CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 Program Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Realisasi Program Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKLUPL) di Kota Sorong (Realization of Environmental Management and Monitoring Program (UKL-UPL) in Sorong Cit. Victorina Tutiana Kambuaya. Anton S. Sinery*. Max J. Tokede Program Studi Ilmu Lingkungan. Pascasarjana UNIPA. Jalan Gunung Salju. Amban. Manokwari, 98314. Indonesia *Email: anton_sineri@yahoo. ABSTRACT: Environmentally sound development is a development effort undertaken with due regard to environmental aspects. UKL-UPL is an instrument that is expected to be a deterrent of environmental pollution and damage, which in its application UKLUPL is one of the prerequisites to obtain Environmental Permit. The aim of the research is to know the realization of environmental management and monitoring activities as contained in the UKL-UPL document of environmental permit holders in Sorong City area and the factors that influence the successful implementation of environmental management and monitoring activities. Objects observed in this study were environmental permit holders who implement environmental management and monitoring (UKL-UPL) program in Sorong City. The environmental permit holders are three . types of business and or activity consisting of andesite mining activities by PT. Lintas Artha Lestari, then shopping service activities by Mall Ramayana and Activity of power plant by PLTD Klasaman. The method used in this research was descriptive method with observation and interview technique. The results of research in general realization of each business owner and or activity in realizing environmental management program was relatively different both in terms of the number and completion of the completion of activities. PT. Lintas Artha Lestari successful UKL realization UPL quite successful. Factors that contribute to the realization are Policy and institutional resources and supervision. PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. realization UKL was quite successful, realization UPL did not succeed. Factors that contribute to the realization are supervision and policy and institutional resources. PLTD Classification Realization UKL successful, realization UPL successful. Institutional, resource, policy and supervisory factors contributed equally to the realization of UKL-UPL. Keywords: Realization. Environmental Management and Monitoring Program. Sorong City. ABSTRAK Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan suatu upaya pembangunan yang dilakukan dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan. UKL-UPL merupakan suatu instrument yang diharapkan dapat menjadi pencegah terjadinya CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, dimana dalam penerapannya UKL-UPL merupakan salah satu prasayarat untuk memperoleh Izin Lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui realisasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana tertuang dalam dokumen UKL-UPL pemegang izin lingkungan di wilayah Kota Sorong dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah pemegang izin lingkungan yang melaksanakan program pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL-UPL) di Kota Sorong. Pemegang izin lingkungan dimaksud sebanyak tiga . jenis usaha dan atau kegiatan yang terdiri atas kegiatan penambangan batauan andesit oleh PT. Lintas Artha Lestari, selanjutnya kegiatan jasa pertokoan oleh Mall Ramayana dan Kegiatan pembangkit energi oleh PLTD Klasaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian secara umum realisasi masing-masing pemilik usaha dan atau kegiatan dalam merealisasikan program pengelolaan lingkungan relatif berbeda baik dari segi jumlah maupun ketuntasan penyelesaian kegiatan. PT. Lintas Artha Lestari realisasi UKL berhasil, realisasi UPL cukup berhasil. Faktor yang berperan terhadap realisasi adalah Kebijakan dan kelembagaan sumberdaya serta PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. realisasi UKL cukup berhasil, realisasi UPL tidak berhasil. Faktor yang berperan terhadap realisasi adalah pengawasan dan sumberdaya kebijakan serta kelembagaan. PLTD Klasaman Realisasi UKL berhasil, realisasi UPL berhasil. Faktor kelembagaan, sumberdaya, kebijakan dan pengawasan memberikan kontribusi yang sama terhadap realisasi UKL-UPL. Kata kunci : Realisasi. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya pencegahan kerusakan lingkungan hidup lingkungan hidup. UKL-UPL merupakan suatu instrument yang diharapkan dapat pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, dimana dalam penerapannya UKL-UPL merupakan salah satu prasayarat untuk memperoleh Izin Lingkungan seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Sinery dkk, 2. Laju pembangunan di kota Sorong dalam sektor jasa dan berkembangnya berbagai usaha dan kegiatan seperti perhotelan, rumah sakit, perumahan. SPBU, bengkel/alat-alat berat, galian C dan kegiatan lainnya yang berdampak pada lingkungan. Segala aktivitas untuk jenis kegiatan yang ada menghasilkan berbagai limbah, baik limbah padat, limbah cair, limbah medis serta emisi gas buang yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup jika tidak dikelola dengan tepat. Meskipun pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan seperti mewajibkan semua usaha dan kegiatan lingkungan dan izin lingkungan, namun demikian fakta lapangan menunjukkan bahwa belum semua usaha yang beroperasi di Kota Sorong memiliki dokumen lingkungan yang disyaratkan. Bahkan sekalipun telah memiliki dokumen UKL-UPL, namun kegiatan CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pengelolaan dan pemantauan yang tertuang dalam dokumen UKL-UPL pemrakarsa secara baik. Hasil pra penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan pada sejumlah kegiatan usaha yang telah beroperasi di wilayah ini tidak melaksanakan tanggung jawab lingkungan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen UKL-UPL yang Dokumen UKL-UPL hanya dijadikan pra syarat untuk memperoleh izin lingkungan sehingga usaha dapat beropesi, tetapi tidak dijadikan sebagai sarana manajemen lingkungan yang terintegrasi dalam sistem manajemen unit. Pemrakarsa usaha juga belum menyadari dan lingkungan merupakan tanggung jawab dan wajib melaporkannya kepada pemerintah sebagai konsekuensi dari izin usaha yang diberikan oleh Kota Sorong dengan luas 105 km2 secara administratif terdiri dari 10 distrik dan 40 kelurahan. Sesuai dengan kondisi Kota Sorong yang kurang memiliki kekayaan sumber daya alam, maka pembangunan diarahkan pada sektor jasa dan Meskipun Kota Sorong relatif tidak mempunyai