PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. November - Januari e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Pengaruh Ownership Structures dan Sustainability Reporting terhadap Earnings Management Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI 2020Ae2024 Radilla Andini1*. Salma Taqwa2 Email korespondensi : radillaandini2002@gmail. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia1*,2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh struktur kepemilikan dan pelaporan keberlanjutan terhadap manajemen laba. Struktur kepemilikan diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu kepemilikan manajerial, konsentrasi kepemilikan, kepemilikan negara, dan kepemilikan asing. Pelaporan keberlanjutan diukur menggunakan standar Global Reporting Initiative (GRI). Penelitian ini berlandaskan pada teori keagenan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kausal dengan pendekatan kuantitatif, dan teknik purposive sampling menghasilkan 115 observasi firm-year dari perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020Ae2024. Analisis data dilakukan dengan regresi panel menggunakan Random Effect Model, diolah menggunakan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial, konsentrasi kepemilikan, kepemilikan asing, serta pelaporan keberlanjutan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Namun, kepemilikan negara terbukti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba. Secara teoritis, temuan ini memperkuat pemahaman mengenai keterbatasan mekanisme pengendalian keagenan pada struktur kepemilikan yang kompleks. Bukti empiris mengenai pengaruh signifikan kepemilikan negara menunjukkan bahwa intervensi pemerintah tidak selalu mampu menekan praktik oportunistik, sehingga memperluas perspektif dalam kajian teori agensi. Selain itu, pengukuran pelaporan keberlanjutan berbasis GRI mengindikasikan bahwa pelaporan keberlanjutan belum sepenuhnya efektif dalam menekan praktik manajemen Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi regulator untuk meningkatkan kualitas tata kelola dan efektivitas pengawasan pada perusahaan berkepemilikan negara. Bagi investor, hasil ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menilai risiko manipulasi laporan keuangan. Bagi perusahaan, temuan ini menegaskan pentingnya transparansi, penguatan mekanisme pengawasan internal, serta penerapan pelaporan keberlanjutan yang lebih bermakna. Kata kunci: Konsentrasi kepemilikan. Manajemen laba. Kepemilikan asing. Kepemilikan Struktur kepemilikan. Kepemilikan negara. Pelaporan keberlanjutan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Dalam konteks dunia usaha, perusahaan berfungsi sebagai entitas penggerak utama dalam menjalankan aktivitas bisnis yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan secara Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut, setiap perusahaan memerlukan proses akuntansi dalam menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan dokumen yang menyajikan informasi nyata tentang kinerja keuangan entitas dalam pospos tertentu. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen, laporan ini juga menjadi dasar penilaian risiko dan pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan (Muniggar, 2. Salah satu indikator utama yang digunakan dalam Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 120 laporan keuangan untuk menilai kinerja manajemen adalah laba (Amin Raya et al. , 2. Laba merupakan indikator utama untuk menilai dan mengevaluasi kinerja operasional perusahaan. Semakin besar laba yang dihasilkan, semakin baik kinerja yang tercermin (Selvina, 2. Bagi pemangku kepentingan, informasi laba bersih memiliki nilai penting karena digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dan memprediksi arus kas di masa depan (Dechow et al. , 1. Namun, kegunaan informasi ini sangat bergantung pada kualitas pelaporan laba itu sendiri (Ball & Shivakumar, 2. Dalam praktiknya, fleksibilitas dalam standar akuntansi memberi ruang bagi manajemen untuk menyajikan informasi keuangan yang relevan dan andal. Salah satu bentuk penyalahgunaan fleksibilitas yaitu tindakan manipulatif yang dilakukan oleh manajemen untuk memperindah laporan keuangan demi menciptakan citra kinerja yang lebih baik dari kondisi sebenarnya kerap menyimpang dari prinsip akuntansi yang berlaku dan dikenal sebagai praktik earning management (Nirawati et al. , 2. Earnings management merupakan tindakan manipulasi laporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu, baik secara legal melalui estimasi akrual maupun dengan cara yang tidak etis (Healy & Wahlen, 1. Scott . mendefinisikan earning management sebagai keputusan manajerial dalam memilih metode akuntansi atau tindakan tertentu untuk memengaruhi informasi laba demi mencapai target yang diinginkan. Pada sistem akuntansi berbasis akrual, manajemen memiliki fleksibilitas dalam mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan dan beban. Fleksibilitas ini dapat dimanfaatkan untuk mengelola laba melalui earning management discretionary accruals (Sulistyanto, 2. , sehingga laporan laba rugi dapat disusun agar tampak lebih menguntungkan di mata pengguna laporan keuangan. Oleh sebab itu, isu earning management telah menjadi perhatian akademik dan praktis selama dua dekade terakhir. Penelitian terhadap faktorfaktor yang mendorong munculnya earning management menjadi semakin penting dalam menjaga kredibilitas sistem pelaporan keuangan. Dalam teori agensi yang diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling . , dijelaskan bahwa praktik dapat muncul akibat adanya perbedaan kepentingan antara principal dan agent, yang memicu terjadinya konflik keagenan. Konflik ini memberikan