Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 LAPORAN KASUS PENERAPAN MADU DAN CANGKOK KULIT DALAM PENGOBATAN GANGREN FOURNIER Taufik Akbar Faried Lubis1. Rizka Khairiza. Yugos Juli Fitra2 1Spesialis Bedah Plastik. Rekonstruksi, dan Estetik. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia 2Spesialis Bedah Plastik. Rekonstruksi, dan Estetik. Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati. Cirebon. Indonesia Email: taufikakbar@umsu. Abstrak: Gangren Fournier adalah infeksi nekrosis polimikroba yang progresif. Baru-baru ini, penggunaan madu baru dikenal dalam pengelolaan gangren Fournier, sedangkan pencangkokan kulit adalah salah satu pilihan yang populer dalam rekonstruksi cacat setelah eksplorasi bedah jaringan nekrotik gangren Fournier. Seorang laki-laki, 55 tahun, datang dengan ulkus multiple pada penis dan skrotum, dan riwayat diabetes mellitus tipe II yang tidak terkontrol, kebiasaan merokok berat dan alkoholisme kronis. Aplikasi madu 20-30 cc dilakukan selama dua minggu setelah tindakan bedah debridemen. Cangkok kulit digunakan untuk melapisi kembali defek kulit yang tersisa. Madu telah dikenal memiliki kemampuan untuk merangsang pertumbuhan sel epitel disamping sifat anti Cangkok kulit dengan ketebalan terpisah dianggap memiliki beberapa keuntungan: prosedur satu tahap yang sederhana, morbiditas lokasi donor yang rendah, hemat biaya, dan memungkinkan hasil fungsional dan kosmetik yang Kami menemukan bahwa penerapan madu dan cangkok kulit dengan ketebalan terpisah dalam pengobatan gangren Fournier sangat bermanfaat, terutama pada fasilitas kesehatan yang terbatas. Kata kunci: Gangren Fournier, dressing madu, cangkok kulit Abstract : Fournier's gangrene is a progressive polymicrobial necrotizing Skin grafting is a popular option in the reconstruction of defects following surgical exploration following the removal of necrotic and devitalized tissue FournierAos gangrene. However. Recently the antimicrobial properties of honey and its ability to stimulate epithelial cell growth have been recognized in the management of FournierAos gangrene. We present a case of a 55-year-old male from a rural area with a history of uncontrolled type II diabetes mellitus as well as heavy smoking habit and chronic alcoholism. The application of 20-30 cc honey was done for two weeks following surgical debridement. a split-thickness skin graft was used to resurface the least remaining defect. We found that the application of honey and split-thickness skin graft in the treatment of Fournier's gangrene is particularly beneficial. Keyword: FournierAos gangrene, honey dressing, skin graft JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 Dalam tatalaksana gangrene PENDAHULUAN Gangren Fournier Fournier, jenis fasciitis nekrotikan tipe I yang dengan atau tanpa diikuti reseksi memegang peranan penting. Apabila Gangren Fournier jaringan terinfeksi telah teratasi, penyembuhan defek pasca reseksi Baurienne pada tahun 1764, namun menjadi konsentrasi yang baru untuk dinamai sejak Jean-Alfred Fournier- mendapatkan hasil fungsional dan seorang ahli venerologi Prancis-yang melaporkannya pada tahun 1883 morbiditas dan mortalitas minimal. Alternatif non-vital progresif cepat atau fulminan pada dilakukan secara primer, sekunder, pria muda yang sehat, dengan onset atua prosedur rekonstruksi dengan mendadak dan tidak ada penyebab cangkok kulit atau flap. Meskipun yang jelas atau etiologi spesifik. demikian, hingga saat ini belum Kondisi ini relatif jarang, dengan metode rekonstruksi terbaik dalam 1,6/100. 000 laki-laki. Penyakit ini tatalaksana gangren Fournier. lebih sering ditemukan pada pria Di sisi lain, beberapa studi daripada wanita. 