JURNAL SAINS. SOSIAL DAN HUMANIORA Support By : e-ISSN: 2777-015X. DOI: https://doi. org/10. 52046/jssh. Web: https://journal. com/index. php/jssh E-mail: jurnaljssh. ummu@gmail. Gender. Power, and Regional Political Hegemony: A Critical Framing Analysis of Sherly TjoandaAos Representation in North Maluku Online Media (Gender. Kekuasaan, dan Hegemoni Politik Regional: Analisis Framing Kritis terhadap Representasi Sherly Tjoanda dalam Media Daring Maluku Utar. Julaiha Hi. Amin 1A 1 Program studi ilmu komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ternate. Indonesia. Email: Julaiha. Amin1508@gmail. Info Artikel : E Artikel Penelitian A Artikel Pengabdian A Riview Artikel Diterima : 18 Mei 2026. Disetujui : 4 Juni 2026. Publikasi On-Line : 7 Juni 2026 Abstract This study analyzes how local online media frames female leadership within the nexus of gender relations and regional political hegemony, focusing on the news coverage of Sherly Tjoanda Laos on Nuansamalut. Employing a qualitative approach with Pan and KosickiAos critical framing analysis model, this research examines four major news articles published during the first three months post-inauguration (February-May 2. , interpreted through the lenses of Gramscian hegemony and gender theories. The findings reveal a systematic transformation of framing across four distinct phases: gender symbolization, technocratic leadership construction, policy breakthrough legitimation, and the consolidation of moral Critically, this study demonstrates that the representation of female leadership transcends traditional stereotypes, shifting toward the construction of "technocratic femininity" a legitimacy anchored in administrative capacity and policy performance which paradoxically operates within the framework of central power hegemony. This study offers a novel theoretical contribution by deconstructing the concept of technocratic femininity within the conceptualization of localized gender politics. Practically, it serves as a critical evaluative guide for local media to move beyond acting as consensus-production agents for dominant power structures, and instead become drivers of transformative gender emancipation within regional A Keyword: Critical Framing Analysis. Political Hegemony. Female Leadership. Technocratic Femininity. Sherly Tjoanda Laos. PENDAHULUAN Fenomena kepemimpinan perempuan dalam politik lokal Indonesia tidak dapat dilepaskan dari relasi antara gender, kekuasaan, dan hegemoni politik regional (Ortner,1989. Prys,2010. De Simone et al,2. Dalam struktur perempuan di jabatan eksekutif sering kali dibingkai sebagai peristiwa simbolik yang sarat makna identitas, afiliasi, dan legitimasi sosial, melampaui sekadar kapasitas kepemimpinannya. Pemberitaan mengenai Sherly Tjoanda Laos sebagai Gubernur perempuan pertama di Maluku Utara oleh Nuansamalut. com menjadi ruang analitis penting untuk mengkaji praktik framing Media daring lokal ini tidak sekadar menyampaikan, melainkan aktif memproduksi makna wacana kepemimpinan, otoritas, dan legitimasi politik perempuan. Melalui perspektif konstruksionis, berita dipahami bukan sebagai refleksi objektif realitas, melainkan hasil negosiasi Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora ideologis yang mengonstruksi kelayakan seorang pemimpin (Lau, 2012. Rakowski et al. , 2025. Martinisi, 2. Pada titik inilah, pembingkaian media memegang peran krusial dalam perempuan dinegosiasikan di tengah kuatnya budaya patriarki daerah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa framing media terhadap politisi perempuan cenderung mengandung bias simbolik dan Studi di Amerika Serikat dan Eropa menemukan bahwa politisi perempuan emosional, domestik, atau berbasis karakter personal dibandingkan kompetensi teknokratis (Pildes and Anderson,1990. Quinn Hegarty,2. Di Asia Tenggara, penelitian mengenai kepemimpinan perempuan di Filipina dan Malaysia menunjukkan bahwa media kerap mengaitkan legitimasi perempuan dengan relasi kekerabatan politik atau tragedi personal, bukan pada kapasitas institusional (Resnyansky et