Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker Ganesha Wibisana1. Arthur S Nalan2. Supriatna3 Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB). Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 ganeshawibisana01@gmail. com, 2nalanarthur@gmail. com, 3ekosupriatna24@yahoo. ABSTRACT Wolff Schoemaker is an architect who reads local culture in architectural works. Placement of archipelago ornaments in the facade of the Landmark building forms an architectural blend of western aesthetics with rational understanding and eastern concepts with cultural symbols. The method used in this research is qualitative, which is described in an interpretive descriptive manner. The study uses the aesthetic theory of Edmund Burke Feldman with his formulation regarding four aspects, namely function, structure, style and meaning. This concept produces a model of formalism and symbolic analysis as part of the aesthetic meaning of architecture. Pepatraan ornaments on the shape of the building are equipped with the heads of Kala and Makara as the application of the decoration in the fayade. It forms Landmark architecture with the concept of west and east. The placement of Kala is influenced by the concept of Total Work of Art in the Jugendstil style in Europe by placing figurative ornaments in accordance with formal aesthetic principles. The eastern concept is seen in the left and right sides of the building which has a shape similar to the temple architecture. It applies to the Kala ornament in the middle, so that the aesthetic appeal of the Landmark consists of the aspects of formal and symbolic form. Keywords: Ornament. Architecture. Kala. Wolff Schoemaker PENDAHULUAN Latar Belakang orientalisasi pada gaya arsitektur kolonial internasional (Dullemen, 2018: . Dari sekian banyak karya arsitektur yang tersebar di Kota Bandung. Wolff Schoemaker memiliki hubungan yang kuat dalam perkembangan arsitektur. Ia memiliki andil cukup besar dalam perdebatan para arsitek Belanda untuk menemukan gaya arsitektur baru di Hindia belanda, hal tersebut terlihat dari banyaknya karya arsitektural yang ia buat. Van Dullemen . dalam bukunya AuArsitektur tropis modern, karya dan biografi Wolff SchoemakerAy mencatat bahwa terdapat kurang lebih 75 bangunan hasil karya Schoemaker yang tersebar di berbagai wilayah di Kota Bandung. Pengaruh kebudayaan barat yang masuk di Hindia Belanda tidak sepenuhnya menggeser kebudayaan timur. Sebagai produk budaya, arsitektur justru dijadikan wahana bertemunya dua kebudayaan yang masing-masing sebagai akulturasi yang dihasilkan dari transformasi budaya. Henry Maclaine Pont dan Wolff Schoemaker merupakan tokoh yang berpengaruh dalam proses pencarian gaya arsitektur baru saat itu. Berbagai aspek arsitektur lokal sedikit demi sedikit diserap oleh para pembangun Belanda selama tiga abad pertama kehadirannya di nusantara. Proses yang oleh Van der Wall disebut sebagai Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Gedung Landmark merupakan salah satu dari sekian banyak karya arsitekturnya yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Dalam gedung karyanya, ia menjadikan tradisi arsitektur lokal sebagai dasar dalam pengembangan gaya bangunan kolonial, menempatkan ornamen fungsional pada gedung Landmark sebagai media untuk menghadirkan estetika yang terbentuk melalui pemahaman budaya setempat. Dalam wacana desain arsitektur, nilai estetik merupakan aspek yang terlihat secara rupa dan mempresentasikan segala hal dibaliknya, termasuk kebudayaan (Sachari, 2002: . Oleh sebab itu meskipun bangunan Wolff Schoemaker merupakan karya arsitektur yang dibuat berdasarkan