P-ISSN 2559 Ae 2163 E-ISSN 2599 Ae 2155 Vol. No. Januari 2025 http://cjp. Cendekia Journal of Pharmacy ITEKES Cendekia Utama Kudus GAMBARAN MAKROSKOPIS EFEK FRAKSI ETIL ASETAT BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa Blum. TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA TIKUS WISTAR YANG TERINFEKSI Staphylococcus aureus SECARA IN VIVO Annik Megawati1*. Sri Fitrianingsih2. Leavi Farchati3 Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus Email : annikmegawati33@gmail. ABSTRAK Resistensi antibiotik terhadap S. aureus telah menjadi masalah kesehatan yang semakin meningkat diberbagai belahan dunia. Berbagai infeksi yang terjadi disebabkan oleh S. Ekstrak etanol buah parijoto memiliki potensi antiinflamasi dan daya hambat terhadap S. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuigambaran makroskopis fraksi etilasetat buah parijoto terhadap luka terifeksi S. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian The Postest Only Control Group Design. Sampel penelitian ini adalah tikus wistar sebanyak 30 ekor dan terdiri dari 5 kelompok perlakuan yang masing-masing kelompok disayat sepanjang 1,5 cm dengan kedalaman 0,3 cm dan diinfeksi dengan S. Kelompok perlakuan tersebut adalah kontrol negatif, kontrol positif, fraksi etil asetat buah parijoto konsentrasi 5%, konsentrasi 10% dan konsentrasi 25%. Hasil pengamatan menunjukkan pada kelompok konsentrasi 5%, 10% dan 25% fraksi uji etil asetat buah parijoto mampu mempercepat perjalanan fase inflamasi bahkan lebih baik dari kontrol positif dan kontrol negatif, karena dalam fraksi etil asetat buah parijoto mengandung flavonoid. Flavonoid bersifat sebagai anti peradangan, anti alergi, mencegah terjadinya oksidasi serta sebagai anti oksidan, sehingga mampu mempercepat penyembuhan luka sayat terinfeksi S. Dapat disimpulkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif, konsentrasi 10% dan konsentrasi 25%. Konsentrasi optimum yang mampu menyembuhkan luka pada tikus wistar yang terinfeksi Staphylococcus aureus terjadi pada konsentrasi 25%. Kata Kunci: Buah Parijoto (Medinilla speciosa Blum. , fraksi etil asetat, luka terinfeksi. ABSTRACT Antibiotic resistance to S. aureus has become a health problem that is increasing in various parts of the Various infections that occur are caused by S. Ethanol extract of Parijoto fruit has antiinflammatory potential and inhibitory effect on S. This study aims to determine the macroscopic description of the ethylacetate fraction of Parijoto fruit against S. aureus infected wounds. This research is an experimental study with research design The Postest Only Control Group Design. The sample of this study was 30 wistar rats and consisted of 5 treatment groups, each group slashed along 1. 5 cm with a depth 3 cm and infected with S. The treatment group was negative control, positive control, ethyl acetate fraction parijoto fruit concentration of 5%, concentration of 10% and concentration of 25%. The results showed that in the concentration group of 5%, 10% and 25% the parijoto ethyl acetate fraction was able to accelerate the course of the inflammatory phase even better than positive controls and negative controls, because the parijoto ethyl acetate test fraction contained flavonoids. Flavonoids are antiinflammatory, anti-allergic, prevent oxidation and anti-oxidants, so they can accelerate wound healing infected with S. It can be concluded that there is a significant difference between the negative control group and the positive control group, as well as between the 10% and 25% concentrations. The optimal concentration capable of healing wounds in Wistar rats infected with Staphylococcus aureus is 