potensi sumber daya alam yang memadai, tetapi potensi di luar sumber daya alam cukup prospektif apabila dikelola secara pembangunan yang terpadu dan Laju pembangunan di kota Sorong dalam sektor jasa dan berkembangnya berbagai usaha dan kegiatan seperti perhotelan, rumah sakit, perumahan. SPBU, bengkel/alat-alat berat, galian C dan kegiatan lainnya yang berdampak pada lingkungan. Segala aktivitas untuk jenis kegiatan yang ada menghasilkan berbagai limbah, baik limbah padat, limbah cair, limbah medis serta emisi gas buang yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup jika tidak dikelola dengan tepat. Kenyataan menunjukan bahwa pembangunan yang pesat di kota Sorong disamping memberikan dampak positif juga memberikan dampak negatif berupa menurunnya daya dukung lingkungan. Menurunnya daya dukung lingkungan berdampak lanjut pada menurunnya kualitas lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan sampai pada batas lingkungan itu tidak dapat difungsikan lagi sesuai peruntukkannya, maka lingkungan tersebut dikatakan telah rusak atau tercemar. Menurut Aipassa dkk . Sinery dkk . menurunnya daya dukung lingkungan hidup biasanya diakhiri dengan hilangnya kemampuan lingkungan untuk melakukan fungsinya . aya Meskipun pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan seperti mewajibkan semua usaha dan kegiatan lingkungan dan izin lingkungan, namun demikian fakta lapangan menunjukkan bahwa belum semua usaha yang beroperasi di Kota Sorong memiliki dokumen lingkungan yang disyaratkan. Bahkan sekalipun telah memiliki dokumen UKL-UPL, namun kegiatan pengelolaan dan pemantauan yang tertuang dalam dokumen UKL-UPL pemrakarsa secara baik. Hasil pra penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan pada sejumlah kegiatan usaha yang telah beroperasi di wilayah ini tidak melaksanakan tanggung jawab lingkungan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen UKL-UPL yang Dokumen UKL-UPL hanya dijadikan pra syarat untuk memperoleh izin lingkungan sehingga CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 usaha dapat beropesi, tetapi tidak dijadikan sebagai sarana manajemen lingkungan yang terintegrasi dalam sistem manajemen unit. Pemrakarsa usaha juga belum menyadari dan lingkungan merupakan tanggung jawab dan wajib melaporkannya kepada pemerintah sebagai konsekuensi dari izin usaha yang diberikan oleh Atas fakta yang dideskripsikan di atas, maka muncul pertanyaan apakah perusahaan pemegang izin lingkungan yang ada di Kota Sorong telah mengimplementasikan semua program lingkungan yang tertuang di dalam dokumen UKL-UPL yang dimilikinya. Apakah program pengelolaan dan dilaksanakan telah efektif mengurangi dampak negatif yang diperkirakan? Apakah hasil pelaksanaan program lingkungan terdokumentasikan dan dilaporkan secara periodik kepada Faktor-faktor pendukung dan penghambat apa saja yang turut keberhasilan program pengelolaan dan pemantauan lingkungan di lapangan? Pertanyaan-pertanyaan merupakan masalah yang akan dijawab melalui penelitian yang dilakukan. METODE PENELITIAN Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah pemegang izin lingkungan yang melaksanaam program lingkungan di Kota Sorong. Pemegang izin lingkungan dimaksud sebanyak tiga . jenis usaha dan atau kegiatan yang terdiri atas kegiatan penambangan batuan andesit oleh PT. Lintas Artha Lestari, kegiatan jasa pertokoan oleh Mall Ramayana PLTD Klasaman. Jumlah ditetapkan berdasarkan kelengkapan substansi program pengelolaan dan direncanakan dari 17 dokumen UKLUPL yang tersedia. Subjek dalam penelitian ini adalah pemilik usaha, staf manejemen dan karyawan pelaksana kegiatan di lapangan yang ditentukan secara purposive berdasarkan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan termasuk kewenangan pemberian data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Variabel utama terdiri atas pemantauan lingkungan sebagaimana tercantum pada dokumen UKL-UPL Faktor-faktor mempengaruhi pelaksanaan UKL-UPL. Variabel penunjang adalah data kondisi umum unit usaha dan atau kegiatan lokasi penelitian. Penentuan realisasi pelaksanaan kegiatan UKL-UPL didasarkan pada jumlah nilai realisasi kegiatan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan dari masingmasing responden. Penentuan realisasi penjumlahan angka masing-masing kegiatan UKL-UPL pada setiap pemilik izin lingkungan. Daftar disiapkan sesuai jumlah kegiatan UKLUPL pada masing-masing unit usaha yang disampling terdapat 35 kegiatan pada PT. Lintas Artha Lestari yang terbagi 17 kegiatan UKL dan 18 kegiatan UPL. Selanjutnya PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 sebanyak 26 kegiatan yang terdiri atas 14 kegiatan UKL dan 9 kegiatan UPL dan selanjutnya PLTD Klasaman sebanyak 37 kegiatan yang terdiri atas 24 kegiatan UKL dan 13 kegiatan UPL. Pemilik usaha dan atau kegiatan diasumsikan dapat melaksanakan semua kegiatan baik UKL maupun UPL dengan skor tertinggi 3 . ila semua jawaban . dan skor terendah 1 . ila semua jawaban . Kemudian untuk realisasi/tingkat keberhasilan kegiatan dari nilai terendah sampai tertinggi, data tersebut dibagi 3 kelompok dengan . tidak terealisasi = skor 1, . cukup terealisasi = skor 2. terealisasi = skor 3. Proses tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut (Sudjana, 1. Menentukan rentang nilai dengan Rentang (R) = Nilai Tertinggi Ae Nilai Terendah Menentukan banyaknya kelompok, dalam hal ini banyaknya kelas ditentukan sebanyak 3 kelompok sesuai kategori penilaian tersebut Menentukan panjang kelas dengan persamaan sebagai berikut : Keterangan : P = Panjang Kelas R = Rentang K = Banyaknya Kelompok Dari persamaan diatas diperoleh nilai-nilai yang disajikan pada Tabel 1. Selanjutnya untuk menentukan faktorfaktor yang mempengaruhi realisasi program pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada masing-masing unit manajemen, maka dilakukan analisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Faktor-faktor keberhasilan atau realisasi pelaksanaan UKL-UPL kelembagaan, sumber daya, kebijakan dan pengawasan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, terdiri atas: Persepsi manajemen tentang UKL/UPL . Jenis program dan kegiatan pengelolaan lingkungan . Jenis program dan kegiatan pemantauan lingkungan. Data keadaan umum usaha dan /kegiatan. Pengumpulan data wawancara dilakukan pada perwakilan unit manajemen berdasarkan kewenangan manajemen dalam hal pemberian data/informasi yang dapat mencakup unsur manajemen maupun karyawan atau petugas lapangan. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Tabel 1. Selang kelas realisasi UKL dan UPL PT Lintas Ramayana Selang Kelas Realisasi UKL UPL UKL UPL Ket : TB = Tidak Berhasil. CB = Cukup Berhasil. B=Berhasil PLTD UKL UPL CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya Pengelolaan Lingkungan PT. Prima Artha Lestari Upaya pengelolaan lingkungan PT. Lintas Artha Lestari belum terealisasi secara keseluruhan. Jumlah kegiatan pengelolaan lingkungan yang terealisasi mencapai 13 kegiatan . ,47%) dari 17 kegiatan yang Kondisi menggambarkan bahwa PT. Lintas Artha Lestari yang bergerak dalam merealisasikan kegiatan pengelolaan lingkungan khususnya pada komponen fisik kimia, sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang dapat direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari adalah: Komponen Fisik Kimia Peningkatakan kualitas udara, kebisingan dan getaran. Minimalisasi dampak peningkatan kualitas udara, kebisingan dan getaran yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan . ahan galian . dilakukan dengan cara: Membuka lahan secara terencana dan bertahap per jenjang. Pembersihan vegetasi, pengupasan lapisan tanah atas dan pembongkaran dilakukan per jenjang area. Apabila telah mencapai pada batas ketinggian relatif sama dengan daerah sekitarnya agar segera dihentikan, dan selanjutnya dilakukan reklamasi. Penambangan dilakukan dengan metode kuari. Arah penambangan di mulai dari depan ke belakang. Dalam metode ini terdapat jenjang yang memiliki fungsi menghindari longsor, meminimalisir lumpur yang mengalir ke pemukiman ataupun jalan, memudahkan kegiatan pembonngkaran, menjaga keselamatan pekerja kegiatan pembongkaran baik yang berada diatas maupun di bawah. Memelihara peralatan/mesin secara rutin yang digunakan agar tidak menimbulkan kebisingan. Memeriksa dan menggantikan komponen peralatan/mesin yang Melokalisasi sumber kebisingan. Bahan peledak yang digunakan pada kegiatan peledakan. AN merk Dahana dan bahan bakar minyak jenis solar (FO). Persiapan yang dilakukan sebelum kegiatan peledakan, memeriksa hambatan tiap baris dan tiap kolom, memasang rambu untuk batas area berbahaya, melakukan clearing area peledakan dari batuan bebas atau batuan gantung yang berpotensi flying Tahapan kegiatan peledakan dimulai dari membawa peralatan, perlengkapan dan bahan peledak dari gudang bahan peledak. Kegiatan selanjutnya memasukan detonator ke dalam power gel setelah itu siapkan lalu campurkan Amonium Nitrat dan Fuel Oil dengan persentase perbandingan AN 94,5 % dan FO 5,5 %. Masukan power gel yang telah berisi detonator ke dalam lubang setelah itu masukan campuran ANFO. Tutup lubang ledak dengan stemming dan sambungkan rangkaian connecting wire tiap detonator dan periksa hambatan rangkaian menggunakan blasterAos ohm meter. Setelah connecting wire disambung pada lead wire, periksa kembali hambatan jika sesuai dan dinyatakan aman Kegiatan peledakan siap CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 Tabel 2. Realisasi upaya pengelolaan lingkungan PT. Lintas Artha Lestari Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Ae Fisik Kimia Biologi Sosial Ekonomi Jumlah Persen (%) 76,47 11,76 Kriteria Berhasil 11,76 100 Ket : T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Penurunan Kualitas Air. Minimalisasi dampak perubahan kualitas air yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara : Limbah padat yang ada tidak TPS disediakan dilokasi penambangan, sampah padat hasil domestik yang terkumpul di TPS diangkut ke TPA. Penggunaan alat berat dalam kondisi yang baik sehingga tidak ada ceceran oli maupun solar pada lokasi penambangan. Komponen Biologi Kegiatan pembersihan vegetasi, pengupasan lapisan atas dan vegetasi penutup tanah, pembongkaran, pemuatan, pengangkutan dan peremukan berdampak pada hilangnya jenis flora dan fauna, untuk meminimalisasi dampak tersebut beberapa kegiatan yang dilakukan terdiri atas: Pelaksanaan rencana dan bertahap. Pengaturan jam kerja. PT Lintas Artha Lestari mempunyai jam operasional yang dimulai pada jam 00 dan jam lembur pada Efisiensi penggunaan lahan untuk Komponen Sosial Ekonomi Minimalisasi ekonomi yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara. Kesempatan Kerja dan Berusaha, pembatasan penggunaan tenaga kerja dari luar daerah. Perusahaan membuka peluang kerja bagi tenaga kerja lokal putra daerah sesuai keahlian yang dibutuhkan. Persepsi Masyarakat, memberikan penjelasan mengenai peluang kerja dan berusaha pada masyarakat Manajemen perusahaan dapat merealisasikan komponen fisik kimia, biologi dan sosial ekonomi dalam upaya pengelolaan lingkungan sesuai rencana Perusahaan didukung oleh sumberdaya teknologi peralatan Apabila kerusakan atau gangguan peralatan dapat segera dikerjakan. Manajemen perusahaan memberikan peluang kerja dan berusaha pada masyarakat setempat khususnya anak pribumi, serta diberikan CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pelatihan bertahap sampai mahir dalam mengoperasikan peralatan di lokasi PT. Lintas Artha Lestari bekerja sama dengan Universitas Kristen Papua mahasiswa tingkat akhir khusus putra asli daerah sebagai tenaga kerja. Kegiatan pengelolaan lingku-ngan dikatakan cukup direalisasikan apabila sudah ada tindakan pengelolaan lingkungan oleh manajemen perusahaan, tetapi tidak teralisasi secara keseluruhan sesuai rencana pengelolaannya. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang cukup direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari adalah: Komponen Fisik Kimia Pengaturan jam kerja tanpa jam . Pengeboran lubang ledak dilakukan sesuai keadaan serta waktu yang telah ditentukan. Faktor utama yang mempengaruhi kegiatan pengeboran: cuaca, kekerasan batuan, keahlian operator, kemiringan bidang dan kemampuan alat (CRD dan Kompreso. Komponen Biologi Pohon dipertahankan sebagian di sekitar lokasi penambangan yang tidak terkena aktivitas penambangan. Komponen Sosial Ekonomi Untuk meminimalisasi dampak terhadap kesehatan masyarakat dan karyawan akibat kegiatan penambangan Peralatan kesehatan tidak tersedia Memberikan penjelasan kepada karyawan dan masyarakat akan pentingnya peralatan penunjang kesehatan tidak dilakukan. Komponen sosial ekonomi tidak terealisasi karena manajemen perusahaan sudah menyediakaan peralatan kerja penunjang kesehatan, tetapi tidak digunakan oleh pekerja saat bekerja dan bahkan hilang karena dibawa pulang oleh para pekerja. Upaya mencegah dan mengurangi kerusakan sumber daya alam ditempuh melalui cara teknologi yang sesuai dengan dampak yang ditimbulkan karena aktivitas penambangan seperti diuraikan sebagai berikut : Pengaturan jadwal dan sirkulasi kendaraan proyek secara efektif permasalahan lalulintas. Persyaratan kelengkapan penutup bak pada kendaraan proyek untuk menghindari atau mengurangi terjadinya polusi udara yang berupa . Penyemprotan dan