Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Pemberdayaan Majelis Gereja Sebagai Kader Sanitasi Mendukung Desa Siaga Di Kabupaten Kupang Wanti Wanti*1,2. Agustina Agustina1. Siprianus Singga1. Irfan Irfan3 Prodi Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang. Jl. Piet A. Tallo. Kupang. NTT Center of Excellent Poltekkes Kemenkes Kupang. Jl. Piet A. Tallo. Kupang. NTT Prodi Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang. Jl. Piet A. Tallo. Kupang. NTT e-mail: *trivena78@yahoo. Abstrak Peran masyarakat dalam keberhasilan pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan sangat penting, salah satunya adalah menjadi kader sanitasi. Tujuan kegiatan ini adalah pembentukan kader sanitasi dan pelatihan pembuatan jamban leher angsa dimana majelis gereja sebagai fasilitator, dalam rangka mendukung desa siaga. Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahap dan melibatkan beberapa pihak yaitu mahasiswa, dosen, majelis gereja, jemaat gereja dan staf Dinkes Kabupaten Kupang. Kegiatan dilakukan di Gereja Getsemani Desa Oelpuah Kabupaten Kupang. Juni Ae Oktober 2022. Tahapan kegiatan adalah persiapan dan sosialisasi program kerja, pelatihan pembuatann jamban leher angsa, dan monitoring evaluasi. Koordinasi dan sosialisasi dilakukan pada pendeta, majelis gereja, dan 20 jemaat gereja terpilih. Pelaksanaan kegiatan selanjutnya adalah penyuluhan dan pelatihan jemaat sebagai kader sanitasi dalam pembuatan jamban leher angsa dengan melibatkan majelis gereja, dosen dan Dinas Kabupaten Kupang. Kegiatan menghasilkan 2 kelompok kader sanitasi dari 20 peserta yang hadir. Evaluasi juga dilakukan secara internal oleh majelis dan kader sanitasi dimana mereka akan melakukan pembuatan jamban leher angsa secara mandiri. Luaran kegiatan ini adalah terbentuknya jejaring kerjasama Poltekkes Kemenkes Kupang dengan Gereja GMIT Getsemani Desa Oelpuah, serta terbentuknya 2 kelompok kader sanitasi yang diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat dalam masalah kesehatan lingkungan terutama terkait cakupan jamban sehat. Kata kunci: Jamban Leher Angsa. Kader Sanitasi. Majelis Gereja PENDAHULUAN Desa siaga merupakan salah satu bentuk reorientasi pelayanan kesehatan dari sebelumnya bersifat sentralistik dan top down menjadi lebih partisipatif dan bottom up. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 564/MENKES/SK/VI II/2006, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa siaga, desa siaga merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa siaga adalah suatu konsep peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, disertai dengan pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara kesehatannya secara mandiri. Secara umum, menurut tujuan pengembangan desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di Selanjutnya, secara khusus, tujuan pengembangan desa siaga yaitu: meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan. meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa. meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. dan meningkatnya kesehatan lingkungan di desa. Tampak disini bahwa kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan faktor penting dalam sebuah desa siaga, hal berarti bahwa tanpa Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X adanya kondisi lingkungan yang baik dan tanpa adanya PHBS yang baik di masyarakat maka kesiapsiagaan suatu desa dalam menghadapi suatu permasalahan kesehatan akan rendah. Sehingga disini penting adanya suatu kader sanitasi di desa tersebut, dimana tugas dan tanggungjawabanya adalah mengkoordinasi masyarakat untuk selalu berperilaku bersih dan sehat serta selalu menjaga lingkungannya. Data yang didapatkan di Desa Oelpuah Kabupaten Kupang menunjukkan bahwa PHBS masyakarat mereka masih kurang baik. Salah satu indikatonya adalah cakupan jamban sehat yang masih rendah. Kurang dari 50% KK di desa Oelpuah yang memiliki leher angsa, sementara sisanya masih banyak yang menggunakan jamban plengsengan dan cemplung yang jauh dari kriteria jamban sehat dan bahkan masih ada yang tidak memiliki jamban dalam . Kondisi itu menunjukkan bahwa PHBS masyarakat masih rendah dan kesiapsiagaan dalam menghadapi suatu masalah kesehatan masih rendah. Kondisi tersebut rentan dengan terjadinya penyakit diare, kecacingan, dan penyakit menular lainnya. Sehingga bila kondisi tersebut tidak segera teratasi