Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Students' Understanding of Fasting Practices through Lecturing Method: A Classroom Action Research at MI Hidayatullah NW Kebun Bat Nurhayati1. Zakiyah2 1 MI Hidayatullah NW Kebun Bat 2 MI Salman Alfarisi Correspondence: nurhayati2609172@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research, method, religious education. MI Hidayatullah NW Kebun Bat. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of fasting practices (Ibadah Puas. through the lecturing method at MI Hidayatullah NW Kebun Bat. The study is conducted in two cycles, with each cycle involving planning, action, observation, and The lecturing method is chosen as the primary teaching strategy to convey the religious and practical aspects of fasting during the holy month of Ramadan. During the first cycle, students' prior knowledge about fasting is assessed, and the teacher delivers structured lectures focused on the significance, rules, and benefits of fasting. In the second cycle, additional interactive elements are incorporated to engage students more actively in the learning process. Data is collected through observations, student reflections, and pre- and post-tests to assess the improvement in students' understanding. The findings suggest that the lecturing method significantly enhances students' comprehension of fasting practices, with notable improvements in their ability to explain the religious, health, and social dimensions of fasting. This research demonstrates that the lecturing method, when combined with engaging discussions, can effectively promote students' learning about religious practices in a structured classroom setting. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama merupakan aspek yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar. Salah satu ajaran agama yang memiliki peran sentral dalam kehidupan umat Muslim adalah ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadan bukan hanya merupakan kewajiban ritual, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral, sosial, dan kesehatan yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap individu, terutama anak-anak. Di MI Hidayatullah NW Kebun Bat, pendidikan mengenai ibadah puasa seringkali terfokus pada aspek praktisnya saja tanpa menggali lebih dalam mengenai makna, tujuan, dan manfaat puasa dalam kehidupan sehari-hari (Sari, 2. Namun, meskipun ibadah puasa diajarkan di sekolah-sekolah Islam, tidak semua siswa memahami sepenuhnya makna di balik pelaksanaannya. Banyak siswa yang hanya tahu bahwa puasa adalah menahan makan dan minum tanpa benar-benar memahami tujuan spiritual dan sosial yang terkandung dalam ibadah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kekurangan dalam pengajaran ibadah puasa di sekolah, yang perlu segera diatasi dengan metode yang lebih efektif (Rizki, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang ibadah puasa dengan menggunakan metode ceramah yang lebih sistematis dan terstruktur. Metode ceramah menjadi salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan informasi secara langsung kepada siswa, terutama ketika materi yang disampaikan bersifat teoritis dan membutuhkan pemahaman mendalam, seperti ajaran agama. Dalam konteks ini, ceramah dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 digunakan untuk menjelaskan nilai-nilai agama terkait puasa, seperti tujuan spiritual, manfaat sosial, dan dampak positif puasa bagi kesehatan (Haris, 2. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa ceramah dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep agama jika disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami (Dewi, 2. Keterbatasan waktu dan sumber daya pengajaran seringkali menjadi kendala dalam menyampaikan materi yang komprehensif mengenai puasa. Meskipun demikian, metode ceramah memungkinkan guru untuk mengelola waktu secara efektif dan memberikan penjelasan secara lebih fokus. Dengan memanfaatkan metode ceramah, guru dapat menyampaikan informasi mengenai puasa secara jelas dan terstruktur tanpa terhambat oleh keterbatasan lainnya. Ini sangat penting untuk memastikan bahwa siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ibadah puasa (Fauziyah, 2. Namun, meskipun ceramah memiliki potensi untuk meningkatkan pemahaman, penelitian menunjukkan bahwa cara penyampaian ceramah yang monoton dapat menyebabkan siswa kehilangan minat dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memadukan ceramah dengan pendekatan yang lebih interaktif, seperti diskusi atau tanya jawab, agar siswa lebih aktif dalam proses belajar dan tidak hanya menjadi pendengar pasif (Rahmawati, 2. Dengan demikian, variasi dalam metode ceramah dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran tentang puasa. Salah satu tantangan utama dalam pengajaran ibadah puasa adalah mengatasi pemahaman yang terbatas pada siswa yang belum sepenuhnya mengerti makna spiritual dari puasa. Tanpa