Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021, 1-11 available: http://journal. com/index. php/jpe Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning dalam Meningkatkan Kemandirian dan Hasil Belajar IPS Siswa Widiarti Iswandari SMP Negeri 2 Polanharjo widiartiiswandari@gmail. Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemandirian dan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran Blended Learning pada siswa. Subyek penelitian adalah 24 siswa Kelas IX A SMP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus melalui 4 tahapan yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, . Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Blended Learning dapat meningkatkan kemandirian dan hasil belajar IPS siswa. Kata Kunci: Kemandirian belajar. Hasil belajar. Model blended learning. Implementation of Blended Learning Model in Improving Students' Independence and Social Studies Learning Outcomes Abstract The purpose of this study is to increase independence and social studies learning outcomes through the implementation of the Blended Learning learning model to students. The research subjects were 24 students of Class IX A SMP. The method used in this research is a classroom action research method which is carried out in 2 cycles through 4 stages, namely . planning, . implementation, . observation, . In the implementation of classroom action research using observation sheets and learning outcomes tests. Data analysis used comparative descriptive analysis technique. The results of this classroom action research indicate that the application of the Blended Learning learning model can increase students' independence and social studies learning outcomes. Keywords: Learning independence. Learning outcomes. Blended learning model -------------------------------Pendahuluan Keberhasilan seorang guru dalam sebuah pembelajaran biasanya ditunjukkan dengan keberhasilan dalam menyampaikan suatu materi pelajaran. Penyampaian materi pelajaran dikatakan berhasil apabila siswa mengerti dan paham dengan materi yang telah Maka dari itu agar penyampaian materi dapat tersampaikan dengan baik perlu adanya model pembelajaran yang sesuai dan tepat dengan materi yang akan Penggunaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajar dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa karena dengan model pembelajaran yang tepat dan sesuai siswa tidak menyandarkan diri pada guru maupun siswa lain dalam kegiatan belajar siswa, siswa berperilaku dengan inisiatif diri sendiri dalam kegiatan belajarnya, siswa memiliki rasa percaya diri dalam kegiatan belajarnya, siswa disiplin selama kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan guru. Dengan meningkatnya kemandirian belajar siswa maka hasil Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 belajarnya juga akan meningkat karena siswa berperan penuh dalam kegiatan belajar Berdasarkan observasi awal di kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo pada mata pelajaran IPS, sikap siswa menunjukkan rendahnya kemandirian belajar. Hal ini dapat dilihat dari kategori siswa yang kurang mandiri sebanyak 12 siswa . %). Sementara siswa yang sudah mandiri sebanyak 10 siswa . ,67%) dan siswa pada kategori sangat mandiri sebanyak 2 siswa . ,33%). Selain itu penggunaan model pembelajaran konvensional juga dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan tidak tuntasnya hasil belajar siswa karena siswa tidak dapat mencapai nilai sesuai dengan ketuntasan minimal yang telah Hal itu dapat dilihat dari hasil ulangan harian yang diperoleh siswa kelas IX Nilai rata-rata siswa pada kondisi awal yaitu 68,75. Siswa yang memenuhi KKM . atau tuntas hanya 9 siswa . ,50%), dan siswa yang belum tuntas sebanyak 15 siswa . ,50%). Berdasarkan permasalahan di atas perlu dicari alternatif model pembelajaran yang tepat dan sesuai untuk penyampaian materi pengelolaan koperasi agar kemandirian dan hasil belajar siswa menjadi lebih meningkat. Alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran blended learning. Model pembelajaran blended learning merupakan jenis pembelajaran yang menggabungkan pengajaran klasik . ace to fac. dengan pengajaran online (Abdullah. Model pembelajaran blended learning ini sangat cocok digunakan untuk penyampaian pembelajaran IPS. Dengan menggunakan model ini penyampaian materi