25%. Keyword: Parijoto fruit (Medinilla speciosa Blum. , ethyl acetate fraction, infected wound. LATAR BELAKANG Resistensi antibiotik terhadap Staphylococcus aureus telah menjadi permasalahan kesehatan yang meningkat diberbagai belahan dunia. Study yang telah dilakukan oleh Irwanto R di IGD RSCM pada bulan September hingga Oktober 2008, menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus merupakan penyebab infeksi jaringan lunak komplikata di IGD RSCM (Putra dkk. , 2014. Staphylococcus aureus adalah bakteri yang tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa pada manusia. Dapat menyebabkan terjadinya nanah, abses, berbagai infeksi patogen dan bahkan septikimia yang fatal. Penyusun biofilm Staphylococcus aureus terdiri dari 5% zinc oksid, 0,12% kalsium oksid, 0,25% magnesium oksid, 70% sukrosa dan pH rendah yang dimiliki menyebabkan kemampuan pembekuan sel Staphylococcus aureus menjadi sangat rendah (Akiyama dkk. , 2. Luka adalah rusaknya kesatuan suatu jaringan. Luka secara umum terdiri dari luka yang disengaja misalnya pada prosedur operasi dan luka yang tidak disengaja misalnya luka yang terjadi karena kecelakaan (Zulfa dkk. , 2. Luka diklasifikasikan dalam dua bagian yaitu berdasarkan proses terjadinya luka . echanism of injur. dan derajat kontaminasi suatu luka oleh berbagai mikroorganisme . egree of contaminatio. (Abdurrahmat, 2. Buah parijoto (Medinilla speciosa Blum. merupakan tanaman khas yang berasal dari Penggunungan Muria. Desa Colo. Kabupaten Kudus (Hanum dkk. , 2. tanaman perdu khas, yang daunya melengkung, tunggal dan bersilang berhadapan. Buahnya berwarna merah muda keunguan, rasanya asam dan sepat (Wibowo dkk. , 2. Senyawa kimia yang ada dalam ekstrak etanol 70% buah parijoto (Medinilla speciosa Blum. adalah flavonoid, saponin dan tanin yang memiliki potensi sebagai anti inflamasi (Askandari, 2. Penelitian yang telah dilakukan Sugiarti dan Pujiastuti . menyatakan bahwa ekstrak etanol buah parijoto memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pramono dan Resti . menunjukkan bahwa ekstrak daun meniran yang mengandung flavonoid, saponin dan tanin mempunyai kemampuan menyembuhkan luka sayat pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley. Pemilihan buah parijoto dalam penelitian ini juga dikarenakan buah parijoto segar tidak memiliki toksistas akut hingga 50 g/Kg BB yang ditandai dengan tidak adanya kematian pada hewan uji dari hari pertama hingga hari terakhir (Megawati dkk. METODE PENELITIAN Jenis penelitian Desain penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan penelitian The Postest Only Control Group Design. Dalam penelitian ini pengamatan dan pengukuran awal tidak dilakukan karena pengukuran variabel hanya dilakukan setelah perlakuan. Perlakuan yang diberikan yaitu pemberian fraksi uji etil asetat buah parijoto (Medinilla speciosa Blum. dengan berbagai konsentrasi diantaranya 5%, 10% dan 25%. Populasi dan Sampel Penelitian dilakukan pada Tikus jantan galur wistar, dengan 5 kelompok perlakuan dan masing diberikan fraksi etil asetat buah Parijoto dengan 5 kali pengulangan. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, kandang tikus, botol air, pisau cukur, pisau bedah, pipet tetes, kasa steril, timbangan analitik, penggaris, gelas kimia, nampan, ayakan, oven, kertas label dan blender simplisia, buah parijoto yang diambil dari Pegunungan Muria Desa Colo Kabupaten Kudus. NaCl. Etanol 70%, n-heksan, etil asetat, aquadest, kloramfenikol salep dan ketamin yang di dapatkan dari RSUD Kayen Kabupaten Pati. Pembuatan Fraksi Etil Asetet Buah Parijoto Buah parijoto disortasi terlebih dahulu, dikeringkan dengan oven pada suhu 40AC. Tujuan dari