Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Gambaran Tingkat Kesepian (Lonelines. Pada Anak Dengan Orang Tua yang Bekerja di Bidang Pariwisata Juniar Guna1. Handy Serenity2. Devandra Putra3. Yashinta Levy Septiarly4* Program Studi Psikologi. Universitas Dhyana Pura Program Studi Psikologi. Universitas Dhyana Pura *Corresponding Author: yashinta. levy@undhirabali. ABSTRAK Pariwisata adalah industri yang seringkali memerlukan mobilitas tinggi dari para pekerja, yang dapat mempengaruhi interaksi dan ketersediaan waktu bersama antara orang tua dan anak. Tingkat kesepian pada anak-anak dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan sosial mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran tingkat kesepian pada anak yang memiliki orang tua bekerja di bidang pariwisata. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner yang telah diadaptasi dari skala kesepian yang valid dan reliabel. Sampel penelitian ini terdiri dari anak-anak yang memiliki minimal salah satu dari kedua orang tua mereka yang bekerja di industri Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif untuk memberikan gambaran tingkat kesepian yang dialami anak-anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesepian pada anak-anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berada pada kategori sangat tinggi, dengan jumlah persentase sebanyak 50,47%. Mayoritas yang mengalami kesepian adalah anak perempuan dengan persentase sebesar 54,21% yang rata-rata berusia 16 tahun dengan persentase sebanyak 32,71% dengan mayoritas dialami oleh anak perempuan. Kata kunci: anak-anak, kesepian, pariwisata, kuantitatif, pekerja PENDAHULUAN Sejak zaman kolonial Belanda. Bali telah menjadi salah satu tempat wisata paling populer di dunia. Berbagai keindahan alam, budaya unik, dan keramahan penduduknya membuat pengunjung ingin kembali. Karena itu, sebagian penduduknya tentu bekerja di bidang pariwisata seperti tour guide, housekeeper, travel agent, dan lainnya. Meskipun demikian. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali melaporkan bahwa ada 498 hotel berbintang dan 648 biro perjalanan wisata di seluruh provinsi Bali. Meskipun demikian, para pekerja pariwisata kadang-kadang harus mengorbankan keluarga mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karena tuntutan pekerjaan mereka, terutama saat mereka harus bekerja lembur dan jarang tinggal di rumah. Ini sering menyebabkan beberapa anak Studi pendahuluan saat peneliti mewawancarai tiga anak yang memiliki orang tua yang bekerja di bidang pariwisata membuktikan hal ini. Mereka merasa jauh dari kedua orang tua mereka dan sangat kehilangan mereka karena keberadaan mereka. Jadwal shift orang tua mereka tidak menentu, sehingga mereka tidak dapat menghabiskan waktu bersama bahkan saat libur, karena mereka harus bekerja lembur dan menikmati aktivitas masing-masing bahkan saat berada di satu rumah. Sebaliknya, mereka menyatakan bahwa mereka merasa tidak mampu lagi bersosialisasi dengan orang lain dan bahkan mungkin tidak memiliki hubungan pertemanan karena mereka sudah terbiasa sendiri sejak Selain itu, dia kadang-kadang bingung harus minta tolong kepada siapa ketika sedang kesusahan karena tidak memiliki siapa-siapa untuk dihubungi. karena kurangnya keinginan untuk bersosialisasi, dia juga merasa tidak memiliki teman selain orang tuanya. Kesepian, menurut Rotenberg dan Hymel . , dianggap sebagai masalah umum yang sering dialami oleh anak-anak atau remaja. Russell mengatakan bahwa kesepian adalah suatu konflik dalam hubungan sosial di mana keinginan dan keinginan seseorang Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 tidak sejalan, seperti perasaan tertekan, tidak tenang, dan kurangnya persepsi diri dalam hubungan sosial (Laksana, 2. Sandra Handayani Sutanto dan Christiany Suwartono . menemukan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan remaja menjadi lebih kesepian juga dapat berkontribusi pada peningkatan rasa kesepian dalam keluarga. Salah satu contohnya adalah ketika kedua orang tua tidak memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk memberi perhatian kepada anak-anak mereka. Survei yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa 60% orang dewasa awal mengalami kebingungan dalam hidup mereka sebagai akibat dari tekanan sosial, rasa frustasi, dan perasaan negatif dalam diri mereka sendiri (Asrar & Taufani, 2. Karena ketidakpastian seseorang dalam menyesuaikan kehidupan sosialnya, mereka dapat mengalami tekanan (Artiningsih & Savira, 2. Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya, tetapi kenyataannya adalah bahwa orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya, yang berdampak pada pengaruh mereka terhadap anak. Hal ini menyebabkan kurangnya interaksi antara orang tua dan anak karena orang tua sibuk di luar rumah. Menurut Austin (Marisa & Afriyeni, 2. , kesepian dibagi menjadi tiga dimensi. Yang pertama, intimate others menggambarkan ketika seseorang merasa kehilangan orang-orang terdekat dan penting dalam hidupnya atau merasa cukup jauh. Yang kedua, social others, mereka merasa tidak memiliki jaringan sosial, sehingga mereka merasa tidak seorang pun bisa menjadi teman dalam hubungan sosial. Yang terakhir, belonging and affiliation mereka merasa tidak mampu menjalin hubungan dengan orang lain atau lingkungan sekitar mereka. Survei eksperimen kesepian BBC dilakukan secara online dan menarik banyak orang yang merasa kesepian (Claudia Hammond, 2. Antara usia 16 dan 24 tahun memiliki tingkat kesepian yang paling tinggi, dengan tingkat persentase sebanyak 40% dari mereka mengatakan bahwa mereka sering atau sangat sering Peneliti juga sudah mencari beberapa studi pendahuluan terkait dengan kesepian . pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata, namun belum ada yang pernah meneliti Loneliness secara langsung mengenai bagaimana kondisi anakanak yang memiliki orang tua bekerja di bidang pariwisata. Setelah melakukan studi pendahuluan kami menemukan Loneliness kebanyakan hanya pernah diteliti oleh mahasiswa, pada perempuan yang mengalami kekerasan, dan pada individu lanjut usia. Berdasarkan pada uraian permasalahan di atas, peneliti meneliti lebih lanjut mengenai tingkat Loneliness yang dirasakan oleh anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 107 subjek yang terdiri dari 49 orang lakilaki dan 58 orang perempuan yang dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria subjek yaitu anak-anak perempuan maupun laki-laki yang berusia 12-21 tahun dan memiliki orang tua bekerja di bidang pariwisata sampel atau populasi dalam penelitian ini yaitu di Provinsi Bali. Data sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling diartikan sebagai teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Alasan menggunakan teknik purposive sampling karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan kriteria yang diteliti, dengan menetapkan pertimbangan atau kriteria yang harus dipenuhi oleh sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan melalui fitur google form. Responden penelitian dikirim melalui media sosial seperti WhatsApp. Telegram, dan Instagram. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan alat ukur LS-45 (Loneliness Scale-. merupakan alat ukur yang disusun dalam bentuk pernyataan dengan penggunaan skala likert. Skala likert ini menggunakan 5 pilihan kategori, dimulai dari kategori sangat tidak sesuai, tidak sesuai, netral, sesuai, sangat sesuai. Skala ini disusun Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 dengan menentukan aspek dan indikator keperilakuan yang dituliskan dalam bentuk Formulasi terdiri dari 4 aspek dan 9 indikator keperilakuan yang masing-masing indikator keperilakuannya diwakilkan oleh 4 item. Total item atau butir pertanyaan dari skala LS-45 adalah 45 item. Peneliti menggunakan hasil uji reliabilitas dan uji validitas yang telah di uji oleh peneliti sebelumnya sekaligus yang membuat alat ukur LS-45 ini. Uji reliabilitas Loneliness Scale (LS-. dilakukan dengan rumus Cronbach Alpha. Hasil estimasi reliabilitas alat ukur LS-45 menunjukkan nilai 0,930 yang menandakan alat ukur telah reliabel. Nilai telah memenuhi standar yakni semakin mendekati nilai 1, maka reliabilitas alat ukur semakin baik. Metode analisis validitas yang digunakan adalah Exploratory Factor Analysis (EFA). Peneliti melakukan uji