pada gaya eropa modern, namun didalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang berakar dari Nusantara. Terbentuk dari adaptasi antara dua bangsa berbeda, karya arsitektur Schoemaker mencakup penyelesaian masalahmasalah yang berhubungan dengan perbedaan iklim, ketersediaan material, cara membangun, dan seni budaya yang terkait dengan estetika. Seperti halnya di Gedung Landmark, ornamen Kala dalam arsitektur candi yang dihadirkan dalam bangunan tersebut menjadi bagian dari AupembacaanAy terhadap lingkup sosial budaya serta pengaruh sosio kultural . ociocultural influence. dan menghasilkan evoke . embangkitkan atau menimbulka. untuk mendatangkan ide baru dalam penciptaan karya seni arsitektur di Bandung. Hal tersebut disebabkan karena arsitektur pada hakikatnya sebagai ruang perwujudan dari konsepsi kehidupan dan mempunyai kaitan yang erat dengan lingkungan dan kebudayaan dimana bangunan itu berada (Kartono, 1992: . Hal yang menjadikan terbentuknya akulturasi dalam arsitektur Hindia Belanda. Proses akulturasi dalam arsitektur kemudian melahirkan gaya arsitektur yang khas, dengan memadukan penggayaan barat dan desain berorientasi lokal dengan penerapan ornamen nusantara. Akulturasi sendiri merupakan suatu proses yang merujuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan budaya berbeda (Roesli, 2. Proses tersebut menjadikan pengaruh budaya Barat menyesuaikan diri dengan budaya setempat, menciptakan hal yang baru dalam arsitektur Hindia Belanda sehingga menghasilkan perpaduan gaya indo-eropa atau yang disebut Indo-Europeeschen Style. Aliran yang memadukan gaya modern dengan bentuk arsitektur tradisi, yang tercipta atas kesadaran akan budaya Indonesia di kalangan arsitek Belanda. Gedung Landmark dirancang dengan memasukan unsur tradisi Candi Hindu pada bentuk bangunan yang dikombinasikan dengan kepala Kala sebagai penerapan ragam hias nya. Ornamen ditempatkan guna menambah nilai keindahan bangunan sebagai ungkapan estetik. Dalam penerapannya, ornamen tidak hanya sebagai penghias secara eksplisit, melainkan juga berhubungan dengan pandangan hidup manusia dalam elemen penyusun bangunan yang terbentuk menjadi simbol kebudayaan yang dapat dipahami melalui kajian arsitektural. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yang dijabarkan secara deskripif interpretatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian Kualitatif menurut Creswell . mencakup identifikasi masalah yang menjadi sasaran dalam penelitian, pembahasan Wibisana. Nalan. Supriatna: Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker Burke Fieldman dalam menganalisis Edmund Burke Feldman dalam bukunya berjudul Art as Image and Idea menawarkan teori estetika yang rumusan nya mencakup empat aspek, yaitu fungsi, bentuk, struktur, gaya dan makna. Seperti yang disajikan dalam Bagan 1. dan penelusuran kepustakaan, pengumpulan data, analisis data dan pelaporan1. Sementara pendekatan interpretatif memfokuskan pada sifat subjektif dari dunia sosial dan berusaha memahami kerangka berfikir objek yang sedang dipelajarinya2. Penelitian secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis Metode pengumpulan data yang diterapkan dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu, . Metode observasi langsung kelapangan untuk mengamati bentuk ornamen Kala yang terdapat pada Gedung Landmark . Studi kepustakaan tentang segala konsep yang ornamen kala didalam candi serta penerapannya didalam gedung Landmark yang banyak dipengaruhi oleh candi Jawa Tengah yang memiliki kemiripan bentuk, salahsatunya Candi Semar dan Candi Gedong Songo di Jawa Tengah, dan . Wawancara terhadap