Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 413-435 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Keselamatan Tanpa Sekat (Studi Hermeneutis Mengenai Konsep Keselamatan Universal Menurut Markus 7:24-. Raulina,. * Geri Gabriel Panjaitan 2 1,. Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar. Indonesia *) Email: raulina@stt-hkbp. Diterima: 29 Juni 2025 Direvisi: 23 Agustus 2025 Disetujui: 25 Agustus 2025 Abstract This study examines the narrative of the Syro-Phoenician woman in Mark 7:24-30 to understand the concept of universal salvation revealed by Jesus Christ in the context of His mission. This topic is important considering the tension between JesusAo mission initially aimed at the people of Israel and the evidence that salvation is also intended for Gentiles without ethnic or social discrimination. The purpose of the study is to analyze how the dialogue between Jesus and the SyroPhoenician woman affirms the universality of the gift of salvation that transcends social and ethnic boundaries. The method used is a historical-critical approach and textual exegesis by examining the historical, cultural context, and theological message of the narrative in depth. The research results show that the faith of the Syro-Phoenician woman serves as an indicator of the acceptance of the universality of salvation, affirming that GodAos salvation is not limited by ethnic or social identity but depends on a sincere response of faith. These findings contribute to the understanding of inclusivity in church ministry in spreading the grace of salvation to all humanity with full conviction and hope. Keywords: Grace. Mark 7:24-30. Mission. Salvation. Universality. Abstrak Penelitian ini mengkaji narasi perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 untuk memahami konsep keselamatan universal yang diungkapkan oleh Yesus Kristus dalam konteks misi-Nya. Topik ini penting mengingat adanya ketegangan antara misi Yesus yang awalnya ditujukan kepada bangsa Israel dengan bukti bahwa keselamatan juga diperuntukkan bagi orang non-Yahudi tanpa diskriminasi CopyrightA2025. Raulina. Geri Gabriel Panjaitan. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 413 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. etnis maupun sosial. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana dialog antara Yesus dan perempuan Siro-Fenisia menegaskan universalitas anugerah keselamatan yang melampaui batas-batas sosial dan etnis. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dan eksegesis teks dengan menelaah konteks historis, budaya, serta pesan teologis narasi tersebut secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman perempuan Siro-Fenisia menjadi indikator penerimaan universalitas keselamatan, yang menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak terbatas oleh identitas etnis atau sosial, melainkan bergantung pada respons iman yang sungguh-sungguh. Temuan ini memberikan kontribusi pada pemahaman inklusivitas pelayanan gereja dalam menyebarkan kasih karunia keselamatan kepada seluruh umat manusia dengan penuh keyakinan dan harapan. Kata-Kata Kunci: Anugerah. Keselamatan. Markus 7:24-30. Misi. Universalitas. Pendahuluan Diskusi teologis tentang keselamatan universal telah menjadi salah satu isu terpenting dalam sejarah pemikiran Kristen. Pertanyaan mengenai ruang lingkup keselamatan menjadi penting, apakah rahmat Tuhan ini hanya terbatas pada orangorang terpilih . rang berima. atau terbuka bagi semua orang tanpa diskriminasi . embeda-bedaka. 1 Pemahaman tentang keselamatan kerap menjadi topik teologis yang rumit, terutama dalam hal universalitas dan inklusivitas ajaran Injil. Salah satu pertanyaan utama yang sering muncul adalah apakah keselamatan yang Yesus tawarkan hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu saja atau justru berlaku bagi semua orang tanpa memandang asal-usul etnis, budaya, maupun status Dalam catatan tentang pelayanan Yesus di Injil, terdapat beberapa kisah yang memperlihatkan adanya ketegangan antara misi awal Yesus yang berfokus kepada bangsa Israel dan kenyataan bahwa keselamatan juga diberikan kepada orang-orang non-Yahudi. Salah satu cerita yang menarik perhatian adalah perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Siro-Fenisia yang memohon agar Yesus menyembuhkan anaknya, seperti tertulis dalam Markus 7:24-30. Di sini, perempuan dari bangsa Yunani itu meminta Yesus mengusir setan dari anaknya, dan melalui percakapan yang penuh arti mengenai "anak-anak," "anjing," serta "remah-remah roti," akhirnya anaknya disembuhkan. Narasi dalam Markus 7:24-30 ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai bagaimana perjumpaan tersebut menggambarkan konsep universalitas keselamatan Ryanto Adilang dan Audriano Kalundang. AuRemah Untuk Anjing Memahami Perilaku Yesus Dan Respon Perempuan dalam Markus 7:24-30,Ay DAAoAT : Jurnal Teologi Kristen 4, no. (Januari 2. : 1Ae2. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. Yuniant. danA(Petrus apakah terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa keselamatan dianugerahkan ( batasan Santy Sahartia. latar belakang etnis atau status sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi tersebut guna memahami bagaimana keselamatan yang dinyatakan oleh Yesus dalam konteks ini menegaskan universalitas anugerah tanpa adanya sekat-sekat yang membatasi akses setiap orang kepada keselamatan. Melalui pendekatan eksegesis terhadap teks Markus 7:24-30, penelitian ini akan menganalisis dinamika percakapan, simbolisme kesembuhan, dan implikasi teologisnya untuk memberikan kontribusi terhadap pemahaman inklusivitas pesan Injil dalam konteks masyarakat yang plural dan multikultural. Lane menyatakan bahwa perempuan Siro-Fenisia tersebut tidak merasa tersinggung dengan perbandingan antara anak-anak di rumah tangga dan anjinganjing peliharaan. Sebaliknya, dia dengan bijak memanfaatkannya untuk keuntungannya: remah-remah yang dijatuhkan oleh anak-anak, bagaimanapun juga, dimaksudkan untuk anjing-anjing. Perbandingan yang Yesus buat tidak ditolak tetapi direspons satu langkah lebih jauh. Definisi dari remah-remah itu sendiri dapat diartikan menjadi sesuatu yang negatif bagi yang menjatuhkannya. Artinya memang Allah telah memberikan keselamatan itu kepada bangsa Israel namun sebagian dari mereka menyianyiakannya, sedangkan di satu sisi orang-orang di luar Israel justru mengharapkan keselamatan yang sama dari Allah. Jadi tidak perlu menunggu, perempuan tersebut menyampaikan apa yang ada di hatinya. Jika memang orang-orang Yahudi tidak AumenghabiskanAy makanan itu dengan baik, biarlah sisa tersebut dapat dinikmati oleh orang-orang yang menginginkannya, meski sedikit tapi mengenyangkan. Mempertimbangkan pendapat Lane di atas maka Jewett juga mendukung pendapat Lane yang menekankan bahwa keselamatan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi atau kepada suku Israel. 