Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A PENGARUH PROFITABILITAS. LEVERAGE. LIKUIDITAS TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN Samuel Ekawira Theopratama* dan Nurnainun Bangun Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara Jakarta *Email: samuel. 125190023@stu. Abstract: The purpose of this study was to determine the effect of profitability, leverage, and liquidity on financial distress in food and beverage sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2020-2022. This study used 93 company data and used purposive sampling method. The results showed that profitability and liquidity have a positive effect on financial distress, while leverage has a negative and insignificant effect on financial distress. Keywords: Profitability. Leverage. Liquidity. Financial Distress Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari profitabilitas, leverage, dan likuiditas terhadap financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan sebanyak 93 data perusahaan dan menggunakan metode purposive Data diolah menggunakan aplikasi E-views 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas dan likuiditas berpengaruh positif terhadap financial distress, sedangkan leverage berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap financial distress. Kata kunci: Profitabilitas. Leverage. Likuiditas. Financial Distress Pendahuluan Memprediksi perkembangan masa depan dan mengindentifikasi kemungkinan kegagalan sangat penting bagi perusahaan dalam lingkungan ekonomi yang dinamis, karena meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi risiko kesulitan keuangan di masa depan dapat membantu perusahaan menyesuaikan strategi untuk menghindari kesulitan keuangan dan kebangkrutan serta dapat mengurangi biaya kesulitan keuangan dan kegagalan bisnis. Menurut Yehui Tong dan Zelia Serrasquciro . tanda normal dari sebuah perusahaan yang mengalami kesulitan biasanya ditandai dengan penurunan profitabilitas yang signifikan dan umumnya memengaruhi pada arus kas perusahaan. Hal ini kemudian akan menghabiskan likuiditas mereka dan akan mempengaruhi efisiensi operasi perusahaan secara tepat waktu, masalah perjanjian utang, terbatasnya akses terhadap sumber modal utang dan ekuitas tradisional dan leverage yang Posisi ini akan menyebabkan pemangku kepentingan utama, termasuk vendor, pelanggan, dan karyawan untuk menilai kembali hubungan mereka dengan Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A Menurut (Platt dan Platt . dalam Liahmad et al. , 2. , istilah "kesulitan keuangan" mengacu pada memburuknya situasi keuangan yang terjadi sebelum kebangkrutan atau likuidasi. Ketidakmampuan banyak perusahaan untuk mengelola sumber daya keuangan mereka secara efektif dalam menghadapi persaingan industri yang kompetitif telah menciptakan kesulitan keuangan bagi perusahaan-perusahaan ini. Kajian Teori AgencyTheory. Teori keagenan, yang pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976, menjelaskan hubungan antara pemilik . dan agen . rang lai. dalam pengambilan keputusan dan penyediaan layanan kepada agen. Dalam hal keuangan perusahaan, teori keagenan dapat diterapkan ketika pemilik . menunjuk agen untuk mengelola operasi perusahaan, termasuk pengambilan keputusan Agency theory mempengaruhi keuangan perusahaan dan peran agen dalam pengambilan keputusan. Jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan, agen juga akan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi kesulitan keuangan tersebut dan menjaga kesehatan keuangan perusahaan (Gilbert Jacob Ratuela et al. Signalling Theory. Teori sinyal berfokus pada bagaimana manajemen mengkomunikasikan kepada investor bagaimana manajemen memandang prospek masa depan perusahaan. Manajemen mengirimkan sinyal kepada pihak eksternal, seperti investor tentang kondisi dimana yang sedang dialami suatu perusahaan (Brigham dan Houston, . dalam Dila Ayu Pertiwi, 2. Manajemen suatu perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan produktivitasnya, dan peningkatan produktivitas biasanya disertai dengan peningkatan laba. Menurut teori sinyal, manajemen akan menginformasikan pihak ketiga tentang situasi masa depan perusahaan melalui berbagai tindakan dan pengumuman. Perusahaan dapat memberikan informasi yang berguna kepada investor, seperti mengumumkan keuntungan yang menguntungkan, memberikan dividen untuk pemegang saham atau memberikan informasi kondisi umum perusahaan. Financial Distress. Situasi