Pengaruh Aplikasi Stimulan Terhadap Hasil Produksi Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Ar. Di PT. Socfin Kebun Tanah Besih The Influence Of Application Of Results Against Stimulant Crop Production Of Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Ar. PT. Socfin Clean Soil Garden Ingrid Ovie Yosephine dan Guntoro Budidaya Perkebunan. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan * Email : ingridsitompul@yahoo. ABSTRACT Stimulants are a substance used to stimulate the rubber plant to remove more latex than Giving stimulant is usually done on plants aged over 6 years and on slow stater clones such as PB217 stimulant application done in the morning and a sunny day . ot Applied to the tapping grooves with lace application technique that is by lubricating the stimulant solution on the tapping groove without pulling scrapnya, in this study water-soluble stimulant or 1 liter of stimulant mixed by 3 liters of water to form a concentration of 2. 5% stimulant used Ethrel PA 10. The research was conducted in Afdelling I Kebun Tanah Besih PT. Socfin. The time of this study was conducted in July until August 2017. The results showed that in giving stimulant can increase the production of latex, and lump, it's just DRC decreased dikolakan stimulant solution used has stimulated rubber tree to absorb water more than usual so that greater amount of water than its latex content. Keywords: Lubrication Time. Dose, and Tapping System ABSTRAK Stimulan adalah zat yang digunakan untuk merangsang tanaman karet untuk menghilangkan lebih banyak lateks daripada biasanya. Pemberian stimulan biasanya dilakukan pada tanaman berumur di atas 6 tahun dan pada klon stater lambat seperti aplikasi stimulan PB217 dilakukan pada pagi hari dan hari yang cerah . ukan huja. Diterapkan pada alur sadap dengan teknik pengaplikasian renda yaitu dengan melumasi larutan stimulan pada alur sadap tanpa menarik scrapnya, pada penelitian ini stimulan yang larut dalam air atau 1 liter stimulan dicampur dengan 3 liter air membentuk konsentrasi 2,5% stimulan. menggunakan Ethrel PA 10. Penelitian ini dilakukan di Afdelling I Kebun Tanah Besih PT. Socfin. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemberian stimulan dapat meningkatkan produksi lateks, dan benjolan, hanya saja DRC menurun dikolakan larutan stimulan yang digunakan telah merangsang pohon karet untuk menyerap air lebih dari biasanya sehingga jumlah air yang lebih banyak daripada kandungan lateksnya. Kata Kunci : Waktu Pelumasan. Dosis, dan Sistem Penyadapan PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman karet (Havea brasiliensis Muell. Ar. berasal dari negara Brazil dimana tanaman ini memiliki tinggi tanaman mencapai 15-20 Tanaman karet banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama di pulau Sumatera, dan juga di pulau lain yang diusahakan baik oleh perkebunan negara, swasta maupun rakyat. Sejumlah areal di Indonesia memiliki keadaan yang cocok dimanfaatkan untuk perkebunan karet yang kebanyakan terdapat di Sumatera meliputi Sumatera Utara. Sumatera Barat. Riau. Jambi. Sumatera Selatan. Dalam skala yang lebih kecil perkebunan karet didapatkan pula di Jawa. Kalimantan dan Indonesia bagian Timur (Budiman. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuannya adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh produksi yang Tekanan turgor merupakan tekanan pada dinding sel oleh isi sel. Semakin banyak isi sel, semakin besar pula tekanan pada dinding sel. Tekanan yang besar akan memperbanyak lateks yang keluar dari pembuluh lateks. Oleh sebab itu, penyadapan dianjurkan dimulai saat turgor masih tinggi, yaitu pada saat matahari belum tinggi. Pada tanaman muda, penyadapan umumnya telah dimulai pada umur 5-6 tahun, tergantung Penyadapan pada tanaman muda, sebelum sadapan rutin berjalan, terlebih dahulu dilakukan bukaan sadapan yang merupakan saat-saat pertama dimulainya penyadapan pada tanaman yang telah (Setyamidjaja, 2. Untuk produksi para pelaku perkebunan karet biasanya memakai sistem eksploitasi stimulansia . Setyamidjaja . dalam Sugiharto Wibowo . eksploitasi tanaman karet adalah tindakan memanen lateks dari pohon karet sehingga diperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan kapasitas produksi tanaman karet dalam siklus ekonomi yang direncanakan. Sejalan dengan adanya perkembangan teknik budidaya karet dari cara primitif menjadi cara yang teratur, perkembangan teknik eksploitasi juga mengalami kemajuan yang sangat berarti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stimulan lateks dapat mempengaruhi sintesis lateks. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan stimulan lateks antara lain : peningkatan produksi, penghematan penggunaan kulit, dan penghematan biaya penyadapan. Stimulan lateks yang sudah umum digunakan untuk tujuan tersebut adalah etefon dengan nama dagang Ethrel. Stimulan Ethrel mengandung bahan aktif 2-chloroethyl-phosphonic . Bahan ini akan terurai menjadi etilen di dalam jaringan meningkatkan tekanan osmotik dan penyumbatan ujung pembuluh lateks pengaliran lateks. Pemakaian stimulan etefon dapat meningkatkan hasil lateks secara nyata. Namun besarnya respon tanaman karet terhadap stimulan ethepon antara lain bergantung pada jenis klon, umur tanaman karet. Konsentrasi stimulan, dan sistem sadap terutama intensitas Dengan demikian, aplikasi stimulan lateks yang tidak mengikuti anjuran dapat menimbulkan efek samping diantaranya: penurunan kadar karet kering k (DRC), penurunan laju lilit batang, dan peningkatan terjadinya KAS atau kering alur sadap (Boerhendhy, 2. Berdasarkan dari hasil kegiatankegiatan saya di lapangan saya telah mengetahui sedikitnya tentang aplikasi stimulan, maka saya ingin lebih mengetahui tentang proses, tata cara, dan ketentuan-ketentuan dalam melakukan eksploitasi tanaman karet dengan stimulan berbahan aktif etefon dan menjadikan hasil dari penelitian saya menjadi pedoman dalam budidaya tanaman karet. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Bolot Santoso . , penggunan etefon ditujukan untuk menekan biaya produksi mengingat mahalnya biaya panen akibat tingginya upah kerja penyadap dan sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang terampil. Etefon hanya memberi manfaat bila penggunaanya dilakukan pada tingkat produktivitas tertentu yang bergantung pada besarnya biaya produksi kg karet Secara umum stimulan etefon akan memberi keuntungan lebih besar bila aplikasinya dilaksanakan pada penyadapan kulit pulihan dan sadapan Urgensi Penelitian Produktivitas stimulan lateks pada tanaman karet dengan dosis yang telah ditentukan. Untuk mencapai hasil yang diinginkan maka pemberian stimulan lateks harus memperhatikan beberapa faktor antara lain, tanaman yang akan diaplikasikan stimulan harus memenuhi persyaratan teknis seperti umur tanaman yang sesuai untuk diberikan stimulan, kondisi tanaman dan sistem sadap harus baik, dan aplikasi stimulan harus sesuai dosis yang tepat. Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas stimulan berbahan aktif etefon terhadap produksi pada tanaman karet dan kadar karet kering. Target Temuan Kenaikan volume produksi lateks setelah aplikasi stimulan Kontribusi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam khususnya pada sistem eksploitasi tanaman yang menggunakan stimulan. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di blok 19 ancak 14 afdeling 1 kebun Tanah Besih PT. Socfindo Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatra Utara, waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2017. Rancangan Penelitian Rancangan menggunakan rancangan pengambilan sampel dan pengamatan dari hasil produksi stimulan Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah : - Stimulan berbahan aktif etefon - Air bersih sebagai campuran stimulant - Amoniak apabila diperlukan untuk mengencerkan lateks yang sudah Alat yang digunakan adalah : - Kuas khusus untuk pengolesan larutan stimulan pada alur sadap - Mangkok untuk wadah larutan - Gelas ukur untuk mengukur volume Meteran unruk mengukur lilit batang dan panjang alur sadapTahapan Penelitian Persiapan Areal Penelitian Penentuan Pohon Sampel Pengamatan pada pohon kontrol . idak diberikan stimula. Pengamatan pada pohon yang di berikan stimulan Pengamatan dan Indikator Pengamatan dilakukan mulai dari pengolesan hingga pemungutan hasil lateks dan indikator yang jelas adalah volume lateks beserta kualitas kadar karet kering . Pemberian Stimulan Pengolesan stimulan dilakukan pada hari tidak dilakukannya panen . Pengamatan dimulai dari proses penyadapan atau keesokan harinya setelah di oleskan stimulant. Volume Lateks Volume lateks diukur pada saat pengamatan lateks setelah di sadap dengan menggunakan gelas ukur. k (Kadar Karet Kerin. Kadar karet kering diukur untuk mengetahui kualitasnya dengan melakukan pengujian dengan alat Mitrolax. Lump Pengamatan dengan mengumpulkan lump pada saat pemungutan yaitu dua hari setelah penyadapan. Bagan alur penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Informasi Umum Lokasi Kebun PT. Socfin Indonesia Kebun Tanah Besih terletak di Desa Paya Pasir Kecamatan Tebing Syah Bandar Kabupaten Serdang Bedagai. Jarak tempuh Medan ke lokasi PT. Socfin Indonesia Kebun Tanah Besih A 82 kilometer dengan waktu tempuh normal 2 jam. PT. Socfin Indonesia Kebun Tanah Besih berbatasan dengan : Eo Sebelah Utara : berbatasan dengan Desa Binjai Eo Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Kelapa Eo Sebelah Timur : berbatasan dengan Desa Mandaris Eo Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Paya Pinang Sejarah Perusahaan PT. SOCFINDO merupakan suatu usaha kerja sama antara Indonesia Negara Belgia (Plantation North Sumatera S. A). Diawali pada tahun 1909. Societe Financiere des Caouchourse Medan Societe Anonyme . didirikan oleh Bunge. Sementara itu aktifitas perkebunan PT. Socfin Indonesia pertama kali dimulai pada tahun 1906 di kebun Sei Liput. Aceh Timur. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tanggal 07 Desember 1903, berdasarkan Akta Notaris William Leo NO 45, atas nama dan legilitas PT. Socfin Medan SA (Societe Financiere des Caouchourse Medan Societe Anonym. Berdasarkan Akta Notaris tersebut PT. Socfindo Medan SA berkedudukan di Medan dan mengelola perkebunan di daerah Sumatera Timur. Aceh Barat, dan Aceh Timur. Pada 1966-1967, perusahaan ini beralih nama menjadi PPN EXSOFIN dan pada tahun dimana komposisi permodalan 40% 1968 perusahaan ini berubah nama pemerintah Republik Indonesia dan 60% menjadi PT. Socfin Indonesia yang PNS. Namun saat ini pemerintah disingkat PT. SOCFINDO dan berdiri Republik Indonesia telah melepas 35% secara resmi. Berdasarkan surat menteri sahamnya kepada Socfin S. A, sehingga dalam negeri untuk Hak Guna Usaha saham pemerintah RI hanya 10%. No. 