5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 BELAJAR BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING MELALUI KOMUNIKASI SOSIAL DI MEDIA SOSIAL: PERSPEKTIF PEMBELAJAR Rosi Anjarwati*1. Lailatus SaAoadah2 STKIP PGRI Jombang stkipjb@gmail. stkipjb@gmail. Abstract Nowadays, social media seems to be an essential component of daily life. Because of the internet's presence and development, novel ways of communication in social life have Social media offers and changes the communication paradigm in today's Distance, time, and geographical locations are not limitations to social media It may occur anywhere, at any moment, and without any direct connection. The use of social media has combined all forms of communication into a single platform. Many implications must also be considered, because social media allows everyone who uses it to freely express their thoughts. Even in the field of education, social media can be used to facilitate language learning after the Covid 19 pandemic, which transformed traditional language learning into an online learning process. The purpose of this study is to explore how English language learners perceive social contact via social media for English language learning purposes. Based on these objectives, the research strategy employed in this study was a survey with male and female students . igh school and colleg. from several cities in East Java as respondents. A questionnaire will be utilized in this study to answer questions concerning the preferences English as a Foreign Language (EFL) learners have in their use of social media as part of English language According to the findings of the study, students prefer various types of social media, spending 3 to 6 hours per day listening to songs or watching videos, reading posts, searching for and sharing information, uploading videos, writing statuses, and providing spoken and written comments. Key words: Social media, social communication. EFL learners, learner perspectives Abstract Saat ini, media sosial seakan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran dan perkembangan internet telah membawa cara baru dalam berkomunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat saat ini, media sosial menghadirkan dan mengubah paradigma komunikasi. Komunikasi media sosial tidak dibatasi oleh jarak, waktu, atau ruang. Itu bisa terjadi di mana saja, kapan saja, tanpa perlu komunikasi langsung. Tingkat komunikasi telah melebur menjadi satu wadah yang dikenal dengan media sosial. Munculnya banyak konsekuensi juga harus diperhatikan, karena media sosial memungkinkan setiap individu yang terlibat di dalamnya untuk bebas mengungkapkan pendapatnya. Bahkan dalam dunia pendidikan, setelah pandemi Covid 19 yang mengubah pembelajaran bahasa tradisional menjadi proses pembelajaran online, media sosial tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pembelajar bahasa Inggris memandang komunikasi sosial melalui media sosial untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris. Berdasarkan tujuan tersebut, rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan responden yang meliputi siswa laki-laki maupun perempuan (SMA dan perguruan tingg. dari beberapa kota di Jawa Timur. Instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa angket untuk menjawab pertanyaan tentang preferensi apa yang dimiliki oleh pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa asing (English as a Foreign Language / EFL) dalam penggunaan media sosial mereka sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki preferensi terhadap beberapa jenis media sosial dengan menggunakan umumnya sebanyak 3 sampai 6 jam dalam sehari untuk mendengarkan lagu atau video, membaca postingan, mencari dan membagikan informasi, mengungah video, menulis status, serta memberi komentar lisan dan tulis. Kata kunci: Media sosial, komunikasi sosial, pembelajar EFL, perspektif pembelajar PENDAHULUAN Pasca pandemi Covid memaksa transisi global yang cepat mengenai pembelajaran kelas bahasa secara online, yang tentu saja berbeda dari kelas Pengalaman sejak kebijakan pemerintah Indonesia menyatakan bahwa guru dan peserta didik harus tinggal di rumah, harus mengubah cara belajar dengan menggunakan internet dan memanfaatkan beberapa keuntungan untuk belajar, termasuk belajar bahasa. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran online menjadi sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar Bahasa Inggris . Selain itu, mereka juga mengubah cara mereka berkomunikasi dengan berinteraksi melalui media sosial, menonton film atau video, dan mendengarkan lagu. Dengan memanfaatkan media sosial, beberapa guru mendapat manfaat dari mengajar di lingkungan yang informal namun konstruktif. Siswa dapat mengakses YouTube untuk materi dan blog terkait mata pelajaran. Pinterest, atau Wikipedia, mengakses Facebook atau alat media sosial lainnya untuk praktik pembelajaran Dari sekolah dasar hingga tingkat universitas, media sosial berpotensi memberdayakan orang tua, siswa, dan guru untuk menggunakan metode baru dalam berbagi informasi dan membangun komunitas. Menurut data statistik, 96% siswa dengan akses internet menggunakan setidaknya satu jejaring sosial. Yang lebih luar biasa adalah, sementara beberapa siswa menggunakan media sosial untuk hiburan dan tujuan lain, banyak yang menggunakannya untuk mempromosikan berbagai kegiatan positif. Memiliki beberapa akses ke Internet, siswa menggunakan jejaring sosial terutama untuk berkomunikasi dengan teman, kolega, teman sebaya, dan keluarga . Menggabungkan pembelajaran formal dan informal telah banyak di tawarkan untuk meningkatkan pembelajaran bahasa secara formal . Siswa menggunakan media sosial tidak hanya secara formal terkait mata pelajaran/ mata kuliah wajib melalui interaksi teman sebaya . iswa ke sisw. tetapi juga secara informal. Selain itu, siswa mungkin memiliki preferensi untuk alat pembelajaran bahasa Inggris dan frekuensi akses. Terlebih lagi, media sosial memfasilitasi komunikasi dan mendorong pengguna untuk berbagi informasi dengan cepat . Hal Ini dapat mendorong siswa untuk berbagi materi melalui saluran media sosial pilihan mereka untuk menyelesaikan tugas mereka. Sangat penting untuk menyelidiki manfaat potensial dari alat jaringan tersebut untuk pendidikan modern karena platform media sosial dapat meningkatkan komunikasi di antara mereka dalam sistem pendidikan . Menurut penelitian, keberhasilan setiap pengalaman belajar bergantung pada berbagai faktor, salah satunya adalah komunikasi yang efektif antara guru dan siswanya . Proses belajar mengajar akan menjadi sulit jika komunikasi yang baik antara guru dan siswa tidak tersedia. Akibatnya, guru harus terus memantau siswa untuk mengetahui masalah yang mungkin mereka alami. Memahami masalah, ketakutan, atau kebingungan siswa akan membantu para pendidik untuk lebih memahami kesulitan belajar siswa. Semakin banyak guru terhubung dengan siswanya, semakin besar kemungkinan mereka akan membantu siswa belajar dengan cepat dan pada tingkat yang tinggi. Misalnya. WhatsApp. Telegram. Instagram. Facebook, dan Twitter dapat digunakan sebagai saluran untuk komunikasi antar siswa dan antara guru dan siswa di dalam dan antar kelas. Pengajar dapat menanggapi pertanyaan siswa melalui grup WhatsApp, halaman Facebook, atau umpan Twitter, memposting tugas pekerjaan rumah dan rencana pelajaran, memperluas diskusi di kelas, mengirim pesan dan pembaruan, menjadwalkan atau mengumumkan acara yang akan datang, kuliah, diskusi panel, atau pembicara tamu. Interaksi guru-siswa ini tentunya akan membantu memahami berbagai kesulitan belajar dan menyelesaikannya dalam waktu yang lebih singkat. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh SaAoadah & Anjarwati . yang menemukan bahwa sebagian besar siswa memiliki kesan dan perasaan positif terhadap umpan balik guru secara online. Media sosial tidak hanya dapat meningkatkan komunikasi antara siswa dan guru, tetapi juga dapat meningkatkan komunikasi antar siswa . Selain itu, pembelajar muda sangat suka belajar atau meniru teman sebayanya di media sosial mereka . Mereka berinteraksi satu sama lain dan memberikan umpan balik satu sama lain. terlebih lagi siswa seringkali merasa umpan balik dari teman sebaya lebih mudah untuk dipahami . Menurut Greenhow & Lewin . , mengintegrasikan media sosial dalam lingkungan belajar dan mengajar dapat menghasilkan bentuk baru dari komunikasi, kolaborasi, atau dampak kognitif, sosial, dan emosional yang positif. Banyak peneliti telah membahas pembelajaran Bahasa Inggris melalui media sosial untuk pengajaran bahasa Inggris . ,10Ae. Ada banyak studi kasus yang diterbitkan membahas implementasi media sosial yang sukses di pendidikan tinggi . ,14,. Meskipun media sosial dipromosikan sebagai pendorong pembelajaran kolaboratif dan meningkatkan interaksi siswa, hanya sedikit yang berbicara tentang bagaimana perasaan atau sudut pandang siswa tentang manfaat interaktivitas teknologi sosial. Sebagian besar studi tentang interaksi media sosial berfokus pada interaksi tersebut daripada persepsi siswa . Penelitian ini mengkaji perspektif pembelajar EFL (Bahasa Inggris sebagai Bahasa asin. tentang penggunaan media sosial untuk pembelajaran bahasa Inggris melalui komunikasi sosial untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana media sosial dirasakan oleh pembelajar bahasa Inggris setelah pandemi Covid 19. Anjarwati & SaAoadah . telah melakukan penelitian tentang dampak penggunaan Google Classroom dan Whatsapp terhadap keterlibatan siswa di kelas Bahasa Inggris. Penelitian tersebut menemukan bahwa ada dampak penggunaan kedua media tersebut terhadap keterlibatan sikap . ehavioural engagemen. Dengan mengetahui dan memahami preferensi dan persepsi pembelajar tentang penggunaan media sosial untuk pembelajaran bahasa Inggris dapat memberikan cara yang lebih baik bagi guru dan dosen tentang bagaimana menggunakan media sosial sebagai komunikasi sosial untuk pembelajaran bahasa. Media sosial tetap menjadi topik yang menarik di mana para peneliti pendidikan berharap bahwa teknologi ini akan memberikan aplikasi terbaik yang mampu membawa perubahan signifikan dalam cara orang belajar dan terlibat dalam pendidikan. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki Preferensi apa yang dimiliki pelajar EFL dalam penggunaan media sosial mereka? METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan survei sebagai rancangan penelitian, khususnya Cross-sectional Survey (Survei sekali wakt. Penelitian survei merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang ciri-ciri populasi yang digambarkan oleh sampel . Selain itu, penelitian survei juga dapat digunakan untuk mengetahui pandangan, sikap, atau persepsi subjek . Jenis rancangan penelitian tersebut dirasa tepat untuk digunakan dalam penelitian ini karena sejalan dengan tujuan penelitian. Peneliti ingin menggambarkan persepsi siswa pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa asing mengenai dampak komunikasi sosial melalui media sosial terhadap kemampuan berbahasa Inggris mereka. Responden dalam penelitian ini adalah siswa SMP. SMA dan mahasiswa dari 19 kota di Jawa Timur meliputi wilayah Jombang. Mojokerto. Kediri. Trenggalek. Malang. Blitar. Ponorogo. Surabaya. Lamongan. Tuban. Gresik. Sidoarjo. Nganjuk. Batu. Bojonegoro. Pasuruan. Sumenep. Tulungagung, dan Magetan. Sampel penelitian akan diambil menggunakan Probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel di mana sampel tidak dipilih atau, jika mungkin, seluruh populasi diasumsikan memiliki peluang yang sama untuk dipilih . Jumlah responden yang mengisi survey adalah 338 responden. Dua instrumen penelitian akan digunakan dalam penelitian ini. Pertama, kuesioner akan digunakan untuk memeroleh data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama dan kedua dalam penelitin ini. Kuesioner yang dipersiapkan terdiri dari 8 item pertanyaan/pernyataan yang