di mana perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya saat ini atau kesulitan membayarnya dikenal sebagai kesulitan keuangan . inancial Menurut Yehui Tong dan Zelia Serrasquciro . , gejala-gejala kesulitan keuangan adalah hasil operasi yang negatif, penurunan dividen dan penurunan harga Financial distress pada perusahaan menggerogoti posisi manajemen puncak, yang mengarah pada menimbulkan masalah inefisiensi manajemen. Jika situasi ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mengakibatkan memaksa pemilik entitas ke dalam kebangkrutan atau likuidasi secara paksa. Profitabilitas. Menurut Kasmir . dan Angela Dirman . , rasio profitabilitas juga merupakan alat penting yang relevan dalam mengevaluasi kapabilitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan atau mencapai tingkat profitabilitas dalam periode waktu tertentu. Profitabilitas adalah suatu alat penting ketika mengevaluasi kinerja perusahaan. Jumlah total aset dan liabilitas yang digunakan oleh perusahaan selama periode waktu tertentu akan memberikan dampak terhadap tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan selama periode tersebut. Salah satu tujuan dari setiap bisnis adalah untuk keuntungan yang tinggi. Keberhasilan dalam mencapai tingkat laba yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil dalam menjalankan operasionalnya dan hal ini akan memberikan dampak positif pada kesejahteraan pemegang saham. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A Leverage. Rasio leverage ini mampu memberikan gambaran yang jelas tentang stabilitas keuangan perusahaan dalam kondisi ekstrim. Lebih lanjut, leverage menggambarkan sejauh mana hutang digunakan untuk membiayai aset perusahaan, atau dengan kata lain, bagaimana hutang mempengaruhi pengelolaan aset perusahaan. Menurut (Sukamulja . , dalam Axel Giovanni et al. , 2. , menyatakan bahwa risiko yang harus diambil oleh perusahaan harus berbanding lurus dengan rasio utang terhadap asetnya. Rasio leverage juga menjadi alat yang penting ketika sebuah perusahaan berada dalam situasi seperti likuidasi atau pembubaran. Dalam situasi seperti itu, rasio ini dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya (Kasmir, 2018: . Likuiditas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Risal Rinofah et al. , . likuiditas didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya dengan cara mengubah asetnya menjadi uang tunai. Fungsi utama dari metrik ini adalah untuk menilai kemampuan suatu entitas perusahaan untuk melakukan pembayaran penuh atas kewajiban jangka pendeknya. Ketika sebuah perusahaan memiliki skor likuiditas yang tinggi dan signifikan, berarti perusahaan tersebut berada dalam posisi yang sangat baik untuk memenuhi semua kewajiban finansial yang ada. Kaitan Antar Variabel Kaitan Profitabilitas terhadap Financial Distress. Dalam studi Desy Roganda Pardosi dan Kornel Munthe . , mereka menemukan bahwa efisiensi dalam penggunaan aset perusahaan dapat menghasilkan penghematan dan memungkinkan perusahaan mengakses sumber daya keuangan yang cukup bagi perusahaan untuk menjalankan operasinya. Ketersediaan keuangan yang cukup ini mengurangi kemungkinan bahwa perusahaan akan menghadapi masalah keuangan. Dengan kata lain, perusahaan akan dapat terhindar dari krisis keuangan jika tingkat Return On Asset (ROA) menunjukkan tren peningkatan. Sebaliknya, penurunan ROA bisa menjadi pertanda bahwa perusahaan mungkin akan menghadapi masalah keuangan atau dikenal dengan financial distress. Kaitan Leverage terhadap Financial Distress. Menurut Syamsul Ma'arif dan Yuliastuti Rahayu . melalui penelitiannya mereka menemukan bahwa leverage yang tinggi terkait dengan jumlah pinjaman korporasi yang relatif besar. Informasi tersebut dapat digunakan oleh investor untuk mengeksplorasi alternatif-alternatif yang tersedia guna mendapatkan laba atas investasi mereka. Perusahaan yang memiliki lebih banyak hutang daripada aset, dan sangat bergantung pada pembiayaan hutang, berisiko mengalami kesulitan ketika harus melakukan transaksi di masa depan. Jika masalah tidak ditangani secara bijak, risiko perusahaan untuk menghadapi masalah keuangan menjadi lebih meningkat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan leverage yang berlebihan dapat meningkatkan potensi sebuah perusahaan untuk menghadapi masalah keuangan. Kaitan Likuiditas terhadap Financial Distress. Menurut studi yang dilakukan oleh Pusvita Indria Mei Susilowati dan M. Rizali Fadlillah . menunjukkan bahwa suatu perusahaan dengan tingkat likuiditas yang tinggi biasanya memberikan citra positif kepada pemangku kepentingan, baik pihak pemangku kepentingan internal perusahaan maupun pihak eksternal. Alasannya adalah bahwa tingkat likuiditas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi komitmen keuangannya saat jatuh Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A tempo, yang dapat meningkatkan kepercayaan dan keyakinan pemangku kepentingan terhadap perusahaan. Pengembangan Hipotesis Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elsa Yuda Pratiwi dan Bambang Sudiyatno . Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap Financial Distress. H1: Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap Financial Distress. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gilbert Jacob Ratuela et al. , . Leverage berpengaruh positif terhadap Financial Distress. H2: Leverage berpengaruh positif terhadap Financial Distress. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gilbert Jacob Ratuela et al. , . Likuiditas berpengaruh positif terhadap Financial Distress. H3: Likuiditas berpengaruh positif terhadap Financial Distress. Kerangka Pemikiran dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metodologi Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian deskriptif dan data sekunder yang di ambil dari situs resmi Bursa Efek Indonesia dalam periode 2020-2022. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan populasi perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode 2020-2022 dengan kriteria sebagai berikut: a. Perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman, dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode tahun 2020 hingga 2022 dengan komitmen tinggi terhadap isu-isu lingkungan. ) Perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman yang telah mempublikasikan laporan keuangan tahunan dan variabel penelitian lengkap berakhir pada tanggal 31 Desember, dalam periode tahun 2020 ) Perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman yang menggunakan mata uang Rupiah dalam penyajian laporan keuangan mereka dalam periode tahun 2020 hingga 2022. ) Perusahaan yang merupakan sektor makanan dan minuman tidak rugi selama periode 2020 hingga 2022. Berikut Kesimpulan dari Operasionalisasi Variabel serta Proksi yang digunakan sebagai berikut: Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A Variabel Ukuran Skala Financial Distress Rasio Profitabilitas Rasio Leverage Rasio Likuiditas Rasio Sumber: Diolah oleh Peneliti,2023 Hasil Uji Statistik Hasil dari uji statistik deskriptif yang dilakukan oleh peneliti, hasil yang diperoleh dari variabel financial distress nilai rata-rata . 3,748515 dan nilai tengah . 2,972130. Nilai tertinggi . sebesar 15,72619 dan nilai terendah . sebesar -0,572980 dimiliki Nilai samping baku, atau deviasi standar, adalah 2,728761. Sedangkan, hasil yang diperoleh dari variabel profitabilitas (ROA) terdapat nilai mean adalah 0,083188, median senilai 0,072450, dan nilai tertinggi . senilai 0,274080 dan nilai terendah . senilai 0,000110. Ada juga nilai samping baku . tandar devias. senilai 0,057042. Sedangkan hasil yang diperoleh dari variabel leverage (DER) memiliki nilai rata-rata . sebesar 1,114281, nilai tengah . sebesar 0,830730, dan nilai tertinggi . aling tingg. sebesar 27,03807 dan nilai terendah . aling renda. sebesar 0,108540 Nilai samping baku . tandar devias. adalah 2,770073. Hasil dari uji statistik deskriptif yang dilakukan oleh peneliti, hasil yang diperoleh dari variabel likuiditas saat ini terdapat nilai mean senilai 2,927480, nilai tengah . senilai 1,946020, dan nilai tertinggi . adalah senilai 24,03355, dan Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A nilai terendah . sebesar 0,269010. Nilai samping baku . tandar devias. sebesar 3,303087. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas. Hasil uji ini dapat menggambarkan bahwa financial distress dengan variabel profitabilitas (ROA) maupun sebaliknya memiliki nilai koefesien sebesar 0,499174 < 0,8. Hal diatas dapat menampilkan bahwa tidak terdapat masalah Nilai koefesien financial distress dengan leverage (DER) maupun sebaliknya memperoleh koefesien sebesar -0,263868 < dari 0,8. Hal diatas menampilkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas. Nilai koefesien financial distress dengan likuiditas (CR) maupun sebaliknya memiliki nilai sebesar 0,529986 < dari 0,8. Hal diatas menampilkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas. Nilai profitabilitas (ROA) dengan leverage (DER) maupun sebaliknya terdapat koefesien sebesar -0,191537. Hal diatas menggambarkan bahwa nilai koefesien < dari 0,8, maka dapat menampilkan tidak ada masalah multikolinearitas. Nilai profitabilitas (ROA) dengan likuiditas (CR) maupun sebaliknya terdapat koefesien sebesar 0,279015. Hal diatas menampilkan bahwa nilai koefesien < dari 0,8, maka dapat dikatakan tidak terdapat masalah multikolinearitas. Nilai variabel leverage (DER) dengan variabel likuiditas (CR) maupun sebaliknya terdapat koefesien sebesar -0,135511 sehingga menunjukan bahwa nilai koefesien lebih kecil dari 0,8, maka dapat disimpulkan tidak terjadi masalah multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, bahwa nilai profitabilitas variabel profitabilitas (ROA) 0,4751 > 0,05, menampilkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedasitisitas. Variabel leverage (DER) memperoleh nilai profitablitas sebesar 0,6699 > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak ada masalah Variabel likuiditas (CR) memperoleh nilai profitabilitas sebesar 0,3511 > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak ada masalah heteroskedasitisitas. Hasil Analisis Data Analisis Regresi Liniear Berganda. Berdasarkan hasil regresi liniear berganda, jika profitabilitas (ROA), leverage (DER), likuiditas (CR) bernilai nol, maka nilai financial distress sebesar 1,869830 satuan. Variabel independen pertama yang dapat disimpulkan adalah bahwa nilai koefesien regresi dari (ROA) adalah sebesar 12,73581. Jika profitabilitas (ROA) diasumsikan meningkat satu satuan dan variabel independen lainnya seperti leverage (DER) dan likuiditas (CR) dianggap constant, maka financial distress dianggap meningkat sebesar 12,73581. Sebaliknya, jika profitabilitas (ROA) mengalami penurunan satu satuan, maka financial distress mengalami penurunan sebesar 12,73581. Variabel independen kedua yang dapat disimpulkan adalah bahwa nilai koefesien regresi dari leverage (DER) memiliki nilai koefesien sebesar -0,100937. Jika leverage (DER) diasumsikan meningkat satu satuan dan variabel independen lainnya seperti profitabilitas (ROA) dan likuiditas (CR) dianggap konstan, maka nilai Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A financial distress mengalami penurunan sebesar 0,100937 satuan. Sebaliknya, jika leverage (DER) mengalami penurunan sebanyak 1, financial distress akan terjadi Variabel independen ketiga yang dapat disimpulkan adalah bahwa nilai koefesien regresi dari likuditas (CR) memiliki nilai koefesien sebesar 0,318258. Jika likuiditas diasumsikan meningkat satu satuan dan variabel independen lainnya seperti profitabilitas (ROA) dan leverage (DER) dianggap constant, financial distress meningkat sebesar 0,318258. Sebaliknya, jika likuiditas (CR) mengalami penurunan sebesar 1, maka financial distress menurun 0,318258. Hasil Uji Koefesien Determinasi (Adjusted R. Hasil uji Adjusted R2 menunjukkan bahwa nilai R-Squared yang disesuaikan dari penelitian ini adalah 0. Kesimpulannya adalah bahwa variabel financial distress hanya dipengaruhi oleh variabel profitabilitas (ROA), leverage (DER), dan likuiditas (CR). Dan 69,30% dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar model penelitian ini. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F). Hasil Uji F menunjukkan bahwa nilai profitabilitas untuk F-statistik dalam investigasi ini adalah 0,00000. Nilai yang ditunjukkan lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan keuangan, variabel independen dalam penelitian ini, dipengaruhi oleh profitabilitas (ROA), leverage (DER), dan likuiditas (CR), secara bersama-sama. Hasil Uji Parsial (Uji . Pada penelitian ini terdapat tiga hipotesis yang di uji untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen profotabilitas, leverage, dan likuiditas yaitu dan variabel dependen, yaitu financial distress. Berdasarkan hasil variabel pertama, yaitu profitabilitas memiliki nilai koefesien regresi sebesar 12,73581 dan nilai profitabilitas sebesar 0,0004 yang berarti variabel profitabilitas . ,0028 < 0,. Sehingga disimpulkan nilai profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress. Untuk hipotesis pertama bahwa profitabilitas terdapat pengaruh yang negatif terhadap financial distress ditolak. (H1 ditola. Berdasarkan hasil variabel kedua, yaitu leverage terdapat koefesien regresi senilai -0,100937 dan 0985 berarti variabel leverage . 