al,2024. Sinpeng and Savirani,2022. Roces,2022. Vijeyarasa,2. Kajian framing di Indonesia terhadap politisi perempuan dalam media online memperlihatkan kecenderungan dualitas yaitu antara simbol kemajuan kesetaraan gender dan objek stereotip yang dilekatkan pada feminitas (Firdausy,2022:Aliyamsyah Siregar et al. Namun, sebagian besar studi tersebut berfokus pada level nasional atau pada kontestasi elektoral, sementara dinamika framing pasca-pelantikan dalam konteks politik daerah masih relatif Keterbatasan memperlihatkan adanya kesenjangan penelitian dalam tiga aspek utama. Pertama, kurangnya kajian yang mengintegrasikan analisis framing dengan perspektif hegemoni politik regional untuk membaca peran media lokal dalam menormalisasi atau memperkuat konfigurasi kekuasaan tertentu. Kedua, penelitian mengenai politisi perempuan di Indonesia cenderung berpusat pada isu representasi simbolik, tanpa menggali bagaimana narasi media membangun citra teknokratis, akuntabel, dan terhubung dengan kekuasaan pusat sebagai bentuk legitimasi baru. Ketiga, kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku Utara, masih luput sebagai locus kajian komunikasi politik kontemporer. Padahal, wilayah kepulauan ini memiliki signifikansi geopolitik yang krusial, dinamika Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. relasi pusat-daerah yang asimetris, kuatnya pengaruh patronase politik lokal, serta pluralitas konfigurasi hegemoni yang unik. Meneliti wilayah ini menjadi sangat relevan karena potret bagaimana wacana gender dan kekuasaan diproduksi di luar batas episentrum politik Jawa (Java-centri. , memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai realitas demokrasi regional di Indonesia. Penelitian ini menawarkan kebaruan pada level konseptual dan empiris. Secara konseptual, studi ini mengintegrasikan model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki dengan pendekatan hegemoni Gramscian untuk membaca bagaimana struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris dalam teks berita berkontribusi pada produksi legitimasi kekuasaan perempuan dalam politik regional (Mahdi,2015. Sari and Syas,2023. Sonjaya et al. Pan and Kosicki,1. Secara empiris, penelitian ini memfokuskan analisis pada pemberitaan tiga bulan awal pasca-pelantikan Sherly Tjoanda di Nuansamalut. com, sehingga mampu menangkap fase mendasar pembentukan citra publik. Temuan awal dalam dokumen penelitian menunjukkan adanya pola framing yang bergerak dari simbolisasi Augubernur perempuan pertamaAy menuju kepemimpinan teknokratis, tegas, dan akuntabel. Transformasi naratif ini mengindikasikan proses normalisasi kekuasaan melalui bahasa media yang sistematis dan konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media online lokal membingkai kepemimpinan Sherly Tjoanda dalam relasi gender dan hegemoni politik regional. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: . Bagaimana struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris Nuansamalut. membentuk representasi kepemimpinan Sherly Tjoanda? . Bagaimana framing tersebut mereproduksi atau menegosiasikan relasi gender dan konfigurasi kekuasaan pusat-daerah? . Dalam kerangka hegemoni, nilai dan ideologi apa yang dinormalisasi melalui konstruksi berita tersebut ?. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan critical framing Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak hanya bertujuan mendeskripsikan struktur Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora teks, tetapi juga menafsirkan bagaimana makna tentang gender dan kekuasaan diproduksi serta dinormalisasi melalui praktik jurnalistik. Secara epistemologis, penelitian ini berada dalam paradigma konstruktivis-kritis yang memandang realitas media sebagai hasil produksi sosial yang sarat kepentingan ideologis(Walker et al. Unit analisis penelitian adalah empat berita utama mengenai kepemimpinan Sherly Tjoanda Laos yang dipublikasikan oleh Nuansamalut. dalam rentang Februari-Mei 2025, yakni periode tiga bulan awal pasca-pelantikan. Pemilihan periode ini bersifat purposive karena fase awal kepemimpinan