63/HGU/1968. Perusahaan ini bergerak di Pada tahun 1968, tepatnya pada bidang kelapa sawit dan karet serta tanggal 29 April 1968 dicapai pengolahannya PT. SOCFINDO dengan kesepakatan antara Pemerintah Republik kantor pusat di jalan K. Yos sudarso Indonesia (RI) dengan pemilik saham No. 106 Medan, mempunyai perkebunan PT. SOCFINDO Medan SA diperkuat dan pengolahan hasil perkebunan yang dengan Surat Keputusan Presiden terbesar di wilayah Aceh dan Sumatera. Republik Indonesia Pengolahan No. 68/PRES/6/1968 Surat dilaksanakan dalam perkebunan itu Keputusan Menteri Pertanian sendiri dengan mendirikan pabrik. No. 94/Kpts/Op/6/1968, tanggal 7 Juni 1978 yang berisikan patungan antara Curah Hujan pemerintah Republik Indonesia dengan Data curah hujan untuk afdeling I perusahaan asal Negara Belgia yaitu kebun Tanah Besih dapat dilihat pada Plantation North Sumatera S. A (PNS) tabel di bawah ini : Tabel 4. Data Curah Hujan dan Hari Hujan Selama Tahun 2015-2017. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Curah Hujan. Hari Hujan Curah Hujan. Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah curah hujan yang terjadi pada tahun 2015 sebesar 1121 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 96 hari dan rata-rata curah hujan pada tahun 2015 adalah 93 mm per tahun, curah hujan tertinggi pada tahun 2015 terjadi pada bulan November sebesar 2014 mm dengan hari hujan paling banyak terjadi pada bulan November sebanyak 15 hari Pada tahun 2016 curah hujan yang terjadi sebesar 1288 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 95 hari dan rata-rata curah hujan yang terjadi pada tahun 2016 adalah 107 mm per tahun. Hari Hujan Curah Hujan. Hari Hujan curah hujan tertinggi pada tahun 2016 terjadi pada bulan September sebesar 224 mm dengan hari hujan paling banyak terjadi pada bulan September sebanyak 15 hari hujan. Pada tahun 2017 curah hujan yang dapat diamati hanya pada bulan Januari-Juli saja karena penelitian dilakukan pada bulan Juli dan Agustus jumlah curah hujan sebesar 934 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 60 hari dan rata-rata curah hujan yang terjadi pada bulan Januari-Juli sebesar 133 mm dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Mei sebesar 182 mm dan hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Mei sebanyak 12 hari hujan. Tabel 4. 2 Curah Hujan Harian Juli-Agustus 2017 . aktu penelitia. Tanggal . Curah Hujan (M. Sore Total Curah Hujan (M. Waktu (Meni. Pagi Malam 29 Juli 30 Juli 31 Juli 1 Agustus 2 Agustus Ket. Pagi . Wib Sore . Wib Malam . Wib Dari tabel diatas dapat diketahui pada karena klon PB 217 . low state. memiliki saat penyadapan pohon kontrol . idak respon yang tinggi terhadap pemberian diberikan stimula. pada tanggal 29 Juli curah Pohon sampel yang belum diberikan hujan terjadi pada malam hari sebesar 7 ml stimulan dipilih menggunakan sistem dengan waktu 30 menit kemudian pada diagonal yaitu baris pertama mengambil 5 tanggal 31pada saat pemberian stimulan pohon berurutan, baris kedua dimulai dari terjadi hujan pada sore hari sebesar 8 ml . pohon keenam dan baris ketiga dimulai pada meni. dan malam sebesar 5 ml . pohon ke 11 dan seterusnya. kemudian pada 1 Agustus terjadi hujan pada malam hari sebesar 5 ml dengan waktu 25 Pengamatan pohon normal / stimulan menit, dan pada 2 Agustus pada hari Pengamatan penyadapan pohon yang telah diberikan aplikasi stimulan dengan mengetahui volume stimulan terjadi hujan pada sore hari sebesar 5 tetesan lateks setelah penyadapan per ml dengan waktu 25 menit. mangkok pada saat pemungutan lateks. Kemudian dilakukan aplikasi stimulan dua hari