0985 > 0. Maka menampilkan bahwa leverage berpengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap financial Untuk H2 bahwa leverage terdapat pengaruh yang positif terhadap financial distress ditolak. (H2 ditola. Berdasarkan pengujian variabel ketiga, yaitu likuiditas terdapat koefesien regresi sebesar 0. 318258 dan profitabilitas 0. 0000 berarti variabel likuiditas . 0000 < 0. Maka menampilkan bahwa nlikuiditas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap financial distress. Untuk hipotesis ketiga likuiditas yang memiliki pengaruh yang positif terhadap financial distress diterima. (H3 diterim. Diskusi Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, dalam penelitian ini profitabilitas diukur dengan Return On Asset (ROA), hasil uji t menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress. keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dan mengelola perusahaanya Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A secara efektif dan efisien. Namun, meski demikian, ada kemungkinan beberapa perusahaan masih menghadapi kendala keuangan walaupun menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Ini karena perusahaan tersebut mungkin mengalami kesulitan dalam menutupi biaya operasional dan menjalankan operasional harian. Artinya, pertumbuhan ROA bukan merupakan jaminan bahwa perusahaan akan terbebas dari risiko financial distress. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, dalam penelitian ini leverage yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER), hasil uji t menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap financial distress. Dengan demikian, tidak ada hubungan yang langsung menghubungkan tingginya leverage dengan perusahaan yang berada dalam kondisi financial distress, dan sebaliknya. Hal ini bisa jadi terjadi karena perusahaan memiliki aset yang melimpah meski juga memiliki kewajiban yang besar, sehingga masih mampu untuk menunaikan kewajibannya. Menurut hasil uji yang telah dilakukan, penelitian ini terdapat variabel likuiditas dengan hasil uji t menunjukkan bahwan likuiditas pengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress. Secara praktis, ini berarti jika perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, maka perusahaan tersebut memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk mengalami financial distress. Maka ini dikarenakan perusahaan tersebut dapat mengatur utangnya dengan baik, sehingga mampu menjaga stabilitas Kesimpulan Namun, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, hanya perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sektor industri makanan dan minuman yang diambil sebagai sampel, sehingga hasilnya bisa saja tidak sama dengan hasil industri lainnya. Kedua, penelitian ini hanya berfokus pada tiga variabel independen: profitabilitas, leverage, dan likuiditas terhadap variabel dependen yang adalah financial distress. Ketiga, hasil R-squared yang disesuaikan cukup rendah, yang menunjukkan bahwa variabel dependen hanya mewakili sebagian kecil dari variabel independen lainnya. Keempat, sampel penelitian ini hanya mencakup periode tiga tahun, dari 2020 hingga 2022. Kelima, penelitian ini menunjukkan bahwa leverage, meski memiliki nilai negatif, tidak selalu mengakibatkan kesulitan keuangan. Oleh karena itu, perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi masih dapat tetap menjaga stabilitas keuangannya dan tidak berdampak negatif pada kondisi keuangan perusahaan. Saran yang dapat diberikan untuk penelitian kedepannya adalah sebagai berikut: pertama, sebaiknya melibatkan lebih banyak sektor industri di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kedua, mempertimbangkan hal lain yang mempengaruhi financial distress, seperti ukuran perusahaan, nilai perusahaan, dan sales growth, juga bisa membantu. Ketiga, perpanjang periode tahun dalam periode penelitian agar dapat lebih mendapatkan hasil dan gambaran yang lebih baik dan lebih rinci. Keempat, penambahan variabel lain di luar penelitian ini dapat membantu mendapatkan hasil Rsquared yang lebih tingi dan akurat. Kelima, peneliti lanjutan juga dapat meneliti variabel leverage dengan menggunakan lebih banyak proksi, untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif dan perspektif yang berbeda. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1055-1063 Theopratama dan Bangun: Pengaruh Profitabilitas. Leverage. Likuiditas Terhadap A Daftar Pustaka