identifikasi aset di IAI Badrus Sholeh maka, pemberdaya dapat mengetahui potensi-potensi yang dimiliki IAI Badrus Sholeh. Kemudian ditahap ini Vol. No. November 2025 e-ISSN 2988-3997 peneliti dapat mulai mengeksplor harapan dan mimpinya melalui potensi tersebut sehingga dapat diwujudkan sebuah perubahan poitif pada lembaga. Hasil identifikasi aset, diperoleh informasi bahwa. IAI Badrus Sholeh berada pada lingkungan yang kuat perihal kepesantrenan atau pendidikan keagamaan Sehingga segala aktivitas yang dilaksanakan dalam perkuliahan maupun luar perkuliahan harus dengan berlandaskan nilai-nilai atau budaya kepesantreanan. Sementara, mengenai fasilitas fisik. IAI Badrus Sholeh memiliki fasilitas yang cukup mendukung untuk pelaksanaan kegiatan non akademik, seperti ekstrakulikuler dan intrakulikuler kampus. Dan perihal sumber daya manusia, seluruh dosen-dosen di IAI Badrus Sholeh berkompeten dalam bidang akademik dan beberapa juga memiliki kompetensi non akademik bidang ilmu kepramukaan. Berdasarkan temuan tersebut, pemberdaya menyimpulkan bahwa Institut Agama Islam Badrus Sholeh. mempunyai potensi yang cukup baik untuk dapat mendirikan gugus depan Namun, karena IAI Badrus Sholeh berdiri di bawah naungan pesantren, maka pemberdaya berharap dapat mendirikan gugus depan pramuka yang segala aktifitasnya nanti berpedoman pada budaya dan nilai-nilai kepesantrenan. Pemberdaya berharap, berdirinya Gugus Depan Pramuka di IAI Badrus Sholeh juga akan dapat membantu mewujudkan salah satu misi kampus yaitu melaksanakan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya yang beriman, bertaqwa, dan berakhlakul karimah. Selain itu, pemberdaya berharap, dengan didirikannya gudep pramuka, mahasiswa IAI Badrus Sholeh akan mendapat fasilitas berupa wadah untuk mengembangkan nilai-nilai luhur yang ada pada diri mereka melalui kegiatan kepramukaan. Dengan demikian pemberdaya merumuskan, target yang hendak dicapai yaitu mendirikan gugus depan pramuka berbasis satuan pendidikan di IAI Badrus sholeh, yang segala bentuk kegiatan kepramukaannya nanti akan disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai kepesantrenan. Merancang (Desig. Tahap merancang . dilaksanakan dengan cara diskusi focus group discussion (FGD). Tahap merancang . merupakan cara kreatif melihat masa depan yang mungkin terwujud (Fuadi & SaiAoin, 2. Dalam diskusi pendirian gugus depan pramuka di IAI Badrus Sholeh ini, pemberdaya melibatkan kehadiran wakil rektor 1, wakil rektor 2. Dekan Fakultas Tarbiyah, kaprodi PGMI dan kaprodi PIAUD. Dalam diskusi dibahas mengenai macam-macam aset di IAI Badrus Sholeh yang dapat digunakan dalam rangka menyukseskan pendirian gugus depan pramuka di IAI Badrus Sholeh. Hasil diskusi diperoleh rancangan diantaranya, satu ruangan yang belum di fungsikan di gedung IAI Badrus Sholeh akan difungsikan untuk sanggar atau sekertariat gugus depan pramuka, akan dianggarkan biaya untuk pengadaan infentaris, dan biaya untuk melaksanakan kegiatan gugus depan kepramukaan. Selanjutnya yaitu merancanakan pertemuan dengan pimpinan kampus, dalam hal ini yaitu rektor IAI Badrus Sholeh, beliau H. Mohammad Nabiel. Th. Ag. tujuan untuk meminta izin mendirikan gudep serta melibatkannya sebagai ketua mabigus, dan beberapa dosen sebagai pengurus majelis pembimbing gugus depan atau mabigus, serta merencanakan pertemuan dengan mahasiswa dengan tujuan melibatkan mereka dalam susunan dewan racana pramuka IAI Badrus Sholeh. Misi merencanakan pertemuan dengan mahasiswa dilakukan dengan cara menghubungi mahasiswa-mahasiswa yang telah ditentukan untuk dilibatkan dalam susunan dewan racana pramuka IAI Badrus Sholeh melalui Whatsapp. Selanjutnya pemberdaya membentuk grup Whatsapp untuk mempermudah komunikasi antar seluruh pemangku kepentingan. Pemberdaya juga menyusun instrumen angket need assessment yang berfungsi untuk menampung aspirasi dan kebutuhan mahasiswa terkait kegiatan kepramukaan di gugus depan yang hendak diwujudkan ini dan kemudian disebarkan ke seluruh mahasiswa IAI Badrus Sholeh pada tanggal 21 Agustus 2025. MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat e-ISSN 2988-3997 Diskusi pada tahap ini juga membahas mengenai rencana program kerja gugus depan, yang segala aktifitasnya nanti berpedoman pada budaya dan nilai-nilai Kemudian dibahas juga mengenai tahapan-tahapan pendirian gudep, setelah mendapatkan izin mendirikan gugus depan oleh rektor, pemberdaya