dapat tersampaikan dengan baik. Pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan didalam kelas pada saat jam pelajaran tetapi pembelajaran dapat juga dilakukan di luar jam pelajaran yaitu dengan menggunakan media online. Dengan adanya media online ini pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja serta siswa dapat menggali sendiri pengetahuannya dengan menggunakan media online yang tersedia. Sehingga nantinya diharapkan dengan penggunaan model ini kemandirian dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. Peneliti menganalisa bahwa antara kenyataan dan harapan yang terjadi di lapangan pada proses belajar mengajar terdapat kesenjangan yang terjadi pada peserta didik yaitu hasil belajarnya rendah serta kemandirian belajar masih kurang. Oleh karena itu, peneliti berasumsi bahwa model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah yang disampaikan pada penelitian ini adalah AyApakah melalui penerapan blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo semester gasal tahun pelajaran 2018/2019?Ay Kajian Pustaka Kemandirian Belajar Kemandirian belajar adalah suatu proses belajar dimana setiap individu dapat mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam hal menentukan kegiatan belajarnya seperti merumuskan tujuan belajar, sumber belajar . aik berupa orang ataupun baha. , mendiagnosa kebutuhan belajar dan mengontrol sendiri proses pembelajarannya (Sundayana, 2016: . Menurut Mukminan, dkk . 3: . , kemandirian belajar adalah aktivitas belajar yang di dorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri tanpa bantuan orang lain serta mampu mempertanggung jawabkan tindakannya. Peserta didik dikatakan telah mampu belajar Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 secara mandiri apabila ia telah mampu melakukan tugas belajar tanpa ketergantungan pada orang lain. Danuari . 0: . menyatakan indikator kemandirian belajar adalah adanya tendensi untuk berperilaku bebas dalam berinisiatif atau bersikap atau berpendapat, adanya tendensi percaya diri, adanya sifat original . yaitu bukan sekedar meniru orang lain, tidak mengharapkan pengarahan orang lain, dan adanya tendensi untuk mencoba Berdasarkan kajian teoritis di atas peneliti merumuskan empat indikator kemandirian belajar siswa yang digunakan untuk penelitian, yaitu: . percaya diri, . tanggung jawab, . inisiatif, dan . Hasil Belajar Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pembelajaran di Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2009: . Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2010: . Sehubungan dengan pendapat itu, maka Wahidmurni, dkk. 0: . menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut di antaranya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek. Untuk mengetahui hasil belajar seseorang dapat dilakukan dengan melakukan tes dan pengukuran. Tes dan pengukuran memerlukan alat sebagai pengumpul data yang disebut dengan instrumen penilaian hasil belajar. Menurut Wahidmurni, dkk. 0: . , instrumen dibagi menjadi dua bagian besar, yakni tes dan non tes. Selanjutnya, menurut Hamalik . 0: . , memberikan gambaran bahwa hasil belajar yang diperoleh dapat diukur melalui kemajuan yang diperoleh siswa setelah belajar dengan sungguhsungguh. Hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur melalui perubahan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Blended Learning Blended learning mengkombinasikan ranah terbaik dari pembelajaran online, aktivitas tatap muka terstrukur, dan praktek dunia nyata. Blended learning dikatakan kombinasi atau penggabungan dari berbagai aspek antara lain pembelajaran berbasis web, video streaming, audio, dan komunikasi dengan sistem pembelajaran yang tradisional dan termasuk juga metode, teori belajar, dan dimensi pedagogik (Nasution, dkk. , 2019: . Model pembelajaran blended learning digunakan sebagai model pembelajaran dalam pelajaran IPS karena model pembelajaran blended learning ini menggabungkan dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran tradisional dengan model pembelajaran Menurut Bates . alam Rusman 2013: . dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan gurunya atau instruktur . nchance interactivit. , memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja . ime and place flexibilit. , menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas . otential to reach a global audienc. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran . asy updating of contect as well as archivable capabilitie. Soekartawi dalam Husamah . 3: 27-. menyebutkan tahapan-tahapan dalam pembelajaran menggunakan blended learning sebagai berikut: . Menetapkan macam dan materi bahan ajar, kemudian mengubah atau menyiapkan bahan ajar tersebut menjadi bahan ajar yang memenuhi syarat untuk pembelajaran jarak jauh. Menetapkan rancangan blended learning yang digunakan. Dalam tahapan ini intinya adalah bagaimana membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen pembelajaran jarak jauh dan tatap muka. Tetapkan format pembelajaran online Ae apakah bahan ajar tersedia dalam format HTML . ehingga mudah di-cut and past. Lakukan uji coba terhadap rancangan yang dibuat agar dapat diketahui rancangan yang dibuat dapat diakses dengan mudah atau sebaliknya. Menyelenggarakan blended learning dengan baik sambil menugaskan instruktur khusus . yang tugas utamanya menjawab pertanyaan peserta didik. Menyelenggarakan blended learning dengan baik sambil menugaskan instruktur khusus . yang tugas utamanya menjawab pertanyaan peserta didik Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Polanharjo yang terletak di Jalan Tegaldondo-Cokro KM. Sidowayah. Polanharjo. Klaten pada semester gasal tahun pelajaran 2018/2019 selama 3 bulan, yaitu mulai bulan September 2018 s. November 2018. Sebagai subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo sejumlah 24 siswa, yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Objek penelitian ini ada tiga . variabel yaitu: dua . variabel yang diteliti dan satu . variabel tindakan. Variabel yang diteliti meliputi: . kemandirian belajar IPS pada siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo semester gasal tahun pelajaran 2018/2019. hasil belajar IPS pada siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo semester gasal tahun pelajaran 2018/2019. Sedangkan variabel tindakannya adalah penerapan model pembelajaran blended learning. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes untuk mengetahui hasil belajar IPS dan non tes berupa checklist melalui observasi untuk mengetahui kemandirian belajar IPS siswa kelas IX A. Analisis data dengan menggunakan diskriptif Ae komparatif yang dilanjutkan refleksi. Indikator kinerja adalah target yang dicapai. Ada dua . target yang dicapai yaitu target kemandirian belajar IPS dan target hasil belajar IPS pada siklus Adapun indikator kinerja untuk kemandirian belajar IPS yaitu minimal 20 siswa . %) dari 24 siswa mempunyai kemandirian belajar IPS yang tinggi. Sedangkan indikator kinerja untuk hasil belajar IPS yaitu minimal 18 siswa . %) tuntas atau memenuhi KKM yaitu 75. Hasil Penelitian Kemandirian belajar IPS siswa di kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo masih rendah. Dari hasil kajian terhadap dokumentasi catatan siswa diperoleh dari 24 siswa di kelas IX A sebagian besar siswa tidak tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, kemandirian di kelas kurang, serta kemampuan kerja sama dengan teman dan guru juga rendah. Pada saat guru menyampaikan materi, siswa cenderung ramai dan berbicara dengan teman. Bahkan ada siswa yang tertidur pada saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan data kondisi awal. Kemandirian belajar siswa yang kurang mandiri sebanyak 12 siswa . %). Hasil observasi terhadap kemandirian belajar IPS tersebut dapat dinyatakan dalam tabel Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Tabel 1. Kemandirian Belajar IPS Kondisi Awal No. Kemandirian Belajar Kurang Mandiri Mandiri Sangat Mandiri Jumlah (Presentas. 12 siswa . %) 10 siswa . ,67%) 2 siswa . ,33%) Pada kondisi awal, berdasarkan hasil ulangan pertama dari 24 siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo, tercatat hanya 9 siswa yang tuntas dalam belajar, yang artinya baru 37,5% siswa yang tuntas. Hasil tersebut dapat dituangkan dalam tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Belajar IPS Kondisi Awal No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Rentang nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 68,75 9 siswa . ,50%) 15 siswa . ,50%) Siklus I Hasil pengamatan terhadap kemandirian belajar IPS di SMP Negeri 2 Polanharjo pada siklus 1 dari hasil observasi yang peneliti lakukan adalah bahwa, dari 24 siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo, 2 siswa . ,33%) sudah sangat mandiri, 10 siswa . ,67%) dalam kategori mandiri, sedangkan sisanya 12 siswa . %) dalam kategori kurang Pengamatan terhadap kemandirian belajar dilihat dari empat indikator, yakni percaya diri, tanggung jawab, inisiatif, dan disiplin. Hasil observasi terhadap kemandirian belajar IPS siklus 1 tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 3. Kemandirian Belajar IPS Siklus 1 No. Kemandirian Belajar Kurang Mandiri Mandiri Sangat Mandiri Jumlah (Presentas. 7 siswa . ,17%) 14 siswa . ,33%) 3 siswa . ,50%) Hasil pengamatan siklus 1 memperlihatkan siswa menjadi lebih tertarik mengikuti pelajaran terlihat dari keseriusan dan tanggung jawab siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, meskipun masih ada siswa yang belum menunjukkan kemandirian belajar IPS. Hal ini terjadi karena siswa belum memahami dengan model pembelajaran yang diajarkan oleh guru, dan kemandirian dalam belajar belum tercipta secara optimal. Hasil belajar siswa kelas IX A setelah menggunakan model blended learning pada siklus 1, berdasarkan hasil ulangan siklus pertama . ari Sabtu, tanggal 29 September 2. , dari 24 siswa yang tuntas adalah 13 siswa atau 54,17%, sisanya 11 siswa atau 45,83% belum tuntas. Berdasarkan KKM yang ditetapkan pada pembelajaran IPS yaitu 75 maka ketuntasan belajar yang dicapai peserta didik baru 54,17%. Hal ini belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan secara klasikal. Tabel 4. Hasil Belajar IPS Siklus 1 No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Rentang nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 74,79 13 orang . ,17%) 11 orang . ,83%) Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Refleksi tindakan dilakukan untuk penyempurnaan kekurangan-kekurangan dari pelaksanaan tindakan yang disusun dalam siklus 1. Refleksi dilakukan secara kolaboratif antara penulis dan pengamat yang mengamati peserta didik saat pembelajaran Hasil refleksi kemandirian belajar pada siklus 1 yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 5. Refleksi Kemandirian Belajar IPS pada Siklus 1 Kondisi Awal Kemandirian belajar siswa yang kurang siswa . %) Siklus 1 Refleksi Kemandirian Belajar Kemandirian Deskriptif komparatif: data kemandirian belajar meningkat belajar siswa dari kondisi awal siswa yang kurang mandiri sebanyak 12 yang kurang siswa menjadi 7 siswa. mandiri sebanyak Simpulan: 7 siswa . ,17%) Melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar IPS dari kondisi awal ke siklus 1 meningkat yaitu 20,83%. Hasil refleksi hasil belajar pada siklus 1 yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 6. Refleksi Hasil belajar IPS Siklus 1 Hasil belajar IPS Kondisi Awal Prestasi terendah: 50 Prestasi tertinggi: 85 Prestasi rerata : 68,75 Tuntas: 9 . ,50%) Belum Tuntas : 15 ,50%) Hasil belajar IPS pada Refleksi Hasil Belajar IPS Siklus 1 Prestasi terendah: 60 Deskriptif komparatif: rerata meningkat Prestasi tertinggi: 90 sebesar 6,04 dari 68,75 menjadi 74,79. Prestasi rerata : 74,79 Simpulan: Tuntas: 13 . ,17%) Melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan hasil Belum Tuntas : 11 ,833%) belajar IPS dari kondisi awal siswa yang tuntas 37,50% ke siklus 1 siswa yang tuntas 54,17% meningkat sebesar 16,67%. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus 1, diketahui penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 1 meningkat yaitu 70,83% dari jumlah siswa menunjukkan kemandirian belajar IPS tinggi. Penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 1 siswa yang tuntas meningkat sebesar 16,67% . Kendalanya, beberapa siswa masih berusaha menyesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan guru. Siswa ini memerlukan kesempatan kedua untuk dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS. Sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan pada siklus 1 belum sesuai dengan harapan, karena ketuntasan klasikal peserta didik baru mencapai 54,17%, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus 1 belum berhasil. Dari tes yang dilakukan masih ada peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM, maka tindakan dilanjutkan pada siklus 2. Siklus II Hasil pengamatan terhadap kemandirian belajar IPS di SMP Negeri 2 Polanharjo pada siklus 2 dari hasil observasi yang peneliti lakukan adalah bahwa, dari 24 siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo, 9 siswa . ,50%) sudah sangat mandiri, 13 siswa . ,17%) dalam kategori mandiri, sedangkan sisanya 2 siswa . ,33%) dalam kategori kurang mandiri. Hasil observasi terhadap kemandirian belajar IPS siklus 2 tersebut dinyatakan dalam tabel berikut. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Tabel 7. Kemandirian Belajar IPS Siklus 2 No. Kemandirian Belajar Kurang Mandiri Mandiri Sangat Mandiri Jumlah (Presentas. 2 siswa . ,33%) 13 siswa . ,17%) 9 siswa . ,50%) Hasil pengamatan siklus 2 menunjukkan kemandirian siswa di kelas. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan setiap indikatornya. Hampir seluruh siswa nampak percaya diri mengacungkan jari ketika guru memberi kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan. Wajah siswa juga tampak senang dan berminat dalam belajar IPS. Hasil belajar siswa IX A setelah menggunakan model blended learning, berdasarkan hasil ulangan siklus kedua dari 24 siswa yang tuntas adalah 21 siswa atau 87,50%, sisanya 3 siswa atau 12,50% belum tuntas. Tabel 8. Hasil Belajar IPS Siklus 2 No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Rentang nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 82,92 21 siswa . ,50%) 3 siswa . ,50%) Pembelajaran siklus 2 difokuskan pada Menguraikan Tipe-tipe masyarakat dalam menyikapi Perubahan sosial budaya. Pembelajaran juga dilaksanakan dengan menggunakan model blended learning. Untuk memperoleh data tentang pelaksanaan siklus 2 dilakukan pengamatan dan tes. Hasil refleksi kemandirian belajar pada siklus 2 yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 9. Refleksi Kemandirian belajar IPS pada Siklus 2 Siklus 1 Siklus 2 Refleksi Kemandirian belajar Kemandirian belajar siswa yang kurang siswa . ,17%) Kemandirian belajar siswa yang kurang siswa . ,33%) Deskriptif komparatif: data kemandirian belajar meningkat dari siklus 1 siswa yang kurang mandiri sebanyak 7 siswa menjadi 2 siswa. Simpulan: Melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar IPS dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat yaitu 20,86%. Hasil refleksi hasil belajar pada siklus 2 yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 10. Refleksi Hasil Belajar IPS Siklus 2 Hasil belajar IPS pada Siklus 1 Prestasi terendah: 60 Prestasi tertinggi: 90 Prestasi rerata: 74,79 Tuntas: 13 . ,17%) Belum Tuntas: 11 ,833%) Hasil belajar IPS pada Siklus 2 Prestasi terendah: 70 Prestasi tertinggi: 100 Prestasi rerata: 82,92 Tuntas: 21 . ,50%) Belum Tuntas: 3 ,50%) Refleksi Hasil Belajar IPS Deskriptif komparatif: rerata meningkat sebesar 8,13 dari 74,79 menjadi 82,92. Simpulan: Melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS dari siklus 1 siswa yang tuntas 54,17% ke siklus 2 siswa yang tuntas 87,50% meningkat sebesar 33,33%. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus 2, diketahui penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 2 mengalami peningkatan kemandirian belajar IPS. Penerapan model blended learning juga meningkatkan hasil belajar siswa, dari siklus 1 ke siklus 2 siswa yang tuntas meningkat sebesar 33,33% . Dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran pada siklus 2 dikatakan sudah berhasil dan sesuai dengan harapan, kemandirian dan hasil belajar peserta didik sudah mengalami peningkatan. Sehingga pembelajaran tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Pembahasan Siklus 1 pertemuan pertama dilaksanakan mulai hari Rabu tanggal 26 September Pertemuan kedua dilaksanakan hari Sabtu, 29 September 2018 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan model blended learning. Siklus 1 berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Pelaksanaan tindakan siklus 1, diketahui penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 1 meningkat yaitu 70,83% dari jumlah siswa menunjukkan kemandirian belajar IPS yang tinggi. Penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 1 siswa yang tuntas meningkat sebesar 16,67% . Kendalanya, beberapa siswa masih berusaha menyesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan guru. Siswa ini memerlukan kesempatan kedua untuk dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS. Siklus 2 pertemuan pertama dilaksanakan mulai hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan model blended learning. Siklus 2 berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Pelaksanaan tindakan siklus 2, diketahui penerapan model blended learning dari kondisi awal ke siklus 2 meningkat yaitu 91,67% dari jumlah siswa menunjukkan kemandirian belajar IPS yang tinggi. Penerapan model blended learning juga meningkatkan hasil belajar siswa dimana dari kondisi awal ke siklus 2 siswa yang tuntas meningkat sebesar 50% . Berdasarkan hasil tindakan kelas di atas, terjadi peningkatan kemandirian belajar IPS pada siswa tiap siklusnya. Peningkatan kemandirian belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11. Peningkatan Kemandirian Belajar IPS Kondisi Awal Kemandirian belajar siswa yang kurang siswa . %) Siklus 1 Siklus 2 Kemandirian Kemandirian belajar siswa belajar siswa yang kurang yang kurang sebanyak 7 sebanyak 2 siswa . ,33%) . ,17%) Refleksi Kemandirian belajar Deskriptif komparatif: data kemandirian belajar meningkat dari kondisi awal siswa yang kurang mandiri sebanyak 12 siswa menjadi 2 siswa. Simpulan: Melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar IPS dari kondisi awal ke siklus 2 meningkat sebesar 41,67%. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar IPS siswa pada tiap siklusnya. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Tabel 12. Peningkatan Hasil Belajar IPS Hasil belajar IPS Kondisi Awal Prestasi terendah: Prestasi tertinggi: Prestasi rerata: 68,75 Tuntas: 9 . ,50%) Belum Tuntas: 15 ,50%) Hasil belajar IPS Hasil belajar IPS Refleksi Hasil Belajar IPS pada Siklus 1 pada Siklus 2 Prestasi terendah: Prestasi terendah: Deskriptif komparatif: rerata meningkat sebesar 14,17 Prestasi tertinggi: Prestasi tertinggi: dari 68,75 menjadi 82,92. Simpulan: Prestasi rerata: Prestasi rerata: Melalui penerapan model 74,79 82,92 blended learning dapat Tuntas: 13 . ,17%) Tuntas: 21 . ,50%) meningkatkan hasil belajar IPS dari kondisi awal siswa Belum Tuntas: 11 Belum Tuntas: 3 yang tuntas 37,50% ke . ,83%) . ,50%) siklus 2 siswa yang tuntas 87,50% meningkat sebesar Peningkatan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS di atas dapat dituangkan dalam gambar 1 berikut. Kemandirian dan Hasil Belajar IPS Kemandirian Hasil Belajar Kondisi Awal Siklus 1 Siklus 2 Gambar 1. Grafik Kemandirian Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX A Semester Gasal di SMP Negeri 2 Polanharjo Tahun Pelajaran 2018/2019 Simpulan dan Saran Kesimpulan dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan adalah melalui penerapan blended learning dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Polanharjo semester gasal tahun pelajaran 2018/2019. Kemandirian belajar siswa dari kondisi awal ke siklus 2 meningkat sebesar 41,67% siswa. Melalui penerapan model pembelajaran Blended Learning dari kondisi awal ke siklus 2 siswa yang tuntas meningkat sebesar 50% . Implikasi berdasarkan kesimpulan di atas adalah: . Bagi Guru dan SMP Negeri 2 Polanharjo, simpulan butir 1 berimplikasi bahwa penerapan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa, kondisi, dan lingkungan belajar dapat meningkatkan kemandirian belajar IPS siswa. Bagi Guru dan SMP Negeri 2 Polanharjo, simpulan butir 2 berimplikasi bahwa penerapan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa, kondisi, dan lingkungan belajar dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Bagi Guru dan SMP Negeri 2 Polanharjo, simpulan butir 3 berimplikasi bahwa penerapan model pembelajaran yang tepat dan Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 sesuai dengan kondisi siswa, kondisi, dan lingkungan belajar dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar IPS siswa. Saran yang dapat disampaikan pada penelitian tindakan kelas ini adalah: . bagi guru, hendaknya terus meningkatkan penggunaan media online serta terus memvariasi model pembelajaran yang diterapkan di kelas. bagi sekolah, lebih meningkatkan fasilitas sekolah terutama media elektronik internet guna menunjang proses pembelajaran di sekolah serta lebih meningkatkan perhatian terhadap kemandirian siswa dalam belajar karena dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. kepada peneliti selanjutnya, mengingat hasil penelitian ini belum optimal dan masih banyak keterbatasan maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang serupa pada mata pelajaran lain. Daftar Pustaka