peluang bagi manajer untuk mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri, termasuk melalui tindakan earning management (Hendrastuti, 2. Dengan demikian, ownership structure dan sustainability reporting menjadi dua mekanisme kontrol yang relevan untuk mereduksi konflik tersebut. Praktik earning management pada dasarnya tidak selalu bertentangan dengan IFRS. Namun demikian, praktik tersebut dapat menurunkan tingkat kepercayaan para pengguna laporan keuangan karena dianggap mengaburkan transparansi dan tidak mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya (Healy & Wahlen, 1. Salah satu kasus paling dikenal terjadi pada Enron di awal tahun 2000-an, yang mencatat pendapatan dari kontrak jangka panjang melalui metode mark-to-market accounting, meskipun laba belum direalisasikan, sehingga menyesatkan para pemangku kepentingan (Camfferman & Wielhouwer, 2. Skandal ini menjadi titik balik reformasi akuntansi global termasuk di Indonesia melalui penguatan standar SAK berbasis IFRS, pengawasan OJK, serta kebijakan transparansi laporan keuangan. Namun, meskipun regulasi diperketat, praktik earnings management tetap ditemukan. Salah satu kasus terbaru terjadi pada PT Timah Tbk (TINS) yang diduga merekayasa laporan keuangan untuk menutupi kebocoran akibat korupsi sekitar Rp300 triliun (Tempo, 2025. Rahmawati, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 121 Perusahaan pertambangan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, namun kerentanan terhadap manipulasi laporan keuangan juga tinggi akibat fluktuasi pendapatan dan tingginya tekanan kinerja (Wau et al. , 2024. BPS, 2023. Kementerian ESDM, 2. Kondisi ini menyebabkan perusahaan pertambangan rentan terhadap earning management. Fenomena tersebut menegaskan perlunya penelitian yang lebih spesifik untuk memahami pola earnings management pada sektor pertambangan, terutama ketika ditemukan nilai-nilai akrual ekstrem seperti dalam data tahun 2020Ae2024. Fenomena earning management pada perusahaan pertambangan dapat dilihat pada data berikut: Tabel 1 Earnings Management Perusahaan Sektor Tambang Tahun 2020Ae2024 0,52 0,92 ADRO ANTM BYAN PTBA 0,58 1,01 13,86 0,40 1,15 0,32 1,62 0,51 0,70 Sumber: Data Diolah, 2025 Earnings Management 20,00 Axis Title 15,00 10,00 5,00 - ,00 . ADRO 13,86 ANTM 0,52 0,58 0,40 0,32 0,51 BYAN 0,92 1,01 1,15 1,62 0,70 PTBA Gambar 1 Earnings Management Perusahaan Sektor Tambang Tahun 2020Ae2024 Sumber: Data Diolah, 2025 Berdasarkan data nilai earning management . anajemen lab. perusahaan tambang periode 2020Ae2024, terlihat bahwa masing-masing perusahaan menunjukkan pola fluktuasi yang signifikan dari tahun ke tahun. ADRO memiliki nilai ekstrem pada tahun 2022 sebesar 13,86, diikuti penurunan tajam menjadi negatif di 2023 (Oe12,. , yang mengindikasikan adanya potensi praktik earning management besar akibat perubahan kebijakan akuntansi atau kondisi keuangan tertentu. ANTM memperlihatkan nilai yang relatif stabil di kisaran 0,32Ae0,57, menunjukkan bahwa perusahaan ini cenderung memiliki praktik manajemen laba yang rendah dan lebih konsisten. BYAN mengalami peningkatan hingga tahun 2023 . sebelum menurun di 2024 . , yang menandakan adanya upaya pengelolaan laba untuk menstabilkan kinerja keuangan. Sementara itu. PTBA secara konsisten menunjukkan nilai negatif selama lima tahun berturut-turut, yang bisa diartikan perusahaan lebih konservatif dalam pengakuan laba atau bahkan melakukan penurunan laba . ncome decreasin. Ownership structure dan sustainability reporting menjadi mekanisme penting dalam menekan earnings management. Ownership structure merupakan bagian dari tata kelola yang dapat menyelaraskan kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 122 sehingga mengurangi dorongan manipulatif (Agustin, 2. Di sisi lain, sustainability reporting meningkatkan transparansi non-keuangan yang menekan peluang manajemen untuk menyembunyikan tindakan oportunistik (Rahmawati et al. , 2. Penelitian Nguyen et al. , mengklasifikasikan ownership structure menjadi dua bentuk utama yang efektif dalam menekan praktik earnings management. Pertama, kepemilikan internal, di mana manajer juga berperan sebagai pemegang saham signifikan, dapat menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham sehingga mengurangi konflik keagenan. Kedua, kepemilikan eksternal oleh pihak luar dengan porsi saham yang besar meningkatkan kekuatan pengawasan terhadap manajemen, khususnya terhadap pelaporan keuangan, sehingga menurunkan peluang terjadinya manipulasi laba. Berdasarkan keempat bentuk kepemilikan memiliki peran penting dalam memengaruhi tingkat praktik earnings management, dimana ownership concentration dan managerial ownership menunjukkan sejauh mana pihak dalam memiliki kendali atas pelaporan keuangan. Semakin terkonsentrasi kepemilikan, kecenderungan manipulasi laba meningkat, sedangkan semakin besar kepemilikan manajerial, praktik manajemen laba cenderung menurun. Sementara itu, state ownership dan foreign ownership menggambarkan pengaruh pihak luar terhadap transparansi pelaporan, di mana state ownership sering mendorong manajemen laba karena kepentingan politik dan akuntabilitas yang lemah, sedangkan foreign ownership justru menekan praktik tersebut melalui peningkatan pengawasan dan tuntutan terhadap kualitas informasi keuangan (Nguyen et al. Dengan demikian, ownership structure tersebut menunjukkan bagaimana mekanisme pengendalian internal dan eksternal dapat memengaruhi kecenderungan manajemen laba melalui perbedaan tingkat pengawasan dan transparansi pelaporan keuangan. Prinsip transparansi inilah yang kemudian menjadi landasan bagi praktik sustainability reporting. Sustainability reporting berdasarkan GRI Standards adalah proses pengukuran, pengungkapan, dan pelaporan kinerja organisasi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, baik secara internal maupun eksternal. Di Indonesia, meskipun belum sepenuhnya menjadi kewajiban bagi semua perusahaan, banyak perusahaan telah secara sukarela mengadopsi sustainability reporting sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap keberlanjutan, seperti perusahaan pertambangan. (Nurhasanah et al. , 2022. Aurelya & Syofyan, 2. Pengungkapan keberlanjutan yang lebih tinggi meningkatkan akuntabilitas dan membatasi ruang gerak manipulasi laba. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji keterkaitan antara ownership structure dan sustainability reporting menunjukkan hasil yang beragam terhadap praktik earnings management. Nguyen et al. menemukan bahwa ownership concentration dan state ownership berpengaruh positif terhadap manipulasi laba, sedangkan managerial ownership dan foreign ownership memiliki pengaruh negatif yang signifikan. Namun. Tran dan Dang . melaporkan bahwa foreign ownership justru meningkatkan praktik manipulasi laba, dan state ownership menunjukkan hasil yang tidak konsisten. AlDuais et al. memperkuat pengaruh negatif foreign ownership terhadap real earnings management, sementara managerial ownership tidak signifikan. Di Indonesia. Banani . menemukan managerial ownership berpengaruh positif terhadap manipulasi laba. Temuan lain dari Al-Matari . menunjukkan bahwa foreign ownership konsisten menurunkan earnings management, meskipun pengaruh state ownership masih lemah. Selain itu, sustainability reporting terbukti menekan manipulasi laba dalam beberapa Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 123 studi (Masmoudi & Ben Salem, 2024. Olagunju et al. , 2023. Alodat et al. , 2. , baik dalam bentuk akrual maupun riil. Sustainability reporting juga dapat memoderasi hubungan antara ownership structure dan earnings management (Al-Matari, 2. Namun. Karina et . menemukan bahwa pengaruh ini tidak signifikan di sektor perbankan Asia Tenggara. Minimnya penelitian di Indonesia yang mengintegrasikan kedua variabel ini dalam sektor spesifik seperti pertambangan menegaskan perlunya studi lanjutan yang lebih kontekstual. Oleh sebab itu, dibutuhkan studi yang lebih fokus dan relevan dalam konteks domestik. Meskipun telah banyak penelitian yang membahas earnings management dari perspektif ownership structure maupun sustainability reporting, masih terdapat celah penelitian yang perlu diisi. Pertama, masih relatif terbatas studi yang secara komprehensif menguji keempat bentuk kepemilikan, yaitu manajerial, konsentrasi kepemilikan, negara, dan asing dalam satu model terintegrasi terhadap earnings management, khususnya dalam konteks pasar Indonesia. Kedua, belum ada kajian empiris yang secara bersamaan menguji keempat komponen ownership structure bersama dengan sustainability reporting sebagai variabel independen terhadap praktik earnings management, khususnya di Indonesia. Ketiga, sektor pertambangan sebagai salah satu sektor yang rawan manipulasi akuntansi, belum menjadi fokus utama dalam penelitian terdahulu di Indonesia periode 2020Ae2024. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan sesuai dengan karakteristik pasar dan perusahaan di Indonesia. Studi ini diharapkan mampu menjawab kekurangan-kekurangan konseptual dan metodologis dalam literatur sebelumnya serta memberikan bukti empiris yang relevan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh ownership structure, yang terdiri dari kepemilikan manajerial . anagerial ownershi. , konsentrasi kepemilikan . oncentration ownershi. , kepemilikan negara . tate ownershi. dan asing . oreign ownershi. , serta sustainability reporting berbasis Sustainability Report Disclosure Index (SRDI) terhadap earnings management. Penelitian dilakukan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020Ae 2024, dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dan teknik purposive Secara akademik, penelitian ini diharapkan dapat memperluas cakupan literatur terkait hubungan antara tata kelola perusahaan, transparansi pelaporan, dan kualitas informasi akuntansi. Berdasarkan seluruh uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa praktik earnings management masih menjadi isu sentral dalam akuntansi dan tata kelola Ownership structure yang kompleks dan pelaporan keberlanjutan yang belum optimal berkontribusi terhadap tingkat manipulasi informasi keuangan. Dalam konteks perusahaan pertambangan yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi namun sarat dengan risiko tata kelola, penting untuk mengevaluasi mekanisme pengawasan yang Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi empiris dan praktis melalui pendekatan yang menyeluruh dan berbasis data yang valid. Dengan kerangka teori agensi, serta pengukuran variabel menggunakan metode yang terstandarisasi, penelitian ini akan memperkaya pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi integritas laporan keuangan. Oleh karena itu, penelitian ini mengangkat judul: AuPengaruh Ownership Structure dan Sustainability Reporting Terhadap Earnings Management Perusahaan Pertambangan Terdaftar di BEI Tahun 2020Ae2. Ay Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 124 Metodologi Penelitian Penelitian ini adalah jenis penelitian kausal yang mengeksplorasi hubungan antara Penelitian kausal bertujuan untuk melihat hubungan sebab-akibat antara variabel yang diteliti (Sekaran & Bougie, 2. Studi ini mencoba membuktikan bahwa variabel dependen dipengaruhi oleh perubahan pada variabel independen secara langsung atau tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang dibangun berdasarkan teori keagenan. Metode kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menganalisis data numerik, yang memungkinkan peneliti melakukan uji statistik untuk menguji hipotesis Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2020-2024. Jumlah populasinya adalah 83 perusahaan selama periode pengamatan. Sampel penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan karakteristik tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria yang digunakan mencakup perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2020-2024, memiliki laporan tahunan beserta data keuangan lengkap, serta memiliki sustainability report lengkap selama periode tersebut. Tabel 2 Kriteria Pengambilan Sampel Kriteria Jumlah Perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2020-2024 Perusahaan pertambangan yang tidak memiliki laporan tahunan . nnual repor. dan data keuangan lengkap berturut-turut dari tahun 2020-2024 Perusahaan pertambangan yang tidak memiliki laporan keberlanjutan . ustainability repor. lengkap berturut-turut dari tahun . Jumlah Perusahaan yang digunakan dalam penelitian Periode Penelitian . Total Sampel Berdasarkan kriteria tersebut, terdapat 23 perusahaan yang memenuhi syarat sebagai sampel penelitian selama lima tahun periode observasi, sehingga total data penelitian berjumlah 115 observasi. Daftar perusahaan yang menjadi sampel penelitian disajikan sebagai berikut: Tabel 3 Daftar Perusahaan Sampel Penelitian Nama Perusahaan Kode Alamtri Resources Indonesia Tbk ADRO Aneka Tambang Tbk ANTM Bayan Resources Tbk. BYAN Bukit Asam Tbk. PTBA Buma International Group DOID BUMI Resources Minerals Tbk BRMS Bumi Resources Tbk. BUMI Darma Henwa Tbk DEWA Elnusa Tbk ELSA Gunung Raja Paksi Tbk GGRP IMS Pelita Logistik Tbk PSSI Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 125 Indika Energy Tbk. INDY Indo Tambangraya Megah Tbk. ITMG Medco Energi Internasional Tbk. MEDC Merdeka Copper Gold Tbk. MDKA Mitrabahtera Segera Sejati Tbk. MBSS Petrosea Tbk PTRO Samindo Resources Tbk MYOH ISSP Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (PT SPINDO) TBS Energi Utama Tbk TOBA Timah (Perser. Tbk TINS Vale Indonesia Tbk INCO Wilton Makmur Indonesia SQMI Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder, yaitu laporan tahunan . nnual repor. , laporan keberlanjutan . ustainability repor. , dan publikasi resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan mengunduh laporan yang telah dipublikasikan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah earnings management yang diproyeksikan dengan discretionary accruals (DA). Pengukuran earning management menggunakan Modified Jones Model (Dechow et al. , 1. Nilai total accruals dihitung dari selisih laba bersih dan arus kas operasi, kemudian diestimasi melalui model regresi Ordinary Least Squares (OLS) untuk memperoleh nondiscretionary accruals (NDAC). Selisih antara total accruals dan nondiscretionary accruals menghasilkan discretionary accruals (DAC) yang menjadi indikator earnings management. Variabel independen terdiri dari managerial ownership, concentration ownership, state ownership, foreign ownership, dan sustainability reporting. Managerial ownership diukur berdasarkan persentase saham yang dimiliki manajer dan direksi. Concentration ownership diukur berdasarkan persentase kepemilikan terbesar . inimal 5%). State ownership diukur dari proporsi kepemilikan pemerintah dalam perusahaan, sedangkan foreign ownership dari persentase saham yang dimiliki oleh investor asing. Sustainability reporting diukur berdasarkan Sustainability Report Disclosure Index (SRDI) yang disusun menggunakan standar Global Reporting Initiative (GRI) yang mencakup tiga kategori utama pelaporan, yaitu: GRI 200 . inerja ekonom. GRI 300 . inerja lingkunga. , dan GRI 400 . inerja sosia. Penilaian dilakukan dengan skoring binner, skor total dihitung dengan menjumlahkan seluruh item yang diungkapkan kemudian dibagi dengan jumlah total indicator GRI yang relevan yaitu sebanyak 96 indikator . indikator ekonomi, 35 lingkungan dan 44 sosia. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, serta uji statistik model . ji F, uji t, dan koefisien Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik yang relevan untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh ownership structure dan sustainability reporting terhadap earnings management. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini berfokus pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020Ae2024. Sektor pertambangan dipilih karena memiliki Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 126 kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus berisiko tinggi terhadap praktik manipulasi akuntansi akibat fluktuasi harga komoditas dan tekanan dari pemangku Sampel penelitian terdiri dari 23 perusahaan pertambangan yang memenuhi kriteria kelengkapan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan selama 5 tahun pengamatan, dengan total 115 observasi data. Hasil Analisis Deskripsi Variabel Penelitian Earning Management Berdasarkan hasil analisis variabel Earnings Management periode 2020Ae2024, terlihat adanya fluktuasi nilai minimum, maksimum, dan rata-rata setiap tahunnya. Pada tahun 2020, nilai minimum sebesar . ,2. , maksimum 0,9158, dan rata-rata . ,2. , menunjukkan kecenderungan perusahaan menurunkan laba yang dilaporkan sebagai strategi konservatif. Tahun 2021 menunjukkan pola serupa dengan nilai minimum . ,1. , maksimum 1,0134, dan rata-rata . ,2. Pada 2022 terjadi lonjakan ekstrem dengan nilai 057,4812, minimum . ,0. , dan rata-rata 46,5424 akibat adanya outlier perusahaan yang mencatat kenaikan laba sangat tinggi. Tahun 2023 kembali menunjukkan rata-rata negatif . ,1. dengan nilai minimum . ,8. dan maksimum 1,6201, mencerminkan penurunan laba signifikan di beberapa perusahaan. Sementara itu, pada 2024 kondisi mulai stabil dengan nilai minimum . ,2. , maksimum 0,8656, dan ratarata . ,1. , menandakan bahwa praktik manajemen laba mulai terkendali dan tidak lagi menunjukkan pola ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya. Managerial Ownership Berdasarkan hasil analisis variabel managerial ownership pada tahun 2020Ae2024 menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan manajerial di perusahaan sampel secara umum masih rendah. Nilai minimum setiap tahun berada pada angka 0. 