merupakan momen krusial dalam pembentukan citra politik dan legitimasi publik. Berdasarkan dokumen penelitian sebelumnya, keempat berita tersebut merepresentasikan fase naratif yang berbeda: simbolisasi historis, konstruksi 100 hari kerja, terobosan kebijakan kesehatan, dan penegasan tata kelola anggaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dua metode. Pertama, dokumentasi arsip digital berita yang diunduh secara langsung dari situs resmi media. Kedua, wawancara semiterstruktur dengan redaksi untuk memahami konteks produksi berita, proses editing release humas, serta kebijakan redaksional. Wawancara ini berfungsi sebagai data kontekstual, bukan sebagai objek framing, sehingga analisis tetap berfokus pada teks sebagai locus utama konstruksi makna. Prosedur analisis Pertama adalah identifikasi perangkat framing berdasarkan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, yang meliputi struktur sintaksis . eadline, lead, kutipan, penutu. , skrip . lur 5W 1H), tematik . oherensi antar paragraf, proposisi domina. , dan retoris . ilihan diksi, metafora, grafi. Pada tahap ini dilakukan open coding untuk menandai pola repetisi kata, metafora kunci seperti Aunaik kelasAy. AuterobosanAy. AutegasAy, serta penekanan numerik seperti Au50 persenAy dan nominal anggaran spesifik. Kedua adalah axial coding, yaitu mengelompokkan temuan framing ke dalam kategori besar representasi: . simbol gender dan sejarah, . kepemimpinan teknokratis, . legitimasi pusat-daerah, dan . moralitas tata Kategori ini tidak ditentukan secara apriori, melainkan muncul melalui pembacaan intensif dan komparatif antar teks. Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Ketiga menggunakan teori hegemoni. Pada tahap ini, framing yang telah teridentifikasi dianalisis untuk melihat bagaimana narasi media berkontribusi pada produksi consent politik. Misalnya, penekanan berulang pada keselarasan visi dengan presiden dibaca sebagai bentuk integrasi simbolik ke dalam hegemoni nasional. Dengan kata lain, analisis bergerak dari level tekstual ke level Keempat, adalah analisis gender kritis. Pada tahap ini diuji apakah konstruksi kepemimpinan perempuan dalam teks mereproduksi stereotip tradisional . mosional, simbolik, domesti. atau justru membangun legitimasi berbasis kapasitas Proses pembacaan dialektis: framing dapat sekaligus menegosiasikannya dalam struktur kekuasaan Penelitian triangulasi sumber . eks berita dan wawancara redaks. serta peer debriefing melalui diskusi akademik terbatas. Transparansi prosedur coding dan kategorisasi dilakukan dengan menyimpan matriks analisis teks yang dapat diaudit secara Pendekatan ini penting agar penelitian framing tidak dianggap sekadar interpretasi subjektif, melainkan memiliki jejak analitis yang dapat ditelusuri. Secara geografis, konteks Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan di Indonesia Timur juga menjadi variabel kontekstual yang dipertimbangkan dalam Dinamika relasi pusat-daerah, pluralitas agama, serta sejarah politik lokal membentuk medan hegemoni yang berbeda dibandingkan wilayah metropolitan. Oleh karena regional, bukan sekadar struktur teks. Penelitian berupaya menjembatani analisis mikro . ahasa dan struktur berit. dengan analisis makro . elasi kekuasaan dan hegemoni Pendekatan semacam ini penting agar studi framing tidak berhenti pada deskripsi teknis, melainkan berkontribusi pada perdebatan teoretis tentang bagaimana media lokal membentuk legitimasi politik perempuan dalam demokrasi regional kontemporer. Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora i. HASIL DAN PEMBAHASAN Simbolis Gender Menuju Legitimasi Politik Temuan menunjukkan bahwa pemberitaan awal mengenai Sherly Tjoanda Laos secara eksplisit menonjolkan label Augubernur perempuan pertamaAy. Pada level sintaksis, frasa tersebut ditempatkan dalam headline posisi dengan tingkat visibilitas tertinggi. Ini bukan sekadar deskripsi faktual, melainkan perangkat framing yang mengonstruksi peristiwa sebagai milestone Dalam perspektif framing, penempatan ini berfungsi sebagai anchor makna yang membentuk interpretasi pembaca sejak awal (Pan dan Kosicki, 1993. Trabada dan Maneiro, 2. Menariknya, pada level tematik, narasi tidak berhenti pada simbol gender. Artikel segera memperluas konteks ke pelantikan nasional dan representasi keberagaman agama. Dengan demikian, gender tidak berdiri sebagai isu konflik, melainkan dilebur dalam narasi persatuan Di sinilah terjadi proses depolitisasi gender, sebuah mekanisme konseptual di mana identitas gender dicabut dari akar politisnya yang kritis seperti gugatan terhadap ketimpangan struktural atau relasi kuasa patriarkal lalu dikemas ulang menjadi sekadar komoditas visual atau variasi administratif yang netral. Identitas perempuan diakui, tetapi langsung dinormalisasi dalam kerangka harmoni dan konsensus normatif. Perspektif hegemoni Gramscian, strategi ini beroperasi melalui apa yang disebut sebagai integrasi simbolik. Secara teoretis, integrasi simbolik adalah proses penyerapan elemenelemen baru yang berpotensi subversif . alam hal ini, kepemimpinan perempuan di wilayah yang maskuli. ke dalam sistem dominan dengan cara memberikan pengakuan formal tanpa mengubah struktur dasar kekuasaan tersebut. Media tidak sebagai tantangan terhadap struktur patriarki, melainkan sebagai bagian yang kompatibel dengan tatanan politik yang sudah mapan. Dengan kata lain, simbol emansipasi hadir tanpa mengganggu stabilitas hegemoni regional (Sari dan Syas, 2. Pola ini, framing media tidak lagi sekadar berfungsi pada tataran simbolik-kebahasaan, melainkan bermutasi menjadi strategi aktif dalam reproduksi hegemoni yang menjembatani kepentingan politik lokal dan nasional. Di tingkat lokal, framing ini meredam resistensi kelompok tradisional-patriarkal pemersatu yang inklusif. Sementara di tingkat nasional, pembingkaian tersebut memproduksi legitimasi bahwa dinamika politik di daerah tetap Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. berjalan selaras dengan agenda stabilitas dan konsensus politik pusat. Dengan demikian, media daring lokal berhasil menjalankan perannya sebagai aparatur hegemonik yang merawat keberlangsungan status quo kekuasaan di kedua level tersebut. Reframing Teknokratis: Dari Emosi Menuju Otoritas Manajeria Pemberitaan kedua mengenai evaluasi Au100 hari kerjaAy memperlihatkan perubahan fokus pembingkaian yang spesifik, yaitu bergeser dari narasi identitas gender yang bersifat simbolik menuju narasi kapasitas manajerial yang bercorak teknokratis-rasional. Diksi seperti AumembenahiAy. AuprioritasAy, serta penyebutan angka pemotongan anggaran sebesar 50 persen secara aktif membangun citra kepemimpinan yang berbasis pada data, efisiensi, dan kalkulasi logis. Secara retoris, penggunaan angka konkret dan terminologi fiskal ini berfungsi sebagai mekanisme legitimasi rasional. Dalam teori komunikasi politik, kuantifikasi performa seperti ini jamak digunakan sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan persepsi kredibilitas, objektivitas, dan profesionalitas seorang pejabat publik di mata khalayak (Manurung et al. , 2024. Ruray dan Pratama, 2. Perubahan orientasi pembingkaian ini memiliki implikasi krusial dari perspektif gender karena secara radikal mendisrupsi batas-batas domestifikasi wacana yang biasanya melekat pada pemimpin perempuan. Sejumlah studi terdahulu mengenai framing gender menunjukkan bahwa politisi perempuan di ruang publik sering kali terjebak dalam pembingkaian yang bias. Lotulung . menggarisbawahi kuatnya dominasi stereotip emosionalitas perempuan dalam pemberitaan politik, sementara Hayat . dan Basit . menemukan bahwa media perempuan dengan hanya menonjolkan aspek moralitas personal atau peran domestik mereka sebagai figur ibu. Kasus Sherly Tjoanda Laos Nuansamalut. com, media lokal membangun narasi tandingan yang justru menekankan kompetensi manajerial yang keras. Konstruksi ini secara konsisten mengatasi, mendekonstruksi, dan menegosiasikan ulang stereotip tradisional Melalui pemosisian ini, figur perempuan tidak lagi direduksi sebagai simbol sentimental, melainkan diproduksi sebagai administrator rasional yang memegang kendali penuh atas Kendati demikian, pembacaan kritis berbasis perspektif hegemoni tetap perlu Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora Rasionalitas teknokratis yang dibangun media ini tidak berdiri sendiri, melainkan dikonstruksi dalam kerangka keselarasan mutlak dengan pemerintah pusat. Dengan menekankan bahwa visi sang gubernur AuselarasAy dan "tegak lurus" dengan agenda presiden, media lokal secara halus mengaitkan legitimasi politik di tingkat regional ke dalam orbit kekuasaan Di sinilah hegemoni bekerja secara subtil dan canggih, posisi politik perempuan di daerah diangkat ke tatanan publik yang terhormat melalui bahasa sinkronisasi dan kemitraan strategis, namun di saat yang sama tetap ditempatkan dalam koridor subordinasi politik terhadap kekuasaan pusat yang dominan. The Executive Turn: 'Naik Kelas' dan Narasi Terobosan Pemberitaan mengenai peningkatan status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menandai fase yang disebut sebagai executive turn, yaitu sebuah pergeseran fokus wacana di mana media secara intensif mengonstruksi figur pemimpin perempuan bukan lagi sekadar sebagai administrator birokrasi biasa, melainkan sebagai aktor eksekutif tangguh yang memiliki otoritas politik tinggi dan daya tembus kebijakan yang kuat. Dalam fase ini, kata AuterobosanAy dan metafora Aunaik kelasAy digunakan oleh media lokal sebagai perangkat retoris utama. Secara definisi, metafora "naik kelas" di sini bukan sekadar administratif atau peningkatan kelas fasilitas kesehatan, ini merupakan sebuah perangkat retoris yang menyiratkan terjadinya mobilitas sosial vertikal dan peningkatan martabat kolektif masyarakat daerah secara masif. Dalam analisis retoris, metafora semacam ini berfungsi sebagai jalan pintas kognitif sebuah cara cepat yang digunakan media untuk menyederhanakan realitas birokrasi yang kompleks dan teknis menjadi sebuah narasi kemajuan linier yang mudah dicerna dan didukung oleh publik (Lakoff dan Johnson. Charteris-Black, 2. Dengan menyandingkan nama gubernur bersama para pejabat kementerian di tingkat pusat, teks berita secara aktif membangun asosiasi simbolik yang kuat antara akses eksklusif ke lingkar kekuasaan dengan jaminan hasil pembangunan yang konkret. Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. Pola pemberitaan ini menggambarkan kedekatan sang gubernur dengan pusat sumber legitimasi regional yang mutlak. Dalam teori politik Indonesia mengenai hubungan pusat-daerah, wilayah luar Jawa terutama kawasan lingkar luar seperti Maluku Utara secara historis sering kali ditempatkan dalam posisi periferal . yang memiliki ketergantungan fiskal dan politik yang tinggi terhadap episentrum kekuasaan di Jakarta. Oleh karena itu, kemampuan seorang kepala daerah untuk "menembus" sekat-sekat birokrasi Jakarta dan membawa pulang sumber daya ke daerah dibingkai oleh media sebagai sebuah prestasi eksekutif yang luar biasa. Ketergantungan struktural ini kemudian dikonstruksi secara positif, diposisikan sebagai satu-satunya instrumen paling efektif untuk menggerakkan mobilitas sosial dan akselerasi pembangunan di tingkat Akibatnya, narasi media ini secara tidak langsung memperkuat model politik integratif yang menuntut daerah untuk selalu "tegak lurus" dan harmonis dengan pusat, ketimbang mengembangkan model politik regional yang otonom dan mandiri. Di sinilah hegemonik bekerja membentuk apa yang disebut sebagai hibrid hegemoni. Istilah hibrid hegemoni ini merujuk pada sebuah mekanisme pengondisian wacana di mana legitimasi politik lokal tidak lagi dibangun atas dasar resistensi atau kemandirian kedaerahan, melainkan melalui perpaduan harmonis antara kepatuhan struktural terhadap kekuasaan pusat dan pembuktian keberhasilan performatif di tingkat lokal. Secara gender, fase executive turn ini secara masif menjauhkan figur pemimpin dari stereotip feminin tradisional yang melekat pada sifat domestik atau kelemahan Gubernur perempuan diposisikan secara maskulin sebagai aktor eksekutif yang cakap melakukan penetrasi politik, lobi anggaran, dan negosiasi institusional lintas Representasi ini mengonsolidasikan didefinisikan