2 Beberapa faktor yang menjadi predisposisi gangren Fournier merangsang pertumbuhan sel epitel hipertensi, diabetes melitus, usia dalam pengelolaan gangren Fournier. lanjut, alkoholisme, dan kesehatan Selama ini madu telah terbukti umum yang buruk, termasuk gagal ginjal kronis, penyakit hati kronis, penyembuhan luka yang terinfeksi malnutrisi atau obesitas, keganasan, dan luka bakar. Madu juga dianggap sebagai agen topikal yang mudah anti-mikroba dan dalam didapat, murah, sehingga menghemat biaya perawatan. JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 Kami gangren Fournier pada seorang laki- jaringan nekrotik berwarna hitam laki berusia 55 tahun dengan diabetes berbau busuk pada pada sisi kanan melitus tipe II, riwayat perokok berat, dan alkoholisme. laboratorium didapatkan hemoglobin Hasil mg/dl, 14,700g/dl dengan 70%. KASUS Pasien seorang laki-laki, 55 Pasien tahun, mengeluhkan adanya luka antibiotik spektrum luas dan anti- yang tidak kunjung sembuh pada hiperglikemik injeksi selama dua penis dan skrotum. Pasien mengaku debridemen pada hari berikutnya. menjalani operasi orchiectomi kanan Antibiotik satu tahun yang lalu. Pasien memiliki analgesik oral dilanjutkan selama riwayat diabetes melitus tipe II dan lima hari pasca debridemen. Pasien alkoholisme kronis. Pasien jarang kemudian menjalani rawat jalan dua maupun mengonsumsi obat oral yang membersihkan luka dan mengganti Pasien merokok hingga balutan, observasi luka, dan rencana 20 batang sehari. Higienitas dan penutupan luka. Pasien diedukasi sanitasi pasien juga buruk. tentang kebersihan alat kelamin dan Pada didapatkan pasien afebris dengan operasi di rumah, serta dimotivasi tanda vital stabil. Indeks massa tubuh 24,8 dengan berat badan 62 kg dan diabetes melitus. tinggi badan 155 cm. Kadar glukosa Luka bersih dirawat dengan darah didapatkan 372 mg/dl. Pada 20-30 cc madu murni yang dioleskan status lokalis, didapatkan deformitas dua kali sehari selama dua minggu. Pasien mengunjungi klinik rawat multiple di bagian distal korpus jalan kami sebanyak empat kali Skrotum tampak asimetris dalam kurun waktu dua minggu dan JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 Gambar 1. Hari ke-1, pasca debridemen. Hari ke-9, tampak epitelialisasi pada tepi luka dan jaringan granulasii pada dasar luka. Hari ke-15, tampak luka yang telah mengecil dengan hipergranulasi minimal pada dasar luka. Hari ke23, hari ke-10 pasca operasi penutupan defek dengan cangkok kulit . plit-thickness skin graf. Pertumbuhan DISKUSI Gangren Fournier mulai teramati pada hari ke-9. Defek dikenal juga dalam beberapa nama, yang masih yang tersisa ditutup setelah 14 hari dengan menggunakan "selulitis nekrotikan" dan "phlegmon cangkok kulit . plit-thickness skin peri-urethral", menggambarkan penyakit jaringan cangkok kulit, tampak hasil cangkok lunak yang infektif, destruktif, dan kulit vital, dengan kontraksi jaringan Pada (Gambar . "gangren Streptococcus". Walaupun pada awalnya dikatakan sebagai penyakit idiopatik. JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 mengidentifikasi adanya penyebab , dan Escherichia coli ke dalam infeksi pada sebagian besar kasus. Pada dasarnya organisme Fasciitis nekrotikans sering terjadi infeksi memicu respon inflamasi -50%), -40%), atau kulit obliteratif pada pembuluh darah di genital . %). Gangren Fournier Trombosis selanjutnya menyebabkan penurunan aliran darah yang diikuti dengan penurunan aliran ekstensif, orkitis kronis, atau injeksi oksigen dan nutri ke area ini obat ke dalam pembuluh skrotum. Kadar Pada laporkan, diperoleh riwayat diabetes berkurang pada jaringan mendorong nekrosis fasia. Organisme penyebab gangren semuanya merupakan faktor yang Fournier sebagian besar adalah basil gram-negatif aerobik atau kokus Fournier, gram-positif, kebanyakan kasus mencakup infeksi terbentuknya gangrene Fournier dari campuran lebih dari tiga organisme, seperti Escherichia coli atau Proteus. Diabetes Enterococcus. Klebsiella sp. Bakteri yang paling predisposisi pada 32% - 66% kasus sering terdeteksi adalah Bacteroides Hiperglikemia fragilis, sedangkan Staphylococcus yang berkelanjutan dalam hal ini aureus atau Streptococci lebih sering menyebabkan penurunan imunitas ditemukan pada penderita diabetes Fournier. Pseudomonas