pembersihan ban kendaraan proyek untuk mengurangi terjadinya polusi udara berupa debu. Perbaikan mesin dan peralatan secara periodik untuk mengurangi timbulan limbah B3 yang berupa pelumas mesin . li beka. yang dapat menyebabkan pencemaran air Upaya Pemantauan Lingkungan PT. Prima Artha Lestari Upaya pemantauan lingkungan yang direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari tergolong criteria cukup Jumlah kegiatan upaya pemantauan lingkungan yang terealisasi mencapai 11 kegiatan . ,11%) dari 18 kegiatan, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 Program Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Tabel 3. Realisasi upaya pemantauan lingkungan PT. Lintas Artha Lestari Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Ae Fisik Kimia Biologi Sosial Ekonomi Jumlah Persen (%) 61,11 11,11 Cukup Berhasil 27,78 100 Kriteria Ket : (T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Kegiatan pemantauan yang dapat direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari adalah: Komponen Fisik Kimia Peningkatan kebisingan dan getaran Minimalisasi dampak peningkatan kualitas udara, kebisingan dan getaran yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara: Penambangan secara berjenjang dan berpolakan. Pengerasan jalan yang dilalui alat angkut dengan batu. Menggantikan peralatan lain yang rusak yang berkaitan dengan timbulnya kebisingan. Perubahan Kualitas Air Minimalisasi dampak penurunan kualitas air yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara : Membuat bak sampah dan tempat penampungan sementara untuk menampung limbah padat. Membangun WC semi permanen untuk aktivitas MCK para pekerja dan septictank sebagai penampung limbah MCK. Kegiatan pembersihan vegetasi, pengupasan lapisan penutup tanah, pembongkaran, pemuatan, pengangkutan dan peremukan berdampak pada hilangnya jenis flora dan fauna. Minimalisasi dampak hilangnya jenis flora dan fauna akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara: Pengerasan jalan untuk mengurangi debu yang timbul akibat kegiatan Komponen Sosial Ekonomi Minimalisasi dampak komponen sosial ekonomi yang timbul akibat kegiatan penambangan batuan dilakukan cara: Kesempatan Kerja dan Berusaha Penggunaan disesuaikan dengan peraturan. Membina dan mengarahkan tenaga kerja agar lebih mendukung jalannya perusahaan. Memberi peluang usaha dan berusaha agar ada peningkatan pendapatan masyarakat disekitar lokasi penambangan. Pengupahan karyawan mengacu pada UMP tahun berjalan. Persepsi masyarakat Komponen Biologi CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 Memberdayakan dalam kegiatan penambangan dan pengelolaan lanjutan sesuai dengan Komponen fisik kimia dan komponen biologi dapat terealisasi karena perusahaan memiliki bengkel Kerusakan gangguan peralatan kerja dapat segera dikerjakan dan diperbaiki. Komponen sosial ekonomi dapat terealisasi karena manajemen PT. Lintas Artha Lestari mengutamakan tenaga kerja lokal dengan merekrut tenaga lokal di sekitar lokasi penambangan dan diberikan pelatihan bertahap sampai mahir dalam mengoperasikan peralatan di lokasi penambangan. Manajemen perusahaan memberikan peluang kerja dan berusaha pada masyarakat setempat dan khusus anak pribumi. PT. Lintas Artha Lestari bekerja sama dengan Universitas Kristen Papua untuk merekrut mahasiswa tingkat akhir khusus putra asli daerah sebagai tenaga Kegiatan pemantauan yang cukup direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari adalah: Komponen Fisik Kimia Minimalisasi dampak penurunan penggunaan drum untuk menampung limbah cair . li beka. dan ditampung pada ruang khusus tetapi tidak diberikan symbol dan nama sesuai karakteristik limbah yang dihasilkan. Komponen Sosial Ekonomi Minimalisasi dampak terhadap persepsi masyarakat dengan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan sekitar penambangan tetapi tidak rutin. Kegiatan pemantauan yang tidak direalisasikan oleh PT. Lintas Artha Lestari adalah: Komponen Fisik Kimia Minimalisasi dampak peningkatan kualitas udara, kebisingan dan getaran penambangan batuan tidak dilakukan Penyiraman secara periodik akses jalan menuju lokasi penambangan. Penggunaan masker dan earplug selama berada dalam lokasi penambangan. Komponen Biologi Reklamasi areal bekas tambang tidak dilakukan karena masih dalam Kegiatan penambangan yang telah dibuka sekitar 0,25 Ha dari luasan areal 17,49 Ha. Tidak ada koridor satwa. Komponen Sosial Ekonomi Minimalisasi dampak kesehatan masyarakat dan karyawan akibat kegiatan penambangan batuan tidak dilakukan yakni: Pelayanan kesehatan bagi karyawan dan masyarakat di sekitar lokasi penambangan dan industri pengolahan lanjutan. Berdasarkan dokumen lingkungan, perusahaan berkomitmen untuk melakukan pengelolaan dan Aspek lingkungan yang dipantau adalah kualitas udara, sampah rumah tangga, limbah cair domestik, limbah B3, dan dampak sosial. Upaya pemantauan lingkungan PT. Lintas Artha Lestari yang diuraikan secara keseluruhan Pemantauan kualitas udara, kebisingan, getaran serta kesehatan CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 masyarakat dan karyawan tidak disebutkan dalam perencanaan upaya pemantauan lingkungan PT. Lintas Artha Lestari. Teknik dan metodologi pengelolaan dan pemantauan yang digunakan dalam pelaksanaan rencana pengelolaan pemantauan lingkungan hidup harus dilakukan sesuai dengan teknik dan metodologi standar atau yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam penulisan laporan, harus ada kesesuaian uraian antara komponen lingkungan yang dipantau. Uraian pelaksanaan pengelolaan dapat dilakukan per komponen kegiatan dan pelaksanaan pemantauan per komponen Pelaksanaan kronologis pelaksanaan pemantauan/ monitoring lingkungan diantaranya pelaksanaan sampling/uji lab yang Selain itu juga dilakukan survey pemantauan langsung baik di dalam maupun di sekitar lokasi kegiatan Survey ini diperlukan untuk mendapatkan data eksisting tentang kondisi rona lingkungan terbaru. Diharapkan laboratorium dan survey lapangan, terdapat adanya gambaran kualitas lingkungan dari kegiatan tersebut. Memiliki dokumen UKL-UPL yang berkualitas merupakan kewajiban setiap pelaku usaha untuk menjamin kelancaran usaha tersebut. Namun yang terjadi saat ini adalah banyak dokumen UKL-UPL yang tidak berkualitas sehingga banyak pemilik usaha yang kesulitan dan bermasalah karena mempunyai dokumen UKL-UPL yang seadanya sehingga tidak menyajikan informasi dan pedoman teknis di dalam UKL-UPL Akibatnya banyak ditemui kegiatan lingkungan sekitarnya akibat tidak tersedia informasi lengkap untuk menangani limbah kegiatan usaha di dalam dokumen UKL-UPL tersebut. Faktor Penentu Realisasi UKL-UPL PT. Prima Artha