pengeringan ini yaitu supaya simplisia tidak membusuk selama penyimpanan dalam kurung waktu yang cukup lama, dengan adanya kadar air yang cukup tinggi dalam buah juga dapat menyebabkan ekstrak yang dihasilkan nantinya akan mudah ditumbuhi mikroorganisme lain seperti jamur. Selanjutkan dilakukan pengecilan ukuran partikel tujuanya zat aktif yang akan diekstrak lebih maksimal. Kemudian serbuk direndam dengan pelarut etanol 70% selama 3 hari dan sesekali diaduk. Setelah 3 hari filtrat disaring dan maserat diremaserasi dengan jenis pelarut yang sama hingga diperoleh filtrat berwarna Kemudian filtrat yang diperoleh akan ditampung dalam gelas kimia dan dipekatkan dengan waterbath. Ekstrak kental buah parijoto dari hasil ektrasi sebelumnya kemudian di larutkan kembali dengan etanol 70% dan dimasukkan dalam corong pisah, ditambahkan aquadest diaduk hingga homogen, di fraksinasi berturut-turut dengan n-heksan . dengan metode ekstraksi cair-cair. Selanjutnya akan diperoleh fraksi n-heksan dan tidak larut n-heksan. Fraksi n-heksan dipisahkan dan fraksi tidak larut n-heksan akan difraksinasi kembali dengan metode cair-cair dengan pelarut etil asetat . , yang akan diperoleh fraksi uji etil asetat buah parijoto dan fraksi air. Fraksi uji etil asetat buah parijoto yang diperoleh akan dipekatkan dengan rotari evaporator pada suhu 38AC dengan kecepatan 200 rpm. Skrining Fitokimia . Uji flavonoid Sampel dilarutkan dalam 1-2 mL metanol panas 5%. Kemudian ditambahkan logam Mg dan 4-5 tetes HCl pekat. Hasil positif adanya flavonoid ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah atau jingga (Indrayani dkk. , 2. Uji saponin Sampel ditambahkan dengan beberapa mL aquadest dan didihkan selama 5 menit kemudian disaring. Filtrat dikocok dalam tabung reaksi tertutup selama 10 menit. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya buih (Himawan dkk. , 2. Uji tannin sampel ditambahkan beberapa mL aquadest dan didihkan selama 5 menit lalu disaring. Filtrat ditetesi FeCl3 1%. Uji positif ditandai dengan munculnya warna hitam kehijauan (Himawan dkk. , 2. Pengelompokan dan Perlakuan Hewan Uji Tikus akan dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus, yang dikelompokan dalam, kelompok I adalah kontrol negatif . anya di infeks. , kelompok II adalah kontrol positif . iberi kalmicetin sale. , kelompok i akan diberikan konsentrasi fraksi uji 5%, kelompok IV akan diberikan konsentrasi fraksi uji 10% dan kelompok V diberikan konsentrasi fraksi uji 25% Pembuatan suspensi bakteri uji dalam penelitian ini. Staphylococcus aureus dari biakan media NA diambil 1 ose dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl 0,9% secara aseptis, selanjutnya tabung reaksi dikocok hingga homogen dan disetarakan kekeruhannya dengan larutan Mc. Farland (Aponno dkk. , 2. Densitas kultur bakteri diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625nm (OD . OD625 yang dihasilkan kemudian dikonversi menjadi 0,1. OD625 senilai dengan 0,5 Mc. Farland (Niswah. Sebelum diberikan perlakuan, tikus diaklimasi dengan lingkungan tempat penelitian di Laboratorium Farmakologi ITEKES Cendekia Utama Kudus selama 7 hari. Punggung tikus yang telah dicukur licin dan dibersihkan dengan alkohol 70%, akan dibuat luka menggunakan pisau bedah dengan kedalaman 0,3 cm dan panjang luka 1,5 cm yang sebelumnya tikus dianestesi dengan ketamin 0,1 mL secara intra muskular. Luka akan diberikan suspensi bakteri Staphylococcus aureus sebanyak 0,2 mL dan dibiarkan selama 24 jam untuk mengetahui apakah kulit tikus mengalami pembengkakan yang menunjukkan bakteri telah berkembang dan menginfeksi luka. Berikut adalah prosedur penelitian yang . Sebanyak 30 tikus dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus wistar. Masing-masing kelompok ditempatkan pada satu kandang berbeda. Sebelum digunakan untuk penelitian tikus diaklimasi dengan lingkungan setempat selama 7 hari. Punggung tikus dicukur dengan pisau cukur hingga licin. Sebelum pembuatan luka punggung tikus dibersihkan dengan alkohol 70% dan tikus dianestesi dengan ketamin sebanyak 0,1 mL secara intra muscular terlebih dahulu. Kemudian dibuat luka sayatan sepanjang 1,5 cm dengan kedalaman 0,3 cm menggunakan pisau bedah steril. Luka sayatan yang telah dibuat pada punggung tikus kemudian diberikan 0,2 mL suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan dibiarkan selama 24 jam. Masing-masing kelompok yang diberikan perlakuan baik pengolesan fraksi uji dengan berbagai konsentrasi dan pengolesan kalmicetin salep pada luka akan dilakukan sebanyak 3 kali sehari dalam 2 minggu, untuk mengetahui ada atau tidaknya efektivitas penyembuhan luka infeksi pada masing-masing kelompok perlakuan. Setelah hasil diperoleh akan dibuat tabel perbedaan penyembuhan masing-masing kelompok setiap 3 hari untuk mengetahui ada atau tidaknya efektivitas fraksi uji etil asetat buah parijoto terhadap luka terinfeksi Staphylococcus aureus pada masing-masing kelompok. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan mengamati gambaran makroskopis dengan membuat tabel perbedaan penyembuhan luka pada tikus wistar yang terinfeksi Staphylococcus aureus dan dilakukan pengamatan makroskopis setiap 3 hari sekali selama 14 hari dengan parameter yang diamati adalah adanya pembengkakan, terbentunya korpeng dan menutupnya luka. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengeringan simplisia buah parijoto dilakukan dengan oven pada suhu 40 AC, penggunaan oven dalam pengeringan bertujuan agar suhu dapat diatur dan stabil sehingga simplisia dapat kering secara sempurna. Kemudian setelah simplisia kering diserbuk dengan blender simplisia selama 30 detik, tujuan pengecilan ukuran . adalah untuk memperluas permukaan sampel sehingga penetrasi pelarut ke dalam membran sel simplisia menjadi lebih mudah dan senyawa-senyawa yang ada di dalam simplisia dapat tersari lebih maksimal (Mulyani, 2. Kadar penyusutan simplisia kering adalah 415,20 gram setelah diblender simplisia kering menjadi 413,22 gram. Kemudian simplisia buah parijoto kering diekstraksi dengan metode ekstraksi dingin dengan cara maserasi, metode maserasi digunakan karena alat serta cara pengerjaannya sederhana dan mampu menarik zat aktif yang tidak tahan terhadap pemanasan maupun zat yang tahan terhadap pemanasan (Mulyani, 2. Serbuk simplisia dimaserasi dengan pelarut etanol 70% terlebih dahulu, penggunaan etanol sebagai pelarut dalam ekstrasi ini dikarenakan etanol merupakan pelarut organik yang sering digunakan dalam industri, dan memiliki titik didih yang lebih rendah dan relatif aman digunakan. Etanol juga menyebabkan enzim-enzim tidak bekerja termasuk dalam peragian sehingga menghalangi pertumbuhan jamur dan bakteri (Susanti dkk. , 2. Penggunaan etanol 70% dalam ekstraksi juga dikarenakan dapat menyari sebagian besar metabolit sekunder yang terdapat pada serbuk simplisia (Supriningrum dkk. , 2. Simplisia kering dimaserasi selama 24 jam dengan botol kaca kemudian maserat dan filtrat disaring, ditampung dalam botol kaca. Selanjutnya maserat kemudian diremaserasi kembali sebanyak tiga kali masing-masing selama 24 jam. Remaserasi dilakukan bertujuan agar zat berkhasiat yang dinginkan dapat tersari lebih maksimal. Kemudian filtrat ditampung dan dikentalkan dengan water bath pada suhu 40 AC sehingga diperoleh ekstrak kental buah Pengentalan ekstrak bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam ekstrak. Kadar air yang cukup tinggi dalam ekstrak etanol buah parijoto dapat memudahkan bakteri dan jamur untuk berkembang biak dan merusak mutu ekstrak (Desiyana dkk. , 2. Ekstrak kental yang didapatkan kemudian ditimbang sebanyak 20 gram, difraksinasi menggunakan n-heksan:air dengan perbandingan 1:1. Dilakukan beberapa kali hingga nheksan berwarna bening, kemudian diambil fraksi air. Fraksi air yang telah didapatkan difraksinasi kembali menggunakan etil asetat dengan perbandingan 1:1, dilakukan beberapa kali hingga fraksi etil asetat berwarna bening. Fraksinasi dilakukan pengulangan beberapa kali agar zat berkhasiat yang diinginkan tersari lebih sempurna. Selanjuntnya fraksi etil asetat yang didapatkan dipekatkan menggunakan rotary evaportor hingga diperoleh fraksi etil asetat kental. Simplisia basah 4,5 kg Tabel 1. Penyusutan Simplisia Simplisia kering 415,20 gram Serbuk 413,22 gram Tabel 2. Hasil Rendemen Ekstrak Etanol Buah Parijoto Serbuk parijoto 413,22 gram Ekstrak 88, 61 gram Rendemen 21,44% Metode fraksinasi yang digunakan adalah partisi cair-cair dari ekstrak etanol buah parijoto yang telah dikentalkan kemudian difraksinasi sebagaimana yang telah dijelaskan dan diperoleh fraksi kental etil asetat buah parijoto sebanyak 25 gram dengan rendemen fraksi etil asetat 28,21%. Proses partisi cair-cair merupakan proses pemisahan suatu senyawa berdasarkan kemampuan kelarutannya dalam pelarut yang digunakan (Normayunita dkk. Pada penelitian yang telah dilakukan fraksinasi cair-cair dilakukan menggunakan tiga pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu n-heksan, etil asetat dan air. Hal tersebut dilakukan untuk memisahkan senyawa dengan kepolaran rendah ke fraksi n-heksan, kepolaran sedang ke fraksi etil asetat dan kepolaran tinggi ke fraksi air (Normayunita dkk. Penggunaan etil asetat dalam penelitian ini dikarenakan etil asetat sebagai pelarut semi polar lebih efektif menarik senyawa baik polar maupun non polar dalam buah parijoto terutama senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Tabel 3. Rendemen Fraksi Etil Asetat Buah Parijoto Bobot ekstrak Fraksi etil asetat Rendemen 88, 61 gram 25 gram 28,21% Hasil skrining fitokimia fraksi etil asetat buah parijoto menunjukkan larutan berwarna merah jingga, hal ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat buah parijoto menunjukkan positif mengandung flavonoid. Perubahan warna tersebut terjadi dikarenakan reduksi oleh asam klorida dan magnesium (Sangi dkk. , 2. Fraksi etil asetat buah parijoto juga menunjukkan positif mengandung saponin, yang ditunjukkan adanya buih pada larutan tersebut. Saponin adalah senyawa yang memiliki gugus hidrofilik dan hidrofob. Pada saat digojok akan terbentuk buih karena adanya gugus hidrofil yang dapat berikatan dengan air sedangkan hidrofob berikatan dengan udara. Pada struktur misel, gugus polar akan menghadap ke luar sedangkan gugus non-polar menghadap ke dalam keadaan tersebut menyebabkan terbentuknya busa pada identifikasi saponin (Simaremare, 2. Dan juga positif mengandung tannin karena larutan yang berwarna coklat berubah warna menjadi hijau Warna hijau kehitaman merupakan tannin terkondensasi, perubahan warna tersebut terjadi ketika ditambahkan FeCl3 dikarenakan FeCl3 bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa tannin (Sangi dkk. , 2. Tabel 4. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi Etil Asetat Buah Parijoto Senyawa Hasil Kesimpulan Flavonoid Merah Jingga Saponin Ada Buih Tanin Hijau Kehitaman Hasil pengamatan makroskopis patologi anatomi penyembuhan luka terinfeksi Staphylococcus aureus pada tikus wistar masing-masing kelompok dapat dilihat pada tabel Dalam tabel tersebut disajikan berdasarkan parameter yang telah ditentukan yakni pembengkakan dan terbentuknya korpeng. Pada hari ke-0 hewan uji dilukai dan diinfeksi dengan Staphylococcus aureus kemudian dibiarkan selama 24 jam untuk mengetahui adanya bengkak pada luka. Berdasarkan pengamatan patologi anatomi (PA) pada hari ke-0 setelah hewan uji dilukai dan diinfeksi luka masih basah, belum terjadi pembengkakan dan darah mengalir berwarna merah segar. Kemudian pada hari ke-1 luka pada masing-masing kelompok hewan uji mengalami pembengkakan dan pelebaran pembuluh darah pada daerah Hal tersebut menunjukkan bahwa masing-masing kelompok mengalami fase Pelebaran pembuluh darah pada daerah luka dapat terjadi karena adanya protein yang membentuk jaringan fibrosa untuk menutup luka. Ketika trombosit dan protein menutup luka, luka menjadi lembab, kemudian membentuk fibrin. Selanjutnya trombosit menghasilkan serotonin sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah pada daerah luka (Paju , 2. Sedangkan pembengkakan terjadi karena dalam beberapa menit setelah terjadi cedera jaringan, akan terjadi vasodilatasi yang menyebabkan peningkatan volume darah Volume darah yang meningkat dijaringan akan menimbulkan perdarahan. Permeabilitas vaskular yang meningkat kemudian menimbulkan kebocoran cairan pembuluh darah dan menimbulkan edema (Baratawidjadja & Rengganis, 2. Invasi bakteri pada kulit tikus ditandai dengan adanya bengkak pada daerah luka seperti halnya hewan uji dalam penelitian. Jaringan yang rusak dan atau adanya toksin bakteri akan melepaskan mediator seperti trombin, histamin dan TNF-. Mikroba akan melepas endotoksin dan atau eksotoksin, keduanya memacu penglepasan mediator proinflamasi dan menyebabkan vasodilatasi serta peningkatan permeabilitas vaskuler dan infiltrasi seluler. TNF- dan IL-1 yang diproduksi magrofag yang diaktifkan oleh endotoksin asal mikroba berperan dalam permeabilitas vaskuler sehingga akan terjadi kebocoran cairan pembuluh darah dan terjadi edema pada daerah luka (Baratawidjadja & Rengganis, 2. Pada kelompok kontrol negatif hari ke-3 mulai menunjukkan bengkak luka yang bertambah dari hari sebelumnya hingga hari ke-6. Hal ini terjadi karena kelompok kontrol negatif tidak diberikan perlakuan apapun sehingga kemungkinan infeksi bakteri menyebar. Infeksi menyebabkan respon inflamasi menjadi lebih lama dan bertambah. Hal tersebut kemudian menyebabkan peningkatan sitokin inflamasi dan protease. Sehingga, terjadi ketidak seimbangan dalam deposisi dan degradasi Extracellular Matrix (ECM) yang menyebabkan luka menjadi kronis (McCatry & Percival, 2. Bengkak kemudian berkurang secara bertahap mulai hari ke-7 sampai hari ke-14. Pada hari ke-9 kontrol negatif sudah menunjukkan adanya peningkatan kesembuhan dimana bengkak pada luka mulai sedikit berkurang, mulai terbentuk korpeng yang ditandai dengan adanya gumpalan berwarna coklat kehitaman. Hal tersebut dapat terjadi karena respon alami tubuh, dimana tubuh yang sehat memiliki kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan diri (Marpaung dkk. , 2014 . Klokke, 1. Pada awal proses peradangan, neutrofil akan melakukan fagositosis dengan cepat dan selanjutnya mati akibat kehadiran beberapa mikroorganisme yang memiliki virulensi lebih tinggi dari neutrofil. Neutrofil juga menghasilkan defensin, suatu zat yang mampu membunuh bakteri, jamur dan virus. Pada tahap berikutnya monosit yang telah sampai kedaerah luka akan berubah menjadi magrofag dan mengganti kedudukan neutrofil untuk melakukan fagositosis. Monosit memiliki ukuran yang lebih besar serta kemampuan fagositosis lebih tinggi dibandingkan neutrofil sehingga lebih banyak