narasumber yang dipandang kompeten, seperti sejarawan arsitektur. Tim ahli Cagar budaya Kota Bandung. Bandung Heritage Society . aguyuban pelestarian budaya Bandun. dan ahli terkait yang memiliki pengetahuan tentang bangunan kolonial, candi dan ornamen yang menjadi objek kajian penelitian. Untuk mengetahui estetika ornamen Kala dalam fasad Arsitektur Gedung Landmark dan arti yang terkandung dalam simbol yang mempengaruhi terciptanya elemen dalam bangunan, diperlukan pandangan teoritis yang digunakan. Maka dari itu, penelitian ini dikaji melalui pendekatan estetika Edmund Bagan 1. Estetika Edmund Burke Feldman. (Sumber: Feldman, 1967:. Pendekatan Estetika yang digunakan, khusus menekankan pada aspek-aspek seni dan desain dalam kaitannya dengan daya tarik estetik yang terbentuk dari aspek bentuk (Forma. dan kandungan isi (Symbo. secara kontekstual. Sehingga menghasilkan model analisis formalisme dan simbol yang terbentuk dari konteks yang melatarbelakangi nya. Analisis formal ornamen kala pada fasad bangunan dikaji dengan mempertimbangkan efek estetik yang diciptakan oleh bagian-bagian komponen formal dalam desain fasad bangunan secara keseluruhan. Bagian-bagian tersebut antara lain elemen-elemen bentuk . ormal element. seperti garis, raut . , tekstur dan ruang yang disusun dalam berbagai cara yang menghasilkan sebuah komposisi dalam fasad bangunan. Menghasilkan prinsip dalam seni dan desain seperti keseimbangan, keberaturan, proporsi, pola, dan irama. Dr,J. Raco,ME. ,M. Sc. Au Metode Kualitatif Jenis. Karakteristik. Dan Keunggulannya. Ay. Jakarta: Gramedia, 2010 Bungin. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group:Jakarta, 2007 Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Analisis formal yang menjadi intraestetik karya dari komposisi karya bertujuan untuk melihat bagaimana ornamen kala dan masing-masing elemen dalam komposisi memberikan fungsi terhadap kesan fasade bangunan secara menyeluruh. yang mewadahi perwujudan ornamen kala dalam fasade Gedung Landmark. Analisis kontekstual yang merupakan faktor ekstraestetik karya mencakup aspek sosial dan budaya yang bertujuan untuk mengetahui makna yang mewadahi perwujudan ornamen kala dalam fasade. yang menambah nilai estetis, sehingga menghasilkan ekspresi artistik pada bangunan yang tercipta dari berbagai bentuk yang dikombinasikan. Penerapan ornamen nusantara yang diterapkan dalam fasade Landmark merupakan ornamen yang dikonstruksi dari arsitektur HinduJawa seperti Kala. Makara. Patra Punggel, serta Patra Wangga. Ornamen yang diterapkan dalam fasade tepatnya pada kolom, merupakan ornamen flora yang tergolong kedalam jenis Patra Punggel dari ornamen pepatraan dalam arsitektur tradisi di Jawa dan Bali. Patra Punggel merupakan ornamen dengan berbagai bentuk lengkungan daun muda pohon paku. Bentuk nya berupa dedaunan yang mendekati bentuk aslinya, ragam hias pepatraan tersebut merupakan pola berulang yang dapat pula diwujudkan dalam pola berkembang. Sehingga jika dilihat dari segi bentuk. Patra Punggel memiliki pengulangan bentuk dengan Adapun Beberapa unsurunsur yang biasa terdapat dalam bentuk Patra Punggel yaitu, . Batun Poh yang diambil dari bentuk buah mangga . Jengger Siap, yaitu bentuk yang diambil dari bentuk jengger ayam jago . Kepitan, bentuk yang diambil dari bentuk kelopak bunga nangka, dan . Util, bentuk yang diambil dari pohon pakis yang masih kecil. HASIL DAN PEMBAHASAN Ornamen nusantara sebagai unsur estetik dalam struktur fasade Ornamen menjadi komponen produk seni dalam gedung yang berfungsi sebagai penghias secara implisit yang menyangkut segi-segi keindahan. Bahkan pada beberapa bagian