meliputi 4 item terkait dengan data demografi responden, dan 4 item tentang preferensi dan kebiasaan responden dalam menggunakan media social. Instrumen kedua yang akan digunakan adalah wawancara, wawancara semi-terstruktur digunakan untuk menggali lebih dalam persepsi siswa mengenai dampak berkomunikasi sosial menggunakan media social terhadap kemampuan Bahasa Inggris mereka. Sebelum digunakan, kedua instrumen tersebut akan divalidasi terlebih dahulu oleh ahli kemudian di uji cobakan. Untuk mengumpulkan data, pertama-tama peneliti akan membagikan kuesioner kepada beberapa relawan guru dan dosen dari 19 kota berbeda di Jawa Timur. Indonesia. Relawan guru dan dosen akan memberikan link kepada siswa mereka sebagai peserta. Peserta diminta mengisi kuesioner yang mengumpulkan informasi demografis, praktik sastra digital, dan persepsi keseluruhan terhadap media sosial dan dampaknya terhadap kemampuan bahasa Inggris mereka. Peserta diperbolehkan bertanya jika kurang paham dengan item skala melalui WhatsApp atau email peneliti yang tertera di Google Form. Setelah data hasil kuesioner terkumpul, beberapa responden akan diwawancarai secara online untuk menggali informasi secara mendalam. Data tentang preferensi dan kebiasaan responden dalam penggunaan media sosial akan dianalisis menggunakan perhitungan distribusi frekuensi sederhana menggunakan prosentase. Hal ini dilakukan untuk melihat kecenderungan persepsi siswa mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kemampuan berbahasa Inggris mereka. Data yang diperoleh melalui proses wawancara akan dianalisis secara tematik berdasarkan proses analisis data menurut Miles & Huberman . yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan Pada tahap reduksi data, peneliti akan menyeleksi hasil wawancara dan tidak menggunakan data yang tidak diperlukan. Pada tahap penyajian data, hasil analisis akan disajikan dalam bentuk narasi. Sedangkan tahap pengambilan keputusan akan dilakukan setelah proses analisis data selesai. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data demografi yang terkumpul, sebaran pendidikan responden beragam dengan dominasi responden dari tingkat SMA. Sejumlah 152 responden adalah siswa yang sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas, 126 siswa sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Pertama dan hanya 60 sisanya adalah mahasiswa. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah responden cukup berimbang meskipun terdapat sedikit perbedaan jumlah yaitu laki-laki adalah 159 responden dan perempuan adalah 179 Data demografi responden secara jelas dapat dilihat pada chart berikut: Pendidikan Jenis Kelamin [VALUE] SMP SMA Laki-laki Perempuan Hasil sebaran angket pada responden menunjukkan bahwa preferensi reponden terhadap sosial media yang paling tinggi adalah WhatsApp. Hampir semua . dari 338 responde. menyatakan bahwa mereka menggunakan WhatsApp setiap hari. Hanya sedikit sekali yang tidak menggunakan WhatsApp . dari 338 responde. Sebagai media sosial yang terkenal digemari oleh para remaja, tidak mengherankan apabila sebagian besar memilih menggunakan Instagram . dari 338 responde. Selanjutnya, berbeda sedikit dengan Instagram, dua media sosial yang mengandalkan fitur video yaitu Tiktok dan You Tube merupakan media sosial paling digemari . asing-masing 210 dari 338 responde. karena memfasilitasi mereka dengan berbagai tayangan lagu, video pendek maupun film. Meskipun terkenal lebih banyak digunakan oleh pengguna dewasa, namun Twitter dan Facebook berdasarkan hasil angket adalah media sosial yang juga digunakan responden setiap hari . dan 54 dari 338 responde. Media sosial lain yang cukup banyak digunakan adalah Telegram . dari 338 Selanjutnya, meskipun sedikit. Snapchat tetap digunakan oleh 5 dari 338 responden. Beberapa media sosial lain yang digunakan oleh masing-masing seorang responden adalah Quora. Line, dan Weibo. Preferensi Terhadap Media Sosial WhatsApp Instagram Tiktok You Tube Twitter Telegram