setelah penyadapan, dan penyadapan Persiapan Areal Penelitian Persiapan areal penelitian dengan dilakukan dua hari setelah pemberian mencari areal yang paling strategis agar Pengamatan dilakukan juga untuk memudahkan pekerjaan seperti memilih areal mengetahui volume lateks yang sudah di pinggir jalan, lokasi penelitian dekat diberikan stimulan. dengan TPH agar lebih cepat untuk pengecekan DRC dan kondisi lahan yang Ketentuan Aplikasi Stimulan Penelitian lebih tepat di ambil pada Stimulan yang digunakan dalam afdeling I blok 19 dan ancak 14 dengan tahun penelitian ini adalah Ethrel 10 PA. tanam 2006 dengan klon PB217. yang digunakan pada pohon karet yaitu dengan konsentrasi 2,5% untuk klon PB 217 tahun tanam 2006 dan sistem sadapnya A S Penentuan Pohon Sampel Pohon sampel harus benar-benar D/4, 1 liter larutan stimulan dicampur 3 liter dalam kondisi baik seperti umur yang sama air hingga terbentuk konsentrasi 2,5%. Alat tahun tanam yang sama . dan yang digunakan untuk mancampur stimulan jenis klon yang sama. Penelitian ini dengan air yaitu mixer, ember, dan pewarna menggunakan klon PB 217 . low state. , . Pemilihan klon PB 217 dalam penelitian ini kuas yang telah dicelupkan kedalam larutan stimulan dan langsung mengoleskanya pada alur sadap tanpa menarik skrapnya. Gambar 4. 2 Alat dan Bahan Stimulan Sumber : Koleksi Pribadi . stimulan ethrel 10 PA dalam kemasan 20 . pewarna stimulan digunakan untuk mempercerah agar penyadap mengetahui . alat untuk mencari konsentrasi stimulan yaitu mixer, corong, gelas ukur, dan . stimulan yang telah mendapatkan konsentrasi 2,5% dan siap dioleskan pada alur sadap Aplikasi stimulan dilakukan pada pagi hari mulai pukul 07:00 wib dengan tehnik Lace application yaitu dengan mengoleskan Gambar 4. 3 Pengolesan Ethrel Penelitian ini dilakukan pada blog 19 tepatnya pada ancak 14, dalam ancak 14 terdapat 711 pohon dengan jarak tanam 6,5 x 3 meter dengan klon PB 217 dan tahun tanam Penelitian ini mengambil setengah ancak 14 sebanyak 356 pohon pada panel B1, pemberian stimulant dilakukan pada hari kedua setelah proses penyadapan. Petugas stimulant dilakukan oleh tenaga buruh harian lepas (BHL) dengan pengawasan mandor obat . Tabel 4. Sampel Pohon Sebelum diberi Stimulan Pada Ancak 14 Blok 19 Baris I Total Rata rata Baris II Baris i Baris IV Baris V Baris VI Baris VII Baris Vi Total Rata rata Baris IX Baris X Baris XI Baris XII Dari tabel di atas pengambilan sampel yang belum diberi stimulan etrhel . dilakukan dengan sistem diagonal yaitu mengambil 5 pohon berkelanjutan pada baris berikutnya, lokasi penelitian ini dilakukan di blog 19 pada ancak ke 14 dengan mengambil setengah ancaknya yaitu 356 pohon dengan parameter volume per mangkok lateks dan waktu tetes aliran lateks. Pengambilan sampel dikakukan pada tanggal 29 Juli 2017 mulai dari awal penyadapan yaitu pukul 06 wib sampai selesai penyadapan yaitu pukul 10 Tabel 4. Sampel Pohon Setelah diberi Stimulan Pada Ancak 14 Blok 19 Baris I Total Rata Baris II Baris i Baris IV Baris V Baris VI Baris VII Total Rata Baris Vi Baris IX Baris X Baris XI Baris XII Ket. S: Pohon Sampel V: Volume Lateks Dari tabel diatas pengambilan sampel pada pohon yang telah diberi stimulan dilakukan dengan sistem diagonal yaitu mengambil 5 pohon berkelanjutan pada baris berikutnya, lokasi penelitian ini dilakukan di blog 19 pada ancak ke 14 dengan mengambil setengah ancaknya yaitu 356 pohon dengan parameter volume per mangkok lateks dan waktu tetes aliran lateks. Pengambilan sampel dikakukan pada tanggal 2 Agustus 2017 mulai dari awal penyadapan yaitu pukul 06 wib sampai selesai penyadapan yaitu pukul 10 8 Produksi Lateks Sebelum dan Sesudah Aplikasi Stimulan Sistem Sadap D/4 Suhu Pohon C) Disadap Volume . Sbl Sdh Rata Pohon Sbl Sdh DRC (%) Sbl Sdh Total Karet Kering . Sbl Sdh Lump Sbl Sdh Produksi Pohon Sbl Sdh 35,28 Tabel 4. 