ornamen tersebut mempengaruhi segi penghargaannya secara spiritual, didalamnya seringkali ditemukan nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup manusia maupun masyarakat Aspek penting dalam pengaplikasian ornamen pada gedung Landmark yaitu motif dan pola. Motif dalam konteks ornamen merupakan bentuk dasar dalam wujud ornamen. Sementara pola merupakan bagian dari motif yang ditata pada satu obyek atau elemen bangunan. Perwujudan dalam fasade dengan dominasi pola bidang dan permainan struktur pada gedung Landmark memuat suatu keselarasan dan keseimbangan secara Setiap pola bidang Gambar 1. geometris ditunjang oleh peOrnamen Patra Punggel dalam fasade nerapan ornamen nusantara (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Wibisana. Nalan. Supriatna: Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker simbol tersebut juga menjadi simbol rasa Dalam tradisi Hindu hiasan sulursulur juga seringkali ditemukan sebagai simbol Padmamula atau Hiranya-garbha, yaitu rahim yang menjadi asal-usul dari Ornamen Kala dan Makara dikategorikan sebagai ornamen kosmos yang biasa terdapat dalam candi. Pada Gedung Landmark ornamen tersebut ditempatkan pada bagian kiri dan kanan seperti yang terdapat dalam Gambar 4. Gambar 2. Ornamen Patra Punggel (Dokumentasi: Gelebet, 1. Ornamen pepatraan lainnya yang diaplikasikan dalam gedung Landmark juga terdapat diantara pilaster . yang mengapit keenam jendela pada bagian tengah fasade, ornamen pepatraan yang ditempatkan merupakan jenis Patra Wangga. Gambar 4. Penempatan dalam fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Gambar 3. Ornamen Patra Wangga dalam fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Patra Wangga digambarkan seperti kembang mekar atau kuncup dengan dedaunan lebar dan variasi lengkungan membentuk keserasian yang harmonis. Batang-batang bersulur di sela-sela bagian bawah bunga-bunga dan daun mengelilingi bentukan kembang ditengahnya. Bentuk naturalistik maupun stilasi melandasi perwujudan ragam hias flora patra wangga dan patra punggel yang biasa ditemui di ornamen percandian merupakan bentuk tumbuh-tumbuhan yang berada di alam. Pada dasarnya kedua ornamen tersebut merupakan bentuk atau pola hias tumbuhan menjalar atau sering disebut sebagai Ausulur-sulurAy, bentukan tersebut keluar dari jambangan sebagai pangkal atau pusatnya. Hal tersebut terkait dengan simbol kesuburan pada tradisi Hindu. Gambar 5. Ornamen Kala-makara pada fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Kala dalam ajaran agama Hindu adalah putera Dewa Siwa yang bergelar sebagai dewa penguasa waktu (Halim, 2. Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Sementara Makara merupakan monster laut atau penguasa laut, dalam istilah Sanskrit yang biasa diidentifikasi sebagai Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 dua hewan gabungan. Pada bagian depan berwujud binatang seperti gajah atau buaya, di bagian belakang digambarkan sebagai hewan air di bagian ekor seperti ikan atau naga. Penempatan Makara dalam candi salahsatunya berada di sisi samping kiri dan kanan ornamen Kala. Konsep Ornamen Eropa Gedung Landmark sebuah karya arsitektur yang kaya akan ornamentasi pada fasade nya, tidak terlepas dari beberapa pengaruh gaya eropa didalamnya. Hal tersebut berkaitan dengan pandangan Wolff Schoemaker dalam Indo-eropa tidak terlepas dari aliran Amsterdam School. Jugendstill-Art Nouveau dan Art Deco. Aliran yang terpengaruh oleh proses dan hasil produksi dari AuIndonesian ArtAy. Pengaruh yang dibawa oleh aliran AuNieuwe KunstAy, dimana aliran tersebut merupakan embrio dari Amsterdam School. Penganut Amsterdam