AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies P-ISSN: 2622-9897 E-ISSN: 2622-9838 Vol. No. 2, 2025, 135-154 DOI: https://doi. org/10. 58223/al-irfan. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited Abidiyah Kamila Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang 230204210007@student. uin-malang. Hisam Rais Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang 230204210031@student. uin-malang. Fauzan Zenrif Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang zenrif@syariah. uin-malang. Abstract Keywords: Influence Philosophy. Balaghah. Mantiq. Amin al-Khuli The discipline of Arabic rhetoric . alAgha. has a profound interconnection with philosophy, particularly through its reliance on mantiq . , which employs structured language to convey The central problem addressed in this study is the extent to which philosophical thought has shaped the development of balAghah, especially in its methods and analytical frameworks. The aim of this research is to explore the philosophical underpinnings of Arabic rhetoric by examining the contributions of Amin al-Khuli, with a primary reference to his seminal work ManAhij Tajdd f alNauw wa al-BalAghah wa al-Tafsr wa al-Adab. Employing a qualitative library research method, this study gathers and analyzes data from classical texts, scholarly books, and relevant journal The findings reveal three significant points. First, balAghah developed along two major methodological paths: the school of the mutakallimn and the school of the udabA. Second, the integration of philosophy into rhetorical studies unfolded in three stages: the phase of introduction, the phase of translation, and the phase of development and elaboration, particularly from the second Islamic century onward. Amin al-Khuli highlights this historical trajectory, emphasizing the role of early rhetoricians during this era, when philosophical thought had become widely disseminated among AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 Muslim intellectuals. Third, the study demonstrates a strong correlation between philosophy and rhetoric, as both disciplines discuss overlapping concepts such as terminology, propositions, definitions, classifications, and syllogisms, all of which ultimately converge in the field of mantiq. This research contributes to the broader understanding of Arabic rhetoric by showing how philosophical reasoning enriched its theoretical foundations. It also provides new insights into the intellectual legacy of Amin al-Khuli, who reinterpreted balAghah in light of philosophical traditions, thereby shaping modern approaches to Arabic literary and linguistic studies. Abstrak Kata Kunci: Pengaruh Filsafat. Balaghah. Mantiq. Amin al-Khuli Ilmu balaghah memiliki keterkaitan yang erat dengan filsafat, khususnya melalui hubungannya dengan ilmu mantiq . yang menggunakan struktur bahasa dalam penyampaiannya. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah sejauh mana pemikiran filsafat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu balaghah, terutama dalam metode dan kerangka analisisnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dasar-dasar filosofis dalam ilmu balaghah dengan menelaah pemikiran Amin al-Khuli, khususnya melalui karya utamanya ManAhij Tajdd f al-Nauw wa al-BalAghah wa al-Tafsr wa al-Adab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan dan menganalisis data dari teks-teks klasik, buku ilmiah, serta artikel jurnal yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, ilmu balaghah berkembang melalui dua metode besar, yaitu aliran mutakallimn dan aliran udabA. Kedua, masuknya filsafat ke dalam kajian balaghah terjadi melalui tiga fase, yakni fase pengenalan, fase penerjemahan, dan fase pengembangan serta pendalaman, terutama sejak abad ke-2 H. Amin alKhuli menyoroti periode ini karena pada masa tersebut filsafat mulai menyebar luas di kalangan intelektual Muslim. Ketiga, terdapat korelasi yang kuat antara balaghah dan filsafat, yang tampak pada kesamaan pembahasan mengenai istilah, proposisi, definisi, klasifikasi, dan silogisme, di mana semua aspek ini bermuara pada ilmu mantiq. Kontribusi penelitian ini adalah memperkaya pemahaman tentang ilmu balaghah dengan menunjukkan bagaimana filsafat memberikan fondasi teoritis yang penting. Selain itu, penelitian ini menegaskan kembali peran Amin al-Khuli dalam merekonstruksi balaghah melalui perspektif filsafat, sehingga memberikan arah baru bagi kajian kebahasaan dan