Snapchat Quora Line Weibo Facebook Pilihan penggunaan media sosial sangat mungkin mempengaruhi durasi responden dalam penggunaan media sosial. Berdasarkan hasil angket, responden umumnya menggunakan media sosial selama 3-6 jam sehari . Dari data ini terlihat bahwa sebagian besar responden mampu membagi waktu untuk menggunakan media sosial secukupnya selama 3-6 jam sehari. Disamping itu, 96 responden lain menggunakan 1-3 jam sehari untuk media sosial mereka. Hanya 23 reponden menggunakan media sosial kurang dari 1 jam dan sebaliknya, 93 responden menyatakan bahwa mereka menggunakan media sosial lebih dari 6 jam Dari hasil angket di atas, terbukti bahwa sebagian responden memiliki durasi penggunaan media sosial yang cukup tinggi sebanding dengan durasi mereka belajar di sekolah selama lebih dari 6 jam, meskipun sebagian kecil jarang . urang dari 1 ja. menggunakan media sosial. Durasi Penggunaan Media Sosial Kurang dari 1 jam Kurang dari 1 jam 1-3 jam 1-3 jam 3-6 jam 3-6 jam Lebih dari 6 jam Lebih dari 6 jam Ketika diberi pilihan apakah sering menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi melalui media sosial, sebanyak 151 responden menyatakan bahwa mereka sering berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris di media sosial. Sebaliknya 178 responden menyatakan mereka tidak sering berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris di media sosial mereka. Pernyataan tidak sering menggunakan Bahasa Inggris mungkin belum disadari sepenuhnya bahwa beberapa kegiatan pada dasarnya adalah kegiatan yang melibatkan media sosial seperti mendengarkan lagu atau video berbahasa Inggris melalui Tiktok dan You Tube. Hal ini dapat dilihat pada hasil survey tentang berbagai aktifitas yang dilakukan melalui media sosial terkait penggunaan Bahasa Inggris. Penggunaan Bahasa Inggris di Media Sosial Sering Tidak sering Meskipun jumlah responden yang sering menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi melalui media sosial lebih sedikit dari pada yang tidak sering menggunakannya, namun berbagai aktifitas penggunaan Bahasa Inggris dalam bersosial media sangat beragam dan dilakukan hampir semua responden. Hanya 1 responden yang menyatakan tidak pernah sama sekali menggunakan Bahasa Inggris dalam bersosial media. Aktifitas yang biasa dilakukan oleh responden menggunakan Bahasa Inggris paling banyak adalah mendengarkan lagu atau menonton video. Sebanyak 287 responden melakukan aktivitas mendengarkan lagu atau menonton melalui media sosial yang mereka miliki. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kegiatan mendengarkan lagu atau video berbahasa Inggis merupakan kegiatan utama dalam bersosial media. Mendengarkan adalah salah satu ketrampilan berbahasa yang umumnya paling awal dimiliki oleh pembelajar Bahasa. Dengan mendengarkan, berbagai sumber tutur Bahasa dapat diperoleh dan secara sadar ataupun tidak sadar akan memberikan masukan dan mengasah ketrampilan berbahasa, khususnya mendengarkan bahasa lisan. Hal ini perlu diperhatikan oleh para pengajar, lembaga pendidikan maupun pihak terkait bahwa keinginan dan ketertarikan siswa maupun mahasiswa untuk mendengarkan lagu dan video sangat besar dan seharusnya diutamakan pemenuhannya sebagai salah satu sumber belajar yang diminati berupa teks lisan. Selain mendengarkan, aktifitas lain yang sering dilakukan oleh sebanyak 184 responden adalah membaca postingan di media sosial. Sebagaimana mendengarkan, membaca adalah juga receptive skills yang memberi wacana teks tulis sehingga dengan membaca postingan berbahasa Inggris pada media sosial akan memberikan masukan dan mengasah ketrampilan berbahasa, khususnya membaca bahasa tulis. Hasil survey tersebut memberikan implikasi agar pengajar tidak menyepelekan media sosial sebagai sumber teks tertulis yang dapat menyediakan berbagai contoh teks otentik dari media sosial. Dalam bersosial media, kegiatan mencari informasi menggunakan Bahasa Inggris menurut 126 responden adalah kegiatan yang