5 Produksi Sebelum dan Sesudah di Stimulan Ket : Sbl = Sebelum Perlakuan . Juli 2. Sdh = Sesudah Perlakuan . Agustus 2. Dari tabel diatas dapat dilihat sebelum aplikasi yaitu 81,5 gram dengan produksi yang telah diberikan stimulan DRC mengalami penurunan yaitu dari 39 pada /2 ancak 14 dengan jumlah pohon menjadi 36 setelah diaplikasikan 356 mendapatkan 98 liter lateks dari Pengukuran DRC dilakukan di sebelum aplikasi yaitu 58,5 liter lateks. TPH yaitu dengan menggunakan alat total karet kering 35,28 kg dari sebelum metrolax dengan cara mencampurkan 1 aplikasi yaitu 22,8 kg, lump 9 kg dari liter lateks ditambah 2 liter air bersih sebelum aplikasi yaitu 6 kg dengan kemudian di tuangkan kedalam gelas produksi perpohonnya 123,6 gram dari berukuran 1 liter dan di masukan metrolax Untuk mengetahui DRC pada metrolax tersebut dengan membaca angka skala pada metrolax, kemudian di setiap angka yang tepat maka angka tersebut dikali 3. Gambar : 4. 7 Grafik karet kering lateks sebelum dan setelah aplikasi stimulan Gambar 4. Mengukur DRC Menggunakan MetrolaxSumber :Koleksi Pribadi Produksi Lateks Sebelum Aplikasi Stimulan dan Setelah Aplikasi Gambar : 4. 5 Grafik volume lateks sebelum dan setelah aplikasi stimulan Gambar : 4. 6 Grafik DRC lateks sebelum dan setelah aplikasi stimulan Gambar : 4. 8 Grafik lump lateks sebelum dan setelah aplikasi stimulan . Gambar : 4. 9 Grafik total karet kering lateks sebelum dan setelah aplikasi stimulan . Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa jumlah setiap parameter yang diamati menunjukan produksi lateks yang telah diberikan stimulan ethrel PA 10 dengan konsentrasi 2,5% dapat meningkatkan volume lateks dan total karet keringnya dibandingkan dengan produksi lateks pada pohon yang belum diberikan stimulant. Dilihat dari hasil liter lateks kenaikan mencapai 68% sehingga pemberian stimulan pada ancak 14 dikatakan berhasil dikarenakan . etentuan Kenaikanproduksi Eo Gram/pohon : 67% Eo Karetkering : 52% Eo Lump : 50% Eo Produksi/pohon : 52% Tetapi DRC penurunan dikarenakan larutan stimulant yang digunakan telah merangsang pohon karet untuk menyerap lebih banyak air dari tanah yang diakibatkan pembuluh lateks masih terbuka denganwaktu yang lebih lama dari biasanya sehingga lebih besar jumlah air dari pada kandungan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari disimpulkan bahwa : Produksi lateks sebelum di stimulan dengan jumlah pohon 356 yaitu 58,5 kg dengan keseluruhan produksi karet kering per pohon yaitu 81,5 gram dengan DRC 39%. Sedangkan produksi lateks setelah di stimulant dengan jumlah pohon 356 yaitu 98 kg dengan keseluruhan produksi karet kering per pohon yaitu 123,6 gram dengan DRC 36%. Penggunaan stimulant etherl dapat menurunkan DRC hingga 8%. Saran Untuk meningkatkan produksi lateks stimulan terbukti dapat memenuhi keinginan pelaku usaha perkebunan karet, namun produksi meningkat dan beban tanaman akan lebih berat. Oleh sebab itu penggunaan stimulan harus benar-benar memperhatikan tata cara pemakaian sesuai aturan dalam kemasan ethrel maupun aturan perusahaan dan kondisi tanaman. Pelumasan stimulan yang baik itu dapat di berikan pada dinding alur sadap lebih baik dari pada dilumaskan pada alur sadapnya, karena lelehan dari dinding alur sadap dapat melewati lebih banyak kulit lateks daripada hanya melumaskan pada alus DAFTAR PUSTAKA