kesusastraan Arab modern. Received: 16-06-2025. Revised: 07-08-2025. Accepted: 18-08-2025 A Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif 136 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 Pendahuluan Bahasa dan filsafat memiliki relasi atau hubungan yang sangat erat. Fakta menunjukkan bahwa tanpa bahasa, ungkapan dari hasil pikiran dan perenungan Dalam memahamkan konsep-konsep dan problem-problem filsafat, para filsuf menggunakan bahasa sebagai sarana analisis . osisi bahasa adalah sebagai Di dalam filsafat bahasa, realitas tidak secara langsung menjadi fokus kajian, karena fokus utamanya adalah bahasa itu sendiri. Bahasa digunakan sebagai alat untuk membicarakan realitas yang dimaksud, di mana melalui bahasa, kita membahas tentang bahasa itu sendiri. Dari pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa objek material filsafat bahasa adalah bahasa itu sendiri, sedangkan objek formalnya ialah sudut pandang filsafat terhadap suatu bahasa (Wibowo, 2. Ilmu balaghah dikatakan mempengaruhi bahasa Arab dalam aspek kualitasnya, karena pembahasan ilmu balaghah meliputi: ilmu ma'ani . lmu untuk menjaga dari kesalahan dalam berbicar. , ilmu bayan . lmu untuk menjaga dari pembicaraan yang tidak mengarah kepada tujuanny. dan ilmu badi' . lmu untuk memperindah susunan kalima. Oleh karena itu, dengan ilmu nahwu dan ilmu balaghah tersebut, nantinya akan memunculkan suatu kualitas yang jelas di dalam bahasa Arab, yakni: pertama, ilmu nahwu bergerak dalam membentuk susunan kalimat yang baik dan benar. Kedua, ilmu balaghah bergerak dalam hal inti atau keindahan dari susunan kalimat yang baik dan benar yang dibahas oleh ilmu nahwu (Ayubi, 2. Berbeda dengan munculnya aliran sastra klasik di Barat yang merupakan suatu inovasi untuk mengantarkan Barat pada masa modern, aliran sastra klasik di Arab merupakan suatu respon atas modernisasi Arab. Kedatangan Napoleon dan bangsa Prancis ke Mesir menjadi fase awal modernisasi Arab. Mereka mengantarkan peradaban Mesir menjadi lebih modern dan maju, yang salah satunya dapat dilihat dalam bidang kesusastraan. Pada masa modern, kesusastraan Arab mulai mengalami beberapa perubahan baik dari segi isi 137 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 maupun bentuk . Dengan adanya perubahan ini, mendukung lahirnya aliran sastra Arab klasik yang ingin melestarikan kekhasan sastra Arab klasik (Shidiqiyah, 2. Dalam perkembangan keilmuan Arab-Islam, relasi antara bahasa dan filsafat selalu menimbulkan kegelisahan intelektual. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium utama dalam menyampaikan, menganalisis, dan memformulasikan gagasan filosofis. Namun, ketika bahasa diposisikan hanya sebagai instrumen, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana bahasa benarbenar mampu mewadahi kompleksitas ide-ide filsafat yang abstrak? Lebih jauh, filsafat bahasa bahkan menjadikan bahasa sebagai objek kajian itu sendiri, sehingga membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana struktur, makna, dan logika bahasa dapat memengaruhi cara berpikir manusia. Dari sinilah muncul kegelisahan akademik, bahwa tanpa pemahaman mendalam tentang bahasa dan filsafat, analisis terhadap teks-teks Arab klasik maupun modern akan kehilangan ketajaman metodologisnya. Di sisi lain, keberadaan ilmu balaghah yang selama berabad-abad menjadi instrumen penting dalam menjaga keindahan dan ketepatan bahasa Arab, kini Perubahan kesusastraan Arab modern, yang dipengaruhi oleh kontak dengan Barat sejak kedatangan Napoleon ke Mesir, menimbulkan kegelisahan baru: apakah ilmu balaghah masih relevan sebagai fondasi estetika bahasa Arab, atau justru perlu direkonstruksi melalui perspektif filsafat modern? Amin al-Khuli, misalnya, menyoroti pentingnya pembaharuan balaghah dengan basis filsafat, agar tidak terjebak dalam kejumudan klasik. Dari titik inilah penelitian ini berangkat, mencoba menjawab kegelisahan bahwa balaghah bukan hanya persoalan gaya bahasa, melainkan juga persoalan filosofis yang menyangkut cara berpikir, mengolah makna, dan mengonstruksi wacana dalam tradisi keilmuan Arab. Studi hubungan antara filsafat dan balaghah sudah banyak dilakukan oleh kalangan akademisi. Beberapa di antara kajian hubungan filsafat dan balaghah adalah hasil kajian oleh Firstiyana Romadlon Ash Shidiqiyah 138 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 (Shidiqiyah, 2. Lalu Abdurrahman Wahid (Wahid, 2. Qois Azizah Bin Has dan Muhammad Zaky SyaAobani (Has & SyaAobani, 2. Abd Aziz dan M. Imam Sofwan Yahya (A. Aziz & Yahya, 2. Sampiril Taurus Tamaji (Tamaji, 2. , dan Muhbib Abdul Wahab (Wahab, 2. , di mana beberapa artikel tersebut menjelaskan bahwa filsafat dan balaghah memiliki hubungan yang erat, terutama dalam konteks bahasa Arab. Filsafat dianggap sebagai "induk" atau "ibu" ilmu pengetahuan, yang tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan khusus, termasuk bahasa Arab. Bahasa Arab bukan hanya mengandung aspek linguistik, tetapi juga aspek filosofis, sehingga terdapat keterkaitan erat antara filsafat dan bahasa Arab baik dari aspek ontologis, epistemologis, maupun Selain itu, dalam pembelajaran rumpun bahasa Arab, ilmu balaghah memiliki keterkaitan dengan ilmu filsafat, terutama ilmu logika . lmu manti. , karena menggunakan struktur kalimat dalam mengungkapkannya (Ayubi. Akan tetapi pembahasan yang berhubungan dengan perspektif Amin alKhuli tentang filsafat dan balaghah belum mendapatkan banyak perhatian dari para ahli. Kebanyakan dari mereka hanya mengkaji pemikiran Amin al-Khuli terkait tafsir sastra yang menjadi gagasan fenomenal dari tokoh ini. Salah satu penelitian terkait pendekatan kritik sastra oleh Amin al-Khuli, dapat dilihat dalam artikel berjudul AuAmin Al-Khuli. Pendekatan Kritik Sastra Terhadap AlQuranAy (Rahman, 2. Selain itu, juga dapat dilihat dalam artikel dengan judul AuDekontruksi Pendekatan Kritik Sastra Terhadap Al-Quran Perspektif Amin AlKhuliAy, yang membahas tentang metode penafsiran sastra dengan tujuan agar bisa mendapatkan makna al-QurAoan secara keseluruhan dan agar terhindar dari pikiran subjektif penafsir, baik dari segi ideologis maupun politis (Mofid & Hamdy, 2. Beberapa artikel lainnya yang memiliki kajian yang senada dengan dua artikel sebelumnya adalah: AuAmin Al-Khuli dan Metode Tafsir Sastrawi atas Al-QurAoanAy (Ramadhani, 2. AuHermeneutika dan Linguistik Perspektif Metode Tafsir Sastra Amin Al-KhuliAy (Aminullah, 2. , dan AuMetode Persilangan Al-QurAoan dengan Sastra oleh Amin Al-KhuliAy (Ghufron, 2. 139 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 Metode Artikel ini akan mengkaji hubungan antara filsafat dan balaghah perspektif Amin al-Khuli dengan menggunakan pendekatan library research. Penelitian kepustakaan atau library research ialah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data dari berbagai sumber informasi yang ada di perpustakaan. Sumber informasi yang dimaksud dapat berupa buku referensi, penelitian sebelumnya yang sejenis, artikel, catatan, serta berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang ingin dikaji (Sari & Asmendri, 2. Sumber utama dalam penelitian ini adalah kitab karya Amin al-Khuli berjudul AuManahij Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al-AdabAy. Sedangkan yang menjadi sumber pendukung dalam penelitian ini adalah artikel-artikel sebelumnya yang sejenis. Kegiatan penelitian ini dilakukan secara sistematis dengan tujuan agar peneliti dapat mengumpulkan, mengolah, serta menyimpulkan data yang didapat dengan menggunakan metode/teknik tertentu untuk mencari jawaban atas permasalahan yang hendak dikaji (Sari & Asmendri, 2. Pembahasan dan Diskusi Filsafat dan Perkembangan Balaghah Pada masa perkembangan balaghah, terdapat peran kuat filsafat yang Dominasi filsafat dalam balaghah sifatnya meluas, sebagaimana meluasnya studi filsafat pada masa kedatangannya di tanah Arab . bad ke-2 H). Maka dari itu, pembahasan ini mengarah ke berbagai aspek pengaruh filsafat terhadap balaghah. Salah satu pengaruh filsafat yaitu terjadinya dualisme golongan ahli balaghah. Terdapat dua thariqah . yang mana setiap golongan mempunyai ciri khas masing-masing. Dua golongan tersebut yaitu golongan mutakallimin . hli kala. dan golongan al-adbaAo. Golongan mutakallimin cenderung ke ranah filsafat sedangkan golongan al-adbaAo mengedepankan unsur-unsur keindahan dari pada kebenaran susunan bahasa (Al-Khuli, 2. 140 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 Golongan mutakallimin dibedakan berdasarkan tokoh-tokoh ilmu kalam, di mana tokoh-tokoh ini memiliki fokus kajian yang berbeda-beda. Di antara fokus kajian yang dimaksud antara lain: dialektika, argumentasi, strukturisasi lafadz, kebenaran definisi, dasar-dasar yang sudah ditetapkan, kekurangan argumentasi sastra, dan aplikasi silogisme filsafat. Kajian-kajian tersebut merupakan kajian yang terdapat dalam ilmu mantiq, di mana keseluruhannya mengesampingkan aspek keindahan dan meniadakan penggunakan kalimatkalimat yang menyentuh. Golongan mutakallimin ini termuat dalam buku karya Qudamah JaAofar Naqd as-SyiAoir. Dalam kecenderungan filsafat dijelaskan oleh Qudamah bin JaAofar pada bab madh . pada tokoh Yunani Plato Eudaimonisme . uatu pandangan hidup yang mendasarkan aktivitas kepada suatu tujuan yaitu kebahagiaa. (Al-Khuli, 2. Plato menggagas unsur-unsur yang menjadikan seseorang dipuji antara lain bijaksana, tahu diri, keberanian dan adil. Oleh karena itu, syair-syair yang mengandung pujian akan dinilai benar atau salah berdasarkan empat unsur tersebut. Apabila tidak terdapat salah satu dari empat unsur ini, maka syair tersebut dipandang salah. Selain pembahasan tentang empat unsur tersebut, terdapat pula pembahasan tentang kombinasi dan lawan dari empat unsur tersebut yang digunakan untuk syair hinaan. Demikian pengaruh filsafat Yunani terhadap ideologi bahasa golongan mutakallimin (AlKhuli, 2. Golongan al-adbaAo adalah golongan kedua dalam pembahasan ini. Pengelompokannya berdasarkan ahli bahasa, yaitu argumentasi sastra yang Adapun kajian yang didalami golongan ini antara lain terkait definisi . aAori. , struktur atau kaidah bahasa . awaAoi. , dan klasifikasi . Ciri khas golongan ini dalam mengkritik sebuah sastra adalah dengan penggunaan aspek rasa dan keindahan. Aspek ini lebih dikedepankan dari pada aspek kebenaran logika dan aspek dasar filsafat. Salah satu tokoh dari golongan al-adbaAo yaitu Abu Hilal al-AoAskari. Dalam bukunya yang berjudul AuShonaAoatainiAy, terdapat satu kritik yang didasari dengan sepuluh argumentasi dari al-QurAoan, hadis, karya 141 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 Arab . yaAoir dan pros. dan menggunakan kritik dari aspek perasaan sebagai tolak ukur bagus tidaknya suatu syair. Al-AoAskari menjelaskan, bagus tidaknya suatu kalimat dapat dilihat dari lantunan intonasi dan susunan katanya. Apabila suatu kalimat tersusun dari kata-kata yang teratur dan memiliki arti yang mudah dimengerti, maka menurut Al-AoAskari kalimat tersebut tidak mempuyai unsur keindahan (Al-Khuli, 2. Pembahasan Amin al-Khuli terfokus kepada golongan pertama, yaitu golongan mutakallimin yang mengandalkan rasio dalam sastra. Menurut golongan ini, pembahasan terkait ketuhanan dan alam dapat digali kebenarannya melalui akal. Penalaran berdasarkan akal inilah yang menjadi faktor kuat mengapa mutakallimin begitu expert dalam mempelajari filsafat dan mengadopsikannya ke dalam ranah kajian mereka. Secara genealogis, ilmu kalam tidak lahir begitu saja bersamaan dengan awal kemunculan Islam. Terdapat benih-benih teologis yang sudah tertanam sebelumnya dalam masyarakat Arab dan non-Arab. Hal tersebut dapat ditelusuri melalui aktivitas keagamaan dalam hal argumentasi kebenaran adanya Tuhan dengan mengaitkannya kepada kinerja alam dan relasi-relasi yang dibangun ketika Masyarakat Arab pra-Islam khususnya Yahudi dan Nasrani, sudah mengenal diskursus yang berkenaan dengan eksistensi Tuhan dan alam. Pembahasan ini memantik nalar pikir akan aspek ontologi dan epistemologi demi menyelaraskan akal dan wahyu yang sifatnya kepercayaan. Diskusi tentang ketuhanan dan penciptaan alam ini berlanjut hingga datangnya agama Islam. Pada titik ini dapat diketahui bahwa modal-modal berfikir falsafi telah terbentuk sejak lama meskipun pada saat itu masih belum ada kajian khusus yang kemudian disebut ilmu filsafat, sebagai ilmu dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencari kebenaran akan suatu hakikat (Pamil, 2. Penerjemahan literatur-literatur Yunani pada saat Dinasti Abbasiyah, seolah memberikan angin segar bagi perkembangan pemikiran dalam dunia Islam, di mana di dalamnya termasuk kajian terkait filsafat. Pada 142 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 masa ini, diskursus filsafat dinilai sangat berkembang pesat karena ia dapat masuk ke ranah sastra Arab (Asrina, 2. Pengaruh Filsafat terhadap Balaghah dalam Perspektif Amin al-Khuli Dalam kajian ini, pembahasan lebih lanjut mengenai pengaruh filsafat terhadap balaghah akan dipaparkan dengan analisis terhadap karya para tokoh balaghah dalam kurun waktu lima abad, yakni abad ke-2 sampai abad ke-7 H. Terhadap karya-karya tersebut, dilakukan observasi untuk mendapati unsurunsur filsafat yang diaplikasikan di dalamnya. Pada pembahasan ketokohan berdasarkan karya-karyanya, filsafat akan dijadikan sebagai tolak ukur atas kecenderungan karya-karya yang oleh Al-Khuli dikategorikan sebagai karyakarya yang mengandung unsur filsafat. Filsafat yang dimaksud adalah filsafat kebahasaan, khususnya filsafat Yunani yang diterjemahkan dalam bahasa Arab (Al-Khuli, 2. Proses penerjemahan filsafat terbagi atas 3 tahapan: tahap pertama dilakukan pada masa Dinasti Umayyah oleh Khalifah al-Manshur . H), tahap kedua pada masa Dinasti Abbasiyah oleh Harun al-Rasyid . H), dan tahap ketiga penerjemahan besar-besaran terjadi pada masa Khalifah al-MaAomun . H). Sebelum proses penerjemahan, umat Islam sudah mengenal filsafat melalui dialektika antara kaum muslim dengan kaum Zoroaster. Nashrani dan Yahudi yang telah terlebih dahulu mengenal filsafat. Dilihat dari alurnya, pengenalan filsafat terbagi atas 3 fase, yakni fase pengenalan, fase penerjemahan, serta fase pengembangan dan pendalaman yang terjadi pada abad ke-2 H (Purwanto. Oleh karena itu. Amin al-Khuli menyoroti ahli balaghah pada awal abad ke-2 H dan abad-abad selanjutnya, karena pada masa ini filsafat dinilai sudah menyebar luas di kalangan para pemikir muslim. Kajian filsafat yang digunakan sebagai patokan, berkonsentrasi pada filsafat Yunani karya Aristoteles dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hasil terjemahan yang berisikan filsafat logika sistematik ini, dalam Islam dikenalkan dengan istilah ilmu mantiq. Ilmu mantiq inilah yang kemudian 143 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 akan digunakan sebagai tolak ukur terhadap karya-karya ahli balaghah, lebih tepatnya ilmu mantiq yang diserap dari karya Aristoteles yang berjudul AuOrganonAy . arya Aristoteles yang membicarakan logika sebagai ilm. (Ismail & Azhar, 2. Dalam AuOrganonAy karya Aristoteles, terangkum pembahasanpembahasan terkait konsep logika dasar, yakni sebagai berikut: Pertama, kategori . yang membahas klasifikasi kata dalam kalimat berdasarkan kedudukannya yang terdiri dari sepuluh kategori, yaitu: subtansi, kuantitas, kualitas, relasi, aktifitas, pasivitas, waktu, tempat, situasi dan Apabila diaplikasikan dalam sebuah kalimat, maka akan seperti pada contoh berikut ini: AuSeorang intelektual sebagai dosen UIN Maliki, sekarang sedang duduk mengajarkan ilmu di kelasAy. Pada kalimat tersebut, penempatan kedudukannya adalah sebagai berikut: AuseorangAy berkedudukan sebagai kuantitas. AuintelektualAy berkedudukan sebagai kualitas. AudosenAy berkedudukan sebagai status. AuUIN MalikiAy berkedudukan sebagai relasi. AusekarangAy berkedudukan sebagai waktu. AududukAy berkedudukan sebagai situasi. AumengajarkanAy berkedudukan sebagai aktivitas. AuilmuAy berkedudukan sebagai pasivitas, dan Audi kelasAy berkedudukan sebagai tempat (Purwanto, 2. Kedua, interpretasi yang membahas mengenai bahasa dari segi proporsi dalam ilmu mantiq yang diidentifikasi sebagai A COAdan bagian-bagiannya. Ketiga, prior analytics yang membahas tentang silogisme (A)COA. Penarikan kesimpulan pada prior analytics ini berdasarkan pada premis-premis mayor dan minor, yakni dari khusus ke umum . Keempat, posterior analytics yang membahas tentang kaidah-kaidah pembuktian (A)EEA. Kelima, topics yang membahas tentang kaidah-kaidah dialektika atau debat (A)EA, yang berisi pedoman-pedoman berdiskusi yang diperkuat dengan argumentasi. Kelima, on sophistical refutations yang membahas mengenai kekeliruan kalangan sofis beserta solusinya. Apabila ditarik kesimpulan, secara garis besar AuOrganonAy membahas aspek bahasa yang meliputi pengertian atau definisi (A)AOA, silogisme (A )COAdan proporsi atau kalimat (A)COA. Dalam runtutannya. Aristoteles mengurutkan aspek-aspek ini berdasarkan atas kepentingannya. Oleh karena 144 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 AuOrganonAy yang diadopsi sastra Arab sebagai ilmu mantiq, pantas menjadi tolak ukur kecenderungan suatu sastra terhadap filsafat (Purwanto, 2. Pengaruh filsafat terhadap balaghah mulai terlihat pada abad ke-2 H, yang dijelaskan oleh Amin al-Khuli sebagai pengaruh yang kuat. Pada masa ini, terdapat ahli balaghah dari golongan mutakallimin, seperti Abu Usman Amr bin Bahr al-Jahiz dengan karyanya berjudul AuAl-Bayan wa al-TabyinAy (Al-Khuli. Dalam kitab tersebut, terdapat pembahasan mengenai beberapa hal seperti kebenaran dalam klasifikasi dan pemilihan retorika bahasa. Dalam hal klasifikasi, al-Jahiz mengklasifikasikan kajian Al-Bayan dengan kajian makna leksikal (A)EEAA, makna isyarat (A)uA, makna tulisan (A)EA, makna konvensi (A)ECA dan makna keadaan (A( )EEAMuAoizzuddin, 2. Sampai sini dapat ditengarai bentuk pengelompokannya berdasarkan definisi, seperti kaidah dalam ilmu Empat klasifikasi makna menurut al-Jahiz ini, secara garis besar digolongkan menjadi tiga poin berdasarkan sumber ekspresi. Ketiga hal tersebut yaitu lisan, bahasa tubuh dan hati berupa keyakinan yang timbul dari aktifitas fikiran (Badawi, 1. Setelah al-Jahiz, tokoh yang disebut oleh al-Khuli yaitu Qudamah bin JaAofar dengan karyanya berjudul AuNaqdu al-SyiAoriAy yang berisi tentang kritikan syaAoir. Sebelum Qudamah, al-Khuli mengutarakan bahwasanya Abu Hilal al-AoAskari . H) yang mendeklarasikan diri tidak ikut serta dalam kelompok mutakallimin, mendapati pertentangan yang (A)AIOIA kaidah-kaidah Al-Khuli berpendapat bahwasanya al-AoAskari telah masuk ke zona golongan mutakallimin dan telah menggunakan kaidah-kaidah mereka. Seperti pernyataannya, bahwa fungsi balaghah adalah untuk istidlal (A )COAatas iAojaz al-QurAoan dan menjadikan iAojaz sebagai perkara rasionalitas, bukan taqlid. Al-Khuli juga menunjukan keterikutan al-AoAskari kepada Qudamah dalam aspek empat keutamaan Eudaimonisme saat memuji (Al-Khuli, 2. Dengan demikian, maka al-AoAskari tidak lulus dalam kalangan sastra karena tidak selamat dari pengaruh kalangan mutakallimin, seperti pada contoh berikut ini: 145 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 a a a Au a aI Ea aCOeIa aOA AEI aE a aI aIA a a aIA e AIA AacO aEa Ea e a aII aO aII aN eIA AuGelora peperangan telah memisahkan kami dan mereka ketika kami bertemu, sedang orang-orang yang damai itu menjadi gemukAy Jumlah murakkab di atas memiliki pengertian untuk berusaha sebisa mungkin tidak mengadakan perang. Hal ini ditengarai dengan dua premis yang dapat menguak makna dibalik susunan kalimat berikut: premis pertama yaitu peperangan memisahkan kami dan mereka, dan premis kedua yaitu orang yang Untuk sesungguhnya dari kalimat tersebut, maka digunakan istidlal . atau silogisme atau qiyas . Pada premis pertama, dapat diartikan bahwa peperangan dapat memisahkan suatu pertemuan . uatu hubungan bai. Pada premis kedua, dapat diartikan bahwa dampak positif jika dalam keadaan damai . idak berperan. adalah badan menjadi gemuk. Kata gemuk di sini memiliki makna majazi, yang berarti sejahtera. Dari dua premis tersebut, dapat ditemui dua alasan. Alasan pertama, rusaknya simbiosis mutualisme karena perang, dan alasan kedua, kesejahteraan dan rasa damai hanya bagi orang-orang yang tidak Kedua alasan ini menyimpulkan bahwasanya menghindari peperangan dapat menyebabkan kebahagiaan (Gani & Arsyad, 2. Pada contoh tersebut, walaupun yang dimaksud oleh al-AoAskari adalah dalam kasus al-iltifat . , yang berarti memalingkan wajah untuk tidak menjawab ketika yang mendengar syaAoir bertanya akan maksud dan maknanya, akan tetapi uslub . atau qadhiyah . di atas tidak terlepas dari segi ilmu mantiq, yaitu istidlal dalam prosesi penyimpulan menggunakan premis. Tashdiq . , yaitu pemahaman terhadap kenyataan kenisbatan suatu kata atau kalimat. Aspek ini terdapat pada keterangan Auorang-orang yang damai menjadi gemukAy, yang menyatakan suatu kenyataan jika orang hidupnya damai maka metabolisme tubuh menjadi baik dan energi tidak terforsir dalam fikiran sehingga dapat mensuplai untuk kebugaran jasmani. Tashawwur terdapat pada 146 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 kata gemuk yang memiliki arti sejahtera, di mana dalam balaghah diidentifikasikan sebagai majaz istiAoari . eminjam kata gemuk untuk mengartikan kesejahteraa. (Aziz, 2. Pengaruh Ilmu Mantiq dalam Diskursus Balaghah Selain empat keutamaan yang telah diterangkan di atas, berikut pandangan lain Qudamah bin JaAofar. Pertama, pendefinisian puisi pada Dalam definisinya, ia berusaha memakai rasio untuk menyatakan semua unsur-unsurnya mempunyai kelainan akan tetapi dalam satu kesatuan. Ia menyebutkan dengan definisinya AuAAyuIN COE IOOI ICAO OE EO IIOA, yaitu ucapan ber-wazan dalam bentuk syair yang mempunyai makna. Ia menjelaskan bahwa A COEAmenyatakan asal ungkapan, yaitu berupa jenis yang mencakup puisi dan nonpuisi. A IOOIAmengkategorikan puisi sebagai kalam yang mempunyai wazan. Menimbang kalam terbagi dua jenis yaitu ber-wazan dan tidak ber-wazan. AICOA mendefinisikan puisi hanya pada kalam yang mempunyai sajak atau penggalanpenggalan. A OE EO EIIOApuisi sebagai kalam yang mempunyai makna. Dengan ini. Qudamah memberi pagar terhadap puisi, yaitu kata, bentuk, sajak dan makna. Secara sistematis. Qudamah bin JaAofar telah mendefinisikan sesuatu yang dalam bahasa mantiq disebut dengan tashawwur . erm atau konseps. (Asrina, 2. Menurut Ahmad Amin, berdasarkan dua karya Qudamah bin JaAofar, ia dianggap sebagai pioner atas masuknya ilmu mantiq ke dalam ranah diskursus Karya-karyanya telah membuat puisi-puisi Arab menjadi tidak jumud karena diwarnai oleh logika Aristoteles, sehingga puisi-puisi dapat dikenal melalui alur rasionalitas. Ahmad Amin mengemukakan bahwa jasa Qudamah bin JaAofar adalah dengan mendefinisikan puisi dan penjelasan aspek keindahan atau penjelasan mengenai kejelekannya. Berbeda dengan Ahmad Amin, kritik negatif dilontarkan oleh Muhammad Mandur. Ia berpendapat bahwasanya Qudamah dengan ilmu mantiqnya telah mendistorsi puisi dari segi keindahan, yang pada dasarnya segi keindahan tersebut sebagai hakikat dari sebuah puisi. Selain itu. Muhammad Mandur juga berpendapat, apabila Qudamah tidak 147 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 mengenal filsafat maka puisi akan mempunyai pengertian berupa aplikasi dari definisi-definisi yang berpatokan pada pernyataan-pernyataan (Asrina, 2. Setelah Qudamah bin JaAofar, al-Khuli menyebut tokoh lainnya, yakni Abdul Qahir al-Jurjani . H). Amin al-Khuli mensifati al-Jurjani sebagai penengah antara dua golongan, yaitu antara golongan mutakallimin dan golongan sastra yang mengandalkan keindahan. Dengan pembahasannya yang terkadang mencerminkan golongan mutakallimin dan mendapati dirinya mencerminkan kalangan sastra sebagai penyair sekaligus kritikus aspek Keterikatan al-Jurjani kepada mantiq dapat ditemukan dalam karyanya yang berjudul AuDalail al-IAojazAy. Dalam karya tersebut, al-Jurjani banyak mengulas qadhiyatu al-iAojaz . roporsi iAoja. dalam al-QurAoan dan argumentasiargumentasi yang logis. Di sini tidak diragukan lagi bahwa isi dari AuDalail alIAojazAy adalah qadhiyyah . atau proporsi iAojaz secara menyeluruh. Adapun karyanya yang kedua adalah AuAsraru al-BalaghahAy. Dalam karyanya ini, alJurjani mencerminkan dirinya sebagai sastrawan. Al-Jurjani tidak membahas qhadiyah iAojaz sama sekali, tidak terdapat ushlub mantiqiy, dan nihilnya al-istidlal atau argumentasi-argumentasi untuk penarikan benang merah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada ikatan antara mantiq dan balaghah dalam karyanya yang berjudul AuAsraru al-BalaghahAy ini. Hal yang dominan dalam karya tersebut adalah aspek keindahan dan rasa (Al-Khuli. Pemikiran Qudamah bin JaAofar dan al-Jurjani menunjukkan dialektika menarik antara rasionalitas dan estetika dalam tradisi balaghah Arab. Qudamah dengan pengaruh mantiq mencoba merumuskan definisi puisi secara sistematis melalui unsur kata, bentuk, sajak, dan makna, yang menurut Ahmad Amin menjadi pintu masuk filsafat Aristoteles dalam kritik sastra Arab. Namun, kritik Mandur menegaskan bahwa pendekatan tersebut berisiko mengurangi esensi keindahan puisi. Di sisi lain, al-Jurjani tampil sebagai penengah: dalam DalAAoil al-IAojAz ia dekat dengan mantiq melalui analisis argumentatif terhadap iAojaz alQurAoan, sementara dalam AsrAr al-BalAghah ia lebih menekankan pada 148 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 keindahan dan rasa bahasa. Dialektika ini memperlihatkan bahwa perjalanan balaghah Arab tidak pernah lepas dari tarik-ulur antara logika dan estetika, yang justru memperkaya khazanah kritik sastra Islam klasik. Filsafat dan Cakupan Diskursus Balaghah Pada sub-bab ini. Amin al-Khuli ingin menunjukkan bahwa pengaruh filsafat terhadap balaghah semakin kuat dari pada sebelumnya. Al-Khuli menyebutkan bahwa pembahasan sebelumnya merupakan tahap mengenalkan jejak ilmu mantiq pada saat awal mula pertumbuhan balaghah. Dalam sub-bab ini, akan didapati interelasi yang lebih kuat antara keduanya. Interelasi tersebut berupa cakupan, zona atau ranah pembahasan balaghah yang disandarkan kepada ilmu mantiq (Al-Khuli, 2. As-Sakaki dengan nama lengkap Sirajuddin bin Abu Ya'qub Yusuf bin Abu Bakar Muhammad bin Ali Ya'qub Al- Sakaki Al-Khawarizmi Al-Hanafi . H) dengan karyanya berjudul AuMiftahu al-UlumAy, membahas mantiq dalam hal istidlal dan al-had. Selain membahas aspek mantiq, as-Sakaki bertolak ukur terhadap epistemologi dalam mendapatkan suatu pengetahuan. Bagi as-Sakaki, dari rasionalisme, empirisme dan intuisi dapat diketahui suatu makna atau Secara aksiologis, hasil dari pembacaan, kitab AuMiftahu al-UlumAy terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu, antara lain sharf, nahwu, bayan, maAoani, badiAo, mantiq, syiAoir, fashahah, arud dan qafiyah. Rangkuman disiplin ilmu inilah yang dibutuhkan untuk mempelajari sastra Arab (Lintang, 2. Tidak heran mengapa Amin al-Khuli menyebut interelasi keduanya lebih erat pada abad ke5 H ini, karena mantiq secara utuh digunakan dalam sastra. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya, di mana terkadang hanya beberapa kaidah mantiqiyyah yang digunakan. Selain as-Sakaki, terdapat ahli balaghah bernama Zainuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Amru at-Tanukhi dengan kitab karyanya yang berjudul AuAqsha al-Qarib fi Ilmi al-BayanAy. Dalam kitabnya tersebut, at-Tanukhi mengibaratkan kaidah-kaidah mantiq dalam qadhiyyah dan 149 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 berbagai macamnya merupakan aspek yang harus didahulukan. Dalam pendahuluannya, at-Tanukhi menyampaikan perkara awal yang harus diketahui, didalami dan diwajibkan terlebih dahulu, yaitu kaidah-kaidah mantiq dan pemaknaan atribut sastra Arab. Setelah pendahuluannya tersebut, masuk ke ranah kajian tentang ilmu, pembagian ilmu, proporsi atau kalimat beserta macam-macamnya. Sampai sini dapat dimengerti bahwa posisi filsafat dalam balaghah lebih efektif dari pada kedudukan mantiq yang ada pada as-Sakaki (AlKhuli, 2. Pada pemaparan ini tampak jelas bahwa filsafat, khususnya ilmu mantiq, menempati posisi yang semakin sentral dalam perkembangan balaghah. AsSakaki melalui MiftAu al-AoUlm berhasil memadukan mantiq dengan berbagai disiplin ilmu bahasa dan sastra, sehingga balaghah tidak lagi hanya berurusan dengan keindahan ungkapan, tetapi juga landasan epistemologis dalam memahami pengetahuan. Sementara itu, at-Tanukhi dalam AqshA al-Qarb f AoIlmi al-BayAn menekankan bahwa kaidah mantiq adalah fondasi utama sebelum memasuki kajian sastra, menandai pergeseran yang lebih jauh dibandingkan AsSakaki. Perkembangan ini mendukung analisis Amin al-Khuli bahwa pada abad ke-5 H interelasi antara mantiq dan balaghah semakin erat dan sistematis, menjadikan filsafat bukan sekadar pelengkap, melainkan kerangka metodologis dalam kritik dan teori sastra Arab. Kesimpulan Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan beberapa hal: pertama, terdapat dua thariqah . dalam balaghah, yaitu golongan mutakallimin dan golongan al-adbaAo. Golongan mutakallimin cenderung ke ranah filsafat sedangkan golongan al-adbaAo mengedepankan unsur-unsur keindahan dari pada kebenaran susunan bahasa. Kedua, sebelum proses penerjemahan, umat Islam sudah mengenal filsafat melalui dialektika antara kaum muslim dengan kaum Zoroaster. Nasrani dan Yahudi yang telah terlebih dahulu mengenal filsafat. Dilihat dari alurnya, pengenalan filsafat terbagi atas 3 fase, yakni fase pengenalan, fase penerjemahan, serta fase pengembangan dan pendalaman yang 150 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 terjadi pada abad ke-2 H. Oleh karena itu. Amin al-Khuli menyoroti ahli balaghah pada awal abad ke-2 H dan abad-abad selanjutnya, karena pada masa ini filsafat dinilai sudah menyebar luas di kalangan para pemikir muslim. Ketiga, balaghah dan filsafat memiliki korelasi yang sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa pembahasan yang sama, yakni tentang term, proporsi, pengertian, klasifikasi, dan silogisme di mana aspek-aspek ini juga dibicarakan dalam filsafat yang bermuara pada ilmu mantiq. Ucapan Terima Kasih Para penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang atas dukungan akademik serta lingkungan yang kondusif sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada rekanrekan sejawat dan para pembimbing yang telah memberikan masukan berharga serta kritik konstruktif selama proses penulisan artikel ini. Akhirnya, penulis juga berterima kasih kepada keluarga dan sahabat atas doa dan dorongan yang tiada henti sepanjang penyusunan penelitian ini. Pernyataan Kontribusi Penulis AK berkontribusi dalam pengumpulan data, penyusunan kajian literatur, serta penulisan draf awal artikel. HR berperan dalam analisis kritis terhadap data, pengembangan kerangka konseptual, serta penyempurnaan argumen MFZ memberikan kontribusi dalam supervisi akademik, peninjauan metodologis, serta penyuntingan akhir naskah untuk memastikan kelayakan Ketiga penulis bekerja sama secara aktif dalam setiap tahap penelitian dan penyusunan artikel, serta menyetujui versi final yang diajukan untuk publikasi. 151 | Abidiyah Kamila. Hisam Rais. Fauzan Zenrif. The Intersection of Philosophy and BalAghah: Amin al-KhuliAos Perspective Revisited AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 2, 2025, 135-154 References