Lestari PT. Lintas Artha Lestari telah berupaya untuk melakukan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pematauan lingkungan sesuai komitmen manajemen, walaupun belum mencapai target kinerja yang diharapkan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dukungan manajemen dan faktor lainnya dalam upaya pengelolaan lingkungan maupun sebagaimana disajikan pada Tabel 5. Kebijakan indikator tertinggi pada PT. Lintas Atha Lestari terkait kepemilikan dokumen manajemen dalam upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan, tetapi bila pengawasan tidak dilakukan. Demikian halnya dengan kebijakan yang mana jika hanya ada kebijakan tetapi sumberdaya manusia serta sumberdaya dana dan keberadaan peralatan tidak tersedia, maka kebijakan tetap kebijakan, dan tidak menjadi komitmen manajemen. Menurut Sari dkk . karena sumberdaya pegawai dan biaya operasional yang minim serta sarana prasarana yang kurang memadai dengan banyak industri dan wilayah kerja menyebabkan efektivitas implementasi UKL-UPL terhambat. Menurut Rachman pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, dimana pengawasan dianggap sebagai bentuk pemeriksaan atau pengontrolan dari pihak yang tinggi kedudukannya kepada pihak di Ay Dalam ilmu manajemen. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 tahapan terakhir dari fungsi manajemen. Dari segi manajerial, pengawasan mengandung makna pula sebagai: Aupengamatan atas pelaksanaan seluruh kegiatan unit organisasi yang diperiksa untuk menjamin agar seluruh pekerjaan yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan peraturan. Ay atau Ausuatu usaha agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, dan dengan adanya pengawasan dapat memperkecil hambatan yang telah terjadi dapat segera diketahui yang kemudian dapat dilakukan tindakan perbaikannyaAy . Tabel 4. Faktor Penentu Keberhasilan UKL-UPL PT. Lintas Artha Lestari Nilai Indikator Faktor Nilai Keberhasilan Deskripsi Keberhasilan Indikator UKL UPL Ada struktur organisasi dalam manajemen dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan tetapi . Ada unit atau divisi yang Pengelolaan dan pemantauan Kelembagaan . Program pengelolaan dan tidak dilakukan oleh unit khusus yang menangani pengelolaan lingkungan Sumberdaya Kebijakan . Tidak ada SDM khusus (Cukup (Berhasi. dalam pengelolaan Berhasi. pemantauan lingkungan . Ada dana pengelolaan dan kegiatan lain . Tersedia peralatan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan tetapi tidak . Ada dokumen UKL-UPL dan dapat diakses . Ada SOP dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan tetapi tidak dilakukan . Ada kebijakan lain terkait CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pengelolaanan pemantauan . Tidak ada pengawasan internal secara rutin dalam pengelolaan dan pemantauan Pengawasan . Tidak ada pengawasan external secara rutin dalam pengelolaan dan pemantauan . Ada dan pemantauan lingkungan Upaya Pengelolaan Lingkungan PT. Prima Lestari Investindo PT. Prima Lestari Investindo . anajemen Ramayana Mal. belum merealisasikan secara keseluruhan kegiatan upaya pengelolaan lingkungan yang direncanakan. Jumlah kegiatan upaya pengelolaan lingkungan yang direalisasikan sebanyak 8 kegiatan . ,14%) dari 14 kegiatan yang PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. yang bergerak dalam bidang perdagangan belum merealisasikan semua kegiatan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang dapat direalisasikan pelaksanaannya oleh PT. Prima Lestari Investindo Komponen Fisik Kimia Minimalisasi dampak terhadap peningkatan kebisingan dan getaran dilakukan cara : Membuat pagar pembatas perbelanjaan dan lingkungan meminimalisasi kebisingan. Pada ruang genset dipasang peredam suara dan membuat meminimalisasi kebisingan. Meminimalisasi dampak terhadap pencemaran lingkungan meliputi kualitas udara, air, dan volume timbunan sampah dengan cara : Membuat cerobong asap sampai ketinggian top floor atau kurang lebih 24 meter dan dilengkapi insulation untuk mereduksi gas emisi buangan dari genset. Pengelolaan dilakukan dengan mengolah air limbah pada instalasi pengelola (STP/Sewage Treatment Plan. dibuang ke saluran drainase umum hal ini untuk mengurangi beban saluran drainase. Memasang ditempat strategis . i beberapa titi. didalam gedung maupun diluar gedung. Sampah yang terkumpul dari tong sampah diangkut dan dikumpulkan di TPS (Tempat Pengumpulan Sementar. yang terletak di belakang bangunan pusat perbelanjaan. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 Tabel 5. Realisasi upaya pengelolaan lingkungan PT. Prima Lestari Investindo Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Fisik Kimia Ae Lalulintas Sosial Ekonomi Jumlah 10 Kriteri Cuku Berhasi Persen (%) 57,14 28,57 14,29 Ket : T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Komponen lalulintas Mengatur kendaraan pengunjung dengan membuat area parkir di dalam lokasi pusat perbelanjaan Sorong. Komponen Sosial Ekonomi Tenaga kerja mengutamakan warga sekitar lokasi proyek untuk direkrut bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Komponen fisik kimia dapat terealisasi dalam upaya pengelolaan lingkungan oleh PT. Prima Lestari Investindo. Manajemen mengadakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) untuk mengelola limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas pusat perbelanjaan Ramayana Mall. Kegiatan pengelolaan lingkungan dikatakan cukup terealisasi apabila sudah ada tindakan pengelolaan lingkungan oleh manajemen perusahaan tetapi tidak secara keseluruhan sesuai rencana pengelolaannya. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang cukup terealisasi pelaksanaannya oleh PT. Prima Lestari Investindo adalah: Komponen Fisik Kimia Kebisingan Memberikan buffer zone dengan vegetasi . dengan fungsi lain . dan bukan untuk mereduksi terhadap kebisingan. Kualitas Air, udara dan volume timbunan sampah Memberikan buffer zone dengan vegetasi . fungsi lain . dan bukan untuk mereduksi terhadap emisi gas Limbah padat diangkut tidak rutin ke TPA (Tempat Pembuangan Akhi. oleh petugas dari Dinas Kebersihan Kota Sorong, namun tumpukan sampah masih terlihat pada TPS. Komponen Lalulintas Rambu-rambu peringatan tidak terpasang, ada petugas parkir yang mengatur sirkulasi lalu lintas masuk dan keluar Pusat Perbelanjaan Sorong. Komponen fisik kimia dikategorikan cukup terealisasi karena tanaman yang dijumpai disekitar halaman gedung pusat perbelanjaan adalah milik masyarakat sekitar yang bersebelahan tepat dengan tembok CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pembatas gedung Ramayana Mall. Tanaman yang berada di area parkir telah ada tumbuh dan berkembang sebelum pusat perbelanjaan Ramayana Mall dibangun. Tanaman tersebut dipertahankan pada saat pelaksanaan kegiatan pada tahap konstruksi. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang tidak direalisasikan oleh PT. Prima Lestari Investindo adalah: Komponen Fisik Kimia (Kualitas Air dan Udar. Pembuatan sumur resapan tidak diupayakan untuk menyimpan limpasan air hujan. Komponen Sosial Ekonomi Koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja setempat tidak dilakukan untuk menyebarkan informasi peluang kerja yang ada. Komponen pengelolaan lingkungan yang dialihkan untuk kegiatan lain. Komponen sosial ekonomi yang tidak dapat direalisasikan dalam upaya pengelolaan lingkungan oleh PT. Prima Lestari Investindo, karena pihak manajemen berpendapat bahwa tenaga kerja yang direkrut perusahaan . Upaya Pemantauan Lingkungan PT. Prima Lestari Investindo PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. secara umum belum merealisasikan secara keseluruhan upaya pemantauan lingkungan yang telah direncanakan. Jumlah kegiatan upaya pemantauan lingkungan hanya terealisasi satu kegiatan dengan persentase 11,11%, dari Sembilan sebagaimana terlihat pada tabel berikut. Kegiatan pemantauan lingkungan yang dapat direalisasikan pelaksanaannya oleh PT. Prima Lestari Investindo adalah tenaga kerja, hanya sebatas survey untuk komponen sosial ekonomi. Kegiatan pemantauan lingkungan yang tidak direalisasikan oleh PT. Prima Lestari Investindo adalah: Komponen Fisik Kimia Kebisingan Pemantauan tingkat kebisingan menggunakan alat Sound Level Meter. Kemudian hasil sampel dianalis menggunakan metode yang telah baku. Periode pemantauan dilakukan 1 . tahun sekali. Pencemaran lingkungan (Udara. Air. Volume timbunan sampa. Pemantauan terhadap emisi gas buangan dengan cara pengambilan sampel menggunakan alat Kemudian hasil sampel dianalisa menggunakan metode baku. Pemantauan air limbah dengan cara pengambilan sampel air limbah dari Effluent Tank STP . nlet dan outle. , kemudian sampel tersebut dianalisa di Periode pemantauan dilakukan 1 . tahun sekali pada saat kegiatan operasional pusat perbelanjaan sorong. Pemantauan volume timbunan sampah dilakukan dengan cara observasi pada area pusat perbelanjaan dan pada TPS. Pemantauan dilakukan 1 . tahun sekali pada saat kegiatan operasional pusat perbelanjaan Sorong. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 Tabel 6. Realisasi upaya pemantauan lingkungan PT. Prima Lestari Investindo Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Ae Fisik Kimia Lalulintas Sosial Ekonomi Jumlah Persen (%) 11,11 88,89 100 Kriteria Tidak Berhasil Ket : (T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Komponen Lalulintas Pengamatan dan pencatatan/ menghitung satuan mobil penumpang per jam yang keluar masuk area pusat Komponen fisik kimia dan lalulintas yang tidak terealisasi karena tidak didukung oleh ketersediaan dana dan sumberdaya manusia yang khusus menangani kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan, sehingga pemantauan tingkat kebisingan, emisi gas buang, pemantauan air limbah, pemantauan volume timbunan sampah tidak tercatat dan di laporkan kepada instansi teknis lingkungan hidup. Kewajiban dalam melaporkan upaya lingkungan sebagai pemegang izin lingkungan tidak dilaksanakan dengan alasan bahwa format pelaporan belum Faktor Penentu Realisasi UKL-UPL PT. Prima Lestari Investindo PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. telah berupaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan sesuai komitmen manajemen walaupun Faktor-faktor penyebab tidak seluruh kegiatan pemantauan lingkungan direalisasikan terlihat pada Tabel 8. Pengawasan dan sumberdaya merupakan faktor yang berperan pengelolaan lingkungan, tetapi tidak demikian pemantauan tidak berhasil. Pemantauan yang tidak berhasil dipengaruhi oleh ketidaktersediaan sumberdaya manusia, unit/divisi yang khusus bertanggungjawab dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan, serta ketersediaan dana yang minim sehingga pemantauan dan pengukuran tidak dapat terealisasi. Menurut Irianto . tujuan adanya perencanaan SDM adalah untuk memastikan sudah tersedianya sejumlah orang/pekerja yang telah memenuhi persyaratan dalam suatu organisasi pada kurun waktu tertentu. Dari tujuan tersebut dapat dikatakan bahwa adanya perencanaan SDM yang baik dapat membuat suatu organisasi dapat mengidentifikasi apa yang harus dilakukan untuk memastikan adanya SDM yang berkompetensi sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan dari organisasi. Menurut Gomes . Sumber daya manusia merupakan potensi yang dimiliki oleh manusia seperti keahlian, kemampuan sedangkan sumber daya non manusia terdiri atas, sumber daya alam . atural resource. , modal, mesin, teknologi, material. Kedua sumber daya tersebut sangat penting, akan tetapi CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 sumber daya manusia merupakan faktor dominan, karena sumber daya manusia memiliki akal, perasaan, keinginan, pengetahuan, keterampilan, kebutuhan dan sebagainya. Tabel 7. Faktor penentu keberhasilan UKL-UPL PT. Prima Lestari Investindo Nilai Indikator Faktor Nilai Keberhasilan Deskripsi Keberhasilan Indikator UKL UPL Tidak ada struktur organisasi dalam manajemen yang terkait pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Tidak ada unit atau divisi yang khusus menangani Kelembagaan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan . Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan tidak dilakukan oleh unit khusus yang menangani pengelolaan lingkungan Sumberdaya Kebijakan Pengawasan . Tidak ada SDM khusus yang bertanggungjawab dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan . atu orang merangkap penanggungjawab gedun. Dana dialihkan untuk kegiatan lain. Tersedia peralatan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta berfungsi dengan baik. (Tidak (Cukup Berhasi. Berhasi. Tidak ada dokumen UKLUPL yang tersedia dikantor. Tidak ada SOP dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Tidak ada kebijakan lain terkait pengelolaanan pemantauan lingkungan. Ada pengawasan internal secara rutin dalam pengelolaan dan CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pemantauan lingkungan . Ada pengawasan external secara rutin dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan . Ada kendala dalam pelaksanaan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan . idak mengetahui format laporan UKL-UPL) Tabel 8. Realisasi upaya pengelolaan lingkungan PLTD Klasaman Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Ae Kualitas Udara Kebisingan Kualitas Air Sosoal Ekonomi Jumlah Persen (%) 0 100 Kriteria Berhasil Ket : (T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Upaya Pengelolaan Lingkungan PLTD Klasaman PLTD Klasaman Sorong telah merealisasikan seluruh . %) kegiatan pengelolaan yang direncanakan. PLTD Klasaman tanggungjawab lingkungannya sesuai dengan apa yang dijanjikannya dalam dokumen UKL. Manajemen PLTD komitmen pengelolaan lingkungan yang mengelola dan menjaga kondisi lingkungan secara baik, sebagaimana terlihat pada Tabel 8. Kegiatan yang dilakukan oleh manajemen melalui upaya pengelolaan lingkungan, sebagai berikut: Operasional Mesin Pembangkit Perawatan mesin PLTD secara teratur dan tepat waktu agar diperoleh kinerja alat yang maksimal dan kinerja system pembakaran yang sempurna. Manajemen pembangkit khususnya debu dan material sisa pembakaran. Tanggapan dan penyelesaian secara cepat mengenai keluhan masyarakat terhadap kualitas udara sebagai dampak kegiatan PLTD. Penanaman vegetasi jenis pohon yang tinggi, berdaun lebat, tidak mudah patah sebagai zona penyanggah . uffer zon. di sekeliling lokasi PLTD yang berfungsi untuk menyerap gas dan debu. Penanaman dimaksud berupa bunga, palm, cemara, pinus CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 dan tanaman buah seperti Penggunaan alat pelindung diri berupa tutup telinga bagi tenaga kerja lainnya yang memasuki ruang power house, serta operator alat berat. Masing-masing pembangkit dilengkapi APD seperti helm, earplug dan Pengaturan jadwal kerja untuk paparan kebisingan khusus bagi operator. Jadwal kerja manajemen dan disepakati secara bersama melalui rapat. Penggunaan shelter/pereduksi Rumah pembangkit ditempatkan pada ruang khusus yang dilengkapi dinding secara khusus untuk mengurangi rambatan bunyi Tidak membuang bahan sisa yang mudah menguap seperti cairan mineral, minyak atau minyak Semua material sisa kegiatan yang digolongkan sebagai sampah atau limbah tidak dibuang pada sembarang tempat tetapi dikelola melalui penampungan (TPS). Melaksanakan kualitas air untuk menjamin bahwa buangan dari aktivitas dilokasi PLTD tidak dibuang langsung ke dalam badan air tanpa diolah terlebih dahulu, seperti oil catcer bertingkat. PLTD Klasaman memiliki unit pengolahan air limbah yang ditempatkan pada bagian outlet areal guna menyaring limbah kegiatan khususnya limbah Menyimpan oli bekas pada drum dilokasi yang khusus penyimpanan oli bekas. Semua material sisa kegiatan yang digolongkan sebagai sampah atau limbah dikelola melalui penampungan pada TPS. Material yang mudah meresap harus disimpan tertutup dan dibuat standar keamanannya. Material sisa kegiatan yang digolongkan sebagai sampah atau limbah khususnya limbah penampungan pada TPS. Mengelola kualitas air dan B3. Manajemen mengelola air limbah dan limbah B3 melalui unit oil cather dan draenase. Mengelola kualitas udara. Manajemen PLTD Klasaman penanaman dan pemeliharaan berbagai jenis tanaman guna menjaga kualitas udara. Mengelola kualitas kebisingan. Manajemen PLTD Klasaman kualitas kebisingan dengan penanaman dan pemeliharaan berbagai jenis tanaman. Menjalin harmoni dengan Harmonisasi masyarakat dilakukan dengan secara terbuka terkait kegiatan PLTD kepada masyarakat. Kegiatan dimaksud seperti penerimaan karyawan. Melakukan kesehatan secara teratur pada semua tenaga kerja yang Manajemen PLTD Klasaman CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 menjaga kesehatan masyarakat dengan melakukan pemeriksaan pada waktu-waktu tertentu. Penggunaan APD operator mesin pembangkit yang sedang bertugas berupa helm, earplug dan sepatu kerja. Pemeliharaan Mesin Pembangkit Membangun TPS limbah B3. Manajemen PLTD Klasaman telah memiliki dan melakukan operasional TPS limbah B3. Melakukan pengemasan limbah B3 yang disesuaikan jenis limbah B3 dengan menggunakan drum, tong atau bak Pengelolaan limbah B3 dilakukan pada TPS limbah B3. Mengajukan permohonan izin TPS limbah B3. Telah dilakukan oleh manajemen dan telah memiliki izin pengoperasian TPS limbah B3. Membangun khusus gedung B3. Manajamen telah membangun dan mengoperasikan TPS limbah B3. Melakukan pengemasan limbah B3 yang disesuaikan jenis limbah B3 dengan menggunakan drum, tong atau bak Telah dilakukan oleh PLTD melalui unit TPS limbah B3. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur pada semua tenaga kerja yang Manajemen PLTD Klasaman mengupayakan menjaga kesehatan masyarakat dengan melakukan pemeriksaan pada waktu-waktu tertentu. Aktifitas Tenaga Kerja Menyediakan tempat penampungan limbah padat ataupun Khusus limbah padat perusahaan telah memiliki TPS, sedangkan untuk limbah cair dilakukan melalui oil catchar dan drainase Melaksanakan kualitas air untuk menjamin bahwa buangan dari aktivitas dilokasi PLTD tidak dibuang langsung ke dalam badan air tanpa diolah terlebih dahulu. Pengolahan air limbah dilakukan melalui unit pengolahan . il catce. Semua limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan sanitasi pekerja dialirkan masuk ke dalam saluran pengolahan limbah cair. Limbah cair hasil kegiatan operasional PLTD Klasaman dilakukan pengolahan melalui draenase. Draenase semua unit PLTD termasuk didalamnya saluran pembuangan air hujan. Diketahui bahwa terdapat dua puluh empat . kegiatan upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan sebagaimana terlihat pada Tabel 9. Dari jumlah tersebut manajemen PLTD Klasaman dapat merealisasikan seluruh kegiatan upaya pengelolaan lingkungan yang direncanakan . encapai realisasi 100%). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa PLTD Klasaman telah melaksanakan tanggungjawab lingkungannya sesuai dengan apa yang dijanjikannya didalam dokumen UKL. Manajemen secara konsisten melaksanakan komitmen pengelolaan lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengelola dan menjaga kondisi lingkungan secara baik. CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 Tabel 9. Realisasi upaya pemantauan lingkungan PLTD Klasaman Realisasi Kegiatan Skor Komponen Lingkungan Ae Kualitas Udara Kebisingan Kualitas Air Ae Sosial Ekonomi Jumlah Persen (%) 0 100 Kriteria Berhasil Ket : (T = Terealisasi. CT = Cukup Terealisasi. TT = Tidak Terealisas. Upaya Pemantauan Lingkungan PLTD Klasaman Realisasi lingkungan PLTD Klasaman seperti halnya pada realisasi pengelolaan yaitu mamanajemen dapat merealiasikan . encapai realisasi 100%). Hal tersebut terlihat dari realisasi kegiatan upaya pemantauan lingkungan, disajikan pada Tabel 9. Kegiatan yang dilakukan oleh manajemen melalui upaya pemantauan Operasional Mesin Pembangkit Pengumpulan data komponen melalui pengambilan sampel di lapangan dengan menggunakan . enurunan kualitas udar. Pengumpulan data komponen kebisingan dilakukan dengan Intensitas bising diukur dengan menggunakan