pemahaman yang mendalam, siswa hanya akan melihat puasa sebagai kewajiban fisik tanpa menyadari manfaatnya dalam pengembangan diri dan kedekatan dengan Tuhan. Hal ini mengarah pada perlunya pengajaran yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek spiritual dan sosial dari puasa yang dapat dijelaskan secara lebih komprehensif melalui ceramah yang berbasis pada nilai-nilai agama (Putri, 2. Pentingnya pemahaman yang menyeluruh tentang puasa juga berkaitan dengan perubahan pola pikir siswa dalam memandang ibadah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika pemahaman siswa mengenai puasa terbatas, maka mereka akan kesulitan untuk menerapkannya dalam konteks kehidupan yang lebih luas, seperti dalam interaksi sosial dan pengelolaan emosi (Anwar, 2. Melalui ceramah yang dilengkapi dengan cerita-cerita motivasi atau contoh nyata, guru dapat membantu siswa menghubungkan pengajaran agama dengan kehidupan nyata mereka, yang pada akhirnya mendorong penerapan nilai-nilai agama dalam keseharian mereka. Sebagai salah satu metode yang telah terbukti efektif dalam pendidikan agama, ceramah memungkinkan siswa untuk menerima informasi dengan cara yang lebih terstruktur dan mudah Dengan menggabungkan ceramah dengan media lainnya, seperti gambar atau video, pengajaran mengenai ibadah puasa dapat menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa dalam memahami materi tersebut. Penelitian oleh Hidayati . menunjukkan bahwa penggunaan media dalam ceramah dapat memperkaya pemahaman siswa tentang ajaran agama dan menjadikan pembelajaran lebih menarik dan interaktif. Selain itu, ceramah juga memberikan kesempatan bagi guru untuk menilai pemahaman siswa secara langsung melalui interaksi yang terjadi selama atau setelah sesi ceramah. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, guru dapat lebih memahami sejauh mana pemahaman siswa tentang puasa dan dapat memberikan penjelasan lebih lanjut jika Ini juga memungkinkan guru untuk mengidentifikasi siswa yang mungkin kesulitan dalam memahami materi dan memberikan bantuan tambahan (Sari, 2. Meskipun metode ceramah memiliki banyak keuntungan, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga perhatian dan keterlibatan siswa dalam setiap sesi ceramah. Penelitian menunjukkan bahwa variasi dalam cara penyampaian ceramah, seperti menggunakan humor, cerita inspiratif. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 atau pendekatan yang lebih kreatif, dapat membantu meningkatkan minat dan keterlibatan siswa (Dewi, 2. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus berinovasi dalam menyampaikan ceramah agar siswa tetap tertarik dan fokus pada materi yang disampaikan. Selain itu, ceramah juga dapat menjadi wadah bagi siswa untuk belajar tentang nilai-nilai sosial yang terkandung dalam puasa. Puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan makan dan minum, tetapi juga dengan menahan hawa nafsu, meningkatkan kepedulian sosial, dan berbagi dengan sesama. Melalui ceramah yang mencakup aspek sosial ini, siswa dapat lebih memahami bagaimana puasa dapat mempererat hubungan sosial dan meningkatkan solidaritas dalam masyarakat (Rizki, 2. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan teknologi juga dapat memperkaya metode ceramah dalam pengajaran puasa. Dengan memanfaatkan alat bantu visual, seperti presentasi multimedia, ceramah dapat menjadi lebih menarik dan dapat menyampaikan pesan dengan lebih jelas. Penelitian oleh Haris . menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pengajaran agama dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan efektif, serta lebih mudah diakses oleh siswa. Pengajaran ibadah puasa yang efektif melalui ceramah dapat memberikan dasar yang kuat bagi siswa untuk memahami nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka. Dengan pemahaman yang mendalam tentang puasa, siswa tidak hanya akan menjalankan ibadah tersebut dengan baik, tetapi juga akan memperoleh manfaat spiritual dan sosial yang lebih besar. Oleh karena itu, pengembangan metode ceramah yang efektif dan menarik sangat penting untuk memaksimalkan hasil pembelajaran agama di sekolah-sekolah Islam (Indriyani, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa MI Hidayatullah NW Kebun Bat tentang ibadah puasa melalui metode ceramah. Metode PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan langsung dalam proses pembelajaran dengan melibatkan siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. PTK memberikan kesempatan untuk menganalisis dan memperbaiki pengajaran dalam satu siklus atau lebih, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan (Kemmis & McTaggart, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang kegiatan pembelajaran menggunakan metode ceramah yang fokus pada pemahaman konsep ibadah puasa. Ceramah diberikan dengan pendekatan yang sistematis, mencakup penjelasan tentang nilai spiritual, sosial, dan kesehatan dari puasa. Peneliti juga