4 Namun berdasarkan penelitian ini penulis hendak mencoba melihat sudut pandang baru yang menekankan bahwa keselamatan juga ada pada orang di luar ke Yahudian. Latar belakang pemikiran ini beranjak dari pemahaman penulis bahwa keselamatan universal merupakan suatu anugerah yang diberikan Allah bagi setiap orang tanpa adanya batasan maupun sekat pemisah antara setiap orang dengan keselamatan. Keselamatan akan hadir bagi setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai penyelamat. Narasi Markus 7:24-30 akan William L. Lane. The Gospel According to Mark: The English Text with Introduction. Exposition and Notes, 10. Aufl. The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids. Mich: Eerdmans, 1. , 262. Lane. The Gospel According to Mark, 263. Robert Jewett. Hermenia A Critical and Historical Commentary on the Bible (Mineapolis: Fortress Press, 2. , 137. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. semakin tepat jika diperbandingkan dengan konteks kekristenan di Indonesia. Dalam konteks kekristenan di Indonesia, umat Kristen perlu meneladani tindakan perempuan Siro-Fenesia yang dengan iman mempercayai keselamatan meskipun ia berasal dari luar bangsa Yahudi. Kisah perempuan Siro-Fenesia ini menunjukkan bahwa keselamatan yang ditawarkan Yesus bersifat universal tidak terbatas hanya pada bangsa Yahudi, tetapi terbuka bagi semua bangsa . on-Yahudi/gentile. Beberapa penelitian telah mengkaji narasi perempuan Siro-Fenesia dalam Markus 7:24-30 dari berbagai perspektif. Artikel "Identitas Postkolonial Perempuan Siro-Fenisia Dalam Markus 7:24-30" menganalisis sikap Yesus terhadap perempuan Siro-Fenisia melalui pendekatan postkolonial, dengan menekankan bahwa sikap dan tindakan Yesus yang racist dan sexist merupakan ideologi yang ingin menonjolkan superioritas diri terhadap inferioritas orang lain, serta dipengaruhi oleh konteks sosial-politik kolonial pada masa itu. 5 Sementara itu, artikel "Misi Yesus Melampaui Batas-Batas: Memaknai Misi Yesus dalam Konteks Lintas Budaya berdasarkan Markus 7:24-30 dan Implikasinya bagi Misi Kristen" mengkaji kisah ini sebagai contoh misi lintas budaya yang tidak imperialistik dan menggali makna teologis misi Kristen yang melampaui batasbatas budaya. Meskipun kedua penelitian tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami narasi perempuan Siro-Fenesia, namun masih terdapat gap yang belum Penelitian pertama terlalu fokus pada kritik post kolonial hingga cenderung mengabaikan aspek positif dari narasi ini, sementara penelitian kedua lebih menekankan aspek missiologis praktis tanpa mendalami dimensi soteriologi Kedua penelitian tersebut belum secara spesifik mengeksplorasi bagaimana sikap dan respons perempuan Siro-Fenesia dapat menjadi indikator teologis dari universalitas keselamatan yang melampaui sekat-sekat etnis, ras, dan latar belakang sosial. Selain itu, belum ada analisis komprehensif yang menghubungkan tindakan dan iman perempuan tersebut dengan konsep keselamatan universal yang terbuka bagi mereka yang berada "di luar keYahudian. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaharuan dengan memberikan perspektif soteriologi universal yang belum dieksplorasi dalam penelitianImanuel Teguh Harisantoso. Au Identitas Postkolonial Perempuan Siro-Fenisia Dalam Markus 7: 24-30,Ay Regula Fidei 4, no. : 149. Andri Vincent Sinaga1 and Roby Hendra Tumangger. AuMisi Yesus Melampaui BatasBatas: Memaknai Misi Yesus Dalam Konteks Lintas Budaya Berdasarkan Markus 7:24-30 Dan Implikasinya Bagi Misi Kristen,Ay Jurnal Arrabona: Jurnal Teologi Dan Misi 6, no. : 186. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. Berbeda dengan pendekatan post kolonial yang cenderung ( Santy Sahartia. missiologis yang fokus pada aspek praktis, penelitian ini dan pendekatan menganalisis secara mendalam bagaimana sikap, tindakan, dan respons perempuan Siro-Fenesia berfungsi sebagai indikator konkret bahwa keselamatan yang ditawarkan Yesus bersifat universal dan tidak mengenal pembatasan etnis atau Dengan demikian, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan dalam literatur eksisting dengan memberikan framework teologis baru yang menekankan pada inklusivitas keselamatan sebagaimana ditunjukkan melalui narasi perjumpaan Yesus dengan perempuan Siro-Fenesia. Pembahasan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kisah perempuan SiroFenisia dalam Markus 7:24-30 dapat dijadikan dasar untuk membangun diskusi teologis mengenai keselamatan universal. Melalui pendekatan hermeneutis, secara khusus dengan menggunakan sumber literatur-literatur biblika, maka proses penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana Yesus membuka pintu keselamatan bagi orang non-Yahudi, yang secara historis dianggap sebagai "outsider" dalam rencana keselamatan Allah. Metode Penelitian Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesalahpahaman dalam memahami keselamatan universal yang menimbulkan truth claim di masyarakat kontemporer, dimana keselamatan sering dibatasi pada pengakuan superioritas kelompok Meskipun terdapat berbagai literatur tentang teks Markus 7:24-30 mengenai perempuan Siro-Fenesia, masih terdapat ruang kosong dalam mengaitkan narasi ini dengan konteks keberagaman Indonesia dan problema truth claim dalam memahami universalitas keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode historis kritis yang mengkaji kritik teks secara khususnya untuk dapat memahami teks melalui penyelidikan konteks historis, budaya, dan sosial. Rancang bangun penelitian dimulai dengan analisis kritik teks, kajian konteks historis-geografis Tirus dan Sidon, serta latar belakang sosial-budaya hubungan Yahudi dan nonYahudi pada masa itu, dilanjutkan dengan eksegesis dialog Yesus dan perempuan Siro-Fenesia untuk mengidentifikasi implikasi universal bagi pemahaman keselamatan dalam konteks pluralitas Indonesia masa kini. Melalui langkahlangkah metodologis ini, penelitian akan mengungkap pesan universal keselamatan Alan Richardson. An Introduction to the Theology of the New Testament (London: SCM, 1. , 89. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. dalam narasi perempuan Siro-Fenesia yang relevan bagi konteks keberagaman Indonesia. Hasil dan Pembahasan Keselamatan Keselamatan dalam Perjanjian Lama meliputi aspek yang berpusat pada Allah serta aspek yang terkait dengan kehidupan manusia. Mengingat bahwa pada masa perkembangannya masyarakat sering dihadapkan pada berbagai tantangan seperti penyakit, bencana alam, dan masalah sosial, yang membuat mereka berusaha menemukan sumber perlindungan. Misalnya, ketika bangsa Israel menghadapi penderitaan selama masa penjajahan Mesir, mereka sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kesulitan tersebut. Perjanjian Lama memberikan banyak contoh keselamatan fisik, namun keselamatan rohani dianggap lebih penting, ajaran tentang hal ini sudah ada dimulai dari kitab Kejadian. Meskipun sebagian besar Perjanjian Lama menyoroti keselamatan bangsa Israel, kitab Mazmur sendiri lebih menekankan keselamatan individu, sementara para nabi menyampaikan rencana keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa lain (Mzm. Yes. 2:2-4. Mi. 4:1-4. Zak. 8:20-. Perjanjian Lama membentuk dasar pemahaman alkitabiah tentang keselamatan, yaitu bahwa Tuhan adalah kudus dan tidak dapat mentolerir dosa, manusia sebagai individu adalah makhluk yang berdosa. Tuhan yang memulai dan menyediakan jalan keselamatan itu, dan manusia harus merespons tawaran keselamatan tersebut. Tuhan selalu menyelamatkan dan menebus umat-Nya, meskipun penebusan tersebut harus melibatkan pengorbanan darah. Sejarah keselamatan berkembang seiring dengan perjalanan iman dalam Perjanjian Lama hingga akhirnya berpusat pada tujuan akhir, yaitu pengharapan Meskipun mereka masih hidup di dunia, mereka tetap menantikan Allah sebagai penyelamat, yang akan membawa mereka menuju akhir bersama dengan Raja Penyelamat. 10 Dalam Perjanjian Lama, maksud Allah akan eskaton dinyatakan secara jelas dalam pengalaman bangsa Israel yang diperbudak di Mesir (Kel. 5:22-6:. Unsur-unsur rencana ilahi ini dapat dilihat dalam kisah para leluhur sejak zaman dahulu. Berdasarkan inilah, bangsa Israel mengakui Tuhan sebagai Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1. , 1:375. Chad Brand. Charles Draper, and Archie England. Holman Illustrated Bible Dictionary (Nashville. Tenn. : Holman Bible Publishers, 2. , 2367. Horst Dietrich Preuss. Old Testament Theology. Volume 1 (Louisville. Ky. : Westminster John Knox Press, 1. , 233. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. keselamatan, sebagaimana diungkapkan dalam Keluaran Allah yang membawa ( Santy 5:22-6:8. HalSahartia. ini juga menegaskan bahwa Tuhan adalah penebus dan penyelamat dari kesusahan, yang menjadi inti dari makna keselamatan sebagai tujuan akhir pelepasan manusia dari dosa. Pembebasan adalah tindakan penyelamatan dari kejahatan yang dilakukan Allah melalui intervensi-Nya. Sementara itu, berkat merupakan karya Tuhan yang terus-menerus menopang kehidupan, memberdayakan orang-orang, dan memastikan kesejahteraan mereka. Hal ini membuat Kesimpulan bahwa keselamatan bisa diwujudkan melalui tindakan, seperti pembebasan Israel dari Mesir, dan lain sebagainya. Keselamatan sebagai berkat, yang mencakup kesejahteraan, digambarkan secara khusus dalam kisah para leluhur terkait ketentuan-ketentuan pengorbanan, dimana kesejahteraan tersebut merupakan hasil dari rekonsiliasi dengan Tuhan, seperti yang terlihat dalam hubungan ibadah melalui persembahan dan kehidupan manusia. Perjanjian Baru Dalam Perjanjian Baru, keselamatan dipahami sebagai tindakan Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Dasar dari keselamatan ini adalah kasih karunia Allah yang diwujudkan melalui kematian Kristus. Anugerah tersebut diberikan kepada setiap orang percaya melalui darah Kristus (Ef. 1:7. 2:8-9. Rom. Allah mengasihi umat-Nya, sehingga Dia mengutus Anak-Nya (Yoh. , dan Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya dengan mati di kayu salib (Rom. 5:8-. Imamat 17:11 menegaskan bahwa darah harus ditumpahkan untuk penebusan dosa, namun hanya darah Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukannya, bukan darah hewan kurban (Ibr. Kematian Kristus menjadi landasan keselamatan, yang merupakan tindakan objektif Allah dalam menawarkan keselamatan sepanjang masa. Allah telah mengetahui sejak awal bahwa kematian Kristus akan membawa keselamatan bagi manusia menuju kehidupan kekal. Karena Dia melihat seluruh sejarah. Dia dapat memberikan keselamatan bahkan sebelum pengorbanan Kristus terjadi dalam waktu. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya diselamatkan melalui kematian Yesus, oleh darah-Nya (Wah. 1:5. Ibr. 10:10, 12, . Kematian Yesus Elmer A. Martens. GodAos Design: A Focus on Old Testament Theology (Grand Rapids. Mich: Baker Book House, 1. , 45. Martens. GodAos Design, 46. John S. Feinberg. Charles Lee Feinberg, and Paul D. Feinberg, eds. Tradition and Testament: Essays in Honor of Charles Lee Feinberg (Chicago: Moody Pr, 1. , 55. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. membayar harga dosa manusia . Kor. Keselamatan berasal dari Allah, didasarkan pada kehendak dan ketetapan-Nya, dan Allah memilih untuk memberikan keselamatan hanya melalui Kristus. Bukan karena perbuatan manusia, melainkan melalui kasih karunia, kesabaran, dan iman kepada Kristus. Benang merah dalam Injil menunjukkan bahwa keselamatan datang sesuai dengan janji Injil memberikan kerangka penting dalam memahami karya keselamatan Yesus sebagai bagian dari rencana Allah yang berkelanjutan. Allah adalah pusat dan sumber keselamatan yang mutlak. Dasar penyelamatan yang dilakukan Allah sepenuhnya didasari oleh kasihNya. Allah menginginkan manusia berada di dalam Yesus Kristus. Yohanes 3:16 menjadi fondasi teologis yang menjelaskan bagaimana Allah mengutus Anak-Nya, dan Yesus secara sukarela memberikan diri-Nya agar manusia dapat menerima pengampunan dosa dan terhindar dari kebinasaan. Kasih karunia Tuhan dalam Kristuslah yang menyelamatkan manusia, dan Allah telah menetapkannya melalui Kristus (Ef. 2:8-. Kisah Para Rasul 4:12 menegaskan bahwa keselamatan hanya berasal dari Yesus dan diberikan oleh-Nya, dan tidak ada sumber lain yang dapat memberikan Ini berarti bahwa keselamatan hanya bisa datang dari Allah, bukan dari manusia atau makhluk lain. Manusia tidak dapat memperoleh keselamatan jika tidak diberikan oleh Allah. Dalam Roma 5:9-10, keselamatan digambarkan sebagai proses penyembuhan, sebagaimana dijelaskan bahwa "kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya," yang menunjukkan perubahan dari keadaan manusia yang sebelumnya tidak dibenarkan karena dosa, menjadi dibenarkan melalui penderitaan dan kematian Yesus. Ini adalah bentuk penyembuhan yang diberikan oleh Allah melalui Kristus. Dengan demikian, hakikat keselamatan memiliki makna yang lebih mendalam dibandingkan dengan yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Konsep keselamatan yang ada dalam Perjanjian Lama diaktualisasikan dalam Perjanjian Baru melalui pribadi Yesus Kristus. Keyakinan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah "keselamatan . dari Tuhan," sehingga ia merasakan kedamaian . saat menghadapi kematian (Luk. 2:29-. Tuhan bertindak melalui kasih setia-Nya kepada umat manusia agar mereka dapat meraih keselamatan (Yoh. 3:14Jan G. Van der Watt. AuSalvation in the New Testament,Ay Brill Leiden, 2005, 507. Jhon Teodore Mueller. AuChristian Dogmatics: The Saving Grace of God,Ay Concordia Publishing House Saint Louis, 1951, 12. L Abineno. Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 13. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. Yuniant. A(Petrus Permusuhan Allah tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada ( Santy Sahartia. dari dosa itu sendiri. Hal ini ditegaskan oleh gambaran murka Allah terhadap kejahatan dan penindasan yang dilakukan manusia (Rom. 1:18. 2:5,8. 3:5. Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi murka Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang turun tangan untuk menanganinya. Namun. Paulus melalui ajarannya ingin menekankan bahwa yang harus diperhatikan bukanlah kemarahan-Nya, melainkan kasih Tuhan. Meskipun Allah memusuhi dosa dan manusia. Dia tetap menunjukkan kasih-Nya untuk mengatasi hambatan terbesar yang menghalangi persekutuan antara manusia dengan Allah (Rom. 5:8-. Bangsa Konsep "bangsa" dalam Perjanjian Lama memiliki kompleksitas terminologi yang penting untuk dipahami secara utuh. Kata AeioyA . berakar dari kata "goy" yang berarti "bangsa atau orang-orang" dan merupakan bentuk plural yang memiliki dua referensi definisi geografis: pertama, digunakan sebagai bagian dari nama daerah, dan kedua, merujuk pada populasi campuran di suatu wilayah yang saling terhubung, seperti dalam Kejadian 14:1 sebagai melekh goyim ("Kerajaan goyim"). Kata goyim dalam konteks Perjanjian Lama tidak selalu memiliki konotasi politik yang baik, melainkan sering kali merujuk kepada bangsa-bangsa non-Israel yang dapat memiliki hubungan yang kompleks dengan Israel, baik sebagai sekutu maupun musuh. Untuk memahami konsep "bangsa" secara komprehensif, perlu dijelaskan juga kata 'am (A )yAyang merupakan lawan dari goyim, di mana 'am secara khusus merujuk kepada "umat" atau "bangsa" Israel sebagai umat pilihan Allah yang memiliki hubungan perjanjian khusus dengan-Nya. Sementara goyim menunjuk pada bangsa-bangsa lain di luar Israel, 'am menekankan identitas teologis Israel sebagai umat yang dipilih dalam konteks bangsa-bangsa dunia. Dalam eskatologi Perjanjian Lama, bangsa-bangsa . merupakan bagian dari penghakiman akhir yang dilakukan oleh Mesias, namun juga memiliki hak dan kesempatan yang sepadan dalam rencana keselamatan Allah (Yoel 3:1-3. Yes 2:. Donald Guthrie. Teologi Perjanjian Baru 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 110Ae15. AeioA Clements. Johannes Botterweck dkk. Theological Dictionary of the Old Testament (Grand Rapids. Mich: Eerdmans, 1. , 426Ae427. Walter A. Elwell, ed. Evangelical Dictionary of Theology, [Baker Reference Library, . (Grand Rapids. Mich: Baker Book House, 1. , 591. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Transisi ke Perjanjian Baru menunjukkan dua kata Yunani yang merujuk konsep ini: iC . dan C . Kata iC memiliki arti yang lebih sempit, merujuk pada massa atau kelompok yang memiliki prinsip atau identitas tersendiri, bahkan bisa diartikan sebagai kawanan atau gerombolan, sehingga dalam konteks zaman itu lebih merujuk kepada orang-orang non-Yahudi. Sebaliknya. C memiliki arti sebagai orang-orang yang berkumpul membentuk suatu bangsa yang besar, dapat dikatakan sebagai perkumpulan iC yang menjadi satu kesatuan dengan tujuan yang sama, di mana penggunaannya tidak hanya merujuk kepada bangsa Israel tetapi kepada seluruh bangsa-bangsa, lebih mengacu pada persamaan keyakinan dan kepercayaan dari keseluruhan kelompok sehingga besarnya populasi yang mencakup definisi ini dapat disebut sebagai umat. Sedangkan kata C memiliki arti sebagai orang-orang yang berkumpul yang membentuk suatu bangsa yang besar. Kata ini dapat dikatakan sebagai sebuah perkumpulan iC menjadi satu kesatuan yang memiliki tujuan yang sama, terlihat bahwa kata bangsa ini tidak hanya merujuk kepada bangsa Israel saja tetapi kepada seluruh bangsa-bangsa yang ada. Penggunaan kata ini juga lebih mengacu kepada sebuah persamaan akan keyakinan dan kepercayaan dari keseluruhan kelompok yang ada. Sehingga besarnya populasi yang mencangkup definisi di atas dapat dikatakan sebagai umat. Latar Markus 7:24-30 Meskipun Injil Markus tidak mencantumkan nama penulisnya secara eksplisit, tradisi gereja yang tidak terputus menunjuk Yohanes Markus sebagai Markus adalah seorang Kristen Yahudi yang berada di Roma bersama rasul Petrus selama masa krisis di bawah pemerintahan Kaisar Nero. Ibunya. Maria, memiliki rumah di Yerusalem yang menjadi tempat pertemuan komunitas Kristen perdana, dan rumah inilah yang didatangi Petrus setelah pembebasannya dari penjara. Injil Markus ditulis dengan maksud menunjukkan bahwa pelayanan Yesus tidak hanya ditujukan kepada bangsa Yahudi, tetapi juga kepada bangsa-bangsa Hal ini terlihat dari kisah-kisah seperti pengusiran roh jahat dari orang kafir yang kemudian diperintahkan untuk memberitakan pengalamannya, dan Gerhard Kittel dan Gerhard Friedrich, ed. , heological Dictionary Of The New Testament, oleh Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 179. Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich. THEOLOGICAL DICTIONARY OF THE NEW TESTAMENT, 446. Lane. The Gospel According to Mark, 21. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. anak perempuan Siro-Fenisia yang menggambarkan keselamatan . ersedia Santy Sahartia. bagi non-Yahudi. Mengenai waktu penulisan, para ahli umumnya sepakat bahwa Injil ini ditulis menjelang akhir hidup Petrus hingga sesaat setelah kematiannya, yaitu sekitar pertengahan hingga akhir tahun 60-an Masehi, berdasarkan gabungan bukti eksternal dari bapa-bapa gereja dan analisis internal teks Injil. Penafsiran Metode tafsir historis kritis merupakan pendekatan eksegesis yang berusaha memahami teks Alkitab dengan meneliti konteks historis, sosial, budaya, dan sastra pada masa teks tersebut ditulis. Pendekatan ini melibatkan beberapa langkah penafsiran sistematis: pertama, kritik tekstual untuk menentukan teks asli yang paling akurat. kedua, kritik sastra yang menganalisis struktur, genre, dan gaya ketiga, kritik bentuk . orm criticis. yang mengidentifikasi unit-unit tradisi dan Sitz im Leben . ituasi hidu. di balik teks. keempat, kritik redaksi yang meneliti bagaimana penulis mengedit dan mengatur materi tradisional untuk menyampaikan teologi tertentu. dan kelima, kritik historis yang merekonstruksi latar belakang sejarah dan budaya teks. Dalam menganalisis Markus 7:24-30, metode ini membantu mengungkap tidak hanya makna historis dari peristiwa pelayanan Yesus kepada perempuan Siro-Fenisia, tetapi juga tujuan teologis Markus dalam memasukkan kisah ini untuk komunitas Kristen awal yang bergumul dengan isu penerimaan bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam gereja. Markus 7:24-30 mencatat satu kisah yang berisikan mujizat Kristus yang dilakukan pada masa akhir pelayanan-Nya di Galilea. Kisah ini menunjukkan masa pelayanan Yesus yang menjangkau bangsa lain, terutama di wilayah non-Yahudi. Para ahli berpendapat bahwa popularitas Yesus telah menyebar begitu luas di wilayah-wilayah Galilea sehingga menjadi sulit bagi-Nya untuk mendapatkan waktu pribadi untuk bersama para murid-Nya (Markus 6:31, 53-. sehingga Ia mencari privasi di wilayah-wilayah asing untuk beristirahat dan mengajar para murid-Nya. Fakta bahwa Yesus dicari bahkan di wilayah-wilayah non-Yahudi menunjukkan ketenaran-Nya di antara orang-orang non-Yahudi. Penulis Injil Markus memasukkan kisah ini sebagai tanggapan terhadap situasi jemaat Kristen awal yang berhadapan dengan penerimaan orang-orang non23 Samuel Benyamin Hakh. Pemberitaan Tentang Yesus Menurut Injil-Injil Sinoptik (Bandung: Jurnal Info media, 2. , 58. Alice Matilda Nsiah. AuBreaking the Ethnic Barrier in Mark 7:24-30: Implication for the Ghanaian Context,Ay Arts and Social Sciences (EHASS). Journal of Hermanities, 2021, 159Ae69. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Yahudi ke dalam komunitas mereka. Markus mencatat tiga mujizat yang dilakukan Yesus ketika melayani orang non-Yahudi di wilayah Tirus dan Sidon. Tirus dan Sidon adalah kota-kota di Fenisia yang terletak di Mediterania, pantai Laut Terrane sekitar sembilan puluh mil barat laut Yerusalem. Kisah ini mencatat tentang perbuatan Kristus yang benar-benar mempraktikkan apa yang baru saja Ia ajarkan kepada para murid: tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang nonYahudi. Yesus datang ke daerah ini . ekitar empat puluh mil dari Kapernau. dengan niat awal untuk beristirahat sejenak dari kerumunan banyak orang. Namun, seorang ibu yang kewarganegaraannya adalah seorang non-Yahudi datang menghampiri Yesus untuk memohon mujizat dan pertolongan dari Yesus. Perjumpaan Yesus dengan perempuan Siro-Fenisia menghadirkan dinamika teologis yang kompleks yang memerlukan penafsiran mendalam. Dialog yang terjadi antara Yesus dan perempuan tersebut mengungkapkan strategi retoris yang disengaja untuk mengeksplorasi batas-batas misi mesianik. Ketika Yesus menyatakan "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing" . pernyataan ini bukanlah penolakan definitif, melainkan ujian iman yang mengundang respons kreatif. Respons perempuan tersebut, "Benar. Tuhan, tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak" . , menunjukkan pemahaman teologis yang matang tentang hierarki keselamatan sambil tetap mengklaim haknya atas anugerah Allah. Secara redaksional. Markus menempatkan perikop ini strategis setelah perdebatan tentang kekotoran ritual . :1-. , menciptakan ironi teologis yang tajam: orang Yahudi yang secara ritual "bersih" menolak Yesus, sementara perempuan "kafir" yang secara ritual "najis" justru menunjukkan iman yang luar Struktur ini mengkritik eksklusivisme etnis-religius dan menegaskan bahwa iman, bukan identitas etnis, yang menjadi kualifikasi untuk menerima anugerah Allah. Dialog metaforis tentang "anak-anak" dan "anjing" berfungsi sebagai wahana pedagogis untuk mendekonstruksi pemahaman partikularistik tentang Warren W. Wiersbe and Warren W. Wiersbe. The Wiersbe Bible Commentary: The Complete Old Testament in One Volume, 2nd ed (Colorado Springs. CO: David C. Cook, 2. Imanuel Teguh Harisantoso. AuPertobatan Dialogis: Analisa Postkolonial Terhadap Percakapan Yesus Dengan Perempuan Siro-Fenisia Dalam Markus 7:24-30,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 2, no. 1 (Juni 2. : 70Ae71. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. di mana perempuan Siro-Fenisia berhasil mentransformasi metafora ( Santy Sahartia. argumen inklusi. Dalam konteks Sitz im Leben komunitas Markus, perikop ini menjadi legitimasi teologis bagi penerimaan orang-orang non-Yahudi ke dalam gereja. Markus tidak hanya merekam peristiwa historis, tetapi menggunakan narasi ini sebagai paradigma hermeneutis untuk menunjukkan bahwa universalitas keselamatan bukanlah konsep yang muncul belakangan, melainkan sudah tersirat dalam pelayanan historis Yesus. Keberhasilan perempuan Siro-Fenisia dalam "bernegosiasi" dengan Yesus melalui argumen teologis menunjukkan bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi tidak pasif menerima keselamatan, tetapi aktif terlibat dalam dialog iman yang transformatif. Kisah ini dengan demikian menjadi prototipe bagi evangelisasi lintas-budaya dan model bagi gereja multi etnis yang sedang terbentuk. Struktur Markus 7:24-30 Struktur Markus 7:24-30 dapat dieksegesa sebagai berikut: Ayat 24-26. Bagian ini berisi pengantar yang memperkenalkan latar tempat dan tokoh Tokoh utama adalah Yesus dan perempuan Siro-Fenesia. Kisah ini dimulai dengan kedatangan Yesus ke daerah Tirus, dan perempuan Siro Fenesia kemudian datang kepada-Nya dengan permohonan akan kesembuhan putrinya yang kerasukan roh jahat. 29 Kemudian dalam penjelasan tentang latar tempat maka nama Tirus dan daerah Siro-Fenesia disebutkan. Tirus dan Sidon termasuk dalam SiroFenisia, sebuah wilayah di Mediterania, yang terkenal karena kekunoannya, kekayaannya, dan peradabannya. Siro-Fenisia sendiri adalah sebutan yang lebih khusus untuk ras tempat perempuan tersebut berasal. Awalan tersebut menunjukkan bagian dari Fenisia yang termasuk dalam Syria, berbeda dengan Libo-phoenicia. Secara spesifik daerah tersebut disebutkan melalui gabungan dua tempat dari Siria dan Fenisia, di mana penggunaan dua daerah tersebut tersebut mencerminkan bahwa adanya penggabungan kedua wilayah menjadi satu distrik di bawah Harisantoso. AuPertobatan Dialogis: Analisa Postkolonial Terhadap Percakapan Yesus Dengan Perempuan Siro-Fenisia Dalam Markus 7:24-30,Ay 71. Imanuel Teguh Harisantoso. AuPertobatan Dialogis,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi KristenI 2, 1 (Juni 2. : 71Ae73. Chad Brand. Charles Draper, dan Archie England. Holman Illustrated Bible Dictionary (Nashville. Tenn. : Holman Bible Publishers, 2. , 2962. Chad Brand. Charles Draper, dan Archie England. Holman Illustrated Bible Dictionary (Nashville. Tenn. : Holman Bible Publishers, 2. , 2962. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. kekuasaan Romawi . enjadi bagian provinsi di Rom. Sebelum era ini. Fenisia adalah wilayah pesisir Palestina utara, dan Siria adalah negara terpisah yang terletak lebih jauh ke pedalaman. Begitu mendengar bahwa Yesus memasuki daerah Tirus maka seorang perempuan datang menjumpai Yesus. Tindakan perempuan ini telah menginterupsi penyendirian-Nya, tidak menutup kemungkinan bahwa rahasia kedatangan Yesus semakin tersiar oleh karena perempuan ini. 32 Informasi tentang perempuan itu diceritakan dengan sangat rinci bahkan ayat 25-26 menjadi satu kesatuan. Diperlukan dua ayat untuk mendefinisikan perempuan tersebut. Hal ini bukan tanpa sebab, selain untuk meyakinkan bahwa cerita ini memang terjadi, tetapi juga untuk memberi tahu para pembaca mengenai interaksi yang dilakukan Yesus dengan perempuan itu. Di ayat 26 ditekankan bahwa ia adalah seorang perempuan, dari orang-orang kafir yang terkenal dari Phoenicia Suriah. Dengan statusnya ini, perempuan itu tetap memiliki keberanian untuk memohon agar Yesus mengusir setan dari Permohonan itu lahir dari kebutuhannya yang mendesak, agar putrinya bisa selamat. 34 Seperti yang dijelaskan oleh Raulina bahwa perempuan ini termasuk pemberani, karena ia menerobos batas-batas sosial maupun politik yang sebenarnya berbahaya dan beresiko bagi dirinya. Ada batas antara dirinya, sebagai seorang perempuan, dengan kelompok laki-laki. Di samping itu ada juga pembatas dinding etnosentris antara dirinya orang Kanaan dan kelompok Yesus sebagai orang Israel. Posisi perempuan tersebut ketika hadir di hadapan Yesus menunjukkan bahwa sekalipun dia adalah orang asing namun tetap mengedepankan adab. datang sebagai pemohon dan layaknya pemohon ia dengan tulus tersungkur di hadapan Yesus. Ia tidak peduli dengan perbedaan latar belakang mereka berdua, mungkin bahkan ia tidak memikirkan akan hal ini karena keputusasaan yang ia alami atas sakit yang diderita putrinya. Brand. Draper, and England. Holman Illustrated Bible Dictionary, 2962. James R. Edwards. The Gospel According to Mark. Pillar New Testament Commentary (La Vergne: IVP, 2. , 236. Bastiaan Martinus Franciscus van Iersel. Mark: A Reader-Response Commentary. Journal for the Study of the New Testament 164 (Sheffield. England: Sheffield Academic Press, 1. , 249. Edwards. The Gospel According to Mark, 237. Raulina Siagian. Perempuan Dinamis Dalam Pelayanan Yesus (Kisah PerempuanPerempuan dalam Kitab Inji. (Pematang Siantar: L-SAPA, 2. , 97. Adela Yarbro Collins and Harold W. Attridge. Mark: A Commentary. Hermeneia--a Critical and Historical Commentary on the Bible (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 364. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. peristiwa, kisah pengusiran setan dilakukan dengan tidak Dalam beberapa ( Santy Sahartia. Namun kisah ini berbeda. Perempuan tersebut yang memohon kepada Yesus dan kisah ini sama dengan kisah Yairus. Oleh karena ini ada sudut pandang psikologi khusus yang perlu diperhatikan, bahwa tindakan perempuan itu didorong oleh kekhawatirannya dengan kondisi putrinya. Sehingga melalui ayat ini pembaca diperhadapkan dengan ketulusan seorang ibu kepada buah hatinya. Perempuan ini meninggalkan rumahnya, meninggalkan putrinya untuk pergi kepada Yesus, karena ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan putrinya tersebut. Namun perlu diketahui bahwa ada beberapa perbedaan kisah perempuan ini dengan kisah Yairus. Pertama dari segi penyakit, pada kisah Yairus anaknya mengalami sakit, sedangkan pada kisah ini putri perempuan tersebut sedang kerasukan setan. Kedua. Yairus memohon agar Yesus meletakkan tangan-Nya kepada anaknya untuk menyembuhkan. 38 Hal yang berbeda terjadi karena perempuan tersebut tidak memikirkan bagaimana cara Yesus menyembuhkan anakNya, yang jelas ia percaya bahwa Yesus dapat mengusir roh jahat dari anaknya. Mereka sama-sama beriman namun pengaplikasian dari iman mereka berbeda. Ayat 27 Respons pertama Yesus menunjukkan penolakan ("Biarlah anak-anak kenyang dahulu. sebab tidak patut mengambil roti dari anak-anak dan melemparkannya kepada anjing"). Yesus membedakan antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Istilah anjing adalah istilah yang mengungkapkan penghinaan orang Yahudi terhadap orang-orang kafir. Cemoohan umum ini menunjukkan orang Yahudi pada zamannya dalam memperlakukan orang lain dengan Namun respon dari Yesus bukan untuk menghancurkan harapan perempuan Murid-murid juga tidak menjadikan peristiwa tersebut sebagai sesuatu kejadian yang membahayakan mereka dan diri Yesus sendiri. Karena bukan baru sekali Yesus menerima orang yang tersungkur di hadapan-Nya. Namun kali ini Iersel. Mark, 249. Raulina Raulina. AuAoTersungkurlah Ia Memohon pada YesusAo: Kritik Naratif Markus 5:2124, 35-43 dalam Perspektif Tanggung Jawab Seorang Ayah,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 9, no. 1 (Mei 2. : 37Ae38. Iersel. Mark, 249. Alan Culpepper. Mark. Smyth & Helwys Bible Commentary (Macon. GA: Smyth & Helwys Pub, 2. , 242. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. berbeda, yang tersungkur adalah orang bukan Yahudi sehingga menimbulkan suasana yang dramatis bagi Yesus. Percakapan singkat antara Yesus dan perempuan itu pada ayat 27 membawa kisah itu ke klimaksnya. Yesus tidak menjanjikan apa pun kepadanya, tetapi membandingkan anak-anak dengan anjing-anjing kecil di rumah itu, yang jika ditelaah secara sederhana maka ini merupakan sebuah penolakan secara halus. Mengisyaratkan bahwa orang Yahudi telah menerima hak istimewa dari Allah dan belum diperuntukkan bagi bangsa lain. Dengan mengacu pada perbedaan antara tuntutan anak-anak dalam rumah tangga dan anjing peliharaan. Yesus membedakan antara tuntutan Israel dan tuntutan orang-orang bukan Yahudi atas pelayanannya, yang terbatas pada Israel. Sekalipun perkataan Yesus terkesan kasar dalam merespons orang baru, namun di sini maksud Yesus adalah untuk mencari tahu keseriusan dari iman perempuan tersebut. Dalam bahasa Yunani. Yesus menggunakan kata IA . yang merupakan bentuk diminutif dari sO . uon, anjin. , bukan kata kuon yang biasa digunakan untuk anjing jalanan