direncanakan untuk menghubungi pengurus Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri Kediri untuk pengajuan nomor gudep. Gambar1 focus group discussion (FGD) bersama wakil rektor 1 IAI Badrus Sholeh Menentukan (Defin. Pemberdaya melanjutkan pada tahap define setelah mendapatkan izin rekotor untuk mendirikan gugus depan pramuka di IAI Badrus Sholeh. Tahap define . yaitu menentukan tujuan dari proses pencarian atau menentukan mengenai perubahan yang diinginkan (Fuadi & SaiAoin, 2. Pada tahap ini dilakukan kembali diskusi dengan melibatkan kaprodi PGMI dan beberapa mahasiswa untuk menentukan detail pelaksanaan pendirian gugus depan. Dalam diskusi ini diperkuat kembali mengenai konsep gugus depan yang akan didirikan di IAI Badrus Sholeh, yaitu gugus depan pramuka yang segala aktifitasnya nanti berpedoman pada budaya dan nilai-nilai kepesantrenan. Gambar 2 focus group discussion (FGD) bersama mahaiswa IAI Badrus Sholeh Dari diskusi ini diperoleh hasil akhir berupa susunan keanggotaan mabigus dan gugus depan serta program kerja gugus depan dalam jangka waktu triwulan, satyawulan dan tahunan. Pada tahap ini pemberdaya juga menyiapkan surat pengajuan nomor gugus depan yang akan dikirimkan ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri, serta menjadwalkan waktu kunjungan ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri. Melakukan (Destin. Tahap tahap destiny merupakan serangkaian tindakan yang terus menerus dan inovasi tentang Auapa yang akan terjadiAy, dan ini merupakan fase akhir yang fokus membahas cara-cara personal atau organisasi melangkah maju(Fuadi & SaiAoin. Vol. No. November 2025 e-ISSN 2988-3997 Pada tahap destiny, pemberdaya mengirimkan surat pengajuan nomor gugus depan ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri. Pemberdaya juga melampirkan dokumen yang berisi susunan majelis pembina gugus depan, susunan pengurus gugus depan serta serta program kerja gugus depan dalam jangka waktu triwulan, satyawulan dan tahunan. Gambar 3 Acara kunjungan oleh perwakilan pengurus Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri Gambar 4 Sesi penyerahan dokumen pengesahan nomor gudep Dalam jangka waktu dua minggu setelah mengirimkan dokumen-dokumen tersebut, salah satu pengurus Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri melakukan kunjungan ke IAI Badrus Sholeh, beliau adalah kak Rony Sabdo Langit. Pd. Wakil rektor 2 IAI Badrus Sholeh beserta jajaran dosen menyambut dengan baik kedatangan beliau. Dalam sambutannya kak Rony Sabdo Langit, mengungkapkan rasa senang dan memberikan apresiasi kepada IAI Badrus Sholeh atas kerjasamanya dengan Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri dalam mendirikan gugus depan perguruan tinggi IAI Badrus Sholeh. Acara kunjungan ini diakhiri dengan prosesi penyerahan dokumen pengesahan nomor gudep dari perwakilan pengurus Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri kepada pembina gugus depan IAI Badrus Sholeh. Kesimpulan Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah pendirian gudep menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development meliputi lima tahap, pada tahap menemukan . IAI Badrus sholeh mempunyai aset lingkungan, aset fisik, dan aset sumber daya manusia. yang berpotensi yang baik pendirian gugus depan pramuka. Pada tahap mimpi . pemberdaya merumuskan, target yang hendak dicapai yaitu mendirikan gugus depan pramuka yang sesuai dengan budaya dan nilai-nilai kepesantrenan. Tahap merancang . dilakukan diskusi mengenai macam-macam aset yang dapat digunakan dalam rangka menyukseskan pendirian gugus depan. Tahap menentukan . dilakukan diskusi untuk menentukan detail pelaksanaan pendirian gugus depan. Tahap melakukan . , pemberdaya mengirimkan surat pengajuan nomor MAYARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat e-ISSN 2988-3997 gugus depan ke Kwartir Ranting Kecamatan Purwoasri, dan mendapatkan dokumen pengesahan nomor gudep. Ucapan Terimakasih Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, nikmat dan kesehatan yang telah diberikan, sedingga proses penyusunan karya ini dapat berjalan dengan baik. Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada keluarga tercinta, khususnya orang tua, atas doa dan dukunganya. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada seluh sivitas akademika Institut Agama Islam Badrus Sholeh Kediri atas segala dukungan yang diberikan. Referensi