mempersiapkan instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, angket, dan tes pemahaman untuk menilai perkembangan siswa dalam memahami materi. Pada tahap tindakan, ceramah dilakukan dengan pendekatan yang menarik agar siswa dapat memahami dan menginternalisasi materi dengan lebih baik. Peneliti berusaha untuk menyampaikan informasi tentang puasa secara jelas dan mudah dipahami, menggunakan contoh sehari-hari yang relevan dengan pengalaman siswa. Peneliti juga melibatkan siswa dalam diskusi singkat selama ceramah untuk meningkatkan keterlibatan mereka. Aktivitas ini bertujuan untuk memastikan siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan memperdalam pemahaman mereka tentang ibadah puasa. Selama tahap observasi, peneliti mengumpulkan data melalui pengamatan langsung terhadap siswa selama proses ceramah. Observasi ini berfokus pada keterlibatan siswa dalam ceramah, respon siswa terhadap materi yang disampaikan, dan kemampuan mereka untuk menjelaskan kembali konsep yang telah diajarkan. Data juga dikumpulkan melalui tes pemahaman untuk mengukur sejauh mana pengetahuan siswa mengenai ibadah puasa meningkat setelah Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 diterapkan metode ceramah. Selain itu, peneliti mencatat setiap dinamika kelas dan reaksi siswa terhadap materi yang disampaikan. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis hasil observasi dan tes pemahaman untuk mengevaluasi efektivitas metode ceramah dalam meningkatkan pemahaman siswa. Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti merencanakan tindakan perbaikan untuk siklus berikutnya jika diperlukan. Refleksi juga dilakukan untuk menilai sejauh mana metode ceramah dapat diterima oleh siswa dan apakah mereka merasa materi yang disampaikan bermanfaat dalam memahami ibadah puasa. Dengan demikian, metode PTK memungkinkan peneliti untuk memperbaiki proses pengajaran secara berkelanjutan dan memberikan solusi praktis untuk meningkatkan pembelajaran agama di MI Hidayatullah NW Kebun Bat. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode ceramah dalam pembelajaran materi ibadah puasa menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap konsep puasa Ai baik dari segi teori maupun makna spiritual. Sebelum tindakan, banyak siswa hanya memahami puasa secara fisik . idak makan/minu. Setelah ceramah, mereka mulai mengerti aspek tujuan, hikmah, dan nilai sosial dari puasa. Hal ini mendukung argumen bahwa ceramah efektif untuk menyampaikan konsep normatif dalam pendidikan agama (Rahmawati, 2. Selain itu, ditemukan bahwa ceramah memungkinkan penyampaian materi secara sistematis dan efisien. Guru dapat mengatur penyampaian materi Ai seperti definisi, syarat, dan manfaat puasa Ai dalam urutan logis sehingga memudahkan siswa menangkap inti ajaran. Efisiensi dan struktur penyampaian ini adalah keleluasaan metode ceramah dalam konteks kelas dengan jumlah siswa banyak (Dewi, 2. Namun, meskipun ceramah terbukti efektif untuk aspek kognitif, penelitian juga menemukan keterbatasan: partisipasi siswa cenderung pasif. Sebagian siswa hanya mendengarkan tanpa aktif bertanya atau berdiskusi, yang mengurangi kesempatan mereka untuk mendalami pemahaman atau mengungkapkan keraguan. Temuan ini sejalan dengan kritik terhadap ceramah klasik yang dianggap kurang melibatkan siswa (Sari, 2. Dalam proses penerapan, guru yang menyampaikan ceramah dengan cara monoton dan tanpa variasi mengakibatkan siswa cepat jenuh dan kurang fokus. Beberapa siswa kehilangan konsentrasi sehingga pemahaman terhadap materi puasa tidak optimal. Ini menunjukkan bahwa kualitas penyampaian ceramah Ai seperti intonasi, tempo, dan teknik presentasi Ai mempengaruhi sejauh mana ceramah berhasil meningkatkan pemahaman (Fauziyah, 2. Penelitian juga menemukan bahwa ketika ceramah dikombinasikan dengan sesi tanya jawab atau dialog singkat, efektivitasnya meningkat Ai siswa lebih tertarik, lebih aktif, dan lebih mudah memahami makna puasa. Kombinasi ini membantu mengatasi kelemahan ceramah tradisional yang cenderung satu arah. Hasil ini mendukung temuan literatur yang menyarankan integrasi metode ceramah dengan metode aktif untuk hasil optimal (Indriyani, 2. Dari segi motivasi siswa, sebagian besar menunjukkan peningkatan minat belajar terhadap materi ibadah puasa setelah ceramah. Mereka merasa materi lebih relevan dan mudah dipahami, sehingga kecenderungan untuk memperhatikan pelajaran meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa ceramah, bila disampaikan dengan baik, dapat meningkatkan disposisi siswa terhadap pembelajaran agama (Haris, 2. Namun, sebagian siswa masih menunjukkan pemahaman dangkal: mereka bisa mengulang materi secara lisan, tetapi kesulitan menjelaskan manfaat puasa dalam kehidupan sehari-hari atau mengaitkannya dengan nilai moral. Ini menunjukkan bahwa pemahaman mendalam dan internalisasi nilai puasa tidak cukup jika hanya dilakukan ceramah sekali atau tanpa penguatan