validitas dengan subjek sebanyak 13 orang. Kriteria rater yang digunakan dalam uji validitas isi adalah remaja awal sampai dewasa awal dengan rentang usia 14-22 tahun. Hasil dari estimasi uji validitas menunjukan bahwa terdapat 35 item yang dinyatakan gugur karena memiliki skor di bawah 0,79. Indeks rata-rata AikenAos V menunjukan skor sebesar 0,84, yang menunjukan bahwa itemitem tersebut memenuhi syarat jika dilihat dari tabel validitas Aiken's V berdasarkan number of ratings. Hasil dari estimasi uji validitas ini menunjukan terdapat 35 item yang dinyatakan gugur dari 80 total item. Analisis data dilakukan melalui analisis deskriptif. Tujuan analisis ini bukanlah untuk menguji hipotesis, tetapi untuk memberikan gambaran tentang data tentang variabel yang dikumpulkan dari subjek penelitian. Peneliti menggunakan alat ukur LS-45 (Loneliness Scal. yang disusun oleh Wulan Sukmana. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 107 orang. Peneliti menguraikan data demografi subjek penelitian berdasarkan usia dan pekerjaan orang tua mereka yang bekerja di sektor pariwisata. Hasil tersebut bisa dilihat pada tabel 3 dibawah ini: Tabel 1. Data demografi anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata Kategorisasi Usia Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%) 16 tahun 35 Orang 32,71 17 tahun 13 orang 12,15 18 tahun 11 orang 10,28 19 tahun 22 orang 20,56 20 tahun 13 orang 12,15 21 tahun 13 orang 12,15 Laki-laki 49 orang 45,79 Perempuan 58 orang 54,21 Kapal Pesiar 35 orang 32,71 Staff Hotel 19 orang 17,76 Ground Staff Bandara 2 orang 1,86 Chef 11 orang 10,28 Receptionist Hotel 4 orang 3,74 Satpam Hotel 2 orang 1,86 Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Pekerjaan Orang Tua (Bekerja di Bidang Pariwisat. Food and Beverage Konsultan 1 orang 0,93 Bisnis Tour & Travel 1 orang 0,93 Staff Housekeeping 6 orang 5,60 HR Manager Hotel 5 orang 4,67 Pramugari 3 orang 2,80 Barista 3 orang 2,80 Tour Guide 5 orang 4,67 Manager Restaurant 5 orang 4,67 Housekeeping 4 orang 3,74 Spa 1 orang 0,93 Berdasarkan data diatas maka dapat dijelaskan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini adalah remaja tengah yang berusia 16 tahun jumlah sebanyak 35 orang . ,71%). Kemudian, data demografi berdasarkan pekerjaan orang tua di bidang pariwisata dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas pekerjaan orang tua mereka di bidang pariwisata sebagai pegawai di kapal pesiar memiliki persentase sebanyak . ,71%). Persentase terendah dimiliki oleh orang tua yang bekerja sebagai Food and Beverage Konsultan. Spa, dan Bisnis Tour and Travel dengan persentase sebesar . ,93%). Tabel 2. Analisis deskriptif Variabel Mean Loneliness Maksimu Minimum Hasil deskriptif dari 107 subjek yang digunakan untuk data menunjukkan nilai kesepian ratarata 165,14, dengan nilai tertinggi 225 dan nilai terendah 62. Nilai standar deviasi adalah 40,26. Tabel memberikan rincian lebih lanjut tentang analisis deskriptif. Tabel 3. Tingkat kesepian secara umum Kategori Rentang Persentase(%) Sangat Rendah Rendah X O 90 90 < X O 120 3,74 10,28 Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Total 120 < X O 150 150 < X O 180 X 180 < X 27,10 8,41 50,47 Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Gambar 1. Tingkat kesepian secara umum Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata mengalami tingkat kesepian yang sangat tinggi. Hal ini dapat dipahami karena pekerjaan di bidang pariwisata seringkali memerlukan banyak mobilitas dan jadwal kerja yang tidak menentu, sehingga terbatas jumlah waktu yang dapat dihabiskan bersama orang tua dan anak-anak. Anak-anak tanpa orang tua yang dapat mereka ajak berbicara dan bercerita mungkin merasa kesepian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana anak-anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata menggambarkan kesepian. Sebagai hasil garis besar, 107 subjek berada di kategori sangat tinggi dengan persentase 50,47% loneliness, dan 4 subjek berada di kategori sangat rendah dengan persentase 3,74%. Tingkat kesepian ini mayoritas dialami oleh anak yang berusia 16 tahun dengan persentase sebanyak . ,71%) dan juga nilai persentase tertinggi