sebagai konstruksi identitas kepemimpinan perempuan baru, dimana legitimasi politisnya tidak lagi bertumpu pada Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora . , atau moralitas personal, melainkan divalidasi secara ketat melalui performa administratif, efisiensi manajerial, dan hasil nyata dari sebuah kebijakan Kontrol Akurasi melalui Angka Nominal dan Batas Waktu Berita tentang pengembalian sisa anggaran mudik memperlihatkan konsistensi pola framing yang kokoh. Headline media lokal langsung menekankan tindakan instruktif dan batas waktu yang rigid, yakni Ausatu hariAy. Penggunaan angka nominal yang sangat spesifik dalam pemberitaan bukan sekadar pelengkap data, melainkan instrumen untuk memperkuat kesan transparansi dan kontrol penuh eksekutif atas aparatur di Melalui ketepatan angka dan kedisiplinan waktu ini, media berhasil membangun impresi bahwa tata kelola pemerintahan berada dalam kondisi yang prima dan terukur. Tema utama yang muncul dari konstruksi teks tersebut adalah tata kelola bersih . lean governanc. dan akuntabilitas. Menariknya, fokus pembingkaian berita sama sekali bukan pada letak kesalahan birokrasi seperti mengapa terjadi surplus anggaran atau bagaimana perencanaan awal yang kurang akurat bisa terjadi tetapi secara eksklusif dialihkan pada aspek ketegasan Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari teknik shifting emphasis, sebuah strategi pembingkaian di mana fokus perhatian publik sengaja digeser dari akar masalah atau potensi kegagalan sistemik . elalaian administras. menuju ke arah respons moral dan manajerial sang pemimpin. Melalui cara ini, potensi skandal atau inefisiensi anggaran secara instan diubah kepemimpinan moral yang memikat. Dalam perspektif teori hegemoni, relokasi makna ini memicu terjadinya proses moralization of authority. Konsep ini dapat dipahami sebagai Suatu proses legitimasi kekuasaan di mana posisi dominan seorang aktor politik tidak lagi dijustifikasi semata-mata oleh hukum formal atau efektivitas teknisnya, melainkan oleh persepsi publik bahwa sang pemimpin bertindak atas dasar integritas etika, keluhuran moral, dan komitmen anti korupsi yang tinggi. Kekuasaan pada titik ini dilegitimasi bukan hanya melalui efektivitas regulasi, tetapi melalui kurasi etika. Ketika media secara konsisten pemulangan anggaran sebagai bukti absolut dari Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. sebuah komitmen anti-korupsi, kesadaran publik diarahkan untuk melihat struktur kepemimpinan bukan sebagai bagian dari masalah, melainkan sebagai agen tunggal reformasi. Dalam konteks politik dan kekuasaan yang lebih luas, teknik shifting emphasis ini memegang fungsi yang sangat strategis. Secara taktis, teknik ini bekerja sebagai alat manajemen reputasi dan mitigasi krisis defensif. Politik hegemoni menetralisir kerentanan sebelum ia mengkristal menjadi oposisi publik. Dengan menerapkan shifting emphasis, aktor kekuasaan dapat mengalihkan perdebatan publik dari pertanyaan substantif mengenai kompetensi perencanaan anggaran menjadi narasi tentang heroisme penegakan disiplin serta mengubah peristiwa berisiko tinggi, surplus anggaran yang mencurigakan menjadi komoditas politik yang menguntungkan berupa pembuktian karakter pemimpin yang bersih. Secara keseluruhan, jika ditarik garis lurus, keempat fase framing tersebut membentuk suatu pola komunikasi yang sangat koheren dan sekuensial : . Simbol Sejarah. Rasionalitas Teknokratis. Keberhasilan Eksekutif. Moralitas Tata Kelola. Pola berkesinambungan ini menunjukkan bahwa media lokal tidak lagi sekadar menjadi pelapor realitas objektif, melainkan berperan aktif diasosiasikan dengan tragedi politik atau catatan masa lalu, menjadi sosok pemimpin teknokratis yang bersih dan terintegrasi secara utuh dalam hegemoni Nasional. Transformasi citra yang radikal ini bukanlah sebuah kebetulan tekstual yang terjadi secara organik, ini hasil dari sebuah kerja produksi makna yang sistematis, terstruktur, dan berorientasi pada pelestarian Sintesis Argumentatif: Gender. Hegemoni, dan Negosiasi Makna Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa framing media terhadap kepemimpinan perempuan di tingkat regional saat ini tidak lagi semata-mata berbasis pada stereotip gender tradisional yang domestik atau emosional. Meskipun demikian, legitimasi politik yang dibangun oleh media tersebut nyatanya tetap berada dalam orbit struktur kekuasaan yang Dalam dinamika ini, aspek gender memang diakui, tetapi sekaligus dinormalisasi agar tidak mengganggu status quo. Artinya, dirayakan sejauh ia kompatibel dengan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora konfigurasi hegemoni relasi pusat-daerah. Dengan demikian, studi ini menunjukkan secara gamblang bahwa media lokal dapat berfungsi sebagai agen stabilisasi politik yang efektif melalui produksi narasi konsensus yang rapi. Lebih jauh lagi, jika kita melihat dalam konteks Maluku Utara, pembingkaian tersebut berkontribusi besar pada pembentukan citra kepemimpinan perempuan yang rasional, tegas, dan akuntabel. Namun, di balik citra modern tersebut, figur ini tetap dijangkarkan secara kuat agar terintegrasi dalam struktur kekuasaan Nasional yang maskulin dan sentralistik. Di titik inilah, pertanyaan yang muncul bergeser menjadi lebih filosofis daripada sekadar persoalan tekstual, apakah fenomena ini merupakan bentuk kemajuan emansipatoris yang murni, atau justru sebatas adaptasi strategis perempuan di dalam medan hegemoni yang sebenarnya tidak pernah sepenuhnya berubah? Bagaimanapun, sejarah mencatat bahwa demokrasi sering kali bergerak bukan melalui revolusi simbolik yang radikal, melainkan melalui negosiasi makna yang pelan, samar, dan konsisten. Secara teoretis, temuan ini membawa implikasi signifikan bagi studi komunikasi dan Pertama, hasil penelitian ini menantang tesis usang yang melihat media lokal hanya sebagai instrumen marginal atau sekadar pelapor berita daerah, sebaliknya, media lokal terbukti bertindak sebagai laboratorium wacana yang canggih dalam merekayasa stabilitas politik Kedua, dalam studi komunikasi gender, temuan ini menggeser fokus analisis dari sekadar "Bagaimana perempuan dipinggirkan oleh media" menuju "bagaimana kepemimpinan perempuan dirangkul dan dijinakkan oleh wacana Studi ini menegaskan bahwa inklusi perempuan dalam panggung politik formal tidak secara otomatis meruntuhkan struktur kekuasaan Sebaliknya, kekuasaan memiliki kapasitas adaptif yang luar biasa untuk menyerap narasi kesetaraan, menjadikannya bagian dari kosmetik birokrasi, dan menggunakannya kembali demi memperpanjang masa pakai legitimasi itu sendiri. Kontribusi Teoretis Penelitian ini menunjukkan bahwa framing media terhadap Sherly Tjoanda Laos dalam pemberitaan Nuansamalut. com membentuk pola naratif yang sistematis dan progresif. Media lokal tidak sekadar menyampaikan informasi faktual, melainkan aktif memproduksi legitimasi politik. Proses ini bergerak secara bertahap, mulai dari simbolisasi Augubernur perempuan pertamaAy Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. hingga konstruksi citra kepemimpinan yang teknokratis, eksekutif, dan akuntabel. Temuan representasi gender dalam politik lokal Indonesia telah mengalami pergeseran. Gender tidak lagi selalu direduksi menjadi stereotip emosional atau sekadar simbol domestik. Dalam konteks Maluku Utara, media lokal berhasil mengonstruksi figur perempuan sebagai aktor teknokratis yang rasional, berbasis data, dan memiliki posisi tawar yang kuat dengan kekuasaan pusat. Pengakuan ini tidak sepenuhnya bersifat Analisis hegemoni menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan Sherly Tjoanda Laos tetap dijangkarkan pada struktur kekuasaan Media membangun kepatuhan publik melalui narasi keselarasan visi dan kedekatan akses ke pusat kekuasaan. Dengan demikian, representasi gender yang progresif ini nyatanya berjalan berdampingan dengan reproduksi konsensus politik dominan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan tiga kontribusi utama dalam lanskap studi komunikasi politik dan gender. Pertama, studi ini memperluas model framing Pan dan Kosicki dengan mengintegrasikannya secara utuh ke dalam analisis hegemoni Gramscian. Framing