School sama seperti halnya Jugendstill-Art Nouveau yang melihat bangunan sebagai sebuah Autotal Work of ArtAy. Penerapan beragam ornamen seperti ornamen pepatraan (Patra Punggel dan Patra Wangg. dan ornamen kosmos (Kala dan Makar. sebagai Implementasi konsep AuTotal Work of ArtAy dari Amsterdam School dapat terlihat pada gedung, dimana arsitek menganalogikan sebuah fasade menjadi sebuah kanvas dimana karya ornamen muncul didalamnya. Sementara ornamen lainnya yang dapat terlihat adalah adanya beberapa bentukan geometris yang menjadi ciri khas dari ornamen Art Deco. Hal tersebut terlihat dari bentukan moulding pada kolom dan pada kedua sisi kanan dan kiri yang menghiasi ornamen kala diatasnya. Gambar 6. Ornamen geometris yang menjadi khas Art Deco dalam bentukan Fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Gambar 7. Ornamen geometris yang menjadi khas Art Deco dalam bentukan Fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Adaptasi Arsitektur Candi Dalam gedung Landmark terlihat bentukan arsitektur timur yang diterapkan tidak mengadaptasi kemewahan bentuk arsitektur tradisional dari India (Candi Indi. , akan tetapi corak khas dari arsitektur Candi India yang lebih menarik perhatian dan mendasari bentuk dalam arsitektur Landmark. Hal itu dapat dianalisis melalui ornamen Kala yang dipasangkan dengan dua buah Makara di sisi kiri dan kanan. Letak Kala dan Makara pada Candi Jawa berada dalam posisi yang cukup jauh dengan orientasi yang saling bertolak belakang pada bagian tangga seperti dalam Gambar 8. Sementara penempatan Kala dan Makara di Candi India dibuat berdekatan tepat di sisi kanan dan kiri dan memiliki orientasi yang saling berhadapan seperti ditunjukan dalam Gambar 9. Wibisana. Nalan. Supriatna: Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker Konsep timur yang diimplementasikan dalam Landmark memuat arsitektur candi yang memiliki keragaman serta susunan eksplisit dari bentuk dengan artikulasi kuat, mencakup simbol implisit yang didalamnya yang berhubungan dengan alam semesta atau kosmologi. Pembagian wujud fasade dalam arsitektur Landmark mengarah pada Candi Jawa tengah periode Klasik hingga utama. Pada pembagian vertikal kecenderungan ekspresi bentuk candi periode utama terlihat dalam gerakan keatas membentuk sumbu tegak. Terlihat dari bukaan pintu masuk sama dengan sisi kiri dan kanan dinding serta keseimbangan moulding horizontal yang menerus mengelilingi bangunan Candi. Gambar 8. Letak ornamen Kala terhadap orientasi Makara yang saling bertolak belakang dalam Candi Semar. Jawa Tengah (Dokumentasi: Analisa Ganesha Wibisana. Penempatan Moulding pada candi Mendut Gambar 9. Letak ornamen Kala terhadap makara yang saling berhadapan pada kuil India (Dokumentasi: Analisa Ganesha Wibisana. Bentuk Moulding dalam Landmark Gambar 11. Penempatan Moulding (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Struktur Ornamen Kedinamisan ornamen Kala menjadikan Landmark memiliki karakteristik bentuk yang kuat dalam citra visual Landmark dan melebur diantara bentukan yang cenderung simetris. Wujud Kala hadir sebagai bagian dari elemen spasial yang memberikan kontribusi pada sifat Gambar 10. Letak ornamen Kala terhadap makara dalam gedung Landmark (Bentuk pengaruh India dan Jaw. (Dokumentasi: Analisa Ganesha Wibisana. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 estetis sebagai daya tarik dalam struktur arsitektur Landmark. Ornamen Kala berada dalam bidang penekanan yang terkait dengan susunan dan urutan formal . ormal orde. pada fasade. Keseimbangan . , harmoni . , atau stabilitas . dalam fasade diterapkan secara metodis dan terukur. Dalam penempatannya pada bagian Fasade, ornamen Kala diletakan dalam bentukan geometris sebagai dasarnya. Keseimbangan formal tersusun berdasarkan paduan antar elemen-elemen tersebut menghasilkan bentuk harmonis, seperti dijabarkan dalam Gambar 12. Gambar 13. Kedudukan kala dalam artikulasi vertikal dan horizontal pada struktur fasade (Dokumentasi: Ganesha Wibisana, 2. Konflusi bentuk dalam Paduan Ornamen Nusantara dan Eropa Adanya peleburan antara kedua konflusi bentuk dari penempatan Kala dalam fasade, dengan bentukan dinamis yang berada dalam gedung simetris. Mulai dari Kala yang bersifat traditional, serta bentuk dan ornamen penunjang lain yang bersifat Occidental. Kala berada dalam lintasan garis horizontal dan vertikal. Kecenderungan tersebut ditandai oleh artikulasi dari list profil atau moulding yang seirama dengan garis horizontal-vertikal. Aksen horizontal gedung dibentuk oleh deretan pita-pita jendela dengan irama yang berkelanjutan. Sedangkan ekspresinya dalam gerakan keatas, yang terbagi dalam tiga modul bawah, tengah, dan atas. Membentuk Sumbu tegak yang menjadikan Kala sebagai titik pusat pada bagian tengah. Meskipun letak dan kedudukan Kala sebagai bagian dari konsep bentuk traditional . dalam fasade ditunjang oleh bentuk occidental . , akan tetapi keterpaduan bagian yang secara serasi membentuk sebuah kesatuan. Hal itu menggambarkan keberhasilan Schoemaker dalam menyatukan konflusi bentuk dari dua pengaruh konsep gaya yang berbeda, dan dari dua pengaruh kebudayaan yang Gambar 12. Peletakan kala terhadap komposisi bentuk bidang (Dokumentasi: Analisa Ganesha Wibisana. Posisi Kala terletak pada dua bagian fasade yang dibedakan dalam tiga modul bidang utama (Kiri dan kana. Kala memfungsikan dirinya sebagai elemen yang memperkuat dan mempertajam penekanan dalam menunjang komposisi kiri-kanan gedung. Dengan corak dinamis yang menjadi ciri ornamen Hindu-Jawa memberikan aksen pada masa fasade yang berbentuk kubistis-geometris. Jika ditarik garis tengah . , maka kala menjadi titik tengah dari artikulasi horizontal dan vertikal yang menjadi ciri khas dari karya arsitektur Wolff Schoemaker di kedua sisi kiri dan kanan. Seperti yang dijabarkan dalam Gambar 13. Wibisana. Nalan. Supriatna: Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker dari citra yang akan ditampilkan pada Komposisi dalam candi dihiasi oleh moulding pada bagian bawah yang diteruskan dengan bentuk struktural dari kolom bercorak floral. Demikian juga dengan apa yang ditampilkan Landmark namun dengan komposisi yang sedikit Seperti yang ditunjukan dalam Gambar 15. berbeda pula. Kaitan Kala dengan konsep gaya dalam Landmark yang merupakan produk arsitektur hibrid . aduan barat dan timu. , dapat dijabarkan secara terstruktur penerapan nya dalam fasade. Sebab ketika antar bagian dari struktur tersebut dibedah, bentuk akan secara jelas akan terlihat karena terpisah antara yang satu dan lainnya. Inilah yang dimaksud bahwa saling bertautan nya antara struktur dan gaya ataupun sebaliknya. Jika merujuk pada konsep timur. Schoemaker menerapkan konsep arsitektur candi Hindu-Jawa baik secara fisikal maupun Penempatan Kala dalam candi berada pada bagian kedua dari fasade Candi Jawa Tengah Candi Jawa Tengah Gedung Landmark Gambar 14. Studi komparasi terhadap pembagian bentuk candi dalam gedung Landmark (Dokumentasi: Sketsa Ganesha Wibisana, 2. Peleburan konsep barat dan timur juga dapat terlihat pada kekuatan bentuk dari candi yang ditunjang ornamen geometris pada tiang struktural berada diantara Kala, dan peletakan moulding baik itu pada bagian atas maupun bagian bawahnya. Dalam hal ini, proses berfikir arsitek