atau anjing liar. Kata kunarion merujuk kepada anjing rumahan atau anjing peliharaan . ouse dogs atau lap dog. , yang hidup dengan pemiliknya dan mendapatkan hak istimewa. Penggunaan bentuk diminutif ini memberikan nuansa yang lebih halus, seperti "anjing kecil" atau "anjing rumah tangga," yang berbeda dari penghinaan kasar yang biasa ditujukan kepada orang-orang non-Yahudi. Tentu saja hal ini pasti dimengerti oleh perempuan tersebut dan tidak akan mempermasalahkan hal itu. Dia tidak sakit hati, mengingat ia adalah orang nonYahudi, tidak seperti Yesus. Penggunaan kata diminutif ini bahkan dapat diinterpretasikan sebagai langkah Yesus untuk menempatkan "orang Yahudi dan non-Yahudi di bawah atap yang sama". Hal ini didukung dengan kondisi harfiah anjing rumahan yang selalu makan, sekalipun sisa makanan dari anak tuannya. Memang tidak secara spesifik Yesus menggunakan kata AutuanAy pada ayat ini, namun penggunaan kata AuanjingAy yang Yesus lontarkan memastikan bahwa anjing yang dimaksud adalah anjing yang bertuan. Sebagai hewan peliharaan di rumahnya, tuannya pasti memikirkan juga keberlangsungan peliharaannya. Sekalipun ada remah-remah yang jatuh namun sang-tuan tetap menyediakan Edwards. The Gospel According to Mark, 236. Lane. The Gospel According to Mark, 262. Barbara Aland et al. , eds. The Greek New Testament. V (Munster: Institute for New Testament Textual Research, 2. , 107. Culpepper. Mark, 242. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus Yuniant. bagi anjing tersebut. Sang tuan memikirkan anak-anak dan juga ( Santy Sahartia. anjingnya, namun dengan porsi yang berbeda. Ada keengganan-Nya untuk segera bertindak atas nama perempuan itu. Mungkin tindakan ini disebabkan oleh fakta bahwa di dunia Helenistik pada abad pertama ada banyak "pembuat mujizat" yang menarik banyak pengikut. Akan tetapi, kuasa Allah dinyatakan dengan tepat bukan dalam konteks takhayul dan ilmu sihir, melainkan sebagai tanggapan terhadap iman. Karena itu. Yesus mengajukan kepada perempuan itu sebuah pernyataan yang penuh teka-teki untuk menguji imannya. Jika anjing memakan remah-remah di bawah meja, mereka diberi makan pada saat yang sama dengan anak-anak . an tidak perlu menunggu, seperti yang tersirat dalam penegasan dalam ayat 27. Memang, biarkan anak-anak diberi makan, tetapi biarkan anjing menikmati remah-remahnya. Tidak perlu ada gangguan dalam jamuan makan, karena yang dimintanya bukanlah seluruh roti tetapi satu remah. Ayat 28 Penerimaan perempuan itu atas perbandingan tersebut, jawaban yang cerdas, dan rasa hormat yang mendalam kepada Yesus dalam sambutannya menunjukkan bahwa keyakinannya pada kuasa dan niat baik-Nya tidak tergoyahkan. 48 Respons iman perempuan tersebut, yang menerima sebutan AuanjingAy dengan kerendahan hati, namun tetap berharap pada belas kasihan Yesus. Imannya tumbuh karena ia mengenal tentang Yesus. Secara intuitif, ia tahu bahwa Yesus adalah sosok yang memiliki pandangan yang luas dan simpatik terhadap segala sesuatu, bukan pandangan yang sempit dan keras, dan bahwa Yesus benar-benar telah mempersiapkan jalan bagi pernyataannya. Perempuan tersebut memahami situasi rumah tangga saat ini, khususnya dalam rumah tangga Helenistik. Meja telah disiapkan dan keluarga telah Tidaklah pantas untuk menghentikan makan dan membiarkan anjinganjing rumah tangga mengambil roti anak-anak. Culpepper. Mark, 242. Lane. The Gospel According to Mark, 262. Lane. The Gospel According to Mark, 263. Lane. The Gospel According to Mark, 263. Ezra Palmer Gould. A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to St. Mark. International Critical Commentary on the Holy Scriptures of the Old and New Testaments (Edinburgh: T&T Clark, 1. , 137 Lane. The Gospel According to Mark, 263. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Ayat 29-30 Bagi Yesus, jawaban dari perempuan itu merupakan ungkapan kepercayaan. Di sini Yesus tidak melakukan apa pun, tidak berinteraksi dengan yang sakit, semua terjadi jarak jauh dan saksi-saksi hanya ada di satu tempat. Akhirnya perempuan tersebut menerima hasil dari percakapannya dengan Yesus. Sekembalinya ke rumah, sang ibu menyaksikan kuasa Yesus, karena putrinya sudah sembuh, setan itu sudah keluar. 51 Penyembuhan anak perempuan itu merupakan buah dari iman sang ibu. Tidak ada kontak fisik atau tindakan lain, hanya kata-kata Yesus yang menghasilkan penyembuhan. Perempuan yang percaya ini menyerahkan seluruh perkaranya kepada Yesus, dan dia tidak kecewa terhadap respons yang diberikan oleh Yesus. Hanya dengan satu kalimat perempuan tersebut memahami misi-Nya dan menerima kata penutup dari Yesus dengan sukacita. Perempuan ini adalah orang pertama dalam Markus yang mendengar dan memahami perumpamaan Yesus secara langsung, tidak ada respons atau pertanyaan berlebihan setelah kalimat akhir Yesus. Dia tidak menjauh dan menyendiri, berusaha mempertahankan posisi dan kendalinya. Dia melakukan apa yang Yesus perintahkan kepada mereka yang akan menerima kerajaan dan mengalami firman Allah: dia memasuki perumpamaan itu dan membiarkan dirinya diklaim oleh Yesus menjadi bagian-Nya. Sekalipun perempuan itu bukan termasuk ke dalam umat pilihan, namun seperti ratapan Mazmur 12 yang memegang teguh janji Allah namun roh perempuan ini mengingat dan berpegang teguh kepada janji Tuhan oleh imannya. Secara biologis ia memang bukan orang Yahudi namun kesungguhan imannya menjadikan ia sebagai sosok orang Yahudi yang sebenarnya. Latar belakang perempuan yang termarjinalkan tidak membuat Yesus menolak perempuan itu. Posisi perempuan itu tetap pada pemenuhan keselamatan. Keyakinan perempuan itu menyenangkan Yesus, penafsirannya terhadap pernyataan-Nya memberikan kesaksian yang fasih baik tentang kerendahan hatinya maupun kepercayaannya yang sederhana kepada kuasa-Nya untuk menghadapi setan ketika semua bantuan manusia gagal. Inilah iman yang mampu menerima Dia menempatkan dirinya tanpa syarat di bawah ketuhanan Yesus dan menerima pengakuan dan janji-Nya: "atas dasar perkataan ini, pergilah. " Perintah Iersel. Mark, 254. Joseph Addison Alexander. The Gospel According to Mark (New York: Charles Scribner, 1. , 196Ae97. Edwards. The Gospel According to Mark, 239. Raulina Siagian. Perempuan Dinamis Dalam Pelayanan Yesus (Kisah PerempuanPerempuan dalam Kitab Inji. , 99Ae100. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrus pulang Yuniant. penting, karena dalam Injil Markus Yesus berbicara dengan cara ini ( Santy Sahartia. kali Dia melihat keyakinan yang mendalam dari mereka yang meminta kesembuhan . :11. 5:34. 