lanjutan (Putri, 2. Dari sisi implementasi, guru melaporkan bahwa ceramah mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan banyak media atau persiapan rumit, sehingga cocok untuk madrasah dasar dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 keterbatasan sarana. Metode ini memungkinkan penyampaian materi normatif tanpa beban besar terhadap sumber daya (Anwar, 2. Meski demikian, sekolah dengan jumlah siswa besar menghadapi tantangan: dalam ceramah satu arah, sulit memastikan bahwa seluruh siswa benar-benar menangkap materi. Ada siswa yang kehilangan fokus atau tidak mendengarkan secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa ceramah perlu disertai evaluasi pemahaman Ai misalnya melalui tanya jawab, latihan, atau refleksi Ai agar hasil belajar lebih merata (Sari, 2. Penelitian ini juga mencerminkan bahwa konteks budaya dan karakter siswa penting dalam menentukan efektivitas ceramah. Di lingkungan madrasah dengan latar belakang siswa yang sudah familier agama, ceramah cukup efektif untuk menyampaikan ajaran dasar. Namun, untuk nilai aplikatif dan internalisasi spiritual, metode ini perlu dilengkapi dengan pendekatan kontekstual dan interaktif (Rizki, 2. Temuan menunjukkan bahwa kombinasi metode lebih menjanjikan daripada ceramah tunggal. Misalnya, menggabungkan ceramah dengan diskusi, tanya jawab, atau kegiatan praktik Ai seperti simulasi puasa, refleksi pribadi, atau studi kasus Ai dapat memperdalam pemahaman dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Ini sesuai dengan literatur yang menyarankan penerapan metode campuran dalam pendidikan agama (Hidayati, 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan ceramah secara berkala Ai bukan sekali waktu Ai memberikan hasil lebih baik. Ketika materi puasa disampaikan dalam beberapa sesi dengan pengulangan dan penguatan, siswa cenderung mengingat dan memahami konsep lebih baik. Ini memperlihatkan perlunya kontinuitas dalam pengajaran agama agar pemahaman tidak hanya sekadar ingatan jangka pendek (Dwi, 2. Meskipun ada kekurangan, ceramah tetap relevan sebagai metode dasar dalam materi normatif agama seperti puasa Ai terutama untuk penyampaian rukun, syarat, dan hukum-hukum. Kesederhanaan dan efisiensi ceramah menjadikannya pilihan praktis di banyak madrasah dasar dengan keterbatasan sarana (Fauziyah, 2. Terakhir, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya refleksi dan evaluasi setelah ceramah. Guru perlu mengevaluasi pemahaman siswa Ai bisa melalui tanya jawab, tes, tugas tertulis, atau diskusi Ai untuk memastikan bahwa ajaran tidak hanya diterima secara pasif, tetapi juga dipahami dan dapat diaplikasikan. Tanpa evaluasi, pemahaman siswa bisa saja dangkal (Anwar, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa metode ceramah dapat menjadi fondasi yang efektif dalam mengajarkan materi ibadah puasa di MI Hidayatullah NW Kebun Bat Ai terutama dari aspek kognitif dan pemahaman dasar. Namun, untuk mencapai pemahaman mendalam, internalisasi nilai, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari, ceramah perlu diperkaya dengan metode aktif, penguatan berulang, dan evaluasi yang konsisten (Indriyani, 2. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI Hidayatullah NW Kebun Bat, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran materi ibadah puasa memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman siswa. Selama siklus penelitian, siswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai aspek teoritis, spiritual, dan sosial dari ibadah puasa setelah mendapatkan ceramah yang disampaikan secara sistematis dan terstruktur. Metode ceramah terbukti efektif dalam menyampaikan informasi dengan cara yang jelas dan mudah dipahami, memungkinkan siswa untuk memahami konsep dasar puasa dengan baik. Namun, meskipun ceramah efektif untuk aspek kognitif, penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih terbatas pada tingkat pasif. Sebagian besar siswa lebih banyak mendengarkan dan sedikit berpartisipasi dalam diskusi. Oleh karena itu, untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 meningkatkan efektivitas ceramah, disarankan agar guru memadukan ceramah dengan metode pembelajaran aktif seperti tanya jawab, diskusi, atau studi kasus, yang dapat memperdalam pemahaman siswa. Selain itu, pengulangan materi dan pemberian refleksi di akhir sesi ceramah sangat penting untuk memastikan pemahaman siswa tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran yang berkelanjutan dan evaluasi yang dilakukan setelah ceramah juga penting untuk memastikan bahwa siswa benar-benar memahami dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode ceramah, meskipun memiliki keterbatasan dalam hal interaksi langsung, tetap menjadi strategi yang efektif dalam mengajarkan materi ibadah puasa, terutama jika dikombinasikan dengan metode pembelajaran lainnya untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa secara lebih mendalam. REFERENCES