berperan penting dalam pembentukan komposisi Adanya upaya dari proses stilisasi bentuk candi yang memiliki hubungan erat dengan prinsip-prinsip seperti keseimbangan, kesatuan diterapkan dalam bentuk struktural Landmark melalui penyesuaian Gambar 15. Studi komparasi komposisi bentuk struktur ornamen candi dan implementasi dalam Landmark (Dokumentasi: Sketsa Ganesha Wibisana, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 rasionalitas yang dirumuskan sedemikian Sementara konsep berfikir orangorang timur seperti halnya orang Jawa berada dalam ruang lingkup subjektif, dan rasa yang berhubungan dengan kognitif. Dimana pola berpfikir terbentuk akibat hubungan nya dengan alam semesta yang menciptakan simbol kosmologis. Aplikasi wujud Kala dalam gedung Landmark merupakan gagasan Wolff Schoemaker dengan memadukan persepsi keindahan dari konsep barat dan persepsi timur yang diwujudkan menjadi sebuah artefak arsitektur. Jika dibaca melalui prinsip rasional barat, penempatan Kala dipengaruhi oleh konsep Total Work of Art dari gaya Jugendstil yang berkembang di eropa yang mengangkat kebudayaan setempat dengan penempatan ornamen Gubahan yang terlihat dalam sisi kiri dan kanan Landmark memiliki bentuk yang serupa dengan berbagai Candi di Jawa. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa. Schoemaker mengangkat kebudayaan nusantara dalam karya nya. Namun, tidak seperti Jugendstil yang hanya mengaplikasikan ornamen figuratif sebagai unsur penghias secara eksplisit. Schoemaker membawa spirit dari nilainilai budaya dalam arsitektur karyanya, meskipun nilai tersebut pada implementasi rancangan tidak semuanya relevan dan Kala sebagai ornamen sakral dalam arsitektur Hindu, kemudian ditempatkan dalam bangunan bergaya eropa yang merupakan bangunan bersifat profan. Menjadikan citra Kala sebagai objek yang terbentuk dalam Landmark bergantung pada pemaknaan setiap individu manusia. Sebagai ornamen kosmos . yang memiliki struktur anatomi sejenis dengan makhluk hidup. Kala digambarkan membentuk raut atau mimik muka dengan senyum melebar. Dengan begitu, garis lengkungan akan terlihat pada bentuk bagian atasnya. Sementara bentukan geometris mengungkapkan unsur utamanya tanpa dipengaruhi oleh bentuk alam. Dari kedua hal tersebut dapat terlihat bentukan dinamis-kubistis dalam lengkungan-geometris, membentuk konfigurasi yang saling Ornamen Kala yang ditunjang oleh ornamen Makara di sisi kiri dan kanan berada diantara bidang geometris. (Sebagai paduan sifat Traditional dan Occidenta. dan membentuk komposisi yang menyatu. Pada akhirnya melebur meskipun terdiri dari dua bentukan berbeda. Gambar 16. Peletakan Kala terhadap komposisi bentuk bidang (Dokumentasi: Sketsa Ganesha Wibisana, 2. SIMPULAN Parameter kebudayaan timur dan barat terbentuk dari landasan serta nilai-nilai yang berbeda, seperti hal nya dalam bidang Pemikiran barat dengan konsepkonsep estetika didalamnya tersusun berdasarkan fakta-fakta objektif, serta Ucapan Terimakasih Penelitian ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada Sekolah Pascasarjana Wibisana. Nalan. Supriatna: Paduan Ornamen Budaya Nusantara dalam Estetika Fasade Arsitektur Landmark Karya Wolff Schoemaker Mangunwijaya. Wastu Citra. Pengantar ke ilmu Budaya Bentuk Arsitektur. Sendi-sendi Filsafatnya. Beserta Contoh-contoh praktis. Jakarta: Gramedia. Institut Seni Budaya Indonesia. Dalam memperoleh data, penulis sangat berterima kasih kepada seluruh narasumber yang telah meluangkan waktunya serta seluruh pihak yang telah mendukung artikel dari penelitian yang telah dibuat ini. Sumardjo. Jakob. Estetika Paradoks. Bandung: Kelir. Daftar Pustaka