berdasarkan jenis kelamin dimiliki oleh jenis kelamin perempuan dengan persentase . ,21%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek memiliki tingkat loneliness yang berbeda. Skor sangat rendah hingga sangat tinggi menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dalam proses peralihan, tentunya ada banyak kemungkinan situasi yang dapat menyebabkan seseorang merasa kesepian. Beberapa orang mungkin mengalami kesepian meskipun mereka dikelilingi oleh orang lain. Perbedaan dalam tingkat loneliness seseorang dapat disebabkan oleh harapan mereka tentang hubungan sosial yang lebih baik, tetapi perubahan sosial yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mereka. Penelitian ini menemukan bahwa kondisi subjek memiliki hubungan sosial yang bertentangan dengan kemauannya, yang menyebabkan mereka tidak dapat berusaha untuk membangun hubungan sosial yang baik, yang pada akhirnya menyebabkan loneliness. Hal tersebut yang menyebabkan tingkat loneliness menjadi Jika harapan dan keinginan seseorang tidak selaras dengan kenyataan dalam hubungan mereka, dapat disimpulkan bahwa mereka mengalami kesepian. Ini dapat menyebabkan kondisi yang tidak menyenangkan yang disebut kesepian sosial (Ningsih & Setyowati, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,47% subjek mengalami kesepian, dengan perempuan lebih tinggi mengalaminya daripada laki-laki. Penelitian ini menemukan bahwa perempuan lebih sering mengalami kesepian daripada laki-laki karena sebagian besar subjek penelitian tidak memiliki pasangan, sehingga mereka lebih cenderung mengalami kesepian dan rata-rata skor perempuan lebih tinggi dari laki-laki (Fitriana dan Rahmayanti, 2. Ditemukan juga dari perolehan penelitian dimana sebanyak 107 subjek yang memiliki orang tua yang bekerja di bidang pariwisata rata-rata dititipkan di rumah anggota keluarga lainnya bahkan tinggal sendiri di rumah saat kedua orang tua mereka sedang Karena tidak banyak interaksi dan sering menyendiri, orang yang tinggal sendiri cenderung merasa kesepian. Salsabila dan Fatonah . juga mengatakan bahwa orang yang kesepian mengalami perasaan terasingkan, kepedulian orang lain terhadapnya, dan cinta dari orang-orang di sekitarnya. Salah satu aspek kesepian yang dialami orang yang tinggal sendiri adalah kurangnya dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya. Menurut pendapat lain (Ningsih & Setyowati, 2. , orang yang memiliki hubungan sosial yang baik Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 cenderung kurang kesepian. Dalam situasi seperti ini, orang yang kesepian mungkin terjebak dalam lingkaran sosial. Individu ini tidak ramah, tidak mampu berinteraksi dengan orang lain, dan menghadapi banyak masalah. Komponen-komponen ini dapat membuat kehidupan sosial seseorang juga lebih rumit dan kurang bermakna. Menurut Fitriana dan Rahmayanti . , loneliness juga dapat disebabkan oleh perubahan dalam interaksi sosial seseorang dalam hubungan. Jika hubungan sosial seseorang cukup memuaskan untuk mencegah kesepian, hubungan individu mungkin tidak lagi memuaskan karena keinginan individu telah berubah. Untuk persentase gambaran kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan kategori usia terbagi atas 6 kategori yaitu usia 16,17,18,19,20, dan 21. Melalui tabel di atas dapat disimpulkan bahwa anak yang berusia 16 sampai 21 tahun mayoritas gambaran kesepian anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berada pada kategori sangat tinggi. Usia anak yang paling banyak mengalami kesepian adalah usia 16 tahun persentase sebesar 32,71%, sedangkan anak yang paling sedikit mengalami kesepian adalah usia 18 tahun persentase sebesar 10,28%. Tabel 4. Tingkat kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan usia Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah ,14%) ,11%) ,7%) ,75%) ,0%) ,0%) ,71% ,2%) ,8%) ,72%) ,0%) ,15% Kategori Usia ,7%) Total ,0%) ,7%) ,0%) ,0%) ,28%) ,25%) ,11%) ,03%) ,0%) ,44%) ,8%) ,5%) ,56% ,0%) ,8%) ,6%) ,5%) ,15% ,0%) ,8%) ,0%) ,0%) ,15% ,47%) ,41%) ,10%) ,28%) Gambar 2. Tingkat kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan usia. Data analisis terakhir yaitu, tingkat kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan jenis kelamin terbagi menjadi 2 kategori yakni kategori laki - laki dan kategori perempuan. Mayoritas kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan jenis kelamin yakni berada pada Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 kategori sangat tinggi. Anak yang berjenis kelamin perempuan paling dominan mengalami kesepian dibandingkan anak yang berjenis kelamin laki - laki, perempuan dengan persentase sebesar 54,2%, sedangkan laki - laki sebesar 45,79%. Salsabila dan Fatonah . mengatakan bahwa membangun hubungan yang baik dengan setiap anggota keluarga dapat membantu seseorang mengurangi gejala kesepian. Karena hubungan keluarga yang kuat dan interaksi dapat membantu mengurangi perasaan loneliness. Orang yang merasa sendirian mungkin mengalami perasaan bahwa mereka tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, seperti merasa tidak dihargai, ditolak, atau tidak mendapatkan pengakuan dari orang tuanya, yang membuat mereka tidak merasa dekat dengan orang tuanya. Semakin dekat seseorang dengan orang tuanya, semakin sedikit perasaan kesepian mereka (Agriyanti & Rahmasari, 2. Tingkat kesepian yang tinggi pada anak-anak ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan sosial mereka. Anak-anak yang merasa kesepian cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Selain itu, mereka mungkin mengalami masalah emosional seperti depresi dan kecemasan. Tabel 5. Gambaran tingkat kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan jenis kelamin Kategori Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan Sangat Tinggi 19 . ,18%) 35 . ,81%) 54 . ,47%) Tinggi 4 . ,44%) 5 . ,55%) 9 . ,41%) Sedang 18 . ,06%) 11 . ,93%) 29. ,10%) Rendah ,36%) ,63%) ,28%) Sangat 1 . %) 3 . %) 4 . Rendah Jumlah 49 Orang . ,79%) 58 Orang 107 . %) . ,21%) Gambar 3. Tingkat kesepian pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berdasarkan jenis kelamin. Penelitian ini belum sepenuhnya sempurna karena metode pengumpulan data yang digunakan peneliti secara online melalui formulir google form. Akibatnya, penulis tidak dapat memastikan apakah jawaban responden berdasarkan perasaan atau pengalaman Oleh karena itu, diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode pengumpulan data secara langsung untuk memastikan bahwa jawaban responden adalah Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 KESIMPULAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang mengukur tingkat loneliness yang dialami oleh anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata. Setelah peneliti melakukan pengolahan data dengan metode analisis deskriptif, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat loneliness pada anak dengan orang tua yang bekerja di bidang pariwisata berada pada kategori sangat tinggi dengan jumlah persentase sebanyak 50,47%. Mayoritas yang mengalami kesepian adalah anak perempuan dengan persentase sebesar 54,21% yang rata-rata berusia 16 tahun dengan persentase sebanyak 32,71%. Bagi peneliti selanjutnya, mengingat penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan diharapkan peneliti selanjutnya dapat melengkapi kekurangan tersebut dengan subjek yang lebih banyak dan luas lagi terutama pada bidang pekerjaan, mengembangkan penelitian ini dengan variabel lain yang selaras dengan topik penelitian, serta memperkaya penelitian dengan menggunakan metode memperkaya hasil lain untuk UCAPAN TERIMA KASIH Kami selaku peneliti ucapkan terima kasih kepada Universitas Dhyana Pura yang telah memberikan kepercayaan untuk melaksanakan kegiatan penyusunan Artikel Ilmiah di Provinsi Bali. Terima kasih kepada Program Studi Psikologi Universitas Dhyana Pura yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan sehingga dapat berjalan dengan baik serta memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengolah data yang telah diperoleh untuk dikembangkan menjadi artikel ilmiah. Terima kasih kepada Ibu Yashinta Levy Septiarly. Psi. selaku dosen pembimbing dalam pembuatan artikel ilmiah. Yang terakhir kami ucapkan terima kasih kepada adik-adik yang telah memenuhi persyaratan dan membantu peneliti untuk dijadikan sampel. DAFTAR PUSTAKA