Adanya portal infeksi local Meskipun diagnosis gangren memungkinkan masuknya bakteri Fournier hanya dapat dipastikan Staphylococcus JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 laboratorium dan evaluasi radiologis adalah alat yang sangat berperan infeksi tidak dapat dinilai dari derajat dalam menilai risiko dan apabila nekrosis kulit dan eksplorasi bedah Setelah diagnostik Jika didapatkan jaringan nekrotik yang dan kecurigaan infeksi beralih kepada aspek fungsional dan jaringan lunak, eksplorasi bedah kosmetik terbaik dari luka pasca pembedahan, serta morbiditas dan tempat untuk untuk penelisikan dan mortalitas yang minimal. Beberapa teknik rekonstruktif dapat digunakan untuk menutupi kerusakan jaringan Fournier. Adapun pencitraan yang dapat dilakukan pada gangrene Fournier, diantaranya . ull- foto polos, ultrasonografi, computed thickness skin graf. tomography (CT), dan magnetic thickness skin graf. , flap lokal, flap resonance imaging (MRI) dapat menunjukkan keberadaan udara di 4,6,8 pada jaringan lunak. Namun, pada atau . plit- Cangkok kulit terbelah . plit- thickness skin graf. adalah pilihan pencitraan tidak boleh menunda yang populer dalam rekonstruksi intervensi bedah. 9 Namun dalam defek gangren Fournier. Tindakan ini kasus yang dilaporkan, kultur bakteri dan pemeriksaan radiologi tidak singkat, morbiditas tempat donor yang rendah, dapat mencakup area Pengangkatan yang luas, dan hasil fungsional baik nekrotik dan devitalisasi secara dini dan kosmetik yang wajar. Meskipun demikian, terdapat potensi kontraksi Meskipun JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH kulit di kemudian hari. Selain itu. Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 ada pula risiko kegagalan cangkok luasnya lesi dan derajat keparahan. kulit akibat hematoma atau infeksi. Madu Beberapa studi mengatakan bahwa berbeda di setiap fase penyembuhan cangkok kulit di area perineum cenderung memberikan hasil yang tidak memuaskan karena potensi enzimatis, kandungan gula dalam infeksi akibat kontaminasi dari luka sirup berubah menjadi glukosa dan yang terus Ae menerus. Namun, fruktosa, dan enzim glukosa oksidase mengubah glukosa menjadi asam Secara keberhasilan cangkok kulit seperti Pada fase inflamasi, neo-skrotum bakteri, menurunkan pH, mendukung 10,11 aktivitas antioksidan, meningkatkan Berkaca pada kasus yang diaporkan, penutupan defek dengan cangkok kulit dianggap sebagai alternatif proinflamasi seperti TNF. IL-1 IL, yang cukup layak dan memberikan IL-6 dan PGE2. Kondisi tersebut mendukung epitelisasi dan granulasi dalam fase proliferasi. 14 Namun, keterbatasan operasional. sayangnya, belum ada uji klinis yang madu untuk lesi gangren Fournier dipublikasikan tentang efek madu telah terbukti bermanfaat. Haidari et al melaporkan efek madu secara laporan kasus ini, kami mendapati Fournier, madu bermanfaat dalam pengobatan dikatakan bahwa madu unggul dalam gangren Fournier serta meningkatkan epitelisasi di dasar luka sebelum penyembuhan, waktu rawat inap dan Fournier. Dalam penutupan primer. mortalitas yang lebih relatif lebih rendah dengan mempertimbangkan JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Jurnal. id/index. php/JIH Vol 1 No 3 November 2020 E-ISSN :2722-0877 Years Old Obese Female with KESIMPULAN Hingga saat ini, baku emas terapi Uncontrolled Type II Diabetes gangren Fournier adalah tindakan Mellitus - A Case Report. JBN. bedah debridemen komplit yang 4. :1. dilakukan secara dini dan luas. Pernetti R. Palmieri F. Sagrini Penerapan madu dan cangkok kulit E. Negri M. Morisi C. Carbone dalam pengobatan lanjutan gangren A, et al. FournierAos gangrene: Fournier cukup bermanfaat, terutama Clinical case and review of the dalam situasi fasilitas kesehatan yang Androl. :23 dikonfirmasi dengan uji coba multi- Haidari Arch Ital Urol Nazer MR, sentris sebelum penggunaan madu Ahmadinejad M. Almasi V, secara rutin pada gangrene Fournier Khorramabadi MS. Pournia Y. Honey in the treatment of DAFTAR PUSTAKA