sound level Waktu pengambilan dilakukan selama 10 menit Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan data hasil tingkat bising yang berlaku . eningkatan kebisinga. Pemantauan pengambilan sampel air yang . enurunan kualitas ai. Pemantauan dilakukan dengan pengambilan sampel menggunakan plankton net No. Partikel yang tersaring ditempatkan ke dalam botol 40 ml dan diawetkan dengan formalin 4% dan dianalisis di laboratorium Komposisi spesies populasi plankton dianalisis secara deskriptif menggunakan Shannon Wiener CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 . angguan Dilakukan pertanyaan, hasil wawancara ditabulasi dan diolah secara . ersepsi Pemantauan dilakukan dengan metode survey lapangan dan masyarakat sekitar lokasi serta pencatatan data sekunder dari Puskesmas Sorong Utara. Data yang dikumpulkan dianalisis . ersepsi Melakukan catatan penyakit yang diderita masyarakat sekitar lokasi yang Puskesmas. Posyandu mengetahui tingkat kesehatan masyarakat (Kesehatan dan Keselamatan Kerj. Pemeliharaan Mesin Pembangkit Potensi B3. Pemantauan dilakukan dengan survei visual dan pencatatan neraca limbah B3. Hasil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Penurunan Kualitas Air. Pemantauan dilakukan dengan cara pengambilan sampel air di lapangan dengan pengambilan sampel air yang diperoleh dianalisis di laboratorium. Biota Perairan. Pemantauan plankton dilakukan dengan menggunakan plankton net No. Partikel yang tersaring ditempatkan kedalam botol 40 ml dan diawetkan dengan formalin 4 % dan dianalisis di Komposisi spesies populasi plankton dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel, menggunakan metode Shannon Wiener. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. dilakukan dengan metode masyarakat sekitar lokasi serta pencatatan data sekunder dari Puskesmas Sorong Utara. Data yang dikumpulkan dianalisis bantuan tabel. Melakukan pengumpulan catatan penyakit sekitar lokasi yang diterima dari Puskesmas. Posyandu setempat, guna mengetahui tingkat kesehatan masyarakat. Aktifitas Tenaga Kerja Penurunan Kualitas Air. Pemantauan dilakukan dengan cara pengambilan sampel air dilapangan dengan dengan Kmemmerer Water Sampler, sampel air yang diperoleh dianalisis di Gangguan pada Biota Perairan. Pemantauan dilakukan dengan cara pengambilan sampel biota di lapangan, sampel biota yang Faktor Penentu Realisasi UKL-UPL PLTD Klasaman Manajemen PLTD Klasaman telah merealisasikan semua kegiatan CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 direncanakan . %) sebagaimana realisasi upaya pengelolaan lingkungan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dukungan manajemen yang tercermin sumber daya, dan pengawasan dalam upaya pengelolaan lingkungan maupun sebagaimana terlihat pada Tabel 10. Tabel 10. Faktor penentu keberhasilan UKL-UPL PLTD Klasaman Faktor Keberhasilan Kelembagaan Sumberdaya Nilai Indikator Kebijakan Pengawasan Nilai Indikator Keberhasilan UKL UPL Deskripsi . Ada struktur organisasi dalam manajemen yang terkait pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan . Ada divisi yang khusus menangani Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan . Program pengelolaan dan rutin dilakukan oleh divisi khusus yang menangani pengelolaan lingkungan . Ada SDM khusus yang pemantauan lingkungan . Tersedia pemantauan lingkungan . Tersedia peralatan dan (Berhasi. (Berhasi. pemantauan lingkungan. ada dokumen UKL-UPL dan dapat diakses . ada SOP dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan dilaksanakan. ada kebijakan lain terkait pengelolaanan pemantauan . ada CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 pemantauan lingkungan . ada pengawasan external pemantauan lingkungan . tidak ada kendala dalam Pengelolaan dan pemantauan lingkungan Kelembagaan, kebijakan dan pengawasan dinilai mempengaruhi realisasi UKL-UPL PLTD Klasaman . %) sebagaimana terlihat pada Tabel 11. Dalam hal ini manajemen PLTD Klasaman telah lingkungan dan upaya pemantauan menggambarkan bahwa keempat faktor penentu realisasi UKL-UPL memiliki keberhasilan atau realisasi UKL-UPL di PLTD Klasaman. Kelembagaan dimaksud dapat masing-masing kegiatan melalui tersedianya unit khusus atau bidang yang menangani masalah lingkungan. Menurut Anwar . dalam Wahyuni . , apabila dikaji lebih cermat berdasarkan konsep merupakan bagian . pengambilan keputusan yang didalamnya diatur oleh sistem kelembagaan atau aturan main. Aturan keserasian yang lebih luas dalam bentuk konstitusi suatu negara sampai pada kesepakatan antara dua pihak . yang menyepakati aturan bersama mengenai pembagian manfaat dan beban yang harus ditanggung oleh masing-masing pihak untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Mustopadidjaja . dalam Wahyuni . ketersediaan sumber daya, mencakup jumlah staff yang memadai, memiliki keahlian untuk melaksanakan tugas mereka dan memiliki wewenang serta fasilitas yang diperlukan untuk kebijakan-kebijakan dirumuskan agar dapat terealisir. Menurut Mustopadidjaja . dalam Wahyuni . , kebijakan atau kebijaksanaan adalah keputusan suatu organisasi . ublik ataupun bisni. yang permasalahan tertentu atau untuk mencapai tujuan tertentu, berisikan ketentuan-ketentuan dijadikan pedoman perilaku dalam hal: Pengambilan keputusan lebih lanjut, yang harus dilakukan baik kelompok sasaran ataupun organisasi pelaksanaan kebijakan, dan . Penerapan atau pelaksanaan dari suatu kebijakan yang telah ditetapkan, baik dalam hubungan dengan organisasi pelaksana maupun dengan kelompok sasaran yang dimaksudkan. Menurut Mustopadidjaja . dalam Wahyuni . pengawasan pelaksanaan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan yang berasal dari luar perusahaan/ekstern perusahaan, dilakukan oleh institusi lingkungan hidup dan pengawasan dari dalam perusahaan/intern perusahaan. Pengawasan ini diperlukan agar penanggung jawab kegiatan menaati semua ketentuan perundang-undangan lingkungan hidup, persyaratan dalam CASSOWARY volume 3 . : 101 - 126 berbagai izin . zin usaha, izin persyaratan mengenai semua media . ir, kebisingan, getara. yang seharusnya tercantum dalam perizinan yang telah KESIMPULAN PT. Lintas Artha Lestari berhasil Faktor yang berperan terhadap realisasi tersebut adalah kebijakan, selanjutnya kelembagaan, sumberdaya dan pengawasan. PT. Prima Lestari Investindo (Ramayana Mal. cukup berhasil merealisasikan upaya pengelolaan lingkungan, tetapi tidak berhasil merealisasikan upaya pemantauan lingkungan. Faktor yang berperan terhadap realisasi tersebut PLTD Klasaman berhasil pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan. Faktor yang berperan terhadap realisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA