GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Lebih Lekat. Lebih Berharga: Peran Parent dan Peer Attachment terhadap Selfesteem Remaja dengan Orang Tua Bercerai di Kabupaten Karawang Kiki Sri Kartika1* . Wina Lova Riza1. Dinda Aisha1 . Universitas Buana Perjuangan. Karawang. Indonesia Abstract The purpose of this research is to knowing an ef f ect of parent and peer attachment of selfesteem. Participants in this research were adolescents with divorced parents aged 13 until 21 years old in Karawang Regency with total of 204 participants, 47 men and 157 women. The sampling uses convenience sampling technique. The data collected tools using the Inventory of Parent and Peer attachment (IPPA) scale and the Rosenberg Self -esteem Scale (RSES) with quantitative methods. Data analysis using multiple regression hypothesis techniques using the SPSS program version 25. 0 f or windows 64-bit. Data analysis shows the signif icance value of regression f rom parents and peer attachment to self -esteem is 0. 000 which means there is an ef f ect of parent and peer attachment on self esteem of adolescents with divorced parents in Karawang Regency . The results of the coef f icient of determination of parent and peer attachment to self -esteem is (R Squar. 117 or 11. 7%, where parent attachment contributes 4. 2% while peer attachment 7. it's mean that peer attachment has a higher ef f ect than parent attachment on the self esteem of adolescents with divorced parents in Karawang Regency. Keywords: Parent Attachment. Peer Attachment. Self -esteem. Adolescents. Divorced Info Artikel Histori Artikel: Dikirim: 2024-05-27 | Diterbitkan: 2024-10-26 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 14. No 3 . Halaman: 625 - 636 (*) Penulis Korespondensi: Kiki Sri Kartika. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Indonesia. Email: Ps20. kikikartika@mhs. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Memiliki keluarga yang harmonis adalah dambaan semua individu karena keluarga adalah lingkungan sosial terdekat sehingga menjadi kesatuan sistem yang selalu berperan penting dalam tumbuh kembang seluruh anggota keluarganya. Keluarga yang harmonis tumbuh dengan rasa saling mengasihi yang kuat, saling pengertian dalam membangun kerja sama Page | 625 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA antara anggota keluarga, cenderung memanf aatkan waktu sebaik mungkin untuk berkomunikasi satu sama lain agar bonding yang tercipta dalam keluarga terasa kuat dan Namun pada f aktanya tidak semua individu bisa beruntung memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan keharmonisan yang terjadi dalam keluarganya, salah satu f aktornya disebabkan oleh adanya perceraian (Azis & Mangestuti, 2. Dariyo . alam Ismiati, 2. mendef inisikan perceraian sebagai peristiwa yang pastinya tidak direncanakan dan diinginkan oleh kedua belah pihak terkait perkawinan. Menurut Matondang . ketika keduanya merasa masalah dalam hub ungan pernikahan tidak bisa diselesaikan dengan baik, maka perceraian dijadikan solusi walau sebetulnya perceraian bukan sebuah akhir dari pernikahan tetap i justru menjadi sebuah musibah yang melanda kedua belah pihak. Jika ditinjau pada data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, angka perceraian di Kabupaten Karawang pada tahun 2021 sebesar 3. 876 kasus, cerai talak sebesar 998 kasus dan cerai gugat sebesar 2. 878 kasus. Lalu pada tahun 2022, angka perceraian di Kabupaten Karawang sebesar 4. 342 kasus, dengan rincian cerai talak 055 kasus dan cerai gugat sebesar 3. 287 kasus. Data terakhir tahun 2023, kasus perceraian di Kabupaten Karawang sebanyak 4. 258, dengan rincian sebanyak 994 cerai talak dan 3. 264 cerai gugat. Dari data di atas, terlihat adanya peningkatan angka perceraian dari tahun 2021 sampai tahun 2023 di Kabupaten Karawang. Penyebab tertinggi dari angka perceraian di Kabupaten Karawang adalah karena perselisihan dan pertengkaran, lalu oleh masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga Perceraian orang tua dapat menghasilkan respon yang berbeda-beda pada setiap individu, akan tetapi respon emosi yang paling kuat terhad ap perceraian akan muncul saat individu memasuki masa remaja karena pada tahapan ini individu sudah mengerti dan memahami apa yang sedang dirasakannya. Ningrum . mengatakan respon terhadap perceraian orang tua juga akan berbeda pada setiap individu tergantung dari bagaimana perilaku orang tua yang diberikan sebelum, selama, dan setelah perceraian. Ketika orang tuanya tetap memberikan perhatian kepada anaknya, hal tersebut akan membantunya untuk mengatasi rasa kehilangan yang dialami di masa sulitnya. Kartono . alam Ningrum, 2. menjelaskan bahwa orang tua memegang peran penting dalam tumbuh kembang anak-anaknya, baik peran dalam segi f isik maupun psikologis sehingga perceraian dapat menjadi salah satu hambatan untuk individu dalam proses tumbuh kembangnya. Perceraian orang tua menjadi hambatan karena dapat menjadi sumber stres signif ikan dan sumber stres psikososial terbesar bagi indi vidu yang mengalaminya akibat kurangnya dalam pemenuhan rasa sayang dan cinta. Dharma . alam Zuraida, 2. menuturkan ketika orang tua bercerai, individu merasa tidak memiliki perlindungan dan rasa nyaman untuk berkembang. Ramdhani dan Krisna . alam Valencia & Soetikno, 2. juga mengatakan bahwa dampak negatif dari perceraian adalah individu merasa tidak aman, menjadi mudah marah, memiliki kepercayaan diri yang rendah dalam bergaul dengan teman sebayanya serta memiliki rasa keberhargaan diri yang rendah. Ramdhani dan Krisna . alam Valencia & Soetikno, 2. menambahkan bahwa dampak-dampak yang dikemukakan sebelumnya merupakan ciri bahwa individu tersebut memiliki self-esteem yang rendah. Rosenberg . alam Cahyanti & Meisyah, 2. mendef inisikan self-esteem sebagai evaluasi positif atau negatif tentang diri sendiri. Rendah atau tingginya self-esteem bukan sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir akan tetapi kepribadian tersebut terbentuk dan berkembang sejak awal kehidupan individu hingga dewasa nanti. Menurut Page | 626 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Feldman dan Elliott . alam Cahyati & Meisyah, 2. perkembangan yang paling kritis dalam pertumbuhan self-esteem seorang individu ada di masa remaja karena pada tahapan ini, berada pada tahap AuIdentity versus Identity ConfusionAy atau dengan kata lain pencarian jati diri. Perkembangan ini terjadi melalui interaksi dengan orang tua, temanteman sebayanya, dan orang lain yang bermakna bagi individu tersebut secara perlahanlahan. Rosenberg . alam Suhana & Hanif ah, 2. menjelaskan bahwa self-esteem memiliki dua aspek penting, yaitu self-competence dan self-liking. Self-competence adalah aspek self-esteem yang mengacu pada bagaimana individu memberikan penghargaan terhadap kemampuannya serta penghargaan atas prestasi-prestasi yang telah dicapainya. Sedangkan self-liking adalah cara pandang individu melihat dirinya sendiri yang berkaitan erat dengan self-image yang meliputi kondisi f isik, sif at maupun kemampuan pribadi. Menurut Rosenberg kedua aspek ini sangat mempengaruhi bagaimana individu tersebut memandang dirinya dan bagaimana berperilaku pada situasi yang tidak seperti biasanya. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner pra-penelitian pada November 2023 yang telah dilakukan peneliti kepada 56 responden remaja dengan orang tua bercerai di Kabupaten Karawang, diperoleh hasil sebanyak 45 orang dengan presentasi 80,3% memiliki perasaan tidak mampu berbuat sebaik orang lain pada umumnya dan sebanyak 37 responden dengan persentase 66% merasa dirinya tidak cukup berharga seperti orang lain, hal itu mencakup aspek self-competence dari self-esteem menurut Rosenberg. Lalu, sebanyak 34 orang dengan persentase 61% tidak bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan sebanyak 30 orang dengan persentase 53,6% merasa tidak cukup puas dengan dirinya, hal itu mencakup aspek self-liking dari self-esteem menurut Rosenberg. Ref nadi . menuturkan bahwa self-esteem seorang individu bisa dilihat dari bagaimana individu tersebut menilai dirinya sendiri dan penilaian itu mempengaruhi perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari. Donnellan . alam Riska & Krisnatuti, 2. mengatakan individu dengan self-esteem rendah akan berhubungan dengan perilaku kriminal dan perilaku antisosial yang pada akhirnya menyebabkan depresi, f rust rasi, bahkan sampai bunuh diri. Sutton . alam Purwandra dkk. , 2. juga menambahkan bahwa salah satu dampak self-esteem rendah pada seorang individu adalah melakukan self-injury . elukai diri sendir. agar bisa mendapatkan perhatian lebih dari orang -orang di Coopersmith . alam Bandi & Soetjiningsih, 2. mengatakan salah satu f aktor yang memengaruhi self-esteem adalah kelekatan dengan keluarga atau orang tua . arent attachmen. karena kedua hal tersebut merupakan sumber bantuan serta dorongan utama dalam membentuk self-esteem seorang individu. Menurut Armsden dan Greenberg . alam Rizal & Febrina, 2. kelekatan orang tua . arent attachmen. adalah suatu ikatan yang bertahan dalam waktu yang tidak sebentar dan memiliki kekuatan yang erat. Menurut Armsden dan Greenberg . alam Kustanto & Khoirunnisa, 2. terdapat tiga aspek dalam parent attachment yaitu komunikasi, kepercayaan, dan keterasingan. Bila aspek kepercayaan dan komunikasi tinggi, serta keterasingan rendah, maka individu memiliki kelekatan yang aman . ecure Namun, bila aspek kepercayaan dan komunikasi rendah, serta keterasingan tinggi, maka individu tersebut memiliki kelekatan tidak aman . nsecure attachmen. Stuart . alam Febristi, 2. menjelaskan bahwa salah satu f aktor lain yang memengaruhi self-esteem selain parent attachment adalah kelekatan terhadap f aktor sosial berupa teman sebaya . eer attachmen. , karena teman sebaya dapat membentuk kepribadian, integritas, kebiasaan bahkan identitas dari individu tersebut. Menurut Ceilindri dan Budiani . alam Ringganis & Damayanti, 2. individu yang tidak memiliki kelekatan aman . dengan orang tuanya berkemungkinan besar mempunyai self-esteem Page | 627 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA yang rendah, sehingga nantinya individu tersebut akan cenderung terikat dengan teman sebaya atau kelompoknya agar bisa diakui dan dikenal di lingkungannya. Aisyah . alam Ringganis & Damayanti, 2. juga mengatakan bahwa cara tersebut bisa memb angun self-esteem remaja menjadi lebih baik karena teman sebaya bisa membantu individu mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi, dapat membuat individu merasa aman, terlindungi, dihargai, dan didukung untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Barrocas . alam Septiningwulan & Dewi, 2. mendef inisikan kelekatan teman sebaya . eer attachmen. sebagai hubungan yang dimiliki seseorang dengan teman sebaya di sekelilingnya lalu menciptakan rasa aman secara psikologis bagi individunya. Sedangkan menurut Armsden dan Greenberg . alam Rizal & Febrina, 2. peer attachment adalah persepsi seseorang tentang bagaimana individu tersebut dan rekannya saling memahami, dapat mengkomunikasikan segala permasalahan dengan baik, saling menghargai, dan saling menciptakan rasa nyaman serta aman antara satu sama lain. Menurut Armsden dan Greenberg . alam Kustanto & Khoirunnisa, 2. terdapat tiga aspek dalam peer attachment yaitu komunikasi, kepercayaan, dan keterasingan. Bila aspek kepercayaan dan komunikasi tinggi, serta keterasingan rendah, maka individu memiliki kelekatan yang aman . ecure attachmen. Namun, bila aspek kepercayaan dan komunikasi rendah, serta keterasingan tinggi, maka ind ividu tersebut memiliki kelekatan tidak aman . nsecure attachmen. Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan di atas didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan Ringganis dan Darmayanti . untuk mengetahui peranan peer-attachment terhadap self-esteem pada santri, hasilnya menunjukkan ada pengaruh yang positif signif ikan. Lalu, penelitian selanjutnya juga dilakukan oleh Meisyah dan Cahyanti . terkait parent attachment terhadap self-esteem pada remaja yang orangtuanya bercerai, diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh parent attachment terhadap self-esteem remaja yang orangtua yang bercerai. Self-esteem yang tinggi pada individu sangat dibutuhkan karena berkaitan erat dengan suasana hati yang baik, bahagia, kepuasan hidup, dapat menjalin relasi yang baik dengan orang sekitarnya, dan memiliki kerja sama tim yang baik. Harapannya, hasil ini dapat bermanf aat bagi pengembangan pengetahuan sehingga dapat dijadikan sebagai sumber ref erensi maupun pengetahuan bagi penelitian berikutnya dalam ruang lingkup lain yang lebih jelas, luas, dan mendalam. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh parent dan peer attachment terhadap self-esteem remaja dengan orang tua bercerai di Karawang. Hipotesis dalam penelitian ini ada tiga, yaitu: pertama, ada pengaruh parent attachment terhadap self-esteem pada remaja dengan orang tua bercerai di Karawang. Kedua, ada pengaruh peer attachment terhadap self-esteem pada remaja dengan orang tua bercerai di Karawang, dan yang ketiga ada pengaruh pengaruh parent attachment dan peer attachment terhadap self-esteem pada remaja dengan orang tua bercerai di Karawang. METODE Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dan data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui penyebaran skala psikologi kepada responden, hal tersebut bertujuan untuk membuat variabel dapat diamati, diukur, dan diklasif ikasikan dengan suatu instrumen yang tetap, baku, serta objektif (Sugiyono, 2. Penelitian ini menggunakan desain kausalitas. Menurut Sugiyono . desain penelitian kausalitas ini Page | 628 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA bertujuan untuk mencari hubungan yang sif atnya kausal . ebab -akiba. Desain penelitian merupakan kerangka kerja yang digunakan sebagai penentu arah atau pemetaan dalam penelitian, hal ini diperlukan dalam penelitian sebagai alur untuk dijadikan pedoman agar penelitian yang dilakukan berjalan sesuai ketentuan yang sudah ada, sehingga tujuan dan hasil dari penelitian sesuai dengan apa yang diharapkan (Sugiyono, 2. Adapun variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah parent attachment (X. , peer attachment (X. , dan self-esteem (Y). Partisipan Remaja dengan orang tua bercerai di Kabupaten Karawang merupakan p opulasi dalam penelitian ini, adapun rentang usia remaja dalam penelitian ini mengacu pada teori Erickson . alam Agustriyana & Suwanto, 2. yaitu usia 13 sampai 21 tahun. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Menurut Sugiyono . alam Novianti & Syarkowi, 2. convenience sampling adalah suatu teknik pengumpulan data berdasarkan keinginan responden untuk mengisi kuesioner. Sementara itu, penentuan jumlah sampel minimal dalam penelitian ini menggunakan rumus Cohen . alam Arikunto, 2. karena jumlah populasinya tidak diketahui secara pasti. Berikut adalah rumus nya: Keterangan: : Jumlah sampel minimal F^2 : Effect size : Banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian : Fungsi Power dari u, diperoleh dari tabel, t. Berdasarkan rumus di atas, diketahui power . = 0. 95 dan effect size . = 0. 1, lalu harga tabel L dengan t. 1% dari power = 0. 95 dan u = 5 adalah 19. Maka n = . 1 5 . = 203. 6 maka dibulatkan menjadi 204. Maka diperolah hasil jumlah sampel minimal yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 204 responden. Instrumen Teknik pengumpulan data menggunakan dua skala psikologi, yaitu: pertama, skala Inventory of Parent and Peer attachment (IPPA) yang diadopsi peneliti dengan mengacu pada tiga aspek menurut Armsden dan Greenberg . alam Rahman dkk. , 2. yaitu komunikasi, kepercayaan, dan keterasingan. Skala IPPA berjumlah 25 aitem untuk parent attachment dan 25 aitem untuk peer attachment dengan contoh aitem sebagai berikut: "saya merasa orang tua saya berhasil menjalankan perannya sebagai orang tuaAy untuk parent attachment dan "saya berharap saya memiliki teman-teman yang berbeda" untuk peer attachment. Kedua skala Rosenberg Self-esteem Scale (RSE) yang diadopsi peneliti dengan mengacu pada dua aspek menurut Rosenberg . alam Maroqi, 2. yaitu selfcompetence dan self-liking. Skala RSE yang digunakan terdiri dari 10 aitem dengan contoh aitem sebagai berikut: "saya sangat merasa tidak berguna sama sekali". Teknik Analisis Data Page | 629 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Analisis data menggunakan uji normalitas, uji linearitas, uji regresi berganda, dan uji koef isien determinasi dengan menggunakan program SPSS versi 25. 0 for windows 64-bit. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut rekap partisipan pada penelitian ini: Tabel 1. Rekap Partisipan Karakteristik Frekuensi Persentase Total Persentase Pendidikan SMP SMA/SMK Gambaran Self-Esteem Rendah Tinggi Gambaran Parent Attachment Tidak Aman Aman Gambaran Peer Attachment Tidak Aman Aman Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 204 responden dengan rincian 47 laki-laki dan 157 perempuan adalah jumlah keseluruhan sampel dalam penelitian ini. Usia responden tertinggi adalah 21 tahun dengan total 53 responden atau setara 26% dan usia responden terendah adalah 14 tahun dengan total 1 responden atau setara 0. Jenjang pendidikan saat ini tertinggi adalah SMA/SMK dengan total 144 responden atau setara 70. 6% dan jenjang pendidikan saat ini terendah ada di D1 dan D2 yang berjumlah masing -masing 1 responden atau setara 0. Hipotesis dalam penelitian menggunakan statistik parametrik. Untuk memakai statistik parametrik ini, data harus berdistribusi normal pada setiap variabel yang dianalisis. Oleh sebabnya, sebelum melakukan uji hipotesis, peneliti perlu memeriksa terlebih dahulu normalitas datanya (Sugiyono, 2. Uji normalitas menggunakan uji kolmogorov-smirnov Page | 630 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA menggunakan bantuan program SPSS versi 25. 0 for windows 64-bit. Data bisa disebut normal jika tingkat asymp. sig lebih besar dari 0. 05 (P>0,. Tabel 2. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametertsa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. 200 c,d Uji normalitas di atas menghasilkan. -taile. 200, dimana 0. 200 > 0. sehingga dapat disimpulkan data di atas berdistribusi normal. Lalu analisis data selanjutnya adalah uji linearitas. Berikut hasil analisisnya: Tabel 3. Uji Linearitas Self-esteem dan Parent attachment SELF-ESTEEM* PARENT ATTACHMENT Between Groups Within Groups Total ANOVA Table Sum of Squares (Combine. Linearity Deviation from Linearity Mean Square Mean Square Sig. Sig. Tabel 4. Uji Linearitas Self-esteem dan Peer attachment SELF-ESTEEM* PARENT ATTACHMENT Between Groups Within Groups Total ANOVA Table Sum of Squares (Combine. Linearity Deviation from Linearity Hasil dari uji linearitas pada tabel 3 dan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa nilai Deviation from Linearity untuk parent attachment terhadap self-esteem adalah 0. sedangkan nilai sig. Deviation from Linearity untuk peer attachment terhadap self-esteem Data dikatakan linear jika sig. Deviation from Linearity > 0. 