maka masyarakat akan dengan mudah menderita penyakit terutama penyakit berbasis lingkungan yaitu penyakit yang dapat terjadi yang dikarenakan adanya kondisi lingkungan yang tidak baik atau tidak memenuhi syarat kesehatan. Permasalahan penyakit berbasis lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat dari masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT. Beberapa penyakit tropis berbasis lingkungan yang masih banyak ditemukan di Indonesia, termasuk juga di negara berkembang lainnya di dunia antara lain: Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit kaki gajah (Elefanthiasi. , malaria, kecacingan, infeksi jamur, tuberkulosis, dan kusta. Provinsi NTT termasuk provinsi yang endemis penyakit berbasis lingkungan tersebut. Dengan banyaknya kasus penyakit berbasis lingkungan di NTT termasuk di Kabupaten Kupang, maka perlu adanya suatu tindakan nyata dari setiap unsur baik pemerintah dan swasta, baik skala nasional, daerah maupun lokal setempat, termasuk masyarakat setempat. Demikian juga di Desa Oelpuah, dengan masih kurangnya kondisi lingkungan dan PHBS di masyarakat maka hal ini akan menjadi ancaman besar bagi masyarakat di desa tersebut maupun bagi desa lainnya terhadap kejadian berbagai penyakit berbasis lingkungan tersebut. Keberadaan karangtaruna. PKK atau kelompok kemasyarakatan lainnya juga sangat diperlukan dalan mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan tersebut. Aturan Gereja sampai saat ini masih dipercaya masyarakat sebagai sesuatu yang harus didengar dan diikuti, sehingga dalam pengabdian masyarakat ini bekerja sama dengan pendeta dan majelis sebagai kader sanitasi yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam mengatasi permasalahan kesehatan sanitasi di Desa Oelpuah. Kader sanitasi perlu dibentuk dimana salah satu tugasnya adalah bagaimana dapat memotivasi masyarakat supaya mempunyai PHBS yang baik dan juga sebagai edukator dan fasilitator dalam mengatasi kurangnya cakupan jamban di Desa Oelpuah. Salah satu faktor keberhasilan dalam pengendalian penyakit berbasis lingkungan seperti diare antara lain adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat dan instansi lain terkait termasuk instansi pendidikan. diare sendiri menyumbang 14% penyebab kematian pada neonatal. Peran masyarakat sangat besar dalam keberhasilan pencegahan dan pengendalian penyakit serta mencegah terjadinya KLB. Pelatihan kader sanitasi perlu dilakukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam kesehatan lingkungan. Untuk itu perlu adanya pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam bidang kesehatan, dimana sudah dibuktikan bahwa kemampuan dan ketrampilan masyarakat meningkat setelah dilakukan pelatihan. Pemberdayaan masyarakat sebagai kader sanitasi termasuk pemberdayaan majelis dan jemaat gereja perlu dilakukan, dimana salah satunya melalui pelatihan pembuatan jamban leher angsa dan pembentukan kelompok arisan jamban Selama ini gereja masih jarang dilibatkan dalam pengelolaan lingkungan maupun sebagai kader kesehatan sehingga pada kegiatan ini majelis dan pendeta dapat berperan penting dalam keberlanjutan kader sanitasi yang terbentuk tersebut. Jamban diharapkan juga dapat memanfaatkan dari bahan lokal dan ramah lingkungan, sehingga secara ekonomi juga terjangkau dan dan tidak merusak lingkungan. Dampak kegiatan ini diharapkan secara Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X tidak langsung dapat meningkatkan status kesehatan terutama dalam penyehatan lingkungan dalam rangka mendukung desa siaga. METODE Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahap dan melibatkan beberapa pihak demi keberlangsungan dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini seperti mahasiswa, dosen Poltekkes Kemenkes Kupang. Gereja . ajelis dan pendet. , masyarakat . emaat gerej. , dan Dinas Kesehatan sebagai narasumber. Lokasi kegiatan adalah di Gereja Getsemani Desa Oelpuah pada tahun 2022 yang berlangsung Juni Ae Oktober 2022. Tahapan kegiatan meliputi: Persiapan dan Sosialisasi Program Kegiatan Beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada tahap persiapan adalah persiapan lokasi dan persiapan tim pelaksana. Pada persiapan tim pelaksana hal akan dilakukan adalah: Persiapan dan pembentukan tim fasilitator yang terdiri dari mahasiswa dan dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Prodi Kesehatan Lingkungan dan staf Dinas Kesehatan Kota Kabupaten sebagai Narasumber/Fasilitator pelatihan pembuatan closet leher angsa. Menyiapkan peralatan dan materi yang diperlukan dalam pembentukan kader Pada persiapan lokasi hal yang akan dilakukan adalah: Melakukan koordinasi dan mengurus perizinan pihak gereja sebagai koordinator dalam pembentukan kader sanitasi Melakukan koordinasi dengan staf Dinkes Kabupaten Kupang sebagai narasumber / faslitator pelatihan pembuatan jamban sehat. Membuat jadwal pertemuan dan mengkoordinasikan dengan pihak terkait. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan kader sanitasi Dalam kegiatan ini. Majelis Gereja dan jemaat yang dipilih, dilatih secara khusus untuk menjadi kader sanitasi. Materi yang diberikan dalam pelatihan kader sanitasi adalah: Penyakit berbasis lingkungan. PHBS, dan pembuatan jamban leher Pelatihan jemaat oleh kader sanitasi . Kegiatan ini materi sama seperti yang diberikan kepada kader sanitasi . , namun perbedaannya adalah . da kesempatan ini majelis yang memberikan pelatihan atau penyuluhan kepada masyarakat, dimana poltekkes bertugas sebagai pengawas dan mendampingi majelis saja serta membantu menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk penyuluhan dan pelatihan kepada jemaat ini. Termasuk harapan akhir adalah setiap peserta berkomitmen untuk menerapkan PHBS serta berkomitmen untuk bisa melanjutkan program kader sanitasi dalam pemenuhan kebutuhan jamban sehat di Desa Oelpuah. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan Evaluasi dilakukan untuk melihat keberlangsungan pelaksanaan kader sanitasi dimana saat monitoring ini kader sanitasi membuat perencanaan, mempersiapkan bahan bahan dan mempraktekkan pembuatan jamban leher angsa secara mandiri, dan pihak dari prodi Sanitasi dan Narasumber hanya memonitor pelaksanaan kegiatan tersebut. Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan koordinasi dan sosialisasi dengan pendeta, majelis gereja, dan beberapa jemaat gereja terpilih sehingga maksud dan tujuan kegiatan bisa tersampaikan dengan baik. Koordinasi dilakukan baik secara tatap muka secara langsung maupun tidak langsung melalui media komunikasi. Pada saat koordinasi ini juga disampaikan tujuan kegiatan, manfaat kegiatan, peran penting majelis sebagai penggerak jemaat sebagai kader sanitasi yang nantinya bisa memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah kesehatan terutama yang terkait kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit yang bisa Majelis dan jemaat menyambut baik rencana kegiatan ini dan akhirnya menyepakati tanggal pertemuan untuk pelaksanaan kegiatan. Gambar 1. Koordinasi Kegiatan PKM dengan Majelis Gereja Getsemani Pelaksanaan kegiatan selanjutnya adalah penyuluhan dan pelatihan jemaat sebagai calon kader sanitasi dengan melibatkan secara aktif majelis gereja dibawah bimbingan dosen Poltekkes Kemenkes Kupang dan Narasumber dari Dinas Kabupaten Kupang. Pelaksanaan bertempat di Gereja GMIT Getsemani Desa Oelpuah Kabupaten Kupang. Kegiatan tersebut dibuka oleh Pendeta dan diikuti lebih dari 20 orang peserta yang berasal dari Majelis dan Jemaat Gereja Getsemani. Gereja dan majelis demikian juga alim ulama pada umumnya masih didengar ajaran apapun yang diberikan, sehingga harapannya pada Majelis Gereja juga mampu menggerakkan jemaat menjadi kader sanitasi, hal ini sudah dibuktikan juga bahwa beradaan agama ternyata mampu mempengaruhi atau memberikan dampak pemahaman dan penerimaan terhadap pro lingkungan. Pihak Gereja sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan pengabdian masyarakat ini, hal ini dikarena masih lebih dari 50% KK di desa Oelpuah yang sebagian besar adalah jemaat Gereja Getsemani tersebut belum menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta belum memiliki akses terhadap jamban sehat. Penyuluhan tentang Penyakit berbasis lingkungan dan PHBS Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dimulai dengan pemberian edukasi berupa penyuluhan tentang Penyakit berbasis lingkungan dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penyuluhan ini diberikan oleh team dari Prodi Sanitasi dan Keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan warga jemaat Gereja tentang penyakit-penyakit berbasis lingkungan serta Pola Hidup Bersih dan Sehat dalam mencegah terjadinya penyakit berbasis lingkungan. Selain itu majelis gereja juga diberikan kesempatan untuk menambahkan dan memberikan penguatan kepada masyarakat akan pentingnya PHBS bagi pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Materi PHBS perlu diberikan karena tingkat PHBS masyarakat menentukan permasalahan kesehatan yang dihadapi. Semakin baik PHBS masyarakat, maka akan Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X semakin rendah permasalahan masyarakat dengan penyakit tertentu misalnya diare, dan DBD. Pelatihan pembuatan jamban dan pembuatan jamban leher angsa disampaikan oleh Matias Lewotan. SKM yang merupakan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang. Sebelumnya masyarakat dibekali materi jamban sehat untuk meningkatkan pemahaman kader tentang manfaat dan jamban yang sehat, dan syarat jamban sehat seperti serangga tidak boleh kontak dengan kotoran dalam jamban, sehingga jenis jamban leher angsa yang tepat untuk dipakai di masyarakat. Dalam kesempatan ini narasumber melatih kader untuk dapat membuat jamban leher angsa sendiri mulai dari tahap persiapan alat dan bahan, pencampuran bahan, pencetakan sampai pengecatan dan finishing. Hasil dari kegiatan pelatihan ini adalah 5 buah jamban leher angsa yang siap digunakan oleh Partisipasi dan keterlibatan masyarakat . ajelis dan jemaa. sangat baik dalam kegiatan ini. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan semua peserta secara aktif mulai dari penyiapan bahan, pencetakan sampai finishing. Keaktifan peserta tidak hanya pada peserta laki-laki saja tetapi juga pada peserta perempuan, karena beranggapan bahwa perempuan juga bisa berperan dalam lembuatan jamban leher angsa tersebut, misalnya dalam merapikan bagian jamban maupun mengecat jamban tersebut. Gambar 2. Suasana Pelatihan Pembuatan Jamban Leher Angsa pada Kader Sanitasi Pembentukan kelompok kader Sanitasi Pada akhir kegiatan pelatihan maka terbentuklah kelompok kader sanitasi yang dimotori oleh Gereja Getsemani Oelpuah dalam hal ini pendeta dan majelis sebagai koordinator Kader Sanitasi. Semua peserta dalam kegiatan ini ikut bergabung dalam kelompok kader sanitasi yang bertugas untuk memotivasi masyakarat agar menerapkan PHBS setiap hari dan membantu masyarakat dalam peningkatan akses jamban yang sehat, atau terbentuk 2 kelompok kader sanitasi yang masing masing terdiri dari 10 orang tiap Monitoring dan Evaluasi Secara internal, maka kader sanitasi bersama pendeta dan majelis sudah melakukan rapat evaluasi pelaksanaan pelatihan dan merencanakan akan melakukan pembuatan jamban leher angsa secara mandiri pada akhir Oktober 2022. Pada saat kegiatan evaluasi ini, kelompok membuat sendiri jamban leher angsa, sehingga tim dari Poltekkes Kemenkes Kupang dan dari Dinkes Kabupaten Kupang hanya bertugas mengawasi dan mengontrol saja, dan memberikan arahan kalau masih ada yang salah terkait hasil pekerjaan kader. KESIMPULAN Kesimpulan dari kegiatan pemberdayaan majelis dan jemaat sebagai kader sanitasi: Adanya peningkatan pengetahuan majelis dan jemaat Gereja Getsemani Oelpuah tentang Penyakit Berbasis Lingkungan dan PHBS Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Tercapainya keterampilan majelis dan jemaat Gereja Getsemani Oelpuah dalam pembuatan jamban leher angsa. Terbentuknya 2 kelompok kader Sanitasi yang beranggotakan majelis dan jemaat Gereja Getsemani Oelpuah. SARAN Saran-saran yang diberikan kepada: Kepada Pemerintah Desa Oelpuah agar berkolaborasi dengan Gereja dalam upaya untuk meningkatkan akses masyarakat pada jamban sehat dan penerapan PHBS oleh masyarakat desa Oelpuah sehingga dapat terciptanya Desa Siaga Kepada Instasi terkait (Puskesmas Kupang Tengah dan Dinkes Kabupaten Kupan. agar aktif memantau dan mendampingi pelaksanaan kegiatan kader sanitasi yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, sehingga lebih terarah dan tepat sasaran. Prodi Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang agar tetap memonitor keberlangsungan program kerja kader sanitasi di Desa Oelpuah dengan tetap berkoordinasi dengan Gereja, pemerintah desa dan pihak puskesmas. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Kupang yang telah memberi dukungan pendanaan terhadap kegiatan PKM ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Majelis di Gereja Getsemani Desa Oelpuah yang sudah bekerjasama dengan baik selama kegiatan, semoga kader sanitasi tetap berjalan dan menjadi program kesehatan dari Gereja Getsemani Desa Oelpuah. DAFTAR PUSTAKA