mikroorganisme yang akan dibunuh (Abdurrahmat, 2. Pada kelompok kontrol positif hari ke-6 mulai menunjukkan proses penyembuhan, dimana bengkak pada kelompok ini mulai berkurang dari hari sebelumnya. Pada minggu pertama bengkak memang berkurang, namun tidak lebih cepat dari minggu ke dua, mulai hari ke-11 bengkak sudah tidak ditemukan hingga hari ke-14. Pada hari ke-6 korpeng pada kelompok ini mulai terbentuk, pembentukan korpeng pada kelompok kotrol positif tidak lebih cepat dari kelompok yang diberikan fraksi uji buah parijoto konsentrasi 10% dan 25%. Munculnya korpeng atau krusta setelah perlakuan pada luka merupakan hasil serum yang mengering berwarna kuning dan kehitaman. Setelah tahap inflamasi, kolagen dikeluarkan kemudian proses penggabungan antara tepi luka dimulai dan segera terjadi fase poliferasi (Lostapa dkk. , 2. Pada konsentrasi 5%, 10% dan 25% masing-masing menunjukan hasil yang berbeda, dimana pada hari ke-3 bengkak luka pada konsentrasi 5% memang berkurang namun tidak signifikan seperti konsentrasi 10% dan konsentrasi 25%. Perbedaan antar konsentrasi tersebut juga terlihat pada hari ke-6 dimana konsentrasi 5% menunjukan terbentuknya korpeng namun belum lepas sedangkan pada konsentrasi 10% dan konsentrasi 25% korpeng mulai lepas. Pada minggu kedua hari ke-14 rata-rata tikus pada kelompok konsentrasi 5% masih menunjukkan adanya pembengkakan meskipun bengkak tidak lebih besar dari kelompok kontrol negatif. Namun, pada konsentrasi 10% dan konsentrasi 25% sudah tidak menunjukkan adanya bengkak pada luka mulai hari ke-12. Hal tersebut terjadi karena jumlah fraksi uji etil asetat buah parijoto yang ditambahkan pada masing-masing konsentrasi berbeda, sehingga efektivitas kecepatan penyembuha juga berbeda. Pada hari ke-9 korpeng pada kelompok kontrol positif sudah mulai terbentuk dan korpeng mulai lepas, sedangkan pada konsentrasi 10% dan konsentrasi 25% korpeng lepas sempurna dan sudah tidak ditemukan korpeng mulai hari ke-12 hingga hari ke-14 pada kedua kelompok tersebut. Hal ini membuktikan bahwa fraksi uji etil asetat buah parijoto mampu mempercepat fase inflamasi dari pada kelompok kontrol positif. Terbentuknya korpeng merupakan suatu mekanisme pelindung, dimana semakin cepat terbentuknya korpeng maka akan semakin mempercepat penyembuhan luka terbuka (Desiyana dkk. , 2. Cepatnya korpeng terbentuk pada kelompok konsentrasi 5%, 10% dan 25% menunjukkan bahwa konsentrasi fraksi uji juga mampu mempercepat perjalanan fase inflamasi, karena dalam fraksi uji etil asetat buah parijoto mengandung flavonoid. Flavonoid bersifat sebagai anti peradangan, anti alergi, mencegah terjadinya oksidasi serta sebagai anti Flavonoid mencegah terjadinya proses oksidasi dan menghambat zat yang bersifat racun yang dapat timbul pada luka (Himawan dkk. , 2. Sehingga setelah melewati fase inflamasi hewan uji akan segera mengalami fase poliferasi, yang artinya fibroblas akan mulai mensintesis kolagen yang akan menggantikan jaringan ikat didaerah luka dan sintesis kolagen selanjutnya akan menurun dan jumlah kolagen yang dibentuk akan sebanding dengan jumlah kolagen yang dihancurkan, sehingga setelah 2 minggu diameter luka akan mengecil (Abdurrahmat, 2. Ekstrak yang mampu menstimulasi pertumbuhan fibroblas memiliki khasiat untuk mempercepat penyembuhan Dalam penelitian ini pertumbuhan fibroblas diamati melalui pembentukan keropeng pada masing-masing kelompok (Fernandes dkk. , 2. Tabel 5. Hasil Pengamatan Makroskopis secara Patologi Anatomi Perlakuan Hari ke-3 Hari ke-6 Hari ke-9 Kontrol Negatif Luka membengkak. Bengkak bertambah. Bengkak gumpalan adanya gumpalan berkurang, berwarna darah berwarna gumpalan merah pucat dan merah kecoklatan dan berwarna terbentuk belum terbentuk kehitaman dan mulai terbentuk korpeng. Kontrol Positif Luka membengkak, merah muda dan Bengkak berkurang, merah muda dan Bengkak berkurang, korpeng dan korpeng sudah lepas. Konsentrasi 5% Luka membengkak, darah berwarna hitam dan belum terbentuk Bengkak berkurang, darah berwarna hitam dan sudah terbentuk Bengkak berkurang, korpeng dan ujung korpeng mulai lepas. Konsentrasi 10% Luka membengkak, darah berwarna hitam dan belum terbentuk Bengkak berkurang. Bengkak berkurang gumpalan dan korpeng sudah berwarna lepas. terbentuk korpeng. Dan ujung kopeng mulai sedikit lepas. Konsentrasi 25% Luka membengkak, darah berwarna hitam dan belum terbentuk Bengkak berkurang. Bengkak berkurang gumpalan dan korpeng sudah berwarna lepas. terbentuk korpeng. dan sebagian lepas. Proses penyembuhan alami setelah terjadinya infeksi akan membutuhkan waktu yang cukup lama, dimana tubuh akan melibatkan mediator dan respon imun dalam tubuh yang lebih kompleks. Fese yang paling penting untuk segera dilalui setelah terjadinya infeksi adalah fase inflamasi. Setelah terjadi infeksi perubahan vaskuler oleh mediator pro- inflamasi akan terjadi. Dimana efek anafilatoksin (C3a dan C5. yang menginduksi degranulasi sel mast akan melepaskan histamine (Baratawidjadja & Rengganis, 2. Histamin akan menimbulkan vasodilatasi dan kontraksi otot polos. Setelah perubahan vaskuler terjadi, neutrofil akan menempel pada sel endotel dan bermigrasi keluar pembuluh darah ke rongga jaringan yang rusak untuk memakan patogen dan melepaskan mediator yang berperan dalam respon inflamasi. Magrofag jaringan yang diaktifkan akan melepaskan sitokin (IL-1. IL-6 dan TNF-), ketiga sitokin tersebut akan menginduksi koagulase dan IL1 menginduksi ekspresi molekul adhesi pada sel endotel sedangkan TNF- akan meningkatkan ekpsresi selektin-E. IL-1 menginduksi peningkatan ekskresi ICAM-1 dan ICAM-2, sehingga neutofil akan mengenali molekul adhesi dan bergerak ke dinding pembuluh darah dan selanjutnya kejaringan yang mengalami infeksi untuk memakan bakteri (Baratawidjadja & Rengganis, 2. Gambar 1. Hasil Pengamatan Makroskopis Hari Ke-6. (A) kontrol negatif, (B) kontrol positif, (C) konsentrasi 5%, (D) konsentrasi 10%, (E) konsentrasi 25%. Gambar 2. Hasil Pengamatan Makroskopis Hari Ke-14. (A) kontrol negatif, (B) kontrol positif, (C) konsentrasi 5%, (D) konsentrasi 10%, (E) konsentrasi 25%. Tahap inflamasi berlangsung tergantung dari besarnya luka serta tingkat kontaminasi mikroorganisme atau tingkat infeksi yang terjadi pada luka (Abdurrahmat, 2. Namun, lama dan intensitas inflamasi lokal akut perlu dikontrol agar tidak terjadi kerusakan jaringan. TGF- akan membatasi respon inflamasi dan memacu akumulasi dan poliferasi fibroblast serta endapan matriks ekstraseluler yang diperlukan untuk perbaikan jaringan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Fraksi uji etil asetat buah parijoto efektif berpotensi menyembukan luka pada tikus wistar yang terinfeksi Staphylococcus aureus berdasarkan pengamatan secara makroskopis. Adanya perbedaan signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif, konsentrasi 10% dan konsentrasi 25% namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan konsentrasi 5%. Konsentrasi optimum yang mampu menyembuhkan luka pada tikus wistar yang terinfeksi Staphylococcus aureus terjadi pada konsentrasi 25%. Saran Perlu dilakukan penelitian dan pengamatan lebih lanjut secara histopatologis meliputi jumlah sel radang dan reepitelisasi jaringan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk dibuat sediaan farmasi dan uji toksisitas untuk mengetahui batasan konsentrasi yang aman DAFTAR PUSTAKA