05 sehingga kesimpulannya variabel-variabel tersebut di atas berhubungan linear. Menurut Sugiyono . uji regresi berganda merupakan suatu instrumen untuk menganalisis data yang memiliki dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan tujuan untuk menyatakan ada atau tidak adanya hubungan f ungsi variabel-variabelnya. Penelitian ini menggunakan dua variabel independen, sehingga harus menggunakan uji parsial . ji T) dan uji simultan . ji F). Pertama, menurut Sugiyono . uji parsial . ji T) digunakan untuk menguji bagaimana pengaruh masing -masing Page | 631 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai sig. < 0. 05, maka dapat dikatakan masing-masing variabel independen tersebut memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Tabel 5. Uji Regresi Berganda Ae Parsial Model (Constan. PARENT ATTACHMENT PEER ATTACHMENT COEFFICIENTSA Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Hasil dari uji T di atas menunjukkan nilai sig. dari parent attachment terhadap selfesteem adalah 0. 023 dan nilai sig. dari peer attachment terhadap self-esteem adalah Kedua variabel independen memiliki nilai sig. < 0. 05 sehingga dapat dikatakan masing-masing variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Kedua. Menurut Sugiyono . uji simultan . ji F) digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen bersamaan. Jika nilai sig. 05, maka dapat dikatakan variabel-variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Tabel 6. Uji Regresi Berganda Ae Simultan Model Regression Residual Total Sum of Squares ANOVAa Mean Square Sig. Hasil dari uji F di atas menunjukkan nilai sig. dari parent attachment dan peer attachment terhadap self-esteem adalah 0. 000 dimana 0. 000 < 0. 05, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel-variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara bersama-sama atau dengan kata lain parent attachment dan peer attachment memiliki pengaruh terhadap self-esteem remaja dengan orang tua bercerai di Kabupaten Karawang. Menurut Abdurrahman . alam Larasati & Gilang, 2. uji koef isien determinasi ini tujuannya untuk mengukur seberapa baik pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Tabel 7. Uji Koef isien Determinasi - Simultan Model MODEL SUMMARY Adjusted R R Square Square Std. Error of the Estimate Hasil menunjukkan parent attachment dan peer attachment terhadap self-esteem 117 dimana (R Square x 100%) = 0. 117 x 100% = 11. Sehingga dapat dikatakan pengaruh parent attachment dan peer attachment secara simultan terhadap selfesteem adalah 11. 7% dan 88. 3% sisanya dipengaruhi oleh f aktor-f aktor lain di luar penelitian ini. Page | 632 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 8. Uji Koef isien Determinasi Ae Parsial Model (Constan. PARENT ATTACHMENT PEER ATTACHMENT COEFFICIENTSA Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Correlations Pearson Sig. 256 ** 306 ** Berdasarkan gambar di atas, parent attachment memiliki skor beta sebesar 0. dan pearson correlations sebesar 0. 256 yang berarti pengaruh parent attachment terhadap self-esteem berkontribusi sebesar 0. 164 x 0. 256 = 0. 042 x 100% = 4. Selanjutnya, diketahui peer attachment memiliki skor beta sebesar 0. 244 dan pearson correlations 306 yang berarti pengaruh peer attachment terhadap self-esteem berkontribusi 244 x 0. 306 = 0. 075 x 100% = 7. Sehingga dapat disimpulkan, dalam penelitian ini variabel peer attachment memiliki pengaruh lebih besar daripada parent attachment terhadap self-esteem remaja dengan orang tua bercerai di Kabupaten Karawang. Menurut Ceilindri dan Budiani . alam Ringganis & Damayanti, 2. individu yang tidak memiliki kelekatan aman . dengan orang tuanya cenderung terikat dengan teman sebaya atau kelompoknya agar bisa diakui dan dikenal di lingkungannya. Remaja membutuhkan teman sebaya untuk menjadi sumber dukungan sosial yang sangat penting dalam membangun konsep diri dan kesejahteraannya sehingga remaja akan membentuk kelekatan yang lebih aman dengan teman sebayanya. Aisyah . alam Ringganis & Damayanti, 2. juga mengatakan bahwa cara tersebut bisa membangun konsep diri remaja menjadi lebih baik karena teman sebaya bisa membantu individu mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi, dapat membuat individu merasa aman, terlindungi, dihargai, dan didukung untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan di atas sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Migena dan Edmond . untuk mengetahui korelasi parent attachment dan peer attachment dengan self-esteem, hasilnya ada korelasi antara parent attachment dan peer attachment dengan self-esteem, akan tetapi hasil penelitian dalam jurnal ini menunjukkan parent attachment dengan self-esteem lebih signif ikan dibandingkan peer attachment terhadap self-esteem. Laumi dan Adiyanti . juga melakukan penelitian untuk mengetahui korelasi kelekatan remaja dengan teman sebaya, ibu, dan ayah dengan struktur keluarga sebagai variabel moderator dengan self-esteem, diperoleh hasil secara positif signif ikan memprediksi self-esteem. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelekatan kepada teman sebaya dan juga ayah menjadi prediktor yang lebih dominan dibanding dengan kelekatan kepada ibu dengan self-esteem remaja karena ayah memiliki dampak lebih besar untuk diri seorang indiv idu dan hubungan sosial diluar keluarganya. Ketika individu memiliki kelekatan yang aman . dengan teman sebaya dan orang tuanya maka cenderung menghasilkan self-esteem yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari bagaimana individu tersebut menilai dirinya seperti memiliki rasa penghargaan diri. Page | 633 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA rasa yakin bahwa dirinya mampu melakukan segala hal dengan baik , serta yakin bahwa kehadirannya bermanf aat di dunia ini tinggi. Sedangkan individu yang memiliki kelekatan tidak aman . dengan orang tua dan teman sebayanya akan menghasilkan selfesteem yang rendah, hal ini dapat dilihat dari bagaimana individu tersebut menilai dirinya cenderung merasa tidak mampu melakukan banyak hal, tidak memiliki keberhargaan diri, tidak berani keluar dari zona nyaman, serta senang dengan hal-hal yang tidak banyak SIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh parent dan peer attachment terhadap self-esteem, dimana dalam penelitian ini variabel peer attachment memiliki pengaruh lebih besar daripada parent attachment terhadap self-esteem remaja dengan orang tua bercerai di Kabupaten Karawang. Individu yang tidak memiliki kelekatan aman . dengan orang tuanya berkemungkinan besar mempunyai self-esteem yang rendah, sehingga nantinya individu tersebut akan cenderung terikat dengan teman sebaya atau kelompoknya agar bisa diakui dan dikenali lingk ungannya. Cara tersebut bisa membangun self-esteem individu menjadi lebih baik karena teman sebaya bisa membantu individu mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi, dapat membuat individu merasa aman, terlindungi, dihargai, dan didukung untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Selain itu, parent attachment dan peer attachment berpengaruh positif terhadap selfesteem, artinya semakin tidak aman kelekatan yang terjalin maka semakin rendah selfesteem yang dimiliki, sebaliknya, semakin aman kelekatan yang terjalin maka semakin tinggi self-esteem yang dimiliki. REFERENSI