tidak lagi dibaca sebatas strategi tekstual yang berdiri sendiri, melainkan sebagai mekanisme produksi konsensus politik. Pendekatan ini membuktikan bahwa perangkat sintaksis, skrip, tematik, dan retoris memiliki implikasi ideologis besar yang bekerja jauh melampaui teks berita. Kedua, penelitian ini memperkaya literatur gender dan media dengan memperkenalkan konsep technocratic femininity . eminitas Istilah ini merujuk pada konstruksi kepemimpinan perempuan yang dilegitimasi melalui performa administratif, kuantifikasi kebijakan, dan moralitas tata kelola. Konsep ini menawarkan perspektif baru untuk membaca transformasi politisi perempuan, keluar dari dikotomi tradisional yang menjebak antara simbol emansipasi radikal dan stereotip domestik. Ketiga, pada level empiris, penelitian ini memberikan kontribusi kontekstual terhadap studi komunikasi politik di Indonesia Timur. Wilayah kepulauan memiliki karakteristik unik, terutama terkait relasi pusat-daerah yang kuat serta pluralitas identitas. Karakteristik ini menghadirkan medan hegemoni yang berbeda dengan wilayah metropolitan. Studi ini berhasil memperluas cakupan geografis penelitian framing yang selama ini terlalu berpusat di Jawa (Javacentri. Implikasi penelitian ini bersifat ganda. Bagi kajian akademik, temuan ini menegaskan Jurnal Sains. Sosial dan Humaniora pentingnya membaca media lokal sebagai arena produksi ideologi, bukan sekadar saluran informasi daerah. Bagi praktik jurnalistik, hasil ini memperlihatkan bagaimana pilihan bahasa dan struktur berita berperan besar dalam membentuk legitimasi politik, bahkan ketika berita tersebut diklaim netral dan faktual. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diakui analisis hanya berfokus pada satu media lokal Nuansamalut. com dan periode pengamatan relatif singkat, yaitu tiga bulan awal kepemimpinan. Studi ini membuktikan bahwa demokrasi lokal bekerja melalui negosiasi makna yang sangat Kepemimpinan perempuan kini dapat diterima dan dirayakan, namun penerimaan tersebut sering kali harus tunduk pada koridor yang digariskan oleh struktur kekuasaan yang lebih luas. Di sinilah letak paradoks politik modern, hegemoni tidak lagi datang melalui benturan fisik atau narasi yang koersif, melainkan menyusup secara meyakinkan lewat bahasa media yang tampak biasa, headline yang tampak informatif, dan metafora yang tampak sederhana. IV. PENUTUP Penelitian ini menegaskan bahwa framing media lokal terhadap kepemimpinan perempuan tidak berdiri di ruang hampa yang netral, melainkan beroperasi sebagai proses konstruksi makna yang berlapis dan sarat muatan ideologis. Melalui analisis mendalam terhadap korpus pemberitaan Nuansamalut. com mengenai Sherly Tjoanda Laos, disimpulkan bahwa struktur teks berita bergerak secara progresif untuk memproduksi legitimasi figur. Secara substantif, temuan ini membuktikan adanya pergeseran paradigma representasi politisi perempuan di tingkat lokal. Kajian ini mendapati bahwa perempuan tidak lagi direduksi ke dalam stereotip domestik atau sekadar dijadikan simbol emansipasi yang artifisial. Media lokal telah mengonstruksi perempuan sebagai aktor politik yang rasional, profesional, dan Meski demikian, transformasi citra tersebut tidak serta-merta bersifat emansipatoris murni. Proses dekonstruksi stereotip lama ini nyatanya dibarengi oleh proses kooptasi baru. Legitimasi yang dibangun media tetap dijangkarkan pada orbit hegemoni dominan, di mana eksistensi kepemimpinan perempuan regional dianggap sah sejauh ia mampu menunjukkan keselarasan politik . olitical alignmen. dengan struktur kekuasaan nasional di pusat. Melalui agenda lanjutan tersebut, dinamika negosiasi makna Vol. 6 No. 1 (Juni, 2. dalam demokrasi lokal Indonesia dapat dipetakan secara lebih utuh, presisi, dan komprehensif. Ucapan Terimakasih Terimakasih kepada Dr. Rahmat Abd Fatah, kolega di Fisip Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, yang telah membantu memberikan perspektif teoritik dan metodologi, serta diskusi yang berkualitas sehingga artikel penelitian ini dapat selesai tepat waktu. DAFTAR PUSTAKA