0000 yang berarti terdapat perusahaan tanpa kepemilikan saham oleh manajemen sama sekali. Nilai maksimum konsisten sebesar 0. 7642, mengindikasikan bahwa perusahaan dengan kepemilikan manajerial tertinggi tidak mengalami perubahan sepanjang periode Rata-rata kepemilikan manajerial berada pada kisaran 0. 0756 hingga 0. dan cenderung stabil, yang menunjukkan bahwa secara umum proporsi saham yang dimiliki manajemen relatif kecil dan tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Concentration Ownership Berdasarkan hasil analisis variabel concentration ownership saham periode 2020Ae2024, terlihat adanya kecenderungan penurunan tingkat konsentrasi kepemilikan dari tahun ke Pada 2020, nilai minimum sebesar 0,1746, maksimum 0,9900, dan rata-rata 0,5118 menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan masih memiliki struktur kepemilikan yang cukup terkonsentrasi. Tahun 2021 terjadi sedikit penurunan dengan nilai rata-rata 0,5014, mengindikasikan kepemilikan mulai lebih merata. Tahun 2022 nilai minimum turun drastis menjadi 0,0008 dengan rata-rata 0,5042, menunjukkan adanya perusahaan dengan kepemilikan sangat tersebar namun secara umum masih stabil. Pada 2023, rata-rata menurun menjadi 0,4979 dengan nilai minimum 0,0007, mencerminkan semakin meluasnya distribusi kepemilikan saham. Tren ini berlanjut pada 2024 dengan nilai minimum 0,0007, maksimum 0,9900, dan rata-rata 0,4913, yang menandakan bahwa struktur kepemilikan saham semakin terdiversifikasi dan dominasi pemegang saham mayoritas mulai berkurang. State Ownership Berdasarkan hasil analisis variable state ownership periode 2020Ae2024, terlihat bahwa Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 127 nilai minimum selama lima tahun berturut-turut sebesar 0,0000, menandakan adanya perusahaan yang sepenuhnya tanpa kepemilikan negara. Nilai maksimum bervariasi dari 0,8443 pada 2020Ae2021, meningkat menjadi 0,8909 di 2022, lalu sedikit menurun menjadi 0,8791 pada 2023 dan 0,8809 pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa perusahaan memiliki porsi kepemilikan pemerintah yang cukup besar, bahkan lebih dari Rata-rata kepemilikan negara juga berfluktuasi, yaitu 0,1394 pada 2020, 0,1346 di 2021, meningkat ke 0,1772 pada 2022, kemudian menurun kembali menjadi 0,1332 di 2023 dan 0,1361 di 2024. Pola ini menggambarkan bahwa meskipun pemerintah masih memiliki peran penting pada sejumlah perusahaan strategis, secara umum tingkat kepemilikan negara relatif rendah dan cenderung stabil dengan peningkatan peran investor swasta dalam struktur kepemilikan perusahaan. Foreign Ownership Berdasarkan hasil analisis variabel foreign ownership periode 2020Ae2024, nilai minimum secara konsisten sebesar 0,0000, menunjukkan adanya perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh investor domestik tanpa keterlibatan modal asing. Nilai maksimum mengalami sedikit penurunan dari 0,8999 pada 2020 menjadi 0,8073 pada 2023, kemudian naik tipis ke 0,8217 di 2024, menandakan bahwa meskipun sebagian perusahaan masih didominasi investor asing, proporsinya cenderung menurun. Rata-rata kepemilikan asing relatif stabil, yakni 0,2228 pada 2020, 0,2249 di 2022, kemudian menurun menjadi 0,2125 di 2023 dan 0,2173 pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum tingkat kepemilikan asing di perusahaan Indonesia berada pada kisaran moderat sekitar 20Ae22%, dengan tren yang stabil namun belum menunjukkan peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Sustainability Reporting Berdasarkan hasil analisis variabel Sustainability periode 2020Ae2024, nilai minimum secara konsisten sebesar 0,0000 menunjukkan masih adanya perusahaan yang belum melaksanakan atau melaporkan aktivitas keberlanjutan. Nilai maksimum meningkat dari 0,6271 pada 2020 menjadi 0,7625 di 2021, dan mencapai 0,9917 sejak 2022 hingga 2024, menandakan semakin banyak perusahaan yang telah menerapkan praktik keberlanjutan secara menyeluruh. Nilai rata-rata juga menunjukkan tren positif dari 0,2927 pada 2020 menjadi 0,6736 di 2024, mencerminkan meningkatnya kesadaran dan komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut, penerapan pelaporan keberlanjutan di perusahaanperusahaan Indonesia terus meningkat seiring dengan dorongan regulasi, tuntutan investor, dan perhatian publik terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Deskripsi Hasil Analisis Deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan menggunakan software SPSS versi 26. Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai karakteristik data dalam penelitian. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti dapat mengetahui nilai-nilai seperti rata-rata . , nilai maksimum . , nilai minimum . , standar deviasi . tandard deviatio. , skewness, dan median dari masing-masing variabel yang diteliti. Tabel 4 Hasil Statistik Deskriptif Minimum Maximum Std. Deviation Managerial Consentrasi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 128 State Foreign Sustainability Earnins Management Statistik Deskriptif adalah pengelolaan data untuk tujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi (Sujarweni, 2. Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada tabel tersebut, dapat dijelaskan karakteristik masing-masing variabel sebagai berikut. Pada variabel managerial ownership menunjukkan nilai minimum 0 hingga maksimum 0,764 dengan standar deviasi 0,0796, menunjukkan bahwa persebaran datanya rendah dan sebagian besar perusahaan sampel hampir tidak memberikan porsi kepemilikan saham kepada manajemen. Variabel concentration ownership memiliki nilai minimum 0,00065 hingga 0,99 dengan standar deviasi 0,5013. Hal ini menunjukkan adanya variasi besar antara perusahaan yang kepemilikan sahamnya tersebar dan perusahaan yang didominasi oleh pemegang saham Variabel state ownership memiliki rentang nilai 0 hingga 0,8909 dengan standar deviasi 0,1441, yang mengindikasikan bahwa hanya sebagian kecil perusahaan pertambangan yang memiliki kepemilikan oleh negara, namun proporsinya cukup konsisten pada perusahaan yang memang terafiliasi dengan Variabel foreign ownership memiliki nilai minimum 0 hingga maksimum 0,8998 dengan standar deviasi 0,2202, menunjukkan variasi moderat kepemilikan asing di perusahaan sampel. Variabel sustainability reporting menunjukkan nilai minimum 0 hingga maksimum 0,9917 dengan standar deviasi 0,4938, mengindikasikan variasi tinggi dalam tingkat pengungkapan keberlanjutan antar perusahaan sampel. Variabel earnings management memiliki nilai minimum Ae12,8877 hingga maksimum 1057,48 dengan standar deviasi 8,9404. Rentang nilai yang sangat luas ini menunjukkan adanya perusahaan yang memiliki akrual sangat tinggi, yang dapat mengindikasikan potensi praktik manajemen laba yang agresif pada sebagian kecil perusahaan. Gambar 2 Hasil Uji Normal P-Plot of Regression Standardized Residual Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 129 Tabel 5 Uji Normalitas KolmogorovAeSmirnov Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean Most Extreme Differences Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c Berdasarkan uji KolmogorovAeSmirnov, model memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga residual dinyatakan berdistribusi normal. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Tabel 6 Hasil Uji Multikolinearitas Tolerance VIF Managerial Consentrasi State Foreign Sustainability Hasil pengujian menunjukkan seluruh variabel independen memiliki nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Nilai VIF berada antara 1,180 hingga 1,413, yang berarti tidak ada masalah multikolinearitas dan variabel independen layak digunakan dalam model. Gambar 3 Hasil Uji Heterokedastisitas Berdasarkan scatterplot, penyebaran titik residual terlihat acak dan tidak membentuk pola mengerucut maupun melebar. Dengan kondisi tersebut, model dinyatakan tidak mengalami heteroskedastisitas, sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Tabel 7 Hasil Uji Autokorelasi Model R Square Durbin-Watson Sig. F Change Model regresi juga dinyatakan tidak mengalami autokorelasi, yang ditunjukkan dari hasil uji durbinAewatson pada tabel, sehingga residual antardata tidak saling berkorelasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 130 Tabel 8 Uji Regresi Linear Berganda Model (Constan. Managerial Consentrasi State Foreign Sustainability Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Berdasarkan hasil regresi linear berganda pada tabel tersebut menunjukkan model persamaan regresi sebagai berikut: Konstanta sebesar 2. 533 dengan nilai signifikansi 0. menunjukkan bahwa konstanta tidak signifikan secara statistik karena nilai Sig. jauh di atas 0,05. Artinya, ketika seluruh variabel independen bernilai nol, nilai variabel dependen diprediksi sebesar 2. 533 namun prediksi ini tidak signifikan. Variabel managerial ownership memiliki koefisien Ae6. 602 dengan nilai signifikansi 0. yang berarti pengaruhnya tidak signifikan dan tidak terbukti memberikan kontribusi dalam memengaruhi variabel dependen. Variabel concentration ownership menunjukkan koefisien positif 37. 987 dengan nilai signifikansi 0. Meskipun arahnya positif, pengaruhnya tidak signifikan secara statistik. Variabel state ownership menunjukkan koefisien signifikan sebesar 83. 173 dengan nilai signifikansi 0. 025, yang berarti variabel ini berpengaruh signifikan terhadap peningkatan variabel dependen. Variabel foreign ownership memiliki koefisien Ae14. 603 dengan nilai signifikansi 0. 689, menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak signifikan. Variabel sustainability reporting menunjukkan koefisien Ae 283 dengan nilai signifikansi 0. 192, sehingga dinyatakan tidak berpengaruh signifikan. Uji simultan (Uji F) digunakan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen dalam model Uji ini menilai kelayakan model secara keseluruhan dalam menjelaskan variabilitas variabel terikat. Hasil pengujian simultan dalam penelitian ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 9 Hasil Uji F Statistik ANOVAa Model Sum of Squares Mean Square 1 Regression Residual Total Dependent Variable: Earning_Manajemen Predictors: (Constan. Sustainability. State. Consentrasi. Foreign. Managerial Sumber: Hasil olah data output SPSS 26 Sig. Berdasarkan hasil uji F, nilai F sebesar 2,216 dengan signifikansi 0,058 menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan tidak signifikan pada tingkat signifikansi 5 persen. Meskipun nilai ini mendekati ambang 0,05, hasil tersebut tetap mengindikasikan bahwa variabel managerial ownership, concentration ownership, state ownership, foreign ownership, dan sustainability reporting secara simultan belum mampu menjelaskan variasi earnings management secara memadai. Kondisi ini menandakan adanya kelemahan dalam model, terutama karena struktur kepemilikan dan praktik