sering dilakukan, misalnya menanyakan tentang pelajaran atau tugas di sekolah dan mencari informasi terkait materi pelajaran atau kuliah. Hasil survey dan wawancara menunjukkan bahwa aktifitas mencari informasi adalah aktifitas yang harus dikuasai siswa/mahasiswa karena short interactional transactional text terbukti dapat diaplikasikan secara nyata penggunaanya dalam kegiatan sehari-hari khususnya melalui media sosial. Penggunaan teks untuk bersosialisasi seperti short interactional transactional text bagi pembelajar Bahasa Inggris akan banyak memberikan manfaat kelak dalam dunia kerja. Sejalan dengan aktifitas mencari informasi adalah aktifitas membagikan informasi menggunakan Bahasa Inggris meskipun kurang dari separuh . anya 52 responde. yang terbiasa melakukannya. Temuan ini sejalan dengan Hamid dkk . yang menyatakan bahwa media sosial memfasilitasi komunikasi dan mendorong pengguna untuk berbagi informasi dengan cepat. Berbeda dengan mencari informasi, memberi informasi dapat melibatkan dua jenis teks yaitu short interactional transactional text dan atau genre text yang relative lebih panjang dan sulit, seperti procedure text, recount text, explanatory text, maupun argumentative text. Oleh karena itu, dapat dipahami jika responden yang melakukan aktifitas membagikan informasi lebih sedikit dari pada yang mencari Namun, kedua aktifitas tersebut telah membuktikan bahwa berkomunikasi melalui media sosial memberikan ruang yang cukup luas bagi siswa maupun mahasiswa untuk berinteraksi sebagai bagian dari ketrampilan berbicara dan menulis yang harus dikuasai mereka. Implikasi dari survey tentang aktifitas berinteraksi antar pelajar dan mahasiswa menggunakan Bahasa Inggris memberikan gambaran jelas bahwa penggunaan aplikatif Bahasa Inggris memang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa melalui media sosial yang harus didukung oleh guru, dosen, dan semua pihak terkait. Maka langkah yang tepat jika sekolah dan kampus menggunakan media sosial untuk memberikan berbagai informasi dan berinteraksi dengan pelajar dan mahasiswa secara berkesinambungan. Sejalan dengan penemuan ini, menurut Greenhow & Lewin . , mengintegrasikan media sosial dalam lingkungan belajar dan mengajar dapat menghasilkan bentuk baru dari komunikasi dan kolaborasi yang positif. Dalam bersosial media, seringkali orang ingin mengunggah berbagai macam aktifitas yang telah dilakukan, disaksikan, atau dialaminya. Unggahan status merupakan salah satu yang digemari karena durasi yang pendek cukup memudahkan orang melakukannya. Dalam bentuk lisan, 116 responden menyatakan bahwa mengunggah status berbahasa Inggris cukup sering dilakukan meskipun ungkapan yang diucapkan secara lisan adalah ucapan sangat sederhana yang popular di kalangan remaja. Beberapa ucapan seperti AuHi guysAAy atau AuAre you ready?Ay hampir pasti dikenali dan sering diucapkan. Dalam bentuk tulisan, 105 responden menyatakan bahwa menulis status menggunakan Bahasa Inggris juga sering dilakukan meskipun dalam penulisannya terkadang ada yang salah. Agar terhindar dari kesalahan tersebut, banyak responden menyatakan bahwa mereka menulis status dengan mengutip quotes atau kata-kata mutiara yang cukup mudah ditemukan di dunia maya. Tentu saja, menulis status dilakukan dengan tujuan tertentu, umumnya menggambarkan situasi atau perasaan yang sedang dialami oleh penulis status. Hasil temuan survey ini memerlukan perhatian khusus agar guru dan dosen lebih mendorong pelajar dan mahasiswa untuk bebas mengekspresikan ide dan perasaan mereka menggunakan Bahasa Inggris baik dalam bentuk lisan berupa video atau tulisan di media sosial. Guru dan dosen juga dapat memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara aktif menggunakan Bahasa Inggris karena dengan melibatkan pelajar dan mahasiswa untuk memengekspresikan ide dan perasaan mereka berarti melibatkan mereka dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan Anjarwati dan SaAoadah . bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran online menjadi sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar Bahasa Inggris. Aktifitas lain yang cukup sering dilakukan oleh responden adalah memberi komentar menggunakan Bahasa Inggris atas unggahan atau postingan orang lain berupa tulisan, foto, caption, flyer, maupun video. Berdasarkan hasil survey, komentar sering dilakukan dalam bentuk tulisan oleh 67 responden. Aktifitas ini sering terjadi sebagai respon dari adanya aktifitas mencari informasi, membagikan informasi, maupun unggahan dan tulisan status yang dilakukan oleh orang lain di media sosial. Sebagaimana temuan Chvanova dkk . yang menyatakan bahwa media sosial tidak hanya dapat meningkatkan komunikasi antara siswa dan guru, tetapi juga dapat meningkatkan komunikasi antar siswa. Dengan memberikan komentar dalam bentuk tulisan, pada dasarnya seseorang telah melakukan kegiatan menulis, baik itu komentar singkat atau panjang. Sedangkan memberi komentar dalam bentuk lisan lebih jarang dilakukan . anya 30 responde. Beberapa responden menyatakan bahwa cukup sulit memberi komentar dalam bentuk lisan, umumnya hanya dilakukan pada media sosial WhatsApp dalam bentuk voice notes (VN). Ungkapan yang digunakan juga seringnya adalah ungkapan pendek seperti Auon the wayAy. Auokay guysAy, dan AuI agreeAy. Implikasi dari hasil survey menunjukkan bahwa berkomunikasi dan berinteraksi di media sosial menggunakan Bahasa Inggris merupakan hal yang cukup sering dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa. Media sosial dapat menjadi ruang belajar berinteraksi menggunakan Bahasa Inggris alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan Menghidupkan situasi dan interaksi yang bermanfaat sejalan dengan materi di sekolah atau kuliah perlu dicoba agar ruang belajar untuk pelajar dan mahasiswa semakin luas dan bervariasi. Aktifitas Menggunakan Bahasa Inggris di Media Sosial Mendengarkan lagu/video Membaca postingan Mencari informasi Mengunggah video Menulis status Memberi komentar tertulis Membagikan info Memberi komentar lisan Tidak Pernah SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Preferensi pelajar terhadap media sosial terbukti cukup tinggi dengan menggunakan waktu sebanyak 3 sampai 6 jam setiap hari di media sosial seperti WhatsApp. Instagram. Tiktok dan You Tube. Sebagian yang lain menggunakan waktunya sebanyak 1 sampai 3 jam bahkan lebih dari 6 jam untuk aktif di sosial Hanya sebagian kecil lainnya yang menggunakan waktu kurang dari 1 jam bersosialisasi di media sosial. Penemuan ini menunjukkan bahwa keberadaan media sosial menjadi bagian cukup besar dari aktifitas pelajar dan mahasiswa. Beberapa aktifitas yang paling sering dilakukan menggunakan Bahasa Inggris adalah mendengarkan lagu atau video, membaca postingan, mencari dan membagikan informasi, mengungah video, menulis status, serta memberi komentar lisan dan tulis. SARAN Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti yang tertarik akan keberadaan dan peran media sosial di kalangan pelajar dan mahasiswa untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi kelanjutan penelitian. Bagi guru, dosen, dan lembaga pendidikan, hendaknya mempertimbangkan dan memanfaatkan preferensi pelajar dan mahasiswa terhadap media sosial sebagai sarana berkomunikasi, berinteraksi dan belajar berdasarkan hasil temuan penelitian ini. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur tim peneliti panjatkan pada Allah SWT. yang telah memberikan rahmat berupa kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan artikel penelitian ini. Pada kesempatan kali ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada kemdikbudristek pendanaan hibah tahun 2023 dan pimpinan STKIP PGRI Jombang yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk melaksanakan penelitian yang didanai oleh kemdikbudristek. Selain itu, kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada P3M yang telah mendampingi kami selama proses penyusunan artikel. DAFTAR PUSTAKA