7:29. Implikasi Teologi Keselamatan Universal Terhadap Kehidupan Gereja Kontemporer Tantangan dalam kehidupan beragama di Indonesia semakin kompleks seiring perkembangan zaman yang membuat interaksi antar individu dengan latar belakang berbeda menjadi semakin intens. Teologi keselamatan universal memberikan perspektif yang relevan untuk mengatasi tantangan ini, sebagaimana yang tergambar dalam kisah wanita Siro-Fenisia (Mrk. 7:24-. Dalam dialog Yesus dengan perempuan non-Yahudi tersebut, terlihat sikap terbuka dan toleran Yesus terhadap orang-orang di luar kelompok etnis dan agama Yahudi. Konsep keselamatan yang Yesus bawa tidak terikat oleh batasan etnis atau agama, melainkan tersedia bagi semua orang yang beriman. Sebagai individu yang terpinggirkan secara sosial dan agama, perempuan Siro-Fenisia mampu mengakses rahmat Tuhan melalui iman. Ini adalah pesan yang kuat tentang bagaimana Tuhan mengabaikan perbedaan yang diciptakan oleh manusia sendiri dan memasukkan semua orang tanpa kecuali ke dalam rencana keselamatan-Nya. Melalui narasi ini Yesus menegaskan bahwa keselamatan dapat diperoleh setiap orang tanpa adaya batasan maupun sekat yang menjadi pemisah antara keselamatan dengan manusia. Seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant dan selanjutnya dikutip oleh Olaf Herbert dalam bukunya yang berjudul AuFilsafat dan AgamaAy bahwa manusia harus berteologi yang rasional, perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia merupakan sebuah rahmat Allah untuk mensejahterahkan manusia itu sendiri, sekalipun manusia memiliki hak untuk menentukan jalan keselamatannya masing-masing, namun iman Kristen yang hidup dalam perbedaan tetap pada fakta bahwa Yesus satu-satunya jalan menuju keselamatan dan jalan keselamatan yang diberikan oleh Yesus tidak mengenal sekat batasan yang menjadi penghalang seseorang untuk menerima anugerah keselamatan tersebut. Iman adalah kompas yang menuntun setiap orang untuk mempercayai keselamatan universal, karena tanpa iman setiap orang sulit memahami keselamatan itu. Keselamatan yang dilakukan Kristus tidak dibatasi identitas atau Lane. The Gospel According to Mark, 263. Olaf Herbert Schumann. Filsafat dan Agama (Pendekatan PAda Ilmu Agama-agama . (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 243Ae44. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. latar belakang seseorang, namun memerlukan iman yang kokoh seperti perempuan Siro-Fenesia dalam narasi ini, sehingga iman mendorong setiap umat percaya untuk yakin terhadap karya keselamatan meskipun berada di luar lingkaran suku maupun etnis tertentu. Oleh karena itu dalam konteks saat ini, gereja dipanggil untuk merespons berbagai bentuk ketidakadilan dan pengecualian sosial, seperti kemiskinan, diskriminasi ras, marginalisasi gender, dan penindasan terhadap kelompok Kisah ini mengajarkan bahwa anugerah Allah tidak terbatas pada mereka yang diterima oleh norma sosial, ekonomi, atau agama yang dominan, melainkan bagi semua orang yang mencari Tuhan dengan iman. Gereja masa kini harus memperjuangkan inklusivitas dalam pelayanannya, memastikan bahwa setiap orang, tanpa memandang latar belakang mereka, dapat merasakan kasih karunia Allah. Gereja adalah bagian dari misi Allah yang menyimpan rahasia kemesianisan dari Yesus akan keselamatan untuk hidup manusia. Kisah Markus 7:24-30 dapat dipahami sebagai pengakuan bahwa anugerah keselamatan tidak terikat pada identitas ritual keagamaan atau budaya tertentu, melainkan bergantung pada respons iman kepada Allah. Pandangan ini bisa menjadi landasan teologis yang kokoh untuk dialog antar agama dan kerja sama dalam berbagai isu global, seperti perdamaian, lingkungan, dan kemanusiaan, di mana nilai-nilai moral universal dapat dikembangkan dan dihayati bersama. Kisah ini menunjukkan bahwa Allah adalah omnipresent, ketika Ia ada dalam sejarah kemanusiaan dimana budaya dan kekristenan saling berinteraksi. Pintor Marihot Sitanggang, dalam buku yang berjudul AuReligionAos Mission In CultureAy berpendapat bahwa kekristenan pada hakikatnya akan berinteraksi dengan nilainilai budaya dan moralitas manusia yang bersosial, yang memiliki latar belakang budaya masing-masing. Kisah perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 menawarkan wawasan yang sangat relevan bagi gereja dan dunia saat ini. Dalam konteks pluralisme agama, keadilan sosial, dan diskusi teologis tentang keselamatan, perikop ini menekankan pentingnya mengedepankan konsep keselamatan universal yang Roy Tambun. AuPulanglah dan Jadilah Kepadamu seperti yang Engkau Percaya: Kritik Naratif Matius 8:5-13,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 5, no. 1 (Mei 2. 102Ae103. Pintor Marihot Sitanggang and Ricky Pramono Hasibuan, eds. ReligionAos Mission In Culture An International Proceding of STT HKBP Pematang Siantar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 90Ae91. Pintor Marihot Sitanggang and Ricky Pramono Hasibuan. ReligionAos Mission In Culture An International Proceding of STT HKBP Pematang Siantar, 107. Keselamatan Tanpa Sekat, . (Raulina. Geri Gabriel Panjaita. A(Petrusbatas-batas Yuniant. etnis, agama, dan status sosial. Gereja masa kini dipanggil ( Santy Sahartia. keterbukaan Yesus terhadap semua orang dan berkomitmen pada inklusivitas di setiap aspek pelayanannya dalam menghadapi tantangan-tantangan Simpulan Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kisah perempuan SiroFenisia dalam Markus 7:24-30 memberikan dasar teologis yang kuat untuk konsep keselamatan universal, di mana Yesus secara jelas membuka pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa non-Yahudi yang secara historis dianggap sebagai "outsider" dalam rencana keselamatan Allah. Penelitian ini berhasil menjawab tujuan yang dirumuskan dalam pendahuluan dengan menunjukkan bahwa keselamatan tidak dibatasi oleh latar belakang etnis, ras, atau status sosial seseorang, melainkan bergantung pada respons iman yang tulus kepada Allah. Sikap perempuan SiroFenisia yang dengan rendah hati menerima posisinya namun tetap beriman kepada kuasa Yesus menjadi indikator universalitas dan inklusivitas keselamatan yang melampaui segala bentuk sekat sosial dan religius. Dialog antara Yesus dan perempuan tersebut menegaskan bahwa anugerah keselamatan bersifat menyeluruh bagi seluruh umat manusia yang percaya, tanpa memandang perbedaan identitas. Dalam konteks kekristenan Indonesia sebagai kelompok minoritas, kisah ini memberikan inspirasi dan mendorong gereja untuk mengembangkan teologi yang lebih inklusif serta terbuka terhadap pluralitas dalam masyarakat kontemporer. Daftar Pustaka