pelaporan keberlanjutan saja tidak cukup untuk Ketidaksignifikanan mengimplikasikan bahwa earnings management kemungkinan dipengaruhi oleh Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 131 faktor lain yang lebih dominan, seperti leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, kualitas tata kelola perusahaan, reputasi auditor, arus kas operasional, maupun kompleksitas operasional perusahaan, yang tidak dimasukkan ke dalam model Dengan demikian, model yang digunakan belum memiliki daya jelaskan yang kuat terhadap variasi earnings management, sehingga interpretasi pengaruh antarvariabel perlu dilakukan dengan lebih hati-hati dan mendorong perlunya penelitian lanjutan dengan penambahan variabel yang lebih relevan untuk memperkuat model secara keseluruhan. Hasil Uji parsial . dapat dilihat pada table 8, digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara individual. Pada hasil uji parsial . , variabel managerial ownership menunjukkan koefisien Ae6. 602 dengan nilai signifikansi 0. 901 sehingga dinyatakan tidak signifikan, yang berarti kepemilikan manajerial tidak terbukti memberikan kontribusi yang berarti dalam memengaruhi variabel dependen. Variabel concentration ownership memiliki koefisien 37. 987 dengan nilai signifikansi 0. sehingga juga tidak signifikan. Sebaliknya, variabel state ownership menunjukkan 173 dengan nilai t 2. 266 dan signifikansi 0. 025 < 0. 05, sehingga berpengaruh signifikan terhadap earnings management. Variabel foreign ownership memiliki koefisien Ae14. 603 dengan nilai t Ae0. 402 dan signifikansi 0. sehingga tidak signifikan. Terakhir, variabel sustainability reporting menunjukkan koefisien Ae42. 283 dengan nilai t Ae1. 313 dan signifikansi 0. 192 sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap earnings management. Analisis koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam model regresi. Hasil pengujian disajikan pada tabel berikut: Tabel 10 Hasil Koefisien Determinasi Model R Square Adjusted R Square Durbin-Watson Nilai R = 0. 304 dan R Square = 0. 092, yang berarti bahwa model hanya mampu menjelaskan 9,2% variasi earnings management. Sisanya 90,8% dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini. Pembahasan Pengaruh Managerial Ownership terhadap Earnings Management Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa managerial ownership tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap earnings management, sehingga hipotesis pertama dinyatakan ditolak. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat kepemilikan saham oleh manajer tidak secara otomatis mampu mengubah perilaku manajerial dalam penyusunan laporan keuangan. Dengan kata lain, kepemilikan saham oleh manajemen belum efektif menjadi mekanisme pengawasan yang dapat menekan tindakan oportunistik yang berpotensi menurunkan kualitas laba. Hasil ini konsisten dengan penelitian Lestiawati & Trisnawati . , yang juga menemukan tidak adanya pengaruh managerial ownership terhadap earnings management. Namun, temuan ini bertentangan dengan penelitian Nguyen et al. yang menunjukkan bahwa managerial ownership justru berpengaruh Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 132 negatif terhadap earnings management. Pengaruh Concentration Ownership terhadap Earnings Management Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa concentration ownership tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap earnings management, sehingga hipotesis kedua juga dinyatakan ditolak. Hal ini menandakan bahwa tingginya konsentrasi kepemilikan pada beberapa pemegang saham besar tidak serta-merta menurunkan praktik manipulasi laba. Dalam beberapa kondisi, pemegang saham mayoritas bahkan dapat berkoordinasi dengan manajemen untuk melakukan tindakan oportunistik demi kepentingan pribadi, bukan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian AlMatari . yang menemukan bahwa concentration ownership tidak berpengaruh signifikan terhadap earnings management. Namun, temuan ini berbeda dengan penelitian Nguyen et al. , yang melaporkan bahwa concentration ownership berpengaruh negatif terhadap earnings management. Pengaruh State Ownership terhadap Earnings Management Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa state ownership berpengaruh positif dan signifikan terhadap earnings management. Dengan demikian, hipotesis ketiga dalam penelitian ini dinyatakan diterima. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan kepemilikan pemerintah dalam perusahaan justru berpotensi meningkatkan praktik manipulasi laba, yang dapat disebabkan oleh tekanan politik, target kinerja tertentu, atau motif lain yang mendorong manajemen untuk melakukan penyesuaian laba secara Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan pemerintah sebagai pemegang saham utama tidak selalu mampu menekan praktik manipulasi laba. Sebaliknya, tekanan terhadap pencapaian target kinerja tertentu, seperti efisiensi keuangan, stabilitas laba, atau kontribusi terhadap pendapatan negara, justru dapat mendorong manajemen melakukan pengaturan laba agar tampak sesuai dengan ekspektasi pemegang saham Dalam konteks ini, manajer mungkin memanfaatkan kebijakan akuntansi tertentu untuk mencapai tujuan politik maupun ekonomi yang diharapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Nguyen et al. , yang menunjukkan bahwa state ownership berpengaruh positif terhadap earnings management. Temuan tersebut juga diperkuat oleh hasil penelitian Ding et al. serta Lai & Tam . , yang sama-sama menemukan bahwa kepemilikan pemerintah cenderung meningkatkan praktik manajemen laba. Selain itu, temuan bahwa hanya state ownership yang signifikan, sementara variabel kepemilikan lainnya tidak, dapat dijelaskan melalui karakteristik unik perusahaan dengan kepemilikan pemerintah. Berbeda dengan pemegang saham manajerial, pemegang saham mayoritas, maupun investor asing yang berorientasi pada efisiensi ekonomi dan peningkatan nilai perusahaan, pemerintah sering memiliki tujuan politik dan sosial tertentu. Tekanan politik, target kinerja publik, serta dorongan untuk menampilkan stabilitas keuangan dapat menciptakan insentif yang lebih kuat bagi manajemen untuk melakukan earnings management. Dengan demikian, kepemilikan pemerintah menciptakan insentif manipulasi laba yang lebih nyata dibandingkan bentuk kepemilikan lainnya dalam model ini. Pengaruh Foreign Ownership terhadap Earnings Management Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa foreign ownership tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap earnings management, sehingga hipotesis keempat dinyatakan Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan investor asing dalam struktur kepemilikan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 133 perusahaan tidak cukup kuat untuk menekan maupun mendorong praktik manipulasi laba. Temuan ini bertolak belakang dari dugaan awal yang mengasumsikan bahwa pengawasan dari investor asing akan meningkatkan transparansi pelaporan keuangan. Dalam kenyataannya, investor asing mungkin tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan operasional, sehingga pengaruhnya terhadap kebijakan manajemen laba menjadi terbatas. Keterbatasan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti akses informasi yang terbatas, perbedaan budaya korporasi, atau rendahnya tingkat partisipasi investor asing dalam mekanisme pengawasan internal Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Nabilah et al. yang menyatakan bahwa foreign ownership tidak berpengaruh signifikan terhadap earnings Namun, hasil ini bertentangan dengan penelitian Nguyen et al. yang menemukan bahwa kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen Pengaruh Sustainability Reporting terhadap Earnings Management Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sustainability reporting tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap earnings management, sehingga hipotesis kelima dinyatakan ditolak. Temuan ini menunjukkan bahwa laporan keberlanjutan yang disusun perusahaan kemungkinan masih bersifat simbolis atau hanya digunakan sebagai alat legitimasi, bukan sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas. Ketidaksignifikanan ini dapat dijelaskan melalui perspektif legitimacy theory, yang menyatakan bahwa banyak perusahaan melakukan pengungkapan keberlanjutan sebagai bentuk pencitraan atau legitimasi sosial semata, bukan sebagai upaya untuk benar-benar menahan perilaku oportunistik manajemen. Dengan demikian, pengungkapan sustainability report belum sepenuhnya mencerminkan integritas dan tanggung jawab sosial yang mampu membatasi manipulasi laporan keuangan. Banyak perusahaan mungkin menyusun laporan keberlanjutan hanya untuk memenuhi persyaratan regulasi atau meningkatkan citra perusahaan, bukan sebagai upaya substantif untuk meningkatkan kualitas pelaporan. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Yolanda et al. , yang menyatakan bahwa sustainability reporting tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba yang diukur menggunakan discretionary accruals. Namun, temuan ini berbeda dari penelitian Masmoudi & Ben Salem . , yang menemukan hubungan negatif antara sustainability reporting dan earnings Simpulan dan Saran Penelitian ini menunjukkan bahwa setiap komponen dalam struktur kepemilikan dan sustainability reporting memberikan pola pengaruh yang berbeda terhadap earnings Hasil pemodelan mengindikasikan bahwa hanya kepemilikan negara yang terbukti berpengaruh signifikan, sementara kepemilikan manajerial, kepemilikan terkonsentrasi, kepemilikan asing, serta sustainability reporting tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Temuan ini memberikan jawaban terhadap pertanyaan penelitian mengenai bagaimana variasi struktur kepemilikan dan tingkat pengungkapan keberlanjutan berkaitan dengan praktik earnings management pada perusahaan pertambangan selama periode pengamatan. Nilai penelitian ini terletak pada upayanya menyoroti kompleksitas dinamika tata kelola perusahaan dalam konteks sektor pertambangan, yang memiliki karakteristik regulatif dan operasional berbeda dibandingkan sektor lain. Penelitian ini turut memberikan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 134 kontribusi pada pengembangan literatur dengan menghadirkan bukti empiris terbaru di tengah beragamnya temuan penelitian sebelumnya. Selain itu, penelitian ini membantu memperkaya pemahaman praktis mengenai bagaimana komposisi pemegang saham dan praktik pelaporan keberlanjutan dapat berhubungan dengan kualitas pelaporan keuangan, sehingga dapat dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan, pengawasan, maupun tata kelola perusahaan. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup sektor dan periode observasi yang relatif terbatas, serta penggunaan variabel yang masih berfokus pada jenis kepemilikan tertentu dan indeks pengungkapan keberlanjutan. Keterbatasan ini membuka peluang bagi penelitian berikutnya untuk memperluas sektor, memperpanjang rentang waktu analisis, serta mengintegrasikan variabel-variabel tambahan seperti kualitas audit, karakteristik dewan, atau indikator keberlanjutan yang lebih komprehensif. Peneliti selanjutnya juga dapat mempertimbangkan pendekatan metodologis alternatif, seperti model dinamis atau pengukuran earnings management berbasis real activities, untuk menghasilkan gambaran yang lebih lengkap mengenai praktik pelaporan keuangan Daftar Pustaka